Chapter II

29
 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi 2.1.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi terjadi  penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasisehingga mendapatkan pengetahuan (Taylor, 1993). 2.1.2. Tujuan Komunikasi Pada dasarnya komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan, melaksanakan kegiatan tertentu dalam mencapai suatu tujuan. Artinya, dalam proses komunikasi, terjadi suatu pengertian yang diinginkan bersama sehingga tujuan lebih mudah tercapai ( Tatik, dkk, 2003) . Menurut Wijaya (1993), tujuan komunikasi persuasif adalah untuk memengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang, kelompok, untuk kemudian melakukan tindakan/perbuatan sebagaimana dikehendaki. 2.1.3. Jenis-jenis Komunikasi Menurut Tatik, dkk (2003), ada dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. a. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alat sehingga komunikasi verbal ini sama artinya dengan komunikasi kebahasaan. Universitas Sumatera Utara

description

Chapter II

Transcript of Chapter II

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Komunikasi

    2.1.1 Pengertian Komunikasi

    Komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau proses yang

    menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi terjadi

    penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan penerima

    informasisehingga mendapatkan pengetahuan (Taylor, 1993).

    2.1.2. Tujuan Komunikasi

    Pada dasarnya komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan,

    melaksanakan kegiatan tertentu dalam mencapai suatu tujuan. Artinya, dalam proses

    komunikasi, terjadi suatu pengertian yang diinginkan bersama sehingga tujuan lebih

    mudah tercapai ( Tatik, dkk, 2003).

    Menurut Wijaya (1993), tujuan komunikasi persuasif adalah untuk

    memengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang, kelompok, untuk

    kemudian melakukan tindakan/perbuatan sebagaimana dikehendaki.

    2.1.3. Jenis-jenis Komunikasi

    Menurut Tatik, dkk (2003), ada dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi

    verbal dan nonverbal.

    a. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alat

    sehingga komunikasi verbal ini sama artinya dengan komunikasi kebahasaan.

    Universitas Sumatera Utara

  • b. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang tidak meggunakan bahasa

    lisan maupun tulisan, tetapi menggunakan bahasa kial, bahasa gambar, dan

    bahasa sikap.

    2.2 Komunikasi Persuasif

    Menurut Dedy, 1994 komunikasi persuasif adalah suatu proses komunikasi

    dimana terdapat usaha untuk meyakinkan orang lain agar publiknya berbuat dan

    bertingkah laku seperti yang diharapkan komunikator dengan cara membujuk tanpa

    memaksanya.

    2.2.1. Prinsip-prinsip Komunikasi Persuasif

    Dalam prinsip komunikasi persuasif ada 5 (lima) prinsip, diantaranya :

    1. Membujuk demi konsistensi

    Khalayak lebih memungkinkan untuk mengubah perilaku mereka apabila

    perubahan yang dianjurkan sejalan dengan kepercayaan, sikap, dan nilai sat ini. Sikap

    didefenisikan sebagai predisposisi mengenai suka atau tidak suka. Nilai sebagai

    pernyataan terakhir yang lebih abadi dari eksistensi atau mode yang luas dari

    perilaku. Kepercayaan adalah tingkat keyakinan.

    2. Membujuk demi perubahan-perubahan kecil

    Khalayak lebih memungkinkan untuk mengubah perilaku mereka apabila

    perubahan yang dianjurkan khalayak merupakan perubahan kecildan bukan

    perubahan besar perilaku mereka.

    Universitas Sumatera Utara

  • 3. Membujuk demi keuntungan

    Khalayak lebih mungkin mengubah perilakunya apabila perubahan yang

    disarankan akan menguntungkan mereka lebih dari biaya yang akan mereka

    keluarkan.

    4. Membujuk demi pemenuhan kebutuhan

    Khalayak lebih mungkin untuk mengubah perilaku mereka apabila perubahan

    yang disarankan berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.

    5. Membujuk berdasarkan pendekatan-pendekatan gradual

    Bergantung pada penerimaan khalayak terhadap perubahan yang disarankan

    pembicara dalam kehidupan mereka. Pendekatan gradual menganjurkan yang lebih

    memungkinkan untuk bekerja dibandingkan pendekatan yang meminta khalayak

    untuk segera berubah perilakunya.

    2.3 Bentuk Komunikasi

    Adapun bentuk-bentuk komunikasi menurut Uripni, 2003 dalam buku

    komunikasi kebidanan sebagai berikut :

    1. Interpersonal Communication (face to face communication)

    Komunikasi interpersonal adalah salah satu yang paling efektif dan

    komunikator dapat langsung bertatap muka, sehingga stimulus yakin pesan

    atau informasi yang disampaikan komunikan, langsung dapat direspon atau

    ditanggapi pada saat itu juga.

    Universitas Sumatera Utara

  • 2. Intrapersonal communication

    Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang terjadi dalam diri individu.

    Komunikasi tersebut akan membantu seseorang atau individu agar tetap sadar

    akan kejadian di sekitarnya. Atau penyampaian pesan seseorang kepada

    dirinya sendiri.

    2.4 Komponen Komunikasi

    Komponen komunikasi merupakan unsur terpenting yang terdiri atas lima

    unsur meliputi

    1. Unsur dasar komunikasi

    Dalam komunikasi, harus mempunyai komunikator, pesan, saluran

    komunikasi. Metode komunikasi, komunikan, lingkungan, dan umpan balik.

    2. Sumber dan sasaran komunikasi

    Sumber komunikasi adalah komunikator yang berperan dalam membentuk

    kesamaan persepsi dengan pihak lain yang dalam hal ini adalah sasaran,

    memformulasikan pesan, menggunakan lambang, dan menginterpretasikan

    pesan dalam pola pemahaman kontekstual.

    Sasaran adalah penerima pesan yang menerjemahkan pesan disesuaikan

    dengan pengalaman dan pengertian dari komunikan.

    3. Bentuk komunikasi

    Pelaksanaan kegiatan komunikasi pada prinsipnya disesuaikan dengan

    kebutuhan sasaran yang akan membuat jalinan komunikasi. Jaringan

    Universitas Sumatera Utara

  • komunikasi disesuaikan dengan kebutuhan akan mewujudkan bentuk

    komunikasi yang menggambarkan proses dan pelaksanaan pelaksanaan

    komunikasi tersebut. Bentuk komunikasi yang akan terjadi berdasarkan

    kebutuhan terdiri atas komunikasi pribadi, komunikasi kelompok, dan

    komunikasi massa.

    4. Teknik komunikasi

    Ada berbagai teknik komunikasi, diantaranya adalah jurnalisme, hubungan

    masyarakat, periklanan, pameran persahabatan, propaganda, dan iklan

    masyarakat.

    2.5 Faktor yang Memengaruhi Komunikasi

    Proses komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor (Potte; & Perry, 1993) :

    1. Perkembangan

    Agar dapat berkomunikasi efektif dengan seseorang, bidan harus mengerti

    pengaruh perkembangan usia, baik dari sisi bahasa maupun proses berpikir

    orang tersebut.

    2. Persepsi

    Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau

    peristiwa persepsi ini dibentuk oleh pengharapan atau pengalaman.

    3. Nilai

    Nilai adalah standar yang memengaruhi perilaku sehingga penting bagi bidan

    untuk menyadari nilai seseorang. Bidan perlu berusaha untuk mengetahui dan

    Universitas Sumatera Utara

  • mengklarifikasi nilai sehingga dapat membuat keputusan dan interaksi yang

    tepat dengan klien.

    4. Latar belakang sosial budaya

    Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor budaya.

    Budaya juga akan membatasi cara bertindak dan komunikasi.

    5. Emosi

    Emosi merupakan perasaan subjektif terhadap suatu kejadian. Emosi seperti

    marah, sedih, senang akan dapat memengaruhi bidan dalam berkomunikasi

    dengan orang lain. Bidan perlu mengkaji emosi klien dan keluarganya

    sehingga mampu memberi asuhan kebidanan yang tepat.

    6. Jenis kelamin

    Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Tanned

    (1990) menyebutkan bahwa wanita dan laki-laki mempunyai perbedaan gaya

    komunikasi.

    7. Pengetahuan

    Tingkat pengetahuan memengaruhi komunikasi. Seseorang yang tingkat

    pengetahuannya rendah akan sulit merespons pertanyaan yang mengandung

    bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan tinggi. Bidan perlu mengetahui

    tingkat pengetahuan klien sehingga dapat berinteraksi dengan baik dan

    akhirnya dapat memberi asuhan kebidanan yang tepat kepada klien.

    8. Peran dan hubungan

    Universitas Sumatera Utara

  • Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antarorang yng

    berkomunikasi. Cara berkomunikasi seorang bidan dengan koleganya, dengan

    cara komunikasi seorang bidan pada klien akan berbeda tergantung peran.

    9. Lingkungan

    Lingkungan interaksi akan memengaruhi komunikasi yang efektif. Suasana

    bising, tidak ada privasi yang tepat akan menimbulkan kerancuan,

    ketegangan, dan ketidaknyamanan.

    10. Jarak

    Jarak dapat memengaruhi komunikasi. Jarak tertentu akan memberi rasa aman

    dan kontrol.

    11. Citra diri

    Manusia mempunyai gambaran tertentu mengenai dirinya, status sosial,

    kelebihan dan kekurangannya. Citra diri terungkap dalam komunikasi.

    12. Kondisi fisik

    Kondisi fisik mempunyai pengaruh terhadap komunikasi. Artinya,

    pembicaraan mempunyai andil terhadap kelancaran dalam berkomunikasi.

    2.6 Pengaruh Komunikasi Terhadap Penggunaan Susu Formula

    Bidan mempunyai peran yang sangat penting dalam penggunaan susu

    forrmula. Komunikasi yang salah diberikan oleh bidan tentang penggunaan susu

    formula sangat berdampak tidak baik untuk bayi maupun pada ibu bayi sendiri.

    Kurangnya penyuluhan kepada masyrakat tentang menyusui masih sangat jarang

    sehingga banyak di antara mereka yang kurang mengerti akan pentingnya pemberian

    Universitas Sumatera Utara

  • ASI kepada bayi mereka. Tempat ibu bersalin juga sangat menentukan keberhasilan

    menyusui, hendaknya bayi disusui segera atau sedini mungkin setelah lahir. Namun,

    tidak semua persalinan berjalan normal dan tidak semua dapat melaksanakan

    menyusui dini. Di samping itu, belum semua petugas paramedis diberi pesan dan

    cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayinya, dan ada

    praktik yang keliru dengan memberikan susu formula kepada bayi yang baru lahir

    dan masih banyak rumah sakit yang masih merawat bayi secara terpisah dengan

    ibunya.

    Berdasarkan Kode Etik Pemasaran PASI (Pengganti Air Susu Ibu), makanan

    yang paling tepat/ideal untuk bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). Namun demikian,

    karena beberapa hal bayi tidak memperoleh ASI, mungkin karena alasan kesehatan

    ibu ataupun karena alasan lainnya, misalnya ibu bekerja di luar rumah. Untuk

    menggantikan ASI, kepada bayi diberikan PASI yang juga terkenal dengan susu bayi

    (Akre, 1994).

    Oleh karena promosi PASI yang sangat berlebihan, banyak kaum ibu di

    negara berkembang yang sebenarnya mampu menyususi anaknya/bayinya,

    memberikan PASI kepada bayinya karena ingin dianggap modern. Praktek ini dapat

    menimbulkan akibat yang merugikan kesehatan bayi diantara lain karena

    penyiapannya yang tidak memenuhi syarat hygiene. Disamping itu sebagai akibat

    dari keadaan ekonomi yang kurang atau belum baik, kepada bayi sering diberikan

    PASI yang terlalu encer dan ini dapat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan

    bayi/balita (Akre 1994).

    Universitas Sumatera Utara

  • Keadaan kesehatan bayi di Negara berkembang ini mendapatkan perhatian

    WHO (World Health Organization). Dalam usaha menanggulangi hal ini WHO

    menyusun suatu rekomendasi yang dinamakan Code of Marketing of Breast Milk

    Subtitues (tata cara pemasaran pengganti air susu ibu). Code ini telah diterima oleh

    negara-negara anggota WHO termasuk Indonesia tahun 1981 (Speirs,1992).

    Sesuai dengan sikap pemerintah Indonesia yang menerima kode dari WHO

    tersebut, maka Departemen Kesehatan (Depkes) mengeluarkan Peraturan Menteri

    Kesehatan (PERMENKES) No. 240/MENKES/PER/V/1985 tentang PASI. Speirs

    (1992), WHO (World Health Organization) telah menetapkan peraturan mengenai

    pemasaran PASI.

    1. Ketentuan tentang produksi dan peredaran PASI untuk menjamin beredarnya

    produk yang memenuhi syarat mutu antara lain tentang keharusan persetujuan

    untuk memproduksi dan pendaftaran produk sebelum diedarkan. Tata cara

    untuk mendapat persetujuan akan ditetapkan oleh Direktorat Pengawasan

    Obat dan Makanan (POM). Demikian juga ketentuan dan cara produksi yang

    baik dan standar mutu untuk PASI.

    2. Pada label harus dicantumkan

    a. Persyaratan tentang keunggulan Air Susu Ibu (ASI)

    b. Pernyataan yang menyatakan bahwa pengganti air susu ibu digunakan atas

    nasihat tenaga kesehatan, serta penggunaan secara tunggal dapat

    memenuhi kebutuhan bayi berumur antara empat dan enam bulan.

    c. Tanggal kadaluarsa.

    Universitas Sumatera Utara

  • d. Penjelasan tanda-tanda yang menunjukkan bilamana pengganti air susu

    ibu sudah tidak baik lagi dan tidak boleh diberikan kepada bayi.

    3. Dilarang dicantumkan pada label

    a. Gambar bayi

    b. Gambar atau tulisan yang dapat memberi kesan, bahwa penggunaan

    pengganti air susu ibu merupakan suatu yang ideal.

    c. Kata-kata semutu air susu ibu atau kata-kata yang semakna.

    d. Tulisan pengganti air susu ibu.

    4. Kegiatan promosi atau periklanan dilarang kecuali dalam media ilmu

    kesehatan.

    2.7 Susu Formula (PASI)

    2.7.1 Susu Formula (PASI)

    Susu formula adalah makanan tambahan bayi yang secara tunggal dapat

    memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur

    enam bulan. PASI dapat dikelompokkan menjadi susu formula awal (adapted

    formula), susu lanjutan (Followup Formula) dan susu formula khusus (specific

    formula).

    2.7.2 Jenis Susu Formula

    Umumnya susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran berasal dari susu

    sapi. Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memiliki riwayat

    alergi dalam keluarga, sedangkan untuk bayi yang memiliki alergi, maka bahan dasar

    susu formula diganti menggunakan selain susu sapi.

    Universitas Sumatera Utara

  • Di Indonesia, beredar berbagai macam susu formula dengan merek dagang,

    diantaranya :

    1. Susu Formula Adaptasi

    Susu formula adaptasi adalah susu formula yang disesuaikan dengan

    kebutuhan bagi bayi yang baru lahir sampai umur 6 bulan.

    2. Susu Formula Awal Lengkap

    Susu formula awal lengkap, berarti susunan zat gizinya lengkap dan

    pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. Berbeda dengan

    formula adaptasi, susu formula ini memiliki kadar protein yang lebih tinggi

    dan komposisi zat gizi lain tidak disesuaikan dengan yang terdapat dalam

    ASI.

    3. Susu Formula Follow Up

    Pengertian follow up dalam dalam susu formula ini adalah lanjutan, yaitu

    menggantikan susu formula yang sedang digunakan dengan susu formula

    ini. Susu formula ini diperuntukkan untuk bayi berumur 6 bulan ke atas.

    Pada umumnya susu formula follow up mengandung protein dan mineral

    yang lebih tinggi daripada susu formula adapted dan completing startng.

    4. Susu Formula Prematur

    Susu formula permatur digunakan untuk bayi yang lahir prematur. Susu

    formula prematur komposisi zat gizinya lebih besar dibandingkan dengan

    Universitas Sumatera Utara

  • formula biasa karena pertumbuhan bayi prematur yang cepat sehingga

    membutuhkan zat-zat gizi yang lebih banyak.

    5. Susu Hipoalergenik

    Susu formula hipoalergenik diberikan kepada bayi yang mengalami

    gangguan pencernaan protein. Susu formula jenis ini kandungan lemaknya

    sudah diperkecil.

    6. Susu Soya

    Bahan dasar dalam susu soya diganti dengan sari kedelai yang

    diperuntukkan bagi bayi yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi,

    tetapi tidak alergi terhadap susu kedelai. Fungsinya sama dengan susu sapi

    yang protein susunya sudah dipecah dengan sempurna sehingga dapat

    digunakan sebagai pencegahan alergi.

    7. Susu Rendah Laktosa atau Tanpa Laktosa

    Susu rendah laktosa atau tanpa laktosa cocok untuk bayi yang tidak mampu

    mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena tidak memiliki enzim untuk

    mengolah laktosa. Intoleransi laktosa, biasanya ditandai dengan buang air

    terus-menerus atau diare. Susu rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas

    dari kandungan laktosa (rendah laktosa atau tanpa laktosa). Sebagai

    penggantinya, susu formula jenis ini akan menambahkan kandungan gula

    jagung.

    8. Susu Formula dengan Asam Lemak MCT (Lemak Rantai Sedang)

    yang Tinggi

    Universitas Sumatera Utara

  • Susu formula dengan lemak MCT tinggi diberikan kepada bayi yang

    menderita kesulitan dalam menyerap lemak. Oleh karena itu, lemak yang

    diberikan harus banyak mengandung MCT (lemak rantai sedang) tinggi

    sehingga mudah dicerna dan diserap oleh tubuhnya.

    9. Susu Formula Semierlementer

    Susu formula ini biasa diberikan pada bayi yang mengalami infeksi usus

    dan sudah dilakukan pembedahan akan menunjukkan intoleransi/penolakan

    terhadap laktosa. Maka, dengan pemberian susu formula semierlementer

    tidak boleh diberikan secara sembarangan tanpa petunjuk dokter.

    2.7.3 Kandungan Susu Formula

    Kandungan gizi susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan lebih spesial

    karena secara alami, usus bayi kecil belum mampu mencerna nutrisi susu dengan bai.

    Masih rentannya ia dalam kelompok usia tersebut membuat susu yang dikonsumsinya

    pun dibagi lagi secara khusus, seperti susu untuk bayi yang lahir cukup bulan,

    ataupun yang lahir cukup bulan, namun dengan berat bayi lahir rendah (BBLR).

    Meskipun pembuatan susu formula dibuat semirip mungkin dengan ASI, tetap

    saja susu formula tidak sebaik ASI. Perbandingan komposisi kolostrum, ASI, dan

    susu sapi sangat berbeda. Susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak

    protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya

    berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk

    gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi. Walaupun, ASI mengandung lebih

    sedikit total protein, namun bagian protein whey-nya lebih banyak sehingga akan

    Universitas Sumatera Utara

  • membentuk gumpalan yang lunak, dan lebih mudah dicerna, serta diserap oleh usus

    bayi.

    1. Lemak

    Kadar lemak yang disarankan dalam susu formula adalah antara 2,7-4,1 gr

    tiap 100 ml.komposisi asam lemaknya harus sedemikian rupa sehingga

    bayi umur 1 bulan dapat menyerap sedikitnya 85% lemak yang terdapat

    dalam susu formula.

    2. Protein

    Kadar protein dalam susu formula harus berkisar antara 1,2-1,9 gr tiap 100

    ml. Pemberian protein yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tingginya

    kadar ureum, amoniak, serta asam amino tertentu dalam darah. Perbedaan

    antara protein ASI dan susu formula terletak pada kandungannya dan

    perbandingan antara protein susu sapi terletak pada kandungannya dan

    perbandingan antara protein jenis whey dan kaseinnya. Namun, ada yang

    berpendapat bahwa kualitas kasein ASI lebih baik daripada kasein susu

    sapi.

    3. Karbohidrat

    Kandungan karbohidrat yang disarankan untuk susu formula, yaitu 5,4-8,2

    gr tiap 100 ml. Dianjurkan supaya sebagian karbohidrat hanya atau hampir

    seluruhnya memakai laktosa, selebihnya glukosa atau maltosa. Tidak

    dibenarkan pada pembuatan susu formula untuk memakai tepung atau

    Universitas Sumatera Utara

  • madu, atau diasamkan karena belum diketahui efek sampingnya, baik

    dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    4. Mineral

    Kandungan sebagian besar mineral dalam susu sapi lebih tinggi 3-4 kali

    dibandingkan dengan yang terdapat dalam ASI. Pada pembuatan susu

    formula adaptasi, kandungan berbagai mineral harus diturunkan hingga

    jumlahnya berkisar antara 0,25-0.34 gr tiap 100 ml. Kandungan mineral

    dalam susu formula adaptasi memang rendah dan mendekati yang terdapat

    pada ASI. Penurunan kadar mineral diperlukan karena bayi baru lahir

    belum dapat mengeluarkan kelebihan mineral dengan sempurna.

    5. Vitamin

    Biasanya, berbagai vitamin ditambahkan pada pembuatan formula hingga

    dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

    6. Kandungan Zat Tambahan

    Kemajuan teknologi memungkinkan susu formula yang sudah ada ditingkat

    kualitasnya, yakni dengan diformulasikan sedemikian rupa sehingga

    semakin mirip dengan ASI, salah satunya adalah penambahan DHA.

    Penambahan ini dibolehkan karena zat tambahan tersebut merupakan zat-

    zat mikro.

    2.7.4 Faktor- Yang Dapat Memengaruhi Penggunaan ASI

    Universitas Sumatera Utara

  • Menurut Soetjiningsih (1997), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

    penggunaan ASI antara lain :

    1. Perubahan sosial budaya

    a. Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya

    b. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu

    botol

    c. Merasa ketingggalan zaman jika tidak menyusui bayinya dengan susu

    botol

    2. Faktor psikologis

    a. Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita

    b. Tekanan batin

    3. Faktor fisik

    a. Ibu sakit, misalnya mastitis, panas, dan sebagainya.

    4. Faktor kurangnya peugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat

    penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI

    5. Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI

    6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang

    menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng.

    2.7.5 Penurunan Penggunaan ASI

    Penelitian dan pengamatan yang dilakukan di berbagai daerah menunjukkan

    dengan jelas adanya kecenderungan meningkatnya jumlah ibu yang tidak menyusui

    Universitas Sumatera Utara

  • sendiri bayi mereka. Menurunnya jumlah ibu yang menyusui bayi ini dimulai di kota

    terutama pada kelompok ibu dari keluarga yang berpenghasilan cukup, yang

    kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa.

    Para ahli mengemukakan beberapa sebab terjadinya penurunan penggunaan

    ASI antara lain :

    a. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga. Hubungan kerabat yang

    luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota.

    Pengaruh orangtua seperti nenek, kakek, mertua, dan orang terpandang lain di

    lingkungan keluarga secara berangsur menjadi berkurang, karena mreka

    itupada umumnya tetap tinggal di desa sehingga pengalaman mereka dalam

    merawat makanan bayi yang tidak diwariskan.

    b. Kemudahan yang didapat sebagai kemajuan teknologi pembuatan makanan

    bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan untuk bayi

    mendorong ibu untuk mengganti ASI dengan makanan olahan itu.

    c. Iklan yang menyesatkan dari berbagai produsen makanan menyebabkan ibu

    beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik dari ASI.

    d. Karena para ibu sering keluar rumah baik karena bekerja maupun karena

    tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah satu-satunya jalan keluar dalam

    pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan di rumah.

    e. Adanya anggapan bahwa memberikan susu botol kepada anak sebagai suatu

    simbol bagi kehidupan tingkat sosial yang lebih tinggi, terdidik, dan

    mengikuti perkembangan zaman.

    Universitas Sumatera Utara

  • f. Ibu takut payudaranya rusak apabila menyusui dan kecantikannya akan

    hilang.

    g. Pengaruh melahirkan di klinik bersalin atau rumah sakit. Belum semua

    petugas paramedic diberi pesan dan diberi cukup informasi agar

    menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka.

    2.7.6 Kelemahan Susu Formula

    Kemajuan teknologi yang menawarkan susu formula yang mirip ASI dengan

    menambahkan berbagai macam zat gizi tetap tidak dapat menyamai keunggulan ASI.

    Selain itu, ternyata susu formula memiliki beberapa kelemahan, apalagi jika dalam

    pemberian susu formula, tidak sesuai petunjuk pemberian. Atau, memberikan susu

    formula tidak sesuai dengan usia bayi sehingga berdampak buruk baginya.

    Ada beberapa cara dalam melindungi hak bayi untuk mendapatkan ASI.

    Pertama, menganjurkan ibu untuk menyusui segera setelah melahirkan. Kedua,

    mendukung ibu untuk tinggal bersama dengan bayinya dalam satu ruangan setelah

    melahirkan.

    Ketiga, memberikan informasi yang tepat kepada ibu dan membantunya bila

    menyusui. Keempat, menghentikan pemberian susu pada bayi dengan menggunakan

    botol. Kelima, menolak contoh gratis, sumbangan, atau promosi susu formula ataupun

    susu botol.

    Universitas Sumatera Utara

  • 1. Kandungan susu formula tidak selengkap ASI

    Susu formula (susu sapi) tidak mengandung DHA seperti halnya pada ASI

    sehingga tidak bisa membantu meningkatkan kecerdasan bayi.

    2. Mudah tercemar

    Pembutan susu formula sering mudah tercemar oleh bakteri, terlebih bila ibu

    menggunakan botol. dan tidak merebusnya setisp selesai memberi susu.

    3. Diare dan sering muntah

    Pengenceran susu formula yang kurang tepat dapat mengganggu pencernaan

    bayi, sedangkan susu yang terlalu kental dapat membuat usuu bayi susah

    mencerna, sehingga sebelum dicerna, susu akan dikeluarkan kembali lewat

    anus yang mengakibatkan bayi mengalami diare.

    4. Infeksi

    Susu sapi tidak mengandung sel darah putih hidup dan antibodi untuk

    melindungi tubuh terhadap infeksi.

    5. Obesitas

    Suatu penelitian pernah membandingkan pola pertumbuhan normal antar bayi

    yang diberi ASI dengan susu formula. Kelebihan berat badan pada bayi yang

    mendapatkan susu formula diperkirakan karena kelebihan air dan komposisi

    lemak tubuh yang berbeda dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI.

    6. Pemborosan

    Universitas Sumatera Utara

  • Pemberian susu formula secara tidak langsung juga menambah anggaran

    untuk membeli susu formula.

    2.8 Perilaku

    2.8.1 Konsep Perilaku

    Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme

    (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis

    semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan

    manusia itu berperilaku karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing.

    Sehingga yang dimaksud dengan perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan

    atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai kegiatan yang sangat luas

    sepanjang kegiatan yang dilakukannya, yaitu antara lain : berjalan, berbicara,

    menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan seterusnya. Dari uraian

    ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku manusia adalah semua

    kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak

    dapat diamati oleh pihak luar.

    Sebagai individu setiap manusia adalah kompleks dan unik. Keunikan individu

    karena menyangkut banyak aspek yang menyatakan bahwa perilaku manusia itu

    merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik, maupun non fisik.

    Menyinggung tentang apa yang dimaksud dengan perilaku terdapat macam-macam

    pendapat.

    Universitas Sumatera Utara

  • Menurut Notoatmodjo, (1984), perilaku dijabarkan dalam 3 aspek operasional

    yaitu :

    a. Perilaku dalam bentuk pengetahuan yakni dengan mengetahui rangsangan

    atau situasi dari luar.

    b. Perilaku dalam bentuk sikap yaitu tanggapan batin terhadap rangsangan dari

    luar dari si objek, sehingga alam itu sendiri mencetak perilaku-perilaku

    manusia yang hidup di dalamnya, sesuaia dengan sifat dan keadaan alam

    tersebut.

    c. Perilaku dalam bentuk tindakan yang konkrit yang berupa perbuatan (action)

    terhadap situasi dan rangsangan dari luar.

    Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi reaksi

    organisme terhadap lingkungannya.

    Sedangkan menurut Kwick, (1974), menyatakan bahwa perilaku tindakan atau

    perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan di pelajari.

    2.8.2 Bentuk Perilaku

    Bloom (1908) seorangahli psikologi pendidikan, membedakan adanya 3 ranah

    perilaku, yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor).

    Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh Bloom ini,

    dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi 3 tingkat ranah

    perilaku sebagai berikut:

    Universitas Sumatera Utara

  • a. Pengetahuan (knowledge)

    b. Sikap (attitude)

    c. Tindakan (practice)

    a. Perilaku dalam bentuk Pengetahuan

    Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini setelah orang melakukan

    penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pascaindera

    manusia, yakni indera penglihatan,pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian

    besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau

    kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

    seseorang (overt behavior).

    Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang

    berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :

    1. Tahu (know)

    Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

    sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

    kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

    rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat

    pengetahuan yang paling rendah.

    2. Memahami (comprehension)

    Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

    benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi.

    Universitas Sumatera Utara

  • tersebut secara benar. Orang yang paham terhadap objek atau materi yang

    harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,

    dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

    3. Aplikasi (application)

    Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

    dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi dini dapat

    diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan

    sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

    4. Analisis (analysis)

    Analisis ialah kemampuan seseorang untuk menjabarkan suatu materi atau

    suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu

    struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

    5. Sintesis (synthesis)

    Sintesis menunjukkan pada kemampuan seseorang untuk meletakkan atau

    menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

    Dengan kata lain sitesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun suatu

    formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

    6. Evaluasi (evaluation)

    Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi

    atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

    Universitas Sumatera Utara

  • berdasarkan criteria yang ditentukan sendiri atau menngunakan criteria-

    kriteria yang telah ada.

    Pengukuran perilaku dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

    menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

    responden. (Notoatmodjo, 2003).

    b. Perilaku dalam bentuk Sikap

    Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu,

    yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak

    senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).

    Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap

    merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan

    pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain, fungsi sikap merupakan (reaksi

    terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau

    reaksi tertutup.

    Sepertinya halnya pengetahuan, sikap terdiri dari beberapa tingkatan yaitu . :

    1. Menerima (receiving)

    Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau dan memperhatikan

    stimulus yang diberikan (objek).

    2. Menanggapi (responding)

    Universitas Sumatera Utara

  • Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

    pertanyaan atau objek yang dihadapi.

    3. Menghargai (valuing)

    Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif

    terhadap objek atau stimulus. Dalam arti membahasnya dengan orang lain dan

    bahkan mangajak atau mempengaruhi orang lain merespons.

    4. Bertanggung jawab (responsible)

    Sikap paling tinggi tindakannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang

    telah diyakininya.

    Pengalaman sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung.

    Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden

    terhadap suatu objek yang bersangkutan. Pertanyaan secara langsung juga dapat

    dilakukan dengan cara memberikan pendapat dengan menggunakan kata setuju

    atau tidak setuju tehadap pernyataan-pernyataan terhadap objek tertentu.

    c. Perilaku dalam bentuk Tindakan

    Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).

    Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan factor

    pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.

    Universitas Sumatera Utara

  • Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian

    mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya

    diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau

    disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktik (practice) kesehatan.

    Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan menurut

    kualitasnya, yakni :

    1. Praktik terpimpin (guided respons)

    Apabila suatu subjek atau seseorang telah malakukan sesuatu tetapi masih

    tergantung pada tuntutan atau menggunakan panduan.

    2. Praktik secara mekanisme (mechanism)

    Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan sesuatu

    hal secara otomatis, maka disebut praktik atau tindakan mekanis.

    3. Adopsi (adoption)

    Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang. Artinya,

    apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitasatau mekanisme saja, tetapi sudah

    dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas.

    Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan

    wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberap jam, hari, atau

    bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni

    dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden (Notoatmodjo, 2005).

    Universitas Sumatera Utara

  • 2.8.3 Proses Adopsi Perilaku

    Dari pengalaman dan penelitian, terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh

    pengetahuan akan lebih baik dari perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

    Penelitian Rogers (!974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku

    baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan

    yaitu :

    1. Awareness (kesadaran), yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui

    stimulus (objek) terlebih dahulu

    2. Interest yaitu orang mulai tertarik kepada stimulus

    3. Evaluation yaitu menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus tersebut bagi

    dirinya

    4. Trial yaitu orang yang telah mulai mencoba perlaku baru

    5. Adoption yaitu subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

    kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoatmodjo, 2003)

    2.8.4 Faktor-faktor Yang Memengaruhi Perilaku

    Menurut Green bahwa faktor perilaku sendiri ditentukan oleh 3 faktor utama,

    yaitu :

    1. Faktor-faktor predisposisi (disposing factor), yaitu faktor yang mempermudah

    atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan,

    sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya.

    Universitas Sumatera Utara

  • 2. Faktor-faktor pemungkin (enabling factors), adalah faktor-faktor yang

    memungkinkan atau memfasilitasi terjadinya perilaku atau tindakan

    seseorang atau masyarakat.

    3. Faktor-faktor penguat (reinforcing faktors), adalah faktor-faktor yang

    mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku.

    2.8.5 Teori SOR

    Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan

    perilaku tergantung kepada kualitas rangsangan (stimulus) yang berkomunikasi

    dengan organisme.

    Hostland (1953) mengatakan bahwa perubahan perilaku pada hakikatnya

    adalah sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut

    menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :

    a. Stimulus (rangsang) yang diberikan kepada organisme dapat diterima atau

    ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus

    itu tidak efektif dalam mempengaruhi perhatian individu, dan berhenti disini.

    Tetapi apabila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari

    individu dan stimulus tersebut efektif.

    b. Apabila stimulus telah mendapatkan perhatian dari organisme (diterima) maka

    ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.

    c. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan

    untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

    Universitas Sumatera Utara

  • d. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka

    stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan

    perilaku).

    Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila

    stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula.

    Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan

    harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini faktor

    reinforcement memegang peranan penting.

    2.9 Kerangka Konsep

    Dari skema di atas dapat dilihat, responden yang mendapatkan stimulus dari

    komunikasi persuasif bidan akan memengaruhi organisme tersebut. Apakah stimulus

    ditolak atau diterima dapat diukur dari pengetahuan responden. Apabila stimulus

    telah memengaruhi pengetahuan responden maka selanjutnya akan memengaruhi

    sikap responden, maka akan muncul respon dari responden, yang dapat diukur dari

    sikap responden terhadap objek.

    Komunikasi persuasif bidan

    Pengetahuan

    Tindakan Sikap

    Universitas Sumatera Utara