Creative Editing

of 20 /20
Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim Page 1 Creative Editing Apa yang akan Anda pelajari pada sesi ini: Development Editing Pictorial Editing Smart Editing Pengantar Benar sekali, Anda sedang memasuki dunia kreatif yaitu bidang yang termasuk langka di Indonesia yaitu publishing science dan editologi. Menarik sekali bahwa dalam dunia yang terus berubah dan bergerak cepat, terutama teknologi, kita mengkhawatirkan fenomena electronic publishing. Namun, kekhawatiran sebenarnya terjadi pada industri percetakan (printing house) dengan asumsi pengurangan konsumsi kertas besar-besar. Kelak, bisnis hanya hidup dari short-run printing alias percetakan oplag kecil yang kini berkembang menjadi teknologi cetak print-on-demand (POD). Namun bisnis kreativitas yang diwakili dengan produksi content tidak akan pernah mati. Itulah bisnis yang dimainkan oleh para penerbit. Content senantiasa ter-update dan selalu memerlukan sentuhan kreativitas dalam penyajiannya. Kreativitas penulis, lalu dijaga betul oleh mitra yang disebut EDITOR. Editor berperan memberi dukungan (supporting) kepada penulis—ia tidak lebih tahu soal content, tetapi ia memiliki wawasan dan intuisi untuk mengembangkan content tersebut. Karena itu, ia pun mutlak perlu menguasai Creative Editing. P P e e n n g g a a n n t t a a r r : : C C r r e e a a t t i i v v e e E E d d i i t t i i n n g g

description

Pelatihan Bambang Trim

Transcript of Creative Editing

Page 1: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 1

Creative Editing

Apa yang akan Anda pelajari pada sesi ini:

Development Editing Pictorial Editing Smart Editing

Pengantar

Benar sekali, Anda sedang memasuki dunia kreatif yaitu bidang yang termasuk langka di Indonesia yaitu publishing science dan editologi. Menarik sekali bahwa dalam dunia yang terus berubah dan bergerak cepat, terutama teknologi, kita mengkhawatirkan fenomena electronic publishing. Namun, kekhawatiran sebenarnya terjadi pada industri percetakan (printing house) dengan asumsi pengurangan konsumsi kertas besar-besar. Kelak, bisnis hanya hidup dari short-run printing alias percetakan oplag kecil yang kini berkembang menjadi teknologi cetak print-on-demand (POD).

Namun bisnis kreativitas yang diwakili dengan produksi content tidak akan pernah mati. Itulah bisnis yang dimainkan oleh para penerbit. Content senantiasa ter-update dan selalu memerlukan sentuhan kreativitas dalam penyajiannya. Kreativitas penulis, lalu dijaga betul oleh mitra yang disebut EDITOR. Editor berperan memberi dukungan (supporting) kepada penulis—ia tidak lebih tahu soal content, tetapi ia memiliki wawasan dan intuisi untuk mengembangkan content tersebut. Karena itu, ia pun mutlak perlu menguasai Creative Editing.

PPeennggaannttaarr:: CCrreeaattiivvee EEddiittiinngg

Page 2: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 2

Creative Editing

Dalam bukunya Creative Editing karya Dorothy A. Bowles dan Diane L. Borden menyebutkan bahwa editor akan menjadi garda depan pada abad 21 ini untuk mengawal berbagai jenis terbitan, baik tercetak maupun online dan mereka menjadi jantung sebuah penerbitan untuk tetap eksis. Di sinilah diperlukan peningkatan kreativitas terus-menerus, terutama sikap terhadap perkembangan teknologi.

Creative Editing menjadi sebuah cara ataupun teknik melakukan editing secara kreatif menggunakan berbagai fasilitas teknologi sesuai dengan karakteristik penerbit, tren, maupun kebutuhan dan keinginan masyarakat pembaca.

Pada hari ini, para editor berhadapan dengan fiksi, nonfiksi, dan faksi dengan perkembangan penyajian yang sungguh luar biasa pesat. Para editor berhadapan dengan want (keinginan) pembaca untuk karya-karya berbasis fiksi dan faksi. Lalu, para editor berhadapan dengan need (kebutuhan) pembaca untuk karya-karya berbasis nonfiksi.

Semua harus ditampilkan dengan cara-cara kreatif agar menarik bagi calon pembaca atau pembaca sasaran. Saya akan bahas lebih jauh. Namun, sebelumnya, saya tampilkan tugas, karakteristik, harapan, dan keterampilan yang diharapkan dari seorang editor ataupun copyeditor. Kita perlu mengukur diri kita dibandingkan dengan fenomena sebenarnya yang berlaku di dunia penerbitan secara global, baik penerbitan buku maupun media massa.

AAppaa iittuu CCrreeaattiivvee EEddiittiinngg??

FIKSI FAKSI

WANT

NONFIKSI

NEED

Page 3: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 3

Creative Editing

Tugas Seorang Editor

Editing yang baik kini merupakan pertaruhan bagi sebuah penerbitan, baik buku maupun media massa. Pertaruhan untuk menarik minat pembaca sasaran, menguatkan citra penerbitan, sekaligus mendorong bisnis penerbitan itu sendiri. Berikut tugas-tugas tersebut.

1. Pengembangan Naskah: Naskah yang diterima dari penulis tak selalu sempurna. Beberapa naskah memerlukan pengembangan (substantive editing) dan kadang-kadang harus ditulis ulang (rewriting). Hal ini menjadi bagian dari tugas editor, namun ia tidak ikut sebagai penulis—dalam banyak hal kerapkali editor tergoda untuk merombak seluruh tulisan.

2. Koreksi eror tata bahasa, ejaan, dan gaya penerbitan, termasuk dalam bahan grafis: Bagian ini menjadi tugas pokok seorang editor atau copyeditor. Ia perlu memahami segala aspek tata bahasa, ejaan, dan gaya selingkung penerbitan. Ia juga harus memberikan komitmen terhadap penggunaan bahasa yang baik dan benar.

3. Koreksi eror dalam data dan fakta: Editor juga perlu menggunakan konsentrasi tinggi untuk mengecek kebenaran data dan fakta, seperti angka-angka, tanggal, nama tokoh, ataupun fakta sebuah peristiwa. Banyak penulis yang abai soal data/fakta ini atau mereka menyajikan sesuatu yang sudah tidak up to date lagi.

4. Kontrol nilai isi: Isi naskah mungkin saja tidak sesuai dengan harapan redaksi atau ada hal-hal yang justru menyulitkan pemahaman pembaca. Untuk itu, editor perlu mengecek dan mengontrol nilai isi dari segi kepentingan, kemenarikan, dan kebermanfaatannya untuk publik pembaca.

5. Kontrol aspek pencemaran nama baik dan masalah-masalah hukum: Hal ini juga perlu menjadi bahan perhatian. Ada perubahan perilaku yang terjadi pada sebagian masyarakat ketika maraknya media online, seperti milist, blog, atau situs pertemanan. Banyak orang semakin mudah mengumbar sumpah serapah, menggunjingkan orang lain, bahkan menghina. Perilaku ini bisa saja terbawa dalam penulisan naskah dan editor perlu jeli untuk menghindarkan tuntutan dari pihak lain.

6. Penjagaan reputasi penerbitan dan citra: Penampilan penulisan, kebenaran isi, kemenarikan isi, kebermanfaatan isi, dan juga sejauh mana isi mengandung hal-hal yang up to date akan membentuk citra sebuah penerbitan. Karena itu, editor berperan penjaga penampilan isi ini dengan saksama.

7. Penulisan pendukung: Editor kadang-kadang harus siap menuliskan beberapa bahan pendukung untuk media ataupun buku. Seperti dalam media, editor ada

Page 4: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 4

Creative Editing

kalanya harus mengisi kolom tertentu atau membantu menulis advertorial. Di penerbit buku, editor terkadang diminta menulis prakata (preface) ataupun blurb di sampul belakang buku.

8. Pemilihan bahan grafis: Editor terkadang dilibatkan dalam pemilihan dan pemilahan foto maupun bahan grafis, termasuk dimintai pendapat untuk soal manipulasi bahan grafis (cropping, resizing, dan sebagainya)

9. Penulisan keterangan gambar/ilustrasi: Penulisan keterangan gambar (caption) yang tepat akan memberi nilai tambah yang baik pada penampilan sebuah bahan grafis di dalam teks. Editor bertugas menuliskan dan mencermati kecocokan antara caption dan grafis yang ditampilkan.

10. Pemilahan bahan: Sekian bahan yang tersedia di dalam naskah ditambah dengan referensi pendukung perlu dipilah-pilah kesesuaiannya dengan kebutuhan penerbit. Editor menjadi penyeleksi utama setiap bahan tulisan yang diterima oleh penerbit.

11. Melek teknologi: Teknologi memang seperti berlari. Editor yang andal harus senantiasa mengikuti perkembangan teknologi, terutama teknologi digital yang berimbas pada perkembangan pesat electronic publishing. Bayangkan dulu kita merasa nyaman menggunakan software Pagemaker, namun kini Pagemaker menjadi kuno dan tergantikan oleh In-Design.

Mental Editor

Dengan begitu banyak tugas maka seorang editor diharapkan memiliki mental dan kepribadian berikut ini.

1. Confidence 2. Questioning Nature

3. Objectivity 4. Diplomacy

5. Awareness 6. Ability to Write

7. Intelligence 8. Sense of Humor

Page 5: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 5

Creative Editing

Ranking Kemampuan Seorang Editor

Rank Knowledge or Skill

1 Tatabahasa, ejaan, dan tanda baca

2 Akurasi dan pengecekan data/fakta

3 Pemilihan kata, keterbacaan, dan struktur kalimat

4 Pengetahuan umum

5 Struktur cerita, organisasi karangan, dan isi

6 Perhatian terhadap kode etik dan etiket

7 Pemikiran analitis dan kritis

8 Pengetahuan dasar kebahasaan dan gaya selingkung

9 Pemilahan dan penilaian naskah

10 Anatomi buku

11 Pemahaman terhadap angka-angka

12 On-screen mechanical editing

13 Perwajahan interior

14 Pictorial Editing

15 Standar prosedur editing dan produksi penerbitan

16 Internet

17 Editing bidang spesifik

18 Pembinaan dan peningkatan kerja sama dengan penulis

19 Penguasaan software DTP

20 Tipografi

Page 6: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 6

Creative Editing

Pada mulanya adalah naskah. Bagaimana editor mampu memperoleh naskah yang bagus adalah seni tersendiri yang disebut seni akuisisi naskah. Berbagai cara akuisisi dapat ditempuh. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana editor dapat menemukan penulis-penulis bertalenta.

Hal kedua adalah copyediting sendiri sebagai proses penyempurnaan naskah agar memiliki keterbacaan dan kejelahan (kejernihan) yang tinggi.

Lalu, terakhir adalah penanganan context (kemasan) dalam development editing. Kita akan membahas lebih spesifik soal development editing ini yang di dalamnya terkait pictorial editing.

Rancangan Pola Pengemasan Naskah

Dasar merancang rencana pengembangan adalah dengan melihat dulu

karakteristik naskah yang akan diolah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah

1. genre naskah (fiksi, nonfiksi, faksi); 2. topik naskah; 3. pembaca sasaran naskah; 4. jenis buku (anak-anak, remaja, referensi, dsb).

VViissii EEddiittoorr MMaassaa DDeeppaann

Page 7: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 7

Creative Editing

Saya biasa menggunakan rumus TEPPI:

1. Tren 2. Estetika 3. Pembaca Sasaran 4. Penggunaan 5. Inovasi

Tren adalah sisi yang berkembang pada masyarakat kini maupun untuk masa mendatang. Ada tren kebutuhan, tren teknologi, tren fashion, tren warna, tren mode, dan sebagainya. Dalam bidang desain, terutama desain grafis juga berkembang tren yang sangat signifikan.

http://www.designforbooks.co.uk/images/ac_book_design_cu.gif

Page 8: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 8

Creative Editing

http://www.designforbooks.co.uk/images/business-book-design_1.gif

Kita lihat dari grafis yang ditampilkan beberapa model desain interior (layout halaman dalam buku) dengan penggunaan tipografi, image, dan juga penerapan unsur-unsur halaman buku, seperti nomor halaman dan judul lelar (running title). Semuanya merupakan satu kesatuan (unity) yang menghasilkan keterbacaan dan kejelahan tinggi.

Page 9: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 9

Creative Editing

http://movingboxstudios.com/LaBreacht.com/content/index.jpg

Desain eksterior atau cover juga berkembang dengan berbagai model yang menarik menggunakan unsur-unsur tipografi, warna, image, serta frame/border yang serasi hingga mengikat mata (eye catching).

Estetika adalah sisi keindahan dari desain itu sendiri. Hal-hal yang dapat mengundang keindahan adalah keserasian penggunaan tipografi, image, dan warna dalam satu kesatuan.

Pembaca Sasaran adalah sisi empati dari desain sehingga tepat dibaca untuk segmen tertentu, baik itu dari sisi usia, status sosial, maupun selera masyarakat yang dapat terbaca dari keinginan serta kebutuhan mereka.

http://www.lindaolliver.com/content/photos/ST1.jpg

Penggunaan adalah sisi kemudahan untuk pembaca yaitu bagaimana desain sebuah produk terbitan dapat sesuai dengan kebutuhan mereka atau dengan kata lain tidak justru menyulitkan mereka. Hal ini perlu diperhatikan, terutama dalam buku-buku teks (pelajaran).

Page 10: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 10

Creative Editing

Inovasi adalah sisi paling penting untuk memunculkan selalu kreativitas penggarapan desain dengan tren dan kecenderungan yang berlaku pada masyarakat. Tanpa inovasi, sebuah penerbitan bisa mati.

Rancangan Pengembangan Context

Content adalah syarat untuk menang dalam pertanding; context adalah tiket untuk dapat ikut dalam pertandingan. Jadi, context adalah pintu masuk pertama untuk mengikat perhatian calon pembaca atau pembaca sasaran. Jangan main-main dengan context meskipun kadang ada faktor yang dapat mengalahkan context yaitu strong title (judul yang kuat).

Kita tidak dapat mengandalkan kemampuan sendiri untuk memetakan ide pengembangan context. Untuk itu, perlu brain storming bersama tim editorial untuk memunculkan berbagai gagasan desain sebuah produk media, apakah itu buku, majalah, ataupun media lainnya.

Page 11: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 11

Creative Editing

Perlu dipahami bahwa editor bukanlah desainer itu sendiri. Namun, ia memang harus paham tentang desktop publishing agar mampu memberikan sentuhan kuat juga pada penampilan naskah. Kita akan belajar banyak dari

Page 12: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 12

Creative Editing

kelemahan ataupun kekeliruan sebuah desain interior maupun cover yang dapat merusakkan citra maupun keterbacaan dan kejelahan bagi pembaca.

Namun, sebelum itu izinkan saya menyampaikan sebuah tulisan kreatif tentang Pictorial Editing berikut ini. Tulisan ini dibuat untuk menggambarkan secara ringkas apa yang dimaksud dengan pictorial editing tersebut dan bagaimana implementasinya di dalam penerbitan.

Page 13: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 13

Creative Editing

Pictorial Editing: Membuat Buku Semakin Bermutu

Ponsel saya bordering. Dari ujung sana terdengar

suara bersemangat:

“Saya kira editing itu hanya persoalan memperbaiki tata 

bahasa. Namun, ketika saya dihadapkan pada visualisasi 

yang harus diedit, saya benar‐benar tidak terlalu 

memahami apa yang mestinya saya edit. Apakah benar bahwa gambar, foto, dan 

bahan‐bahan grafis di sebuah buku itu juga harus saya edit atau lebih jauh saya 

pula yang menanganinya? Makanya saya memberanikan diri mengadukan 

kegundahan saya ini kepada Anda, Pak BT. Untung saya masih punya nomor 

telepon Anda di HP 08121466193.” 

 

 

Sahabatku editor, 

Apa yang Anda hadapi itu sebenarnya bagian dari pictorial editing. Pictorial Editing: 

itu adalah istilah dalam terminologi ilmu penyuntingan untuk membagi tugas editor 

pada penyuntingan visual yang terdiri atas gambar, foto, ilustrasi, peta, grafik, 

diagram, dan berbagai tampilan visual lainnya. Mengapa menjadi ada pictorial 

editing? Karena pada hakikatnya sebuah karya tulis ternyata tidak hanya 

mengandung teks. Akan tetapi, untuk membantu pemahaman dan juga keindahan, 

naskah dilengkapi dengan tampilan visual yang pada awalnya didukung oleh konsep‐

konsep visual. Hernowo dalam bukunya Andaikan Buku Sepotong Pizza menyebutkan 

bahwa buku tanpa visualiasi bisa membuatnya kurang bergizi. Nah, berdasarkan 

penelitian visualisasi itu merangsang otak kanan kita untuk bekerja sehingga 

menyeimbangkan kerja otak kiri yang membaca teks. Alhasil, buku semakin mudah 

untuk dipahami. 

 

Page 14: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 14

Creative Editing

Berkaitan dengan kedudukan Anda sebagai editor, pahamilah bahwa pictorial editing 

utamanya dilakukan oleh editor dengan jam terbang tinggi alias sudah senior. Selain 

itu, editor tersebut juga paham dengan prinsip‐prinsip desain komunikasi visual. Jadi, 

memang tidak semua editor, terutama copyeditor, bisa melakukan pictorial editing. 

 

“Lalu, visualisasi seperti apa yang harus diedit dan bagaimana mengeditnya?”  

 

Kalau bicara soal buku, ujungnya apa yang kita edit selalu didasarkan pada anatomi 

buku tersebut. Ceklah naskah apakah dilengkapi dengan materi‐materi visual. Jika 

naskah tersebut tidak memiliki materi visual, pertimbangkan apa perlu 

menambahkan materi visual di dalamnya. Untuk itu, Anda bisa pilah bagian‐bagian 

yang diedit seperti berikut. 

 

Bagian Buku Luar 

o Cover depan 

o Logo penerbit 

o Gambar/ilustrasi  

o Tipografi judul/nama penulis 

o Spine (judul punggung) 

o Logo penerbit 

o Tipografi judul/nama penulis 

o Cover Belakang 

o Gambar/ilustrasi  

o Tipografi sales copy, endorsement, dsb. 

o ISBN (barcode) 

Bagian Buku Dalam 

o Foto/gambar/ilustrasi  

o Ikon/frame (border) 

o Grafik 

o Peta/Denah 

o Diagram 

o Tabel 

Page 15: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 15

Creative Editing

 

 

Selanjutnya, apa yang harus diedit dari sebuah tampilan visual adalah sebagai 

berikut: 

o Konsep visual sesuai dengan karakter naskah. Naskah untuk anak tentu 

berbeda konsep visualnya dengan naskah untuk orang dewasa. Begitupun 

naskah yang ingin dibuat ringan, berbeda visualnya dengan naskah yang 

dibuat serius. 

o Caption (keterangan visual). Terkadang bisa terjadi kesalahan dalam 

penempatan keterangan gambar sehingga harus diedit juga. 

o Materi teks dalam visual. Materi teks dalam visual juga harus diedit karena 

mungkin salah ketik atau salah penempatan. 

o Relevansi visual. Hal ini berhubungan dengan peletakan visual yang sesuai 

dengan teks naskah, termasuk juga kemudahan membacanya. 

o Kesatuan (unity) visual. Visual yang dibuat hendaknya berkarakter sama 

sehingga terasa kesatuannya. Sebagai contoh dalam sebuah buku berilustrasi 

garis hendaknya menggunakan satu ilustrator yang sama. Jika terdapat 

berbagai jenis ilustrasi, buku itu akan terasa menjadi kumpulan ilustrasi yang 

dicomot dari sana sini. Dalam hal ini berhati‐hatilah menggunakan software 

clip‐art. Anda harus memilih jenis clip‐art yang sama. 

o Sumber visual (legalitas). Jangan lupa untuk mencatumkan sumber 

pengutipan visual jika memang diambil dari materi lain. 

o Warna visual (estetika dan fakta). Pewarnaan visual untuk buku berwarna 

menjadi penting guna memperlihatkan keserasian warna dan juga kesesuaian 

dengan fakta sebenarnya. 

o Materi visual (foto, ilustrasi garis). Tentukan materi visual yang paling 

mendukung untuk teks, apakah foto atau lebih baik dengan ilustrasi garis. 

o Jenis visual ilustrasi (kartun, semikartun, realis, dsb.). Tentukan jenis visual 

yang paling relevan untuk menjelaskan teks karena pada dasarnya ilustrasi 

garis dapat dibuat dengan berbagai jenis, seperti kartun, semikartun, dan 

ilustrasi realis. 

o Kesopanan: etiket, SARA, gender. Cermati kemungkinan visual yang dapat 

Page 16: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 16

Creative Editing

melanggar norma dalam masyarakat, menyangkut persoalan tradisi, sopan 

santun, SARA, dan gender. Gambar seorang anak yang memakan dengan 

tangan kiri bisa menjadi masalah dalam ilustrasi buku pelajaran, padahal 

mungkin sepele dalam anggapan seorang editor. 

 

 

 

“Lalu, Pak, kalau visual tidak ada, yang menentukan pencarian visual itu juga apa 

harus saya? Bukankah saya sudah begitu sibuknya dengan seabrek pekerjaan 

menyunting teks, bahkan juga melakukan pekerjaan menulis ulang?” 

 

Sahabatku, itu memang sudah takdir Anda sebagai editor. Kalau Anda mau benar‐

benar sempurna sebagai editor, do it! Anda harus paham bahwa tugas Anda memang 

kompleks. Berlatihlah untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu kesatuan 

tugas. 

  

Selain itu, penggagasan visualisasi sebaiknya dari Anda. Karena apa? Karena Anda 

yang paling tahu karakter dan ruh dari sebuah naskah di samping penulisnya. Pada 

abad informasi ini jangan berpikir terlalu sulit, bahkan mempersulit segala sesuatu 

untuk mencari gagasan. Anda punya akses untuk berselancar di internet, punya 

kamera digital, punya software clip‐art dan foto, serta punya ilustrator yang siap 

bekerja sama dengan Anda! 

 

Hal termahal dari sebuah konsep visualisasi adalah IDE VISUAL. Kalau Anda hobi 

berpikir, pikirkanlah ide‐ide orisinal dan juga luar biasa tentang visual untuk melatih 

imajinasi Anda. Jika Anda membaca sebuah buku atau majalah, cermati dan kajilah 

tampilan visual di dalamnya. Ikuti bagaimana sang editor di buku itu bisa melahirkan 

visualisasi yang mampu menggugah. Atau sebaliknya, Anda bisa mengambil pelajaran 

dari buku‐buku yang memiliki ide visual norak, merepotkan pembaca, atau terlalu 

rumit. 

Page 17: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 17

Creative Editing

 

 

Bagaimana Sahabat? Masih terlalu berat berpikir untuk sebuah visual cover dan isi 

buku yang imajinatif, ikon‐ikon yang memotivasi? Bukankah hidup kita sebenarnya 

penuh dengan visualisasi nyata? Anda pasti tahu mana yang indah dan yang tidak. 

 

 

Sebuah percakapan imajiner untuk rekan‐rekan editor di berbagai penerbit. 

Berikan selalu yang terbaik untuk hasil kerja kita yaitu BUKU! Terima kasih. 

Bambang Trim Praktisi Perbukuan Indonesia

Page 18: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 18

Creative Editing

Matriks Anatomi Desain

Hanya sekadar mengingatkan, saya tampilkan matriks dari anatomi buku dan sebuah desain dari koran. Intinya kita perlu mengenali setiap bagian. Dasar dari sebuah desain adalah 3F: Format-Function-Frame. Banyak desainer yang memahami format, tetapi tidak memahami fungsi. Ada juga yang memahami format dan fungsi, tetapi juga kurang kreatif mengaplikasikan frame.

Page 19: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 19

Creative Editing

http://images.setengahmateng.com/images/850_Kompas_21_Jan_2009.jpg

Foto Berita

Headline

Logo

Infografis

Foto Berita

Ikon

Page 20: Creative Editing

Creative Editing Training, Polimedia, ©2009 by Bambang Trim

Page 20

Creative Editing

Anda akan Tahu bahwa Anda Bisa Kreatif!

Pada akhirnya Anda akan bertemu saya pada sesi training Creative Editing. Bahan ini mungkin dapat dikembangkan dengan pengetahuan dan keterampilan lebih detail. Namun, saya tutup dulu bahan ini sampai pada halaman 20.

Bahan Anda akan diperkaya dengan materi dari powerpoint yang akan saya tampilkan pada kelas saya satu hari penuh. Contoh-contoh kasus untuk editing piktorial akan kita bahas dengan lebih taktis. Untuk itu, silakan baca dan pahami dulu materi pengantar ini untuk terus kita lanjutkan pada interaksi lebih hidup dalam sesi saya.

Terima kasih.

Catatan: Manakala Anda temukan salah ketik ataupun kekurangan dalam teks naskah, Anda dapat langsung mengeditnya sebagai sebuah pelatihan. Terima kasih.

Disajikan oleh:

Bambang Trim, Praktisi Perbukuan Indonesia

(Direktur Salamadani Publishing dan CEO Dixigraf Publishing Service)