BPH Urologi

download BPH Urologi

of 20

  • date post

    11-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    33
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Urologi

Transcript of BPH Urologi

  • 5BAB 2

    TINJAUAN KEPUSTAKAAN

    2.1 Histologi Prostat

    Sebelum melanjutkan perbahasan secara lebih dalah mengenai penyakit BPH dan

    kanker prostat, harus dilihat terlebih dahulu prostat itu sendiri secara normal.

    Histologi prostat penting diketahui supaya mudah dalam melihat perbedaan apabila

    adanya kelainan pada gambaran mikroskopik prostat.

    Secara umumnya, kalenjar prostat terbentuk dari glandular fibromaskuler dan

    juga stroma, di mana, prostat berbentuk piramida, berada di dasar musculofascial

    pelvis dimana dan dikelilingi oleh selaput tipis dari jaringan ikat (gbr 2.1) (McNeal

    1988, Dixon et al, 1999).

    Gambar 2.1: Kalenjar Prostat

    (Dikutip dari: Wheather's Functional Histology: A text and Colour Atlas 5th Edition)

    Universitas Sumatera Utara

  • 6Lanjutan dari yang di atas, secara histologinya, prostat dapat dibagi menjadi 3

    bagian atau zona yakni perifer, sentral dan transisi. Zona perifer, memenuhi hampir

    70% dari bagian kalenjar prostat di mana ia mempunyai duktus yang menyambung

    dengan urethra prostat bagian distal. Zona sentral atau bagian tengah pula mengambil

    25% ruang prostat dan juga seperti zona perifer tadi, ia juga memiliki duktus akan

    tetapi menyambung dengan uretra prostat di bagian tengah, sesuai dengan bagiannya.

    Zona transisi, atau bagian yang terakhir dari kalnjar prostat terdiri dari dua lobus, dan

    juga seperti dua zona sebelumnya, juga memiliki duktus yang mana duktusnya

    menyambung hampir ke daerah sphincter pada urethra prostat dan menempati 5%

    ruangan prostat. Seluruh duktus ini, selain duktus ejakulator dilapisi oleh sel sekretori

    kolumnar dan terpisah dari stroma prostat oleh lapisan sel basal yang berasal dari

    membrana basal (gbr 2.2) (Blacklock 1974; McNeal 1988; Dixon et al. 1999).

    Gambar 2.2: Tiga bagian dari kalenjar prostat

    (zona perifer, sentral dan transisi)

    (Dikutip dari: Wheather's Functional Histology: A text and Colour Atlas 5th Edition)

    Universitas Sumatera Utara

  • 72.2 Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

    Sebelumnya, sudah dijelaskan secara umum tentang histologi prostat.

    Selanjutnya akan dibahas mengenai kelainan yang sering terjadi pada prostat yakni

    benign prostatic hyperplasia (BPH). BPH adalah merupakan suatu kelainan di mana

    terjadinya pembesaran jinak pada prostat, akan tetapi ini tidak akan berlanjut menjadi

    ganas. Untuk mengetahui dengan lebih dalam, kita terlebih dahulu akan membahas

    mengenai pengertian dari BPH itu sendiri melalui beberapa sumber, patogenesis dan

    juga secara histopatologi, sesuai dengan penelitian yang akan dijalankan yaitu melihat

    gambaran histopatologi penyakit ini.

    2.2.3 Pengertian BPH

    BPH, secara umumnya boleh dinyatakan sebagai pembesaran prostat jinak. Maka

    jelas dari pengertian secara umum sebelumnya, terdapatnya seuatu yang

    menyebabkan prostat membesar. Hiperplasia adalah penambahan ukuran suatu

    jaringan yang disebabkan oleh penambahan jumlah sel yang membentuknya.

    Maka dapat kita nyatakan bahwa hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat

    yang jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar. Namun orang sering

    menyebutnya dengan hipertrofi prostat, namun secara histologi yang dominan

    adalah hiperplasia dibanding hipertrofi (Anonim, 2009).

    Sebagaimana wujudnya perbedaan dalam nama BPH itu sendiri,

    pengertiannya turut ikut berbeda dan ini didasarkan atas bagaimana BPH itu

    dipahami. BPH dapat didefenisikan secara histologi dan juga secara klinikal.

    Masing-masing pengertian akan dapat dinyatakan secara khusus selanjutnya.

    Secara histologi, BPH dapat didefenisikan sebagai pembesaran nodular

    secara regional dengan kombinasi poliferasi stroma dan glandular yang berbeda

    (Berry SJ, 1984). Ini dapat kita dinyatakan secara khusus, bahwa BPH ini

    merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya peningkatan sel epitel dan

    sel stroma di dalam daerah periurethra pada prostat (gbr 2.3).

    Universitas Sumatera Utara

  • 8Gambar 2.3: Histopatologi BPH menunjukkan adanya terjadi pembesaran

    nodular kalenjar prostat.

    (Dikutip dari: http://library.med.utah.edu/WebPath/MALEHTML/MALE072.html)

    Pengertian BPH secara klinikal, menurut NCI: Definition of Cancer Terms,

    BPH adalah suatu pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh hiperplasia

    beberapa atau semua komponen dari prostat yang meliputi jaringan dari kalenjar

    maupun jaringan fibromuskuler yang menyebabkan terjadinya penyumbatan

    uretra prostat dan brsifat non-kanker.

    Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa BPH adalah

    pembesaran yang terjadi pada kelenjar prostat yang dapat menyebabkan prostat

    membesar, jika dilihat secara patologi anatomi, pembesaran ini menganggu baik

    kalenjar itu sendiri dan boleh berpoliferasi dan membesar ke bagian bersebelahan.

    2.2.4 Etiologi dan Patogenesis BPH

    Sebenarnya, sedikit yang diketahui mengenai etiologi dan patogenesis BPH, maka

    sebab itu, penulis menggabungkan keduanya dan membahasnya secara umum.

    Sehingga kini, setakat yang diketahui, terdapat dua faktor penyebab penyakit BPH

    ini yakni usia dan hormon androgen.

    Universitas Sumatera Utara

  • 9 Sebagaimana dinyatakan pada pernyataan sebelum ini, usia mungkin

    menjadi faktor penyebab terjadinya BPH, akan tetapi ini tidak berlaku pada pria

    yang menjalani tindakan kastrasi prapubertas (A.K. Abbas et al, 2005). Oleh

    karena itu maka faktor usia dan hormon androgen sangat berpengaruh

    menyebabkan terjadinya BPH.

    (Gambar 2.4: Kalenjar prostat yang membesar, di mana normalnya adalah

    cuma sebesar 3 hingga 4 cm.)

    (Dikutip dari: http://library.med.utah.edu/WebPath/jpeg1/MALE041.jpg)

    Secara khususnya, pria memproduksi hormon terpenting di dalam

    reproduksi, yakni hormon testosteron dan sedikit hormon estrogen (Edwards JE et

    al, 2002). Pada saat seseorang pria itu mulai berumur, maka jumlah testosteron

    yang aktif di dalam darah menurun dan kadar estrogen meningkat. Peningkatan

    ini ditambah pula dengan substansi lainnya dipercayai mempercepat pertumbuhan

    sel pada kalenjar prostat dan sehingga pada akhirnya menybabkan terjadinya BPH

    (Rachman, 2009).

    Universitas Sumatera Utara

  • 10

    (Gambar 2.5: Menunjukkan corpora amylacea di dalam salah satu kalenjar

    prostat)

    (Dikutip dari: Wheather's Functional Histology: A text and Colour Atlas 5th

    Edition)

    Secara histopatologi pula, prostat ada mensekresi kan produk dimana ia

    memenuhi hampir separuh dari volume cairan seminal. Cairan ini merupakan

    cairan halus yang kaya dengan asam sitrat beserta enzim proteolitik termasuk

    fibrinolisin yang bertindak mencairkan kembali semen yang berkoagulasi setelah

    dilepaskan ke dalam vagina. Akan tetapi, sisa cairan ini yang tersisa dan mungkin

    tidak dilepaskan akan terkumpul di dalam beberapa kalenjar untuk membentuk

    apa yang dinamakan sebagai corpora amylacea, yang mana meningkat sejalan

    usia dan bisa terjadinya kalsifikasi (gbr 2.3) (Young Barbara et al, 2006).

    2.2.5 Imunohistokimiawi

    Perbahasan secara histopatologi merupakan lanjutan dari subtopik sebelumnya, ini

    adalah bagi membolehkan kita agar lebih memahami akan pewarnaan dan kaedah

    Universitas Sumatera Utara

  • 11

    dalam mengetahui dengan lanjut akan reaksi bagian dalam prostat terhadap

    antibodi yang diberikan, beserta karakteristik el tersbut secara umum.

    Setelah dilakukan proses imunohistokimia, kita dapat lihat pada bagian

    fibroleiomyomatous BPH, menunjukkan reaksi yang kuat dengan antibodi

    terhadap vimentin, desmin dan aktin. Lapisan sel basal dapat digambarkan dengan

    adanya terjadi reaksi keratin strata-korneum. Ekspresi antigen spesifik prostat

    (PSA) dan fosfatase asam prostat spesifik (PAP) akan memberikan hasil negatif

    pada lapisan sel basal. Sel-sel sekretori pula menunjukkan menunjukkan yang

    sebaliknya. PSA dan PAP menunjukkan pewarnaan yang kuat. Kadang-kadang

    chromogranin A-sel endokrin menunjukkan hasil yang positif, akan tetapi antara

    epitel kelenjar sekretori hiperplastik terdeteksi negatif. Pewarnaan lapisan sel

    basal oleh reaksi lapisan korneum-keratin telah ditemukan terjadi satu perbedaan

    yang signifikan antara indeks diagnostik khas hiperplasia dan atipikal serta

    neoplasia intraepitel prostat (PIN) dari nilai moderat dan parah, dan antara kanker

    prostat kelenjar. Pola ekspresi stratum corneumkeratin menjadi lebih merata

    dengan peningkatan atypia dan akhirnya menghilang, sesuai dengan

    menghilangnya lapisan sel basal dan di dalam kasus karsinoma (gbr 2.5), sel

    basal hiperplasia prostat ditandai oleh ekspresi dari stratum corneumkeratin yang

    kuat (M 903) dan dengan kurangnya pewarnaan PSA atau PAP (Helpap B, 1980).

    Gambar 2.6: Pewarnaan sel basal pada hiperplasia atipikal dengan stratum-

    corneumkeratin

    (Dikutip dari: https//www.graminex.com.au)

    Universitas Sumatera Utara

  • 12

    Intranuklear estrogen (ER) dan progesteron (PR) reseptor tidak ditemukan

    dalam sel sekretori. Namun, sel-sel basal dalam prostat hiperplastik dapat

    mengekspresikan reseptor ini. Resept