Case Report Fraktur Tibia Fibula Db Yogorr

of 34/34
BAB I PENDAHULUAN Batasan fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang artinya terjadi pemutusan tulang maupun jarigan kartilago. Kejadian ini dapat inkomplit atau komplit sebagai akibat trauma. Energi yang sampai ke tulang melebihi dari batas kekuatan tulang sehingga terjadi fraktur. Energi yang sampai ke tulang tergantung dari jenis (ringan, berat, dsb), arah dan kecepatan trauma tersebut. Fraktur Cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan kaki. Pada beberapa rumah sakit kejadien fraktur cruris biasanya banyak terjadi oleh karena itu peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan trauma musculoskeletal pada fraktur cruris akan semakin besar sehingga di perlukan pengetahuan mengenai anatomi, fisiologi, dan patofisiologi tulang normal dan kelainan yang terjadi pada pasien dengan fraktur cruris (Depkes RI, 2005). Trauma dapat langsung (direct), seperti terkena pukulan dari benda yang bergerak atau kejatuhan maupun dipukul, atau tidak langsung (indirect), seperti gaya memutar atau gaya membengkok pada tulang. Gaya ini juga sering mengakibatkan terjadinya dislokasi. Apabila kondisi tulang tempat terjadi fraktur tersebut terdapat kelainan patologis seperti tumor atau osteoporosis / osteomalacia maka disebut fraktur 1
  • date post

    07-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    141
  • download

    32

Embed Size (px)

description

med

Transcript of Case Report Fraktur Tibia Fibula Db Yogorr

BAB IPENDAHULUAN

Batasan fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang artinya terjadi pemutusan tulang maupun jarigan kartilago. Kejadian ini dapat inkomplit atau komplit sebagai akibat trauma. Energi yang sampai ke tulang melebihi dari batas kekuatan tulang sehingga terjadi fraktur. Energi yang sampai ke tulang tergantung dari jenis (ringan, berat, dsb), arah dan kecepatan trauma tersebut.Fraktur Cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan kaki. Pada beberapa rumah sakit kejadien fraktur cruris biasanya banyak terjadi oleh karena itu peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan trauma musculoskeletal pada fraktur cruris akan semakin besar sehingga di perlukan pengetahuan mengenai anatomi, fisiologi, dan patofisiologi tulang normal dan kelainan yang terjadi pada pasien dengan fraktur cruris (Depkes RI, 2005).Trauma dapat langsung (direct), seperti terkena pukulan dari benda yang bergerak atau kejatuhan maupun dipukul, atau tidak langsung (indirect), seperti gaya memutar atau gaya membengkok pada tulang. Gaya ini juga sering mengakibatkan terjadinya dislokasi. Apabila kondisi tulang tempat terjadi fraktur tersebut terdapat kelainan patologis seperti tumor atau osteoporosis / osteomalacia maka disebut fraktur patologis. Trauma lain yang menyebabkan fraktur adalah gaya penekanan yang terus - menerus (chronic stress / overuse) yang disebut fatique fracture.Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 1.3 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur ekstrimitas bawah sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi.

BAB IILAPORAN KASUSI. Identitas Nama: Tn. Ade SUmur: 60 tahunJenis kelamin : Laki-lakiAgama: IslamPekerjaan: SwastaAlamat: KadungoraTanggal masuk RS : 14 Agustus 2015

II. AnamnesisKeluhan utama: Luka terbuka pada kaki kananKeluhan tambahan: Nyeri pada kaki, kaki tidak bisa digerakkanRiwayat penyakit sekarang :Pasien datang ke IGD RSU dr. Slamet Garut dengan keluhan nyeri pada kaki kanan sejak 2 jam SMRS. Keluhan ini berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menimpa pasien pada tgl 14 Agustus 2015. Nyeri yang dirasakan ini sangat hebat terutama saat di tekan dan saat di gerakkan sehingga membuat pasien tidak bisa berdiri dan tidak bisa berjalan, namun pasien masih bisa menggerakkan jari-jari kaki. Keluhan ini juga disertai luka terbuka di bagian kaki. Menurut penuturan pasien, pasien terjatuh dari motor karena tertabrak motor lain dari jalur kanan. Pasien tidak pingsan walaupun kepala pasien sempat sedikit terbentur, sempat dibawa ke puskesmas lalu dirujuk ke RSUD dr. Slamet Garut. Keluhan mual dan muntah disangkal. Buang air kecil dan besar pasien lancar. Perdarahan yang keluar dari kepala, hidung dan telinga disangkal. Riwayat penyakit dahulu Pasien tidak pernah mengalami patah tulang sebelumnya Riwayat penyakit hipertensi sebelumnya disangkal Riwayat penyakit gula disangkalRiwayat penyakit keluargaTidak ada dalam keluarga yang menderita keluhan seperti ini.

III. Pemeriksaan FisikStatus generalis Keadaan umum:Tampak sakit sedangKesadaran:Compos mentisVital sign : TD: 110/80 mmHgNadi:96 x/menitRR:20 x/ menitS:36,5 CKepala:NormocephalMata:Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupi bulat isokor, refleks pupil +/+ normalLeher:Trakea ditengah, pembesaran KGB (-)

Cor:Inspeksi:Iktus cordis tidak terlihatPalpasi:Iktus cordis teraba pada sela iga 5 linea mid clavicula sinistraPerkusi:Batas jantung normalAuskultasi:BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)Pulmo:Inspeksi:Pergerakan hemitoraks dalam keadaan statis dan dinamis simetris kanan dan kiriPalpasi:Fremitus vocal dan taktil hemitoraks kanan dan kiri simetris, tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekanPerkusi:Sonor di seluruh lapang paruAuskultasi:Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/-AbdomenInspeksi:Tampak datar simetrisPalpasi:Supel , NT/NL: -/- ; hepar dan lien tidak teraba besarPerkusi:Timpani pada seluruh kuadran abdomenAuskultasi:Bising usus (+ ) normal

Ekstremitas atas:Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-Ekstremitas bawah:Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

Status lokalis :a/r Tibia dextraLook:Terlihat luka terbuka di 1/3 regio tibia proximal, tidak ada memar, deformitas (+) oedema (-) luka basah (+)Feel:Arteri dorsalis dextra teraba, sensibilitas baikMove: Gerak tungkai kaki bawah kanan terbatas, jari jari kaki kanan dapat bebas digerakan

IV. Pemeriksaan Penunjang

LaboratoriumDARAH RUTIN14 AGUSTUS 2015

Hb11,4 g/dl

Ht34 vol%

Leukosit11.540/mm3

Trombosit239.000/mm3

Eritrosit371 juta/mm3

SGOT38 U/L

SGPT42 U/L

GDS98 mg/dL

Ureum68 mg/dL

Kreatinin0,6 mg/dL

DARAH RUTIN16 AGUSTUS 2015

Masa Perdarahan/ BT2 menit

Masa Pembekuan/ CT11 menit

Foto Radiologi tibia fibula :

V. Diagnosis KerjaClose fraktur a/r tibia dextra 1/3 proximalVI. Penatalaksanaan Infus RL 20 gtt/menit Ceftriakson 3x1 IV Ketorolac 2x1 IV Ranitidine 2x1 IV Kalnex 3x1 IV Immobilisasi dengan pemasangan spalk Operatif : Open reduction fraktur + fiksasi internal

VII. Laporan OperasiNama pasien: Tn. Ade SUmur: 60thNo. CM: 792574Ruang rawat: Marjan AtasTanggal operasi: 4 September 2015Operator: dr Husoso DA, SpOT, K-SPineAhli Anastesi: dr. Dhaddi G. SpAnAsisten 1 Operator: Abduh Amd, S.kepAsisten Anastesi: Indra S.KepDiagnosa Pra-Bedah: Close fraktur tibia plateu dextra 1/3 proximal fragmented displacedDiagnosa Pasca Bedah: SesuaiIndikasi Operasi: Mengembalikan struktur anatomisJenis Operasi: ORIF Plate and ScrewDO: Ditemukan fraktur plateu berbentuk huruf T di daerah condyles medial tibia Ditemukan fraktur fragmented displacedTO: Tindakan a dan antiseptic Dilakukan insisi kutis subkutis bilateral dan medial dari tibia plateu Ditemukan DO Dilakukan ORIF dengan plate and screw Bagian defek diisi dengan bone graft Perdarahan dirawat Luka ditutup lapis demi lapis Operasi selesai

VIII. Rontgen post ORIF Plate and Screw

IX. Hasil laboratorium post ORIF Plate and ScrewDARAH RUTIN14 AGUSTUS 2015

Hb9,7 g/dl

Ht29 vol%

Leukosit11.520/mm3

Trombosit287.000/mm3

Eritrosit3.21 juta/mm3

X. PrognosisQuo ad vitam:ad bonamQuo ad functionam:ad bonam

BAB IIIFRAKTUR TIBIA-FIBULA

1. ANATOMI TIBIA FIBULAOs tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial regio cruris. Ini merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. Tulang ini terbentang ke proksimal untuk membentuk articulation genu dan ke distal terlihat semakin mengecil.Tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah dan terletak medial dari fibula atau tulang betis, tibia adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung.Ujung atasnya sangat melebar sehingga menciptakan permukaan yang sangat luas untuk menahan berat badan. Bagian ini mempunyai dua masa yang menonjol yang disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis. Kondil-kondil ini merupakan bagian yang paling atas dan paling pinggir dari tulang. Permukaan superiornya memperlihatkan dua daratan permukaan persendian untuk femur dalam formasi sendi lutut. Permukaan- permukaan tersebut halus dan diatas permukaan yang datar terdapat tulang rawan semilunar (setengah bulan) yang membuat permukaan persendian lebih dalam untuk penerimaan kondil femur. Di antara kedua kondilus terdapat daerah kasar yang menjadi tempat pelekatan ligament dan tulang rawan sendi lutut.Kondil lateral memperlihatkan posterior sebuah faset untuk persendian dengan kepala fibula pada sendi tibio fibuler superior. Kondil kondil ini di sebelah belakang di pisahkan oleh lekukan popliteum. Tuberkel dari tibia ada di sebelah depan tepat dibawah kondil- kondil ini. Bagian depan memberi kaitaan kepada tendon patella, yaitu tendon dari insersi otot ekstensor kwardisep. Bagian bawah dari Tuberkel itu adalah subkutaneus dan sewaktu berlutut menyangga berat badan.Batang dalam irisan melintang bentuknya segitiga, sisi anteriornya paling menjulang dan sepertiga sebelah tengah terletak subkutan. Bagian ini membentuk Krista tibia. Permukaan medial adalah subcutaneous pada hampir seluruh panjangnya dan merupakan daerah berguna darimana dapat diambil serpihan tulang untuk transplantasi (bone graft). Permukaan posterior ditandai oleh garis soleal untuk linea poplitea, yaitu garis meninggi di atas tulang yang kuata dan berjalan ke bawah dan medial.Ujung bawah masuk dalam formasi persendian mata kaki. Tulangnya sedikit melebar dan kebawah sebelah medial menjulang menjadi maleolus medial dan maleolus tibiae. Sebelah depan tibia halus dan tendon tendon menjulur di atasnya ke arah kaki.Permukaan lateral dari ujung bawah bersendi dengan fibula pada persendian tibio fibuler inferior. Tibia membuat sendi dengan tiga tulang yaitu femur, fibula dan talus.Os fibula atau calf bone terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari tibia. Extremitas proximalis fibula terletak agak posterior dari caput tibia, dibawah articulation genus dan tulang ini tidak ikut membentuk articulation genus.Fibula lebih luar dan lebih tipis dari dua tulang panjang kaki bagian bawah. Hal ini jauh lebih sempit daripada tulang yang lain (tulang kering), untuk yang membentang paralel dan yang terpasang pada kedua ujungnya oleh ligamen. Ujung atas fibula tidak mencapai lutut, tetapi ujung bawah turun di bawah tulang kering dan membentuk bagian dari pergelangan kaki. Fungsi utamanya adalah untuk memberikan lampiran untuk otot. Ini tidak memberikan banyak dukungan atau kekuatan ke kaki, yang menjelaskan mengapa tulang dapat dengan aman digunakan untuk mencangkok ke tulang lainnya di dalam tubuh.Suplai darahArteri yang menutrisi tibia berasal dari arteri tibialis posterior, yang memasuki korteks posterolateral distal sampai ke origin dari muskulus soleus. Pada saat pembuluh darah memasuki kanalis intermedullaris, ia terbagi menjadi tiga cabang asendens dan satu cabang desendens. Cabang-cabang ini yang kemudian membentuk endosteal vascular tree, yang beranastomose dengan arteri periosteal dari arteri tibialis posterior. Arteri tibialis anterior bersifat rapuh terhadap trauma karena perjalanannya yang melalui sebuah celah padah mebran interosseus.Apabila arteri yang menutrisi mengalami ruptur akan terjadi aliran melalui korterks, dan suplai darah periosteal akan menjadi lebih penting. Hal ini menkankan pentingnya mempertahankan perlekatan periosteum selama fiksasi. Fibula berperan sebesar 6% - 17% dalam menopang berat badan. Pada bagian leher fibula berjalan nervus peroneus komunis yang sangat dekat dengan permukaan kulit. Hal ini menyebabkan nervus peroneus komunis rentan terhadap trauma langsung pada daerah leher fibula.

2. DEFINISI FRAKTURFraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung, misalnya sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan fraktur pada tibia dan fibula.Fraktur kruris (L:crus = tungkai) merupakan fraktur yang terjadi pada tibia dan fibula. Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. Maka fraktur kruris tertutup adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi maupun tulang rawan epifisis yang terjadi pada tibia dan fibula yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Fraktur kruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan dengan fraktur pada tulang panjang lainnya. Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena berada langsung dibawah kulit sehingga sering juga ditemukan fraktur terbuka.3. ETIOLOGI FRAKTURTulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat:a. Peristiwa traumaSebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang terkena, jaringan lunaknya juga pasti rusak. Bila terkena kekuatan tak langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.b. Fraktur kelelahan atau tekananKeadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal, terutama pada atlet, penari, dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.c. Fraktur patologikFraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit Paget). Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda; daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkatyang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit; cedera langsung akan menembus atau merobek kulit diatas fraktur. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling lazim.4. KLASIFIKASI FRAKTUR TIBIA FIBULAKlasifikasi fraktur pada tibia dan fibula: FRAKTUR PROKSIMAL TIBIAa. Fraktur Infrakondilus TibiaFraktur Infrakondilus tibia terjadi sebagai akibat pukulan pada tungkai pasien yang mematahkan tibia dan fibula sejauh 5cm di bawah lutut. Walaupun tungkai bawah dapat membengkak dalam segala arah, namun biasanya terjadi pergeseran lateral ringan dan tidak ada tumpang tindih atau rotasi. Fraktur tidak masuk ke dalam lututnya. Dapat dirawat dengan gips tungkai panjang, sama seperti fraktur pada tibia lebih distal. Jika fragmen tergeser, dapat dilakukan manipulasi ke dalam posisinya dan gunakan gips tungkai panjang selama 6 minggu. Kemudian dapat dilepaskan dan diberdirikan denganmenggunakan tongkat untuk menahan berat badan.b. Fraktur Berbentuk TTerjadi karena terjatuh dari tempat yang tinggi, menggerakkan korpus tibia ke atas diantara kondilus femur, dan mencederai jaringan lunak pada lutut dengan hebat. Kondilus tibia dapat terpisah, sehingga korpus tibia tergeser diantaranya. Traksi tibia distal sering dapat mereduksi fraktur ini secara adekuat.c. Fraktur Kondilus Tibia (bumper fracture)Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya trauma abduksi terhadap femur dimana kaki terfiksasi pada dasar. Fraktur ini biasanya terjadi akibat tabrakan pada sisi luar kulit oleh bumper mobil, yang menimbulkan fraktur pada salah satu kondilus tibia, biasannya sisi lateral.d. Fraktur Kominutiva Tibia AtasPada fraktur kominutiva tibia atas biasanya fragmen dipertahankan oleh bagian periosteum yang intak. Dapat direduksi dengan traksi yang kuat, kemudian merawatnya dengan traksi tibia distal.

FRAKTUR DIAFISISFraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dapat juga terjadi hanya pada tibia atau fibula saja. Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi akan menimbulkan trauma tipe spiral. Fraktur jenis ini dapat diklasifikasikan menjadi:a. Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada Orang DewasaDua jenis cedera dapat mematahkan tibia dewasa tanpa mematahkan fibula:1) Jika tungkai mendapat benturan dari samping, dapat mematahkan secara transversal atau oblik, meninggalkan fibula dalam keadaan intak, sehingga dapat membidai fragmen, dan pergeseran akan sangat terbatas.2) Kombinasi kompresi dan twisting dapat menyebabkan fraktur oblik spiral hampir tanpa pergeseran dan cedera jaringan lunak yang sangat terbatas.Fraktur jenis ini biasanya menyembuh dengan cepat. Jika pergeseran minimal, tinggalkan fragmen sebagaimana adanya. Jika pergeseran signifikan, lakukan anestesi dan reduksikan.b. Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada Anak-anakPada bayi dan anak-anak yang muda, fraktur besifat spiral pada tibia dengan fibula yang intak. Pada umur 3-6 tahun, biasanya terjadi stress torsional pada tibia bagian medial yang akan menimbulkan fraktur green stick pada metafisis atau diafisis proksimaldengan fibula yang intak. Pada umur 5-10 tahun, fraktur biasanya bersifat transversaldengan atau tanpa fraktur fibula.c. Fraktur Tertutup Pada Korpus FibulaGaya yang diarahkan pada sisi luar tungkai pasien dapat mematahkan fibula secara transversal. Tibianya dapat tetap dalam keadaan intak, sehingga tidak terjadi pergeseran atau hanya sedikit pergeseran ke samping. Biasanya pasien masih dapat berdiri. Otot-otot tungkai menutupi tempat fraktur, sehingga memerlukan sinar-X untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Tidak diperlukan reduksi, pembidaian, dan perlindungan, karena itu asalkan persendian lutut normal, biarkan pasien berjalan segera setelah cedera jaringan lunak memungkinkan. Penderita cukup diberi analgetika dan istirahat dengan tungkai tinggi sampai hematom diresorbsi.d. Fraktur Tertutup pada Tibia dan FibulaPada fraktur ini tungkai pasien terpelintir, dan mematahkan kedua tulang pada tungkai bawah secara oblik, biasanya pada sepertiga bawah. Fragmen bergeser ke arah lateral, bertumpang tindih, dan berotasi. Jika tibia dan fibula fraktur, yang diperhatikan adalah reposisi tibia. Angulasi dan rotasi yang paling ringan sekalipun dapat mudah terlihat dan dikoreksi. Perawatan tergantung pada apakah terdapat pemendekan. Jika terdapat pemendekan yang jelas, maka traksi kalkaneus selama seminggu dapat mereduksikannya. Pemendekan kurang dari satu sentimeter tidak menjadi masalah karena akan dikompensasi pada waktu pasien sudah mulai berjalan. Sekalipun demikian, pemendekan sebaiknya dihindari.5. MANIFESTASI KLINISKulit mungkin tidak rusak atau robek dengan jelas, kadang-kadang kulit tetap utuh tetapi melesak atau telah hancur, dan terdapat bahaya bahwa kulit itu dapat mengelupas dalam beberapa hari. Kaki biasanya memuntir keluar dan deformitas tampak jelas. Kaki dapat menjadi memar dan bengkak. Nadi dipalpasi untuk menilai sirkulasi, dan jari kaki diraba untuk menilai sensasi. Pada fraktur gerakan tidak boleh dicoba, tetapi pasien diminta untuk menggerakkan jari kakinya. Sebelum merencanakan terapi, perlu dilakukan penentuan beratnya cedera.Pada anamnesis dalam kasus fraktur kondilus tibia terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri serta hemartrosis. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut. Pada fraktur diafisis tulang kruris ditemukan gejala berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan penonjolan tulang keluar kulit. Pada fraktur dan dislokasi sendi pergelangan kaki ditemukan adanya pembengkakan pada pergelangan kaki, kebiruan atau deformitas. Yang penting diperhatikan adalah lokaliasasi dari nyeri tekan apakah pada daerah tulang atau pada ligament.6. DIAGNOSISMenegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap danmelakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting untuk dikonfirmasikan denganmelakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk membantu mengarahkan danmenilai secara objektif keadaan yang sebenarnya.a. AnamnesaPenderita biasanya datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi ditempat lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian atau jatuh dikamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olah raga. Penderita biasanya datang karena nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain.

b. Pemeriksaan FisikPada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:a) Syok, anemia atau perdarahan.b) Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.c) Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis (penyakit Paget).Pada pemeriksaan fisik dilakukan:1) Look (Inspeksi) Deformitas: angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi,perpendekan atau perpanjangan). Bengkak atau kebiruan. Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak). Pembengkakan, memar dan deformitas mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh. Kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera itu terbuka (compound).2) Feel (palpasi)Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan; nyeri tekan yang superfisisal biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang. Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati. Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan.

3) Move (pergerakan) Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif. Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya. Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

c. Pemeriksaan Penunjang1) Sinar -XDengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta eksistensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi. Untuk konfirmasi adanya fraktur. Untuk mengetahui sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya. Untuk mengetahui teknik pengobatan. Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak. Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler. Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang. Untuk melihat adanya benda asing.Pemeriksaan dengan sinar-X harus dilakukan dengan ketentuan Rules of Two:i. Dua pandanganFraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal dan sekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP & Lateral/Oblique).ii. Dua sendiPada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur atau angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi diatas dan di bawah fraktur keduanya harus disertakan dalam foto sinar-X.iii. Dua tungkaiPada sinar-X anak-anak epifise dapat mengacaukan diagnosis fraktur. Foto pada tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat.iv. Dua cederaKekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari 1 tingkat. Karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar-X pada pelvis dan tulang belakang.v. Dua kesempatanSegera setelah cedera, suatu fraktur mungkin sulit dilihat, kalau ragu-ragu, sebagai akibatresorbsi tulang, pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat memudahkan diagnosis.2) Pencitraan KhususUmumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu dinyatakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yang terkena dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu penyembuhan fraktur, misalnya penyembuhan fraktur transversal lebihlambat dari fraktur oblik karena kontak yang kurang. Kadang-kadang fraktur atau keseluruhan fraktur tidak nyata pada sinar-X biasa.Tomografi mungkin berguna untuk lesi spinal atau fraktur kondilus tibia. CT atau MRI mungkin merupakan satu-satunya cara yang dapat membantu, sesungguhnya potret transeksional sangat penting untuk visualisasi fraktur secara tepat pada tempat yang sukar. Radioisotop scanning berguna untuk mendiagnosis fraktur-tekanan yang dicurigai atau fraktur tak bergeser yang lain.7. TATA LAKSANAa) Non Operatif1) Reduksi Reduksi adalah terapi fraktur dengan cara mengantungkan kaki dengan tarikan atau traksi.2) Imobilisasi Imobilisasi dengan menggunakan bidai. Bidai dapat dirubah dengan gips dalam 7-10 hari, atau dibiarkan selama 3-4 minggu.

3) Pemeriksaan dalam masa penyembuhan Dalam penyembuhan, pasien harus di evaluasi dengan pemeriksaan rontgen tiap 6 atau 8 minggu. Program penyembuhan dengan latihan berjalan, rehabilitasi ankle, memperkuat otot kuadrisef yang nantinya diharapkan dapat mengembalikan ke fungsi normalb) OperatifPenatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu:1) Absolut Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukan operasi dalam penyembuhan dan perawatan lukanya. Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaiki jalannya darah di tungkai. Fraktur dengan sindroma kompartemen. Cidera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien, juga mengurangi nyeri.2) Relatif, jika adanya: Pemendekan Fraktur tibia dengan fibula intak Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama

Adapun jenis-jenis operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya adalah sebagai berikut:1. Fiksasi eksternala. StandarFiksasi eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multipel yang hemodinamiknya tidak stabil, dan dapat juga digunakan pada fraktur terbuka dengan luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka operasi yang dibuat bisa lebih kecil, sehingga menghindari kemungkinan trauma tambahan yang dapat memperlambat kemungkinan penyembuhan. Di bawah ini merupakan gambar dari fiksasi eksternal tipe standar.

Gambar. Fiksasi Interna Standarb. Ring FixatorsRing fixators dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakan sejenis cincin dan kawat yang dipasang pada tulang. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk fraktur ke arah proksimal atau distal. Cara ini baik digunakan pada fraktur tertutup tipe kompleks. Di bawah ini merupakan gambar pemasangan ring fixators pada fraktur diafisis tibia.c. Open reduction with internal fixation (ORIF)Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis. Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi lebih stabil. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada penyembuhan luka operasi. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur dengan ORIF.

Gambar. ORIF

d. Intramedullary nailingCara ini baik digunakan pada fraktur displased, baik pada fraktur terbuka atau tertutup. Keuntungan cara ini adalah mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan menghindarkan trauma pada jaringan lunak.

Gambar. Intramedullary nailing

2. AmputasiAmputasi dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia, putusnya nervus tibia dan pada crush injury dari tibia.

8. KOMPLIKASI1) InfeksiInfeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga dapat terjadi karena luka yang tidak steril.2) Delayed unionDelayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen.3) Non unionNon union merupakan kegagalan suatu fraktur untuk menyatu setelah 5 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti usia, kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur.4) Avaskuler nekrosisAvaskuler nekrosis adalah kerusakan tulang yang diakibatkan adanya defisiensi suplay darah.5) Kompartemen SindromKompartemen sindrom merupakan suatu kondisi dimana terjadi penekanan terhadap syaraf, pembuluh darah dan otot didalam kompatement osteofasial yang tertutup. Hal ini mengawali terjadinya peningkatan tekanan interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan pembuluh darah, dan diikuti dengan kematian jaringan.6) Mal unionTerjadi penyambungan tulang tetapi menyambung dengan tidak benar seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas atau kecacatan.7) Trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis.8) Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki.Gangguan ini biasanya disebakan karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.9)

BAB IVKESIMPULANFraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000).Jenis-jenis fraktur yaitu: Ada fraktur komplet, fraktur tidak komplet, fraktur terbuka, fraktur tertutup, greensik, transfersal, komuditif, depresi, kompesi, dan patologi.Berdasarkan anamnesa didapatkan Laki-laki umur 60 tahun datang ke IGD RSU dr. Slamet Garut dengan keluhan nyeri pada kaki kanan sejak 2 jam SMRS. Keluhan ini berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menimpa pasien. Keluhan ini juga disertai luka terbuka di bagian kaki. Pingsan (-), mual (-), muntah(-), kepala pusing (-).Primary survey tidak didapatkan kelainan. Secondary survey regio cruris dextra didapatkan luka terbuka (+), oedem (+),deformitas(-), nyeri tekan setempat (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat, gerakan terbatas, namun masih dapat menggerakkan jari-jari kaki.Berdasarkan anamnesa, dan pemeriksaan fisik maupun pencitraan didapatkan diagnosa fraktur tertutup os tibia kanan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.Fraktur Tibia Fibula.http://www.docstoc.com/ .

Ekawati, Indriana Dani. 2008.Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kasus Post Fraktur Cruris 1/3 Tengah Dextra Dengan Pemasangan Plate and Screw Di Bangsal Bougenville Rumah Sakit Orthopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Karya Tulis Ilmiah. Diakses pada tangal 8 Mei 2011.

Hadiwidjaja, Satimin. 2004.Anatomi Extremitas (Suatu Pendekatan Anatomi Regional) Jilid 2 Sei Extremitas Inferior. Sebelas Maret University Press. Surakarta

Koval KJ, Zuckerman JD. Handbook of Fractures 3rd edition. New York: Lippincott William Wilkins. 2006.

Mahyudin, Lestari. 2010.Fraktur Diafisis Tibia.(http://www.Belibis17.tk.

Rasjad, Chairuddin. 2007.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang Lamumpatue.

Sjamsuhidajat R, Jong W. 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi II. Jakarta: EGC.

Skinner, Harry B. 2006.Current Diagnosis & Treatment In Orthopedics. USA: The McGraw-Hill Companies.

1