blok 5 pbl (1)

download blok 5 pbl (1)

of 13

  • date post

    25-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    4

Embed Size (px)

description

Blok 5

Transcript of blok 5 pbl (1)

Jari-Jari Tangan Kanan BengkakDebora Lusiana Herman10 2010 130Fakultas KedokteranUniversitas Kristen Krida Wacana Jakarta Barat

Pendahuluan Dalam tubuh manusia terdapat tulang yang tersusun membentuk tubuh manusia yang terlihat seperti sekarang. Tulang membentuk rangka untuk membentuk bentuk tubuh. Tulang juga berfungsi sebagai tempat untuk melekatnya organ lain yang salah satunya adalah otot. Otot melekat pada tulang. Dalam makalah kali ini, kami akan membahas tentang struktur tulang dan otot yang terutama adalah pada tangan, mekanisme kerja otot dan juga metabolisme otot dalam tubuh manusia. Dari makalah ini, kami berharap dapat lebih mengerti tentang tulang dan otot, peran dan proses terbentuknya. Makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas Problem Based Learning pada blok 5 ini. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Pembahasan Struktur Otot dan Tulang pada Tangan Secara Makrokopis

Struktur Tulang Tangan1

Gambar 1. Tulang tangan.

Struktur Otot Tangan1 Bagian Dalam

Gambar 2. Otot-otot telapak tangan lapisan dalam.

Bagian Otot Punggung Tangan1

Gambar 3. Otot-otot punggung tangan.

Secara Mikrokopis

Struktur TulangTulang terdiri atas dua jenis jaringan: jaringan kompak (padat) dan jaringan seperti spon. Jaringan kompak tulang keras dan padat. Dijumpai dalam tulang pipih dan tulang pipa dan sebagai lapisan tipis penutup semua tulang.2,3Struktur kasar tulang pipa seperti tulang anggota badan memiliki kedua varietas jaringan tulang. Bila digergaji secara longitudinal (memanjang) maka dapat dilihat ada jaringan kompak dan jaringan bentuk jala. Tulang pipa dapat dibagi dalam batang atau bagian tengahnya dan kedua ujungnya. Bila batangnya dipotong melintang maka akan tampak jaringan tulang padat dan sebuah rongga di tengahnya kanalis (saluran) medularis, berisi sumsum tulang yang berwarna kuning. Bila ujung tulang pipa yang dipotog, maka ruangan dalam jaringan kanselus tampak berisi sumsum tulang yang merah. Dalam sumsum kuning terbanyak terdapat sel lemak dalam sumsum merah terdapat sangat banyak sel darah merah. Sumsum tulang yang merah ialah tempat terbentuknya baik sel darah merah maupun sel darah putih.2Struktur halus, irisan transversal (melintang) dalam lapis tulang yang padat memperlihatkan lukisan yang indah berupa lingkaran-lingkaran. Dalam pusat tiap lingkaran terdapat saluran Havers. Lempeng-lempeng tulang atau lamela disusun konsentris sekitar saluran dan di antara lempeng-lempeng itu terdapat ruangan kecil-kecil yang disebut lakuna. Ruangan-ruangan ini mengandung sel-sel tulang, saling bersambungan satu sama lain, dan juga disambungkan dengan saluran Havers di tengah-tengah oleh saluran-saluran kecil bernama kanalikuli. Setiap lukisan yang terbentuk dengan demikian merupakan satu sistem Havers yang lengkap terdiri atas: Saluran Havers di pusatnyya berisi urat saraf, pembuluh darah dan aliran limfe, lamela yang tersusun konsentris, lakuna yang mengandung sel tulang dan kanalikuli yang memancar di antara lakuna dan menggandengkannya dengan saluran Havers.2Daerah di antara sistem-sistem Havers ini terjadi atas lamela interstisiil, sedangkan kanalikuli tersusun agak berlainan. Lamela dalam jaringan bentuk jala tersusun kurang teratur dan tidak mempunyai saluran Havers, sedangkan pembuluh darah bercabang-cabang dalam ruangan interstisiil yang berisi sumsum untuk memberi persedian darah kepada pembuluh darah yang lebih halus.2Struktur OtotSistem otot terdiri dari sejumlah besar otot yang bertanggung jawab atas gerakan tubuh. Otot-otot volunter melekat pada tulang, tulang rawan, ligamen, kulit atau otot lain melalui struktur fibrosa yang disebut tendon dan aponeurosis. Serabut-serabut otot volunter bersama selubung sarkolema, masing-masing tergabung dalam kumparan oleh endomisium dan dibungkus oleh perimisium. Kelompok serabut tersebut digabungkan oleh selubung yang lebih padat, yang disebut epimisium dan gabungan fasikulus ini membentuk otot volunter badan individu.2-4Semua otot memiliki suplai darah yang baik dari arteri-arteri di dekatnya. Arteriol pada perimisium memberi cabang kapiler yang berjalan dalam endomisium dan melintasi serabut-serabut. Pembuluh arah dan saraf memasuki otot bersama-sama di daerah hilum.2Kebanyakan otot mempunyai tendon pada salah satu atau kedua ujungnya. Tendon terdiri dari jaringan fibrosa dan biasanya berbentuk seperti tali, meskipun pada beberapa otot yang pipih tali tersebut digantikan oleh suatu lembaran fibrosa kuat yang disebut aponeurosis. Jaringan fibrosa juga membentuk lapisan pelindung atau selubung otot, yang dikenal sebagai fasia. Bila satu otot menempel pada otot lain, serabut-serabut otot ini bisa saing memilin, perimisium otot yang satu bersatu dengan perimisium otot yang lain atau keduanya bisa menggunakan tendon yang sama. Jenis hubungan yang ketiga terdapat pada otot-otot dinding abdomen, di mana serabut-serabut aponeurosis saling menyilang, membentuk linea alba, yang dapat terlihat sebagai cekungan dangkal di atas umbilikus.2Ciri struktural yang paling menonjol pada serat otot rangka adalah ada banyak miofibril. Setiap miofibril terdiri dari susunan teratur unsur-unsur sitoskeleton yang sangat terorganisasi,yaitu filamen tebal yang bergaris tengah 12 sampai 18 nm dan panjang 1,6 m adalah susunan khusus dari protein miosin sedangkan filamen tipis yang bergaris tengah 5 sampai 8 nm dan panjang 1,0 m, keduanya terutama dibentuk oleh protein aktin.3,4Dilihat di bawah mikroskop cahaya, sebuah miofibril yang berada dalam keadaan relaksasi memperlihatkan pita-pita gelap (pita A) dan pita terang (pita I) berganti-ganti. Pita-pita dari semua miofibril terletak sejajar satu sama lain dan secara kolektif menimbulkan gambaran seran lintang pada serat otot rangka. Serangkaian tumpukan filamen tebal dan tipis yang berganti-ganti dan sedikit tumpang tindih satu sama lain membentuk pita A dan pita I. Pita A terdiri dari tumpukan filamen tebal bersama dengan bagian dari filamen yang tipis yang tumpang tindih di kedua ujung filamen tebal. Filamen tebal hanya ditemukan di pita A dan terlentang di seluruh lebarnya. Daerah yang lebih terang di dalam bagian tengah pita A, tempat filamen-filamen tipis tidak bertemu dikenal sebagai zona H.3,4Pita I terdiri dari bagian filamen tipis sisanya yang tidak menonjol ke pita A. Di bagian tengah pita I yang memadat terlihat sebuah garis Z vertikal. Daerah antara dua garis Z disebut sarkomer. Garis Z adalah protein sitoskeleton yang menggepeng sperti piringan yang menghubungkan filamen-filamen tipis dari dua sarkomer yang berdampingan. Selama pertumbuhan, otot mengalami peningkatan panjangnya karena penambahan sarkomer, bukan karena peningkatan ukuran sarkomer seperti garis-garis Z yang menahan sarkomer-sarkomer agar tetap menyatu dalam suatu rantai di sepanjang miofibril, terdapat suatu protein penunjang yang menahan filamen-filamen tebal secara vertikal di dalam setiap tumpukan. Protein-protein tersebut dapat dilihat sebagai garis M, yang berjalan secara vertikal di bagian tengah pita A dan di tengah zona H.3,4Dengan mikroskop elektron, dapat terlihat jembatan silang yang halus berjalan dari setiap filamen tebal ke arah filamen-filamen tipis di sekitarnya di daerah tempat filamen tebal dan tipis bertumpang tindih. Secara tiga dimensi, filamen-filamen tipis tersusun secara heksagonal mengelilingi filamen tebal. Dari setiap filamen tebal menonjol jembatan-jembatan silang ke enam arah menuju filamen tipis yang mengelilinginya. Setiap filamen tipis, sebaliknya dikelilingi oleh tiga filamen tebal. Sebuah serat otot dapat mengandung 16 miliar filamen tebal dan 32 miliar filamen tipis, semua tersusun dengan pola yang sangat akurat di dalam miofibril.3,4

Mekanisme Kerja OtotBila suatu otot berkontraksi, salah satu ujungnya biasanya diam sedangkan ujung yang lain bergerak ke arah ujung yang diam tersebut. Ujung yang diam disebut origo, sedangkan yang bergerak disebut insersi. Kadag-kadang otot bisa digerakkan sedemikian rupa sehingga insersinya diam dan origo bergerak ke arah insersi.4Otot-otot harus melintasi sendi yang digerakkannya. Beberapa otot melintasi sendi yang digerakkannya. Otot hanya bekerja melalui kegiatan kontraksi dan kegiatan menarik. Otot tidak bisa mendorong, meskipun bisa berkontraksi tanpa memendek sehingga mempertahankan sendi diam pada posisi tertentu. Bila kontraksi hilang, otot menjadi lunak, tetapi tidak memanjang sampai ia teregang oleh kontraksi otot yang berlawanan kerjanya (otot antagonis).4Otot tidak pernah bekerja sendiri. Bahkan gerakan paling sederhana sekalipun memerlukan kerja banyak otot. Setiap otot harus berkontraksi dan setiap otot antagonis harus rileks untuk memungkinkan gerakan yang halus tanpa setakan. Kerja harmonis otot-otot ini disebut koordinasi otot.4Timbul dan berakhirnya kontraksi otot terjadi dalam urutan tahap-tahap berikut:1. Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai ke ujungnya pada serabut otot.2. Di setiap ujung, saraf menyekresi substansi neurotransmiter, yaitu asetilkolin, dalam jumlah sedikit.3. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot untuk membuka banyak kanal bergerbang asetilkolin melalui molekul-molekul protein yang terapung pada membran.4. Terbukanya kanal bergerbang asetilkolin memungkinkan sejumlah besar ion natrium untuk berdifusi ke bagian dalam membran serabut otot. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial aksi pada membran.5. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serabut otot dengan cara yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut saraf. 6. Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran otot, dan banyak mengalir melalui pusat serabut otot. Di sini, potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion kalsium, yang telah tersimpan di dalam retikulum ini.7. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan