BUKU PERADILAN SEMU MODEL 2 - repository.unas.ac.id

of 57 /57

Embed Size (px)

Transcript of BUKU PERADILAN SEMU MODEL 2 - repository.unas.ac.id

BUKU PERADILAN SEMU MODEL 2.pdfDI LINGKUNGAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NASIONAL
Dr. Mustakim, S.H., M.H.
ii
PANDUAN PRAKTIS PRAKTEK SIDANG DI PERADILAN SEMU DI LINGKUNGAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NASIONAL
Oleh : Dr. Mustakim, S.H., M.H.
ISBN/KDT : 978-623-7376-80-4
Cetakan Pertama : 15 Desember 2020
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbnyak buku ini sebagian atau seluruhnya dalam bentuk dan dengan cara apapun termasuk dengan cara mengunakan mesin fotocopy, tanpa seizin dari penerbit
Penerbit :
Syukur Alhamdulilah Penulis haturkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat yang diberikan, terutama nikmat kesehatan, sehingga keinginan Penulis untuk membuat buku berupa pedoman bagi Mahasiswa Hukum dalam mempraktekkan teori-teori hukum di Peradilan Semu di Lingkungan Fakultas Hukum Universitas Nasional dapat terselesaikan.
Buku ini didorong atas pengalaman Penulis, ketika mengampu Mata Kuliah Praktek Peradilan Perdata dan Praktek Peradilan Agama di Fakultas Hukum Universitas Nasional Jakarta, dimana mahasiswa mengalami kendala dalam mempraktekkan kasus- kasus di Peradilan Semu yang ada di Fakultas. Atas dasar itulah, Penulis berusaha untuk mewujudkan suatu panduan praktis bagi mahasiswa hukum dalam berpraktek di Peradilan Semu sebagai bagian pendidikan sebelum para mahasiswa hukum betul-betul melakukan praktek hukum yang sebenarnya.
Buku ini menguraikan materi-materi penjelasan terkait pelaksanaan praktek, meliputi Kompetensi Pengadilan, Jenis Perkara Perdata, Pihak-Pihak Dalam persidangan, tahapan- tahapan persidangan dan contoh-contoh dokumen-dokumen hukum dalam persidangan mulai dari Surat Kuasa, gugatan, jawaban, Replik, Duplik, Alat-Alat bukti, Kesimpulan dan Putusan Pengadilan.
Penulis berharap dengan adanya buku ini, memudahkan Para Dosen dan Mahasiswa Hukum dalam melaksanakan praktek peradilan di Peradilan Semu di Lingkungan Fakultas Hukum, khususnya Fakultas Hukum Universitas Nasional.
Ucapan terimakasih kepada Dekan Fakultas Hukum Universitas Nasional yang telah memberikan dukungan atas terbitnya buku panduan ini, segenap Para Dosen Hukum di Lingkungan
iv
Fakultas Hukum Universitas Nasional atas saran dan masukannya serta segenap mahasiswa yang memberikan motivasi.
Saran dan Kritik sangat Penulis harapkan bagi para pembaca demi kesempurnaan dan pencapaian proses belajar secara maksimal, seperti Pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak”. Akhirnya Penulis ucapkan kepada semua pihak yang turut membantu terbitnya buku ini dan semoga bermanfaat bagi Para Dosen dan mahasiswa hukum serta para pembaca semuanya.
Salam hangat, Dr. Mustakim, S.H., M.H.
v
A. Kekuasaan Kehakiman .................................................. B. Kewenangan Pengadilan ............................................. C. Susunan Badan-Badan Pengadilan .............................. D. Tempat Kedudukan Pengadilan ....................................
PERTEMUAN 2 PRINSIP PERSIDANGAN DI PENGADILAN ...................
A. Hakim bersifat pasif ........................................................ B. Mengutaman Perdamaian (Dading) ............................. C. Prosedur Berperkara Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan ………………………………………………………………………. D. Sidang Pengadilan Terbuka Untuk Umum ................. E. Tidak ada keharusan untuk diwakilkan .......................
PERTEMUAN 3 PERKARA PERDATA DI PENGADILAN .........................
A. Perkara Perdata ............................................................. B. Jenis Perkara Perdata ...................................................
PERTEMUAN 4 PIHAK-PIHAK DALAM PROSES PERSIDANGAN DI PENGADILAN ................................................................
A. Hakim ............................................................................ B. Panitera .......................................................................... C. Juru Sita......................................................................... D. Juru Sumpah ................................................................. E. Penggugat dan Tergugat ............................................... F. Pihak Ketiga .................................................................... G. Advokat ..........................................................................
12 12 13 13 14 15
16 16 16
vi
A. Tahap Pendahuluan .................................................... B. Tahap Penentuan ........................................................ C. Tahap Pelaksanaan .....................................................
DAFTAR PUSTAKA ...................................................... RIWAYAT HIDUP PENULIS ......................................... LAMPIRAN……………………………………………………………
24 25
A. Kekuasaan Kehakiman
Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI Tahun 1945) tegas menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum.
Kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri merupakan salah satu hasil Perubahan UUD 1945 khususnya Pasal 24 yang setelah diubah selengkapnya berbunyi: (1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. (2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. (3) Badan badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang1
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman memberikan penjelasan tentang lembaga peradilan yang telah diberikan kewenangan oleh undang-undang, yaitu kewenangan absolut yang merdeka terlepas dari campur tangan orang lain dan tidak ada tekanan dari pihak-pihak lain dengan tujuan untuk menegakan hukum dan menegakan keadilan.2
1 Mendesain Kewenangan Kekuasaan Kehakiman Setelah Perubahan Uud 1945 Achmad Edi SubiyantoJurnal Konstitusi, Volume 9, Nomor 4, Desember 2012 2 KEWENANGAN PENYELESAIAN SENGKETA MENGADILI ATAS OTENTISITAS AKTA YANG DIBUAT OLEH NOTARIS DI LUAR
2
Pasal 18 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157), bahwa: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Keempat lingkungan peradilan ini adalah peradilan dibawah Mahkamah Agung untuk melaksanakan kekuasaan kehakiman dibidang yudikatif, yang dibedakan dengan tugas masingmasing lingkungan peradilan.
Berdasarkan bunyi tersebut, maka ada beberapa macam pengadilan di Indonesia yaitu Pengadilan Umum, Pengadilan Militer, Pengadilan Agama, Pengadilan Administrasi/Tata Usaha Negara, Mahkamah Konstitusi
B. Kewenangan Peradilan
1. Pengadilan Umum. Sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Peradilan Umum disebutkan bahwa peradilan umum berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana dan perdata sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Pengadilan Militer adalah pengadilan yang hanya berwenang untuk mengadili perkara pidana yang terdakwanya berstatus anggota ABRI/Militer (Undang- Undang No. 5 tahun 1950) atau Peradilan militer
WILAYAH KERJA Oleh: Indriana Prima Puspita Sari, Istislam, Nurini ApriliandaADIL: Jurnal Hukum Vol. 8 No.1
3
berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana militer sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Pengadilan Agama adalah Pengadilan yang kewenanganya mengadili perkara perdata yang kedua pihaknya beragama islam dan menurut hukum yang dikuasai hukum islam yang meliputi warisan, wasiat, hibah yang dilakukan berdasarkan islam, wakaf serta shadagoh (Pasal 49 Undang-Undang No. 7 tahun 1989) Peradilan Agama diatur dalam Undang-Undang No. 7 tahun 1989 (LNRI 1989-49, TLNRI 3400). Pasal 49 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama menjelaskan bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, wakaf dan shadaqah. Selanjutnya Pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (“UU 3/2006”), yang menjadi kewenangan dari pengadilan agama adalah perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:
a. perkawinan;
b. waris;
c. wasiat;
d. hibah;
4. Pengadilan Administrasi/Tata Usaha Negara berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau menyelesaikan perkara yang tergugatnya pemerintah dan penggugatnya perorangan dimana pemerintah itu digugat dengan kesalahan menjalankan administrasi (Pasal 47 Undang- Undang No. 5 tahun 1986).
5. Mahkamah Konstitusi adalah Mahkamah Konstitusi adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pasal 1 angka 3 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan kehakiman) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk :
a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
5
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. memutus pembubaran partai politik;
d. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum; dan
e. kewenangan lain yang diberikan oleh undang-undang.
Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Untuk mengajukan gugatan pengadilan harus dilihat jenis dan macam pengadilan, agar gugatan bisa diterima oleh pengadilan, Dalam hukum acara perdata, dikenal dua macam, yaitu. 1. Wewenang mutlak atau absolut competentie adalah
menyangkut pembagian kekuasan antar badan-badan Peradilan, dilihat dari macamnya Pengadilan menyangkut pemberian kekuasaan untuk mengadili. Misalnya persoalan mengenai perceraian bagi mereka yang beragama Islam berdasarkan ketentuan Pasal 163 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 adalah wewenang Pengadilan Agama.
6
2. Wewenang relatif atau relative competentie Adalah mengatur pembagian kekuasaan mengadili antar Pengadilan yang serupa, tergantung dari tempat tinggal tergugat. Pasal 118 HIR menyangkut kekuasaan relatif. Asas yang yang menyangkut wewenang ini adalah ”Actor Sequitur Forum Rei” terhadap asas Actor Sequitur Forum Rei terdapat beberapa pengecualian, misalnya yang terdapat dalam Pasal 118 HIR itu sendiri :
a. Gugatan diajukan pada Pengadilan Negeri setempat kediaman tergugat, apabila tempat tinggal tergugat tidak diketahui.
b. Apabila tergugat terdiri dari dua orang atau lebih, gugatan diajukan pada tempat tinggal salah satu tergugat, terserah pilihan dari penggugat, jadi penggugat yang menentukan di mana ia akan mengajukan gugatannya.
c. Akan tetapi dalam ad. 2 tadi, apabila pihak tergugat ada dua orang, yaitu yang seorang misalnya adalah berhutang dan yang lain penjaminnya, maka gugatan harus diajukan kepada Pengadilan Negeri pihak yang berhutang. Sehubungan dengan hal ini perlu dikemukakan, bahwa secara analogis dengan ketentuan yang termuat dalam Pasal 118 ayat (2) bagian akhir ini, apabila tempat tinggal tergugat dan turut tergugat berbeda, gugatan harus diajukan di tempat tinggal tergugat.
7
d. Apabila tempat tinggal dan tempat tergugat tidak dikenal, gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri tempat tinggal penggugat atau salah satu dari penggugat.
e. Dalam ad. 4 apabila gugatan adalah mengenai barang tetap, dapat juga diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri di mana barang tetap itu terletak.
f. Apabila ada tempat tinggal yang dipilih dengan suatu akta gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri tempat tinggal yang dipilih oleh akte tersebut.
Pengecualian lain juga ditunjukan dalam BW, RV dan Undang-Undang tentang Perkawinan yaitu Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974-LN.1974 No. 1-TLN. Nomor 3019.
C. Susunan Badan-Badan Pengadilan
Menurut Pasal 10 ayat (2) dan Pasal 11 ayat (2) dari Undang- Undang No. 14 tahun 1970 jo. Undang-Undang No. 4 tahun 2004 adalah Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi dan mempunyai organisasi, administrasi, dan keuangan tersendiri. Oleh karena masing-masing lingkungan peradilan tersebut terdiri dari pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding yang semua berpuncak kepada Mahkamah Agung. Artinya dibidang memeriksa, dan mengadili perkara, maka susunan badan-badan peradilan di Indonesia adalah sebagai berikut:
8
1. Lingkungan Peradilan Umum adalah Pengadilan Negeri (PN), Pengadilan Tinggi (PT) dan Mahkamah Agung (MA).
2. Lingkup Peradilan Agama adalah Pengadilan Agama (PA), Pengadilan Tinggi Agama (PTA), dan Mahkamah Agung (MA).
3. Lingkungan Peradilan Militer adalah Mahkamah Militer (Mahmil), Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti), dan Mahkamah Militer Agung (Mahmilgung) yakni Mahkamah Agung.
4. Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Pengadilan Tinggi Tata Usaha (PT.TUN), dan Mahkamah Agung.
5. Mahkamah Konstitusi.
Pasal 1 angka 3 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan kehakiman menjelaskan Mahkamah Konstitusi adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Jadi herarki badan-badan peradilan adalah : 1. Peradilan tingkat pertama, berwenang mengadili pada
tingkat pertama.
2. Pengadilan tinggi atau pengadilan tingkat banding yang merupakan pengadilan yang berwenang dan bertugas mengadili perkara perdata dan pidana pada tingkat banding dan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antara pengadilan negeri
9
di daerah hukumnya (Pasal 51 Undang-Undang No. 2 tahun 1986) yang juga disebut pengadilan tingkat kedua dimana merupakan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh pihak yang kurang puas dengan pengadilan tingkat pertama.
3. Mahkamah Agung yang merupakan pengadilan tingkat akhir dan bukan pengadilan tingkat ketiga. Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi yang berwenang memeriksa dan memutus kasasi, sengketa tentang mengadili dan permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Pasal 28 Undang-Undang No. 14 tahun 1985 Jo. Undang-Undang No. 5 tahun 2004). Selain itu Mahkamah Agung juga berwenang melakukan pengujian terhadap peraturan perundang-Undangan dibawah undang-undang).
Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari badan peradilan yang berada di dalam keempat lingkungan peradilan yang mempunyai wewenang : a. mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang
diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, kecuali undang-undang menentukan lain;
b. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang; dan
10
D. Tempat Kedudukan Pengadilan
1. Pengadilan Negeri.
Kedudukan pengadilan pada prinsipnya berada di tiap kabupaten,(Pasal 4 Undang-Undang No. 2 tahun 1986), namun diluar pulau jawa masih terdapat banyak pengadilan negeri yang wilayah hukumya meliputi lebih dari satu kabupaten. Kedudukan Pengadilan Negeri ada sebuah kejaksaan negeri disamping tiap pengadilan tinggi ada kejaksaan tinggi. Khusus ibu kota jakarta ada lima instansi pengadilan negeri yakni di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara demikian pula dengan kejaksaan negerinya.
2. Pengadilan Tinggi (Pengadilan Tingkat Banding).
Pengadilan tinggi berada di Ibukota Propinsi dan wilayah hukumnya yang meliputi wilayah propinsi (Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang No. 2 tahun 1986).
3. Mahkamah Agung.
Pasal 1 angka 2 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman menjelaskan Mahkamah Agung adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mahkamah Agung meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia dan berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia. (Pasal 1,2 dan 3 Undang-undang No. 14 tahun 1985).
11
12
A.Hakim Bersifat Pasif
Menurut Lilik Mulyadi asas Hakim yang pasif dapat ditinjau dari 2 segi yaitu : 1. Ditinjau dari visi inisiatif datangnya pekara, tergantung
dari pihak-pihak yang merasa dirugikan artinya hakim baru dapat memeriksa dan mengadili suatu gugatan kalau diajukan oleh pihak-pihak yang dirugikan, jadi hakim bersifat menunggu. Namun apabila perkara diajukan hakim tidak boleh menolak dengan alasan tidak ada hukumnya atau kurang jelas (Pasal 14 ayat (1) Undang- Undang No. 14 tahun 1970 jo. Undang-Undang No. 4 tahun 2004).
2. Ditinjau dari luas pokok sengketa maksudnya ruang lingkup gugatan dan kelanjutan pokok perkara para pihaklah yang menentukan, sehingga hakim hanya bertitik tolak pada peristiwa yang diajukan oleh para pihak.
Selanjutnya dalam perkara perdata para pihak yang berperkara dapat secara bebas mengakhiri sendiri perkara mereka yang telah diajukan dan diperiksa di pengadilan dan hakim tidak bisa menghalanginya. Pengakhiran perkara perdata ini dapat dilakukan dengan pencabutan gugatan atau dengan perdamaian pihak-pihak yang berperkara ( Pasal 178 HIR / 189 RBg ).
13
B.Mengutamakan Perdamaian ( Dading ).
Pedoman mengenai pengutamaan perdamaian ini ditegaskan melalui Pasal 130 ayat (1) HIR / 154 ayat (1) R Bg, yang intinya adalah bahwa pada hari yang telah ditentukan untuk persidangan dan para pihak yang berperkara hadir maka hakim diwajibkan untuk mengusahakan perdamaian antara mereka.
Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 130 ayat (2) HIR / 154 ayat (2) RBg dan Pasal 1858 BW, maka terhadap putusan perdamaian yang dibuat oleh hakim karena adanya perdamaian antara pihak-pihak yang berperkara, memiliki kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, oleh karena itu maka cara pelaksanaan akta perdamaian itu sama dengan cara melaksanakan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan tetap. Apabila ada pihak yang kemudian enggan melaksanakan akta perdamaian itu secara sukarela, maka pelaksanaannya dapat dilakukan secara paksa oleh Pengadilan Negeri, kalaupun perlu dengan bantuan Polri dan Angkatan Bersenjata lainnya.
C. Prosedur Berperkara Sederhana, Cepat dan Biaya ringan.
Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang diubah menjadi Undang-undaang No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman telah secara jelas ditegaskan mengenai asas berperkara bahwa peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan.
Mengenai biaya perkara meliputi biaya kepaniteraan, pemangilan para pihak, pemberitahuan, materai dan
14
administrasi. Dan bagi yang kurang mampu dapat meminta kepada pengadilan untuk berperkara secara Cuma-Cuma dengan menyertakan surat keterangan tidak mampu dari Rt, Rw dan diketahui Lurah dan Camat.
Ketentuan ini dimaksudkan agar peradilan harus memenuhi harapan dari para pencari keadilan yang selalu menghendaki peradilan yang cepat, tepat, adil dan biaya ringan. Tidak diperlukan pemeriksaan dan acara yang berbelit-belit yang dapat menyebabkan proses sampai bertahun-tahun, bahkan kadang-kadang harus dilanjutkan oleh para ahli waris pencari keadilan. Biaya ringan dimaksudkan biaya yang serendah mungkin sehingga dapat dipikul oleh rakyat. Ini semua dipedomani dan dilaksanakan dengan tanpa mengorbankan ketelitian untuk mencari kebenaran dan keadilan.
D.Sidang Pengadilan Terbuka untuk Umum.
Pasal 17 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 yang diubah menjadi Undang-undaang No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa sidang pengadilan dalam pemeriksaan perkara perdata pada asasnya terbuka untuk umum. Ini berarti bahwa setiap orang boleh hadir, mendengar dan menyaksikan jalannya pemeriksaan perkara perdata itu di Pengadilan. Tujuan asas ini ialah untuk menjamin pelaksanaan peradilan yang tidak memihak, adil dan benar sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, yakni dengan meletakkan peradilan di bawah pengawasan umum.
Sedang menurut Lilik Mulyadi persepsi peradilan terbuka untuk umum adalah harus dinyatakan persidangan dibuka terlebih dahulu dengan menyatakan bahwa persidangan terbuka untuk umum.
15
Peraturan perundang-undangan tidak mengatur bahwa para pihak dalam suatu perkara harus mewakilkan kepada pihak lain. Orang yang langsung berkepentingan sendiri dapat aktif bertindak sebagai penggugat maupun tergugat. Mereka ini merupakan pihak materiil karena mempunyai kepentingan langsung dalam perkara yang bersangkutan, dengan demikian akan lebih menguntungkan karena mereka yang lebih tahu tentang duduk persoalannya. Namun apabila tidak bisa atau berhalangan hadir dapat diwakilkan oleh seseorang yang menurut undang-undang dapat atau mempunyai hak untuk mewakili seseorang di Pengadilan. Tentunya harus mendapat persetujuan dari orang yang berkepentingan dengan menunjukan surat kuasa sebagai tanda bukti.
16
PERTEMUAN 3 PERKARA PERDATA DI PENGADILAN
A. Perkara Perdata Perkara Perdata adalah persoalan yang menyangkut kepentingan subjek hukum lawan subjek hukum lainya yaitu antara individu hukum. Suatu perkara perdata apabila tidak dapat diselesaikan secara musyawarah pada umumnya penyelesaianya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri.
B. Jenis Perkara Perdata Mengenai kewenangan pengadilan dalam menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan suatu perkara selain istilah kompetensi dalam hukum acara perdata dikenal pula istilah yuridiksi yang meliputi 1. Yuridiksi contensiosa adalah wewenang pengadilan yang
sesungguhnya, cirinya adalah perkara yang ditangani pengadilan merupakan suatu sengketa, ada dua pihak yaitu penggugat dan tergugat, dimulai dengan surat gugat, diakhiri dengan putusan yang amar putusanya bersifat kondemnatoir, kontitutif, atau bahkan deklaratoir.
2. Yuridiksi voluntaria adalah merupakan wewenang pengadilan yang tidak sesungguhnya atau wewenang pengadilan yang bersifat ekstra judicial, cirinya adalah perkara yang ditangani pengadilan bukan sengketa, ada satu pihak yaitu pemohon, dimulai dengan surat permohonan, diakhiri dengan penetapan yang amar putusannya bersifat constitutif atau deklaratoir.
17
DI PENGADILAN
A. Hakim 1. Pengertian Hakim
Dalam kamus bahasa indonesia terbitan Balai Pustaka memberi tiga definisi hakim, yaitu (i) orang yang mengadili perkara (di pengadilan atau mahkamah); (2) pengadilan; atau (3) juri penilai. Secara normatif menurut Pasal 1 ayat (5) UU Komisi Yudisial No. 22 Tahun 2004 yang dimaksud dengan hakim adalah hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta Hakim Mahkamah Konstitusi sebagimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam bahasa Belanda disebut rechter, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai judge. “Judge”, menurut Bangalore Principle of Judicial Conduct (2002), adalah “any person exercising judicial power, however designed”.
Pada dasarnya pengertian hakim, apabila kata tersebut ditafsirkan secara generik maka dapat diartikan bahwa hakim adalah seluruh hakim disemua jenis dan tingkatan peradilan yaitu Hakim Agung, hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada dibawah Mahkamah Agung dan Hakim Konstitusi.
Di tiap pengadilan terdapat beberapa hakim diataranya menjabat sebagai Ketua Pengadilan dan Wakil Ketua Pengadilan. Dimana hakim tersebut bertugas memeriksa dan mengadili perkara di persidangan.
18
Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut
2. Tugas dan kewajiban Hakim Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai – nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.
Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat dan harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, jujur, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum serta wajib menaati Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya, sesuai dengan ketentuan Pasal 22 A.B (Algemene Bepalingen Van Wetgeving voor Indonesie) berbunyi : “Bilamana seorang hakim menolak menyelesaikan suatu perkara dengan alasan bahwa peraturan undang-undang yang bersangkutan tidak menyebutnya, tidak jelas, atau tidak lengkap, maka ia dapat dituntut karena menolak mengadili”.
Pasal 14 UU No. 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua UU No. 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum,
19
untuk dapat diangkat sebagai hakim pengadilan, seseorang harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. warga negara Indonesia; b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; c. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945; d. sarjana hukum; e. lulus pendidikan hakim; f. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan
tugas dan kewajiban; g. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; h. berusia paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun dan
paling tinggi 40 (empat puluh) tahun; dan i. tidak pernah datuhi pidana penjara karena
melakukan kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Untuk dapat diangkat menjadi ketua atau wakil ketua pengadilan negeri, hakim harus berpengalaman paling singkat 7 (tujuh) tahun sebagai hakim pengadilan negeri
B. Panitera Disamping itu ada Panitera yang bertugas memimpin bagian administrasi atau tata usaha dibantu oleh wakil panitera, beberapa panitera penganti dan karyawan-karyawan lainya.
Tugas dari panitera adalah : 1. Menyelenggarakan administrasi perkara serta mengikuti
sidang serta mengikuti semua sidang serta musyawarah- musyawarah pengadilan dengan mencatat secara teliti semua hal yang dibicarakan ( Pasal 59 Undang-Undang No. 2 tahun 1986, Pasal 63 RO).
20
2. Harus membuat berita acara sidang pemeriksaan dan menandatangani bersama-sama dengan ketua sidang (Pasal 186 HIR, Pasal 197 Rbg).
3. Karena ia tidak mungkin mengikuti semua sidang pemeriksaan perkara, maka di dalam praktik tugas tersebut dilakukan oleh panitera penganti.
Sebelum memangku jabatannya, Panitera, Wakil Panitera, Panitera Muda, dan Panitera Pengganti diambil sumpahnya menurut agama Islam oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan.
Bunyi sumpah adalah sebagai berikut:
"Demi Allah, saya bersumpah bahwa saya, untuk memperoleh jabatan saya ini, langsung atau tidak langsung dengan menggunakan nama atau cara apa pun juga, tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapa pun juga".
"Saya bersumpah bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapa pun juga suatu janji atau pemberian".
"Saya bersumpah bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar 1945, dan segala undang-undang serta peraturan lain yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia".
"Saya bersumpah bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur, seksama, dan dengan tidak
21
membeda-bedakan orang dan akan berlaku dalam melaksanakan kewajiban saya sebaik-baiknya dan seadil- adilnya seperti layaknya bagi seorang Panitera, Wakil Panitera, Panitera Muda, Panitera Pengganti yang berbudi baik dan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan
C. Juru Sita Juru sita dan Juru sita penganti (Pasal 38 Undang-Undang No. 2 tahun 1986) adapun tugas dari juru sita adalah Melaksanakan tugas dari ketua sidang dan menyampaikan pengumuman, teguran-teguran, pemberitahuan putusan pengadilan, panggilan resmi kepada tergugat dan penggugat dalam perkara perdata dan pada saksi, dan juga melakukan penyitaan atas perintah hakim.
Istilah jurusita merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, deurwaarder. bertugas membantu administrasi pengadilan. Karena itu, jurusita adalah bagian dari fungsi kepaniteraan pengadilan, dan dalam beberapa hal bertanggung jawab kepada dan berkoordinasi dengan Panitera. Perannya sangat penting untuk menjamin proses administrasi perkara berjalan. Memanggil para pihak yang bersengketa hanya salah satu tugas seorang jurusita. Undang-Undang menyaratkan agar pemanggilan dilakukan secara patut.
Untuk dapat diangkat menjadi juru sita, seorang calon harus memenuhi syarat warga negara Indonesia, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;, setia kepada Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, berazah pendidikan menengah, berpengalaman paling singkat 3 (tiga) tahun sebagai jurusita pengganti; dan mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban. Untuk dapat diangkat menjadi juru sita pengganti, seorang calon harus memenuhi syarat
22
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf f; dan berpengalaman paling singkat 3 (tiga) tahun sebagai pegawai negeri pada pengadilan negeri.
D. Juru Sumpah Juru saumpah merupakan petugas pengadilan yang diberi tugas hanya memegang Kitab Al’Quran bagi mereka yang beragama Islam di atas kepala daripada yang mengucapkan sumpah atau kitab lainya menyesuaikan agama saksi atau pihak yang dihadirkan dalam persidangan sebelum memberikan keterangan. Sedangkan yang memandu lafal sumpah adalah hakim yang menyidangkan perkara tersebut.
Berikut lafal sumpah : 1. Bagi saksi yang beragama Islam. “Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan menerangkan yang benar dan tidak lain dari daripada yang sebenarnya”.
2. Bagi Saksi yang beragama Non Muslim. “Saya bersumpah bahwa saya akan menerangkan yang benar dan tidak lain dari daripada yang sebenarnya, semoga tuhan menolong saya”.
3. Bagi saksi ahli “Saya bersumpah bahwa saya akan memberikan pendapat tentang soal-soal yang dikemukakan menurut pengetahuan saya sebaik- baiknya”.
4. Bagi yang agamanya melarang bersumpah “Saya berjanji bahwa saya akan menerangkan yang benar dan tidak lain dari daripada yang sebenarnya”.
23
E. Penggugat dan Tergugat Penggugat (erser, plaintid) dan Tergugat (gedaagde, defendant). Pihak ini dapatt secara langsung berperkara di pengadilan dan dapatt juga diwakilkan baik melalui kuasa khusus (pengacara) maupun kuasa insidentil (hubungan keluarga).
Penggugat ialah pihak yan g memulai membuat perkara dengaan mengajukan gugatan karena merasa hak perdata dirugikan. Sedangkan Tergugat ialah pihak yan g ditarik dimuka pengadilan karena dirasa oleh penggugat sebagai yan g merugikan hak perdatanya.
F. Pihak Ketiga (voeging, /tussenkomst, dan vrwaring) Keikutsertaan pihak ketiga dalam proses perkara yaitu voeging, intervensi/tussenkomst, dan vrijwaring tidak diatur dalam HIR atau RBg, tetapi dalam praktek ketiga lembaga hukum ini dapat dipergunakan dengan berpedoman pada Rv (Pasal 279 Rv dst dan Pasal 70 Rv), sesuai dengan prinsip bahwa hakim wajib mengisi kekosongan, baik dalam hukum materiil maupun hukum formil.
Voeging adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk bergabung kepada penggugat atau tergugat
Intervensi (tussenkomst) adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk ikut dalam proses perkara itu atas alasan ada kepentingannya yang terganggu. Intervensi diajukan oleh karena pihak ketiga merasa bahwa barang miliknya disengketakan/diperebutkan oleh penggugat dan tergugat.
Vrwaring adalah penarikan pihak ketiga untuk bertanggung jawab (untuk membebaskan tergugat dari tanggung jawab kepada penggugat).
24
G. Advokat Undang-Undang No. 18 tahun 2003 tentang advokat, Pasal 1 ayat (1) mengatakan bahwa istilah advokat adalah orang yang berprofesi memberikan jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan undang-undang ini.
Pasal 2 Jo Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang No 18 tahun 2003 mengatur bahwa yang dapat diangkat sebagai Advokat adalah warga negara Republik Indonesia, bertempat tinggal di Indonesia, tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara, berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun, berasah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum, lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat, magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus- menerus pada kantor Advokat, pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, berprilaku baik, jujur, bertanggungjawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi.
H. Saksi Saksi merupakan salah satu jenis alat bukti dalam perkara perdata yaitu seseorang yang dihadirkan dalam proses persidangan untuk memberikan keterangan. Untuk bisa memberikan keterangan haruslah seseorang yang memenuhi persyaratan baik materiil maupun formil. Setidaknya keterangan yang diberikan haruslah keterangan yang di yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan alami sendiri.”
Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang
25
yang bukan salah satu pihak dalam perkara yang di panggil di persidangan.
Pengertian saksi dalam Undang - Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban ini menggunakan konsep tentang pengertian saksi seperti yang diatur oleh KUHAP dimulai. Pasal 1 butir 26 dan 27 KUHAP diatur mengenai pengertian Saksi serta Keterangan Saksi. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan alami sendiri. Dan Keterangan Saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri dan alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.”
I. Ahli Tidak ada ketentuan yang menjelaskan mengenai pengertian ahli. Dalam kamus bahasa indonesia ahli1/ah·li/ n orang yang mahir, paham sekali dalam suatu ilmu (kepandaian).
26
Menurut Sudikno Mertokusumo, hukum acara perdata terdiri dari tiga tahap kegiatan:
A. Tahap Pendahuluan.
Tahap pendahuluan merupakan tahap persiapan menuju tahap penentuan dan pelaksanaan. Dalam tahap ini ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan, antara lain membuat surat gugatan, mendaftar gugatan di panitera, membayar biaya perkara.
Pada asasnya setiap orang boleh berperkara di depan pengadilan atau dengan kata lain dapat mengajukan gugatan, kecuali orang-orang yang dinyatakan tidak cakap. Sebagai subjek hukum maka badan hukum yang bersifat publik maupun yang bersifat privat dapat juga beracara di pengadilan yakni melalui pengurusnya atau wakilnya. (Pasal 1655 BW, Pasal 8 No.2 RV)
Dalam hukum acara dikenal adanya pihak materiil dan pihak formil. Pihak materiil adalah pihak yang berkepentingan penggugat dan tergugat dan pihak formal adalah mereka yang menghadap dalam sidang, dapat merupakan pihak materiil itu sendiri atau orang yang diberi kuasa maupun wali atau kuratornya.
Gugatan dapat diajukan dengan lisan dan tulisan ke pengadilan negeri yang berwenang. Pada asasnya para pihak
27
harus menghadap sendiri tetapi mereka dapat diwakilinya oleh seorang kuasa (Pasal 118ayat (1) jo. Pasal 123 HIR). Kuasa ini dapat diberikan secara lisan dengan syarat yang bersangkutan hadir secara pribadi di persidangan (Pasal 123 ayat (1)HIR, Pasal 147 ayat (1) Rbg atau Para pihak dapat memberikan kuasa kepada wakilnya secara tertulis dengan surat kuasa khusus karena dengan surat kuasa umum tidaklah mencukupi sebab harus dicantumkan pihak yang bersengketa dan pokok permasalahan. Surat kuasa ini dapat dibuat secara autentik atau di bawah tangan. Surat kuasa khusus tidak diperlukan bagi pegawai negeri yang bertindak sebagai wakil pemerintah (Pasal 123 ayat (2) HIR, Pasal 147 ayat (2) Rbg)
Setelah ditandatangani oleh wakilnya penggugat mendaftar surat gugatanya yang harus memenuhi bea meterai (Pasal 121 ayat 4 HIR, Pasal 145 ayat 4 Rbg) disertai dengan salinan kepada kepaniteraan pengadilan yang bersangkutan, Pada waktu memasukkan gugatan, penggugat harus pula membayar biaya perkara yang meliputi : biaya kepaniteraan, beaya panggilan dan pemberitahuan para pihak. Jadi beracara perdata tidaklah tanpa biaya, tetapi terhadap asas ini ada pengecualianya bagi mereka yang tidak mampu yaitu dengan Cuma-Cuma dengan mangajukan permohonan in kepada Ketua Pengadilan Negeri yang harus disertai surat keterangan tidak mampu dari camat .
Agar gugatan dapat disidangkan, maka gugatan harus diajukan kepada Pengadilan yang berwenang. Dalam mengajukan gugatan, pihak Penggugat harus mendaftarkannya dan gugatan itu baru dapat didaftar apabila biaya perkara sudah dilunasi. Setelah terdaftar, gugatan diberi nomor perkara dan kemudian diajukan kepada Ketua Pengadilan.
28
Setelah Ketua Pengadilan menerima gugatan maka ia menunjuk hakim yang ditugaskan untuk menangani perkara tersebut. Pada prinsipnya pemeriksaan dalam persidangan dilakukan oleh majelis hakim. Untuk ini Ketua Pengadilan menunjuk seorang hakim sebagai Ketua Majelis dan dua hakim anggota. Hakim yang bersangkutan dengan surat penetapan menentukan hari sidang dan memanggil para pihak agar menghadap para sidang Pengadilan Negeri pada hari sidang yang telah ditetapkan dengan membawa saksi- saksi serta bukti-bukti yang diperlukan (Pasal 121 Ayat (1) HIR, Pasal 145 ayat (1) Rbg). Pemanggilan dilakukan oleh jurusita, surat panggilan tersebut dinamakan exploit. Exploit itu berserta salinan surat gugat diserahkan kepada Tergugat pribadi di tempat tinggalnya. Apabila Tergugat tidak diketemukan, surat panggilan tersebut kepada Kepala Desa yang bersangkutan untuk diteruskan kepada Tergugat (Pasal 390 Ayat (1) HIR , Pasal 789 ayat (1) Rbg). Kalau Tergugat sudah meninggal maka surat panggilan disampaikan ahliwarisnya dan apabila ahliwarisnya tidak diketahui maka disampaikan kepada Kepala Desa ditempat tinggal terakhir.
Apabila tempat tinggal tidak diketahui maka surat panggilan diserahkan kepada Bupati dan untuk selanjutnya surat panggilan tersebut ditempelkan pada papan pengumuman di Pengadilan Negeri yang bersangkutan.
Pasal 126 HIR, Rbg Pasal 150 memberi kemungkinan untuk memanggil sekali lagi tergugat sebelum perkaranya diputus hakim. Setelah melakukan panggilan, jurusita harus menyerahkan relaas (risalah) panggilan kepada hakim yang akan memeriksa perkara yang bersangkutan. Relaas itu merupakan bukti bahwa Tergugat telah dipanggil. Kemudian pada hari yang telah ditentukan sidang pemeriksaan perkara dimulai, untuk ini dapat diikuti Bab tentang jalannya persidangan.
29
Hakim ketua akan membuka sidang dan menyatakan “sidang dibuka dan terbuka untuk umum” dengan mengetuk palu. Hakim memulai dengan mengajukan pertanyaan–pertanyaan kepada Penggugat dan Tergugat meiputi : Identitas Penggugat. dentitas Tergugat dan/atau kuasa hukumnya jika dalam persidangan diwakili oleh kuasa hukum/Advokat.
Hakim menghimbau agar dilakukan perdamaian, dalam hal ini meskipun para pihak menjawab bahwa tidak mungkin damai Karena usaha penyelesaian perdamaian sudah dilakukan berkali–kali, hakim meminta agar dicoba lagi. Jadi pada sidang pertama ini sifatnya merupakan cecking identitas para pihak dan apakah para pihak sudah mengerti mengapa mereka dipanggil untuk menghadiri.Sidang.
Sebagai bukti identitasnya, para pihak menunjukkan KTP masing– masing atau Kartu Tanda Pengenal sebagai Advokat dan Surat Sumpah Profesi. Apabila tidak ditemukan kekurangan atau cacat maka sidang dilanjutkan ke tahapan mediasi sebagai tahapan wajib yang disyaratkan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2016.
Selanjutnya proses mediasi akan dipimpin oleh seorang Mediator dengan mengacu pada Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2016 dan hasil dari proses mediasi tersebut harus dilaporkan kepada Majelis Hakim yang memeriksa perkara tersebut.
30
2. Sidang Kedua (Jawaban Tergugat)
Pada sidang ini, Para Pihak menyampaikan dan mempertegas kepada Majelis Hakim mengenai hasil dari proses mediasi yang sebelumnya telah dilaporkan secara resmi oleh mediator. Ada dua kemungkinan, jika mediasi berhasil maka akan dibuatkan dading oleh Pengadilan, akan tetapi jika gagal, maka proses akan dilanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu pembacaan gugatan dan/atau perubahan gugatan jika ada hal-hal yang perlu dirubah dengan mengacu kepada ketentuan.
Jika pihak Tergugat sudah siap dengan jawaban atas gugatan, maka dalam sidang kedua adalah jawaban dari Tergugat terhadap gugatan yang diajukan Penggugat. Jawaban yang diajukan dapat berisi eksepsi terhadap gugatan dan jawaban terhadap pokok perkara gugatan serta Rekonpensi.
3. Sidang Ketiga (Replik)
Replik adalah suatu dokumen bantahan/tanggapan oleh Penggugat atas adanya jawaban oleh pihak Tergugat/kuasa hukumnya.Pada sidang ini penggugat atau kuasa hukumnya menyerahkan replik, satu untuk hakim, satu untuk tergugat dan satunya untuk penggugat sendiri.
4. Sidang Keempat (Duplik)
5. Sidang Kelima (Pembuktian dari Penggugat)
31
Sidang kelima dapat disebut sidang pembuktian oleh penggugat, di sini penggugat mengajukan bukti-bukti yang memperkuat dalil-dalil penggugat sendiri dan yang melemahkan dalil-dalil tergugat. Alat pembuktian melalui surat (fotocopy) harus di nazagelen terlebih dahulu dan pada waktu sidang dicocokkan dengan aslinya oleh hakim maupun pihak tergugat. Hakim mempuyai kewenangan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dilanjutkan oleh tergugat sedangkan pihak penggugat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Terhadap saksi-saksi hakim mempersilahkan penggugat mengajukan pertanyaan terlebih dahulu, kemudian hakim sendiri juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam rangka memperoleh keyakinan. perdebatan- perdebatan di bawah pimpinan hakim. Apabila pembuktian ini belum selesai maka akan dilanjutkan pada sidang berikutnya. Sidang pembuktian ini dapat cukup sehari, tetapi biasanya bisa dua tiga kali atau lebih tergantung kepada kelancaran pembuktian, perlu dicatat disini bahwa sebelum ditanyakan serta memberikan keterangan saksi harus disumpah lebih dahulu dan tidak boleh masuk dalam ruang sidang belum dipanggil.
6. Sidang Keenam (Pembuktian dari Tergugat)
Kalau sidang kelima merupakan sidang pembuktian penggugat, maka sidang keenam ini adalah sidang pembuktian dari pihak tergugat. Jalannya sidang sama dengan sidang kelima dengan catatan bahwa yang mengajukan bukti-bukti dan saksi-saksi adalah tergugat, sedang tanya jawabnya kebalikan daripada sidang kelima.
7. Sidang Ketujuh
32
Sidang ketujuh adalah sidang penyerahan kesimpulan, disni kedua belah pihak membuat kesimpulan dari hasil- hasil sidang tersebut. Isi pokok kesimpulan sudah barang tentu yang menguntungkan para pihak sendiri.
8. Sidang Kedelapan
Sidang kedelapan dinamakan sidang putusan hakim, dalam sidang kedelapan ini hakim membaca putusan yang seharusnya dihadiri oleh para pihak. Setelah selesai membaca putusan maka hakim menetukkan hakim palu tiga kali dan para pihak diberi kesempatan untuk mengajukan banding apabila tidak puas dengan putusan hakim. Pertanyaan banding ini harus dilakukan dalam jangka waktu 14 hari terhitung ketika putusan dijatuhkan.
C. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan adalah tahap dilakukanya tindakan pelaksanaan putusan dan eksekusi yang telah datuhkan oleh hakim. Putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan atau eksekusi adalah putusan yang sudah mempunyai inkracht yaitu putusan yang tidak mungkin dilawan dengan upaya hukum yang ada (verzet, banding dan kasasi). Putusan dimana pihak tergugat lebih dari satu dan ada salah satu tergugat yang tidak menyatakan upaya hukum, maka pelaksanaanya putusan harus menunggu putusan itu inkracht (Mahkamah Agung Tgl 3-12-1974 No. 1043 K/Sip/1971).
33
Hasibuan, Fauzie Yusuf . Strategi Penegakan Hukum. Jakarta : Fauzie & Patners, 2002
____________, Hukum Acara Perdata, disampaikan pada Pendidikan Khusus Profesi Advokat angkatan XII (Jakarta tanggal 01 Juni 2005) yang diadakan oleh PERADI bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Hukum dan Bisnis Jakarta Studi Centre.
____________, Bahan Ajar Hukum Acara Perdata Tata Cara dan Proses Persidangan, disampaikan pada Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dilaksanakan oleh Organisasi Profesi Advokat PERADI, tahun 2005. Beliau adalah Ketua Komisi Pendidikan Profesi Advokat Indonesia (KP2AI).
LBH Jakarta, Sari Kalabahu LBJ JKT hukum Pedata, LBH Jakarta, 2001.
Manan, Abdul. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Edisi Revisi, Cet. III, Jakarta : Prenada Media, 2005.
Mertokusumo, Sudikno. Hukum Acara Perdata di Indoneisa. Yogyakarta : Liberty, 1979.
Muhammad, Abdul Kadir Hukum Acara Perdata. Bandung: Cv. Citra Aditya Bakti, 1990.
Protjodikoro, R. Wirjono . Hukum Acara Perdata di Indonesia. Sumur Bandung, 1982.
34
HIR (Penerbit :FH-Undip Semarang, 1995), hal 120- 121.
Teguh Samudera, “Strategi dan Taktik Bercara “Makalah di sampaikan paa Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU), Jakarta 6 April 2005.
Sutantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkarta Winata, Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Bandung : Mandar Maju, 1997.
Yudha Pandu, Klien dan Penasehat hukum dalam Perspektif Masa Kini. Jakarta : PT. Abadi Jaya. 2001
Hukum Online, Bahasa Hukum: Hakim itu Adalah Hakim, Jumat, 30 Oktober 2009.
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman
Undang-Undang No. 49 Tahun 2009 Tentang Peradilan Umum
Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama
Undang-Undang No. 49 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 2016 tentang Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan
Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 2002 tentang Prosedur Gugatan Perwakilan/ Class Action
35
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Dr. MUSTAKIM, S.H., M.H. lahir di Banyuwangi 08 Oktober 1979, Jawa Timur, anak ke dua dari pasangan Bapak RAMELI dan Ibu JULAEHAK, Menempuh Pendidikan Dasar di SD Negeri 1 di Sumbersari-Srono, Pendidikan tingkat pertama di SMP Negeri 2 Srono-Banyuwangi dan Pendidikan Menengah Atas di SMA Negeri 2 Genteng- Banyuwangi.
Setelah tamat SMA kemudian merantau ke Jakarta untuk bekerja sambil kuliah. Di tahun 2000 masuk kuliah Fakultas Hukum Universitas Nasional (UNAS JAKARTA) bidang kekhususan Praktisi Hukum dan lulus tahun 2004.
Setelah lulus dari Fakultas Hukum sempat bekerja di Kantor Notaris & PPAT di Jakarta. Sempat bergabung dengan Perkumpulan Pengacara Publik Berpektif Lingkungan Hidup (PIELs), sebuah organisasi yang mempunyai visi dan misi menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan pada Kelompok Kerja Pengelolaan Sumber Daya Alam (POKJA-PSDA) yaitu sebuah organisasi yang melakukan pemantauan dan mendorong pembahasan RUU PSDA sebagai payung dari semua aturan dibidang lingkungan hidup.
Pada awal tahun 2006, Penulis bekerja di Kantor Hukum FAUZIE & PARTNERS, dipimpin Advokat Senior yang terpelajar Prof. Dr. H. FAUZIE YUSUF HASIBUAN, S.H.,M.H, (Ketua Umum PERADI Periode 2015-2020), yang saat ini menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Pada tahun 2007 mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat yang dilaksanaksan oleh Universitas Islam Jakarta (UIJ) dan Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) bekerja sama dengan Perhimpunan
36
Advokat Indonesia (PERADI) sebagai pemegang otoritas penyelenggaraan Pendidikan Khsusu Profesi Advokat. Pada tahun yang sama mengikuti Ujian Advokat yang dilaksanakan oleh Panitia Ujian PERADI (PUPA-PERADI) dan dinyatakan LULUS. Kemudian di tahun 2008 dilantik menjadi Advokat PERADI. Pada tahun 2007, melanjutkan kuliah pada Program Pasca Sarjana (S2) jurusan Hukum Bisnis pada Universitas Nasional Jakarta, lulus tahun 2009.
Pada bulan September tahun 2015 menempuh Program Doktor Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Brawaya dan dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor pada Maret 2019. Tahun 2020 mengikuti Pelatihan Mediasi Bersertifikat Mahkamah Agung dan dinyatakan lulus menjadi Mediotor Bersertifikasi.
Selain sebagai Advokat, saat ini menjabat Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Nasional. Di luar aktifitas tersebut, aktif dalam organisasi profesi diantaranya Asosiasi Hukum Acara Perdata (ADHAPER), Pengurus Asosiassi Laboratrium dan Klinik Hukum Indonesia (ALHI), Pengurus Dewan Pimpinan Nasional menjadi Sekretaris Bidang Eksekusi Pelaksanaan Putusan Dewan Kehormatan Kode Etik Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN PERADI Periode 2015-2020), Ketua Bidang Hukum dan Perundang-Undangan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO).
Kegiatan sebelumnya Pengurus DPC PERADI JAKBAR Periode 2012-2015, Anggota Solidaritas Advokat Publik Untuk Pengendalian Tembakau di Indonesia (SAPTA-INDONESIA) dan Anggota Dewan Transportasi Jakarta (DTKJ) Periode 2012-2013 dan Periode 2014-2017 merupakan lembaga independen yang tugasnya memberikan rekomendasi kepada Gubernur DKI Jakarta terkait kebijakan di bidang Transportasi di DKI Jakarta
Aktif menulis buku dan artikel ilmiah. Buku yang sudah ditulis diantaranya Mekanisme Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Menurut Undang-Undang No. 2 tahun 2004 (Bipartit, Tripartit dan PPHI), Mediasi sebagai Alternatif
37
Penyelesaian Sengketa bidang Ketenagakerjaan di Indonesia, Buku Panduan Pelaksanaan Magang calon Advokat Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), Buku Pedoman Praktis Praktek Sidang di Peradilan Semu di Lingkungan Fakultas Hukum Universitas Nasional dan Hukum dan Kebakan Transportasi Provinsi DKI Jakarta dan juga artikel- artikel yang sudah dipublikasi diantaranya Reformulation of Regulations on Restictions on Individual Vehicles in Realizing Order and Justice Crossed in Indonesia, Reformulasi Pengaturan Larangan Pengusaha Membayar Upah Lebih Rendah Upah Minimum, Rencana Penerapan Electronic Road Pricing (ERP) di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Aspek Hukum dan Permasalahannya), Management of Tobacco As A Contitutional Rights Warranty for Health in Indonesia’s Tourism Denpasar 2018 dan Urgensi Kempimpinan Berintegritas Publik Dalam Negara Hukum di Tengah Pandemi Covid-19, Pengendalian Lalu Lintas Jalan Berbayar Elektronik (Studi Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 149 Tahun 2016), Pandemi Covid-19 Sebagai Alasan Force Majeure Dalam Melakukan Pemutusan Hubungan Kerja di Indonesia dan Reformulasi Aturan Larangan Pengusaha Membayar Upah Lebih Rendah dari Upah Minimum.
38
LAMPIRAN
september 1960, Agama Islam , Alamat di Jalan Melati
No. 10 Rt. 010 Rw. 002, Kelurahan Pejaten Barat,
Kecamatan Pasar Minggu, Kotamadya Jakarta Selatan,
dan selanjutnya disebu sebagai --------PEMBERI KUASA
Dalam hal ini memilih tempat domisili atau kediaman
hukum di Kantor kuasanya Fauzie & Partners,
Advocate, tersebut di bawah ini, menerangkan dengan
ini Pemberi Kuasa memberikan kuasa khusus kepada :
Dr. H. FAUZIE YUSUF HASIBUAN, S.H. M.H.
MUSTAKIM, S.H., M.H.
ERIK PRABUALDI, S.H
39
Yang beralamat kantor di Jalan S. Parman No. 19 Lantai 2,
Slipi Jakarta–Indonesia 11480, Telephone (62-21) 5357019,
Faximile (62-21) 5357019, E-mail : [email protected]
Baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk mewakili
dan bertindak untuk dan atas nama PEMBERI KUASA
mengurus hak-hak serta kepentingan hukumnya dan
selanjutnya disebut sebagai---PENERIMA KUASA
Perkawinan dan Harta Bersama sebagai akibat dari
Putusnya hubungan perkawinan antara PEMBERI KUASA
dengan Sarjono sebagaimana dimaksud dalam Putusan
Pengadilan Agama Jakarta Selatan No.
09/Pdt.G/2009/PAJS, tanggal 5 Februari 2009. ------------------
untuk itu :------------------------------------------------------------------------
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah
Syariah, Pengadilan Tinggi Agama, Mahkamah Agung
RI, Badan Peradilan lainnya, serta Institusi Penegak
40
ditentukan oleh Undang-Undang, Pejabat-Pejabat
memori kasasi dan/atau mengajukan kontra memori
kasasi serta menurus surat-surat dan permohonan-
permohonan lainnya yang dianggap perlu,
menjalankan perbuatan-perbuatan atau memberikan
dijalankan atau diberikan oleh seorang kuasa ;-------------
• Mengajukan saksi-saksi dan bukti-bukti, menerima
uang dan menandatangani kwitansi-kwitansi, menerima
dan melakukan pembayaran-pembayaran dalam perkara
ini, mempertahankan dan membela kepentingan yang
memberi kuasa, meminta putusan dan menolak serta
mengajukan upaya hukum terhadap putusan, meminta
eksekusi, membalas surat-surat dan melakukan
perlawanan ; ---------------------------------------------
upaya-upaya lain yang dianggap penting, berguna dan
baik oleh yang menerima kuasa untuk menyelesaikan
41
hukum walaupun tidak dengan tegas disebutkan
dalam surat kuasa ini; -----------------------------------------------
subtitutie) dan secara tegas dengan hak retensi ;
Jakarta, 21 April 2009
PENERIMA KUASA PEMBERI KUASA
2. Contoh Gugatan Perdata
di
Hal : Gugatan Perceraian
INDRAWAN,S.H.,M.H.,MUSTAKIM,S.H.,M.H., BAMBANG
INDRAWAN & REKAN, beralamat di Ruko Multi Guna 3H
Jl. Rajawali Selatan Raya Blok C5 No.2, Kemayoran Jakarta
Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Nomor : 045
/SK/I&R/V/2010, tertanggal 21 Juni 2010 (Vide : Foto copy
Surat Kuasa terlampir), oleh karenanya bertindak untuk
dan atas nama:
Ibu rumah tangga, Kewarganegaraan Indonesia, bertempat
tinggal di Jalan Lurus 3 No. 85 Cilandak Barat Jakarta
Selatan, Pemegang Kartu Tanda Penduduk No.
09.5201.440576.0383, dalam hal ini memilih tempat
kediaman hukum (domisili) di kantor kuasanya tersebut
diatas, dengan ini menandatangani dan memajukan surat
gugatan, dan selanjutnya disebut PENGGUGAT.
Dengan ini mengajukan gugatan terhadap:
DARWUNU WARU, Umur 49 tahun, Agama Islam,
Pekerjaan Wiraswasta, Kewarganegaraan Indonesia,
bertempat tinggal di Jalan Lurus 3 No. 85 Cilandak Barat
Jakarta Selatan , dan Selanjutnya disebut sebagai
TERGUGAT.
sebagai berikut :
Penggugat dengan Tergugat telah dilangsungkan
pernikahan yang dicatat oleh Kantor Urusan Agama
44
tanggal 28 Desember 2001 (Vide Bukti P-1);
2. Bahwa, setelah pernikahan tersebut Penggugat dengan
Tergugat bertempat tinggal bertempat tinggal di Jalan
Lurus 3 No. 85 Cilandak Barat Jakarta Selatan, sesuai
dengan Kartu Keluarga Nomor 3102.000603 (Vide
Bukti P-2);
Tergugat telah di karuniai 2 (dua) orang anak yang
masing-masing bernama :
P-4);
Penggugat dengan Tergugat berjalan rukun dan damai,
akan tetapi kehidupan rukun dan damai tersebut
tidaklah berlangsung lama, memasuki tahun kedua
pernikahan ketentraman rumah tangga Penggugat
dengan Tergugat mulai goyah, setelah :
45
perselisihan yang tidak ada kunjung penyelesaiannya
dan Tergugat seringkali berlaku kasar dan memukul
serta mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas
kepada Penggugat dan tidak jarang pula perlakuan
tersebut dilakukan di hadapan anak-anak (Vide Bukti
P-5);
memikirkan biaya kehidupan dan tanggung jawab
selaku kepala keluarga, segala biaya dan kebutuhan
rumah tangga dan anak-anak dipikul penuh oleh
Penggugat.
Tergugat lebih sering berkumpul dengan teman-
temannya daripada bersama-sama dengan anak dan
istri;
yang kasar kepada Penggugat dimana ucapannya
sangat menyakitkan hati Penggugat;
menyimpang dari ajaran serta tuntunan agama
46
secara mental (Vide Bukti P-6)
f. Bahwa, Penggugat telah berkali-kali berupaya
mengatasi masalah tersebut dengan membicarakannya
kepada Ibu Tergugat namun tidak mendapatkan
respon/tanggapan positip dari Ibu Tergugat maupun
Tergugat ;
tidak menerima atas perlakuan Tergugat terhadap
Penggugat serta Penggugat merasa tidak sanggup lagi
untuk melanjutkan rumah tangga dengan Tergugat oleh
karenanya Penggugat berkesimpulan satu-satunya jalan
keluar yang terbaik bagi Penggugat adalah bercerai
dengan Tergugat, karena sudah tidak sesuai lagi
dengan tujuan perkawinan dan menurut Pasal 1 UU 1
Tahun 1974, Tentang Perkawinan serta Kompilasi
Hukum Islam.
dan membutuhkan kasih sayang dari Penggugat sebagai
ibu kandungnya, oleh karenanya mohon Penggugat
ditunjuk sebagai pengasuh dan pemelihara atas anak
tersebut sesuai dengan ketentuan Yurisprodensi MARI
No.239/K/Sip/1968 jo Yurisprodensi MARI
pemelihara dan pengasuh terhadap anak tersebut,
maka sudah barang tentu memerlukan biaya
pemeliharaan terhadap anak-anak tersebut diatas, maka
Penggugat menuntut kepada Tergugat biaya
pemeliharaan anak sebesar Rp. 5.000.000,- (Lima Juta
Rupiah) per bulan diluar biaya kesehatan dan
pendidikan ;
agar Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat cq Majelis
Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara aquo,
selanjutnya menjatuhkan putusan (dalam pokok perkara)
yang amarnya berbunyi :
Nomor : 5542, tanggal 28 Desember 2001, yang
dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama, putus karena
perceraian ;
bernama Sanitasi, lahir tanggal 19/9/2002 dan Wina
Kolerasi, lahir tanggal 08/09/2003, di bawah
pengasuhan dan pemeliharaan Penggugat;-
pendidikan;
putusan yang seadil-adilnya (ex. aequo et bono).
Demikian gugatan perceraian ini Penggugat ajukan, dengan
harapan Ketua/Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan,
49
Penggugat ucapkan terima kasih.