Buku Spektrum Final

download Buku Spektrum Final

of 178

  • date post

    25-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    227
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Buku Spektrum Final

1SPEKTRUM OTONOMI DAERAH DALAM RUANG LINGKUP PENGELOLAANSUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUPI. PENDAHULUAN.Berbicara masalah pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia tidaklah terlepasdari masalah hak dan kewajiban pengelolaan itu sendiri. Disadari atau tidak,masalah lingkungan masih menjadi masalah minor dalam skala prioritasdibandingkan dengan masalah ekonomi dan politik. Walaupun demikian, masalahlingkungan masih memiliki bargaining power dibandingkan dengan masalahekonomi dan politik. Tuntutan dunia luar agar pemerintah lebih cepat tanggapdalam menyelesaikan masalah lingkungan yang terjadi merupakan tuntutantransformasi dari sekedar paradigma menjadi implementasi nyata.Karena masalah pengelolaan lingkungan hidup masih menjadi bagian dari masalahekonomi dan politik maka sudah sewajarnya apabila konsep pengelolaanlingkungan hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma danimplementasi Otonomi Daerah dan Desentralisasi Ekonomi. Bagaimana paradigmadan implementasi Otonomi Daerah dan Desentralisasi Ekonomi menyikapi masalahpengelolaan lingkungan hidup merupakan jembatan pembentukan kapasitas(capacity building) dan masalah pengelolaan lingkungan yang terus berlanjut(sustainable development). Dengan asumsi penggunaan beberapa dasar hukumyang telah dibangun berkaitan masalah lingkungan oleh pemerintah maka konseppengelolaan lingkungan hidup untuk tahun 2005 2010 dapat dijelaskan melaluidua hal penting yaitu konsep kewenangan pengelolaan lingkungan hidup dankonsep pelayanan publik.a. Konsep Kewenangan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Era OtonomiDaerah.Dengan dasar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan RUU tentangpemerintahan daerah Tahun 2004 maka dimulailah pemetaan masalah pengelolaanlingkungan hidup. Untuk lebih jelasnya maka perlu diketahui terlebih dahulukandungan isi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 agar tercipta peta pemikiranyang lebih komprehensif.2Beberapa hal yang sangat mendasar pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999adalah membagi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke dalam DaerahPropinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom. WilayahDaerah Propinsi terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 mil lautyang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairankepulauan. Dalam kaitan ini, kewenangan daerah Kabupaten dan Daerah Kota diwilayah laut adalah sejauh sepertiga dari batas laut daerah Propinsi. Di sampingitu, Undang-undang Pemerintah Daerah ini mengupayakan pemberdayaan danpeningkatan peran masyarakat secara aktif, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitasPemerintah kota/kabupaten, serta meningkatkan peran dan fungsi DewanPerwakilan Rakyat Daerah / DPRD. Oleh karena itu, otonomi daerah diletakkansecara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat yaitu daerahotonom yang mempunyai wewenang dan kebebasan untuk membentuk danmelaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakatnya.Propinsi Daerah Tingkat I dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsiyang di samping berkedudukan sebagai Daerah Otonom juga berkedudukan sebagaiDaerah Administrasi yaitu sebagai wilayah kerja Gubernur dalam melaksanakanfungsi kewenangan Pusat yang didelegasikan kepadanya. Di mana antara daerahotonom Propinsi dengan daerah otonom Kabupaten dan Kota tidak mempunyaihubungan hierarkis dalam arti bahwa Propinsi tidak membawahi Daerah Kabupatendan Kota, tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungankoordinasi, kerjasama, dan/atau kemitraan dengan daerah Kabupaten dan DaerahKota dalam kedudukan masing-masing sebagai daerah otonom. Sementara itu,dalam kedudukan sebagai wilayah administrasi, Gubernur selaku wakil Pemerintahmelakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupatendan Daerah Kota. Kedudukan Propinsi sebagai daerah otonom dan sekaligus sebagaidaerah administrasi dimaksudkan sebagai perekat hubungan antara pusat dandaerah dalam rangka memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Dengan demikian dalam penyelenggaraan otonomi daerah, Gubernur selakupenyelenggara eksekutif daerah bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi, dankedudukannya sebagai Kepala Daerah Administrasi bertanggung jawab kepadaPresiden. Sedangkan dalam penyelenggaraan otonomi di Daerah Kabupaten danDaerah Kota, Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota, dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui MenteriDalam Negeri.3Dalam peraturan perundangan tersebut kewenangan daerah mencakup kewenangandalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politikluar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, sertakewenangan bidang lain yang meliputi : kebijakan tentang perencanaan nasionaldan pengendalian pembangunan secara makro, dana perimbangan keuangan,sistem administrasi negara, dan lembaga perekonomian negara, pembinaan danpemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam sertateknologi tinggi yang strategis, konservasi, dan standarisasi nasional.Sedang kewenangan propinsi sebagai daerah otonom mencakup kewenangan dalambidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota, kewenangan yangtidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, sertakewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya seperti : Perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro; Pelatihan bidang tertentu, alokasi sumber daya manusia potensial danpenelitian yang mencakup wilayah propinsi; Pengelolaan pelabuhan regional; Pengendalian lingkungan hidup; Promosi dagang dan budaya/pariwisata; Penanganan penyakit menular hama tanaman, dan Perencanaan tata ruang propinsi.Adapun kewenangan Propinsi sebagai wilayah Administrasi mencakup kewenangandalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakilPemerintah. Pelaksanaan azas dekonsentrasi ini diletakkan pada Daerah Propinsidalam kedudukannya sebagai Daerah Administrasi untuk melaksanakankewenangan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada daerah otonom.Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan Daerah Kabupaten dan DaerahKota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian,perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup,pertanahan, koperasi dan tenaga kerja. Kewenangan ini dilaksanakan olehPemerintah kota/kabupaten Kabupaten dan Daerah Kota serta tidak dapat dialihkanke Daerah Propinsi. Hal tersebut dilaksanakan tanpa mengurangi arti dan4pentingnya prakarsa daerah dalam penyelenggaraan otonominya serta untukmenghindarkan kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat.Berbicara dalam konteks kewenangan Pengelolaan Lingkungan Hidup maka sesuaidengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7,8,9 dan 11) bahwakewenangan pengelolaan lingkungan hidup secara garis besar telah diatur sebagaiberikut : Daerah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan melaksanakan pengelolaanlingkungan hidup di daerahnya. Daerah Propinsi memiliki kewenangan melaksanakan pengelolaan lingkunganhidup yang sifatnya lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, dan hal lainyang belum mampu dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota,di samping bertanggung jawab dalam pengendalian lingkungan hidup. Pemerintah Pusat memiliki kewenangan dengan berperan sebagai pengawasdan pembina dalam penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup daerah.Pengaturan kewenangan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana tersebut diatas perlu didefinisikan dan diuraikan secara lebih jelas.Di samping butir 1., telah ditegaskan bahwa daerah berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memeliharakelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Kewenangan Daerah wilayah laut meliputi : Eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebataswilayah laut tersebut; Pengaturan kepentingan administratif; Pengaturan tata ruang; Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah; Bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara.Kewenangan Daerah dimaksud perlu diikuti dengan suatu uraian penjelasan yangmemadai untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup.Demikian halnya kewenangan bidang lain (di luar bidang politik luar negeri,pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter/fiskal dan agama) yang masihmelekat sebagai kewenangan Pemerintah Pusat, seperti : Kebijaksanaan tentang5perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan secara makro,Pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, danKonservasi; sangat perlu dikaitkan untuk kepentingan pengamanan kelestarianlingkungan hidup global, regional maupun lokal. Untuk itu diperlukan suatu konsepyang jelas tentang hal dimaksud.Dengan diberlakukannya undang-undang tentang Pemerintahan Daerah, makapada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada daerah Kabupaten danDaerah Kota. Dengan demikian wajah otonomi di masa yang akan datang cenderungmenggembungkan kewenangan di tingkat daerah, sehingga akan terbentuk formatdalam bentuk piramida, dengan kewenangan lebih besar pada Daerah Kabupaten/Kota, sehingga intervensi Pemerintah Pusat kepada Daerah Kabupaten/Kota akanberkurang.Sebagai konsekuensi dari diberlakukannya undang-undang dimaksud, makalembaga pembantu Gubernur, Pembantu Bupati, Pembantu Walikotamadya, danBadan Pertimbangan Daerah dihapus. Demikian pula instansi vertikal di daerahselain yang menangani bidang-bidang luar negeri, pertahanan keamanan,peradilan, moneter dan fiskal, serta agama menjadi perangkat Daerah. Semuainstansi vertikal yang menjadi perangkat daerah, kekayaannya dialihkan menjadimilik daerah. Ditegaskan bahwa selama belum ditetapkannya peraturanpelaksanaan undang-undang tersebut, seluruh instruksi, petunjuk atau pedomanyang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah kota/kabupatenjika tidak bertentangan dengan undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku.Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidaksesuai dengan undang-undang ini harus diadakan peny