Budidaya rumputlauttaliletakdasar

download

of 48

  • date post

    20-Jun-2015
  • Category

    Documents
  • view

    1.486
  • download

    2

Embed Size (px)

transcript

<ul><li> 1. POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Metode Tali Letak Dasar)BANK INDONESIA Direktorat Kredit, BPR dan UMKMTelepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id</li></ul><p> 2. DAFTAR ISI1. Pendahuluan ................................ ................................ ............... 22. Profil Usaha dan Pola Pembiayaan................................ ............... 4 a. Profil Usaha ................................ ................................ ............... 4 b. Pola Pembiayaan ................................ ................................ ........ 53. Aspek Pemasaran................................ ................................ ........ 7 a. Permintaan dan Peluang Pasar ................................ ...................... 7 b. Penawaran................................ ................................ ............... 11 c. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar ................................ .......... 12 d. Harga ................................ ................................ ..................... 13 e. Rantai Pemasaran ................................ ................................ ..... 14 f. Kendala Pemasaran ................................ ................................ ... 154. Aspek Produksi ................................ ................................ .......... 17 a. Lokasi Usaha ................................ ................................ ............ 17 b. Peralatan ................................ ................................ ................. 19 c. Proses Budidaya ................................ ................................ ....... 21 d. Tenaga dan Upah ................................ ................................ ...... 26 e. Jumlah dan Mutu Produksi ................................ .......................... 26 f. Kendala Produksi ................................ ................................ ....... 275. Aspek Keuangan ................................ ................................ ........ 29 a. Pola Usaha ................................ ................................ ............... 29 b. Asumsi Parameter dan Perhitungan ................................ ............. 29 c. Biaya Investasi dan Biaya Operasional ................................ .......... 30 d. Kebutuhan Dana dan Kredit Diajukan ................................ ........... 31 e. Produksi dan Pendapatan ................................ ........................... 33 f. Proyeksi Laba Rugi dan Break Even Point ................................ ...... 34 g. Analisis Sensitivitas ................................ ................................ ... 356. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Sosial................................ ... 38 a. Aspek Ekonomi dan Sosial ................................ .......................... 38 b. Dampak Lingkungan ................................ ................................ .. 387. Penutup ................................ ................................ ..................... 40 a. Kesimpulan ................................ ................................ .............. 40 b. Saran ................................ ................................ ..................... 41LAMPIRAN ................................ ................................ ..................... 42 Bank Indonesia Budidaya Rumput Laut (Tali Letak Dasar) 1 3. 1. PendahuluanIndonesia merupakan negara dengan bentuk kepulauan yang terbesar didunia. Indonesia terdiri dari 13.000 pulau besar kecil dan memiliki panjanggaris pantai 81.000 km. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memilikipotensi 26 juta Ha areal perikanan laut dan pantai. Selain sebagai lahanpenangkapan ikan, perairan pantai juga dimanfaatkan untuk usaha budidayaperairan (marine aquaculture). Dari areal lahan pantai seluas 26 juta Ha,hanya 680.000 Ha atau kurang dari 3% yang dimanfaatkan untuk produksi(ADB, 2006, Project Number 35183).Salah satu bidang aquaculture (budidaya perairan) yang berkembang dewasaini adalah budidaya rumput laut (seaweed culture) terutama budidayarumput laut jenis Eucheuma Cottonii. Indonesia memiliki potensi arealbudidaya rumput laut seluas 1,2 juta Ha, dengan potensi produksi rumputlaut kering rata-rata 16 ton per Ha. Apabila seluruh lahan bisa dimanfaatkanmaka akan dapat dicapai 17.774.400 ton per tahun dengan harga Rp.4,5juta per ton. Dengan kisaran jumlah produksi dan tingkat harga tersebut,akan diperoleh nilai Rp.79,984 triliun. Namun dari potensi area yang sangatluas ini, Indonesia saat ini hanya mampu mengusahakan 3% dari potensilahan yang ada (BEI News Maret-April, 2005).Berdasar data yang dikemukakan di atas, masih terbuka lebar peluangusaha budidaya dan investasi pemrosesan rumput laut. Peluang usaha itusemakin besar sejalan dengan perkembangan permintaan rumput laut duniayang meningkat rata-rata 5-10% per tahun. Dewasa ini permintaan rumputlaut yang ditujukan kepada eksportir Indonesia diindikasikan sudah mencapai48.000 ton rumput laut kering per tahun(World Bank Report, 2006).Potensi usaha budidaya ini akan terus berkembang sejalan makin luasnyapemanfaatan rumput laut sebagai bahan makanan, polimer maupun bahandasar kertas dan industri lainnya. Untuk memanfaatkan peluang pasar, makausaha-usaha di bidang rumput laut yang sangat potensial untukdikembangkan adalah: 1. Pembukaan usaha budidaya rumput laut, atau pengembangan perluasan usaha dengan perluasan areal budidaya. 2. Pengolahan paska panen untuk memperoleh nilai tambah 3. Industri pemroses rumput laut untuk produk makanan siap saji, Semi Refined Carrageenan (SRC) dan Alkali Treated Carrageenan (ATC). Bank Indonesia Budidaya Rumput Laut (Tali Letak Dasar) 2 4. Gambar 1.1 Berbagai Makanan Berbahan Baku Rumput Laut.Terdapat banyak daerah budidaya rumput laut di Indanesia, antara lain diSulawesi, Bali, NTB dan NTT, serta Papua. Di NTB rumput laut banyakdibudidayakan di Pulau Bali, Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. Salah satusentra rumput laut di Pulau Lombok yang menjadi lokasi kajian adalahGerupuk dan Aregoling di Kabupaten Lombok Tengah. Jumlah pembudidayadi seluruh Lombok Tengah berjumlah 878 Ruman Tangga Perikanan (RTP)dengan potensi luas areal 800 Ha, dan yang termanfaatkan baru 52,3 Ha.Jumlah produksi budidaya rumput laut di wilayah Kabupaten Lombok Tengahmencapai 16.070,6 ton dengan nilai Rp. 24,1 milyar per tahun (StatistikPerikanan Lombok Tengah, 2007).Usaha budidaya rumput laut biasanya dikerjakan sendiri oleh pemilik dankeluarganya, kecuali untuk pekerjaan mengikat bibit dan menyemaikannya dilaut yang membutuhkan waktu cepat, sehingga membutuhkan tambahantenaga kerja. Tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga Untuk bisamengerjakan dengan cepat, maka dibutuhkan tenaga dari luar keluargasebagai tenaga borongan yang dibayar dengan upah borongan Rp.50,- perikat.Untuk keperluan pendanaan usaha budidaya, diperoleh informasi bahwapihak perbankan siap mendanai usaha budidaya rumput laut sesuai denganskim kredit yang ada dan memenuhi kelayakan perbankan. Berbagai bankmemiliki skim kredit untuk berbagai usaha kecil dan menengah. Skim kreditini ditujukan untuk pemenuhan dana modal kerja maupun investasi. Bank Indonesia Budidaya Rumput Laut (Tali Letak Dasar)3 5. 2. Profil Usaha dan Pola Pembiayaana. Profil UsahaRumput laut banyak dibudidayakan di berbagai wilayah perairan lautIndonesia, seperti Karimun Jawa, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa danPapua. Rumput Laut banyak dibudidayakan dan diperdagangkan karenarumput laut merupakan bahan baku berbagai produk olahan bernilaiekonomi tinggi untuk tujuan pangan maupun non pangan. Karaginan sebagaihasil olahan rumput laut selanjutnya diolah lagi menjadi bahan makanan-minuman, pet-food, bahan baku industri farmasi dan kosmetik. Selain iturumput laut diproses menjadi bahan emulsi, pembentuk gel, bahan film danpembentuk busa pada sabun. Karena luasnya potensi pasar danpengembangan ke depan maka budidaya rumput laut, dijadikan programprimadona oleh pemerintah dalam revitalisasi pertanian.Menurut Giat Sunarto (1985), upaya pemasyarakatan budidaya rumput lautsudah lama dilakukan. Pada dekade 1960-an di Labuan Haji KabupatenLombok Timur budidaya dan pemrosesan rumput laut mulai disosialisasikan.Salah satu bentuk sosialisasi itu adalah penanaman dan pengolahan rumputlaut menjadi bahan makanan siap pakai yaitu agar-agar. Pada tahun 1984dilakukan budidaya rumput laut Eucheuma sp di Desa Batu Nampar, TelukEkas dengan luas areal 1,08 Ha. Metoda budidaya yang diterapkan adalahrakit apung dengan ukuran 4,0 8,0 m2 setiap rakit. Bibit jenis ungguldidatangkan dari Bali dan sebagian dipenuhi dari daerah sekitar lokasi.Sebuah rakit memerlukan bibit 10 kg dan dengan pemeliharaan selama 4bulan diperoleh hasil panen 640 kg berat basah atau 100 kg setelahmenjadi kering.Saat ini jenis rumput laut yang paling banyak dibudidayakan di Indonesiaadalah rumput laut jenis Eucheuma sp. Alasan dibudidayakannya rumput lautjenis ini secara luas adalah mengikuti arah perkembangan permintaan pasar.Eucheuma sp diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1984 diNusa Dua, Nusa Penida, Nusa Celingan Bali dan Lombok Timur. Bibit rumputlaut ini didatangkan dari Filipina. (Anggadireja, 2005). Rumput laut jenisEucheuma Cottonii sangat baik pertumbuhannya pada wilayah yang memikikiciri : arus kuat, pantai berkarang serta, air laur jernih dan tingkat penyinaranyang tinggi. Salah satu wilayah yang memiliki ciri-ciri ini adalah pantaiGerupuk dan Aregoling di Kabupaten Lombok Tengah yang menjadi lokasistudi.Teknik budidaya yang diterapkan oleh pembudidaya rumput laut di pantaiAregoling adalah teknik tali lepas dasar atau off bottom line. Teknik budidayatali lepas dasar adalah teknik budidaya yang dilakukan pada lokasi ataulahan secara tetap pada suatu wilayah pantai. Lahan budidaya itu dimilikidan diusahakan secara tetap oleh pembudidaya. Pada awalnya pembudidayaakan menentukan batas wilayah yang dianggap menjadi haknya dengan Bank Indonesia Budidaya Rumput Laut (Tali Letak Dasar) 4 6. memancangkan patok batas. Selanjutnya pada areal yang sudah diakuisebagai lahan garapannya itulah petani melakukan usaha budidaya. Arealbudidaya ini dapat dipindahtangankan dengan cara membeli atau menyewa.Luas areal petak budidaya pada lokasi studi diukur dengan satuan are(10x10m). Satu rumah tangga pembudidaya (RTP) minimal memiliki 3 are(1 are = 100 m2), rata-rata RTP memiliki 10 petak areal budidaya. Makinkuat status ekonomi seorang pembudidaya, semakin luas areal budidayayang dimilikinya.Jumlah pembudidaya di lokasi penelitian yaitu pantai Aregoling adalah 277RTP pembudidaya. Prasarana budidaya rumput laut yang ada di Aregolingberjumlah 180 petak lahan teknik tali lepas dasar, dengan kapasitas produksi22,5 ton per siklus. Periode atau musim budidaya rumput laut di PulauLombok berlangsung selama 6 bulan musim kemarau, yaitu dimulai awalbulan Mei sampai dengan akhir Oktober. Pada musim hujan tidak dilakukanbudidaya karena intensitas sinar matahari berkurang dan salinitas air lautmenurun sehingga menyebabkan produktivitas rumput laut rendah.Periode budidaya rumput laut bisa berbeda antara satu wilayah denganwilayah lainnya. Untuk wilayah di Indonesia Bagian Timur antara lain daerahNTB dan NTT (Pulau-pulau Flores, Sumbawa dan Sumba) musim kemaraudapat berlangsung lebih dari 6 bulan dengan demikian masa budidaya lebihpanjang dan siklus panen bisa lebih banyak, sehingga jumlah hasil rumputlautpun bisa lebih banyak.Jangka waktu atau periode proses budidaya dimulai saat menyemaikan bibitrumput laut sampai dengan waktu pemanenan (satu siklus panen), adalah45 hari. Apabila musim kemarau berlangsung 6 bulan, maka satu kali musimterdapat 4 kali siklus panen. Hampir semua hasil panen rumput lautdiperdagangkan dalam bentuk rumput laut kering, dengan kadar air 35%.Untuk pengeringan rumput laut, pembudidaya melakukannya dengan caramenjemur selama 2-3 hari.Sumber dana usaha budidaya rumput laut berasal dari modal sendiri, namundemikian banyak juga pembudidaya yang menerima dana modal usaha daripedagang pengumpul. pedagang pengumpul memberikan pinjaman modalusaha budidaya kepada petani dan pada saat panen akan membeli hasilpanen rumput laut dan memotong sebagian pembayarannya sebagaiangsuran pinjaman dan pembayaran bunga. Apabila pinjaman belumterlunasi pada musim ini, maka akan ditagih lagi pada musim berikutnya.Pedagang pengumpul pemberi pinjaman ini biasanya berasal dari wilayahyang berdekatan sehingga tahu waktu petani membutuhkan dana dan saatmenagih pinjaman.b. Pola PembiayaanPembiayaan usaha budidaya dapat berasal dari modal sendiri maupun daripinjaman atau kredit. Pembiayaan yang berasal dari pinjaman bank berupa Bank Indonesia Budidaya Rumput Laut (Tali Letak Dasar) 5 7. kredit investasi dan atau kredit modal kerja. Pembiayaan ini diperlukanuntuk berbagai tujuan antara lain : 1. Pembelian alat-alat dan infrastruktur budidaya, pembelian bibit danpembayaran tenaga kerja. 2. Pembelian mesin untuk pengeringan, sortir dan pengepakan rumputlaut. 3. Pendirian usaha pengolahan rumput laut untuk kebutuhan industri.Modal usaha yang diperoleh petani pembudidaya dipergunakan untukmembeli bahan-bahan infrastruktur budidaya (tali, pasak, pelampung,jangkar pemberat), bibit rumput laut dan pembayaran biaya operasional.Pengembalian dilakukan dengan angsuran selama periode budidaya (6 bulan4 kali siklus panen). Berdasarkan hasil survey pembudidaya membutuhkantambahan pagu pinjaman guna membeli/membuat para-para jemur rumputlaut. Penggunaan para-para saat penjemuran rumput laut memberikan hasilrumput laut kering yang lebih baik mutunya jika bandingkan dengan carapenjemuran asalan (tanpa alas). Dengan para-para rumput laut tidaktercampur dengan kotoran waktu penjemuran dan hasil kering lebih merata.Untuk memenuhi kebutuhan modal usaha budidaya rumput maka salahbentuk pinjaman adalah kupedes dari bank BRI, ataupun dari bank lainseperti misalnya BCA dengan skim kredit Program Kredit Peduli UsahaMikro, Bank BNI 46 dengan skim kredit Kredit Mikro, dan Bank Mandiridengan Kredit Usaha Kecil (KUK) dan berbagai skim kredit lainnya.Penyaluran kredit kepada pembudidaya belum banyak dilakukan karenaketerbatasan kemampuan SDM pembudidaya, jarak dan lokasi. Bank Indonesia Budidaya Rumput Laut (Tali Letak Dasar)6 8. 3. Aspek Pemasarana. Permintaan dan Peluang PasarPermintaan rumput laut dipengaruhi oleh permintaan pengguna rumput laut,yaitu industri-industri makanan, obat-obatan dan bahan polimer.Perkembangan ekspor rumput laut menurut jumlah dan nilainya dapatdisajikan seperti berikut ini (Anang Nugroho, 2006)Tabel 3.1 Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Rumput Laut, 2001 2005 VolumeNilai (US$ 1000)Harga TahunJumlah Per- US$Perkembangan Jumlah (ton) kembangan / kg.2001 27.874 17.230 0,6181392002 28.560 2,46% 15.785 -8,39%0,5526962003 40.162 40,62%20.511 29,94%0,5107072004 51.011 27,01%25.296 23,33%0,4958932005 63.020 23,54%39.970 58,01%0,634243Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap DKP RI,2006Dari data dalam tabel 3.1 di atas dapat diketah...</p>