BP

Click here to load reader

  • date post

    30-Oct-2014
  • Category

    Documents

  • view

    109
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of BP

BAB I PENDAHULUAN Bells Palsy merupakan salah satu gangguan neurologik berupa paresis atau paralisis nervus fasialis perifer yang biasanya bersifat unilateral, terjadi secara tiba-tiba dengan penyebab yang tidak diketahui(idiopatik) atau tidak terdapat bukti penyakit lain yang dapat mengakibatkan lesi nervus fasialis.(2,3,4,7) Pada Bells Palsy terjadi kelumpuhan fasialis perifer akibat proses non-supuratif, nonneoplasmatik, non-degeneratif primer namun sangat mungkin akibat edema dan iskemi. Parese saraf fasialis perifer merupakan kelemahan jenis lower motor neuron yang terjadi bila nukleus atau serabut distal saraf fasialis terganggu, yang menyebabkan kelemahan otot-otot wajah. Bells palsy merupakan penyebab paralisis fasial yang paling sering di dunia dan bertanggung jawab terhadap sekitar dua per tiga dari seluruh kasus paralisis nervus fasialis. Insiden Bells palsy dilaporkan sekitar 60-75% dari semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut.(2,10) Prevalensi rata-rata berkisar antara 1530 pasien per 100.000 populasi per tahun. Wanita dan pria dapat mengalami Bells Palsy dengan perbandingan yang sama.(2,17) Insidensi pada wanita hamil 3,3% lebih tinggi. (17) Pasien diabetes memiliki resiko 4-5 kali lipat untuk tekena bells palsy.(17) Usia rata-rata terjadinya onset Bells Palsy adalah sekitar 40 tahun, tetapi penyakit ini bisa terjadi pada segala usia. (2) Insidensi terendah adalah pada anak-anak di bawah 10 tahun dan meningkat pada usia 10-29 tahun, insidensi yang stabil terjadi pada usia 30-69 tahun dan insidensi tertinggi adalah pada orang yang berusia lebih dari 70 tahun. (2) Sisi kiri dan kanan wajah dapat terkena dengan kemungkinan kejadian yang sama, kurang dari 1% kasus terjadi dengan lesi bilateral.(2,8,17) Sebagian besar pasien mengalami penyembuhan yang sempurna, tetapi beberapa pasien dapat mengalami kelemahan wajah yang permanen.(2) Sekitar 8-10% kasus berhubungan dengan riwayat keluarga yang pernah menderita penyakit ini. (2,17) Belum adanya gold standard diagnosis untuk penyakit Bells Palsy menyebabkan sebagian orang yang keliru menganggap setiap kelumpuhan pada nervus fasialis dapat didiagnosis sebagai Bells Palsy. Sedangkan kelumpuhan nervus fasialis dengan disertai bukti penyakit lain yang mendasari atau sebagai penyerta dari

penyakit lain tidak dapat didiagnosis sebagai Bells Palsy melainkan paralisis nervus fasialis. Selain itu hingga saat ini penatalaksanaan penyakit ini masih merupakan sebuah kontroversi karena etiologinya pun belum dapat dipastikan, serta berdasarkan survey 70-80% kasus dapat sembuh spontan walaupun beberapa sumber mengatakan bahwa pengobatan dengan kortikosteroid dan acyclovir dapat memberikan hasil yang lebih baik.(17) Pada sebagian besar penderita Bells Palsy kelumpuhan yang terjadi dapat sembuh spontan, namun pada beberapa kasus kelumpuhan sembuh dengan meninggalkan gejala sisa. Gejala sisa ini dapat berupa kontraktur dan sinkinesis. Permasalahan yang ditimbulkan Bells Palsy cukup kompleks, diantaranya masalah fungsional, kosmetika dan psikologis sehingga dapat merugikan tugas profesi penderita, dapat timbul permasalahan kapasitas fisik (impairment) antara lain berupa asimetris wajah, rasa kaku dan tebal pada wajah sisi lesi, penurunan kekuatan otot wajah pada sisi lesi, potensial terjadi kontraktur dan perlengketan jaringan, potensial terjadi iritasi pada mata sisi lesi. Sedangkan permasahan fungsional (fungsional limitation) berupa gangguan fungsi yang melibatkan otot-otot wajah, seperti makan dan minum, berkumur, gangguan menutup mata, gangguan bicara dan gangguan ekspresi wajah. Semua hal ini dapat menyebabkan individu tersebut menjadi tidak percaya diri yang akhirnya mempengaruhi kualitas hidup,produktivitas dan kehidupan psikososial individu tersebut. Adapun tujuan penulisan referat ini adalah agar dokter, khususnya penulis sendiri, memiliki bekal pengetahuan memadai dalam menghadapi pasien dengan Bells Palsy. Oleh karena itu dalam referat ini akan dikemukakan upaya diagnosis dan penatalaksanaan yang dapat dilakukan oleh dokter umum untuk menghadapi pasien dengan paresis nervus fasialis, Bells Palsy pada khususnya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa referat ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

1

BAB II PEMBAHASAN II.1 Anatomi Nervus Fasialis Nervus fasialis merupakan saraf cranial terpanjang yang berjalan di dalam tulang temporal. Saraf fasialis mempunyai 2 subdivisi , yang pertama adalah saraf fasialis propius(serabut somato-motorik) yaitu saraf fasialis yang murni untuk mempersarafi otot- otot ekspresi wajah, otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah, kedua adalah saraf intermedius (pars intermedius wisberg), yaitu subdivisi saraf yang lebih tipis yang membawa saraf aferen otonom, eferen otonom, aferen somatis. (3,14)

Gambar 1. Divisi Nervus Fasialis

Aferen otonom(serabut visero-sensorik) mengantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga depan lidah.(14) Sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah dihantar melalui saraf lingual ke korda timpani, kemudian ke ganglion genikulatum dan kemudian ke nukleus traktus solitarius.(3) Eferen otonom (parasimpatik eferen) yang mengandung serabut viseromotorik datang dari nukleus salivatorius superior.(14) Terletak di kaudal nukleus. Satu

2

kelompok akson dari nukleus ini, berpisah dari saraf fasilalis pada tingkat ganglion genikulatum dan diperjalanannya akan bercabang dua yaitu ke glandula lakrimalis dan glandula mukosa nasal. Kelompok akson lain akan berjalan terus ke kaudal dan menyertai korda timpani serta saraf lingualis ke ganglion submandibularis. Dari sana, impuls berjalan ke glandula sublingualis dan submandibularis, dimana impuls merangsang salivasi. Selain itu serabut ini juga mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung dan sinus paranasal.(14) Aferen somatic(serabut somatosensorik) memberikan rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh saraf trigeminus.(14) Daerah overlapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf atau tumpang tindih) ini terdapat di lidah, palatum, meatus akustikus eksterna, dan bagian luar membran timpani. (14) Nervus fasialis mempunyai dua inti yaitu inti superior dan inferior. Inti superior mendapat persarafan dari korteks motor secara bilateral, sedangkan inti inferior hanya mendapat persarafan ipsilateral.(3) Inti saraf ketujuh terletak pada daerah pons. Inti ini mendapat informasi dari gyrus precentralis dari korteks motoric yang mengurus persarafan dahi ipsilateral dan kontralateral. Traktus kortikalis serebrum juga mempersarafi belahan kontralateral bagian wajah lainnya.(3) Nukleus motoric hanya mengurus saraf fasialis ipsilateral. Serabut dari kedua sisi berjalan mengelilingi inti/nucleus nervus abdusen(N.VI), kemudian keluar di permukaan lateral pons dan meninggalkan pons bersamasama dengan nervus VIII(vestibulocoklearis) dan nervus intermedius(Whrisberg), masuk ke tulang temporal melalui meatus akustikus internus.(3,14) Setelah masuk ke dalam tulang temporal, N.VII(N.fasialis) akan berjalan dalam suatu saluran tulang yang disebut kanali fallopi atau canalis fasialis.(1)

3

Gambar 2. Perjalanan nervus fasialis dalam tulang temporal

Dalam perjalanan di dalam tulang temporal, saraf VII dibagi dalam 3 segmen, yaitu segmen labirin, segman timpani dan segmen mastoid. Segmen labirin terletak antara akhir meatus akustikus internus dan ganglion genikulatum . panjang segmen ini 2-4 milimeter.(1) Segmen labirin merupakan bagian tertipis dari saraf fasialis yang berada di dalam kanalis fallopii. masuknya.(7) (7)

Bagian tersempit terletak pada pintu

Bagian tersempit di pintu masuk kanalis fallopii inilah yang

menjadi predisposisi terjadinya strangulasi saraf jika terjadi oedema atau pembengkakkan.(7) Vaskularisasi pada daerah ini cukup unik karena segmen ini merupakan satu-satunya bagian dari saraf fasialis yang tidak memiliki anastomosis dengan arteri-arteri lain.(7) Segmen timpani (segmen vertikal), terletak di antara bagian distal ganglion genikulatum dan berjalan ke arah posterior telinga tengah , kemudian naik ke arah tingkap lonjong (venestra ovalis) dan stapes, lalu turun kemudian terletak sejajar dengan kanal semisirkularis horizontal. Panjang segmen ini kira-kira 12 milimeter.(1) Segmen mastoid ( segmen vertikal) mulai dari dinding medial dan superior kavum timpani . perubahan posisi dari segman timpani menjadi segmen mastoid, disebut segman piramidal atau genu eksterna. Bagian ini merupakan bagian paling posterior dari saraf VII, sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi. Selanjutnya segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju segmen

4

stilomaoid . panjang segmen ini 15-20 milimeter.(1) Ganglion mengandung badan sel untuk pengecapan lidah anterior dan untuk sensasi raba, nyeri dan suhu kanalis akustikus internus. Sejumlah serabut saraf melewati ganglion dan membentuk saraf petrosus superfisialis mayor(parasimpatis). Saraf ini berjalan sepanjang dasar fosa media dan masuk ke dalam kanalis pterigoideus. Selanjutnya melintas menuju ganglion sfenopalatinum dan beranastomosis dengan serabut yang mengurus apparatus lakrimalis. Serabut-serabut fasialis membuat belokan tajam ke posterior pada ganglion genikulatum dan berjalan turun lewat segmen labirin menuju segmen timpani dari saraf. Saraf memasuki segmen timpani dan membuat genu(putaran) kedua. Di sini, di dekat fenestra ovalis saraf menjadi terpapar dan dapat diraba dalam telinga tengah. Saraf berjalan turun dari genu secara vertical dan mengeluarkan cabang untuk otot stapedius. Di bawah tingkat ini, muncul cabang kedua dan kembali masuk ke dalam liang telinga sebagai saraf korda timpani. Korda membawa serabut-serabut nyeri, raba, dan suhu serta pengecapan untuk duapertiga anterior lidah. Saraf ini juga mengu