.Web viewPasar merupakan tempat aktivitas jual beli, dimana penjual menawarkan barang dagangan dan...

download .Web viewPasar merupakan tempat aktivitas jual beli, dimana penjual menawarkan barang dagangan dan pembeli membeli barang tapi ternyata

of 21

  • date post

    01-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of .Web viewPasar merupakan tempat aktivitas jual beli, dimana penjual menawarkan barang dagangan dan...

PENGARUH PELAYANAN PERSONAL TEHADAP PENDAPATAN PERKAPITA PENJUAL SAYUR DI PASAR DINOYO

Tugas Akhir Matakuliah Bahasa Indonesia

Dosen Pembingbing, Moh Badrih, S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh:

1. M. Nasihul Muiz (2100810057)

2. Elok Maslakhah (2100810041)

UVERSITAS ISLAM MALANG

FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

2011

PENGARUH PELAYANAN PERSONAL TEHADAP PENDAPATAN PERKAPITA PENJUAL SAYUR DI PASAR DINOYO

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasar merupakan tempat aktivitas jual beli, dimana penjual menawarkan barang dagangan dan pembeli membeli barang tapi ternyata pasar juga merupakan salah satu ruang publik yang berfungsi sebagai perekat sosial dan proses distribusi informasi antara satu orang dan orang lainnya. Pasar yang dimaksud kan disini merupakan pasar tradisional memberikan kesempatan bagi sebagian masyarakat terutama dari golongan menengah kebawah memiliki ruang publik karena didalamnya terdapat interaksi sosial antara pedagang di pasar dan masyarakat sekitar sehingga menjadikan pasar sebagai ruang berbagi informasi bagi individu di dalamnya.

Pasar yang menjadi fokus penelitian disini adalah pasar dinoyo dimana pasar dinoyo merupakan salah satu pasar tradisional di Malang yang mempunyai keterkaitan sejarah dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat Malang. Masyarakat yang tinggal di sekitar Dinoyo lebih memanfaatkan pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga bisa dikatakan pasar dinoyo merupakan bagian penting minimal secara ekonomi bagi masyarakat dinoyo.

Banyak literatur menyatakan dalam pasar tradisional terdapat interaksi sosial beragam dari individu yang berkecimpung di dalamnya, baik dari masyarakat sekitar maupun dari pedagang pasar sendiri. Ikatan sosial yang terbangun dari intensitas pertemuan di pasar kemudian berubah menjadi struktur yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dinoyo. Praktik sosial di pasar dinoyo yang dilakukan berulang misalnya terdapat warga yang tiap harinya membeli sayur di pasar dinoyo dan memiliki wlijo langganan maka kemungkinan yang bisa terjadi individu tersebut selain ke pasar untuk memenuhi keperluan dapur juga untuk bertemu dengan pedagang langganan untuk berkomunikasi dan bertukar informasi (gosip). terdapat 32% dari masyarakat selain membeli barang, seperti: jualan, menyetok barang, jalan-jalan, menabung, nongkrong, narik becak, mencari teman, bekerja sebagai tukang parkir, rekreasi dengan anak, mengambil sampah, memulung plastik dan ngojek. Ini yang menjadi subtansi pasar tradisional sebagai ruang publik bagi masyarakat terutama masyarakat kelas menengah kebawah.

Kondisi saat ini telah beredar wacana penggusuran pasar dinoyo dan akan digantikan sebuah mall. Permasalah disini adalah kalimat modernisasi pasar yang membentuk pasar modern dimana pasar dinoyo dianggap sangat kumuh dan tidak memiliki sisi estetika sama sekali, padahal sekali lagi pasar dinoyo merupakan ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai penjual menjual barangnya dan pembeli membeli barang kebutuhan malinkan difinisi sosial dari pasar merupakan interaksi sosial tiap individu di ruang publik. Sialnya, pihak pemerintah telah menjadi komprador kapitalisme sehingga melakukan perubahan pasar tanpa komtemplasi sosial, mengenai dampak sosial yang terjadi dengan adanya mall.

Dengan membaca analog kejadian tersebut sebenarnya bisa diartikan terdapat paksaan mengenai apa yang baik dan apa yang tidak baik, apa yang pantas dan tidak pantas bagi masyarakat bahwa agresi keberadaan Pasar Modern atau mall lebih baik dari pada pasar tradisional dengan rasionalisasi mall telah menjadi tuntutan dan konsekuensi dari gaya hidup modern yang berkembang di masyarakat.

Apakah gaya hidup modern tersebut memang murni kemauan masyarakat atau bentuk paksaan yang ditoleransi oleh masyarakat? Berangkat dari pertanyaan tersebut penulis sedikit melakukan penelitian wawancara kecil-kecilan untuk sedikit menguak tabir dominasi yang terjadi pada masyarakat dinoyo.

tulisan ini memfokuskan dalam pembacaan Dominasi penguasa dalam kaitannya modernisasi pasar. diharapkan analisa dari penelitian ini dapat memberikan manfaat. Manfaat dalam penelitian ini adalah: Memberikan emansipasi kritis permasalahan modernisasi pasar dinoyo kepada pedagang pasar dinoyo.

B. FOKUS MASALAH

1. Apa peranan penting penjual sayur di pasar dinoyo?

2. Strategi apa saja untuk menarik pelanggan?

3. Berapa pendapatan perkapita?

C. TUJUAN

1. Mendiskripsikan penjual sayur di pasar dinoyo

2. Mengetahui strategi untuk menarik pelanggan

3. Mengetahui pendapatan perkapita

D. MANFAAT

1.penulis

Hasil karya tulis ini diharapkan dapat membuka dan menambah wawasan serta memperbanyak informasi mengenai fenomena pertumbuhan pasar modern serta pengaruhnya terhadap pasar tradisional dan perekonomian Indonesia.

2.mahasiswa

Bagi kalangan akademisi, karya tulis ini diharapkan dapat memperkaya dan memberikan sumbangan wacana konseptual bagi pengembangan kajian teori dan kebijakan ekonom.

3.masyarakat

Memberikan gambaran yang lebih kritis mengenai modernisasi tanpa meninggalkan budaya dan karakteristik Indonesia serta tetap memihak rakyat kecil.

F. DEFENISI OPERASIONAL

a. Pasar merupakan tempat aktivitas jual beli, dimana penjual menawarkan barang dagangan dan pembeli membeli barang tapi ternyata pasar juga merupakan salah satu ruang publik yang berfungsi sebagai perekat sosial dan proses distribusi informasi antara satu orang dan orang lainnya

b. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidamauan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut.

c. suatu sistem kelas sosial dengan tanpa membeda-bedakan tinggi-rendahnya kelas sosial itu sendiri.

d. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran.

e. Per kapita adalah sebuah frase Bahasa Latin yang berarti per kepala dengan per berarti "melalui" atau "oleh" dan kapita (bentuk tunggal caput) berarti "kepala." Kedua-dua kata itu bersama-sama berarti frase "untuk tiap-tiap kepala."

Ini biasa dipakai di bidang statistika untuk menunjukkan rerata per orang untuk fokus perhatian apapun, semisal pendapatan, tingkat kejahatan, dan lain-lain.

Juga dipakai di dalam kehendak (hukum) untuk menunjukkan bahwa tiap-tiap keuntungan yang harus diterima, by devise or bequest, hasil bagi yang sama bagi tiap-tiap estate. Ini berlawanan dengan pembagian Per stirpes, di mana tiap-tiap cabang keluarga dinasti mewariskan pembagian yang sama dari tiap-tiap estate. Biasanya keseluruah dibagi dengan banyaknya orang.

pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan Nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut.

Jadi pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu Negara

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian

Berdasarkan pada tujuan dan sasaran penelitian seperti yang telah dipaparkan diatas, maka dalam hal ini penulis menggunakan teknik pengumpulan berupa wawancara. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dalam penelitian dengan melakukan tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Wawancara merupakan suatu bentuk komunikasi verbal yang bertujuan untuk memperoleh informasi, dengan wawasan peneliti mendapat data melalui kontak atau hubugan pribadi. Wawancara dilakukan dengan cara terbuka (Open Interview) dimana Informan dapat bebas dalam menentukan jawabannya sesuai dengan topik dan panduan pertanyaan yang sudah disediakan oleh peneliti. Dalam hal ini sebagai informan yaitu sebagaian kecil pedagang pasar dinoyo yaitu berjumlah lima orang.

Manusia telah terjebak pada kebutuhan palsu mereka dimana kebutuhan palsu dan kebutuhan sejati dapat dibedakan. "Palsu" adalah mereka yang dilapisi dengan pada individu sosial tertentu oleh kepentingan-kepentingan di represi kebutuhan yang melestarikan keras, agresivitas, penderitaan, dan ketidakadilan. kepuasan mereka mungkin paling memuaskan untuk individu, tetapi kebahagiaan ini bukan suatu kondisi yang harus dijaga dan dilindungi jika itu berfungsi untuk menangkap pengembangan kemampuan (sendiri dan orang lain) untuk mengenali keseluruhan penyakit dan menangkap kemungkinan menyembuhkan penyakit. Hasilnya kemudian euforia dalam ketidakbahagiaan. Sebagian besar dari kebutuhan yang berlaku untuk bersantai, bersenang-senang, untuk berperilaku dan mengkonsumsi sesuai dengan iklan, untuk mencintai dan membenci apa yang orang lain cinta dan benci, termasuk dalam kategori kebutuhan palsu. Kebutuhan tersebut memiliki kandungan sosial dan fungsi yang ditentukan oleh kekuatan eksternal dimana individu tidak memiliki kendali, pengembangan dan kepuasan kebutuhan ini heteronomous tertentu. Tidak peduli bagaimana seperti banyak kebutuhan bisa memiliki individu menjadi sendiri, direproduksi dan dibentengi oleh kondisi keberadaannya, tidak peduli berapa banyak ia mengidentifikasi diri dengan mereka dan menemukan dirinya dalam kepuasan mereka, mereka terus menjadi apa yang mereka sejak awal - produk dari masyarakat yang dominan sebagai tuntutan represi.

Prevalensi kebutuhan represif adalah fakta yang dicapai, diterima dalam ketidaktahuan dan kekalahan, tapi fakta yang harus dibatalkan untuk kepentingan individu bahagia serta semua mereka yang kesengsaraan adalah harga kepuasan itu. Kebutuhan-satunya yang memiliki klaim wajar tanpa pengecualian untuk kepuasan adalah orang-orang penting - makanan, pakaian, penginapan di tingkat dica