BUDIDAYA PERAIRAN

download BUDIDAYA PERAIRAN
  • date post

    24-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    105
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of BUDIDAYA PERAIRAN

Laporan Praktikum Budidaya Perairan

BUDIDAYA KEPITING LUNAK DI DESA LAMJABAT - BANDA ACEH

OLEH: Hardiansyah 1005102010001

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIANFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS SYIAHKUALABANDA ACEH2014

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan salah satu jenis komoditas perikanan yang potensial untuk dibudidayakan. Kepiting bakau hidup di perairan pantai khususnya di hutan bakau (mangrove). Dengan sumber daya hutan bakau yang membentang luas di seluruh kawasan pantai nusantara maka tidak heran jika Indonesia dikenal sebagai pengekspor kepiting yang cukup besar dibandingkan dengan Negara-negara produsen kepiting lainnya.Salah satu cara peningkatan nilai produksi dari kepiting bakau adalah menjadikan spesies tersebut sebagai hewan yang bercangkang lunak (kepiting soka). Kepiting soka adalah kepiting bakau fase ganti kulit (moulting). Kepiting dalam fase ini mempunyai keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak (soft carapace) sehingga dapat dikonsumsi secara utuh. Berkaitan dengan potensi nilai ekonomis yang menjanjikan dari kepiting bakau tersebut, maka perlu diperhatikan kecepatan pertumbuhan dari kepiting bakau jenis Scylla serrata. Kecepatan pertumbuhan berkaitan erat dengan kecepatan ganti kulit dikarenakan setiap pergantian fase juga diikuti dengan pergantian kulit.Lamanya kecepatan ganti kulit pada kepiting bakau (Scylla serrata) sangat berpengaruh terhadap lamanya pelunakan cangkang (soka) sehingga menyebabkan ketidakstabilan dalam produksinya. Oleh karena itu, diperlukan perlakuan khusus yaitu dengan pemotongan capit dan kaki jalan yang diujikan pada kelamin berbeda sehingga nantinya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Lama atau tidaknya kecepatan ganti kulit dari spesies ini akan berpengaruh pula terhadap nilai produksi yang diperoleh, artinya semakin cepat kecepatan ganti kulit maka hasil produksi akan meningkat pula.

Selain itu dengan berdasar kepada informasi pasar kepiting bakau yang semakin meluas maka komoditas tersebut telah memberikan nilai ekonomis dan peningkatan pendapatan bagi petani dan telah membuka peluang bisnis kepiting bakau yang semakin berkembang. Pada awalnya bisnis ini hanya mengandalkan hasil tangkapan untuk ukuran pasar siap jual, kemudian meningkat ke upaya budidaya baik budidaya pembenihan maupun pembesaran. Seperti yang terjadi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina. Oleh karena itu tidak saja kepiting besar yang ditangkap, tetapi ukuran kecil pun menjadi bernilai ekonomis.1.2 Tujuan Untuk mempelajari dan mengetahui teknik budidaya kepiting lunak melalui kegiatan praktek, serta memahami proses pertumbuhan dan perkembangan kepiting lunak mulai dari proses pembibitan hingga proses panen. Dan melalui praktikum ini dapat mengetahui usaha kepiting lunak ini dari segi ekonomis dan pemasarannya.1.3 Kegunaan Laporan ini berguna untuk mempermudah mahasiswa untuk mengetahui bagaimana pembudidayaan kepiting lunak. Selain itu laporan ini berguna sebagai bahan pengetahuan bagi masyarakat untuk mengetahui lebih dalam mengenai kepiting lunak serta untuk menarik minat masyarakat dalam hal pembudidayaan kepiting lunak.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Sulistiono et al. (1992) dalam Mulya (2002) mengklasifikasikan kepiting bakau sebagai berikut; Filum : Arthropoda Sub Filum : Mandibulata Kelas : Crustacea Ordo : Decapoda Sub Ordo : Pleocyemata Famili : Portunidae Genus : Scylla sp Spesies : Scylla serrataPerairan di sekitar mangrove sangat cocok untuk kehidupan kepiting bakau karena sumber makanannya seperti benthos dan serasah cukup tersedia. Di alam biasanya kepiting bakau yang besar akan memakan kepiting bakau yang kecil, waktu makan kepiting bakau tidak beraturan tetapi malam hari lebih aktif dibanding siang hari sehingga kepiting bakau digolongkan sebagai hewan nocturnal yang aktif makan di malam hari (Queensland Departement of Primary Industries, 1989).Salinitas berpengaruh terhadap setiap fase kehidupan kepiting bakau terutama multing. Kisaran salinitas ideal untuk pertumbuhan kepiting bakau belum dapat ditentukan, namun diketahui bahwa larva zoea sangat sensitif dengan kondisi perairan yang bersalinitas rendah. Sebaliknya kepiting dewasa kawin dan mematangkan telurnya pada perairan yang mempunyai salinitas 15% 20% dan selanjutnya akan berupaya ke laut untuk memijah (Kasry, 1996).

Suhu air mempengaruhi pertumbuhan (multing), aktifitas dan nafsu makan kepiting bakau . Suhu air yang lebih rendah dari 20 0C dapat mengakibatkan aktifitas dan nafsu makan kepiting bakau turun secara drastis (Queensland Departement of Primary Industries, 1989).Nilai ekonomis kepiting yang terus meningkat merangsang para petani untuk membudidayakannya di tambak. Hal ini terbukti dengan meningkatnya ekspor kepiting dari Sulawesi Selatan tahun ke tahun. Ekspor kepiting dari Sulawesi Selatan sebesar 5.200 kg pada tahun 1989 meningkat menjadi 1.567.527 kg pada tahun 1994. Konsumen kepiting tertinggi di dunia adalah Amerika Serikat yang mencapai 55% dari total kepiting dunia dengan peningkatan rata-rata 10,4 per tahun (Departemen Perdagangan, 1990). Negara pengimpor kepiting lainnya adalah Australia, Benelux, Jepang, Hongkong, Taiwan, Singapura, Korea Utara, dan Korea Selatan. Umumnya, Negara-negara tersebut mengimpor kepiting berukuran 350 g/ekor atau 3ekor/kilogram dengan harga berkisar US$5 US$8 perkilogram(Kadarsan W.H, 1995).

BAB IIIASPEK TEKNIS USAHA

3.1 Pemilihan LokasiBudidaya kepiting soka dapat dilakukan di perairan payau yang tenang seperti di perairan laguna atau berupa tambak yang memenuhi berbagai persyaratan teknis. Kondisi perairan seperti ini dipilih untuk menghindari kondisi perubahan kualitas air dan lingkungan lokasi budidaya yang ekstrim sehingga akan mempengaruhi kelangsungan proses produksi.Untuk pemilihan lokasi tambak yang akan dijadikan tempat budidaya kepiting asoka perlu mempertimbangkan hal hal sebagai berikut: Bebas dari pengaruh banjir; Kualitas air ideal: salinitas 25-30 ppt, pH 6,5- 8,5 dan tidak tercemar; Mudah dijangkau dan dekat dengan tempat tinggal/Penampungan; Ketinggian air 80 120 cm Letak tambak harus memudahkan kontrol kualitas air dan objek budidaya. Budidaya kepiting soka juga dapat dilakukan di muara atau laguna yang memungkinkan untuk dilakukannya pengontrolan kualitas air yang ideal bagi kelangsungan hidup kepiting. Meskipun ada, budidaya kepiting asoka di perairan seperti ini sangat sulit dilakukan dan membutuhkan pengontrolan yang ekstra terutama jika terjadi perubahan kualitas air yang ekstrim.Dengan orientasi bisnis budidaya kepiting asoka yang intensif, produksi kepiting soka semakin berkembang dilakukan di tambak. Selain mudah dilakukan pengontrolan, budidaya kepiting soka dapat dilakukan dengan sistem polikultur bersama spesies budidaya lainnya diantaranya dengan budidaya pembesaran ikan bandeng yang memiliki kecenderungan menyukai lingkungan yang relatif sama seperti halnya kepiting bakau. Sistem budidaya seperti ini lebih menguntungkan meskipun dibutuhkan modal investasi yang cukup besar.Pengembangan usaha kepiting asoka di tambak tidak serta merta dapat menghasilkan produk kepiting asoka yang bagus dan secara kuantitatif dalam jumlah yang banyak tanpa pengelolaan tambak yang baik. Untuk menghasilkan produk kepiting asoka unggulan diperlukan alat-alat dan fasilitas budidaya serta perlakuan yang mendukung dalam proses budidaya, diantaranya; (a) persiapan tambak, (b) metoda budidaya yang tepat, (c) pemilihan, perlakuan dan penebaran benih, (d) pemeliharaan dan pemberian pakan (e) proses pemanenan serta (f) perlakuan pasca panen. Pada lokasi penelitian, ditemukan bahwasanya pemilihan lokasi berdasarkan ketersediaan lahan bekas tambak udang yang sudah tidak layak digunakan akibat dampak dari kontaminasi zat-zat kimia akibat bencana alam tsunami. Maka dari itu untuk memanfaatkan dan memproduktifkan lahan kembali, pengelola menggunakan lahan tersebut untuk usaha kegiatan budidaaya kepiting lunak yang dapat bertahan hidup tanpa menyentuh dasar tambak yang telah terkontaminasi. Selain itu, untuk kembali merevitalisasi ekosistem tambak, pengelola melakukan penanaman tanaman bakau yang juga beguna sebagai ekosistem bertahan hidup bagi makhluk hidup perairan dan kepiting itu sendiri.3.2 Persiapan Tambak Persiapan tambak yang baik adalah tambak yang memperhatikan beberapa aspek berikut:3.2.1 Perbaikan kontruksi tambak dan pembuatan jembatan kontrolPada umumnya, tambak-tambak bertekstur lumpur, produktivitas tambak cenderung menurun setelah periode pemeliharaan tahun kedua. Hal ini terjadi karena penumpukan lumpur, sehingga diperlukan pekerjaan tambahan yang disebut dengan keduk teplok yaitu upaya membuang lapisan lumpur pada dasar tambak sebelum periode tanam dilakukan. Proses keduk teplok biasanya dilakukan bersamaan dengan pembuatan/pembenahan jembatan (bambu) yang akan digunakan sebagai sarana pengontrolan pada saat proses budidaya kepiting asoka dilakukan. Jembatan tersebut dibuat secara melintang/memotong tambak menjadi dua bagian yang sama. Seiring dengan perkembangan teknologi yang dihasilkan dari pengkajian konstruksi tambak oleh Direktorat Pengkajian Sistem Industri Primer, BPP Teknologi bekerjasama dengan fakultas Perikanan IPB konstruksi tambak di lahan pantai berpasir dapat menggunakan bahan baku yang murah dan tersedia di lapangan, tetapi tetap menjamin persyaratan tambak yang baik. Konstruksi seperti ini disebut dengan istilah BIOSEAL (Bottom Isolation from Organic Substances to Eliminate Acid Layer). Keunggulan dari konstruksi BIOSEAL dibandingan dengan konstruksi lainnya (misalnya beton cor) yang sama-sama digunakan untuk lahan pasir adalah: (a) biaya yang relatif murah; (b) proses konstruksi yang mudah dan cepat; (c) mudah dalam perawatan; (c) kualitas air relatif stabil sehingga sangat mendukung