Case Prolaps Uteri123

of 31 /31
LAPORAN KASUS SEORANG WANITA 47 TAHUN DENGAN PROLAPS UTERI Pembimbing : dr. Jati Suwantoro, Sp.OG Disusun Oleh : Rudolf Fernando Wibowo (406138124) Susanti (406148083) KEPANITRAAN KLINIK BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEMARANG

Embed Size (px)

description

wwww

Transcript of Case Prolaps Uteri123

Page 1: Case Prolaps Uteri123

LAPORAN KASUS

SEORANG WANITA 47 TAHUN DENGAN

PROLAPS UTERI

Pembimbing :

dr. Jati Suwantoro, Sp.OG

Disusun Oleh :

Rudolf Fernando Wibowo (406138124)

Susanti (406148083)

KEPANITRAAN KLINIK BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEMARANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA

2015

Page 2: Case Prolaps Uteri123

LEMBAR PENGESAHAN

Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah satu syarat menempuh

Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Obstetri dan Gynekologi RSUD Kota Semarang.

Nama : Rudolf Fernando Wibowo & Susanti

NIM : 406138124 dan 406148083

Fakultas : Kedokteran Umum

Tingkat : Universitas Tarumanagara Jakarta

Bidang Pendidikan : Ilmu Obstetri dan Gynekologi

Laporan Kasus : Seorang wanita 47 tahun dengan Prolaps Uteri

Pembimbing : dr. Jati S. Sp.OG

Telah Diperiksa dan Disahkan Tanggal Mengetahui :

Pembimbing

dr. Jati S. Sp.OG

Page 3: Case Prolaps Uteri123

BAB I

PENDAHULUAN

Prolapsus alat-alat genitalia dapat disamakan dengan suatu hernia, di mana suatu organ

genitalia turun ke dalam vagina, bahkan bila mungkin ke luar dari liang vagina. Keadaan ini

sebagian besar dikarenakan kelemahan dari otot-otot, fascia dan ligamentum-ligamnetum

penyokongnya. Prolapsus genitalia ini secara umum dapat berupa prolapsus vagina dan atau

prolapsus uteri.

Prolapsus genitalia yang sering ditemukan adalah Pelvic Organ Prolapse (POP) yaitu

prolapsus uteri, uterosistokel, sistokel, atau rektokel. Uretrokel saja jarang terjadi, sedangkan

enterokel lebih sering ditemukan terutama pada pasien-pasien pasca tindakan histerektomi.

Kasus ini sering terdapat pada wanita dengan paritas yang tinggi dan 40% dari mereka

membutuhkan tindakan pengobatan dan kasus ini jarang sekali ditemukan pada seorang wanita

nullipara.

Diperkirakan 50% dari wanita yang telah melahirkan akan menderita prolapsus genitalia

dan hampir 20% kasus ginekologi yang menjalani operasi adalah akibat kasus prolapsus

genitalia. Angka ini akan terus meningkat jumlahnya akibat usia harapan hidup wanita Indonesia

yang terus meningkat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Losif dan Bekazzy (1984) ditemukan hampir

50% wanita terutama wanita pasca menopause yang mengalami prolapsus genitalia mempunyai

masalah urogenital akibat keadaan tersebut, akan tetapi prevalensinya secara pasti sangat sulit

ditentukan dengan tepat. Hal ini disebabkan banyak wanita tersebut yang tidak mau atau merasa

malu, takut ataupun enggan untuk membicarakan masalah–masalah yang dialaminya, bahkan

tabu, baik pada teman, keluarga, tenaga kesehatan, maupun dokter.Oleh karena itu, pengetahuan

dan pemahaman tentang prolapsus urogenital cukup penting sehingga setiap wanita yang

mengalaminya dapat hidup dengan layak tanpa memberikan beban yang berat pada keluarga

maupun pada masyarakat apabila ditatalaksana dengan tepat dan benar sejak dini.

Page 4: Case Prolaps Uteri123

BAB II

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA

Nama : Ny. W Nama suami : Tn. R

Usia : 47 tahun Usia : 52 tahun

Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Wiraswasta Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Islam Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa Suku Bangsa : Jawa

Alamat : Ngablak Kidul, Desa Muktiharjo

Pedurungan

No. CM : 313769

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Benjolan pada jalan lahir

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli kandungan dengan keluhan benjolan pada

jalan lahir sejak ± 2 bulan yang lalu. Pertama tama benjolan dirasakan kecil, namun semakin

lama benjolan dirasakan semakin besar dan mengganjal. Benjolan tidak nyeri, dapat bertambah

besar dan mengganjal terutama saat mengejan / jongkok dan keluhan menghilang saat berbaring.

Benjolan dirasakan lunak. 1 bulan SMRS pasien mengeluh keluar flek sedikit sedikit, warna

merah segar. Nyeri perut (-), keputihan (-), BAB normal, BAK kadang nyeri dan tersendat

sendat. Trauma pada panggul disangkal.

Riwayat Haid :

Menarche usia 15 tahun

Lama : 6 hari

Siklus : 28 hari

Riwayat Pernikahan :1x /1986 / ♀20 tahun / ♂ 23 tahun

Page 5: Case Prolaps Uteri123

Riwayat Obsetri P4A0

I. 1987 / ♂ / 2800 gram / Lahir di Bidan / Spontan / Aterm / Sehat

II. 1991 / ♀ / 3000 gram / Lahir di Bidan / Spontan / Aterm / Sehat

III. 1995 / ♀ / 2700 gram / Lahir di Bidan / Spontan / Aterm / Sehat

IV. 2001 / ♂ / 2900 gram / Lahir di RS Panti Wiloso / SC / aterm / sehat

Riwayat Kontrasepsi : kb susuk selama 3 bulan setelah melahirkan anak I

kb steril tahun 2001

Riwayat Gyn : kista (-), mioma (-), abortus (-)

Riwayat Penyakit Dahulu :

Hipertensi (-), DM (-), asma (-), alergi(-), jantung (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

Hipertensi (-), DM (-), asma (-), alergi(-), jantung (-)

III. Pemeriksaan Fisik (22/12/2014)

Status Generalis

- Keadaan umum : Baik

- Kesadaran : Compos mentis

- Keadaan gizi : Baik

- Tanda-tanda vital : Tekanan darah = 130/80 mmHg

Nadi = 82 x/menit

Pernapasan = 18 x/menit

Suhu = 36,5°C

- Berat badan : 57 kg Tinggi badan : 154 cm

- Kepala : Normosefal, tidak teraba benjolan

- Mata : Konjungtiva anemis -/-

Sklera ikterik -/-

Pupil bulat, isokor, reflex cahaya +/+

- Telinga : Normotia, sekret -/-, serumen -/-

- Hidung : Bentuk normal, sekret -/-

Page 6: Case Prolaps Uteri123

- Mulut dan Tenggorok :

Bibir : tidak sianosis Uvula : di tengah

Faring : tidak hiperemis Lidah : tidak kotor

Tonsil : ukuran T1/T1, tenang, tidak hiperemis

- Leher : Trakea di tengah

Kelenjar tiroid tidak membesar

- KGB :Retroaurikuler, submandibula, cervical, supraclavicula,

aksila,inguinal tidak teraba membesar.

- Payudara : Simetris kanan dan kiri, areola mammae tidak retraksi,

Tak tampak hiperpigmentasi pada areola mammae,

Tidak teraba massa, tanda radang (-), nyeri tekan (-)

-Thoraks :

a. Paru :

Inspeksi : Retraksi (-), bentuk simetris pada saat statis& dinamis

Palpasi : Stem fremitus kanan kiri sama kuat.

Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru.

Auskultasi : Suara dasar vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

b. Jantung :

Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus cordis.

Palpasi : Ictus cordis teraba, ICS V linea midclavicula sinistra.

Perkusi :

• Batas kiri : di ICS V, Linea midclaviculasinistra

• Batas kanan : Sejajar ICS V, linea midsternal dekstra

• Batas pinggang jantung : di ICS III linea parasternalsinistra

Auskultasi : Bunyi Jantung I/II regular, murmur (-/-) gallop (-/-).

- Abdomen : status obstetrikus

- Anus dan genitalia : Tampak benjolan pada vagina ᶲ 2cm warna merah muda

mengkilat, dapat dimasukkan dengan jari. Nyeri tekan (-)

- Ekstremitas : Akral teraba hangat, tidak terdapat edema pada kedua tungkai

- Neurologis : Tidak tampak adanya defisit neurologis

Page 7: Case Prolaps Uteri123

Status Obstetri

-

Status Ginekologi

Pemeriksaan Luar

Inspeksi : sikatrik (-), tanda radang (-), dinding perut datar, lineanigra (-) striae

gravidarum (-) perdarahan flek-flek (-), tampak benjolan pada vagina ᶲ 2cm warna merah

muda mengkilat, dapat dimasukkan dengan jari.

Palpasi : Benjolan teraba lunak, mobile, nyeri tekan pada benjolan (-), TFU: 3 jari diatas

simpisis pubis

Inspekulo : (-)

Pemeriksaan Dalam : tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal Pemeriksaan : 29/7/2015

HEMATOLOGI HASIL NILAI NORMAL

Hemoglobin 13,0 12 – 16 g / Dl

Hematokrit 39,50 37-47 %

Jumlah Leukosit 11.9 4 .8– 10.8 / µL

Jumlah Trombosit 286 (150 – 400).10^3 / µL

Masa Perdarahan / BT 02 min 00 sec 1-3

Masa Pembukan / CT 08 min 00 sec 5-15

Page 8: Case Prolaps Uteri123

KIMIA KLINIK HASIL NILAI NORMAL

Glukosa Darah Sewaktu 102 70 – 115 mg/dL

Natrium 141.0 134.0 – 147.0 mmol/L

Kalium 4.10 3.50 – 5.20 mmol/L

Kalsium 1.18 1.12 – 1.32 mmol/L

IMUNOLOGI HASIL NILAI NORMAL

HBsAg Negatif Negatif

DIAGNOSIS KERJA

P4A0 U47

Prolaps Uteri grade II

RESUME

Pasien datang ke poli kandungan dengan keluhan benjolan pada jalan lahir sejak ± 2 bulan yang

lalu. Pertama tama benjolan dirasakan kecil, namun semakin lama benjolan dirasakan semakin

besar dan mengganjal. Benjolan tidak nyeri, dapat bertambah besar dan mengganjal terutama

saat mengejan / jongkok dan keluhan menghilang saat berbaring. Benjolan dirasakan lunak. 1

bulan SMRS pasien mengeluh keluar flek sedikit sedikit, warna merah segar. Nyeri perut (-),

Page 9: Case Prolaps Uteri123

keputihan (-), BAB normal, BAK kadang nyeri dan tersendat sendat. Keluhan demam, mual,

muntah disangkal. Riwayat trauma pada panggul disangkal.

Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah menderita penyakit seperti ini. Riwayat penyakit

hipertensi, diabetes mellitus, asma, alergi, penyakit jantung disangkal. Tidak ada riwayat penyakit pada

keluarga.

Pemeriksaan Fisik didapatkan:

Tekanan darah : 130/80 mmHg

Status Gyn

- Fluksus : (-)

- Flour albus : (-)

- Vulva uretra vagina : tidak ada kelainan, dinding vagina licin

- Portio : menonjol pada lunak, ostium uteri externa tertutup,nyeri tekan (-) penipisan (-)

- Corpus uteri : seukuran telur angsa

- Cavum douglas : tidak menonjol

- Adneksa parametrium :

kanan : tidak teraba massa

kiri : tidak teraba massa

Status Obstetri

• TFU : 3 jari diatas simphisis

• DJJ : -

• HIS : -

• Leopold : -

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal Pemeriksaan : 29/7/2015

HEMATOLOGI HASIL NILAI NORMAL

Page 10: Case Prolaps Uteri123

Hemoglobin 13,0 12 – 16 g / Dl

Hematokrit 39,50 37-47 %

Jumlah Leukosit 11.9 4 .8– 10.8 / µL

Jumlah Trombosit 286 (150 – 400).10^3 / µL

Masa Perdarahan / BT 02 min 00 sec 1-3

Masa Pembukan / CT 08 min 00 sec 5-15

KIMIA KLINIK HASIL NILAI NORMAL

Glukosa Darah Sewaktu 102 70 – 115 mg/dL

Natrium 141.0 134.0 – 147.0 mmol/L

Kalium 4.10 3.50 – 5.20 mmol/L

Kalsium 1.18 1.12 – 1.32 mmol/L

IMUNOLOGI HASIL NILAI NORMAL

HBsAg Negatif Negatif

Page 11: Case Prolaps Uteri123

Perencanaan:

Rencana terapi

IVFD RL 20 tpm

Inj. Cefotaxim 2 x 1 gr

Inj. Ranitidin 2 x 1 amp

Rencana rawat inap

Pengawasan keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda perburukan.

Memonitor input dan output cairan.

Memonitor jumlah tetesan infus per menit.

Mencukupi kebutuhan nutrisi

Rencana operatif

Histerektomi

EDUKASI

Menjelaskan kepada keluarga tentang kondisi pasien.

PROGNOSA

Ibu:

Ad vitam : bonam

Ad functionam : dubia ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam

Page 12: Case Prolaps Uteri123

Follow up

Pukul Follow up

31/7/2015

06.30

S : benjolan pada jalan lahir

O : KU : baik / compos mentis

Vital Sign

Tekanan darah : 102/70 mmHg

Nadi : 84 x/menit

Frekuensi napas : 22 x/menit

Suhu : 36,5 oC

St.internus : dalam batas normal

Benjolan pada vagina (+) flek (-)

A:

P4A0 U48 th

Prolaps Uteri

Pro operasi histerektomi tggl 1 / 8 /2015

P :

Obs KU , TTV

Foto rongent thorax untuk persiapan operasi

Pukul Follow up

1/8/2015

14.00

S : nyeri post op (+), pusing (+)

O : KU : tampak sakit sedang

Vital Sign

Page 13: Case Prolaps Uteri123

Tekanan darah : 100/70 mmHg

Nadi : 84 x/menit

Frekuensi napas : 22 x/menit

Suhu : 36,5 oC

St.internus : dalam batas normal

A:

P4A0 U48 th

post histerektomi a/i prolaps uteri

P :

Obs KU , TTV

Memasangkan bedsite monitor

Page 14: Case Prolaps Uteri123

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Prolaps Uteri

Prolaps uteri adalah turunnya uterus kedalam introitus vagina

diakibatkan oleh kegagalan atau kelemahan dari ligamentum dan jaringan

penyokong (fasia).[1,8]

3.2 Etiologi

Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan

penyulit, merupakan penyebab prolapsus uteri, dan memperburuk prolaps yang

sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan pada janin pada pembukaan belum

lengkap, prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta, dan

sebagainya. Jadi, tidaklah mengherankan bila prolapsus genitalia terjadi segera

sesudah partus atau dalam masa nifas. Asites dan tumor-tumor di daerah pelvis

mempermudah terjadinya prolapsus uteri. Bila prolapsus uteri dijumpai pada

nulipara, faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan

3.3 Klasifikasi Prolaps Uteri

Mengenai istilah dan klasifikasi prolapsus uteri terdapat perbedaan

pendapat antara ahli ginekologi. Friedman dan Little (1961) mengemukakan

beberapa macam klasifikasi yang dikenal yaitu:[5]

A. Prolapsus uteri tingkat I,dimana serviks uteri turun sampai introitus

vaginae; Prolapsus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar dari

introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar dari

vagina, prolapsus ini juga dinamakan prosidensia uteri. [5]

B. Prolapsus uteri tingkat I, serviks masih berada di dalam vagina; Prolapsus

uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus vaginae, sedang pada

prosidensia uteri, uterus seluruhnya keluar dari vagina.[5]

Page 15: Case Prolaps Uteri123

C. Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vaginae; Prolapsus

uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari ½ bagian; Prolapsus

uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus vaginae lebih dari ½ bagian.[5]

D. Prolapsus uteri tingakat I, serviks mendekati prosessus spinosus; Prolapsus

uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosessus spinosus dan introitus

vaginae; Prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus vaginae.[5]

E. Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi D, ditambah dengan prolapsus uteri

tingkat IV (prosidensia uteri).[5]

3.4 Faktor Resiko Prolaps Uteri

1. Multiparitas

Persalinan pervaginam adalah yang paling sering dikutip sebagai faktor

risiko untuk prolaps uteri. Tidak ada kesepakatan apakah itu kehamilan atau

kelahiran itu sendiri yang merupakan predisposisi disfungsi dasar panggul.

Namun, banyak penelitian telah dijelaskan menunjukkan bahwa melahirkan tidak

meningkatkan kecenderungan wanita untuk prolaps uteri. Misalnya, pada studi

Organ Penyokong Panggul (POSST), peningkatan paritas dikaitkan dengan

peningkatan kejadian prolaps (Swift, 2005). Selain itu, risiko prolaps organ pelvis

meningkat 1,2 kali pada persalinan pervaginam. Studi kohort yang dilakukan di

Oxford pada 17.000 wanita untuk membandingkan wanita nulipara dengan wanita

yang telah mengalami dua kali melahirkan, mengalami peningkatan delapan kali

lipat berkunjung ke rumah sakit untuk prolaps organ pelvis.[9]

2. Usia

Seperti dijelaskan sebelumnya, usia lanjut juga terlibat dalam

pengembangan prolaps organ pelvis. Dalam studi POSST, ada 100-persen

peningkatan risiko prolaps untuk setiap dekade kehidupan. Pada wanita berusia 20

sampai 59 tahun, kejadian prolaps organ pelvis berlipat ganda dengan setiap

dekade. Seperti risiko prolaps organ pelvis lainnya, penuaan adalah proses yang

kompleks. Peningkatan insiden mungkin akibat dari penuaan fisiologis dan proses

degeneratif serta hipoestrogenisme.[9]

Page 16: Case Prolaps Uteri123

3. Penyakit jaringan ikat

Wanita dengan gangguan jaringan ikat lebih mungkin untuk

mengembangkan prolaps organ pelvis. Dalam sebuah studi seri kasus kecil,

sepertiga dari wanita dengan sindrom Marfan dan tiga perempat dari wanita

dengan sindrom Ehlers-Danlos melaporkan riwayat prolaps organ pelvis.[9]

4. Ras

Prevalensi perbedaan ras, prolaps organ pelvis telah dibuktikan dalam

beberapa penelitian. Perempuan kulit hitam dan Asia menunjukkan risiko

terendah, sedangkan wanita Hispanik tampaknya memiliki risiko tertinggi.

Meskipun perbedaan kandungan kolagen telah dibuktikan antara ras, perbedaan

ras di tulang panggul juga mungkin memainkan peran. Misalnya, perempuan kulit

hitam lebih sering memiliki lengkungan kemaluan sempit dan panggul android

atau antropoid. Bentuk-bentuk ini adalah pelindung terhadap prolaps organ pelvis

dibandingkan dengan panggul ginekoid khas wanita Kaukasia yang paling.[9]

5. Peninggian tekanan intraabdomen

Peningkatan tekanan intra-abdomen yang kronis diyakini memainkan

peran dalam patogenesis prolas organ pelvis. Kondisi ini dapat sebabkan oleh

obesitas, sembelit kronis, batuk kronis, dan angkat berat berulang-ulang. Sejumlah

penelitian mengidentifikasi obesitas sebagai faktor risiko independen untuk stres

inkontinensia urin (Brown, 1996; Burgio, 1991; Dwyer, 1988). Namun, hubungan

dengan perkembangan prolaps organ pelvis kurang jelas (Hendrix, 2002; Nygaard,

2004). Berkenaan dengan mengangkat, sebuah studi Denmark menunjukkan

bahwa asisten perawat yang terlibat dengan angkat berat berulang berada pada

peningkatan risiko untuk menjalani intervensi bedah untuk prolaps, dengan rasio

odds 1,6 (Jorgensen, 1994). Selain itu, merokok dan penyakit paru obstruktif

kronik (PPOK) juga telah terlibat dalam pengembangan prolaps organ pelvis,

meskipun sedikit data mendukung hubungan ini (Gilpin, 1989; Olsen, 1997).

Demikian pula, meskipun batuk kronis menyebabkan kenaikan tekanan intra-

abdomen, tidak ada mekanisme yang jelas. Beberapa percaya bahwa senyawa

kimia dalam tembakau yang dihirup dapat menyebabkan perubahan yang

menyebabkan POP daripada batuk kronis sendiri. (Wieslander, 2005).[9]

Page 17: Case Prolaps Uteri123

2.5 Patofisiologi Prolaps Uteri

Normalnya, uterus di fiksasi pada tempatnya oleh otot dan ligamentum

membentuk dasar pelvis. Prolaps uteri terjadi ketika dasar pelvis yaitu otot dan

ligamentum mengalami peregangan, terjadi kerusakan, dan kelemahan sehingga

mereka tidak sanggup untuk menyokong organ pelvis, sehingga uterus dan organ

pelvis lainnya jatuh ke introitus vaginae. Prolaps bisa saja terjadi secara tidak

komplet, atau pada beberapa kasus yang berat, terjadi prolaps yang komplet

sehingga uterus jatuh sampai keluar vagiana.[2]

Gambar 03. Prolaps uteri.[10]

Page 18: Case Prolaps Uteri123

Gambar 04. Anatomi daras panggul.[8]

2.6 Manifestasi Klinis

Gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadangkala penderita

yang satu dengan prolaps yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,

sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.

Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:[5]

Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genialia

eksterna.[2]

Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita

berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang. [2]

Prolaps uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:

Å Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu

berjalan dan bekerja. Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan

lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.[2]

Page 19: Case Prolaps Uteri123

Å Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan

karena infeksi serta luka pada portio uteri.[2]

2.7 Diagnosis

1. Anamnesis

Keluhan-keluhan penderita dan pemeriksaan ginekologik umumnya

dengan mudah dapat menegakkan diagnosis prolapsus genitalis. Pasien dengan

prolaps uteri biasanya mengeluhkan adanya benjolan yang keluar dari alat

kelaminnya.[5] Pasien biasanya mengeluhkan:[2]

Rasa berat pada atau rasa tertekan pada pelvis.

Pada saat duduk pasien merasakan ada benjolan seperti ada bola atau

kadang-kadang keluar dari vagina.

Nyeri pada pelvis, abdomen, atau pinggang.

Nyeri pada saat berhubungan.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan ginekologi biasanya mudah dilakukan, Friedman dan Little

menganjurkan sebagai berikut; Penderita dalam posisi jongkok disuruh mengejan

dan ditentukan dengan pemeriksaan dengan jari, apakah portio uteri pada posisi

normal atau portio telah sampai introitus vagina, atau apakah serviks uteri sudah

keluar dari vagina. Selanjutnya dengan penderita berbaring dalam posisi litotomi,

ditentukan pula panjangnya serviks uteri. Serviks uteri yang lebih panjang dari

ukuran normal dinamakan elongasio kolli. [5] Berikut adalah stadium untuk prolaps

uteri:[2]

Tabel 01. Lima stadium untuk prolaps.[2,8]

Stadium 0: Tidak ada prolaps. Stadium I: Sebagian besar portio distal mengalami prolaps > 1 cm di atas

himen. Stadium II: Sebagian besar portion distal mengalami prolaps ≤ 1cm di

proksimal atau distal himen. Stadium III: Sebagian besar portio distal mengalami prolaps > 1 cm

dibawah himen tetapi benjolan tidak lebih 2 cm dari panjang vagina. Stadium IV: Prolaps komplet termasuk bagian dari vagina.

Page 20: Case Prolaps Uteri123

Gambar 05. Prolaps uteri saat kehamilan karena peninggian tekananintraabdominal dan prolaps uteri total setelah dilakukan seksiosesarea elektif.[11]

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak begitu banyak membantu. Tes

Papanicolaou (Pap smear sitologi) atau biopsi dapat diindikasikan pada

kasus yang jarang terjadi yang dicurigai karsinoma, meskipun ini harus

ditangguhkan ke dokter perawatan primer atau dokter kandungan.[2]

Pemeriksaan USG

Pemeriksaan USG bisa digunakan untuk membedakan prolaps dari

kelainan-kelainan lain.[2]

2.8 Penatalaksanaan Prolaps Uteri

1. Observasi

Derajat luasnya prolaps tidak berkaitan dengan gejala. Mempertahankan

prolaps tetap dalam stadium I merupakan pilihan yang lebih tepat. Beberapa

wanita mungkin lebih memilih untuk mengobservasi lanjutan dari prolaps.

Mereka juga harus memeriksakan diri secara berkala untuk mencari

perkembangan gejala baru atau gangguan (seperti buang air kecil atau buang air

besar terhambat, erosi vagina).[8]

Page 21: Case Prolaps Uteri123

2. Terapi Konservatif

Latihan otot dasar panggul

Latihan ini sangat berguna pada prolaps ringan, terutama yang terjadi pada

pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk menguatkan

otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Namun

dari penelitian yang dilakukan oleh Cochrane review of conservative

management prolaps uterus yang diterbitkan pada tahun 2006

menyimpulkan bahwa latiahan otot dasar panggul tidak bukti ilmiah yang

mendukung. Caranya ialah, penderita disuruh menguncupkan anus dan

jaringan dasar panggul seperti biasanya setelah selesai berhajat atau

penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang mengeluarkan air

kencing dan tiba-tiba menghentikkanya. [5,8,9]

Pemasangan pessarium

Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni

menahan uterus di tempatnya selama pessarium tersebut dipakai. Oleh

karena jika pessarium diangkat, timbul prolaps lagi. Meskipun bukti yang

mendukung penggunaan pessarieum tidak kuat, mereka digunakan oleh

86% dari ginekolog dan 98% dari urogynaecologists. Prinsip pemakaian

pessarium ialah bahwa alat tersebut membuat tekanan pada dinding vagina

bagian atas, sehingga bagian dari vagina tersebut besereta uterus tidak

dapat turun dan melewati vagina bagian bawah. Pessarium yang paling

baik untuk prolaps genitalia ialah pessarium cincin, terbuat dari plastik.

Jika dasar panggul terlalu lemah dapat digunakan pessarium Napier.[5,8]

Tabel 02. Pedoman Pemasangan Pessarium.[5]

Sebagai pedoman untuk mencari ukuran yang cocok, diukur dengan jari jarak antara forniks vagina dengan pinggir atas introitus vagina, ukuran tersebut dikurang 1 cm untuk mendapat diameter dari pessarium yang akan dipakai.

Pessarium diberi zat pelicin dan dimasukkan miring sedikit kedalam vagina. Setelah bagian atas masuk ke dalam vagina, bagian tersebut ditempatkan ke forniks vagina posterior. Kadang-kadang pemasangan pessarium dari plastik mengalami kesukaran.

Apabila pessarium tidak dapat dimasukkan, sebaiknya dipakai pessarium dari karet dengan per didalamnya.

Untuk mengetahui setelah pemasangan, apakah ukuran cocok, penderita

Page 22: Case Prolaps Uteri123

disuruh batuk atau mengejan. Jika pessarium tidak keluar, penderita disuruh jalan-jalan, apabila ia tidak merasa nyeri, pessarium dapat diteruskan.

Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja penderita diawasi secara teratur. Periksa ulang sebaiknya dilakukan 2 ± 3 bulan sekali, vagian diperiksa dengan inspekulo untuk menentukan ada tidaknya perlukaan. Pessarium dibersihkan dan dicucihamakan dan kemudian di pasang kembali.

Indikasi penggunaan pessarium: - Kehamilan. - Bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi. - Sebagai terapi tes, menyatakan bahwa operasi harus dilakukan. - Penderita menolak untuk dioperasi. - Untuk menghilangkan gejala yang ada, sambil menunggu waktu

operasi dapat dilakukan.

Gambar 06. Jenis-jenis pessarium. A. Cube pessary. B. Gehrung pessary. C.Hodge with knob pessary. D. Regula pessary. E. Gellhorn pessary.F. Shaatz pessary. G. Incontinence dish pessary. H. Ring pessary.I. Donut pessary.[9]

Page 23: Case Prolaps Uteri123

Gambar 08. Cara pemasangan pessarium (A,B dan C) dan cara melepaskannya

(D).[9]

3. Terapi Bedah

Prolaps uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina. Maka, jika

dilakukan pembedahan untuk prolaps uteri, prolaps vagina perlu ditangani pula.

Ada kemungkinan terdapat prolaps vagina yang membutuhkan pembedahan,

padahal tidak ada prolaps uteri atau prolaps uteri yang ada belum perlu dioperasi.

Di Inggris dan Wales pada tahun 2005-2006, 22.274 operasi dilakukan untuk

prolaps vagina. Beberapa literatur melaporkan bahwa dari operasi prolaps rahim,

disertai dengan perbaikan prolaps vagina pada waktu yang sama. Indikasi untuk

melakukan operasi pada prolaps uteri tergantung dari beberapa faktor, seperti

umur penderita, keinginan untuk masih mendapat anak atau untuk

mempertahankan uterus, tingkat prolaps, dan adanya keluhan. Macam-macam

operasi untuk prolaps uterus sebagai berikut:[8]

Page 24: Case Prolaps Uteri123

Ventrofiksasi

Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih menginginkan anak,

dilakukan operasi untuk uterus ventrofiksasi dengan cara memendekkan

ligamentum rotundum atau mengikat ligamentum rotundum ke dinding

perut atau dengan cara operasi Purandare.[5]

Operasi Manchester

Pada operasi ini biasanya dilakukan amputasi serviks uteri, dan penjahitan

ligamentum kardinale yang telah dipotong, di muka serviks dilakukan pula

kolporafia anterior dan kolpoperineoplastik. Amputasi serviks dilakukan

untuk memperpendek serviks yang memanjang (elo ngasio kolli).

Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas, abortus, partus prematurus,

dan distosia servikalis pada persalinan. Bagian yang penting dari operasi

Manchester ialah penjahitan ligamentum kardinale di depan serviks karena

dengan tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek, sehingga uterus

akan terletak dalam posisi anteversifleksi, dan turunnya uterus dapat

dicegah.[5]

Histerektomi vagina

Operasi ini tepat untuk dilakukan untuk prolaps uterus dalam tingkat

lanjut, dan pada wanita yang telah menopause. Setelah uterus diangkat,

puncak vagina digantungkan pada ligamentum rotundum kanan dan kiri,

atas pada ligamentum infundibulo pelvikum, kemudian operasi akan

dilanjutkan dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi untuk

mencegah prolaps vagina di kemudian hari.[5]

Kolpokleisis (operasi Neugebauer-Le Fort)

Pada waktu obat-obatan serta pemberian anestesi dan perawatan pra/pasca

operasi belum baik untuk wanita tua yang seksualnya tidak aktif lagi dapat

dilakukan operasi sederhana dengan menjahit dinding vagina depan

dengan dinding vagina belakang, sehingga lumen vagian tertutup dan

uterus terletak di atas vagina. Akan tetapi, operasi ini tidak memperbaiki

sistokel dan retrokel sehingga dapat menimbulkan inkontinensia urinae.

Obstipasi serta keluhan prolaps lainnya juga tidak hilang.[5]

Page 25: Case Prolaps Uteri123

2.9 Komplikasi Prolaps Uteri

Komplikasi yang dapat menyertai prolaps uteri adalah:[5]

Kreatinisasi mukosa vagina dan portio uteri. Prosidensia uteri disertai

dengan keluarnya dinding vagina (inversio); karena itu mukosa vagina dan

serviks uteri menjadi tebal serta berkerut, dan berwarna keputih-putihan.[5]

Dekubitus. Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser

dengan paha dan pakaian dalam; hal itu dapat menyebabkan luka dan

radang, dan lambat laun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan demikian,

perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada penderita

berusia lanjur.[5]

Hipertrofi serviks uteri dan elangasio kolli. Jika serviks uteri turun ke

dalam vagina sedangkan jaringan penahan dan penyokong uterus masih

kuat, karena tarikan ke bawah di bagian uterus yang turun serta

pembendungan pembuluh darah, serviks uteri mengalami hipertrofi dan

menjadi panjang pula. Hal yang terakhir ini dinamakan elongasio kolli.[5]

Kemandulan. Karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitus

vaginae atau sama sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi

kehamilan.[5]

2.10 Prognosis

Sebagian besar wanita (lebih dari 40%) yang mempunyai prolaps derajat

awal biasanya timbul gejala minimal atau tidak terdapat gejala sama sekali.

Latihan otot dasar panggul dapat membantu atau mencegah perburukan prolaps

derajat awal.[12]

Page 26: Case Prolaps Uteri123

DAFTAR PUSTAKA

1. Faraj R, Broome J. Laparoscopic Sacrohysteropexy and Myomectomy forUterine Prolapse: A Case Report and Review of the Literature. Journal ofMedical Case Report 2009. [database on the NCBI]. [cited on September23, 2013]; 02:1402. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2783099/pdf/1752-1947-3-99.pdf.

2. Barsoom RS, Dyne PL. Uterine Prolapse in Emergency Medicine.Medscape Article. [database on the medscape] 2011. [cite on September28, 2013]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/797295-overview#showall.

3. Anhar K, Fauzi A. Kasus Prolapsus Uteri di Rumah Sakit DR. MohammadHoesin Palembang Selama Lima Tahun (1999 ± 2003). DepartemenObstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UniversitasSriwijaya/RSMH Palembang. [database on the internet]. [cited onSeptember 23, 2013]. Available from: http://digilib.unsri.ac.id/download/KASUS%20PROLAPSUS%20UTERI%20DI%20RUMAH%20SAKIT%20DR_%20MOHMMAD%20HOESIN.pdf.

4. Detollenaere RJ, Boon J, Stekelenburg J, Alhafidh AH, Hakvoort RA, etal. Treatment of Uterine Prolapse Stage 2 or Higher: A RandomizedMulticenter Trial Comparing Sacrospinnosus Fixation with VaginalHysterectomy (SAVE U Trial). BMC Womens Health Journals 2011.[database on the NCBI]. [cited on September 23, 2013]; 02:1402.Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3045971/pdf/1472-6874-11-4.pdf.

5. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan. EdisiKedua, Cetakan Ketujuh. Jakarta: PT Bina Pustaka SarwonoPrawirohardjo. 2009. Hal: 9-11,432,433,436,437

6. Anatomy of uterine [image on the Gray’s Anatomy Student Consult 20102010. [cited on September 27, 2013]. Available from:http://www.studentconsult.com/bookshop/chome/default.cfm?shortcut=anatomy.

7. Standring S, Ellis H, Healy JC, Johnson D, Williams A, et al. Gray’ssAnatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice. 39th Edition.[textbook of Anatomy]. Elsevier Churchill Livingstone: 2008.

Page 27: Case Prolaps Uteri123

8. Doshani A, Teo R, Mayne CJ, Tincello DG. Uterine Prolapse. ClinicalReview 2007. [database on the NCBI]. [cited on September 23, 2013];335:819-823. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2034734/pdf/bmj-335-7624-cr-00819.pdf .

9. Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD,Cunningham FG. Williams Gynecology. The McGraw-Hill Companies.2008.

10. Pelvic Organ Prolaps; A Guide for Women. InternationalUrogynecological Association 2011. [article in the internet]. [cited onSeptember 27, 2013]; 335:819-823. Available from:http://c.ymcdn.com/sites/www.iuga.org/resource/resmgr/brochures/eng_pop.pdf.

11. Vita DD, Giordano S. Two Succesful Natural Pregnancies in a Patientwith Severe Uterine Prolapse: A Case Report. J Med Case Report 2011.[database on the NCBI]. [cite on September 28, 2013]. Available from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3180421/ .

12. Pelvic Organ Prolaps; A Guide for Women. InternationalUrogynecological Association 2011. [article in the internet]. [cited onSeptember 27, 2013]; 335:819-823. Available from:http://c.ymcdn.com/sites/www.iuga.org/resource/resmgr/brochures/eng_pop.pdf .