Cekungan Sumtera Selatan 2

download Cekungan Sumtera Selatan 2

of 13

  • date post

    28-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    66
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Cekungan Sumtera Selatan 2

  • 11

    BAB II

    GEOLOGI REGIONAL

    Pulau Sumatra berada pada daerah busur kepulauan antara lempeng Indo-

    Australia yang relatif bergerak ke utara dengan lempeng Asia yang relatif bergerak ke

    arah selatan. Kegiatan tektonik ini membentuk elemen-elemen seperti palung, busur

    kepulauan, cekungan depan busur, busur gunungapi, dan cekungan belakang busur.

    Kegiatan tektonik menyebabkan terbentuknya cekungan sedimen yang

    berumur Tersier yang berada di belakang busur gunung api atau sebelah timur

    Pegunungan Barisan serta termasuk ke dalam cekungan belakang busur. Salah satu

    cekungan tersebut adalah Cekungan Sumatera Selatan, tempat terendapkannya batuan

    sedimen pembawa batubara berumur Tersier Akhir, yaitu Formasi Muara Enim.

    Pada akhir Tersier sampai Kuarter, aktifitas tektonik terus berlanjut dan

    menyebabkan batuan sedimen yang ada di P. Sumatera terangkat, tersesarkan dan

    terlipat. Pada kala ini terbentuk Antiklinorium Muara Enim.

    Beberapa penyelidikan telah dilakukan oleh para ahli baik regional maupun lokal

    yaitu :

    Penyelidikan stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan, a.l : Tobler (1906), Hartman (1918), De Coster (1974), Koesoemadinata (1978) dan PT.

    Shell Minjbouw (1978), Pulunggono (1992).

    Penyelidikan lokal, yaitu pemetaan geologi skala 1 : 10.000 dan pemboran explorasi a.l. : PT. Shell Minjbouw (1978), Kinhill-Otto Gold (1987), PTBA

    (1995), PPTM (1997) serta pemetaan foto udara skala 1 : 5000 (1997) oleh

    PT. Mapindo Parama

    Hasil penyelidikan lain

    Penyelidikan dilakukan selain pemetaan dan pemboran juga dilakukan penyelidikan logging geofisika pada setiap lubang bor.

  • 12

    Peta topografi yang tersedia adalah Peta Topografi Skala 1 : 5000 yaitu hasil pemetaan foto udara Daerah Tanjung Enim oleh PT. Mapindo Parama

    (1997).

    2.1. FISIOGRAFI

    Secara fisiografis bagian selatan dari Sumatera ini dapat dibagi menjadi 4 (empat)

    bagian, yaitu :

    1. Cekungan Sumatera Selatan,

    2. Bukit Barisan dan Tinggian lampung,

    3. Cekungan Bengkulu, meliputi lepas pantai antara daratan Sumatera dan

    rangkaian pulau-pulau di sebelah barat Sumatera, dan

    4. Rangkaian kepulauan (fore arc ridge) di sebelah barat Sumatera, yang

    membentuk suatu busur tak bergunung-api di sebelah barat P. Sumatera

    (Gambar II.1).

    Berdasarkan konsep Tektonik Lempeng, kedudukan cekungan batubara

    Tersier di Indonesia bagian barat berkaitan dengan sistem busur kepulauan. Dalam

    sistem ini dikenal adanya cekungan busur belakang, cekungan busur depan dan

    cekungan antar busur. Masing-masing cekungan tersebut memiliki karakteristik

    endapan batubara yang berbeda antara satu dengan lainnya. Menurut Koesoemadinata

    dkk. (1978), semua cekungan batubara Tersier di Indonesia (termasuk Cekungan

    Sumatera Selatan) digolongkan jenis cekungan paparan karena berhubungan dengan

    kerak benua pada semua sisinya, kecuali Cekungan Kutai dan Cekungan Tarakan di

    Kalimantan Timur yang digolongkan sebagai continental margin.

  • 13

    Gambar II.1. Fisiografi cekungan Sumatra Selatan (Hutchison, 1996)

    Cekungan Sumatera Selatan telah mengalami empat kali orogenesa, yakni :

    pada zaman Mezosoikum Tengah, Jura Awal Kapur Awal, Kapur Akhir Tersier

    Awal, Plio-Pleistosen. Setelah orogenesa terakhir dihasilkan kondisi struktur geologi

    regional seperti terlihat pada saat ini, yaitu :

    Zone Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara Lempeng Sumatera Hindia dan Pulau Sumatera, akibat tumbukan ini menimbulkan gerak sesar

    geser menganan (right lateral) diantara keduanya.

    Perlipatan dengan arah utama baratlaut tenggara, sebagai hasil efek gaya kopel sesar Semangko.

    Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar Pra Tersier yang mengalami peremajaan.

    Berkenaan dengan posisi dan aktivitas tektonik lempeng maka hampir di

    seluruh wilayah bagian selatan-barat P. Sumatera merupakan daerah yang relatif

    sering terjadi gempa bumi. Secara seismik telah tercatat beberapa gempa bumi yang

    memiliki skala Richter cukup tinggi antara 5 hingga 6. Namun demikian banyak

  • 14

    wilayah prospek tambang di Indonesia yang memiliki kecenderungan seismitivitas

    tinggi tepat dapat beroperasi dengan aman selama nilai-nilai keamanan selalu

    diperhitungkan dalam pembuatan design tambang, terutama yang menyangkut

    stabilitas lereng.

    2.2. STRATIGRAFI

    Cekungan Sumatera Selatan membentang mulai dari tinggian Asahan di

    baratlaut sampai ke tinggian Lampung yang terletak di bagian paling Selatan pulau.

    Dibatasi oleh pegunungan Barisan di sebelah Baratdaya.

    Batuan Pra-Tersier, yang terdiri atas batuan malihan dan batuan beku berumur

    Mesozoikum, diduga merupakan dasar dari cekungan Tersier yang ada. Satuan batuan

    dasar ini telah mengalami pensesaran, perlipatan, dan penerobosan.

    Sedimentasi yang terjadi di Cekungan Sumatera Selatan berlangsung pada dua

    fase (Jackson, 1961), yaitu :

    Fase transgresi, pada fase ini diendapkan dari kelompok Telisa, yang terdiri dari Formasi Lahat, Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja, dan

    Formasi Gumai. Kelompok Telisa ini diendapakan secara tidak selaras di

    atas Batuan induk Pra-Tersier.

    Fase regresi, pada fase ini dihasilkan endapan dari kelompok Palembang yang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara enim, dan Formasi

    Kasai.

    Batuan yang menjadi dasar cekungan diduga berupa terdiri atas batuan

    malihan dan batuan beku yang berumur Mesozoikum

    Formasi Lahat

    Formasi ini diendapkan tidak selaras di atas batuan dasar yang berumur Pra-tersier

    (gambar 2.3). Berumur Paleosen sampai Awal Oligosen. Memiliki ketebalan antara

    760 sampai 1070 meter. Formasi ini menipis dan menghilang

  • 15

    Gambar II.2 Kolom stratigrafi cekungan Sumatera Selatan (Van

    Bemmelen, 1973)

    pada sayap antiklin Pendopo. Formasi ini diendapakan pada

    lingkungan darat, kehadiran tuff menunjukkan adanya aktifitas volkanik

    Formasi ini terdiri dari Konglomerat, Batupasir, Batulempung abu-abu

    sampai hitam kecoklatan, tufa, breksi dan terkadang terdapat lapisan Batubara

    tipis.

  • 16

    Formasi Talang Akar

    Formasi ini diendapkan secara tidak selaras (gambar II.2) di atas

    Formasi Lahat (de Coster dan Koesomadinata, 1974), tetapi Pulunggono

    (1976) mengatakan bahwa formasi ini terletak selaras di atas Formasi Lahat.

    Pada bagian tepi cekungan formasi ini diendapakan secara tidak selaras di atas

    batuan Pra-Tersier. Formasi ini memiliki umur Oligosen Atas Miosen

    Bawah dengan ketenalan berkisar antara 460 sampai 610 meter. Formasi ini

    diendapakan pada lingkungan laut dangkal sampai fluviatil.

    Formasi Talang Akar dicirikan oleh batuan berupa Batulanau,

    Batupasir, dan sisipan Batubara. Pada bagian tengah terdapat serpih yang

    diendapkan pada lingkungan laut. Kandungan pasir yang ada pada formasi ini

    semakin bertambah mendekati tepi cekungan.

    Formasi Baturaja

    Formasi ini diendapakan selaras di atas Formasi Talang Akar (gambar

    II.2). Formasi ini memiliki ketebalan 200 sampai 250 meter, pada Bukit Garba

    ketebalannya mencapai 520 meter. Formasi Baturaja diendapkan pada Awal

    Miosen dan pada lingkungan darat sampai laut dangkal.

    Formasi Baturaja dicirikan oleh batuan berupa Batugamping keras dan

    berlapis, Batugamping pasiran, Btugamping Serpihan, Serpih gampingan,

    napal dengan kandungan fosil foraminifera, moluska dan koral. Batugamping

    pada formasi ini beralih menjadi serpih gampingan mendekati tengah

    cekungan, dan menjadi Batupasir gampingan kaya akan glaukonit ke arah

    pinggir cekungan.

    Formasi Gumai

    Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Baturaja (gambar II.2).

    Memimilki ketebalan kurang lebih 2200 meter, kecuali pada daerah depresi

    Lemarang ketebalannya 4800 meter, dan mencapai beberapa ratus meter pada

    Pegunungan Gumai. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dalam

  • 17

    dimana air laut menggenangi hampir seluruh cekungan. Formasi Gumai

    berumur Miosen Bawah sampai Miosen Tengah.

    Formasi Gumai dicirikan oleh batuan berupa Batupasir gampingan, dan

    Serpih gampingan kaya akan foraminifera pada bagian bawah dan sisipan

    Batugamping tipis pada bagian tengah dan atas.

    Formasi Air Benakat

    Formasi Air Benakat diendapkan selaras di atas Formasi Gumai

    (gambar II.2). Formasi ini memiliki ketebalan lapisan antara 100 sampai 130

    meter. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal, yang juga

    menunjukkan awal dari siklus regresi. Formasi Air Benakat memiliki umur

    Miosen Akhir.

    Formasi Air Benakat memiliki ciri-ciri batuan berupa Serpih

    gampingan kaya akan foraminifera dengan sisipan Batugamping pada bagian

    bawah. Semakin ke atas dijumpai sisipan-sisipan Batupasir yang banyak

    mengandung glaukonit dan presentase kandungan Batupasir semakin ke atas

    semakin besar. Pada bagian atas dijumpai adanya sisa-sisa tumbuhan dan

    Batubara Kladi yang merupakan batas Formasi Air Benakat dan Formasi

    Muara Enim.

    Formasi Muara Enim

    Formasi Muara Enim diendapkan selaras di atas Formasi Air Benakat

    (gambar II.2). Formasi ini memiliki ketebalan antara 450 sampai 1200 meter

    dengan umur Miosen Atas Pliosen. Formasi ini diendapkan pada lingkungan

    laut dangkal, dataran delta dan non-marine.