Berkah Alam Yang Terancam

download Berkah Alam Yang Terancam

of 1

  • date post

    04-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    9
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Kemiskinan Multidimensi, Kemiskinan, SDA, Tambang

Transcript of Berkah Alam Yang Terancam

  • 14 KO M PA S, J U M AT, 2 0 F E B R UA R I 2 01 5IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN

    ErupsiRaung MasihB erlang sungBANYUWANGI, KOMPAS Aktivitas vulkanik Gunung Ra-ung di perbatasan Banyuwangi,Jember, dan Bondowoso, JawaTimur, masih fluktuatif. Erupsikecil diiringi embusan asap dangempa tremor juga terdeteksi.

    Hingga Kamis (19/2), warga disekitar lereng Raung masih men-dengar suara gemuruh. Pos pe-mantau gunung api juga mene-rima laporan ada hujan abu tipisdi Kecamatan Sumberjambe,Jember, akhir Januari lalu.

    Tremor masih terdeteksi. Ke-pulan asap putih setinggi 100meter mengarah ke barat-utaraatau Jember-Bondowoso, katapetugas pengamat Gunung ApiRaung Balok Supriadi, kemarin.

    Meski demikian, Raung masihberstatus Waspada. Aktivitas gu-nung belum meningkat tajam.

    Selama ini, aktivitas Raung di-pantau dengan alat dan peng-amatan visual. Lima alat yangdipasang terdiri dari seismografdi empat titik penjuru dan alattiltmeter yang mendeteksi defor-masi gunung. Namun, sejak 1Februari 2015, tiltmeter r u sa ktersambar petir.

    Demi memantau aktivitas Ra-ung lebih detail, tim dari PusatVulkanologi dan Mitigasi Ben-cana Geologi diterjunkan ke la-pangan, Selasa lalu. Tim akanmeneliti detail aktivitas Raung.

    Meski ada tanda-tanda aktif,warga sekitar tak khawatir. Mere-ka beraktivitas seperti biasa, se-perti memanen cengkeh, mengi-kat selada, dan mencari rumput.

    Asiati (50), warga Dusun Kra-jan, Desa Sumberarum, Keca-matan Songgon, Banyuwangi,mengatakan, warga terbiasamendengar dentuman dari pun-cak Raung sejak 2012. Suara itumasih terdengar, tetapi tidak se-sering dua tahun lalu.

    Dulu, awal-awal Raung me-letus, kami takut, tak bisa tidur,bahkan bersiap-siap mengungsi.Kini tidak lagi, k a t a ny a .

    Kepala Badan PenanggulanganBencana Daerah BanyuwangiKusiyadi mengatakan, pihaknyaterus memonitor Raung. Jika di-perlukan, BPBD akan memba-ngun posko darurat. (NIT)

    EKOLOGI MANGGARAI

    Berkah Alam yang TerancamKisah kekayaan perut bumi Manggarai bukanlah halbaru. Tiga abad silam, Pemerintah Kolonial Belandamenemukan kandungan mineral dan bahan tambangdi wilayah tersebut. Namun, eksplorasi kala itudihentikan karena justru menimbulkan konflik sosial.

    Oleh YULIANA RINI DY

    Beratus tahun lewat, geliatkegiatan pertambangan diKabupaten Manggaraidan Manggarai Timur, NusaTenggara Timur, mulai terlihat.Eksploitasi kekayaan alam diKabupaten Manggarai danManggarai Timur menjanjikankeuntungan ekonomi tinggi bagipengelola dan daerah. Belum la-gi harapan penyerapan tenagakerja lokal.

    Namun, pertanyaannya, apa-kah manfaat ekonomi itu mem-buat usaha pertambangan bisamenjadi yang utama daripadapertanian? Pertanian telah men-jadi sumber penghidupan ma-syarakat, berabad lamanya.

    Beberapa tahun terakhir,sumbangan sektor pertambang-an bagi kegiatan ekonomi di ke-dua kabupaten tersebut terusmeningkat. Tahun 2013, nilaikegiatan pertambangan di Ka-bupaten Manggarai mencapaiRp 38,7 miliar, sedangkan diManggarai Timur Rp 28 miliar.Padahal, empat tahun sebelum-nya, nilainya baru setengahnya.

    Selain itu, daerah masihmendapat penerimaan dari hasilsumber daya alam (SDA). Ber-dasarkan Peraturan Menteri Ke-uangan Tahun 2014 tentangAlokasi Dana Bagi Hasil SDAPertambangan Umum, Pemerin-tah Provinsi NTT mendapat ba-gian Rp 1,19 miliar. PemerintahKabupaten Manggarai danManggarai Timur mendapat da-na bagi hasil SDA pertambanganumum masing-masing Rp 246,4juta dan Rp 178,8 juta.

    Meningkatnya penerimaandaerah tak lepas dari penerbitanizin usaha pertambangan (IUP)di kedua kabupaten. Seiring de-ngan bertambahnya IUP yangditerbitkan, penerimaan daerahberpotensi meningkat. Apalagijika eksploitasi tambang dipacu.

    Hingga akhir tahun 2014, pe-merintah daerah mengeluarkan

    28 IUP, terdiri dari 19 IUP adadi Manggarai dan 9 IUP lain diManggarai Timur. Melalui IUP,perusahaan-perusahaan pertam-bangan mendapat konsesi lahanhampir 57.000 hektar atau se-tara dengan 13,6 persen dari lu-as wilayah kedua kabupaten.

    Meski pemerintah daerahnyamengeluarkan IUP lebih sedikit,konsesi lahan di Manggarai Ti-mur justru lebih luas. Lahan38.000 hektar atau 15,1 persendari wilayah kabupaten seluas251,8 hektar itu menjadi areapenguasaan tambang. Sementa-ra, luas area konsesi di Mang-garai 18.800 hektar.

    Dalam konteks yang lebihnyata bagi masyarakat, aktivitaspertambangan bisa menyeraptenaga kerja lokal. Umumnya,mereka pekerja kasar denganpendapatan relatif rendah.

    Tambang dan pertanianPerlu disadari, aktivitas per-

    tambangan sering bersinggung-an langsung dengan pertanian.Masyarakat yang tinggal di se-kitar tambang umumnya meng-andalkan pertanian sebagai ma-ta pencarian utama. Sebut sajajagung dan padi hasil ladangserta kemiri, kakao, dan metedari hasil kebun.

    Selain itu, masyarakat jugamemelihara ternak di kebunatau pekarangan rumah. Sapi,babi, dan kambing menjadi ta-bungan yang bisa dicairkan saatada kebutuhan besar, misalnyauntuk sekolah, pesta perkawin-an, dan upacara adat. Di pesisir,masyarakat mengandalkan hasillaut untuk memenuhi kebutuh-an hidup sehari-hari.

    Berkat usaha turun-temurunitu, tingkat kesejahteraan ma-syarakat di Kabupaten Mangga-rai lebih baik dibandingkan de-ngan di Manggarai Timur. Ber-dasarkan hasil Sensus Pertanian2013, tidak kurang dari 75 per-

    sen rumah tangga di Manggaraibermata pencarian petani dannelayan. Di Manggarai Timurlebih tinggi, yakni 90 persen.

    Dari sisi nilai ekonomi, sum-bangan sektor pertanian bagiProduk Domestik Regional Bru-to (PDRB) tergolong tinggi. DiManggarai Timur, Badan PusatStatistik mencatat sumbanganpertanian pada 2013 mencapaiRp 783 miliar atau sekitar 60persen PDRB. Di Manggarai,pertanian bernilai Rp 589 miliar(33 persen PDRB).

    Tanpa ada pengaturan yangtepat, persaingan antara aktivi-tas pertambangan dan pertanianakan semakin menguat. Di se-bagian wilayah, aktivitas per-tambangan menggerus lahanpertanian, seperti di sejumlahkampung di Kecamatan Reo danKecamatan Lambaleda. Di tem-pat itu pertambangan meram-bah area l i n g ko atau kebun adat.

    Sementara, sejumlah nelayansetempat meresahkan turunnyatangkapan ikan. Sirilus (63), ne-layan di Kampung Jengkalang,Desa Wangkung, KecamatanReo, mengatakan, kini ia hanyabisa menangkap paling banyak35 ikan sekali melaut. Sebelumtambang beroperasi, tangkapanikannya bisa tiga kali lipat. Ber-kurangnya populasi ikan dite-ngarai merupakan akibat pe-nambangan yang turut merusakterumbu karang.

    Tidak hanya itu, wilayah kon-servasi pun tidak luput darike a g r e sifan kegiatan pertam-bangan. Hutan lindung di Kam-pung Gincu, Desa Robek, Ke-camatan Reo, salah satu yangterdampak langsung. MenurutGaspar Sales (54), tetua adat se-tempat, perusahaan tambangmembongkar bukit di Soga-To-rong Besi dalam kurun waktu2 0 0 7- 2 01 0.

    Bukit tersebut termasuk ka-wasan hutan lindung yang ber-fungsi daerah tangkapan air. Se-jumlah mata air di Torong Besidan Ketebe kini juga telah mati.Akibatnya, cadangan air padamusim kemarau berkurangd r a st i s.

    Jika sebatas menghitung nilaiekonomi pertanian yang hilangsaat ini akibat keberadaan tam-bang, bisa saja mengarah padakesimpulan yang keliru. Kegiat-an pertambangan memangmemberikan hasil yang tergo-long cepat dan bernilai ekonomitinggi. Sebaliknya, untuk meng-garap pertanian, diperlukan ke-sabaran dan ketekunan.

    Yang perlu diperhitungkan,setidaknya nilai ekonomi perta-nian pada masa depan. Mening-katnya populasi manusia danmerosotnya kualitas lingkungandapat membawa pada kondisiserius kelangkaan pangan. Jika

    itu yang terjadi, pangan akanmenjadi komoditas yang sangatbernilai dan mahal.

    Ditambah dengan kekayaantradisi dan nilai-nilai sakralyang terbangun dari budayabertani yang perlu diwariskankepada generasi muda di tanahManggarai. Semua itu memben-tuk sebuah nilai sosial yang ti-dak secara mudah dapat diru-muskan dalam ukuran monetersemata.

    Mineral dan bahan tambangbukanlah berkah alam yang ti-dak boleh diambil atau diman-faatkan. Namun, jelas perlu ke-arifan apakah kekayaan tersebutharus dieksploitasi atau tidak.Kini, saatnya kita berpikir ma-tang supaya berkah alam ini ti-dak berganti menjadi kutukan.Semoga.

    (LUHUR FAJAR MARTHA/DWI RUSTIONO/

    LITBANG KOMPA S)

    KEBAKARAN HUTAN

    Potensi Meningkat, Riau Siaga DaruratJAKARTA, KOMPAS Pe -merintah menyatakan status Si-aga Darurat atas peningkatan po-tensi kebakaran hutan dan lahandi Provinsi Riau. Status itu mem-bawa konsekuensi agar setiap pe-mangku kepentingan di tingkatdaerah dan pusat waspada danbertindak pada kesempatan per-tama untuk memadamkan apisebelum membesar.

    Saya sudah meminta izin ke-pada Presiden untuk siaga da-rurat di Riau. Artinya, kami se-mua siap-siap agar tak terjadi haldarurat, kata Siti Nurbaya Bakar,Menteri Lingkungan Hidup danKehutanan, Rabu (18/2), di Ja-karta. Awal pekan ini, Siti me-mimpin rapat koordinasi daerahsoal antisipasi kebakaran hutandan lahan di Riau. Sejumlah bu-pati turut hadir pada pertemuanitu, selain dihadiri gubernur.

    Berdasarkan sistem penga-wasan dan pemantauan kebakar-an hutan dan lahan Global ForestWatch yang dikembangkanWorld Resources Institute, dalamsepekan ini terdapat 34 titik apiberkeyakinan tinggi di Bengkalis(25), Pelalawan (5), dan RokanHilir (4). Sejumlah 17 titik apiberada di lahan perkebunan, 2titik api di areal konsesi hutantanaman industri (HTI), 2 titikapi di areal konsesi hak peng-

    usahaan hutan (HPH), dan lain-nya di lokasi lain. Sebagian besartitik api atau 94 persennya ber-ada di kawasan bergambut.

    Banyaknya titik api di lahanperkebunan kelapa sawit itumembuat Siti mengajak kolega-nya, Menteri Pertanian AmranSulaiman, untuk bersama-samamelakukan pengawasan di la-pangan. Saya surati MenteriPertanian dan telepon langsung,dan beliau mendukung, kata -ny a .

    Pengawasan di lapangan olehpemerintah daerah dan kalanganinternal pemilik lahan konsesiatau izin perkebunan diklaim Sitisemakin meningkat pasca audi