Bab9IbadahIslam.doc

31

Click here to load reader

Transcript of Bab9IbadahIslam.doc

Page 1: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Memahami Konsep Ibadah Memahami Konsep Ibadah dalam Islamdalam Islam

A. PENDAHULUAN

Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang:

1. Pengertian ibadah

2. Pembagian Ibadah: ibadah mahdlah ghairu mahdlah

3. Fungsi Ibadah

4. Hikmah ibadah

5. Menuju ibadah yang berkualitas

1. Pengertian Ibadah

Ibadah dalam literatur Islam memiliki makna yang cukup komplek. Secara

bahasa, Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-ibadah. Satu akar kata dengan ‘abd

yang berarti hamba. Sehingga ibadah dapat dipahami sebagai sebuah bentuk

panghambaan dan pengabdian kepada Sang Pencipta dan Pemilik sebagai laiknya

seorang hamba (budak kepada tuannya). Selain kata ‘abd, kata ‘ibadah mempunyai

beberapa akar kata yang senada. Seperti ma’badah yang berarti sesuatu yang

membutuhkan sesuatu. Manusia sebagai seorang makhluk, membutuhkan Sesuatu

yang serba Maha yaitu Allah SWT. Dan adalah sebuah konsekuensi seorang hamba

untuk beribadah kepada yang Maha memiliki tersebut. Ta’abbud atau ta’alluh atau

tanassuk yang berarti ritual. Ibadah adalah ritual tertentu yang telah ditentukan

sebagai wujud ta'abbudinya kepada Allah SWT. Sedangkan mu’abbad berarti

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

B A B

9

163

Page 2: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

sesuatu yang diagungkan. Tuhan, Sesuatu yang mana manusia beribadah kepadanya,

adalah Sesuatu yang maha Agung dan diagungkan.

Dalam al-Qur'an sendiri banyak sekali kata-kata ibadah yang darinya dapat

diambil pengertian.

Memberikan pengertian sebagai aktivitas manusia:

�ن� ق�ل� �ي إ ت ��س�ك�ي ص�ال �اي� و�ن ي �ي و�م�ح� �ه� و�م�م�ات �ل ب- ل ��م�ين� ر �ع�ال ال

Katakanlah, "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah demi Allah Pemelihara seluruh alam" (QS. Al-An'am (6): 162)

Memberi pengertian menyembah:

4ه�ا ي� �اأ �اس� ي �د�وا الن �م� اع�ب �ك ب ��ذ�ي ر �م� ال �ق�ك ل ��ذ�ين� خ �م� م�ن� و�ال �ك �ل ق�ب

�م� �ك �ع�ل �ق�ون� ل �ت ت

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah (2): 21)

Mempunyai pengertian taat atau mentaati:

�م� �ل ع�ه�د� أ� �م� أ �ك �ي �ل �ن�ي إ �اب �ن� ء�اد�م� ي �د�وا ال� أ �ع�ب �ط�ان� ت ي �ه� الش� �ن �م� إ �ك لIد�و��ينJ ع م�ب

“Bukankan Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak mentaati Syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Yasin (36): 60)

Memberi pengertian doa, sebagaimana tercantum dalam

��م� و�ق�ال 4ك ب ��ي ر �ج�ب� اد�ع�ون ت س�� �م� أ �ك �ن� ل �ذ�ين� إ ون� ال �ر� �ب �ك ت �س� ع�ن� ي

�ي �اد�ت ب �ون� ع� ل �د�خ� ي ��م� س ه�ن �د�اخ�ر�ين� ج

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

164

Page 3: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

diri dari berdoa kepada–Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin (40): 60)

Secara istilah, banyak definisi yang diberikan para ulama untuk memahami

makna ibadah. Menurut Muhammad Abduh, ibadah adalah suatu bentuk ketundukan

dan ketaatan yang mencapai puncaknya sebagai dampak dari rasa pengagungan yang

bersemai dalam lubuk hati seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia tunduk. Rasa

itu lahir akibat adanya keyakinan daam diri yang beribadah bahwa objek yang

kepadanya ditujukan ibadah itu memiliki kekuasaan yang tidak dapat terjangkau

hakikatnya. Maksimal yang dapat diketahui adalah bahwa yang disembah itu dan

yang kepadanya tertuju ibadahnya adalah Dia yang menguasai jiwa raganya.1

Menurut Mahmud Syaltut, ibadah adalah ketundukan yang tidak terbatas

bagi pemilik keagungan yang tidak terbatas (pula).

Sedangkan Ibnu Taymiyah, dalam bukunya al-Ubudiyah, memasukkan

unsur cinta sebagai salah satu unsur ibadah. Menurut ulama besar ini, tanpa unsur

emosi yang fitri (cinta), ibadah yang merupakan tujuan pokok dijadikannya manusia,

diutusnya para Rasul, diturunkannya Kitab-Kitab itu mustahil akan terwujud.2

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya,

Ibadah adalah suatu pengertian yang mengumpulkan kesempurnaan cinta, tunduk dan

takut3

Jika dirangkumkan dari pengertian di atas, Ibadah adalah segala aktivitas

manusia yang diniatkan untuk mencari ridla Allah SWT semata, sebagai realisasi

tujuan penciptaannya, sebagai ungkapan terima kasih kepada Penciptanya, sebagai

bukti kecintaan dan ketaatan kepada-Nya.

2. Macam-macam Ibadah

Ada banyak macam ibadah. Dilihat dari segi pelaksanaannya, ibadah dapat

dibagi dalam tiga bentuk. Pertama, ibadah jasmaniah-ruhiah, yaitu perpaduan ibadah

jasmani dan ruhani seperi shalat dan puasa. Kedua, ibadah ruhiah dan maliyah, yaitu

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

165

Page 4: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

perpaduan antara ibadah ruhani dan harta, seperti zakat. Ketiga, ibadah jasmaniah,

ruhiah dan maliyah sekaligus, seperti melaksanakan haji.4

Dari segi bentuk dan sifatnya, ibadah ada lima macam: Pertama, ibadah

yang berupa perkataan dan ucapan lisan, seperti berdoa, berzikir, takbir, tahmid,

menjawab salam, membaca al-Qu'an mengumandangkan adzan, dan alin-lainnya.

Kedua, ibadah-ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan sifat dan

bentuknya. Seperti menolong orang lain, jihad, tajhiz al-Janazah (mengurus jenazah),

dan lain-lainnya. Ketiga, ibadah-ibadah yang sudah ditentukan wujud perbuatannya,

seperti shalat, puasa, zakat, haji. Keempat, ibadah-ibadah yang berupa perbuatan

menahan diri dari sesuatu seperti puasa, I'tikaf, ihram, dan sebagainya.

Kelima,ibadah-ibadah yang berbentuk mnggugurkan hak, seperti memaafkan orang

yang telah melakukan kesalahan terhadap dirinya, membebaskan seseorang yang

berhutang, dan sebagainya.

Secara garis besar, ibadah dibedakan menjadi dua, yaitu ibadah mahdlah

dan ibadah mu’amalah.

a. Ibadah mahdlah

Ibadah mahdlah atau ibadah khashshah atau khusus, adalah ritual hubungan

seorang hamba dengan Tuhannya. Ciri ibadah ini, secara ritual sudah dijelaskan

secara terperinci, dan bersifat tauqifi. Artinya, tata caranya, waktunya, semua

ditetapkan berdasarkan petunuk Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga harus

dilaksanakan dan diterima tanpa alasan. Dalam hal ibadah mahdlah ini, peran akal

sama sekali tidak masuk. Kita tidak dapat mempersoalkan mengapa shalat shubuh

dua rakaat, dan shalat isya' empat rakaat. Mengapa dalam wudlu dan tayamum yang

dibasuh adalah muka dan tangan, padahal yang membatalkan bukan dua anggota

tubuh tersebut. Sebagaimana juga perkataan Ali bin Abi Thalib ketika menjelaskan

syar'iat mengusap sepatu sebagai ganti membasuh kaki dalam wudlu: "jika agama

berdasar akal, maka yang diusap bukan bagian atasnya, tetapi bagian alas sepatu yang

selalu bersentuhan dengan tanah".5

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

166

Page 5: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Istilah ibadah mahdlah tidak dikenal pada awal-awal Islam. Istilah ini baru

dikenalkan oleh ulama fikih ketika ada sistematisasi uraian-uraian hukum. Para ulama

mengkategorikan berbagai aktivitas manusia yang berhubungan dengan interaksi

manusia dalam bidang kemasyarakatan sebagai ibadah mu'amalah. Sedangkan hal-hal

yang terkait dengan persoalan shalat, puasa, haji, zakat dimasukkan dalam kategori

ibadah (tanpa kata mahdlah). Untuk lebih memudahkan dalam klasifikasi ini dan agar

tidak merancukan pengertian ibadah itu, maka ditambahkan kata mahdlah untuk

kategori ibadah. 6

Macam-macam ibadah mahdlah adalah shalat, zakat, puasa, dan haji.

Termasuk dalam jenis ini adalah berbagai ibadah yang berhubungan langsung

maupun tidak langsung dengan ibadah tersebut, seperti thaharah dan yang terkait

dengannya seperti wudlu, tayamum serta mandi, berbagai macam doa, adzan, serta

qurban dan aqiqah. Pembahasan ibadah mahdlah ini sangat luas, sehingga tidak

mungkin untuk dibahas dalam buku ini. Bahasan ini dapat dilihat di berbagai buku

mengenai ibadah dan fikih.

b. Ibadah Mu'amalah (ghairu mahdlah)

Ibadah mu'amalah adalah Ibadah yang memiliki makna luas. Jika

didefinisikan, ibadah mu’amalah atau yang sering juga disebut dengan ibadah umum,

adalah ibadah yang mencakup hubungan antar sesama manusia, serta antara manusia

dengan makhluk lainnya.

Jika penjelasan tentang ibadah mahdlah bersifat tegas dan terperinci,

penjelasan mengenai ibadah mu'amalah dalam al-Quran dan al-Hadits hanya

mengenai dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum yang tidak terperinci. Kalaupun ada

yang terperinci, itu hanya sebagian kecil. Karena prinsip tersebut bersifat umum,

maka ajaran tersebut membutuhkan interpretasi-interpretasi yang dalam fiqih disebut

dengan ijtihad. Dengan ijtihad inilah ajaran Islam dapat eksis di setiap situasi dan

kondisi.

Jika boleh dipetakan, ada tiga kelompok bidang mu'amalah. Kelompok

pertama adalah bidang mu'amalah yang mengatur hubungan antara sesama manusia

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

167

Page 6: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

terutama hubungan yang berimplikasi kepada keuntungan timbal balik. Apakah

berupa barang dan jasa, barang dengan barang atau antara jasa dengan jasa. Dalam

kajian fiqih klasik aturan-aturan ini dijelaskan dalam bab-bab “buyu’” atau jual beli,

tijaroh, ji’alah, mudharabah, dan sebagainya. Kesemuanya ini dapat dimasukkan

dalam bidang ekonomi, yang biasa dikenal dengan istilah mu’amalat dalam artian

sempit. Kajian-kajian ekonomi Islam (ekonomi yang berdasar pada ajaran-ajaran

Islam) semakin berkembang. Hal ini tentu saja adalah keniscayaan. Bagaimanapun

juga kehidupan manusia akan selalu berkembang. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan

manusia pun semakin beragam. Hal ini berimplikasi pada cara-cara pemenuhannya.

Dan bagaimana Islam merespon perkembangan tersebut?

Dalam Islam hanya diberikan prinsip-prinsip yang bersifat sangat umum.

Seperti dalam satu ayatnya, al-Qur’an mengatakan bahwa: “Allah menghalalkan

perdagangan dan mengharamkan riba”. Dan dikatakan bahwa antara keuntungan

hasil perdagangan dengan riba sangatlah tipis. Seperti permasalahan mengenai bunga

bank, apakah termasuk riba sehingga tidak boleh berhubungan sama sekali? Bank

disatu pihak adalah lembaga komersil yang tentu saja berorientasi pada laba atau

keuntungan, yaitu dengan cara memberikan pinjaman berbunga. Namun disisi lain

bank (dalam hal ini bank pemerintah) juga berfungsi sebagai pengatur keuangan

negara, seperti penerbitan mata uang, pengendali mata uang dan hal-hal yang

berkaitan dengan moneter. Dalam fungsinya sebagai lembaga komersil, Bank tentu

saja mengusahakan keuntungan dengan meminjamkan. Sebagai modal, bank

menerima setoran uang dari masyarakat berupa tabungan. Sebagai jasa, penabung

diberi sedikit keuntungan yang diperoleh dari perputaran uang.

Apakah bunga bank konvensional tersebut termasuk riba atau bukan?

Pertanyaan ini memerlukan kajian panjang. Ada yang menolak dan ada yang

menerima. Yang menarik, respon masyarakat (umat Islam) ternyata tidak hanya

berupa penolakan atau penerimaan terhadap lembaga ekonomi yang ada, namun juga

berupa pendirian lembaga-lembaga ekonomi alternatif yang berupaya menjawab

kegamangan masyarakat akan bank. Saat ini muncul bank-bank yang beroperasi

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

168

Page 7: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dengan sistem syari’ah, lembaga takaful (asuransi Islam), BPR-BPR Islam atau yang

lebih dikenal dengan bait al-maal wa al-tamwil (BMT). Di samping itu, muncul pula

lembaga-lembaga pendidikan yang mengarah pada pencetakan ahli-ahli ekonomi

yang berwawasan syari’ah, seperti Jurusan Ekonomi Syari’ah, Sekolah Tinggi Ilmu

Ekonomi Syari’ah dan lain-lain.

Fenomena ini sebetulnya adalah kemajuan dan merupakan respon positif

terhadap persoalan bunga bank. Bagaimanapun bank adalah sebuah lembaga yang

sulit dilepaskan dari kehidupan modern. Langsung atau tidak langsung hampir setiap

orang akan memanfaatkan jasa bank ini. Munculnya bank-bank yang beroperasi

dengan sistem syari’ah dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan umat Islam

akan lembaga moneter yang bersih dan halal.

Bagian kedua dari mu’amalah adalah aturan yang mengatur hubungan antara

manusia dengan kehidupannya seperti : hukum keluarga, politik, hubungan antar

negara, pendidikan, dan lainnya. Bagian kedua dari kajian mu’amalah ini amat luas

dan semakin berkembang, dan membingkai berbagai aspek yang cukup beragam.

Dalam hal politik Islam, fiqih klasik mengungkapkannya dalam satu bab

tersendiri yaitu bab al-jihad dan al-ahkam sulthoniyyah.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana politik Islam dan adakah politik

Islam tersebut? Bagaimana dan adakah negara Islam? Dalam al-Quran sendiri, nash

yang menunjukkan secara pasti adakah dan bagaimanakah pemerintahan Islam itu

tidak dijelaskan. Tidak ada ketentuan baku yang membahas masalah ini. Dari praktik

kenegaraan yang berlangsung sepanjang sejarah sejak masa Islam awal, tidak ada

kesamaan dalam corak atau sistemnya. Praktik kenegaraan pada masa Rasulullah

berbeda dengan apa yang dipraktikkan pada masa khulafaurrasyidin dan berbeda pula

dengan kekhilafahan yang berlangsung setelahnya. Masa khalifah yang empat pun

berbeda pula suksesi kepemimpinannya. Namun kesemuanya itu diakui sejarah

sebagai khazanah Islam. Yang kemudian memunculkan pertanyaan adalah adakah

keharusan mempraktikkan model-model ketatanegaraan tersebut pada masa kini?

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

169

Page 8: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Termasuk dalam bidang mu'amalah adalah hukum keluarga atau al-ahwal al-

syakhshiyyah yang meliputi berbagai permasalahan normatif seperti: pernikahan,

talak, rujuk, pemeliharaan anak dan sebagainya. Dalam bidang al-ahwal al-

syakhshiyyah ini, banyak ketentuan normatif yang sudah terumuskan, walaupun ada

pula yang menimbulkan ikhtilaf, seperti persoalan siapa yang boleh dinikahi,

ketentuan mempelai, wali dan saksi, serta pernikahan antara pemeluk agama yang

berbeda yang kini marak di kalangan umat Islam. Ketentuan normatif bidang ini

sekarang memiliki tantangan baru dengan munculnya berbagai persoalan di

masyarakat, seperti wacana gender, munculnya kelompok gay dan sebagainya.

Bagian ketiga dari kajian mu’amalah adalah hal-hal yang mengatur hubungan

manusia dengan alam sekitar seperti Islam dan lingkungan hidup. Ada beberapa ayat

yang dapat dijadikan landasan agar manusia selalu berbuat shalih terhadap makhluk

lain. Seperti dengan alam, tetumbuhan, bahkan hewan sembelihan sekalipun.

Seperti diungkapkan di muka bahwa penjelasan mengenai ibadah mu'amalah

ini tidak terperinci sebagaimana ibadah mahdlah, maka perlu sebuah reformulasi

mengenai ibadah mu'amalah ini. Banyak hal yang dahulu belum dibahas para ulama

klasik, sekarang muncul di masyarakat. Hal-hal tang berhubungan dengan kehidupan

manusia akan selalu berkembang. Bagaimana hubungan manusia dengan alam,

munculnya dunia maya (internet) menunculkan tantangan tersendiri bagi

perkembangan ibadah mu'amalah.

Masalah lingkungan misalnya, bagaimana seharusnya manusia

memperlakukan alam. Apakah sebagai khalifah di muka bumi ini manusia berhak

mengeksploitasi alam dengan semena-mena? Apalagi sekarang ini bencana alam yang

1Penjelasan Muhamamd abduh mengenai ibadah ketika menjelaskan surat al-Fatihah, sebagaimana dikutib Quraisy Shihab dalam bukunya Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdlah2 sebagaimana dituliskan dalam buku al-Ibadah fi al-Islam (terj.) karangan Yusuf Qardlawi edisi Indonesia, terbitan Pustaka Abdul Muis Bangil3 seperti dikutib hasbi Ash-Shiddiqi dalam bukunya Kuliah Ibadah: Ibadah ditinjau adri segi hukum dan hikmah, Jakarta: Bulan Bintang 19544 Ahmad Thib Raya dalam bukunya Menyelami Seluk-beluk Ibadah dalam Islam, Jakarta: Prenada Mulia halman 1385 Quraisy Shihab, Fatwa-Fatwa Seputar Ibadah Mahdah. Bandung: 1999 hal pendahuluan 6 Quraisy Shihab, Fatwa-Fatwa Seputar Ibadah Mahdah. Bandung: 1999 hal pendahuluan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

170

Page 9: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

datang beruntun sebagai akibat dari pengelolaan lingkungan yang tidak seimbang,

semakin memberikan kesadaran kepada manusia (muslim) untuk mengkajinya.

Ironisnya kerusakan alam itu banyak terjadi di Dunia Ketiga yang notabene adalah

negara-negara muslim. Dalam masalah lingkungan ini, al-Qur'an memang tidak

memberikan penjelasan terperinci, hanya memberikan penjelasan umum terkait

dengannya. Misalnya adanya larangan membuat kerusakan di muka bumi, adanya

kewajiban berbuat baik kepada siapapun, baik kepada manusia, alam, tumbuhan,

sampai kepada hewan yang disembelih sekalipun. Dalam perang, Rasulullah

melarang para tentara muslim menebang pohon, apalagi dalam kondisi damai.

Jika ditanya mana yang lebih penting ibadah mu'amalah atau ibadah mahdlah,

tentu saja jawabnya adalah semua penting. Dalam ber-Islam tidak cukup hanya

dengan shalat, zakat, puasa, haji, namun ber-Islam juga harus berbuat baik dengan

tetangga, tolong menolong, rela berkorban untuk yang lain dan sebagainya. Namun

pada praktiknya, umat Islam cenderung lebih mementingkan ibadah mahdlah dan

menomorduakan –jika tidak dikatakan mengabaikan—ibadah mu'amalah. Ibadah haji

adalah ibadah mahdlah, wajib bagi yang mampu, dan wajibnya hanya sekali seumur

hidup. Namun umat Islam banyak yang naik haji sampai berkali-kali, padahal banyak

orang-orang disekitarnya yang membutuhkan bantuannya. Apalagi sekarang ini kuota

haji sangat terbatas, dan yang ingin menunaikan haji sampai harus menunggu (wating

list). Menurut Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Islam Alternatif, ada beberapa hal

yang dapat membuktikan bahwa Islam memberikan penekanan terhadap bidang

mu’amalah lebih besar dari pada bidang ibadah, diantaranya:

Pertama, dalam al-Quran dan kitab-kitab hadits, proporsi terbesar kedua

sumber utama tersebut adalah bidang mu’amalah dikatakan bahwa perbandingan

ayat-ayat ibadah dengan ayat mu’amalah satu berbanding seratus. Setiap ada satu ayat

tentang ibadah, ada seratus ayat yang membahas masalah mu’amalah.

Kedua, bila urusan ibadah berbenturan dengan urusan mu’amalah, maka yang

didahulukan adalah aspek mu’amalah. Contoh yang diberikan oleh Rasulullah adalah

dalam sebuah shalat, ketika beliau menginginkan untuk memperpanjang bacaan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

171

Page 10: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

shalatnya, dan terdengar suara bayi menangis, beliau kemudian memperpendek

shalatnya. Contoh lain ketika seorang sahabat melakukan i'tikaf di 10 hari terakhir di

bulan Ramadlan, ada orang yang membutuhkan pertolongannya. Sehingga kemudian

dia membatalkan i'tikafnya untuk menolong saudaranya tersebut. Kejadian itu

mendapat apresiasi dari rasulullah.

Ketiga, ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih

besar dibanding ibadah yang bersifat perseorangan. Shalat berjamaah pahalanya lebih

besar dari pada shalat sendirian.

Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena

melanggar pantangan tertentu, maka kafarat-nya (tebusannya) ialah melakukan

sesuatu yang berhubungan dengan mu’amalah. Bila tidak mampu melaksanakan

shaum wajib pada bulan Ramadlan, maka dibebani untuk membayar fidyah -memberi

makan orang miskin.

Kelima, melakukan amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat

ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunnah, sebagaimana haditr Nabi, “orang-

orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah

seperti pejuang di jalan Allah, (atau aku kira beliau berkata) dan seperti orang yang

terus menerus shalat dan terus menerus puasa”. (Hadits Riwayat Bukhari Muslim). 7

3. Fungsi ibadah

Manusia diciptakan adalah untuk Allah SWT, beribadah kepada-Nya.

�ق�ت� و�م�ا ل ��ج�ن� خ �س� ال �ن �ال� و�اإل� �د�ون� إ �ع�ب �ي ل

“dan tidaklah Aku ciptakan jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Dzariyat: 56)

Sebagai Pencipta, Pemilik mutlak, Allah SWT berhak memberikan berbagai

kewajiban bagi manusia, bahkan bagi seluruh makhluk-Nya. Disinilah lahir berbagai

7 Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, Bandung: Mizan hal.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

172

Page 11: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

kewajiban yang harus dilaksanakan oleh manusia. Ketika manusia menyadari akan

kepemilikan mutlak Allah SWT, seorang hamba yang bertauhid selayaknya

menerima perintah itu dengan penuh ketaatan. Ketika manusia menyadari posisinya

sebagai hamba yang banyak mendapat karunia dari Sang Khalik, mewujudkan

ungkapan syukurnya dengan melaksanakan ibadah. Jadi, ibadah bukan hanya sebuah

perintah yang diberikan oleh sang Khalik sebagai pemilik mutlak manusia, namun

juga wujud ketaatan seorang hamba kepada sang Khalik, sebagai bentuk

pengabdiannya kepada Sang Pencipta, memberikan bukti ketaatannya dengan

melaksanakan perintah-Nya.

Ibadah, sebagai sebuah hubungan seorang hamba dengan Sang Khalik

secara vertikal, selayaknya juga memberikan perngaruh secara horisontal. Artinya,

hubungan kepada Allah itu seharusnya memberikan efek bagi hubungannya dengan

sesama manusia maupun dengan sesama makhluk lain. Misalnya ibadah shalat.

Dalam sholat, seorang hamba berdialog langsung, berkeluh kesah, mengadukan

segala persoalan, memohon ampun dan lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta.

Ibadah juga sebagai bukti ketundukan seorang hamba. Ketika kita melakukan sholat,

kita ruku’ dan sujud sebagai sebuah simbol ketundukan kepada Sang Maha Perkasa.

Ibadah juga merupakan ungkapan syukur atas karunia yang telah Dia berikan. Syukur

ini tidak hanya berdimensi vertikal. Tetapi syukur juga mempunyai dimensi

horisontal. Misalnya ungkapan syukur atas harta yang berlimpah atau cukup, tidak

hanya diwujudkan dengan ucapan syukur alhamdulillah, tetapi juga memanfaatkan

harta itu untuk kebaikan, dan memberikan hak harta tersebut untuk ditunaikan

zakatnya. Secara esensi, ibadah merupakan realisasi penciptaan manusia (serta jin) di

muka bumi ini (Wamaa khalaqtu ‘l-Jinna wa ‘l-insa Illaa Liya’buduuni).

Sisi lain, ibadah merupakan sebuah pembinaan moral. Ketika kita

melakukan sesuatu dengan tujuan ibadah, kita akan terhindar dari sifat tamak. Karena

tujuan yang ingin dicapai jelas, keridloan Allah, bukan untuk mencari ridlo manusia

atau siapapun. Sebuah amalan dapat disebut sebagai ibadah jika memenuhi dua syarat

yaitu ikhlas karena Allah, tidak riya’, dan mengikuti tuntunan yang telah diberikan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

173

Page 12: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

oleh Rasulullah. Jika tidak memenuhi kedua hal tersebut, maka amalan tersebut

dinilai sia-sia.

4. Hikmah Ibadah

Setiap ibadah jika diteliti secara seksama, akan terlihat hikmah-hikmahnya.

Hikmah setiap ibadah tidak nampak secra jelas, namun tersembunyi. Bagi orang yang

dikaruniai kebersihan hati dan kecemerlangan pikiran, hikmah itu akan terkuak.

Hikmah adalah rahasia-rahasia yang berdasar akal yang ada persesuaiannya dengan

hukum.8 memiliki hikmah yang lebih spesifik. Hikmah merupakan karunia Tuhan

dengan disyari'atkannya ibadah bagi manusia. dengan hikmah juga lebih

memantapkan hati dalam melakukan ibadah.

Yang perlu menjadi catatan, hikmah bukanlah sebab diperintahkannya suatu

ibadah (Illath hukum). Sebagai contoh, Allah menyuruh memakan yang baik dan

melarang memakan yang diharamkan. Salah satu makanan yang haram adalah daging

babi. Hikmah diharamkannya babi diantaranya, adalah terdapatnya cacing pita dalam

daging babi. Tetapi bukan karena ada cacing pitanya babi dilarang. Hal itu hanya

merupakan salah satu hikmah, diantara sekian hikmah lain yang belum diketemukan

manusia. Hikmah dari sebuah ibadah akan semakin terungkap seiring berkembangnya

ilmu dan teknologi.

Berbagai macam ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah

mu’amalah (amalan yang diniatkan karena Allah SWT), masing-masing memiliki

hikmah yang akan semakin menguatkan penghayatan dalam beribadah, jika kita

memahami dan mendalami hikmah-hikmah tersebut.

Ibadah shalat. Sebelum shalat, menjadi salah satu syarat adalah bersih dari

hadats kecil maupun besar. Ini memberi pelajaran kepada kaum kita untuk menjaga

kebersihan. Waktu-waktu shalat yang sudah tertentu, mendisiplinkan kita untuk selalu

menjaganya. Di waktu-waktu tertentu di sepanjang hari, ibadah shalat menjadi

8 Hasbi Ashshiddiqie, Kuliah Ibadah: Ibadah ditinjau dari aspek hukum dan hikmah, Jakarta: Bulan Bintang, 1954, hal 207

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

174

Page 13: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

istirahat bagi yang melakukannya. Sebagaimana sabda nabi, istirahatnya seorang

muslim adalah shalat. Dalam gerakan-gerakan shalat, dari berdiri hingga sujud,

merupakan riyadhah (olah raga) bagi tubuh. Bagi orang yang belum pernah

melakukannya, merupakan sebuah kesulitasn tersendir untuk sujud dan ruku'.

Ibadah puasa memberikan hikmah bagi fisik dan mental manusia. secara

fisik, puasa akan menyehatkan jasmani. Ibarat sebuah mesin, metabolisme tubuh juga

perlu turun mesin dengan mengistirahatkannya dalam jangka waktu tertentu. Bagi

penyakit-penyakit tertentu, puasa menjadi salah satu bentuk terapi penyembuhan.

Secara mental, puasa dapat memberikan kekuatan psikis bagi pelakunya. Munculnya

empati terhadap orang yang kekurangan, memunculkan sikap sabar menunggu waktu

berbuka tiba, melatih diri dari menahan sesuatu dan sebagainya.

Zakat, memberikan efek cukup penting bagi pelakunya. Zakat membantu

manusia dalam mengikis sifat kikir dan cinta terhadap harta. Cinta berlebihan kepada

harta akan mengakibatkan manusia menjadi tamak dan loba. Kewajiban membayar,

walaupun merupakan sebuah paksaan, tetap akan memberikan perngaruh positif bagi

muzakki, apalagi jika kemudian menjadi sebuah kesadaran yang muncul di dalam

pribadi-masing-masing. Bagi masyarakat umum, membantu meningkatkan

kesejahteraan kaum fuqara dan masakin.

Ibadah haji adalah sebuah ibadah dimana kaum muslimin dari seluruh

penjuru dunia berkumpul dalam satu tempat dan satu waktu. Hal ini akan

meningkatkan ukhuwah islamiyyah diantara kaum muslimin. Pakaian yang sama

(berwarna putih) memunculkan kesadaran bahwa semua manusia itu sama baik itu

berkulit hitam, berkulit putih, bermata sipit, bermata coklat, semua sama dihadapan

Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaan masing-masing.

Jika kita perhatikan dalam ibadah haji dan zakat ada hikmah yang belum

banyak disadari oleh kaum muslimin. Untuk melaksanakan kedua ibadah ini, seorang

muslim harus mempunyai harta yang banyak. Artinya untuk melakukan ibadah haji

dan zakat, seorang muskim harus kaya. Ini akan mendorong etos kerja dan

produktivitas seorang muslim.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

175

Page 14: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Di sisi lain, setiap ibadah dan amalan yang dilakukan dengan niat mencari

ridlo Allah SWT, membantu manusia menghindarkan diri dari perbuatan yang

menyimpang. Jika kita melakukan sesuatu dengan niat mencari ridlo Allah SWT,

untuk ibadah, tentunya kita akan memaksa diri untuk tidak melakukan perbuatan

yang tidak diridloi-Nya. Ketika bekerja dengan niatan mencari ridlo Allah SWT, kita

akan menolak melakukan korupsi, memanipuasi, suap dan lainnya.

Ketika ibadah dilakukan dengan penuh makna dan keikhlasan, ada banyak

hikmah yang dapat dipetik. Bahwa Allah SWT tidak memerintahkan sesuatu itu tanpa

ada hikmah yang terkandung didalamnya. Tergantung bagaimana kita menguaknya.

Secara umum, semua ibadah yang dilakukan manusia dengan ikhlas, penuh

ketundukan kepada Allah SWT, maka ibadah itu akan memberikan pengaruh yaitu

taqarrub ilallah.

5. Menuju Ibadah Yang Berkualitas

Dalam membicarakan ibadah, ada dua hal yang menjadi syarat diterimanya

sebuah amalan menjadi sebagai sebuah ibadah, yaitu: ikhlas dan sesuai dengan

syari'at.

Pertama Ikhlas. Ikhlas berhubungan dengan niat. Dalam beribadah, niat

menajdi hal yang sangat vital. Para ulama menempatkan niat sebagai salah satu syarat

ibadah mahdlah. Disamping itu bab niat selalu menempati urutan pertama dalam

setiap pembahasan kitab fikih. Setiap ibadah harus diniatkan karena Allah SWT,

itulah ikhlas. Jika ada unsur lain selain Allah SWT, maka derajatnya turun menjadi

riya'. Dalam hal ini ada hadits yang menjadi dasar yaitu hadits panjang yang

diriwayatkan dari Umar ibn Khaththab tentang niat:

نوى.... ما لكل نما إ و بالنيات عمال األ نما إ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung kepada niat, dan setiap orang

akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya.” (Hadits Riwayat Bukhari Muslim)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

176

Page 15: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

وا و�م�ا �م�ر� �ال� أ �د�وا إ �ع�ب �ي �ه� ل �ه� م�خ�ل�ص�ين� الل الد-ين� ل��ف�اء ن �ق�يم�وا ح� ة� و�ي ��وا الص�ال �ؤ�ت �اة� و�ي ك �ك� الز� د�ين� و�ذ�ل-م�ة� �ق�ي ال

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Kedua, adalah sesuai dengan nash. Hal ini terutama pada ibadah mahdlah.

Sebuah amalan tidak akan diterima, jika tidak sesuai dengan ketentuan syari'at.

Bagaimana Rasulullah shalat, contoh itu yang harus diikuti. Sebagamana kata Rasul

yang artinya Shalatlah kamu sebagaimana aku shalat.

Kedua syarat itu harus ada dalam setiap ibadah, terutama dalam ibadah

mahdlah. jika kedua syarat itu tidak terpenuhi, maka amalan itu bukan termasuk

ibadah.

Dalam beribadah, ada tiga tipologi pelaku ibadah:

1. Ibadah seorang budak

Yaitu ibadah yang dilakukan seseorang disebabkan takut kepada Allah. Takut

karena ancaman-ancaman neraka jika tidak melaksanakannya

2. Ibadah seorang pedagang

Yaitu ibadah yang dilakukan untuk mencari surga dan pahala. Seorang

pedagang selalu melihat dengan kaca mata untung rugi. Motivasinya adalam

melakukan ibadah adalah adanya pahala yang dijanjikan

3. Ibadah seorang pecinta oleh Allah

Yaitu ibadah yang dilakukan seseorang karena cintanya kepada Allah.

Motivasi pecinta dalam beribadah adalah untuk mendapatkan rahmatnya. Diam

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

177

Page 16: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

melakukan ibadah sebagai wujud syukurnya kepada Allah, dan selalu merasa

bahwa dirinya belum menunaikan ibadah secara maksimal.

Menjelaskan tipologi ibadah ketiga ini, Rasulullah pernah mengisyaratkannya

ketika beliau melaksanakan qiyamul lail hingga kedua telapak kaki beliau

bengkak, Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa anda memberatkan diri

sepreti ini, sedangkan Allah SWT telah mengampuni dosa-dosa anda yang telah

lalu maupun yang akan datang? Beliau menjawab: "tidakkah selayaknya aku

menjadi hamba yang bersyukur?9

Mengomentari tipologi ini, al-Ghazali mengungkapkan bahwa ibadah yang

didiringi rasa penuh harap lebih utama dari pada ibadah yang diiringi rasa takut.

Ibadah yang diiringi rasa harap lebih utama, karena harapan membuahkan kecintaan,

sedangkan ibadah yang diiringi rasa takut mengakibatkan keputusasaan. 10

Menyoal ibadah yang berkualitas, tidak bisa dilepaskan dari ajaran-ajaran

pokok Islam lainnya seperti iman dan akhlak. Sebagaimana kita ketahui bahwa ada

tiga pokok ajaran Islam; yaitu aqidah (iman), ibadah, dan akhlak. Hubungan antara

ketiganya sangat erat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Hubungan ketiganya dapat digambarkan sebagai sebuah bangunan, iman

sebagai pondasinya, dinding dan penyangganya sebagai ibadah, sedangkan atap-atap

serta ornamennya sebagai akhlak. Islam sebagai sebuah bangunan dipondasi dengan

keimanan. Semakin kuat pondasinya, maka akan semakin kuat bangunan

keislamannya. Diterpa cobaan, ujian apapun, jika iman dalam dada seorang manusia,

maka ia akan tetap kuat bangunan keislamannya. Ibadah sebagai penyangga atau

tiang, memberikan penguatan dan keamanan bagi penghuninya dari perubahan cuaca,

dari ancaman musuh, dan lainnya. Semakin kokoh ibadah seseorang, bangunan

keislamannya juga akan kuat, tidak mudah roboh digoyang angin. Akhlak yang

digambarkan sebagai atap dan ornamennya, menjadikan bangunan keislaman semakin

lengkap dan kokoh. Atap memberikan perlindungan penghuninya dari sengatan panas

9 Imam Nawawi, Syarah Hadits Arbain. Terj. Solo: al-Qawam 2001, hal.2810 Imam Nawawi, ibid, hal 29

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

178

Page 17: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dan curahan hujan. Ornamen memberikan hiasan-hiasannya. Dengan akhlak,

bangunan keislaman seseorang semakin lengkap dan indah.

Ibadah tanpa didahului dengan landasan iman, bagaikan bangunan tanpa

pondasi. Atau bagai sebuah pohon tanpa akar. Tidak dapat hidup. Al-Qur'an

memberikan istilah tersendiri, bagai fatamorgana. Iman menjadi dasar dalam

melakukan ibadah. Tanpa iman, ibadah menjadi tidak bermakna. Iman tanpa ibadah

tidak cukup, ibadah tanpa didasari keimanan bukan bernilai ibadah.

Hubungan antara ibadah dengan akhlak pun demikian erat. Ibadah sering

dikaitkan dengan akhlak, terutama ketika dihubungkan dengan hikmah. Sebagai

contoh adalah tentang shalat. Kualitas shalat seseorang dihubungkan dengan

perbuatan purna shalatnya.

�ة� �ان� �ه�ى الص�ال �ن اء� ع�ن� ت ��لف�ج�ش �ر� ا �ك �م�ن و�ال“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (al-

Ankabut (QS. 29): 45)

Secara implisit dapat dipahami bahwa perbuatan keji dan mungkar tidak

akan dilaksanakan oleh seorang yang mengerjakan shalat. Pertanyaannya, mengapa

pelaku-pelaku kejahatan, korupsi, pencuri adalah orang-orang yang melakukan

shalat? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipertanyakan kembali bagaimana

kualitas shalat pelaku kejahatan itu? Karena janji Allah SWT tidak akan salah.

Contoh lain adalah puasa. Allah SWT menjanjikan bagi orang yang

berpuasa akan menjadi orang yang bertaqwa. Seperti dalam firman-Nya:

��ن �ذ�ي 4ه�اال �ي �اا �و�ا ي �م�ن �ب� ا �ت �م� ك �ك �ي �ام� ع�ل �م�ا الص-ي �ب� ك �ت �ن� ع�ل�ى ك �ذ�ي ال

�م� م�ن� �ك �ل �م� ق�ب �ك �ع�ل �ق�و�ن� ل �ت ت“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa

sebagaimana diwajibkan atas kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah (2): 183)

Seperti dalam hadits dikatakan:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

179

Page 18: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

تصحeو صومو“Berpuasalah kamu, maka kamu akan menjadi sehat”

Zakat, sebagaimana pengertiannya adalah mensucikan. Sehingga zakat itu

berfungsi sebagai penyuci jiwa dari ketamakan, kekikiran pemilik harta dan juga

penyuci harta itu sendiri dari hak-hak orang lain yang masuk dalam harta tersebut.

Dari uraian di atas, untuk menuju kualitas ibadah yang baik, kita perlu

menghayati makna dan hikmah dari ibadah tersebut. Dengan demikian ibadah itu

menjadi penuh makna dan melakukannya juga penuh khusyu' dan penuh cinta kepada

Sang Pencipta.

C. RANGKUMAN

Ibadah merupakan salah satu unsur ajaran Islam yang tiga (Aqidah, badah dan

akhlak). Ibadah merupakan perintah dari Sang Pemilik dan merupakan bukti

ketundukan dan kecintaan seorang hamba kepada Sang Khalik. Secara garis besar

ada dua macam ibadah, yaitu ibadah mahdlah dan ibadah mu'amalah. Ibadah mahdlah

adalah hubungan antara manusia langsung dengan Allah SWT. Ibadah ini secara

terperinci sudah dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulnya. Sedangkan ibadah

mu'amalah adalah ibadah yang merupakan hubungan antar sesama makhluk. Semua

amalan yang diniatkan mencari ridla Allah SWT akan bernilai ibadah.

Disyari'atkannya ibadah bagi manusia adalah hak Allah SWT sebagai Pemilik

Mutlak. Sedangkan bagi manusia adalah sebagai bukti ketundukan dan kecintaannya

kepada Sang Khalik. Setiap ibadah memiliki hikmah yang tersembunyi, sehingga

harus dikaji dan dihayati oleh orang-orang yang bersih haitnya dan jernih pikirannya.

Dengan adanya hikmah akan lebih mendorong manusia untuk lebih meningkatkan

kualitas ibadahnya.

D. PERTANYAAN

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

180

Page 19: Bab9IbadahIslam.doc

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

1. Bagaimana konsep ibadah dalam Islam? Jelaskan!

2. Ibadah apa saja yang tergolong ibadah mahdlah?

3. Ibadah apa yang termasuk dalam ibadah Mu'amalah?

4. Apa yang membedakan antara ibadah mahdlah dan ibadah mu'amalah?

5. Apa saja syarat diterimanya sebuah amalan sebagai ibadah?

6. Mengapa manusia harus beribadah?

7. Apa saja hikmah yang tersembunyi dibalik ibadah-ibadah tersebut?

8. Untuk apa hikmah itu kita ketahui?

9. Bagaimana caranya agar ibadah kita menjadi lebih berkualitas?

E. REFERENSI (END NOTE)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IIUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

181