Brpn Upload

download Brpn Upload

of 30

  • date post

    31-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    110
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Brpn Upload

BAB I PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG Bronkopneumonia adalah penyakit radang paru-paru yang biasanya didahului dengan ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut ) bagian atas yang disertai dengan panas tinggi. ISPA sendiri adalah merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di Indonesia. Di Bagian Anak Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang ISPA menduduki urutan pertama penyebab kunjungan pasien yaitu 39,8% (1992) dan 63,6 % (1993).(1,2) Pneumonia adalah merupakan radang paru-paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi, yaitu bakteri, virus, jamur dan benda asing. Berdasarkan anatomis dari struktur paru yang terkena infeksi, pneumoni dibagi menjadi pneumoni lobaris, pneumoni lobularis (bronkopneumoni), dan pneumoni intersitialis (bronkiolitis)..(3) Dari seluruh etiologi pneumoni, Streptococcus pneumonia adalah merupakan etiologi tersering dari pneumonia bakteri dan yang paling banyak diselidiki patogenesisnya. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut : 1. Komplikasi intrapulmoner: abses paru, empiema, efusi pleura, atelektasis, pneumothoraks, bronkiektasis, dan gagal napas. 2. Komplikasi ekstrapulmoner: Cor Pulmonale Sub Acutum (CPSA), Otitis Media Akuta (OMA), meningitis, pericarditis, syok septik, arthritis dan endokarditis(3). Bronkopneumonia biasanya didahului dengan ISPA bagian atas selama beberapa hari. Suhu anak dapat naik sangat mendadak (39oC 40oC). Diagnosis klinis di rumah sakit dapat ditegakkan berdasarkan adanya tanda-tanda klinis panas tinggi, anak gelisah, sesak napas, retraksi suprasternal, epigastrium, maupun intercostal, kadang disertai muntah dan diare. Batuk dan pilek tidak selalu ada.(3) Panas tinggi pada bronkopneumonia bisa disertai dengan kejang, menggigil, sesak nafas, batuk-pilek, muntah, dan diare. Diare biasanya bersifat akut. Adapun dari

1

diare sendiri bisa disertai ataupun tidak disertai dangan tanda-tanda dehidrasi, tergantung dari frekuensi, konsistensi dan usia anak. Pada anak- anak lebih muda terjadi dehidrasi, oleh sebab itu perlu penanganan yang lebih baik dan tepat. Jika diare dengan dehidrasi baik akut maupun kronis tidak mendapatkan penanganan yang lebih tepat maka komplikasi yang bisa terjadi diantaranya adalah kesadaran menurun, syok, kejang, gizi buruk bahkan bisa menyebabkan kematian .(3) Penyebab diare bisa karena psikis, konstitusi, faktor makanan, dan infeksi baik enteral maupun parenteral. Faktor infeksi merupakan penyakit paling sering dari diare. Dalam menangani masalah diare selain faktor penyebab juga perlu diperhatikan beberapa faktor yang saling mempengaruhi dan berkaitan misalnya, masalah lingkungan penderita, higiene sanitasi, perilaku manusia yang memanfaatkan sarana kesehatan yang ada, status gizi, sosial ekonomi, dan budaya(10) B. TUJUAN Dalam penulisan laporan ini akan dibahas kasus seorang anak dengan brokopneumoni duplex, dan Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang (Amubiasis), yang dirawat di bangsal Pulmonologi UPF Kesehatan Anak RSDK Semarang. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui cara mendiagnosis dan mengelola pasien dengan bronkopneumonia dupleks, Diare Akut Dedrasi Ringan Sedang (Amubiasis), sekaligus untuk mengevaluasi tindakan yang telah diberikan dengan kepustakaan yang ada. C. MANFAAT Penulisan laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media belajar bagi mahasiswa dan diharapkan mahasiswa dapat mendiagnosis dan mengelola pasien dengan permasalahan seperti pada pasien ini secara dini dan tepat.

2

BAB II LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PENDERITA Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Agama Masuk RSDK No CM Nama Ayah Umur Pekerjaan Penghasilan Pendidikan Nama Ibu Umur Pekerjaan Penghasilan Pendidikan : An. R : Laki-laki : 2 bulan 17 hari : Kuripan Rt 003 Rw 004 Kuripan, Karang Awen, Demak : Islam : 02 juni 2004 pukul : 10.30. : 739544 : Tn. Parmin : 27 Tahun : Buruh Proyek Bangunan : 350.000 perbulan : SD Tamat : Ny. Susi Sunarsih : 25 tahun : Karyawan pabrik kosmetik : 300.000 perbulan : SD Tamat

Identitas Orang Tua

B. ANAMNESIS (ALLOANAMNESIS) Alloanamnesis dengan ibu penderita pada tanggal 02 Juni 2004, pkl 14.00. Keluhan utama : Anak panas tinggi disertai sesak nafas. Riwayat Penyakit Sekarang :

+ 6 hari anak panas tinggi, mendadak, terus menerus, menggigil (-), kejang (-), batuk, ngekel, berdahak, sulit dikeluarkan, sesak (-),biru-biru (-), mual (-), muntah (-),mencret (-). Anak dibawa berobat ke bidan, diberi obat tetapi tidak ada perubahan. 3

+ 2 hari anak mencret, 5 kali sehari, cair, @ 2-3 sendok makan, warna kuning, nyemprot (-), lendir (+), darah (-), ampas (+), kembung (+),mual (-),muntah (-), panas nglemeng (+), masih batuk, sesak (-), anak rewel, tampak kehausan, kencing tidak ada kelainan. anak dibawa berobat ke RSDK disarankan mondok karena anak diare dengan tanda dehidrasi, tetapi orang tua penderita menolak. 1 hari anak sesak, biru-biru (-), panas tinggi, terus menerus,,menggigil (-), kejang (-), masih mencret, 4 kali sehari, @ 2 3x sendok makan, warna kuning, cair, lendir (+), ampas (+), darah (-), kembung (+), mual & muntah (-), anak rewel, nampak kehausan, kencing terakhir jam yang lalu, kaki dan tangan tidak dingin, anak dibawa berobat ke RSDK lagi. Riwayat minum susu formula lactona sejak usia 1 bulan karena ibu bekerja, 3 - 4x sehari, @3 sendok takar dalam 60 cc air hangat, diminum sampai habis. Cara membersihkan botol susu dicuci dengan air hangat, dilap pakai kain serbet bersih dan dikeringkan, lalu dipakai. Riwayat Penyakit Dahulu Anak baru pertama kali sakit seperti ini. Penyakit lain yang pernah diderita oleh anak yaitu : panas, batuk, dan pilek, dibawa berobat ke bidan dan anak sembuh. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Sosial Ekonomi proyek bangunan, penghasilan Keluarga dan tetangga tidak ada yang sakit seperti ini. Ayah penderita bekerja sebagai buruh

perbulan 350 .000. Ibu penderita bekerja sebagai karyawan pabrik, penghasilan perbulan 300.000. Menanggung 2 anak yang belum mandiri Biaya pengobatan ditanggung oleh keluarga. Menurut skor BISTOK SAING kesan Sosial Ekonomi cukup Riwayat Pemeliharaan Prenatal

4

Pemeriksaan kehamilan di Bidan sebanyak 5 kali, penyakit kehamilan tidak ada. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan tablet penambah darah dan vitamin. Riwayat Persalinan Lahir di Rumah, ditolong oleh bidan, dari ibu G2P2A0, 9 bulan, secara spontan. Berat badan lahir 3500 gram, panjang badan 50 cm, lahir langsung menangis. Riwayat Postnatal Riwayat Imunisasi : 1x ( usia 0 bulan, scar (+) ) ::: 3 , ( 0, 1, 2 bulan) ::: 2 , usia ( 0, 2 bulan) :: Imunisasi dasar belum lengkap Periksa di Bidan secara teratur sebulan sekali, anak dalam keadaan sehat BCG Cacar DPT Polio Kolera Typh. P. A. Hepatitis B Campak Kesan

Riwayat Gizi

ASI diberikan sejak lahir sampai sekarang, semau anak, tetapi sejak usia 2 bulan ASI hanya diberikan pada saat ibu dirumah, karena ibu penderita harus bekerja dari pukul 07.00 16.00 dan sebagai penggantinya anak diberikan minum susu formula lactona 3 - 4x sehari, @ 3 sendok takar dalam 60 cc air hangat, diminum habis. Kesan : Kuantitas cukup, kualitas kurang Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : 1 bulan PERKEMBANGAN Senyum

5

PERTUMBUHAN Berat badan : Waktu lahir : 3500 gram Usia 1 bulan : Usia 2 bulan: gram gram

Wakru masuk RSDK ( 2 bulan 17 hari ) : 5,15 gram, dengan BB koreksi : 5,5 kg, PB sekarang = 56 cm. LK = 40 cm Pertumbuhan : Growth Faltering Riwayat Keluarga Berencana Ibu mengikuti program KB suntik + sejak 1 bulan yang lalu C. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 02 Juni 2004 pukul 14.30 dibangsal infeksi C1LII RUANG Ilmu Kesehatan Anak RSDK, Semarang. Anak laki-laki dengan umur 2 bulan 17 hari, BB 5,15 kg, PB 56 cm. Keadaan Umum Nadi Suhu Kulit Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Tenggorok Leher : Sadar, tampak sesak, tanda-tanda dehidrasi (+) sianosis (-) Tanda Vital : : 120 X/ menit, Isi dan tegangan cukup : 39 C (rektal) :Pucat (-), ikterik (-), sianosis (-) :Mesosefal, lingkar kepala 40 cm, UUB belum menutup : Konjungtiva palpebra anemis (-), Sklera ikterik (-), air mata (+), kelopak mata cekung (+) : Napas cuping hidung (+) : Sekret (-/-), nyeri tekan tragus(-/-) :Sianosis (-), bibir kering (-) : T1-1 , faring hiperemis (-) : Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-) / (-)

Frekuensi Pernapasan : 56 X/ menit

6

Dada : Paru

I Pa Pe A

:Simetris,

retraksi

suprasternal

(+),

retraksi

epigastrial (+). :Stem fremitus kanan = kiri, tidak ada bagian dada yang tertinggal saat bernafas :Sonor seluruh lapangan paru : Suara Dasar: vesikuler Suara Tambahan: hantaran (+)/ (+) Wheezing (-) / (-) RBH nyaring Jantung I Ronki basah halus nyaring (+)/(+) : Iktus kordis tak tampak Medio Klavikularis Sinistra, tdk melebar, tdk kuat angkat, thrill (-) Pe :Batas jantung dalam batas normal A :Suara jantung I-II Normal, bising (-), gallop (-), irama reguler, aktivitas cukup, frekuensi jantung 120 x/menit. Abdomen I A : Datar, venektasi (-) :Bising usus (+) meningkat Pa :Iktus kordis teraba di sela iga V, 2 cm medial Linea

Pe :tympani, pekak sisi (+)N, pekak alih (-) Pa :hepar/ lien tak teraba, Nyeri tekan (-), defans muskular (-), turgor kembali lambat o o Anggota gerak Superior Akral dingin Sianosis Capillary refill Edema Inferior -/-/ 60 x/menit dan nadi 160 x/menit. (7,8) Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan elektrolit. Pemeriksaan elektrolit perlu dilakukan untuk mengetahui gangguan keseimbangan elektrolit, karena penderita dengan panas tinggi dan frekuensi napas yang meningkat dapat menyebabkan evaporasi cairan berlebihan.(3) Foto polos thoraks dapat membantu menegakkan diagnosis. Pada bronkopneumonia didapatkan kelainan radiologis paru yang dapat berupa infiltrat lokal maupun tersebar atau juga konsolidasi lobus paru. Namun perlu ditekankan bahwa gejala klinis dan pemeriksaan fisik memegang peranan