Buletin Paskah vol 2

of 8/8
K A B A R PASKAH Panitia Paskah GKI Kelapa Cengkir Daun Palma... Kenapa Harus Dibawa Pulang? Minggu Palma adalah Minggu terakhir sebelum Paskah– sebuah momen titik awal kita menghayati sengsara Kristus. Dalam ibadah Minggu Palma, kita diperhadapkan pada dua elemen yang kontras: sukacita menyambut Kristus yang memasuki Yerusalem sebagai raja, sekaligus pemahaman akan pengorbanan-Nya yang makin menjelang. Saat Tuhan Yesus memasuki Yerusalem, Dia disambut dengan lambaian daun palma karena itulah minggu itu disebut dengan Minggu Palma. Daun palma menjadi simbol utama yang kita lambai- lambaikan dalam prosesi. Daun yang digunakan dalam prosesi biasanya dibawa pulang oleh jemaat dan disembatkan di salib di rumah. Tahun depan, daun akan dibawa lagi ke gereja, untuk dikumpulkan akan dibakar menjadi abu dan digunakan dalam ibadah Rabu Abu . Daun Palem ini bisa kita gantungkan di dinding atau- pun diletakkan di suatu tempat yang mudah kita lihat, ini akan mengingatkan kita sepanjang tahun bahwa kita adalah bagian dari suatu komunitas yang telah mengalami kasih Allah. Setiap kali kita melihat- nya, akan mengingatkan kembali bahwa sebagai umat yang telah diselamatkan kita harus terus mem- perbaharui diri lewat pertobatan dan terus ber- pengharapan hanya kepada Tuhan saja. Tapi ingat, daun palma tidak boleh disimpan sebagai jimat, atau untuk alasan terapeutik ataupun yang bersifat magis untuk mengusir roh-roh jahat, atau hal-hal lain yang merujuk pada takhayul.
  • date post

    21-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    237
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Publikasi untuk jemaat GKI Kelapa Cengkir

Transcript of Buletin Paskah vol 2

  • K A B A R PASKAH

    Panitia Paskah GKI Kelapa Cengkir

    Daun Palma... Kenapa Harus Dibawa Pulang? Minggu Palma adalah Minggu terakhir sebelum Paskah sebuah momen titik awal kita menghayati sengsara Kristus. Dalam ibadah Minggu Palma, kita diperhadapkan pada dua elemen yang kontras: sukacita menyambut Kristus yang memasuki Yerusalem sebagai raja, sekaligus pemahaman akan pengorbanan-Nya yang makin menjelang. Saat Tuhan Yesus memasuki Yerusalem, Dia disambut dengan lambaian daun palma karena itulah minggu itu disebut dengan Minggu Palma. Daun palma menjadi simbol utama yang kita lambai-lambaikan dalam prosesi. Daun yang digunakan dalam prosesi biasanya dibawa pulang oleh jemaat dan disembatkan di salib di rumah. Tahun depan, daun akan dibawa lagi ke gereja, untuk dikumpulkan akan dibakar menjadi abu dan digunakan dalam ibadah Rabu Abu . Daun Palem ini bisa kita gantungkan di dinding atau-pun diletakkan di suatu tempat yang mudah kita lihat, ini akan mengingatkan kita sepanjang tahun bahwa kita adalah bagian dari suatu komunitas yang telah mengalami kasih Allah. Setiap kali kita melihat-nya, akan mengingatkan kembali bahwa sebagai umat yang telah diselamatkan kita harus terus mem-perbaharui diri lewat pertobatan dan terus ber-pengharapan hanya kepada Tuhan saja. Tapi ingat, daun palma tidak boleh disimpan sebagai jimat, atau untuk alasan terapeutik ataupun yang bersifat magis untuk mengusir roh-roh jahat, atau hal-hal lain yang merujuk pada takhayul.

  • Paskah merupakan puncak karya Kristus demi menyelamatkan umat yang dikasihiNya. Maka sudah selayaknya apabila sukacita itu juga diungkapkan dengan ucapan selamat. Dalam bahasa Inggris, ucapan Selamat Paskah sering diterjemahkan dengan Happy Easter. Namun beberapa studi dan tulisan belakangan ini menganjurkan kitadan mengingatkan kembaliuntuk lebih menggunakan Happy Passover ketika hendak menyampaikan ucapan dalam bahasa Inggris. Mengapa demikian? Paskah Dalam Alkitab Keluaran 12 : 27 tertulis: ... maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita. Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. Dalam bahasa Ibrani, kata Paskah dan melewati dalam ayat tersebut adalah Pesakh dan Pasakh, atau dalam bahasa Inggris (King James Version / KJV) ditulis sebagai passover dan passed. Peristiwa itulah kemudian dianggap sebagai awal mula dirayakannya

    hari Paskah oleh umat Israel yang tradisinya masih terus dipegang sampai zaman Yesus hidup. Lukas 2 : 41 menyampaikan bahwa tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah (passover, paskha). Menjelang akhir masa hidup dan pelayananNya di dunia, Yesus pun tetap memegang tradisi ini. Matius 26 : 17 mencatat: Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepadaNya dan berkata: Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagiMu? Kata Paskah di ayat ini dalam bahasa Ibrani dutulis sebagai paskha dan dalam bahasa Inggris (KJV) ditulis sebagai passover. Easter Lalu mengapa sampai ada kata easter? Kata easter tercatat dalam Alkitab bahasa Inggris KJV dalam Kisah Para Rasul 12 : 4 saat Petrus ditangkap oleh Raja Herodes sebagai berikut: And when he had apprehended him, he put him in prison, and delivered him to four quaternions of soldiers to keep him; intending after Easter to bring him forth to the people. Namun demikian dalam bahasa aslinya Yunani, kata Paskah tersebut tetap ditulis sebagai paskha.

    Happy Easter or Happy Passover ?

  • Sampai saat ini belum terdapat penjelasan yang mendasar mengapa kata Paskah dalam ayat tersebut versi bahasa Inggris (KJV) ditulis sebagai Easter. Terdapat dugaan bahwa kata easter dipilih sebagai gaya bahasa dalam terkait dengan subjek kalimatnya yaitu Raja Herodes yang diduga terkait dengan paganisme, yaitu semacam religi kontemporer, di mana dalam konteks paganisme tersebut, kata easter dikaitkan karena kemiripan bunyi dengan Dewi Isthar, dewi kesuburan yang dikisahkan turun dari bulan dalam telur bulan raksasa. Dan anak yang dilahirkannya, Tammuz dikenal menyukai kelinci, sehingga binatang ini sering dikaitkan dengan kesuburan dan perayaan Paskah, sedemikian juga dengan simbol telur. Beberapa studi kemudian menyampaikan bahwa antara kata Easter dan Isthar hanya merupakan kemiripan bunyi semata. Easter dikatakan berasal dari akar kata Eostur, musim kebangkitan atau musim semi. Atau bisa juga mengacu pada kata Ost (bahasa Jerman) atau East (bahasa Inggris) yang berarti timur, tempat sang matahari terbit bangkit dari kegelapan malam. Iman Terhadap Kristus Yang Bangkit Kemudian bagaimana sebaiknya kita menanggapi hal tersebut? Sebagai umat beriman, kita tidak perlu mendebatkan perihal asal usul kata terlalu mendalam. Kita seharusnya hanya lebih fokus pada iman bahwa

    Kristus telah bangkit mengalahkan maut bagi kita. Itulah Paskah bagi kita. Kita memahami Paskah tidak lagi semata memperingati peristiwa Tuhan melewati (menyelamatkan) umatNya ketika menulahi orang Mesir pada perbudakan, namun lebih kepada momen Kristus bangkit dari maut. Dengan pemahaman seperti itu, maka seharusnya kita tidak perlu dipusingkan dengan ucapan selamat apa yang pantas, selama pemberi dan penerima ucapan selamat Paskah paham betul bahwa sukacita itu karena Kristus telah bangkit. Memang sebaiknya kita menggunakan ucapan yang membuat orang lain memahami makna yang sesungguhnya. Jadi apa ucapan selamat yang sebaiknya kita sampaikan? Happy Easter or Happy Passover? Apapun itu yang penting pesannya tersampaikan dengan baik dan benar. Kristus bangkit! Kristus telah bangkit! Amin. Oleh: Simon Priambudi Dharmawan Referensi: http://www.sarapanpagi.org dan berbagai sumber lainnya.

  • Mengenal Triduum Trihari Suci = Triduum = Tiga Hari Suci Paskah. Sudahkah kita memahaminya? Istilah Triduum (Latin: tiga hari) menunjukkan bahwa pada prinsipnya ibadah yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut itu (mulai dari Kamis Putih sampai Paskah Subuh) merupakan satu kesatuan. Satu ibadah, bukan tiga ibadah yang terpisah-pisah. Jadi Trihari Paskah adalah ibadah 3 hari terpadu di mana gereja merayakan penyaliban, pemakaman dan kebangkitan Tuhan Yesus.

    Kamis Putih Umat berkumpul pada Kamis malam untuk mengenang peristiwa Perjamuan malam terakhir. Ada yang menandainya dengan mengadakan ritual pembasuhan kaki. Ada beberapa peristiwa yang terikat menyatu pada hari terakhir sebelum Yesus ditangkap yang diperingati dengan berbagai cara dalam pelayanan ibadah. Termasuk perjamuan malam terakhir, yang kemungkinan adalah makan Paskah Yahudi, perintah untuk perjamuan bersama, pembasuhan kaki para murid, peristiwa pengkhianatan Yudas, dan Yesus yang berdoa di taman Getsemani sementara para murid tertidur. Pada Kamis Putih kali ini kita memperingatinya dengan pembasuhan kaki sebagai penyampaian pesan bahwa Kristus adalah Raja, utusan Allah, berkuasa, mulia, namun bukan dalam cara yang dibayangkan oleh manusia yang sering mengasosiasikannya dengan gemerlap keagungan duniawi. Juga kita akan mengenangkan betapa hebat pergumulan Yesus pada waktu berdoa di taman Getsemane. Dan di akhir ibadah diadakan ritual pembersihan altar dari simbol-simbol liturgis, sehingga pada hari Jumat Agung umat beribadah dalam kekosongan simbol sebagai tanda Kristus yang mati disalib terpisah dari umat. Jumat Agung Ibadah Jumat Agung dirayakan agar umat menyadari betapa besar arti kematian Kristus bagi mereka. Pada hari ini Gereja memperingati hanya satu peristiwa saja, yakni sengsara dan wafatnya Kristus. Gereja biasa merayakannya dengan membacakan kisah sengsara Kristus. Atau dengan merenungkan 7 perkataan terakhir Yesus. Ada beberapa macam pelayanan ibadah pada hari Jumat Agung, semuanya bertujuan agar para peserta ibadah menghayati perasaan sakit (pedih), penghinaan dan akhir perjalanan di kayu salib. Umumnya, ibadah Jumat Agung adalah serangkaian bacaan, renungan singkat, waktu untuk meditasi dan doa. Karena ibadah hari ini adalah memperingati kematian Yesus, dan bahwa Perjamuan Kudus adalah suatu perayaan, maka Perjamuan Kudus tidak dilaksanakan pada hari Jumat Agung. Umumnya dalam ibadah pada hari ini, gambar, ornamen dan salib ditutup dengan kain hitam, taplak altar diganti dengan warna hitam, lilin altar juga dimatikan. Peserta ibadah meninggalkan ruangan ibadah dalam suasana gelap dan hening. Sabtu Sunyi Setelah kebaktian Jumat Agung berakhir, umat tetap menjaga keheningan dengan ibadah. Secara tradisi hari ini adalah hari meditasi hening di mana para Kristen berkontemplasi akan kegelapan dunia tanpa masa depan dan tanpa harapan terpisah dari Allah dan anugerahNya. Trihari Paskah berakhir pada Sabtu malam, saat dirayakan kebaktian Malam Paskah (atau bagi gereja-gereja yang tidak merayakan Malam Paskah, melangsungkan ibadah yang sama pada Paskah Subuh), di mana umat berkumpul di gereja untuk berjaga-jaga dan menunggu saat-saat kebangkitan Kristus.

  • Panitia Paskah menyediakan kantong Aksi Puasa Paskah. Melalui kantong ini kita akan melatih kepekaan diri dengan

    menyisihkan sebagian uang yang biasanya kita belanjakan untuk makan, minum, hobi, dll.

    Kantong akan dipersembahkan pada Ibadah Paskah

    dan disalurkan untuk memfasilitasi SDK/SMPK milik GKI Wonosobo,

    sebuah lembaga pendidikan yang pernah menjadi sekolah unggulan, dan kini membutuhkan kepedulian kita agar dapat

    terus memberi terang pendidikan pada anak-anak Tuhan.

    Paskah Subuh Ibarat berlalunya malam, datanglah matahari di fajar kebangkitan (Paskah), yang menandakan bahwa hidup dalam kegelapan telah berlalu, sekarang umat hidup dalam Terang Kristus yang bangkit*. Ibadah Paskah diawali dengan liturgi cahaya, dimana lilin Kristus akan dinyalakan dan apinya dibagikan kepada jemaat. Ini adalah tanda bahwa Sang Terang itu sudah menang sehingga jemaat dapat turut hidup dalam ke-menangan. Paskah Subuh menjadi puncak peringatan kebangkitan Kristus. Dengan bangkitNya Kristus, bangkit pula orang-orang baru yang bersedia menjadi murid Kris-tus. *Momen ini sering diambil untuk melayankan Baptis Dewasa / Sidi. Mereka sudah mati bersama Kristus, sekarang mereka bangkit bersama Kristus. Setelah dibaptis, anggota jemaat baru langsung diajak untuk mengikuti Perjamuan Kudus bersama dengan seluruh jemaat.

    Malam itu, sampai saat Kebangkitan Kristus, umat merenungkan pelbagai bacaan diselingi doa, kotbah dan renungan pribadi. Tema pokok renungan adalah seluruh karya penyelamatan Allah, yang memuncak dan digenapi dengan kebangkitan Kristus. Ibadah Malam Paskah biasanya dilaksanakan menjelang tengah malam dan hal ini berlangsung hingga saatnya menyambut sukacita Paskah pada subuh saat kebangkitan Kristus.

    Aksi Puasa Paskah

  • MAKNA PEMBASUHAN KAKI

    OLEH YESUS

    BAGI KEHIDUPAN KITA

    John Christoper Thomas dalam bukunya yang berjudul Footwashing Within the context of the Lords Sup-perberusaha menjelaskan dan memaknai lebih dalam tentang pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus saat malam perjamuan terakhir sebelum Yesus dihukum mati.

    Saya teringat betul sewaktu saya masuk Asrama Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Jogjakarta pada awal tahun. Kakak tingkat saya angkatan 2004 mengada-kan pembasuhan kaki diakhir masa orientasi mahasiswa angkatan baru. Pembasuhan bukan dilakukan dalam masa paskah. Pembasuhan ini memang tradisi yang ada di asrama UKDW sejak asrama tersebut ada. Namun bukan berarti tidak memiliki makna. Kakak tingkat kami menje-laskan bahwa pembasuhan ini berarti angkatan baru dan angkatan lama yang ada di asrama tersebut duduk sejajar dalam satu atap asrama. Selisih angkatan bukanlah penghalang, dan diharapkan kita dapat saling melayani di dalamnya.

    Berangkat dari pengalaman masa lalu ini, saya melihat bahwa tradisi pembasuhan kaki tidak terbatas pada masa raya Paskah saja. Begitu juga dengan pemaknaan , apakah pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus pada masa itu, dapat dimaknai secara baru pada jaman sekarang?

    Pembasuhan kaki memang bukan budaya orang Indonesia pada umumnya, apalagi pada jaman sekarang. Namun Thomas menurut saya berhasil mengangkat tradisi pembasuhan kaki sebagai tradisi yang universal, dimana semua orang di belahan dunia manapun juga dapat mela-kukan tradisi ini. Karena Yesus yang memerintahkan dan sekaligus memberikan contoh pembasuhan kaki ini untuk dilakukan oleh semua orang..

    Dari Tulisan Thomas saya semakin menyadari bahwa Yesus merupakan seniman liturgi terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia ini. Karena Yesus dapat menerapkan tradisi pembasuhan kaki yang biasanya untuk penyambu-tan tamu ke dalam perjamuan terakhir. Thomas dalam bukunya berusaha menyadarkan bahwa pembasuhan kaki merupakan unsur yang penting dalam rangkaian detik- detik penyaliban Yesus di kayu salib. Karena pembasuhan yang dilakukan Yesus sebagai contoh yang sangat jelas bagaimana nantinya para murid dapat melayani orang lain dengan kerendahan hati setelah ditinggal oleh sang Guru. Selain itu makna pembasuhan sebagai simbol

    penyucian dari dosa, memang diharapkan dapat dilakukan secara terus menerus di dalam sebuah komunitas.

    Komunitas GKI Kelapa Cengkir seharusnya juga perlu mengetahui makna pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus dan menjadikan ini sebagai tradisi dalam kehidupan kitaberjemaat. Karena pada jaman sekarang menjadikan gereja sebagai tempat bertumbuh dan menjalin kekeluar-gaan dengan orang lain bukanlah hal yang mudah. Dengan melakukan Tradisi pembasuhan dalam sebuah gereja secara terus menerus, saya rasa akan tercipta hubungan yang harmonis di dalam struktur maupun gereja secara keseluruhan.

    John Christoper Thomas dalam bukunya yang berjudul Footwashing Within the context of the Lords Sup-permembagi penjelasanya dengan tiga pertanyaan:

    Teologi seperti apakah yang dapat dijelaskan dalam ritual pembasuhan kaki?

    Dasarnya ada di Yohanes 13:14-17

    Bagi Injil Yohanes pembasuhan kaki lebih mengarah kepada perintah untuk saling melayani. Bahkan Yesus memerintahkannya dengan melakuakan sendiri pembasu-han kaki terhadap para muridnya. Ada alasan yang mem-buat para pembaca dapat melihat contoh(hupodeigma)ini sebagai unsur pendukung di dalam perintah pembasuhan kaki. hupodeigma dimaknai lebih oleh penulis, tidak sekedar contoh tapi merupakan contoh yang sangat spesifik, yang jelas!

    Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling mem-basuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

  • Selain itu tentang status guru dan murid atau antara Tuhan dan pengikutnya ini menjadi unsur yang penting juga. Karena apa yang dilakukan oleh seorang Guru akan dicontoh juga oleh seorang murid. Yesus tidak ingin hanya sekedar teori saja yang diketahui oleh murid-muridnya. Tapi juga tidakan nyatanya. Dengan demikian pembasuhan kaki ini diharapkan dapat berjalan terus menerus.

    Pembasuhan kaki merupakan simbol merendahkan diri. Saat kita melakukan pembasuhan kaki ini, maka yang terjadi adalah tidak ada perbedaan status lagi.

    Apakah makna dari pembasuhan kaki?

    Pembasuhan kaki merupakan keinginan Yesus. Pertama

    Maria membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu

    sebagai bentuk persiapan untuk pengkuburannya. Kedu

    tempat pembasuhan dan acara perpisahan menandakan

    bahwa Yesus mempersiapkan murid-muridnya

    menghadapi kepergiannya. Ketiga dalam Yohanes 13:1 dikatakan bahw a masa Tuhan telah t iba.

    Sesuatu yang tidak lazim di pembasuhan kaki pembashan

    justru dilakukan Yesus di tengah-tengah acara makan

    malam, bukan pada penyambutan tamu.Tradisi

    masyarakat pada jaman itu, pembasuhan kaki adalah

    bagian dari penyambutan tamu atau anggota keluarga

    yang datang memasuki rumah. Pembasuhan dilakukan

    karena perjalanan sebelum memasuki rumah dipenuhi

    dengan debu dan pasir. Maka pembasuhan kaki adalah

    bagian dari pelayanan tuan rumah terhadap tamunya.

    Pembasuhan kaki, berarti menjadi bagian dari orang yang

    membasuhnya. Dalam konteks makan malam dengan para

    murid, Yesus melakukan pembasuhan dalam rangka

    membagikan perasaannya yang akan disalib. Dengan

    melakukan pembasuhan, Yesus menunjukan bagaimana

    dirinya merendahkan diri di hadapan para murid,sekaligus

    menunjukan kerendahan dirinya di kayu salib. Jadi makna

    pembasuhan sendiri bagi Yesus merupakan hal yang s a n g a t p e n t i n g .

    Pembasuhan sebagai simbol pembersihan (Penyucian).

    Pembasuhan sebagai tanda persiapan kepergian Yesus.

    Maka pembasuhan menandakan penyucian spiritualitas

    para murid sebagai bentuk hubungan yang berkelanjutan

    dengan Yesus dan mengambil bagian dalam misinya di

    dunia ini. Hal ini menjadi sama dengan fungsi dari bapt

    san , dimana diri kita dibersihkan dari dosa.

    Apakah hubungan pembasuhan kaki dengan jamuan makan malam Tuhan? Saat jamuan makan malam adalah saat dimana orang berkumpul, sebuah komunitas berkumpul. Dan makna yang terdalam dalam pembasuhan kaki adalah, dimana Yesus yang duduk bersama adalah setara dengan para murid yang ikut makan dalam satu meja

    Dengan begitu semakin jelaslah makna pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus bagi kehidupan kita. Menjadikan Pembasuhan kaki sebagai sebuah tradisi dalam kehidupan bergereja saya rasa perlu dilakukan. Tidak perlu menunggu moment paskah setahun sekali. Tetapi dapat dilakukan di berbagai kesempatan. Pembasuhan kaki menjadi jembatan yang penting dalam kehidupan berje-maat. Karena di dalam tubuh Kristus tidak ada hirarki, yang ada adalah kesetaraan. Tugas dan tanggung jawab kita satu dengan yang lain sama pentingnya.tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Kiranya kita dapat semakin memaknai masa Raya Paskah pada tahun ini. Tuhan memberkati.

    Oleh: Winner Pananjaya

  • IBadah PASKAH Itu 2x!

    Di hari Minggu Paskah. 5 April 2015, ada tiga kali ibadah di GKI Kelapa Cengkir:

    Kristus yang Bangkit Tidak Membedakan Orang Pdt Simon FilantrophaGKI Ngagel

    Paskah Subuh (pk 05.00) Baptis, Sidi, Perjamuan Kudus

    Paskah Siang (pk 09.00) Perjamuan Kudus

    Kuasa Kebangkitan Kristus, Kuasa yang Mengubahkan Pdt Simon FilantrophaGKI Ngagel

    Paskah Sore (pk 18.00) Perjamuan Kudus

    Kenapa tema Paskah pagi dan sore berbeda? Pada momen Paskah Subuh kita akan napak tilas suasana pagi di kubur Kristus melalui drama (lanjutan drama Jumat Agung). Pada Paskah Sore kita akan menghayati kisah Dua Murid di Emaus melalui drama juga. Keduanya memiliki liturgi dan pesan yang berbeda, sehingga kami merekomendasikan jemaat untuk hadir pagi dan sore. Sampai bertemu! :)