Chin Yung Rase Emas DewiKZ TMT

download Chin Yung Rase Emas DewiKZ TMT

of 227

  • date post

    18-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    145
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Chin Yung Rase Emas DewiKZ TMT

Rase EmasSaduran : Chin Yung Di upload TAH di Indozone Ebook oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kang-zusi.info/ http://cerita-silat.co.cc/

Daftar isi :RAS E EMAS DAFTAR IS I : BAGIAN 01 BAGIAN 02 BAGIAN 03 BAGIAN 04 BAGIAN 05 BAGIAN 06 BAGIAN 07 BAGIAN 08 BAGIAN 09 BAGIAN 10 BAGIAN 11 BAGIAN 12 BAGIAN 13 BAGIAN 14 BAGIAN 15 BAGIAN 16 BAGIAN 17 BAGIAN 18 BAGIAN 19 BAGIAN 20 PENUTUP

BAGIAN 01Malam telah larut benar, cahaya rembulan menyinari daerah sekitar perkampungan Wu-Sie-Cung dibilangan San-see. Kesunyian tampak mencekam perkampungan Wu-Sie-Cung, dan juga toko2 memang sudah tutup karena semua penduduk perkampungan WuSie-Cung itu telah terlelap didalam tidur mereka. Didekat ujung jalan yang menuju kearah pasar itulah letaknya perkampungan Wu-sie-cung itu, dan dijalan itu pula terdapat sebuah bangunan rumah yang tidak begitu besar. Didekat langkan dari muka rumah itu tergantung sebilah papan merek, yang bunyinya memperlihatkan bahwa rumah itu sebagai rumah obat. Toko Obat Thing Sun Lie. Tetapi pada malam selarut ini ciangtung (papan penutup toko) itu telah tutup seluruhnya dan juga cahaya lampu penerangan dibagian ruang muka telah padam. Hanya dari belakarg bangunan itu tampak cahaya api penerangan masih menyala. Diruangan itulah tabib T hing Sun Lie masih duduk disebuah meja kecil yang terbuat dari kaju asem, duduk menghitung uang yang dihasilkannya hari ini, hasil penjualan obatnya. Thing Sun Lie seorang Iaki2 yang telah cukup lanjut usianya mungkin sudah mencapai empat puluh tahun. Namun karena dia mengerti ilmu pengobatan, dengan sendirinya dia memiliki kesehatan Yang baik sekali dan juga wajahnya tampak Ke-merah2-an, memperlihatikan bahwa tabib memiliki kesehatan rubuh yang terjaga benar-benar. ini memang

Dikursl yang satunya lagi, tampak T hang Hujin (nyonya T hang), tengah duduk menyulam sebuah baju. Kesunyian mencekam diruangan tersebut, hanya lampu api pelita yang ber-goyang2 jika ada angin yang bertiup dengan silirannya dari lubang2 kisi jendela atas pintu mempermainkan mata api itu. Juga dalam kesunyian tersebut sering terdengar suara benturan2 uang logam itu.

Selang sesaat, kesunyian itu telah dipecahkan oleh suara menghela napas dari T hang Hujin, dantampak perempuan setengah baya yang mungkin berusia diantara tiga puluh delapan tahun itu telah mengangkat kepalanya, memandang ke arah suaminya yang tengah sibuk menghitung penghasilannya hari itu. "Thang Koko!" kata 'Thang Hujin kemudian dengan suara yang lembut, memperlibatkan bahwa Thang Hujin adalah seorang wanita yang sabar dan lembut sekali. Thang Sun Lie hanya menyahuti "hemmm" saja, tetapi dia masih sibuk juga menghitung uan.g diatas, meja itu. Thang, Hujin telah mengbela napas lagi, dia memandang kearah suaminya dengan sorot mata yang masgul, lalu katanya per-lahan2 : "Thang Koko kau terlalu letih, pergilah beristirat dahulu." kata nyonya Thang itu lagi. "Aku belum lagi selesai menghitung uang ini isteriku." menyahuti Thang Sun Lie masih terus juga menghitung uang yang ada diatas meja tanpa menoleh kepada isterinya. "Jika memang engkau telah mengantuk, pergilah kau tidur lebih dulu dariku !" Thang Hujin, menghela napas lagi, wajahnya tampak jadi semakin muram. "Thang koko hari2 belakangan ini kau terlalu memperbudak dirimu dengan uang itu. Ingatlah Thang koko, dengan bekerja mati2-an dan juga tanpa beristirahat akan merusak kesehatanmu . kata Thang Hujin lagi. "Tetapi isteriku .. hari2 belakangan, ini kita memperoleh rejeki yang cukup banyak!" kata T hang Sun Lie, dia meletakkan sisa uang yang belum lagi dihitungnya itu diatas meja. "Maka, dari itu kapan lagi kita akan mencari rejeki seperti ini! Telah sepuluh tahun kita membuka usaha rumah obat ini, tetapi selalu sepi saja, jarang yang mengunjungi! Sekarang ? Dikala

penduduk kampung ini mengetahui bahwa aku adalah seorang tabib yang pandai dan obatku sangat manjur, mereka telah ber-bondong2 meminta agar aku mengobati penyakit yang mengidap pada diri mereka masing2! Mengapa kita harus menolak rejeki yang datang ?" Waktu berkata begitu, wajah Thang Sun Lie ber-seri2, tampak dia sangat bangga sekali.. Thang Hujin menghela napas. "Benar Thang Koko. tetapi kau, harus ingat waktu! Bekerja sampai larut malam dengan membuka rumah obat sampai jam dua belas tengah malam lalu sekarang masih sibuk menghitung uang yang kau peroleh itu, bukankah nanti penduduk kampung ini yang sehat wal-afiat dan sebaliknya tubuhmu yang rusak karena engkau tidak memikirkan kesehatanmu sendiri ?" Thang Sun Lie tersenyum mendengar perkataan isterinya. "Moy-moyku (adikku)," kata Thang Sun Lie dengan suara yang lembut, percayalah kepadaku, walaupun aku, bekerja keras dan melayani sisakit sampai larut malam, namun aku juga bisa mengimbangi kekuatan tubuhku. Jika memang aku merasa letih dan sudah tidak kuat lagi, tentu aku akan pegi tidur untuk beristirahat! Tidak mungkin aku tidak mengenal kesehatan dan kemampuan tubuhku sendiri !" "Benar Tbang Koko.. tetapi akhir2 ini aku melihat kesehatanmu agak mundur sekali Sekali-kali kau bercerminlah, lihatlah tubuhmu yang telah semakin kurus saja. dan juga. hai, hai.akhir2 ini kau seperti kurang memperhatikan. Kie Bouw, anak kita itu.. Kasihan anak kita itu, karena biar bagaimana Kie Bouw memang membutuhkan kasih sayang dan perhatianmu ! " Dan setelah berkata begitu, berulang kali Thang Hujin menghela napas panjang. Wajahnya juga bertambah muram, dan matanya digenangi air mata.

Melihat ini, Thang Sun Lie memparhatikan wajah isterinya yang tengah menunduk dan meneruskan sulamnya. "Moy-moy.. kau jangan terlalu bersedih begitu. Bukankah didalam kesempatan yang ada seperti ini kita memang harus dapat mengejar dan memanfaatkan segalanya ? Karena jika dalam keaddan laris seperti sekarang ini, kita membatasi orang2 yang ingin berobat kepada kita. nantinya kita juga yang rugi ? Tentang Kie Bouw, anak kita itu, kita bisa mencurahkan selurub kasih sayang kita jika memang kita sudah dapat memperkokoh penghidupan dan kehidupan kita, dimana dalam suasana tenteram, tentu kita dapat mencurahkan seluruh perhatian kita buat Kie Bouw. Apalagi memang anak kita itu sekarang ini baru berusia tiga tahun, maka dia belum mengerti sesuatu apapun juga ! Kalau memang aku bisa memperoleh kemajuan dan untung besar, tentu waktu ia berusia lima tahun atau enam tahun, kita sudah dapat hidup dengan tenang !" Tetapi Thang Hujin tidak menyahutinya, dia hanya menghela napas berulang kali. Melihat isterinya tetap berwajah murung seperti itu, tentu saja telah membuat Thang Sun Lie jadi ikut2-an menghela napas. Biar bagaimana memang dihati kecilnya Thang Sun Lie mengakui dirinya kurang memperhatikan putera tunggal mereka di-akhir2 ini. Dengan sendirinya, mau tidak mau memang. didalam hal ini telah membuat ia juga jadi merasa kasihan pada Kie Bouw. Per-lahan2 Thang SLn Lie telah berdiri dari duduknya, dia telah melangkah menghampiri kesebuah kamar, dibukanya pintu kamar itu. Tampak seorang bocah cilik berusia diantara tiga tahun tengah tertidur nyenyak disebuah pembaringan kecil. Wajah anak lelaki kecil itu bulat dan kemerah2an memperlihatkan bahwa ia sangat sehat sekali. Melihat ini, Thang Sun Lie jadi tersenyum senang, karena biar bagaimana putera tunggal mereka itu memiliki kesehatan yang sangat baik sekali, disamping itu tubuhnya sangat montok sekali.

Bocah kecil, Kie Bouw, juga tertidur dengan bibir yang tersungging senyuman. "Lihat moy-moybetapa nyenyaknya anak kita itu tertidur jelas ia tengah bermimpi indah sekali!" kata Thang Sun Lie dengan suara yang perlahan dan lembut. Dengan bibir tersungging senyuman berduka nyonya Thang itu juga telah bangkit dari duduknya dia meletakkan sulamannya diatas meja dan dia melangkah untuk menghampiri suaminya. Dilihatnya kearah putera tunggal mereka yang tengah tertidur nyenyak. "Sudah sejak belasan tahun yang lalu kita menikah dan, menginginkan anak, namun tidak pernah memperolehnya dan sekarang, tiga tahun yang lalu, Thian (Tuhan) telah memberkahi kita dengan sebuah jimat untuk keturunan kita..! Namun disaat seperti ini, ternyata Kie Bouw dalam usia yang demikian kecil tidak memperoleh kasih sayang darimu, Thang Koko betapa kurangnya perhatianmu padanya !" Thang Sun Lie hanya menghela napas. Orang she Thang ini mengerti, jika dia menjawabnya, tentu akan memperpanjang persoalan tersebut dan kemunkinan pula akan menimbulkan suatu cekcok dengan isterinya tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah perkataanpun juga, tampak Thang Sun Lie telah melangkah menghampiri kursinya dan duduk disitu untuk melanjutkan menghitung uang penghasiIan hari ini. Sedangkan Thang Hujin juga telah kembali duduk dikursinya untuk menyulam kembali. Keheningan telah meliputi mereka berdua. Tetapi disaat malam semakin larut, tiba2 terdengar suara ketukan pintu.

"Siapa?" tegur Thang Sun Lie dengan perasaan tidak senang, karena ia menganggap orang yang mengetuk pintu itu terlalu mengganggu dilarut malam seperti ini. "Sinshe (tabib) tolonglah kami puteri kami tengah sakit keras dan dalam keadaan pingsan..!" terdengar suara orang menghiba diluar pintu itu. Thang Hujin jadi mengerutkan sepasang alisnya, karena ia merasa begitu terganggu. Hari sudah larut malam demikian, ia bermaksud agar suaminya menolak kedatangan orang itu. Namun Thang Sun Lie hanya berdiam diri saja, dia telah membereskan uang2 diatas meja kemudian melangkah kearah pintu. Dibukanya pintu tersebut, dan seketika itu juga diluar dugaan, telah menerobos masuk belasan sosok tubuh dengan cepat dan juga telah berkelebat sesosok bayangan yang mendorong tubuh dari Thang Sun Lie, sehingga tubuh orang she Thang itu telah terjungkel bergulingan diatas lantai. Thang Hujin kaget bukan main, dan seperti orang kesima. Dan ketika ia tersadar, ia mengeluarkan Suara jeritan. Thang Hujin seorang wanita yang lemah lembut dan juga merupkan seorang wanita yang halus, sekali, melihat suaminya. telah diperlakukan demikian, tentu saja dia jadi mengeluarkan Suara jeritan yang begi