DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP SATWA LIAR

of 22 /22
DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP SATWA LIAR 1) Oleh : Firmansyah Kuz 2) A. PENDAHULUAN Dampak atau pengaruh kebakaran hutan terhadap satwaliar diperkirakan banyak orang adalah dari mulai sangat dramatis sampai berpengaruh positif. Misalnya dampak kebakaran terhadap banyak herbivora dikatakan sebagai justru akan memberikan jumlah makanan yang lebih banyak bagi kelompok ini, sehingga populasi satwa pemakan daun ini di hutan-hutan bekas kebakaran meningkat. Dampak api terhadap satwaliar dengan daerah jelajah yang kecil atau kemampuan mobilitasnya yang rendah, dikatakan banyak terpengaruh. Kalau mereka tidak dapat pindah ke tempat yang lebih baik, tentu mereka akan mengalami kematian. Namun demikian, untuk daerah kita sendiri tidak terdapat banyak data tentang hal itu. Padahal kejadian kebakaran hutan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat sudah hampir berlangsung secara rutin. Tulisan ini akan menyampaikan sedikit ulasan tentang bagaimana populasi satwa akan berubah seiring dengan perubahan perilaku, khususnya perilaku makan dengan adanya perusakan habitat akibat amukan sijago merah ini. Dengan bekal sedikit data dari penelitian sendiri, khususnya pengaruh daripada pemanenan hutan terhadap keanekaragaman jenis burung, disampaikan analisa akibat api sebagai perusak habitat kedua yang biasanya datang setelah pemanenan hutan. Data dari kebakaran tahun 1982/1983 menyebutkan bahwa 80% areal yang terbakar adalah hutan- hutan bukan tebangan (Lennertz & Panzer 1983). Begitu juga

Embed Size (px)

description

Dampak atau pengaruh kebakaran hutan terhadap satwaliar diperkirakan banyak orang adalah dari mulai sangat dramatis sampai berpengaruh positif. Misalnya dampak kebakaran terhadap banyak herbivora dikatakan sebagai justru akan memberikan jumlah makanan yang lebih banyak bagi kelompok ini, sehingga populasi satwa pemakan daun ini di hutan-hutan bekas kebakaran meningkat. Dampak api terhadap satwaliar dengan daerah jelajah yang kecil atau kemampuan mobilitasnya yang rendah, dikatakan banyak terpengaruh. Kalau mereka tidak dapat pindah ke tempat yang lebih baik, tentu mereka akan mengalami kematian. Namun demikian, untuk daerah kita sendiri tidak terdapat banyak data tentang hal itu. Padahal kejadian kebakaran hutan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat sudah hampir berlangsung secara rutin.

Transcript of DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP SATWA LIAR

  • 1. DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP SATWA LIAR 1) Oleh : Firmansyah Kuz 2)A. PENDAHULUANDampak atau pengaruh kebakaran hutan terhadap satwaliar diperkirakan banyakorang adalah dari mulai sangat dramatis sampai berpengaruh positif. Misalnya dampakkebakaran terhadap banyak herbivora dikatakan sebagai justru akan memberikan jumlahmakanan yang lebih banyak bagi kelompok ini, sehingga populasi satwa pemakan daunini di hutan-hutan bekas kebakaran meningkat. Dampak api terhadap satwaliar dengandaerah jelajah yang kecil atau kemampuan mobilitasnya yang rendah, dikatakan banyakterpengaruh. Kalau mereka tidak dapat pindah ke tempat yang lebih baik, tentu merekaakan mengalami kematian. Namun demikian, untuk daerah kita sendiri tidak terdapatbanyak data tentang hal itu. Padahal kejadian kebakaran hutan di Indonesia, khususnyadi Kalimantan Barat sudah hampir berlangsung secara rutin.Tulisan ini akan menyampaikan sedikit ulasan tentang bagaimana populasisatwa akan berubah seiring dengan perubahan perilaku, khususnya perilaku makandengan adanya perusakan habitat akibat amukan sijago merah ini. Dengan bekal sedikitdata dari penelitian sendiri, khususnya pengaruh daripada pemanenan hutan terhadapkeanekaragaman jenis burung, disampaikan analisa akibat api sebagai perusak habitatkedua yang biasanya datang setelah pemanenan hutan. Data dari kebakaran tahun1982/1983 menyebutkan bahwa 80% areal yang terbakar adalah hutan-hutan bukantebangan (Lennertz & Panzer 1983). Begitu juga areal yang terbakar pada tahun-tahunsetelah itu, adalah sebagian besar areal yang sama dengan areal kebakaran sebelumnya.Selain itu juga disampaikan beberapa hasil penelitian dari data setelah kebakaran tahun1997 dari beberapa peneliti lainnya.1). Disampaikan pada Pelatihan Fire Suppression and Environmental Management yangdiselenggarakan oleh PPLH UNTAN bekerjasama dengan Bapedal Pusat, Pontianak : 26 April -8 Mei 1999;2). Program Manager Bornean Orangutan Conservation Programs BOCPs -Yayasan Cassia Lestari- Pontianak Kalimantan Barat

2. B. PERUSAKAN HABITAT SATWA Tersedianya makanan adalah hal utama untuk kehadiran satwa di dalam hutan.Banyak peneliti percaya bahwa kualitas daripada makanan adalah merupakan faktorpembatas bagi banyak Herbivore (Klein 1970, Moss 1967, Schultz 1969, Watson &Moss 1972 dalam Kozlowski 1974). Dari data kebakaran tahun 1982/1983, MarkLeighton mencatat sekitar 52% tanaman buah-buahan yang menjadi makanan burungEnggang mati dimakan api, 44% tanaman buah makanan primata mati, begitu juga 84%Ficus besar, 100% Ficus pemanjat adalah mati, begitu juga halnya dengan semua liana.Tabel berikut memperlihatkan kondisi dari pohon buah yang besar untuk masing-masing jenis satwa yang memanfaatkannya (Leighton 1985).Tabel 1. Kondisi Pohon Buah yang Besar Setelah Kebakaran Hutan untuk Masing- masing Jenis Satwa yang MemanfaatkannyaTajukTajuk Hanya cabang/Jumlah Jenis SatwaTajuk matipadat tipisbatang pohon contoh Burung 24%18% 30% 28%103 Primata45%12% 29% 14% 56 Kelelawar36%14% 36% 13% 55 Selain itu kebakaran hutan menjadikan perubahan yang begitu banyak terhadapiklim mikro, sehingga menjadikannya tempat yang tidak lagi cocok untuk banyak jenisbinatang. Kehilangan vegetasi setelah kebakaran menjadikan hutan terbuka, sehinggamemudahkan predator mendapatkan mangsanya. Kehilangan vegetasi penutup (escapecover) sejalan juga dengan kehilangan makanan satwa.C. PENGARUH KEBAKARAN TERHADAP MAMMALIA Primata memberikan respon terhadap perubahan habitat akibat kebakaran hutandengan banyaknya mereka ditemukan di lantai hutan dan memilih jenis makanantertentu di hutan primer atau mengkonsumsi dalam jumlah besar daun-daun yang belummatang dan insekta. 3. Produksi buah pada hutan bekas terbakar adalah rendah, sehingga orangutansangat tergantung kepada kulit-kulit pohon dan dedaunan muda, pucuk dan tunas-tunasmuda (Suzuki 1988). Disamping kompleksnya perubahan ekologi yang terjadi setelahkebakaran hutan, Serangga penggerek kayu (wood boring insect) menaik populasinyadimana jenis-jenis Macaca (Beruk) dan Gibbon (Uwa-uwa) mengambil keuntungandaripadanya. Jika musim kering telah datang dan kebakaran hutan terjadi, mungkin terjadiperubahan dalam banyak hal terutama populasi, perilaku ataupun aktivitas. Adalahsesuatu yang menarik setelah kebakaran hutan, banyak jenis primata khususnyaorangutan dan monyet yang memakan nyamuk ataupun jenis makanan lainnya yangsebelumnya mereka tidak pernah memakannya. Dari penelitian Susilo (1986) terlihatbahwa makanan orang utan pada hutan bekas kebakaran masih cukup tersedia. Tidakada perubahan yang signifikan dalam lamanya waktu makan, perjalanan dan istirahatsetelah kebakaran. Tabel berikut ini memperlihatkan bagaimana keadaan sebelum dansetelah kebakaran untuk beberapa perilaku daripada Orang utan.Tabel 2. Perilaku Orang Utan Sebelum dan Setelah Kebakaran Hutan (%)Sebelum Kebakaran Hutan Setelah Kebakaran Hutan PenelitiRodman (1977) Galdikas (1980) A.Susilo (1986) Lokasi ? T. Puting MentokoPrefab Waktu 5.30-18.30? 6.00-19.006.00-19.00 Feeding45,9 60,1 48,632,2 Travel 14,18,79,511,3 Resting39,2 31,2 41,956,5 Setelah kebakaran hutan, aktivitas istirahat (resting) dari pada orang utan terlihatmeningkat. Hal ini mungkin disebabkan lingkungan sumberdaya makanan, sehinggapenghematan energi untuk bergerak harus mereka lakukan. 4. Orang Utan adalah pemakan buah (Rodman 1977 dan Susilo 1986). Hal inidibuktikan bahwa 61% dari waktu makannya digunakan untuk memakan buah(Galdikas 1980). Tabel berikut memperlihatkan kondisi makanan Orangutan sebelumdan setelah kebakaran hutan berlangsung.Tabel 3. Konsumsi Makanan Orang Utan Sebelum dan Setelah Kebakaran Hutan (%)Sebelum ApiSetelah ApiJenisRodman Suzuki A. Susilo (1986)(1978)(1985) Terbakar Tidak terbakar Buah 751056 67,1 Daun 15307,0 8,1 Kulit Kayu-50 35,924,8 Herba -10 - - Serangga- -0,3- Lainnya10 -0,8- Setelah kebakaran hutan, buah tetap saja merupakan komoditi makanan utamadaripada orang utan. Hanya saja konsumsi terhadap kulit kayu terlihat cukup tinggipersentasinya pada hutan yang terbakar. Persediaan buah di hutan bekas kebakaran adalah sangat rendah (Suzuki 1985).Bahkan dikhabarkan bahwa Orangutan sudah menjadi hama untuk tegakan Acaciamangium di HTI Batuampar dan hal ini terulang lagi sekarang ini di HTI Sumalindopada tahun 1999. Bagian dari kambium kayu banyak mengandung air yang dibutuhkan olehbinatang.Di hutan alam orangutan juga mencari pohon Jabon (Anthocephaluscadamba) atau Trema untuk memakan kambiumnya. Di daerah Sangata ditemukanbeberapa dari mereka bersarang pada pohon Jabon, yang mana hal tersebut belumpernah terjadi sebelumnya. 5. Jumlah Orang Utan di Kutai adalah sekitar 30 individu per 30 Km2 yangterdapat disebelah selatan sungai Sangata, sedangkan Suzuki mengatakan kepadatanOrangutan adalah 1,8 ekor per Km2 (Suzuki 1988).Hasil penelitian Susilo dan Tangketasik pada tahun 1988 di Taman NasionalKutai menyebutkanbahwa bangsa monyet (Macaca fascicularis) berhasilmenyesuaikan diri pada kondisi baru setelah kebakaran hutan dengan mengubah polamakan dan memperluas ruang pengembaraan. Namun suatu kebiasaan yang tidak wajardalammenu makananmereka adalah adanya pemanfaatan beberapajenisDipterocarpaceae.Kelompok Macaca sering disebut-sebut sebagai kelompok satwa yang berhasilberadaptasi dengan perubahan habitat akibat kebakaran hutan.Kemampuan itudisebabkan kemampuan Macaca untuk melakukan perubahan dalam kebiasaanmakanannya dan memperluas daerah jelajahnya (homerange). Perubahan habitat diatasidengan melakukan perjalanan di atas tanah secara ekstensif, perjalanan harian yangketat dan pergantian menu makanan primer dari buah-buahan kepada dedaunan masakdan banyak serangga.Empat bulan sebelum kebakaran Macaca mengkonsumsi 61 jenis pohon buahdan bunga dari 18 jenis tanaman. Empat bulan setelah kebakaran konsumsi makananMacaca bervariasi menjadi 31 jenis buah dan bunga dari 8 jenis tanaman. Macacamerubah kebiasaan makanananya di Kutai kepada buah muda dan jenis Dipterocarpusconfertus, D. lanceolata, D. validus, Dipterocarpus sp, Shorea johorensis, S.palembanica dan jenis lainnya. 6. Tabel 4. Kematian Pohon Makanan Primata JenisFamili % Kematian Alangium (3 jenis) Alangiaceae60 DracontomelonAnacardiaceae25 Koordersiodendron pinnatum Anacardiaceae22 Beberapa genus Annonaceae 44 Fissitigma, Uvaria (liana) Annonaceae 94 Eriocybe (liana) Convolvulaceae100 Diospyros sp Ebenaceae20 Drypetes (3 jenis) Euphorbiaceae88 Baccaurea (5 jenis)Euphorbiaceae67 Phytocrene racemosaIcacinaceae 100 Aglaia, Reinwardtiodendron Meliaceae50 Tetrastigma sp Vitaceae 90 Jenis lainnyaBeberapa 55 Liana lainnya100 Semua pohon buah primata44 Semua liana primata 97 Adalah merupakan hubungan yang tidak sederhana antara efek kebakarandengan sisa nutrient pada tanaman yang mungkin masih dapat digunakan oleh satwa.Level daripada nutrient tumbuhan setelah kebakaran mungkin tidak berubah, berubahatau menurun, tergantung kepada musim, tanah, cuaca, bahan bakar alami dan api sertabanyak faktor lain (Wagle & Kitchen 1972 dalam Kozlowski 1974). Banyak babi hutan mati pada saat terjadi kebakaran. Kebakaran membuatmereka panik dan bisa saja terjadi mereka lari tidak tentu arah dan bahkan meloncat kedalam api yang sedang menyala. Namun setelah kebakaran banyak informasimengatakan, bahwa populasi babi hutan kembali banyak, seperti juga yang dilaporkanDoi (1988) di Taman Nasional Kutai. Sedangkan jenis Banteng (Bos javanicus)dilaporkan oleh Wirawan dalam Kompas 26 Juni 1984, kembali hadir setelah kebakaranhutan dengan memanfaatkan kulit kayu dan tunas-tunas muda yang baru tumbuh. 7. Begitu juga dengan Payau (Cervus unicolor) dan Kijang (Muntiacus muntjak)meningkat populasinya setelah kebakaran hutan, karena lantai hutan dipenuhi olehtanaman bawah dan banyak jenis yang merupakan makanan satwa ini (Leighton 1983).Pada beberapa tempat pada waktu itu, dilaporkan bahkan populasi Payau sempatmenjadi hama di tegakan Acacia mangium, Hutan Tanaman Industri Batuampar.Beberapa pekerja hutan menginformasikan bahwa Kancil (Tragulus sp) yang cerdiksekalipun tidak luput dari kebakaran hutan. Beruang madu (Helarctos malayanus) adalah salah satu spesies beruang terkecilyang memiliki tinggi 1,4 Meter dan berat antara 50-65 kg. Walaupun termasukkelompok Carnivore, jenis ini sebenarnya lebih bersifat Omnivore, memakan buah,telur burung, serangga dan madu. Kebakaran hutan telah memiskinkan persediaanmakanan di dalam hutan, sehingga secara tidak langsung mempengaruhi jenis ini. Duaspesies tupai hilang setelah kebakaran hutan di Taman Nasional Kutai. Tiga speciesyang tersisa dari lima jenis sebelum kebakaran adalah Ratufa affinis, Callosciurusprevostii dan C. notatus ditemukan aktif melakukan perjalanan untuk mencari makandi hutan bekas terbakar (Leighton 1983). Kelelawar adalah jenis mammalia yang memiliki kemampuan terbang denganmobilitas yang tinggi.Pengaruh kebakaran terhadap satwa ini dapat dilihat darikematian pohon buah yang menjadi makanan mereka, seperti disampaikan pada tabel dibawah ini (Leighton 1983)Tabel 5. Kematian Pohon Buah Makanan Kelelawar Jenis pohonFamili% Kematian Dillenia reticulataBombacaceae 6 Dillenia (3 jenis) Bombacaceae11 Syzygium tawahense Myrtaceae14 Various genera Sapotaceae 67 Irvingia malayanaSimaroubaceae 0 Jenis lainnyaBeberapa famili22 Semua buah makanan Kelelawar Beberapa famili26 8. D. PENGARUH KEBAKARAN TERHADAP AVIFAUNA Suatu hasil penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar burung-burung tetapdiam ditempatnya setelah kebakaran (136 jenis sebelum kebakaran, 146 jenis setelahkebakaran) dan sedikit jenis yang hilang dan hanya sedikit jenis baru yang datang.Sebagian besar populasi burung adalah tidak berubah kepadatannya setelah kebakaran(50%), yang bertambah sekitar 35% yang populasinya relatif menurun 15%. Begitujuga kecenderungan pada populasi mammalia, 80% adalah tidak berubah seperti halnyapada burung. Burung adalah kelompok satwa yang dapat beradaptasi terhadap perubahanlingkungan sebagian besarnya. Namun demikian beberapa diantaranya justru sangatpeka dengan adanya perubahan lingkungan yang sedikit saja. Itulah sebabnya burungdapat digunakan sebagai indikator biologi tentang adanya perubahan lingkungan.Kebakaran hutan menyebabkan penurunan populasi dari banyak species Enggang(Hornbills). Mark Leighton (1983) mencatat, bahwa 7 jenis Enggang meninggalkandaerah teritorinya pada saat kebakaran terjadi. Perusakan habitat yang berupa hilangnyabeberapa pohon buah makanan burung Enggang, diperlihatkan pada tabel di bawah ini.Tabel 6. Kematian Daripada Pohon Buah Makanan Burung Jenis atau GenusFamili % Kematian Durio spBombacaceae40 Neoscorthechinia forsbiiEuphorbiaceae50 Aglaia (3 jenis)Meliaceae78 Chisocheton granatusMeliaceae67 Jenis Chisocheton lainnya Meliaceae43 Dysoxylum (7 jenis) Lauraceae57 Myristica, Horsfieldia, Knema Myristicaceae47 Cananga odorata Annonaceae 60 Friesodelsia sp (liana) Annonaceae100 Polyalthia sumatranaAnnonaceae 53 Xylopia malayanaAnnonaceae 50 Dacryodes, santiria Burseraceae38 9. Tabel 6. Kematian Daripada Pohon Buah Makanan Burung (lanjutan) Jenis atau GenusFamili % Kematian Beberapa genus lianaConnaraceae 100 Myranthes corymbosa Chrysobalanaceae0 Macaranga Euphorbiaceae73 Gnetum cuspidatum Gnetaceae 100 Litsea (15 jenis) Lauraceae53 Nothaphoebe spLauraceae73 Banyak genera Lauraceae65 Elmerrilia mollis Magnoliaceae 25 Baccaurea Euphorbiaceae71 Banyak genusRubiaceae20 Pohon lainnya Variasi38 Liana Variasi83 Sekitar 52% makanan khas burung Enggang adalah mati setelah kebakaranhutan. Makanan Enggang yang penting seperti dari famili Meliaceae dan Lauraceaejuga rusak dan mati sekitar 62% dan 57%. Buah makanan burung yang kaya akandaging buah adalah makanan utama dua species burung pergam Ducula dan Ptilonopus,enam jenis Barbet, dan jenis Tiong (Gracula religiosa) dan Burung daun hijau(Calyptomena viridis). Hanya jenis Myranthes corymbusa yang dapat bertahan setelahkebakaran yang mana jenis ini sangat penting sebagai makanan jenis enggang nomadikRhyticeros undulatus. Hasil penelitian Boer (1999) memperlihatkan bahwa beberapa jenis burungbawah tajuk dapat bertahan hidup setelah kebakaran hutan. Beberapa dari mereka yangditangkap dengan menggunakan jala (mist net) pada sekitar 3 tahun yang lalu sebelumkebakaran di hutan lindung Bukit Soeharto, berhasil kembali tertangkap ulang padabulan Februari 1999. Jenis-jenis tersebut adalah Arachnothera longirostra, Crinigerphaeocephalus, Trichastoma rostratum Trischastoma bicolor dan Rhinomyasumbratilis. Penelitian lanjutan masih terus dilakukan untuk melihat bagaimana jenis-jenis tersebut dapat bertahan pada kebakaran 1997 yang lalu. 10. Gambar berikut ini memperlihatkan data hasil kelimpahan jenis burung di tigalokasi penelitian yang berbeda (Hutan primer Meratus, dan hutan bekas tebangan lamayang kembali terbakar pada tahun 1982/1983 dan juga tahun 1997 yang lalu, yaituTaman Nasional Kutai dan Hutan Lindung Bukit Soeharto). Bagaimana kondisinyaapabila areal-areal bekas tebangan tersebut kembali terbakar, kiranya dapat di prediksimelalui grafik-grafik tersebut. 1000B. SoehartoKutaiMeratus100 101 Species Sequence Gambar 1. Kurva species abundance jenis-jenis burung di tiga lokasi penelitian yang berbeda (Hutan Primer Meratus, Hutan terbakar Bukit Soeharto & Taman Nasional Kutai) Adalah sangat sulit untuk melihat pengaruh suatu aktivitas manusia terhadapbanyak jenis secara bersamaan.Namun sangat sulit juga untuk melihat pengaruhtersebut terhadap satu atau dua jenis saja, karena kondisi populasi dari banyak jenisadalah juga sangat rendah.Alasan inilah yang mungkin menyebabkan kenapapenelitian-penelitian tentang dampak kebakaran terhadap satwaliar sampai sekarang ini,masih sangat sedikit dilakukan orang. 11. E. PERUBAHAN SETELAH KEBAKARAN HUTAN Banyak hal dapat terjadi setelah kebakaran hutan, khususnya terhadap habitatsatwa. Perubahan secara biotik dan abiotik dalam jangka waktu yang pendek adalahsudah menjadi suatu keharusan. Bahkan perubahan tersebut sudah terjadi saat musimkering panjang berlangsung, dimana kadar air hutan berkurang dengan sangat drastissehingga begitu potensial untuk terjadinya kebakaran hutan. Perubahan secara abiotik(tanah, iklim mikro dan sebagainya) bukan menjadi bagian dari tulisan ini, karena sudahdituliskan oleh penulis yang lain dalam makalah yang berbeda. Namun demikian dalamkenyataannya perubahan tersebut menjadi penyebab utama terjadinya perubahanterhadap satwaliar yang menjadi penghuninya. Dengan kata lain dapat dikatakan,bahwa dampak kebakaran terhadap satwaliar adalah secara tidak langsung, yaituterhadap habitatnya. Perubahan dapat terjadi kepada: 1. Komposisi jenis 2. Strukturpopulasi (kematian tingkat bayi, remaja dan sebagainya), 3. Perubahan kerapatan, 4.Pengecilan ruang gerak atau homerange, 5. Perubahan biomassa (Penurunan beratbadan satwaliar). Gambar berikut ini memperlihatkan secara sederhana kemungkinanperubahan yang terjadi setelah terjadinya gangguan (kebakaran, penebangan hutan ataulainnya) terhadap habitat hutan (diambil dari Spellerberg 1991). 12. (1)BACD (2)(3)B BC AA CD EE (4)(5) B ABC D ACDGambar 2. Perubahan yang mungkin terjadi setelah adanya perubahan habitat akibat kebakaran,penebangan atau lainnya. A-E menunjukan jenis, Luas Juring memperlihatkan kepadatan masing-masing jenis, Besarnya lingkaran memperlihatkan biomassa. Pembandingan selalu dilakukan padakondisi awal (1), kondisi (2) memperlihatkan pengurangan jenis, kondisi (3) memperlihatkanpenambahan jenis, kondisi (4) memperlihatkan perubahan dalam kepadatan jenis, kondisi (5)memperlihatkan perubahan biomassa karena misalnya makanan tersedia cukup banyak 13. Daftar PustakaAlikodra, H.S. 1989: Penelitian satwaliar di hutan lindung Bukit Soeharto. Media Konservasi Vol. II (3): 19-23Boer, C. 1998: Zur Bedeutung von Baumsturzlcken fr die Verteilung und Abundanz von Vogelarten des Unterholzes in Primr- und Sekundrregenwldern Ostkalimantan. Universitt Wrzburg. DissertationBoer, C. 1999: Effects of fire on the community of forest birds. Research Cooperation among University of (PPHT-FAHUTAN), Center for Int. Forestry Research Organization (CIFOR) and Japan Int. Coop. Agency (JICA) Tropical Rain Forest Research ProjectDoi, T. 1988. Present status of the large mammals in the Kutai National Park, after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. In A research on the process of earlier recovery of tropical rain forest after a large scale fire in Kalimantan Timur, Indonesia. Papers No. 14, Kagoshima Univ.Galdikas, B.R.F. 1978: Adaptasi Orangutan di Suaka Alam Tanjung Putting, kalimantan Tengah. Ph.D. Thesis. University of California, Los AngelesHuston, M.A. 1994: Biological Diversity: The coexistence of species on changinglandscapes. Cambridge, UniversityKozlowski, T.T., dan C.E. Ahlgren. 1974. Fire and Ecosystem. Academic Press. NewYork, San Fransisco, LondonLeighton, M. & D. R. Leighton. 1983: Vertebrate responses to fruiting seasonally within a Bornean Rain Forest in Tropical Rain Forest : Ecology and Management. Blackwell Scientific Publications, OxfordLeighton, M. 1985: The El Nino-Southern oscillation event in Southeast Asia: Effects of droght and fire in tropical forest in Eastern Borneo. Department of Anthropology. Harvard University 14. Lennertz, R. dan Panzer, K.F. 1983. Preliminary assesment of the drought and forest fire damage in Kalimantan Timur. Transmigration Areas Development Project (TAD), German Agency for International CooperationSusilo, A., dan Tangketasik, J. 1986: Dampak kebakaran hutan terhadap perilakuorangutan (Pongo pygmaeus) di Taman Nasional Kutai. Wanatrop 1 (2)Susilo, A., dan Tangketasik, J. 1988: Habitat dan perilaku makan Macaca fascicularisdi hutan bekas terbakar Mentoko Taman Nasional Kutai, Kalimantan timur.Wanatrop 3 (2)Suzuki, A. 1988: The socio-ecological study of Orangutan and the forest conditions after the big forestr fire and droght 1983 in Kutai National Park, Indonesia. In: A research on the process of earlier recovery of tropical rain forest after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. Research Ceter for the South Pacific, Kagoshima UniversitySpellerberg, I.F. 1991. Monitoring Ecological Change. Cambridge University Press, Cambridge 15. Lennertz, R. dan Panzer, K.F. 1983. Preliminary assesment of the drought and forest fire damage in Kalimantan Timur. Transmigration Areas Development Project (TAD), German Agency for International CooperationSusilo, A., dan Tangketasik, J. 1986: Dampak kebakaran hutan terhadap perilakuorangutan (Pongo pygmaeus) di Taman Nasional Kutai. Wanatrop 1 (2)Susilo, A., dan Tangketasik, J. 1988: Habitat dan perilaku makan Macaca fascicularisdi hutan bekas terbakar Mentoko Taman Nasional Kutai, Kalimantan timur.Wanatrop 3 (2)Suzuki, A. 1988: The socio-ecological study of Orangutan and the forest conditions after the big forestr fire and droght 1983 in Kutai National Park, Indonesia. In: A research on the process of earlier recovery of tropical rain forest after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. Research Ceter for the South Pacific, Kagoshima UniversitySpellerberg, I.F. 1991. Monitoring Ecological Change. Cambridge University Press, Cambridge 16. Lennertz, R. dan Panzer, K.F. 1983. Preliminary assesment of the drought and forest fire damage in Kalimantan Timur. Transmigration Areas Development Project (TAD), German Agency for International CooperationSusilo, A., dan Tangketasik, J. 1986: Dampak kebakaran hutan terhadap perilakuorangutan (Pongo pygmaeus) di Taman Nasional Kutai. Wanatrop 1 (2)Susilo, A., dan Tangketasik, J. 1988: Habitat dan perilaku makan Macaca fascicularisdi hutan bekas terbakar Mentoko Taman Nasional Kutai, Kalimantan timur.Wanatrop 3 (2)Suzuki, A. 1988: The socio-ecological study of Orangutan and the forest conditions after the big forestr fire and droght 1983 in Kutai National Park, Indonesia. In: A research on the process of earlier recovery of tropical rain forest after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. Research Ceter for the South Pacific, Kagoshima UniversitySpellerberg, I.F. 1991. Monitoring Ecological Change. Cambridge University Press, Cambridge