bangkitnya Label Lokal - bekraf.go.id · gaul, tas ransel branded, jaket keren, celana jeans, ikat...

of 20/20
Vol. 7. Juni 2018 Bernhard Suryaningrat Memenuhi Hasrat Menjadi Beda Nicholas Yuda Bertahan Berkat Identitas yang Kuat Ami Muhammad Produk Lokal Didukung Komunitas Aan Fikriyan Bangkitkan “Spirit of Making” Sebuah Bangsa Bangkitnya Label Lokal Wadah Kreativitas Anak Bangsa RETAS-June2018.indd 1 5/26/18 8:07 AM
  • date post

    11-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of bangkitnya Label Lokal - bekraf.go.id · gaul, tas ransel branded, jaket keren, celana jeans, ikat...

Vol. 7. Juni 2018

bernhard suryaningrat Memenuhi Hasrat Menjadi Beda

nicholas yudaBertahan Berkat Identitas yang Kuat

ami Muhammad Produk Lokal Didukung Komunitas

aan Fikriyan Bangkitkan Spirit of Making

Sebuah Bangsa

bangkitnya Label Lokal Wadah Kreativitas Anak Bangsa

RETAS-June2018.indd 1 5/26/18 8:07 AM

C O V E R S T O R Y

Bengkel Never Too Lavish Foto: Afri Prasetyo

16-17 | P R O F I LhidupKan KeMbali sPIrIt oF mAKING bangsaAan Fikriyan dan dua temannya berkeliling Indonesia menyebarkan budaya membuat, demi menghidupkan kembali spirit of making masyarakat Indonesia yang telah lama redup.

08-09 | P R O F I LHERET FRASTHIOMerancang MoveMent Kolaborasi Custom Culture

04-07 | W A C A N Alabel loKal bangKit MeraMbah pasar duniaEkosistem bisnis kustom khususnya custom clothing kini sedang menemukan momennya. Berbekal kreativitas dan kerja keras, para pemilik clothing line lokal mampu membangun merek sendiri. Pasar global pun mulai melirik keberadaan mereka.

10-11 | P R O F I LBERNHARD SURYANINGRAT MeMenuhi hasrat Menjadi beda

18-19 | G A L E R I F O T O

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Reta

s

Dok

umen

tasi

Prib

adi

12-14 | P R O F I L NICHOLAS YUDHAbertahan berKat Konsep identitas yangKuat

15 | P R O F I LAMI MUHAMMADMengusung Konsep streetWeAr Berdirinya Saint Barkley ini tak lepas dari adanya komunitas musik dan skateboard di Bandung. Penggemarnya pun kelompok anak muda yang gemar musik dan skateboard.

D a f t a R I S I0302

RETAS-June2018.indd 2 5/26/18 8:07 AM

Custom clothing tak bisa hanya mengandalkan desain kreatif, tapi juga harus berkarakter.

Badan Ekonomi Kreatif adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang bertanggungjawab di bidang ekonomi kreatif dengan enam belas subsektor.

Kantor

Gedung Kementerian BUMN, Lt 15, 17, 18Jl. Merdeka Selatan No. 13, Jakarta Pusat - 10110.

Email

[email protected]

Twitter

@bekrafid

Pengelola Media

GRID Kompas Gramedia www.bekraf.go.id

Triawan MunafKepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia

Potensi Sangat Besar Custom Clothing

Industri fashion adalah salah satu industri yang berkembang pesat. Untuk ekonomi kreatif, fashion merupakan penyumbang kedua terbesar pendapatan domestik bruto (PDB) setelah kuliner. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari sumbangan para pemilik label lokal yang banyak didominasi generasi muda. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, para pemilik label lokal harus meningkatkan inovasi dan kreativitas yang selaras dengan kebutuhanindustri.

Salah satu bentuk inovasi adalah melalui custom clothing, atau produksi pakaian dan perlengkapannya yang dipersonalisasi untuk masing-masing individu. Custom clothing memiliki potensi yang sangat besar, karena semakin banyak orang Indonesia yang menginginkan penampilan yang berbeda dari yang lain. Di sisi lain, minat generasi muda untuk membangun sendiri merek mereka juga sangat besar. Saya yakin, paduan talenta yang melimpah dan keberagaman budaya Nusantara menjadi kekuatan luar biasa yang akan mendorong pertumbuhan sektor ini.

Saya berharap ke depan bisnis custom clothing akan makin diperkaya dengan penggalian tradisi berbusana di berbagai daerah. Para desainer dapat mengembangkan kreasi mereka dengan kekayaan budaya Nusantara.

Potensi utama dari custom clothing tak bisa hanya mengandalkan desain yang kreatif, tapi juga harus berkarakter dan didukung craftsmanship dan keahlian tingkat tinggi. Agar setiap karya busana custom clothing ini bisa memiliki nilai yang tinggi.

E D I t o R I a L

RETAS-June2018.indd 3 5/26/18 8:07 AM

Ada yang berbeda dengan pakaian yang dikenakan Presiden Jokowi saat menerima siswa berprestasi se-Indonesia di Istana Bogor, awal Mei 2018 silam. Orang nomor satu di Indonesia itu menanggalkan pakaian resmi sebagai kepala negara yakni jas atau batik lengan panjang dan memilih jaket hitam berlukis ASIAN Games 2018.

Di bagian belakang secara mencolok tulisan ASIAN GAMES di atas lukisan berbagai cabang olah raga yang dipertandingkan di pesta olahraga negara-negaa Asia itu. Sementara di lengan terpampang logo Asian Games.

Keren enggak..? ujar Jokowi seolah memamerkan jaketnya.

Sebelumnya Presiden juga mengenakan jaket sejenis dengan tema berbeda saat melakukan kunjungan di Sukabumi. Beberapa bulan sebelumnya Jokowi juga membeli sepeda motor kustom buatan Elders Garage yang berkolaborasi dengan Kick Ass Chopper. Motor yang dibangun dengan konsep chopperland ini

Berbekal kreativitas dan kerja keras, para pemilik clothing line lokal mampu membangun merek sendiri. Pasar global pun mulai melirik keberadaan mereka.

LabeL LokaL bangkit MeraMbah Pasar Dunia

Dok

umen

tasi

Prib

adi

0504 w a c a N a

RETAS-June2018.indd 4 5/26/18 8:07 AM

menggunakan mesin Royal Enfield berkapasitas 350 cc.

Lewat jaket berlukis atau motor dengan desain khusus ini, Jokowi punya misi khusus. Ia ingin mengajak generasi muda di negeri ini untuk bangga mengenakan produk lokal. Mantan walikota Solo ini memang menaruh perhatian khusus pada industri kreatif yang diyakini akan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Bahkan secara khusus Jokowi mengundang para pelaku industri kreatif ke Istana Bogor saat perayaan Hari Sumpah Pemuda, Oktober 2017 silam.

Salah satu industri yang merasakan imbas langsung dari campur tangan Jokowi ini adalah industri kustom, baik di dunia fashion maupun motor yang beberapa tahun ini telah memiliki pasar khusus. Apa yang dilakukan Jokowi seolah menyiramkan air yang menyuburkan ekosistem bisnis kustom ini. Ekspose media tentang apa yang dikenakan dan motor yang ditumpangi akan menjadi perhatian atau bahkan ditiru olehmasyarakat.

Menurut pengamat fashion, Sadikin Gani, ekosistem bisnis kustom khususnya custom clothing kini sedang menemukan momennya. Di mana makin banyak anak muda yang bersemangat untuk membangun sendiri mereknya. Dari sisi konsumen juga mulai tumbuh kesadaran untuk membeli label lokal berkualitas ketimbang merek terkenal dari luar tetapi tidak asli.

Sadikin melihat, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Dari sisi konsumen, jumlah kelas menengah yang mencapai 52 juta menjadi potensi yang tak bisa dianggap sepele. Sementara dari

diikuti dengan kemampuan untuk memasarkan. Padahal dalam industri ini kreativitas, teknologi dan bisnis menjadi aspek yang tidak bisadipisahkan.

Industri clothing brand lokal mulai tumbuh sejak pertengahan tahun 90an. Ibukota provinsi Jawa Barat, Bandung disebut sebagai tempat awal berkembangnya distro yang kemudian berkembang menjadi ikon fashion anak muda masa kini. Selanjutnya, distro menyebar ke berbagai pelosok kota besar diIndonesia.

Di distro-distro inilah dijual beragam produk fashion dan perlengkapannya, seperti T-shirt dengan beragam desain, sweater, hoodie, jumper, aneka jenis topi gaul, tas ransel branded, jaket keren, celana jeans, ikat pinggang, merchandise musik, peralatan skateboard, celana jogger, flannel, atau sneakers merek lokal. Produk fashion yang dijual di distro ini tidak bisa ditemui di mal, factory outlet atau toko pakaian pada umumnya.

Clothing brand local dicirikan dengan desain yang kreatif dan jumlah produk yang diproduksi secara terbatas. Desain yang telah terjual biasanya tidak diproduksi

sisi produsen Indonesia kaya akan talenta-talenta yang sangat berbakat.

Sejumlah festival macam Jakcloth, Kickfest dan sejenisnya juga punya andil besar dalam meningkatkan omzet penjualan industri ini. Tetapi dari sisi proses kreatif, menurut Sadikin, festival-festival tidak akan membuat clothing Indonesia naikkelas.

Dari tahun ke tahun seperti begitu-begitu saja. Itu lebih sekadar bisnis jualan dan hiburan, di mana pelaku usaha berkumpul untuk bersama-sama menjual produknya, cetusnya.

Lepas dari campur tangan Jokowi, industri custom clothing atau clothing brand lokal diyakini akan terus bergeliat. Bisnis clothing menjanjikan peluang yang kini banyak dilirik generasi muda. Selama ada anak muda yang bersemangat dan tak berhenti bereksplorasi, industri ini diyakini tidak akan pernah mati. Keterbatasan dana tak menyurutkan anak-anak muda itu.

Sayang potensi yang luar biasa ini masih menghadapi sejumlah kendala, seperti pasokan bahan dan kemampuan mendesain dan membangun brand yang tidak

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Elde

rs G

arag

e

RETAS-June2018.indd 5 5/26/18 8:07 AM

lagi. Bahkan tidak jarang, mereka hanya memproduksi satu item untuk satu desainnya. Kondisi ini secara tidak langsung akan memberi rasa eksklusif pada pembelinya, sehingga menumbuhkan pembeli fanatik.

Satu hal yang harus dihadapi pemilik label lokal adalah tren fast fashion milik perusahaan besar asing yang menguasai pasokan bahan baku. Sering pelaku lokal hanya mendapatkan sisa dari para raksasa tersebut sehingga mempengaruhi proses produksi. Para pemilik label local yang umumnya masih berskala rumahan ini harus pintar memutarotak.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Ricky Pesik juga mengakui kondisi ini sebagai salah satu kendala yang harus dicarikan solusi agar label lokal bisa bersaing di pasar internasional.

Masih banyak bahan baku yang harus diimpor, sehingga berimbas pada harga produk yang pada gilirannya produk kita tidak bisa bersaing dengan produk dari luar. Meski dari sisi desain kita tidak kalah, ujarnya.

Namun menurut Ricky, kondisi ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik label lokal untuk berkreasi. Pemilik label lokal tak perlu memaksakan diri untuk menjadi pemain besar seperti para raksasa itu. Para pemilik label lokal diminta lebih cerdas mensiasati kondisi ini, mengolah kreativitas untuk menghasilkan produk yang

unik dan cerdas mengelola ceruk pasar yang ada agar bisa menarik manfaat yang sebesar-besarnya.

Bekraf memang tidak berpretensi untuk mendorong satu atau dua merek untuk menjadi besar sekali, tetapi lebih fokus untuk mengakselerasi lahirnya sebanyak mungkin pelaku bisnis artisan (pemilik label lokal) yang hak intelektualnya dilindungi. Bekraf juga terus berusaha memperluas kesempatan produk kustom lokal untuk selalu berada di ruang persaingan pasar lokal maupun internasional, apakah itu melalui perdagangan konvensional maupun lewat e-commerce.

Sudah sangat sering Bekraf mengikutkan label lokal ke berbagai event baik yang digelar di dalam maupun luar negeri. Ada puluhan event yang selalu dipantau Bekraf seperti Jakarta Fashion Week, Indonesia Fashion Week, New York Now, Inacraft, Salonne, Trade show dan sebagainya.

Bekraf juga terus mendorong agar semakin banyak label lokal mengambil ruang di platform e-commerce. Kita, lanjut Ricky, terus mendorong agar e-commerce lokal seperti Tokopedia, Qlapa, dan sebagainya bisa menjadi landasan bagi para pelaku bisnis kustom untuk secara masif dalam mengakses pasar. Namun ia melihat ada satu masalah besar yang dihadapi pelaku bisnis kreatif lokal, yakni masih banyak platform belanja lokal yang belum bisa

melayani pembelian eceran dari luarnegeri.

Saat ini pemilik label kita belum bisa melakukan ekspor ke luar. E-commerce kita belum melayani itu. Kita harus cari solusi ini, ujarnya.

Untuk mempertemukan para pemilik label lokal dengan para buyers, pemilik modal dan pihak-pihak lain yang terkait Bekraf sangat mendukung inisiatif semacam Indonesia Fashion Forward yang bisa menjadi inkubasi bagi desainer lokal untuk memasarkan produknya ke pasar internasional.

Gelaran festival yang mengenalkan berbagai produk kustom yang belakangan mulai tumbuh secara sporadis juga terus didorong guna meningkatkan volume konsumsi nasional kepada produk kustom lokal yang hingga kini masih di bawah 20 persen.

Ricky berharap acara semacam Brightspotpagelaran yang tak sekadar bisnis, tapi ada sesuatu

Ada Sarinah, ada Alun-alun, yang bisa direvitalisai menjadi semacam tempat yang mempertemukan para pelaku bisnis kustom dengan mereka yang berkepentingan. Jadi tidak perlu membentuk satu yang baru tapi cukup menjalin kemitraan untuk memaksimalkan manfaatnya.

Ricky Pesik (Wakil Kepala Bekraf)

Dok

umen

tasi

Prib

adi

0706 w a c a N a

RETAS-June2018.indd 6 5/26/18 8:07 AM

untuk membangun komunitas di mana brand lokal bisa mempresentasikannya ke media, ada preview collection dari kritikus dan menghubungkan desain dengan big databisa diperbanyak dan diperluas ke berbagai daerah.

Bahkan ke depan, Bekraf merencanakan sebuah tempat yang bisa mempertemukan semua pihak yang terlibat di industri ini, baik para artisan, buyer ataupun pemilik modal yang ingin menanamkan modalnya di sektor ini.

Ada sejumlah pilot project, kita punya Sarinah, ada Alun-alun, mengapa ini tidak direvitalisai menjadi semacam tempat yang mempertemukan para pelaku bisnis kustom dengan mereka yang berkepentingan. Jadi tidak perlu membentuk satu yang baru tapi cukup menjalin kemitraan untuk memaksimalkan manfaatnya, ujarRicky.

Lantas bagaimana dengan para pelaku bisnis ini? Hendrick dari

Paradise Youth Club, sebuah clothing line dari Jakarta yang berhasil menembus pasar global, menyebut bisnis ini sangat menjanjikan jika memang dikerjakan dengan serius.

Namun, diakui untuk bisa bertahan dan menembus pasar internasional bukanlah perkara mudah. Ia dan tiga rekannya yang bahu-membahu membangun merek ini harus bekerja keras untuk menjaga orisinalitas produk, terus memperbaiki kualitas produk, dan yang tak kalah penting adalah mempertahankan koneksi yang baik dan komunikasi engan customer ataupun stockist mereka.

Tantangan terbesar di bisnis ini adalah kesulitan mendapatkan bahan baku berkualitas serta kurangnya dukungan dari konsumen lokal.

Support dari local customer kurang, karena mungkin menurut mereka produk lokal enggak sebagus internasional, keluhnya.

Sementara Bernard Surjadiningrat dari Never Too Lavish mengharapkan pemerintah bisa lebih banyak memfasilitasi event-event yang memungkinkan para pelaku bisnis kustom menunjukkan kebolehannya.

Kita punya banyak artisan yang berbakat, namun mereka belum banyak diketahui masyakarat karena memang belum ada wadah bagi mereka untuk mempresentasikan karyanya,ujarnya.

Lulut Wahyudi, Direktur Kustomfest sekaligus builder dari Retro Classic Cycles mengatakan, potensi dunia kustom khususnya motor kustom di Indonesia sangat besar. Banyak karya anak bangsa yang memiliki pasar di luar negeri. Pelaku kustom di Indonesia, menurut Lulut, membutuhkan dukungan berupa peraturan yang memihak kreativitas. Dari pengalamannya sebagai builder selama bertahun-tahun, sangat sulit menjual motor kustom ke luarnegeri.

Untuk menjual sebuah motor ke luar negeri itu sulitnya minta ampun. Banyak yang musti dipikirkan, mulai bea cukai, kelengkapan surat dan tetek bengek lainnya. Kondisi ini menjadi dinding penghalang ekspansi dunia kustom Indonesia, terangnya.

Ia mengetuk kesadaran pemerintah akan potensi motor kustom di Indonesia. Jika setiap builder bisa membangun 2 motor setahun, dan 10 persen dari seluruh peserta Kustomfest melakukan yang sama maka jumlah motor yang bisa dibangun akan sangat banyak. Dan ini menjadi potensi yang sangat layak digali untuk menghasilkan devisa negara.

Dok

umen

tasi

Prib

adi

RETAS-June2018.indd 7 5/26/18 8:07 AM

P R o f I L0908

Masih ingat dengan motor modifikasi Chopperland yang dibeli Presiden Joko Widodo (Jokowi)? Motor yang awalnya merupakan motor asal Inggris, Royal Enfield Bullet 350cc tersebut merupakan hasil karya anak bangsa, yaitu oleh Elders Garage.

Bengkel yang terletak di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini berdiri di tahun 2015. Berawal dari didirikannya Elders Company pada 2014, produk yang dibuat merupakan inspirasi dari style di tahun 70-an.

Apa saja produknya? Product line kami adalah riding gear (perlengkapan berkendara), apparel (pakaian), parts. Sebagaimana halnya Elders Company, Elders Garage juga mengusung custom yang terinspirasi di tahun 70-an, jelas Heret Frasthio, founder dari Elders Company.

Sedari awal, Heret menuturkan, dirinya memang berfokus di dunia custom culture, termasuk helm dan produk-produk lainnya. Tentu mereka menyasar target konsumen dari semua bikers maupun non bikers yang suka dengan fashion maupun vintage style motorcycle.

Produk-produk keluaran brand ini pun tak hanya menyasar di Indonesia saja, namun juga telah merambah Jepang, Amerika Serikat, Korea, dan Australia dari berbagai

Gaungkan spirit era 70-an, Heret dan Elders Garage-nya berhasil menarik perhatian.

Heret Frasthio

Merancang MoveMent Kolaborasi Custom Culture

kalangan usia dan tingkatan ekonomi. Selain itu, Heret mengakui bahwa Elders Garage juga sangat menginspirasi para millennials.

Menjadi trendsetter di dunia custom terutama di Indonesia, Elders Company memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan brand serupa yang lain.

Kalau secara bisnis, unit kami adalah yang terlengkap. Dari riding gear, fashion, parts, sampai garage. Biasanya brand lain hanya memiliki satu atau dua saja. Kelengkapan kami akhirnya memperkuat brand soul-nya yang akhirnya konten kami di sosial media cukup sexy, terangHeret.

Napas custom di Indonesia sendiri semakin menguat, apalagi sejak Jokowi diberitakan membeli motor modifikasi Chopperland karya anak bangsa. Efeknya signifikan, baik kepada brand Elder Company terutama Elders Garage secara langsung maupun kepada duniacustom.

Kepada brand kami, secara brand value menjadi lebih naik, permintaan terhadap produk juga meningkat. Dan, pesanan motor jenis chopperland juga melonjak, tutur Heret.

Dari kecintaannya di dunia custom, Heret membuktikan bahwa passion bisa menjadi modal untuk berbisnis.

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

RETAS-June2018.indd 8 5/26/18 8:07 AM

Melalui brand yang dikomandoinya ini, ia berusaha untuk mengedepankan kualitas sebagai keharusan utama sebuahbrand.

Sebenarnya kami jarang sekali melakukan penjualan secara hard sale. Teknik (penjualan) seperti bilang produk kita berkualitas apalagi tahan banting, kuat, dan lainnya hampir tidak pernah kami lakukan, terangnya.

Lalu, bagaimana cara Heret dan timnya melakukan penjualan?

Komunikasi yang kami lakukan lebih menjual attitude dan style yang meng-influence, tambahHeret.

Di samping itu, mereka juga memanfaatkan dunia digital yang kian berkembang. Tak hanya melalui offline, namun juga media online mereka gunakan semaksimal mungkin untuk menunjang kegiatan yang dilakukan.

Hasilnya, kini Heret dan tim yang kesemuanya berjumlah 10 orang ini dipercaya untuk mengikuti beragam kegiatan baik lokal maupun internasional. Yang paling dekat Art of Speed di Malaysia. Bulan 12 nanti kita akan ke Jepang.

Kemudian, Elders Garage juga berkesempatan mengikuti salah satu pameran yang didukung langsung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) khususnya subsektor desain produk di bidang otomotif untuk tampil mendunia, Kustomfest Indonesian Attack.

Langkah selanjutnya, Heret mengungkapkan, akan ada movement kolaborasi dunia custom culture mulai dari motor, sneakers, dan jeans yang akan digaungkan melalui #IndonesiaCollaborationProject. Do

kum

enta

si Pr

ibad

i

Dok

umen

tasi

Prib

adi

RETAS-June2018.indd 9 5/26/18 8:07 AM

Usianya belum genap setahun, tapi produk Never Too Lavish (NTL) mampu menangguk perhatian publik berkat inovasi dan kemampuan menghargai karya sendiri.

Bernhard Suryaningrat

MeMenuhi hasrat Menjadi beda

Kisah NTL dimulai sekitar bulan September 2017. Abeng yang berlatar pendidikan desain dan memiliki passion pada seni mural berkolaborasi dengan Muhammad Haudy yang sebelumnya sudah membuka usaha penjualan barang bermerek secara daring.

Bermodalkan ide, bakat melukis dan sisa-sisa cat yang dimiliki, keduanya sepakat mengibarkan bendera Never Too Lavish yang memproduksi custom fashion, seperti dompet, tas, sneaker, T-shirt hingga jaket yang dilukis dengan tema tertentu secara eksklusif. Abeng menangani produksi, sedangkan Haudy dipercaya menangani pemasaran dan administrasi. Dengan harga paling murah Rp2,2 juta per item, NTL menyasar konsumen kelompok menengah atas.

Ternyata sambutannya luar biasa. Banyak teman yang bilang sudah lama mencari produk seperti ini dan harus membelinya di luar negeri seperti Amerika atau Australia dengan harga selangit, ujar Abeng yang sering diundang perform melukis mural di sejumlah negaraini.

Dari beberapa kawan dekat, produk NTL kemudian merambah pasar yang lebih luas. Kini pesanan bahkan datang dari mancanegara seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, Inggris dan bahkan Amerika Serikat. Pemesan dari mancanegara ini memakan 20% dari total produksi NTL.

Dari pesanan yang hanya 10 unit per bulan, dalam hitungan bulan angka ini telah bertumbuh menjadi 50-60 unit sebulan. Itu belum termasuk project dari merek besar seperti Adidas atau Puma untuk kegiatan promosi mereka. Jumlah punggawa yang dilibatkan juga terus bertambah. Dari awalnya, hanya

Karena manusia tidak pernah puas. Setelah memiliki barang bermerek, orang ingin lebih seperti mengoleksi sesuatu yang unik yang tidak dimiliki orang lain. Semakin makmur satu masyarakat, maka kebutuhan untuk menjadi unik dan beda ini akan semakin besar. Karena alasan inilah Never Too Lavish (NTL) lahir dan terus bertumbuh.

Produk berkualitas lagi tak pasaran menjadi pembeda

produk NTL dengan produk fashion umumnya. Bernhard Suryaningrat yang membidani NTL menuturkan, bayinya lahir tidak didasarkan pada ide yang muluk-muluk.

Kita jalani saja dan berproses dari apa yang kami alami, ujar lelaki yang biasa disapa Abeng ini, saat ditemui di workshop NTL di kawasan Kelapa Dua, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Reta

s

P R o f I L1110

RETAS-June2018.indd 10 5/26/18 8:07 AM

dua orang, Abeng dan Haudy, kini sudah ada 21 orang yang dilibatkan di NTL.

Sebanyak 11 orang artisan dan lainnya menangani pemasaran dan urusan administrasi. Jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah, ujar lelaki berdarah Jawa-Betawi ini.

Rumah dua lantai seluas 100 meter persegi yang digunakan sebagai workshop juga dirasa kian sesak untuk proses produksi mereka, sehingga Abeng dan kawan-kawannya kini sedang mempertimbangkan untuk mencari tempat baru yang lebih lapang.

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Saat NTL sedang tumbuh, masuklah Presiden Jokowi. Saat mengunjungi Sneaker Day tahun lalu, Jokowi yang memang dikenal sangat memperhatikan produk kreatif anak negeri tertarik dengan produk NTL. Ia pun memesan sebuah jaket denim berlukis tema Indonesia. Dari dua alternative desain yang diajukan, Jokowi memilih salah satunya. Jaket yang dibandrol Rp4 juta ini kemudian dikenakannya saat melakukan kunjungan ke Sukabumi, Jawa Barat akhir April silam.

Ternyata, orang nomor satu di Indonesia ini puas dengan karya Abeng dan kawan-kawan. Ia memesan satu jaket lagi. Kali ini mengangkat tema ASIAN GAMES

2018 yang dikenakannya saat menerima siswa berprestasi se Indonesia di Istana Bogor awal Mei silam. Total, kini ada tiga jaket produk NTL yang mengisi lemari mantan Gubernur Jakarta ini.

Kami dengar beliau masih ingin memesan jaket dalam berbagai warna untuk dikenakan dalam berbagai kegiatan yang berbeda, ujar Abeng tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Nama Jokowi seolah mantra. Setelah jaket produknya dikenakan Jokowi, nama Never Too Lavish kian dikenal publik tanah air. Produknya yang unik dan tak pasaran, membuat orang penasaran. NTL pun kebanjiran pesanan. Bahkan ada yang bersedia merogoh kocek berapapun harga yang dipatok NTL, untuk bisa memiliki jaket ala Jokowi itu. Meski diakui, ada juga yang menilai terlalu mahal.

Tapi NTL tak mau gegabah memanfaatkan kesempatan ini. Abeng tetap menjaga eksklusivitas

produknya dan memegang teguh kredonya untuk tidak memproduksi produk secara massal. Sebagai jalan tengah, jaket bertema Indonesia ini akan diproduksi dalam jumlah terbatas .

Bekerja bareng merek Tugas Negara Boss milik putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming, jaket ini diproduksi hingga 100 pieces dan dirilis tepat pada hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018. Bagi mereka yang merasa keberatan dengan harga yang dipatok, tersedia produk T-Shirt dan topi dengan harga yang lebih terjangkau.

Meski belum genap setahun, pertumbuhan NTL cukup pesat. Lantas apa yang menjadi rahasia sukses mereka? Kualitas produk dan pelayanan yang profesional.

Sekarang ini, konsumen tidak keberatan membayar mahal asal kualitasnya sesuai yang diharapkannya dan dikirim sesuai waktu yang disepakati. Itu yang terus kami jaga, ujar Abeng yang mengaku tak sempat menyelesaikan pendidikan sarjananya karena terlalu asyik bekerja ini.

Satu hal yang menjadi keprihatinan Abeng dan seniman lukis mural lain adalah kurangnya event agar mereka bisa menunjukkan kemampuannya. Padahal kemampuan artisan Indonesia layak diacungi jempol.

Banyak artisan dari luar kagum dengan kemampuan artis mural Indonesia. Ini artinya kemampuan seniman kita tak kalah, hanya belum dikenal saja.

abeng (NTL)

Reta

s

Reta

s

RETAS-June2018.indd 11 5/26/18 8:07 AM

Monstore mulai dibangun tahun 2008 oleh tiga sekawan sejak SMP, Nicholas Yudha, Michael Chrisyanto dan Agatha Carolina. Pada tahun terakhir kuliah, mereka mengisi waktu luang dengan mencoba berbisnis. Walau memiliki latar belakang jurusan berbeda, ketiganya memiliki passion yang sama, yaitu seni. Nicholas dan Michael kebetulan kuliah di kampus yang sama, Universitas Pelita Harapan.

Nicholas Yudha

bertahan berKat Konsep identitas yang Kuat Monstore satu dari lima brand lokal yang diajak Bekraf ke ajang ke Agenda US Trade Show.

Awalnya, Michael suka menggambar di kaus orang. Dari situ, kita melihat, wah kayaknya ini bisa dijadikan bisnis. Apalagi, kalau cuma kuliah, bosen. Akhirnya, kita memulailah bisnis kaos karena kaus paling gampang diterima orang, terang Nicholas.

Saat pertama membangun bisnis ini, mereka jatuh bangun karena tidak tahu dimana mencari vendor bahan

kaus yang bagus dan hasil sablon berkualitas tinggi, pasar yang sesuai, bahkan cara menciptakan logo yang oke. Bahkan, mereka sempat merasakan sampai ditipu vendor.

Monstore memiliki konsep kuat dalam setiap desain. Kita tidak mau sekadar buat gambar bagus, lalu dijual. Harus ada konsep supaya ada cerita di balik gambar yang tercetak di kaus. Seperti layaknya karya

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

1312 P R o f I L

RETAS-June2018.indd 12 5/26/18 8:07 AM

seni lah, kan selalu ada cerita dan mengangkat siapa seniman yang menciptakan desain.

Konsep seperti ini merupakan bagian dari visi Monstore yang ingin memperkenalkan anak-muda pada seni. Itu sebabnya kita mengundang beberapa seniman lokal untuk berkolaborasi. Kita ajak mereka. Mau tidak menggambar di kaus yang akan kita jual. Nanti kredit akan dimasukkan ke dalam kausnya juga. Penawaran seperti ini mendapat sambutan karena banyak seniman muda yang karyanya bagus tetapi tidak punya media atau platform untuk mempromosikan karya mereka.

Saat pertama kali mengeluarkan koleksi, ada lima desain yang ditampilkan dalam kaus. Namun, sejalan dengan respons positif di pasar, desain bertambah banyak sampai akhirnya di 2009, Monstore mulai menggandeng beberapa seniman muda berkolaborasi.

Saya melihatnya sekarang gampang banget buat

brand. Post di Instagram dan media sosial bisa

langsung jadi. Bagi yang ingin memulai, yang paling penting adalah uniqueness.

Kalau ingin membuka usaha, try to focus onbrand

DNA. Itu keyword-nya. Brand DNA harus kuat dan dipikirkan secara matang.

Kalau tidak, brand kita akan tenggelam dengan

brand lain.

Nicholas Yudha (Monstore)

Dari lima desain, jadi 10, terus 20, 30 sampai sekarang kita akhirnya bisa kerja sama dengan Marvel atau Disney Indonesia, Blibli.com, Google hingga Ismaya Grup. Jadi, desainnya semakin banyak.

Kebangkitan anak muda mencintai local brand di kota-kota besar di Indonesia sekitar tahun 2010 juga memberi andil kelangsungan bisnis brand. Pada saat itu brand dari luar seperti Uniqlo baru mau masuk. The Goods Dept atau Brightspot Market juga belum ada. Brand kita akhirnya seperti jadi salah satu local pride-nya, ujar Nicholas.

Menjadi salah satu kebangaan merek lokal itulah yang membuat Bekraf memilih Monstore sebagai perwakilan dari 5 yang akan diberangkatkan ke Agenda US Trade Show. Pertama kali melihat poster open call dari Bekraf, kita langsung mendaftar. Masukin portfolio dan company profile. Ternyata, kita terpilih

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

RETAS-June2018.indd 13 5/26/18 8:07 AM

branD LokaL Lain yang berangkat ke agenDa ustraDeshow

PMP DeNIMUntuk Agenda, Bekraf meminta kita mempersiapkan koleksi baru. Biasanya persiapan koleksi baru butuh beberapa bulan. Tapi sekarang, kurang dari dua bulan.

Hendry Sasmitapura

OlDBlue CO Sekarang price range celana jeans kita dari Rp1,8 sampai Rp2,4 juta. Kalau di luar dibanding dengan jeans premium merek luar, Old Blue Jeans dianggap yang paling murah tapi kualitas setara. Harga merek jeans premium luar jauh lebih mahal.

Ahmad Hadiwijaya

PArADISe YOuTH CluBBekraf keluarkan pengumuman lewat Instagram sekitar akhir Maret kalau mereka akan memberi beberapa slot bagi perancang dan pelaku bisnis streetwear fashion untuk mengikuti trade show di Amerika Serikat.

Hendrick Setio

dalam 10 besar. Dari situ, kita ketemu dengan tim Bekraf. Kita presentasikan barang-barang kita dan mereka merasa kita pas mewakili Indonesia ke pasar internasional.

Dengan mengikuti Agenda US Trade Show, Nicholas berharap bisa menembus pasar Amerika Serikat. Apalagi, koleksi yang sedang kita garap lebih ke streetstyle, lebih ke cowok. Selain itu, target terselubungnya, kita juga berharap mendapat exposure dari media AS yang datang ke acara ini. Kita ingin menjelaskan kalau barang-barang di Indonesia juga bagus. Mungkin di peta streetstlye fashion, Indonesia belum kelihatan seperti Jepang. Itu sebabnya juga koleksi yang akan dibawa ke sana ada unsur Indonesianya.

Setelah 10 tahun membangun brand ini, Monstore kini menambah variasi dengan mengeluarkan kemeja, jaket, sweater, celana panjang, scarf, perhiasan, tas, patches, art prints, plush toys hinggabantal.

Target masa depan kita adalah variasi produk. Dalam waktu dekat, kita akan mengeluarkan koleksi baju untuk anak-anak. Ke depannya lagi, brand ini tidak hanya fokus pada fashion saja tapi berkembang ke industri yang lain seperti, mungkin, F&B, tambah Nicholas.

Dok

. Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

14 P R o f I L

RETAS-June2018.indd 14 5/26/18 8:07 AM

Berdirinya Saint Barkley ini tak lepas dari adanya komunitas musik dan skateboard di Bandung.

Penggemar sepatu Saint Barkley adalah kelompok anak muda yang gemar musik dan skateboard. Secara tidak langsung, mereka menjadi media promosi Saint Barkley.

ami Muhammad(Saint Barkley)

Dok

umen

tasi

Prib

adi

(Saint Barkley)

Menjamurnya produsen produk fashion di Indonesia tidak menghalangi lahirnya Saint Barkley (SB). Produsen sepatu dari Bandung yang berdiri sejak tahun 2012 awalnya digawangi Alvi dan David. Mereka menawarkan usaha clothing berbeda dari yang lain dengan nama VII (Seven). Di tahun kedua, SB diperkuat Ami Muhammad, Ozom dan Ei.

Menurut Ami, perjalanan mereka mengalami banyak sekali rintangan. Bahkan pernah gagal produksi. Tapi melalui proses panjang, akhirnya Saint Barkley bisa menghasilkan sebuah produk sepatu yang layak dan ideal.

Tidak berhenti di situ, menurut Ami, SB terus mengembangkan pengetahuan tentang sepatu. Proses itu yang membuat hinggi SB kini sudah menggunakan vulcanized atau fabrikasi dalam proses produksi. Bukan lagi sebuah produk lokalhandmade.

Saat ini SB sedang mengerjakan sebuah project terbaru dengan grup musik NTRL yaitu seputar

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Ami Muhammad

Mengusung Konsep streetWeAr

Senayan Jakarta. Tapi justru di situlah SB bertemu Presiden dan menjadiomongan.

Sempat kita tolak tawaran event JSD karena pada tanggal itu masih dalam proses produksi, jadi enggak mungkin jualan, hanya branding saja! kata Ami.

Namun di hari ketiga pameran, Presiden Jokowi datang dan membeli produk mereka yang merupakan satu-satunya brand lokal. Di situasi itu, menurut Ami, mereka sempat kebingungan karena tak ada stok. Akhirnya sepatu yang dibeli Presiden Jokowi diambil dari outlet Tigrehood yang menjual produk Saint Barkley.

album NTRL. SB diajak menggarap segifashion-nya.

Masih menurut Ami, berdirinya Saint Barkley tak terlepas dari adanya komunitas musik dan skateboard di Bandung. Tak heran jika penggemar sepatu Saint Barkley adalah kelompok anak muda yang gemar musik dan skateboard. Secara tidak langsung, mereka menjadi media promosi Saint Barkley.

Konsep streetwear bukan berarti hanya disukai anak muda. Buktinya Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) pun memakainya. Menurut Ami, awalnya mereka sempat menolak ajakan tampil di Jakarta Sneakers Day (JSD) di

Dok

. Prib

adi

15P R o f I L

RETAS-June2018.indd 15 5/26/18 8:07 AM

KustoMFest hidupKan KeMbali sPIrIt oF mAKING Aan dan dua temannya berkeliling Indonesia menyebarkan budaya membuat, demi menghidupkan kembali spirit of making masyarakat Indonesia yang telah lama redup.

Aan Fikriyan

1716 P R o f I L

RETAS-June2018.indd 16 5/26/18 8:07 AM

Aan Fikriyan merupakan satu dari tiga tonggak kelahiran event kustom kultur terbesar di Indonesia, Kustomfest. Pria yang akrab disapa Aan ini mengaku bahwa dirinya bukanlah seorang kustom builder seperti dua CEO Kustomfest lainnya, Lulut Wahyudi dan Hidayat Prio Wibowo. Meski demikian, ia salah satu pemeran terpenting atas bangkitnya budaya yang biasa ia sebut dengan Budaya Rancang Bangun di Indonesia.

Beberapa tahun lalu, sebelum Indonesian Kustom Kulture Festival atau Kustomfest lahir di tahun 2012, Aan dan tim sibuk berkeliling dari satu bengkel kustom ke bengkel lainnya, dari satu komunitas ke komunitas lainnya. Dari satu pintu ke pintu lainnya, mereka giat berbagi ilmu tentang kustom kultur yang saat itu belum terlalu dikenal di masyarakat.

Tiga sekawan yang menyukai dunia modifikasi dan otomotif ini, saat itu menerka penghambat perkembangan kustom kultur di Indonesia. Menurut Aan saat itu banyak opini-opini negatif tentang dunia modifikasi dan otomotif Indonesia, seperti buruknya kualitas barang dari Indonesia. Aan bersikeras ingin menghapus prasangka negatif tersebut dan berbagi kepercayaan diri kepada masayarakat. Saat itu kami ingin mengatakan, Halo orang Indonesia, kalian bisa berpikir dan membuat sesuatu. Dengan itu kami ingin mengubah pola pikir masyarakat dan berbagi kepercayaan diri, ungkapnya.

Salah satu alasan yang terus meyakini mereka untuk memperjuangkan Budaya Rancang Bangun adalah keyakinan bahwa Indonesia memiliki potensi dalam bidang ini. Mereka meyakini, spirit of making atau budaya

membuat sudah ada dalam darah bangsa Indonesia melalui nenek moyang yang terbukti merupakan orang-orang ulung dalam urusan merancang dan membuat. Sebut saja gagahnya Kapal Pinisi, juga Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang semua pasti tahu tentang kemegahannya, ujar pria 36tahun itu.

Tidak sia-sia, perjuangan Aan dan timnya mampir ke banyak bengkel kustom di Indonesia tidaklah bertepuk sebelah tangan. Aan mengakui, di masa itu mereka hanya dapat menemukan sekitar dua puluh orang yang serius menekuni dunia kustom, tapi kini sekitar

30ribu pengunjung dari 16negara rutin hadir setiap tahunnya diKustomfest.

Tidak hanya populer, melalui dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) delapan karya motor terbaik builder program Kustomfest Indonesian Attack 2017 cantik mentereng ketika mengikuti ajang 26th Annual Yokohama Hot Rod Custom Show 2017 di Jepang. Pada moment tersebut dua karya motor dari Queenlekha Choppers (Yogyakarta) dan Puspa Kediri Custom (Jakarta) berhasil mendapat penghargaan begengsi FKC Mooneyes Spain Pick Awards dan Chopper Journal Pick Awards.

Baru-baru ini, tepatnya pada 15 Mei 2018 Kustomfest sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Bekraf di Jakarta, sebagai sebuah langkah lanjutan untuk mengembang aset dan potensi pegiat kustom kultur sebagai salah satu sub sektor Bekraf.Sementara itu, Kustomfest 2018 akan segera digelar pada 6-7 Oktober 2018 di Yogyakarta dengan tema Color of Difference.

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Dok

umen

tasi

Prib

adi

Spirit of making atau budaya membuat sudah ada dalam darah bangsa Indonesia melalui nenek moyang yang terbukti merupakan orang-orang ulung dalam urusan merancang dan membuat.

aan fikriyan (Kustomfest)

RETAS-June2018.indd 17 5/26/18 8:07 AM

Kepala Bekraf Triawan Munaf bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi di acara #IAFBali2018 Cultural Night

Deklarasi Asosiasi Komik Indonesia pada 24 April 2018 yang dihadiri Triawan Munaf.

Konferensi Musik Ambon tanggal 7-9 Maret 2018 dihadiri Triawan Munaf beserta jajaran Bekraf lain, Glenn Fredly, Hilman Farid, Erwin Gutawa, Rudiantara.

Panel Discussion Kick Off Friends of Creative Economy (3 Mei 2018).

^Bekraf berpartisipasi dalam pameran dan konferensi teknologi Centrum fur Buroautomation, Informationstechnologie und Telekomunikation (CeBIT).

Foto

-foto

Dok

umen

tasi

Bekr

af

Kepala Bekraf, Triawan Munaf bersama perwakilan dari tujuh asosiasi seusai penandatanganan nota kesepahaman di Ruang Rapat Bekraf, Gedung Kementerian BUMN.

Kepala Bekraf Triawan Munaf menerima kunjungan Duta Besar Denmark untuk membahas beberapa topik antara lain kerjasama ekonomi kreatif antara Indonesia dengan Denmark dan penyelenggaraan WCCE.

Hotel Aryaduta Bandung, 9 Mei 2018 - Bekraf melaksanakan kegiatan BISMA Goes to Get Member (BIGGER) di Kota Bandung.

Bekraf mengadakan Pekan Raya Film Pantura (PRFP) sebagai puncak kegiatan pelatihan film di Brebes, Tegal, Slawi, dan Pemalang.

Bekraf meluncurkan program Lomba Cipta Lagu Anak 2018 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia.

RETAS-June2018.indd 19 5/26/18 8:07 AM

Kuliner

Fashion

Kriya

TV & Radio

Penerbitan

Arsitektur

Aplikasi & Game

Developer

Periklanan

Musik

Fotografi

Seni Pertunjukan

Desain Produk

Seni Rupa

Film, Animasi, & Video

Desain Interior

Desain Komunikasi

Visual

KONTrIBuSI PDB SuBSeKTOr eKrAF 2016*Terhadap PDB EKRAF

41,40%

18,01%

15,40%

8,27%

6,32%

2,34%

1,86%

0,81%

0,48%

0,46%

0,27%

0,25%

0,22%

0,17%

0,16%

0,06%

SuBSeKTOr eKrAF DeNgAN PeNDAPATAN

TerBeSAr 2016

*persen kontribusi subsektor terhadap PDB EKRAF

rp382 Triliun

rp142 Triliun

rp166 Triliun

Kuliner 41,40%*

Fashion 18,01%*

Kriya 15,40%*

RETAS-June2018.indd 20 5/26/18 8:08 AM