DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PERSYARATAN …

of 34/34
1 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM ................. ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... iii HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI ................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ................................................. ix DAFTAR ISI .................................................................................................. x ABSTRAK ..................................................................................................... xiii ABSTRACT ..................................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah ................................................................... 10 1.3. Ruang Lingkup Masalah .......................................................... 10 1.4. Orisinalitas Penelitian .............................................................. 10 1.5. Tujuan Penelitian ..................................................................... 12 1.5.1. Tujuan umum ................................................................. 12 1.5.2. Tujuan khusus ................................................................ 13 1.6. Manfaat Penelitian ................................................................... 13 1.6.1. Manfaat teoritis .............................................................. 13 1.6.2. Manfaat praktis .............................................................. 14 1.7. Landasan Teori ........................................................................ 14
  • date post

    08-Nov-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PERSYARATAN …

Microsoft Word - DAFTAR ISI, ABSTRAK, BAB 1.docxHALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................... v
1.2. Rumusan Masalah ................................................................... 10
1.4. Orisinalitas Penelitian .............................................................. 10
1.5. Tujuan Penelitian ..................................................................... 12
1.5.1. Tujuan umum ................................................................. 12
1.5.2. Tujuan khusus ................................................................ 13
1.6. Manfaat Penelitian ................................................................... 13
1.6.1. Manfaat teoritis .............................................................. 13
1.6.2. Manfaat praktis .............................................................. 14
1.7. Landasan Teori ........................................................................ 14
1.8.5. Teknik pengumpulan bahan hukum ............................... 25
1.8.6. Teknik pengolahan dan analisis bahan hukum .............. 26
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ANAK, KETENAGAKERJAAN,
DAN PERLINDUNGAN PEKERJA ANAK
2.1.3.Kedudukan anak .............................................................. 36
2.2. Ketenagakerjaan ...................................................................... 40
buruh ............................................................................... 40
BAB III PENGATURAN HUKUM PARA PEKERJA ANAK DI BAWAH
UMUR
3
undangan di Indonesia .............................................................. 67
3.2. Pengaturan hukum para pekerja anak di bawah umur yang
bekerja pada waktu siang hari ................................................. 70
BAB IV AKIBAT HUKUM DARI ADANYA PARA PEKERJA ANAK DI
BAWAH UMUR YANG BEKERJA PADA WAKTU SIANG HARI
4.1. Hubungan hukum para pekerja anak dengan pengusaha atau
pemberi kerja ............................................................................ 79
4.2. Akibat hukum dari adanya para pekerja anak di bawah umur
yang bekerja pada waktu siang hari ......................................... 85
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan ............................................................................... 96
5.2. Saran-Saran .............................................................................. 97
4
ABSTRAK
Korban eksploitasi pekerja anak menurut Badan Pusat Statistik berjumlah besar. Anak berhak dilindungi dari pekerjaan yang dapat membahayakan, mengganggu pendidikan anak, merusak kesehatan dan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial anak. Pada prinsipnya, anak-anak di bawah umur memang dilarang untuk bekerja. Usia dan waktu pekerja anak di bawah umur dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 masih terbilang kabur. Permasalahan dalam skripsi ini penulis meneliti mengenai pengaturan hukum para pekerja anak di bawah umur serta membahas akibat hukum dari adanya para pekerja anak di bawah umur yang bekerja pada waktu siang hari. Penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual hukum yang digunakan sebagai pedoman untuk mengetahui dan menganalisis isu hukum yang sedang dihadapi. Berdasarkan hasil penelitian, pekerja anak di bawah umur pada waktu siang hari diperbolehkan melakukan pekerjaan ringan sesuai ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan dengan syarat tidak mengganggu aktivitas sekolah, dengan ijin orang tua dan tidak mengganggu perkembangan kesehatan anak. Undang-Undang Ketenagakerjaan menyatakan hubungan antara pengusaha dengan pekerja berdasarkan perjanjian kerja mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Modul Penanganan Pekerja Anak menyatakan faktor penyebab adanya para pekerja anak yaitu ekonomi, budaya dan pendidikan. Lembaga pemerintah maupun non pemerintah mengupayakan penghapusan para pekerja anak. Akibat hukum yang ditimbulkan jika melanggar norma dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan akan diperingatkan dan dikenakan sanksi pidana maupun administratif. Adapun saran dari penulis agar kepada badan legislatif untuk melakukan revisi Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan agar pengaturan mengenai waktu siang hari dan usia diperbolehkan bekerja bagi pekerja anak di bawah umur mendapat pengaturan secara jelas. Pekerja anak harus mendapat hak konstitusional dan negara wajib melindungi hak tersebut, juga diperlukan peranan orang tua atau keluarga agar memberikan pengawasan pekerja anak di bawah umur untuk tidak tereksploitasi.
Kata Kunci : Pengaturan, Pekerja Anak, Siang Hari
5
ABSTRACT
Victims of exploitation of child labor according to the Central Statistics Agency are large amounts. Children are entitled to be protected from work that can harm, disrupt children's education, health and damaging their physical, mental, spiritual, moral, and social development. In principle, children under age were forbidden to work. Age and time labor of minors under the provisions of Law Number 13 Year 2003 is still fairly vague. Problems in this paper the author examines the legal regulation of the workers of minors as well as discussing the legal consequences of their workers are minors who work in the daytime.
This research is a normative by using Statute Approach and Conseptual Approach that are used as guidelines to determine and analyze the legal issues at hand.
Based on the results of the study, workers of minors during the day is allowed to do light work in accordance with the concerning Employment provided this does not interfere with the activity of the school, with parental permission, and does not interfere with healthy development of children. The concerning Employment gives the relationship between employers and workers based on labor agreements have an element of work, wages, and commands. Child Labor Module Handling declare the causes of the child laborers of economy, culture and education. Government and non government institutions to seek the abolition of child labor. The legal consequences arising if it violates the norms of the Law Number 13 Year 2003 concerning Employment will be warned and subject to criminal as well as administrative sanctions. The suggestion of the author in order to the legislature to revise Law Number 13 Year 2003 concerning Employment in order to control the time of day and age are allowed to work for workers minors got clearly setting. Child labor should receive constitutional rights and the state must protect these rights, it also takes the role of a parent or family in order to give workers the supervision of minors for not exploited.
Keywords: Arrangements, Child Labor, Daytime
6
dan pandangan hidup bangsa Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
sumber dan landasan hukum nasional, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia, sehingga sudah seharusnya setiap manusia baik dewasa maupun anak-
anak dilindungi dari upaya-upaya mempekerjakannya pada pekerjaan-pekerjaan
yang merendahkan harkat dan martabat manusia atau pekerjaan yang tidak
manusiawi. Anak-anak tidak memiliki kewajiban dalam melakukan pekerjaan
karena anak merupakan individu yang terdapat di dalam suatu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja, maka ia perlu mendapat
kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar
baik secara rohani, jasmani maupun sosial.
Anak sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak asasi
sejak dilahirkan, sehingga tidak ada manusia atau pihak lain yang boleh
merampas hak tersebut. Hak asasi anak diakui secara universal sebagaimana
tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Deklarasi PBB
Tahun 1948 tentang Hak-Hak Asasi Manusia, Deklarasi ILO di Philadelphia
tahun 1944, Konstitusi ILO, Deklarasi PBB tahun 1959 tentang Hak-Hak
Anak, Konvensi PBB Tahun 1966 tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya, dan Konvensi PBB Tahun 1989 tentang Hak-Hak Anak. Dengan
7
demikian semua negara di dunia secara moral dituntut untuk menghormati,
menegakkan, dan melindungi hak tersebut. Salah satu bentuk hak asasi anak
adalah jaminan untuk mendapat perlindungan yang sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Jaminan perlindungan hak asasi tersebut sesuai dengan nilai-
nilai Pancasila dan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 dijelaskan
bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang
serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
Anak sebagai generasi penerus bangsa dan dalam dirinya melekat harkat
dan martabat sebagai manusia seutuhnya yang seharusnya
dipertanggungjawabkan keberadaannya, sehingga perlu dilakukan upaya terarah,
sistematis dan bermakna untuk menghormati, melindungi serta menjamin
terpenuhinya hak anak termasuk untuk mengutamakan pendidikan. Banyak anak
yang perlu mendapat perlindungan dari berbagai bentuk tindak kekerasan,
eksploitasi dan keterlantaran yang menjadi tanggung jawab pemerintah,
masyarakat dan keluarga.
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 1 angka 26
tentang Ketenagakerjaan “Anak adalah setiap orang yang berumur di bawah
18 (delapan belas) tahun.” Karena anak yang masih di bawah umur tidak
ditetapkan secara resmi dalam Undang-Undang tersebut, maka dapat
dikatakan anak yang masih di bawah umur sebagai pekerja adalah ada pada
kategori usia di bawah 18 tahun yang masih harus mendapat pendidikan dan
8
perlakuan yang selayaknya. Hal yang berbeda ditunjukkan menurut Pasal 2
ayat 3 Konvensi ILO (International Labour Organization) Nomor 138 Tahun
1973 yang diratifikasi oleh Republik Indonesia dengan Undang-undang
Nomor 20 Tahun 1999 tentang Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja
menyebutkan bahwa usia minimum yang telah ditetapkan tidak boleh kurang
dari 15 (lima belas) tahun dalam keadaan apapun. Banyaknya kontradiktif
dalam pengertian anak yaitu pada batasan umur berapakah mereka masih bisa
disebut anak, hal yang pasti adalah masih banyak dijumpai anak-anak berusia
di bawah 15 tahun ataupun di bawah 18 tahun yang bekerja untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dan atau keluarganya yang semestinya menjadi beban
dan tanggung jawab orang tua dalam mensejahterakan keluarganya. Menurut
Katz, kebutuhan dasar yang penting bagi anak adalah adanya hubungan orang
tua dan anak yang sehat dimana kebutuhan anak, seperti perhatian dan kasih
sayang yang berkesinambungan, perlindungan, dorongan, dan pemeliharaan
harus dipenuhi oleh orangtua.1
Secara umum menurut Suyanto, pekerja atau buruh anak adalah anak-anak
yang melakukan pekerjaan secara rutin untuk orang tuanya, untuk orang lain atau
untuk dirinya sendiri yang membutuhkan sejumlah besar waktu, dengan
menerima imbalan atau tidak. 2 Lalu modul penanganan pekerja anak yang
diterbitkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, menyatakan
1 Abu Haruerah, 2006, Kekerasan Terhadap Anak, Nuansa, Bandung, h. 27. 2 Suyanto, Bagong & Sri Sanituti Hariadi, Pekerja Anak: Masalah, Kebijakan dan
Upaya Penanganannya, Lutfansah Mediatama, Surabaya, h. 43.
9
bahwa pekerja anak adalah anak yang melakukan segala jenis pekerjaan yang
memiliki sifat atau intensitas yang dapat mengganggu pendidikan, membahayakan
keselamatan, kesehatan serta tumbuh kembangnya dapat digolongkan sebagai
pekerja anak. Disebut sebagai pekerja anak apabila memenuhi indikator seperti
anak bekerja setiap hari, anak tereksploitasi, anak bekerja pada waktu yang
panjang, dan waktu sekolah terganggu atau tidak sekolah.3
Dalam rangka meningkatkan efektivitas penyelenggaraan
perlindungan anak, maka dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) yang bersifat independen. KPAI adalah lembaga negara independen
yang dibentuk berdasarkan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak. Kedudukan KPAI sejajar dengan komisi-komisi
negara lainnya. KPAI merupakan salah satu dari tiga institusi nasional
pengawal dan pengawas implementasi HAM di Indonesia (National Human
Right Institusion) yakni KPAI, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan.
Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan memberikan uang kepada peminta-minta anak di jalanan akan melanggengkan eksploitasi terhadap anak-anak. Masyarakat agar membiasakan untuk bersedekah kepada sasaran yang tepat, bukan di jalanan yang pada hakikatnya justru melanggengkan eksploitasi anak. Kebaikan masyarakat Indonesia tidak jarang dimanfaatkan untuk mengeksploitasi anak. Karena itu, KPAI meminta kepada dinas pendidikan, sekolah, orang tua dan pihak-pihak terkait lainnya untuk memastikan tidak ada anak yang diekspolitasi dan dimanfaatkan untuk menjadi peminta-minta di jalanan. Eksploitasi anak sebagai peminta-minta di jalanan dapat mengakibatkan dampak negatif bagi tumbuh kembang dan karakter anak setelah dewasa.
3 Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, 2005, Modul Penanganan Pekerja
Anak, Jakarta, h. 10.
Semua elemen masyarakat harus memberikan perhatian dalam mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang kreatif dan inovatif, bukan generasi peminta-minta.4
Menurut data yang dikeluarkan KPAI mengenai kasus perlindungan
anak selama tahun 2011 sampai dengan 2015, kasus trafficking dan ekploitasi
anak mengalami trend peningkatan dari 160 kasus pada tahun 2011 menjadi
345 kasus pada tahun 2015, sehingga kasus trafficking dan eksploitasi anak
menempati 10 besar bidang perlindungan anak.5 Eksploitasi adalah penarikan
keuntungan secara tidak wajar dengan memeras tenaga manusia untuk
bekerja6, sedangkan trafficking menurut Pasal 1 (ayat 1) Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang, yaitu :
“Tindakan perekrutan, pengangkutan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam Negara maupun antar Negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”
Perlakuan eksploitasi terhadap anak berupa tindakan atau perbuatan
memperalat, memanfaatkan, atau memeras anak untuk memperoleh
4 Davit Setyawan, 2015, “KPAI: Memberi Uang Malah Melanggengkan Eksploitasi Anak-Anak” URL: http://www.kpai.go.id/berita/kpai-memberi-uang-malah- melanggengkan-eksploitasi-anak-anak/ diakses tanggal 19 Desember 2016.
5 https://tirto.id/memutus-rantai-perdagangan-wanita-dan-anak-bwqH , diakses tenggal 19 Desember 2016.
6 Firdaus Sholihin dan Wiwin Yulianingsih, 2016, Kamus Hukum Kontemporer, Sinar Grafika, Jakarta, h. 44.
11
keuntungan pribadi, keluarga, atau golongan, sehingga Konvensi Hak-Hak
Anak mengakui hak anak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan dari
pekerjaan yang dapat membahayakan, mengganggu pendidikan anak, atau
merusak kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan
sosial anak. KPAI membagi klaster atau bidang trafficking dan eksploitasi
menjadi 4 sub klaster yaitu: 1) Anak sebagai Korban Perdagangan
(Trafficking), 2) Anak sebagai Korban Prostitusi Online, 3) Anak sebagai
Korban Eksploitasi Seks Komersial Anak, dan 4) Anak sebagai Korban
Eksploitasi Pekerja Anak. Adapun jumlah kasus trafficking dan eksploitasi
anak yang terjadi selama tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.1
No Bulan
Korban Eksploitasi Pekerja Anak
12
Jumlah 48 96 61 84
Sumber: KPAI (data diolah, 2016)7
Berdasarkan Tabel 1.1 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 anak
sebagai korban eksploitasi pekerja anak adalah terbesar kedua setelah anak
sebagai korban prostitusi online yaitu sejumlah 84 kasus atau 29,1%. Perlu
diingat bahwa, data statistik tersebut adalah data yang terpantau secara
terbatas, sedangkan yang terjadi di masyarakat adalah iceberg phenomenon
yaitu fenomena gunung es yang hanya terlihat di puncaknya saja sementara
di bagian bawah sangat besar namun tidak terlihat. Hal ini menunjukkan
bahwa kasus anak sebagai korban eksploitasi pekerja anak termasuk besar
dan harus mendapat perhatian serius baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah mengenai perlindungan anak.
7 Bank Data KPAI, http://bankdata.kpai.go.id/tabulasi-data/data-kasus-per-bulan/rincian-
13
Perkembangan industri di Indonesia yang pesat juga membuat beberapa
perusahaan tidak hanya menggunakan tenaga kerja laki-laki melainkan juga
tenaga kerja perempuan, bahkan mempekerjakan anak yang masih di bawah umur.
Padahal, usia anak-anak seharusnya digunakan untuk bermain dan belajar, tetapi
banyak kondisi yang membuat anak-anak tidak bisa melanjutkan sekolah dan
harus mencari nafkah. Berdasarkan data Sakernas8 pada tahun 2013-2015, jumlah
angkatan kerja umur 15-17 tahun yang bekerja menunjukkan peningkatan. Pada
2013 jumlah anak berumur 15-17 tahun yang bekerja sebanyak 958,68 ribu orang.
Dibandingkan dengan Agustus 2014, jumlah tersebut turun menjadi 448,45 ribu
orang. Akan tetapi pada Agustus 2015 anak umur 15-17 tahun yang bekerja
meningkat dalam jumlah yang cukup besar, menjadi 1,65 juta orang. Sebagian
besar anak-anak umur 15-17 tahun yang menjadi angkatan kerja adalah mereka
yang telah putus sekolah. Kondisi pada Agustus 2015 menunjukkan 68,93 persen
dari anak-anak umur 15-17 tahun yang bekerja sudah tidak bersekolah lagi.
Karena dalam kebijakan wajib belajar 12 tahun, umur 15-17 tahun adalah masa di
mana anak bersekolah. Kalau digunakan batasan dari Undang-Undang Nomor 13
tentang Ketenagakerjaan Tahun 2003, dimana disebutkan yang termasuk pekerja
anak-anak adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun maka jumlahnya akan
semakin besar. Selain itu, perusahaan atau pemberi kerja merasa perlu menerima
mereka karena alasan-alasan dapat menekan biaya produksi, mereka mudah diatur
karena tak banyak menuntut.
bangkok/@ilo-jakarta/documents/presentation/wcms_346599.pdf diakses tanggal 18 Desember 2016.
pengetahuan, dan sebagainya sangat mempengaruhi kinerja kerja mereka, apalagi
bila anak di bawah umur tersebut diberikan pekerjaan-pekerjaan yang mempunyai
tanggung jawab yang berat. Belum lagi, pekerjaan tersebut dilakukan pada siang
hari dan atau hingga malam hari yang dapat mengganggu perkembangan dan
kesehatan fisik, mental dan sosial anak-anak. Terjadinya pekerja anak tersebut
dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab. Namun pada kenyataannya
keterlibatan anak dalam pekerjaan mayoritas didorong oleh faktor kekurangan
atau ekonomi. Karena faktor kemiskinan merupakan faktor utama yang
menyebabkan anak-anak bekerja di bawah umur.9 Pekerja anak di bawah umur
tersebut dapat berdampak buruk pada dirinya sendiri.
Melihat ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, dimana pada Pasal 69 ayat 2 point (d) menyatakan salah satu
persyaratan dalam bekerja yaitu “dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu
waktu sekolah”. Dimana dalam Undang-undang yang sama pada Pasal 1 angka 27
waktu siang hari yang dimaksud yaitu antara pukul 06.00 sampai dengan pukul
18.00. Namun waktu siang hari pada jam yang telah ditentukan tersebut adalah
waktu sekolah bagi para pekerja anak. Pada prinsipnya anak-anak memang
dilarang untuk bekerja, namun apabila dalam keadaan terpaksa karena ekonomi
dan sosial dari anak tidak menguntungkan, anak boleh bekerja tetapi tidak boleh
menyimpang dari ketentuan dalam Undang-Undang yang diatur dalam Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003.
9 Indrasari dan B. White, Anak-anak Desa Dalam Kerja Upahan, Prisma, Jakarta, h. 81.
15
anak dengan pengecualian berdasarkan syarat-syarat tertentu. Pengertian anak
dalam hukum ketenagakerjaan berbeda dari KUHPerdata. Larangan Penggunaan
Buruh Anak oleh pengusaha memang pada dasarnya disampaikan oleh Pasal 68
Undang-Undang Ketenagakerjaan. Akan tetapi, pengecualian mengenai hak-hak
yang harus diberikan pada buruh anak juga disampaikan dalam Undang-Undang
Ketenagakerjaan, oleh sebab itu pekerja anak yang dibolehkan dilakukan di siang
hari perlu adanya perlindungan dan pengaturan hukum dimana permasalahan
pekerja anak mengalami perkembangan kompleksitas hingga pekerjaan berat yang
eksploitatif dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental,
moral, sosial dan intelektual anak. Maka, demi terlaksananya secara baik dan
jelasnya peraturan mengenai pekerja anak dan tercapainya tujuan terhadap pekerja
anak di bawah umur, diperlukan pengawas oleh pemerintah maupun oleh orang
tua di samping perlunya kesadaran masyarakat dan itikad baik semua pihak.
Untuk tujuan itulah penulisan penelitian ini berjudul: “PENGATURAN HUKUM
TERHADAP PARA PEKERJA ANAK DI BAWAH UMUR PADA WAKTU
SIANG HARI”.
penulis dalam membatasi masalah yang diteliti sehingga sasaran yang hendak
dicapai menjadi jelas, dan sesuai yang diharapkan. Berdasarkan uraian latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaturan hukum para pekerja anak di bawah umur?
16
2. Apa akibat hukum dari adanya para pekerja anak di bawah umur yang
bekerja pada waktu siang hari?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Di dalam penulisan penelitian ini, tentunya banyak permasalahan yang
dapat diambil dalam pembahasan nanti, maka dari itu dianggap perlu untuk
membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas, agar pembahasan
tersebut menjadi tepat sasaran dan sesuai harapan. Adapun permasalahan yang
akan dibahas dalam penelitian ini yaitu, yang pertama adalah bagaimana
pengaturan hukum para pekerja anak di bawah umur. Sedangkan, pembahasan
permasalahan yang kedua dibatasi mengenai apa akibat hukum adanya para
pekerja anak di bawah umur yang bekerja pada waktu siang hari.
1.4 Orisinalitas Penelitian
maka diwajibkan kepada mahasiswa untuk menampilkan skripsi ilmu hukum
terdahulu agar dapat dijadikan sebagai perbandingan yang pembahasannya
berkaitan judul penelitian yang bersangkutan. Adapun beberapa skripsi yang
berkaitan dengan hukum ketenagakerjaan terkait anak dibawah umur yang bekerja
pada siang hari di Indonesia yaitu sebagai berikut :
No. Judul Penulis Rumusan Masalah
1. Pekerja anak di bawah
umur (Studi kasus :
enkulturasi dalam
keluarga yang
mempekerjakan anak
Keputusan Menteri
dihadapi PT.Sumber
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini, dapat dibagi menjadi 2 (dua)
bagian, yaitu sebagai berikut :
bidang penelitian yang diteliti oleh mahasiswa;
2. Untuk menambah wawasan dan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
bagi pembaca dalam bidang hukum khususnya bidang hukum
ketenagakerjaan;
gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Udayana;
4. Untuk mengetahui mengenai pengaturan hukum para pekerja anak di
bawah umur;
5. Untuk mengetahui apa akibat hukum adanya para pekerja anak di bawah
umur yang bekerja pada waktu siang hari.
1.5.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengaturan hukum para pekerja anak di bawah umur;
19
2. Untuk mengetahui apa akibat hukum adanya para pekerja anak di bawah
umur yang bekerja pada waktu siang hari yang ditinjau dari studi
kepustakaan maupun data pendukung.
1. Dapat memberikan informasi mengenai pengaturan hukum para pekerja
anak di bawah umur.
2. Memberikan manfaat secara teoritis yang sekurang-kurangnya dapat
berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan mengenai
akibat hukum terjadinya para pekerja anak di bawah umur yang bekerja
pada waktu siang hari.
ketenagakerjaan dan nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam
melakukan penelitian.
4. Dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak yang akan meneliti dan
mengembangkan penelitian yang serupa.
pengalaman dalam melakukan penelitian hukum.
1.6.2 Manfaat Praktis
Diharapkan penelitian ini dapat digunakan dan bermanfaat bagi
masyarakat maupun yang bersangkutan agar dapat mengetahui bagaimana
20
perlindungan hukum terhadap para pekerja anak dibawah umur, juga sebagai
pedoman dasar terhadap akibat hukum adanya para pekerja anak di bawah umur
yang bekerja pada waktu siang hari.
1.7 Landasan Teori
Penting sekali untuk meneliti asas apa yang lazim diterapkan di
bidang hukum, walaupun ada kecenderungan untuk mencapai
kesebandingan, dengan demikian akan dapat diketahui batas keserasian
antara tugas-tugas hukum dalam menegakkan kepastian hukum untuk
mencapai ketertiban dan kesebandingan mencapai ketenteraman.10 Dalam
penelitian diperlukan adanya kerangka teoritis. Sebagaimana yang dikemukakan
oleh Sugiyono bahwa teori merupakan alur logika atau penalaran, yang
merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara
sistematis. 11 Kerangka teoritis menurut Koentjaraningrat yaitu kerangka teori
yang membantu seorang penulis dalam menentukan tujuan dan arah penelitian,
serta sebagai dasar penelitian agar langkah yang ditempuh selanjutnya dapat jelas
dan konsisten.12 Landasan teoritis merupakan upaya untuk mengidentifikasi teori
hukum umum atau khusus, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum, aturan
hukum, norma-norma dan lain-lain yang akan dipakai sebagai landasan untuk
membahas permasalahan penelitian.
Persada, Jakarta, h. 25. 11 Sugiyono, 2015, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif
dan R&D, Alfabeta, Bandung, h. 80.
12 Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, h. 65.
21
Berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak menyebutkan bahwa, “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan”.
Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan
komprehensif, kewajiban memberikan perlindungan kepada anak juga
berdasarkan asas-asas sebagai berikut:
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
d. Penghargaan terhadap pendapat anak.
Keempat asas-asas tersebut dapat dikaitkan hubungannya dengan pekerja
anak yang bekerja pada siang hari. Dimana non diskriminasi yaitu dengan tidak
membeda-bedakan anak, semua anak mempunyai hak yang sama yang harus
dipenuhi. Kepentingan yang terbaik bagi anak yaitu kepentingan atau kebutuhan
yang diperlukan anak dalam kegiatan pendidikan, jasmani maupun rohani harus
diberikan yang terbaik karena anak sebagai penerus masa depan nantinya. Hak
untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan terhadap anak juga harus
dipenuhi kaitannya dengan kasus pekerja anak. Lalu penghargaan terhadap
pendapat anak adalah anak bebas dalam berpendapat kecuali dalam hal menyebar
kejelekan.
22
Ratifikasi Konvensi ILO No. 138 Tahun 1973 dalam pokok-pokok kovensi
mengenai Batas Usia Minimum Diperbolehkan Bekerja yaitu batas usia minimum
untuk diperbolehkan bekerja yang berlaku di semua sektor yaitu 15 (lima belas)
tahun. Maka kategori anak dibawah umur dikatakan masih belum diperbolehkan
untuk bekerja menurut konvensi tersebut.
Terdapat teori fungsionalisme struktural dalam memahami munculnya
pekerja anak. Teori fungsionalisme struktural yang diperkenalkan oleh Talcott
Parsons, merupakan teori dalam paradigma fakta sosial dan paling besar
pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang, sehingga dapat disinonimkan
dengan sosiologi.13 Teori ini memfokuskan kajian pada struktur makro (sosiologi
makro) yakni pada sistem sosial. Teori fungsionalisme struktural Parsons
berkonsentrasi pada struktur masyarakat dan antar hubungan berbagai struktur
tersebut yang dilihat saling mendukung menuju keseimbangan dinamis. Perhatian
dipusatkan pada bagaimana cara keteraturan dipertahankan di antara berbagai
elemen masyarakat.
Teori fungsionalisme struktural meneliti barang sesuatu dan fakta sosial
yang terlihat maupun tidak terlihat. Teori ini juga menjelaskan bahwa masyarakat
merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen
yang saling berkaitan, saling menyatu dalam keteraturan dan keseimbangan.
13 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2005, Teori Sosiologi Modern, Prenada
Media, Jakarta, h. 117.
Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan menyebabkan perubahan terhadap
bagian yang lain.
fakta sosial dan sistem sosial yang sudah terbentuk (terinstitusionalisasi) yang
berkaitan dengan adanya struktur dan institusi sosial disekelilingnya. Anak masuk
dalam struktur keluarga dan masyarakat, anak juga memiliki peran dan posisi
dalam kelarga dan masyarakat. Sebaliknya juga keluarga (ayah, ibu, saudara)
memiliki peran dan posisi, masyarakat (tetangga, teman, tokoh masyarakat) juga
memiliki peran dan posisi yang memberi pengaruh terhadap pekerja anak. Anak
juga terikat dengan nilai, norma dan budaya yang ada di keluarga dan masyarakat.
Munculnya pekerja anak selain merupakan hasil dari struktur dan pranata sosial
disekitarnya, pekerja anak dianggap fungsional oleh suatu masyarakat. Fungsional
yang dimaksud adalah fungsi yang bersifat netral secara ideologis yaitu dapat
bersifat positif maupun negatif.
Jika dipandang dari fungsional fisik seorang anak yang di bawah usia kerja
dapat terbilang kekuatan fisik mereka terbatas dan tidak sekuat usia kerja yang
sudah ditentukan yaitu 18 tahun keatas. Sehingga anak yang bekerja dapat
memperburuk kesehatan fisik anak tersebut, dikarenakan pekerjaan untuk anak
dibawah umur dapat membahayakan fisik dan mental atau sakit karna daya tahan
tubuh yang lemah. Banyak pekerja anak yang melakukan pekerjaan pada siang
hari di waktu sekolah. Dimana pekerja anak dibawah umur yang tidak sesuai
ketentuan tidak mendapatkan hak dasar seorang anak yaitu sekolah, bersosialisasi,
bagaimana bersikap yang baik dan berpartisipasi dalam masyarakat yang baik.
24
Di Indonesia sendiri terdapat 11,6 juta penduduk yang menganggur
(pengangguran terbuka) dan 36 juta penduduk berpenghasilan dibawah Rp
150.000,00 perbulan dari total pekerja sebesar 106,9 juta. Separuh pekerja yang
ada berpendidikan sekolah dasar atau bahkan tidak lulus sekolah dasar. 14
Penduduk yang tergolong bekerja ada 70% bekerja di sektor informal dengan
tingkat produktivitas rendah, sedangkan 30% di sektor formal.15 Maka peran
pemerintah dalam memiminimalisir angka kemiskinan sangat diperlukan di
daerah-daerah yang membutuhkan untuk kemajuan ekonomi kedepannya.
Anak di bawah umur sebagai pekerja mempunyai beberapa resiko, yaitu
sebagai berikut:
1. Secara mental anak-anak dibawah umur yang bekerja akan melupakan
pendidikannya karena mereka berpikir sudah mempunyai penghasilan
sendiri;
2. Secara fisik pekerja anak-anak akan mudah sakit karena pekerjaannya
yang berat dan masih dibawah umur;
3. Akan mudah stres karena mental anak-anak dibawah umur cenderung
belum kuat dalam menghadapi tekanan yang ada dalam dunia pekerjaan;
4. Akan menjauh dari teman-teman sebayanya karena sibuk dalam
melakukan pekerjaan;
5. Belum mampu mengatur keuangan karena anak tergolong masih dibawah
14 Asri Wijayanti, 2016, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar Grafika, Jakarta, h. 76.
15 Nur Hidayat, 2006, Perhatian Pada Pengangguran - Hanya Diatas Kertas, Kompas, Jakarta, h 50.
25
umur;
6. Rentan terhadap kekerasan fisik dan seksual karena pekerja anak
tergolong masih di bawah umur.
Namun dibalik resiko terhadap pekerja anak di bawah umur tersebut
terdapat beberapa manfaatnya, yakni:
1. Melatih persiapan dalam bekerja, dimana bila anak-anak di bawah umur
sudah mampu dan dapat melakukan pekerjaan, dapat dikatakan manfaatnya
sangat baik untuk masa depannya dalam dunia pekerjaan;
2. Dapat meringankan ekonomi keluarga;
3. Anak yang bekerja tersebut dapat belajar dalam mempunyai tanggung
jawab;
Anak sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) mempunyai hak asasi
manusia yang sama dengan warga Indonesia lainnya. Dimana menurut C. De
Rover hak asasi manusia adalah hak hukum yang sama kepada setiap manusia
baik kaya atau miskin, laki-laki maupun wanita. Walaupun hak-hak yang telah
mereka langgar akan tetapi HAM mereka tetap tidak dapat dihilangkan. Hak asasi
adalah hukum, yang mesti terlindungi dari aturan nasional agar semuanya
terpenuhi sehingga hak asasi manusia dapat ditegakkan, dijunjung tinggi serta
dilindungi. 16 Menurut Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib
16 C. De Rover, 2000, To Serve & To Protect – Acuan Universal Penegakan HAM, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, h. 32.
26
dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, masyarakat, pemerintah dan
negara.
Selain itu, menurut pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang
Kesejahteraan Anak, disebutkan bahwa :
khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
2. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan
kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa,
untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna.
3. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa kandungan
maupun sesudah dilahirkan.
4. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat
membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan
dengan wajar.
Maka diperlukannya waktu kerja maupun lingkungan kerja yang baik dan
efektif untuk pekerja anak dibawah umur tersebut untuk menjamin keselamatan
maupun kebutuhannya. Yang dimaksud dengan tempat kerja ialah tiap ruangan
atau lapangan baik yang tertutup ataupun terbuka, yang bergerak atau yang tetap,
dimana para tenaga kerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan
27
1.8 Metode Penelitian
1.8.1 Jenis penelitian
perencanaan, perancangan, manufakturing, pengamatan, analisis, dan pengkajian
yang dilakukan secara sistematik dengan nalar yang logis serta mengikuti kaidah
ilmiah, untuk mengungkapkan rahasia alam atau menyelesaikan suatu
permasalahan yang dihadapi manusia demi kesejahteraan umat manusia sendiri.18
Maka dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian normatif.
Penelitian normatif yaitu penelitian hukum kepustakaan atau penelitian hukum
yang didasarkan pada data sekunder.19 Penelitian normatif yang penulis lakukan
dengan cara mengkaji pada sumber data sekunder yang diperoleh dari bahan
hukum primer, bahan hukum sekunder yang juga ditambah dengan wawancara
dengan narasumber pada Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali sebagai
data pendukung untuk memperjelas informasi pada bahan hukum primer, dan
bahan hukum tersier.
1.8.2 Sifat penelitian
17 G. Kartasapoetra, 1986, Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila,
Bina Aksara, Jakarta, h. 131.
18 Purwadaria, 2004, Merancang Metode Penelitian: Pengembangan Penelitian, Penyusunan Usulan, dan Perencanaan Kegiatan Peneltian, Workshop Grant TPSDP, Jakarta, h. 34.
19 Soerjono Soekanto, 1986, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, CV. Rajawali Jakarta, h. 15.
28
yang bersifat deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan gejala-gejala
di lingkungan masyarakat terhadap suatu kasus yang diteliti, pendekatan yang
dilakukan yaitu pendekatan kualitatif yang merupakan tata cara penelitian yang
menghasilkan data deskriptif. 20 Penelitian ini bertujuan untuk memberikan
gambaran atau penerapan atas subjek dan objek penelitian sebagaimana hasil
penelitian yang dilakukan.
1.8.3 Jenis pendekatan
pendekatan perundang-undangan (The Statue Approach) dan pendekatan
konseptual (Conseptual Approach).
Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-
undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang
ditangani. 21 Pendekatan perundang-undangan digunakan untuk mengetahui
ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai pekerja anak di bawah umur yang
bekerja pada waktu siang hari.
Pendekatan konseptual (Conseptual Approach) merupakan pendekatan
yang digunakan dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara mempelajari
pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu
20 Peter Mahmud Marzuki, 2009, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group,
Jakarta, h. 94.
digunakan sebagai pedoman dalam membangun suatu argumentasi untuk
memecahkan persoalan mengenai pekerja anak di bawah umur yang bekerja pada
waktu siang hari.
Sumber bahan hukum yang digunakan dalam metode penelitian hukum
normatif, yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum
tersier, adalah sebagai berikut:
a. Bahan Hukum Primer, bahan hukum primer adalah bahan hukum yang
mempunyai otoritas (autoritatif). 23 Bahan hukum primer terdiri dari
perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan
undang-undang dan putusan-putusan hakim, yaitu:
a. Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia;
b. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
c. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
d. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
e. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak;
f. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi
ILO No. 138 Tahun 1973 mengenai Batas Usia Minimum
Diperbolehkan Bekerja;
22 Ibid, h. 137. 23 H. Zainuddin Ali, 2014, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 47.
30
g. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
(HAM);
Ketenagakerjaan;
Peselisihan Hubungan Industrial;
Tindak Pidana Perdagangan Orang;
Pidana Anak;
Perlindungan Anak.
b. Bahan Hukum Sekunder yaitu semua publikasi tentang hukum yang bukan
merupakan dokumen tidak resmi.24 Bahan hukum sekunder biasanya berupa
pendapat hukum atau doktrin, teori-teori yang diperoleh dari literatur hukum,
hasil penelitian, artikel ilmiah, maupun website yang terkait dengan penelitian.
Bahan hukum sekunder pada dasarnya digunakan untuk memberikan
penjelasan terhadap bahan hukum primer. Dengan adanya bahan hukum
sekunder maka peneliti akan terbantu untuk memahami dan menganalisis
bahan hukum primer. Termasuk pula dalam bahan hukum sekunder adalah
24 Ibid, h. 54.
Kerja dan ESDM Provinsi Bali. Pada penelitian hukum normatif, wawancara
dengan narasumber dilakukan dan digunakan sebagai salah satu data sekunder
yang termasuk sebagai bahan hukum sekunder. Hal tersebut karena wawancara
digunakan sebagai pendukung untuk memperjelas bahan hukum primer.
c. Bahan Hukum Tersier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk,
penunjang ataupun penjelasan terhadap data hukum primer dan data hukum
sekunder, contohnya kamus, ensiklopedia, indeks kualitatif dan seterusnya.
1.8.5 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka
atau bahan hukum sekunder dapat dinamakan penelitian hukum normatif atau
kepustakaan. Dalam penelitian lazimnya dikenal tiga jenis alat pengumpul
data yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, observasi, dan wawancara.25
Alat pengumpul data menentukan kualitas data dan kualitas data menentukan
kualitas penelitian, karena itu alat pengumpul data harus mendapat
penggarapan yang cermat. 26 Pengumpulan bahan hukum dilakukan untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan
penelitian.
dengan teknik studi dokumen atau studi kepustakaan yakni dengan
25 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2015, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Cet.XI, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, h.13. 26 Amiruddin dan Asikin, 2016, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Edisi Revisi, PT
Rajagrafindo Persada, Jakarta, h. 66.
32
Bahan hukum seperti penelitian perpustakaan yang ditujukan hanya pada
peraturan-peraturan yang tertulis, jurnal-jurnal, buku-buku maupun dokumen
atau bahan-bahan hukum lainnya. Lalu sebagai penunjang, juga dilakukan
teknik wawancara atau interview yang bersumber langsung dari narasumber
di lokasi dilakukannya penelitian. Wawancara dilakukan guna bertujuan
untuk mendapat informasi yang akurat dan relevan dengan permasalahan
yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.
1.8.6 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum
Pada penelitian hukum normatif, teknik menganalisis data atau
bahan-bahan hukum merupakan kegiatan pengklasifikasian bahan-bahan
hukum tertulis sehingga mudah untuk dianalisis dan dikonstruksi.
Pengolahan data dalam penelitian normatif pada hakikatnya adalah kegiatan
untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis.
Sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum
tertulis tersebut untuk memudahkan dalam menganalisis dan mengkonstruksi
pemahaman hukum.27
yaitu tahapan pertama ditujukan untuk mendapatkan hukum obyektif (norma
hukum) dan tahapan kedua ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif
(hak dan kewajiban). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam analisis data,
yaitu:
27 Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, h. 251.
33
mengatur masalah perjanjian khususnya perjanjian keagenan;
2) Membuat sistematika dari pasal-pasal tersebut sehingga
menghasilkan klasifikasi tertentu; dan
3) Bahan hukum primer, sekunder, dan tersier dianalisis secara induktif
kualitatif.28
metode deduktif sebagai pegangan utama, dan metode induktif sebagai tata
kerja penunjang. Analisis normatif terutama mempergunakan bahan-bahan
kepustakaan sebagai sumber data penelitiannya memiliki tahapan-tahapan
sebagai berikut.
1) Merumuskan asas-asas hukum, baik dari data sosial maupun dari
data hukum positif tertulis;
2) Merumuskan pengertian-pengertian hukum;
4) Perumusan kaidah-kaidah hukum.29
Jadi, setelah data dikumpulkan yang terdiri dari bahan hukum primer,
bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier kemudian diolah dengan
menganalisis secara deduktif dan induktif kualitatif karena dilihat dari sifat
dan data penelitiannya yang berupa deskriptif, maka kemudian hasil
pengolahan dan analisis ini disajikan secara deskriptif kualitatif yaitu dengan
28 Bambang Sunggono, 2012, Metodologi Penelitian Hukum, Cet.XIII, PT. Rajagrafindo
Persada, Jakarta, h. 184. 29 Amiruddin dan Asikin, 2016, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Edisi Revisi, PT
Rajagrafindo Persada, Jakarta, h. 175.
34
yang berkaitan dengan masalah yang dibahas sehingga dapat diperoleh suatu
kebenaran.