budidaya (IMTA)

download

of 16

  • date post

    20-Jul-2015
  • Category

    Documents
  • view

    319
  • download

    1

Embed Size (px)

transcript

<p>1</p> <p>PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan China sebagai sentra baru perekonomian dunia memberikan sebuah dampak bagi perekonomian Dunia. Peningkatan ekonomi suatu Negara atau sebagai kekuatan baru perekonomian dunia menyebabkan berpindahnya arus informasi dan lainnya. Pada decade tahun 1990 an Amerika serikat dan sekutunya sebagai Negara penguasa memberikan dampak informasi dari barat ke bagian timur, hal ini dapat dilihat dari banyaknya makanan cepat saji yang berasal dari peternakan karena kultur ataupun budaya mereka yang lebih menyukai hewan teresterial ketimbang ikan. Keadaan saat ini China sebagai kekuatan baru perekonomian dunia memberikan dampak pada arus informasi dan hal ini berdampak pula pada pertukaran budaya terutama kultur mereka yang terbiasa dengan sumber protein dari ikan baik laut maupun tawar, hal ini dapat terlihat pada tabel 1 dimana terjadi peningkatan dan estimasi kebutuhan ikan dunia. Menurut Davy dan De Silve (2010) bahwa peningkatan kebutuhan ikan dunia per kapita mengalami peningkatan mencapai 17,2% dan kebutuhan ikan pada tahun 2020 mencapai 123.519.591 ton. Tabel 1. Estimasi kebutuhan ikan dunia per kapita pada tahun 2020 (Davy dan De Silve.2010)</p> <p>Pemenuhan kebutuhan perikanan secara umum berasal dari penangkapan dan budidaya perikanan. Penangkapan sebagai salah satu sektor penting dari komoditas perikanan memberikan sumbangsih yang tidak sedikit namun berdasarkan, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia menyatakan sekitar 75% dari perikanan Laut dunia telah mengalami eksploitasi penuh dan sisanya 25% berada pada posisi tangkap kurang atau dengan kata lain kondisi perikanan tangkap mengalami eksploitasi yang berlebihan yang lebih dikenal dengan overfishing (FAO. 2002). Namun di Indonesia cenderung mengalami peningkatan, menurut data Kementrian Kelautan dan Perikanan menyatakan terjadinya peningkatan jumlah unit penangkapan sebesar 7,98% dari 1.164.508 menjadi 1.265.440 unit pada tahun 2006-2008 ( KKP,2009). Terjadinya eksploitasi yang berlebihan dari sumberdaya perikanan merupakan dampak dari permintaan ikan yang tinggi hal telah tersajikan oleh tabel 1 diatas. Indonesia sebagai Negara pengekspor ikan peringkat 14 dunia dan sejak tahun 2003</p> <p>2</p> <p>hingga 2007 terus menerus mengalami peningkatan sebesar 7,41% per tahun atau secara tidak langsung eksploitasi sumberdaya perikanan sebesar angka tersebut (KKP,2009). Pemenuhan akan ikan didukung dan peningkatan ekspolitasi didukung oleh penargetan konsumsi ikan per kapita Indonesia pada 2014 mencapai 33,9 kg, dengan asumsi laju penduduk sebesar 6 % per lima tahun maka dapat diprediksikan peningkatan kebutuhan ikan domestik meningkat dari 6,9 juta ton pada 2009 menjadi 8,3 juta ton pada 2014 (Poernomo, 2009).</p> <p>Gambar 1. Produksi Perikanan Indonesia tahun 1977-2008 (Poernomo, 2009) Berdasarkan pada gambar 1 diatas menyajikan bahwa selama ini sektor perikanan tangkap merupakan sektor perikanan yang mampu memenuhi permintaan pasar, namun perikanan tangkap terus mencapai fase stagnan karena ekspoitasi yang berlebihan. Oleh karena itu perikanan budidaya sebagai salah satu sektor yang mendukung dalam pemenuhan protein ikan dan dilakukan peningkatan produktivitas. Gambar 1 menyajikan sebuah kontsibusi perikanan pada beberapa tahun terakhir sehingga sektor budidaya perlu dikembangkan dengan konsep yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Budidaya Perikanan sebagai bagian dari sektor perikanan dan merupakan salah satu solusi dalam mengatasi permintaan perikanan yang terus menerus mengalami peningkatan. Budidaya perikanan laut atau yang lebih dikenal dengan marikultur, merupakan sebagai salah satu usaha untuk membudidayakan ikan ataupun organisme laut pada wadah terkontrol dan dengan campur tangan manusia. Budidaya Laut di Indonesia telah lama dan banyak dikenal salah satunya dengan pemanfaatan keramba jaring apung dan keramba jaring tancap, namun pemanfaatan kedua jenis budidaya ini sebagian besar masih diperairan karang atau pesisir sehingga secara tidak langsung dari marikultur merusak daerah karang dan pencemaran di Laut yang mengakibatkan kerusakan habitat ataupun ekosistem laut.</p> <p>3</p> <p>Gambar 2. Perkembangan Produksi Marikultur di Indonesia tahun 2002-2004 (BPS, 2009) Berdasarkan pada data Badan Pusat Statistik (2009) menyajikan sebuah kesimpulan terjadinya peningkatan produksi akuakultur teruatama dalam budidaya laut selama 6 tahun terakhir mencapai 8 kali dari produksi tahun 2002 mencapai 234.900 ton menjadi 1.966.000 ton tahun 2008. Peningkatan jumlah produksi tidak semata meningkatkan jumlah wilayah budidaya dan peningkatan ekonomi, namun juga peningkatan dari limbah. Peningkatan limbah dapat dilihat dari jumlah pakan yang diberikan dengan asumsi bahwa konversi pakan ikan adalah 1,5 dan jumlah protein pakan adalah 30% maka jumlah limbah yang dikeluarkan pada tiap proses dalam N feses sebayak 15728 ton dan N dalam bentuk metabolisme sebesar 22019,2 ton atau total N sebesar 37747.2 ton (Crab et al. 2007). Oleh karena itu sebanyak 37747.2 ton limbah N dibuang ke perairan setiap tahun sehingga dapat mengakibatkan terjadinya eutifikasi atau bila terjadi pada ekosistem danau dapat menyebabkan up welling. Marikultur atau budidaya laut dan budidaya ikan lainnya memerukan pakan. Pakan ikan dibuat dengan bahan baku yaitu tepung ikan karena ikan hanya mampu mengkonversi dari protein ikan menjadi protein bagi ikan kultur. Tepung ikan selama ini berasal dari ikan hasil tangkapan, namun semakin berjalanya waktu mengalami kecendrungan menurun seperti yang terlihat pada gambar 3. Penurunan kuantitas tepung ikan dapat memberikan dampak buruk pada industry budidaya oleh karena itu pemanfaatan dan efesiensi pakan merupakan solusi terbaik untuk mencegah terjadinya eksploitasi ikan yang berlebihan dan perikanan yang berkelanjutan.</p> <p>4</p> <p>Gambar 3. Statistik produksi tepung ikan dunia tahun 1976-2006 (FAO, 2010) Implementasi perikanan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dapat dilaksanakan, sekaligus menjawab tantangan pemenuhan akan kebutuhan hasil perikanan yang meningkat. IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) untuk mengoptimalkan hasil perikanan melalui pemanfaatan sistem budidaya dengan pendekatan alamiah ekosistem laut sehingga mengopimalkan hasil, efesiensi pakan dan diversifikasi produk. IMTA adalah salah satu bentuk dari budidaya laut dengan memanfaatkan penyediaan pelayanan ekosistem oleh organisme trofik rendah (seperti kerang dan rumput laut) yang disesuaikan sebagai mitigasi terhadap limbah dari organisme tingkat trofik tinggi (seperti ikan) (White, 2007 dalam Jianguang et al, 2009). IMTA diterapkan sebagai solusi terhadap mitigasi limbah yang dikeluarkan dalam marikultur dan peningkatan efesiensi dari pakan sehingga tidak mencemari lingkungan. Tujuan Tujuan dari Progam Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) adalah memberikan gagasan terhadap perkembangan IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) untuk pembangunan budidaya Laut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan pemanfaatan ekosistem lokal di Indonesia. Manfaat Manfaat dari yang ingin dicapai dalam gagasan adalah sebagai perencanaan pembangunan perikanan Laut berbasis budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.</p> <p>5</p> <p>POTENSI PENGEMBANGAN IMTA (INTEGRATED MULTI TROPIHC AQUACULTURE) Perkembangan IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) IMTA adalah salah satu bentuk dari budidaya Laut dengan memanfaatkan penyediaan pelayanan ekosistem oleh organisme trofik rendah (seperti kerang dan rumput laut) yang disesuaikan sebagai mitigasi terhadap limbah dari organisme tingkat trofik tinggi (seperti ikan) (White, 2007 dalam Jianguang et al, 2009). IMTA berbeda dengan polikultur karena polikultur adalah membudidayakan lebih dari satu spesies tanpa memperhatikan kegunaan spesies dalam ekosistem, sedangkan IMTA menitikberatkan pada kemampuan spesies dalam menjaga keseimbangan ekosistem sehingga setiap spesies tertentu memiliki fungsi yang berbeda misalnya sebagai karnivore, herbivore, detritus, biofiltering dan penyerang partikel sehingga keseimbangan ekosistem mampu terjaga dengan baik. IMTA dapat digunakan hampir seluruh wadah budidaya baik laut maupun darat karena konsep keseimbangan ekosistem yang diterapkan. IMTA pertama kali diterapkan di Norwegia dengan memanfaatkan salmon, kelp dan kerang (Coppin. 2006 dalam Jinguang et al, 2009)</p> <p>Gambar 4. Matriks IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) (Theirry Chopin, 2009 dalam Jinguang et al, 2009) IMTA adalah sebuah solusi ramah lingkungan dan keberlanjutan dari akuakultur atau budidaya perikanan. Matriks IMTA pada gambar 4 diatas menjelaskan tentang sistem IMTA yang berasal dari pakan ikan. Pakan ikan yang diberikan dalam wadah tidak semuanya mampu dikonversi menjadi daging dan sisanya menjadi amoniak dan CO2 dari insang sebagai hasil metabolisme dan feses dari hasil sisa penyerapan oleh tubuh. Sisa feses atau limbah sisa pakan dapat dimanfaatkan oleh hewan pemakan sisa atau detritus seperti teripang, abalone, cyclops, lobster dan bulu babi. Limbah dalam bentuk suspense atau small POM dimanfaatkan oleh hewan biofilter seperti kerang-kerangan. Limbah dalam bentuk inorganik atau dalam bentuk larutan yang tidak dimanfaatkan oleh hewan dijadikan nutrisi bagi rumput laut untuk tumbuh dan berkembang. Secara tidak langsung terjadinya tranformasi dari suatu senyawa yang tidak dapat dimanfaatkan menjadi senyawa yang termanfaatkan bagi organisme lain.</p> <p>6</p> <p>Keunggulan sistem IMTA dapat diketahui berdasarkan ekonomi, lingkungan dan keamanan pangan bagi organisme budidaya dan manusia. Pemanfaatan IMTA di China memberikan keuntungan ekonomi pada provinsi Qingdao selama 2 tahun menghasilkan 900 kg dengan hasil sebesar 70.000 yuan/ 1600 m2 atau 10.000 dolar US/ 1600 m2 sehingga budidaya dengan IMTA sangat menguntungkan karena diversifikasi produknya sangat banyak dan bernilai ekonomis tinggi (Jinguang et al, 2009) dan keuntungan ekonomi dari IMTA di kanada memiliki keuntungan yang jauh lebih untung dibandingkan dengan sistem monokultur pada ikan salmon (Ridler et al, 2007). Dampak IMTA di China terhadap lingkungan dapat dilihat pada tabel 2 dibawah dan IMTA secara tidak langsung mengurangi perubahan iklim global dengan mereduksi 1,37 juta MT karbon dan 96.000 MT Nitrogen pada budidaya rumput laut dan kerang pada tahun 2006 (Jinguang et al, 2009). Keamanan pangan secara global mampu terpenuhi 15 juta MT hasil laut terhadap manusia (Jinguang et al, 2009) dan penerapan IMTA dapat mereduksi kemungkinan penyebaran penyakit dan penularannya baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus dengan budidaya kerang (Mytilus edelis) terhadap ikan salmon di subtropics (Pietrack et al, 2009). Tabel 2. Nilai regulasi perubahan iklim pada jenis budidaya berbeda (Jinguang et al, 2009)</p> <p>IMTA telah ditetapkan diberbagai Negara salah satunya di Kanada. IMTA di Kanada memanfaatkan remis, salmon dan rumput laut. Pemanfaatan Limbah dari sisa pakan salmon maupun dari feses dapat diserap oleh remis dalam bentuk suspensi atau small POM dan remis akan mengalami metabolisme dalam bentuk amoniak dan penambahan amoniak dapat berasal dari ikan sebagai hasil metabolisme. Sedangkan limbah inorganik dalam bentuk amoniak akan dimanfaatkan oleh rumput laut sebagai nutirn dalam fotosintesis sehingga rumput laut mampu tumbuh dan berkembang ( Jinguang et al. 2009).</p> <p>7</p> <p>IMTA di Laut Mediteranian digunakan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi oligotrofik yang terjadi pada ekosistem di Laut Mediteranian, Olbia dan Sardinia, Israel. IMTA yang dilakukan adalah integrasi budidaya antara ikan salmonid dengan remis. Sistem ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan sistem yang ada di Kanada, namun meningkatkan keseburan dari oligotrofik karena tidak adanya organisme yang mampu memanfaatkan limbah inorganik. IMTA di Laut mediteranian cukup baik hasilnya karena mampu menghasilkan ikan dan remis yang dimana hasil suspensi ataupun limbah dapat dimanfaatkan oleh organisme lain, namun kekurangan sistem ini tidak ada yang memanfaatkan limbah inorganik karena tujuannya adalah dengan meningkatkan oligotrofik namun tidak mencapai blooming dari plankton. IMTA Laut Mediteranian di Israel dapat terlihat pada gambar 5.</p> <p>Gambar 5. Kegiatan IMTA di Laut Mediteranean antara Ikan salmon dan remis (Angel dan Freeman, 2009). Perkembangan IMTA yang berasal dari negeri sub tropis yang cenderung dengan iklim dingin diawali dari Skotlandia dengan budidaya salmon dalam keramba jaring lingkar atau hydrodinamik yang diintegrasikan dengan bulu babi dan kelp. Sistem ini diperkenalkan Coppin (2009) dalam Jinguang et al (2009)dengan sistem yang lebih kompleks dan ramah lingkungan. Sistem ini merupakan sebuah integrasi antara ikan sebagai karnivor dalam suatu ekosistem seperti ikan salmon dan hasilnya yang berupa sisa metabolisme dan sisa pakan akan dimanfaatkan oleh bulu babi (Diadema sp) sebabagai invertebrata detritus dalam ekosistem laut dan pemanfaatan kelp adalah sebagai organisme yang memanfaatkan bahan inorganik sebagai hasil buangan dari budidaya ikan. Sistem IMTA salmon, bulu babi dan kelp ini memerlukan waktu yang lama dalam mereduksi limbah karena ketiadaan organisme biofilter yang mampu memanfaatkan limbah tersuspensi sehingga budidaya dengan pendekatan ekosistem alami akan tercapai. IMTA didaerah subtropik mengalami perkembangan tidak hanya di utara, namun juga bagian selatan yaitu Selandia Baru yang memiliki sistem lebih kompleks. Sistem IMTA yang diterapakan adalah sistem IMTA Theiry Coppin yang memanfaatkan pendekatan budidaya dengan ekosistem sehingga mampu menjaga keseimbangan alam. Intergrasi antara trofik level tinggi dalam hal ini ikan salmon sebagai karnifora yang diberi pakan, pakan yang diberikan hanya 35 % yang terretensi</p> <p>8</p> <p>menjadi daging sisanya akan terbuang sebagai sisa matbolisme oleh insang dalam bentuk karbondioksida dan urigenital dalam bentuk urin atau amoniak serta sisa pakan yang tidak termanfaatkan. Hasil dari metabolisme yang berbentuk larutan akan dimanfaatkan kembali oleh rumput laut, sehingga terjadi siklus pergantian limbah serta sisa feses dan pakan dimanfaatkan dalam oleh detritus atau teripang dan sisanya berbentuk suspense dimanfaatkan oleh kerang sehingga dalam suatu kawasan marikultur yang ramah lingkungan dan berbasis ekosistem (Philip Heath, 2009 dalam Jinguang et al. 2009). Potensi Pengembangan IMTA di Indonesia Potensi dalam pengembangan IMTA di Indonesia dapat diterapkan melalui sistem Keramba Jaring Apung (KJA) ataupun Keramba Jaring Tancap (KJT) yang telah banyak diterapkan di Indonesia. Sistem ini dapat dimodifikasi dengan melakukan pendayagunaan berbagai organisme dalam suatu ekosistem, ekosistem yang digunakan merupakan ekosistem alamiah ataupun habitat asli dari organisme tersebut. IMTA di Indonesia sangat tepat dilaksanakan pada daerah pesisir atau karang karena daerah tersebut telah mengalami kerusakan akibat budidaya Laut ataupun aktivitas perikanan yang tidak berwawasan lingkungan dan ramah lingkungan. Organisme yang d...</p>