Bab III Transportasi - Catatan Kecil .60 BAB III Transportasi 1. Metode Transportasi Metode...

download Bab III Transportasi - Catatan Kecil .60 BAB III Transportasi 1. Metode Transportasi Metode transportasi

of 57

  • date post

    25-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    249
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Bab III Transportasi - Catatan Kecil .60 BAB III Transportasi 1. Metode Transportasi Metode...

60

BAB III

Transportasi

1. Metode Transportasi

Metode transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi dari

sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama atau sejenis ke tempat tujuan

secara optimal. Distribusi ini dilakukan sedemikian rupa sehingga permintaan dari

beberapa tempat tujuan dapat dipenuhi dari beberapa tempat asal yang masing-masing

dapat memiliki permintaan atau kapasitas yang berbeda. Dengan menggunakan metode

transportasi, dapat diperoleh suatu alokasi distribusi barang yang dapat meminimalkan

total biaya transportasi. Selain untuk mengatur distribusi pengiriman barang, metode

transportasi juga dapat digunakan untuk masalah lain, seperti penjadwalan dalam proses

produksi agar memperoleh total waktu proses pengerjaan yang terendah, penempatan

persediaan agar mendapatkan total biaya persediaan terkecil, atau pembelanjaan modal

agar mendapatkan hasil investasi yang terbesar. Dalam kaitannya dengan perencanaan

fasilitas, metode transportasi dapat digunakan untuk memilih suatu lokasi yang dapat

meminimalkan total biaya operasi.

Suatu perusahaan memerlukan pengelolaan data dan analisis kuantitatif yang akurat,

cepat serta praktis dalam penggunaannya. Dalam perhitungan secara manual

membutuhkan waktu yang lebih lama, sementara pertimbangan efisiensi waktu dalam

perusahaan sangat diperhatikan. Dengan demikian diperlukan adanya suatu alat, teknik

maupun metode yang praktis, efektif dan efisien untuk memecahkan permasalahan

tersebut.

2. Permasalahan dalam Metode Transportasi

Masalah ini merupakan masalah pengangkutan sejenis barang dari beberapa sumber ke

beberapa tujuan. Pengalokasian produk dari sumber yang bertindak sebagai penyalur ke

tujuan yang membutuhkan barang bertujuan agar biaya pengangkutannya seminimal

mungkin dari seluruh permintaan dari tempat tujuan dipenuhi. Model transportasi

61

digunakan untuk menyelesaikan masalah distribusi barang dari beberapa sumber ke

beberapa tujuan. Asumsi sumber dalam hal ini adalah tempat asal barang yang hendak

dikirim, sehingga dapat berupa pabrik, gudang, grosir, dan sebagainya. Sedangkan tujuan

diasumsikan sebagai tujuan pengiriman barang. Dengan demikian informasi yang harus

ada dalam masalah transportasi meliputi: banyaknya daerah asal beserta kapasitas

barang yang tersedia untuk masing tempat, banyaknya tempat tujuan beserta permintaan

(demand) barang untuk masing-masing tempat dan jarak atau biaya angkut untuk setiap

unit barang dari suatu tempat asal ke tempat tujuan.

Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas contoh masalah transportasi yang terlihat

pada Tabel 1.1. berikut:

Tabel 1.1 Kapasitas pabrik, Permintaan di Lapangan (Demand), dan biaya satuan

pengangkutan

Origin

(Tempat

Asal)

Destination (Tempat Tujuan) Kapasitas

Pabrik

D1 D2 D3 D4 D5

12 4 9 5 9

100 O1

8 1 6 6 7

90 O2

1 12 4 7 7

70 O3

10 15 6 9 1

90 O4

Demand

(Permin-

taan)

80 50 90 60 70 350

Tabel 1.1. di atas menggambarkan bahwa jumlah kapasitas pabrik O1, O2, O3, dan

O4 berturut-turut: 100, 90, 70, dan 90, sedangkan permintaan pasar di lapangan D1, D2, D3,

D4, dan D5 berturut-turut 80, 50, 100, 60, dan 70. Biaya satuan dari pabrik O1 ke

62

permintaan D1 adalah 12, biaya satuan dari pabrik O1 ke permintaan D2 adalah 4, dan

seterusnya, sampai biaya satuan dari pabrik O3 ke permintaan D5 adalah 1. Untuk

menyelesaikan permasalahan transportasi ini ada beberapa metode antara lain: Metode

North West Corner (NWC), metode Inspeksi, dan metode pendekatan Vogel (Vogel

Approximation Methods atau disingkat VAM).

a. Beberapa Metode dalam Penyelesaian Masalah Transportasi (Penyelesaian awal)

i. North West Corner (NWC)

Sesuai nama aturan ini, maka penempatan pertama dilakukan di sel paling kiri dan

paling atas (northwest) matriks kemudian bergerak ke kanan atau ke bawah sesuai

permintaan dan kapasitas produksi yang sesuai.

Besar alokasi ini akan mencukupi salah satu, kapasitas tempat asal baris pertama

dan atau permukaan tempat tujuan dari kolom pertama. Jika kapasitas tempat asal

pertama terpenuhi kita bergerak ke bawah menyusur kolom pertama dan menentukan

alokasi yang akan mencukupi atau kapasitas tempat asal baris kedua atau mencukupi

tujuan yang masih kurang dari kolom pertama. Di lain pihak, jika alokasi pertama

memenuhi permintaan tempat tujuan di kolom pertama, kita bergerak ke kanan di baris

pertama dan kemudian menentukan alokasi yang kedua atau yang memenuhi kapasitas

tersisa dari baris satu atau memenuhi permintaan tujuan dari kolom dua dan seterusnya.

Untuk masalah seperti pada Table 1.1 di atas, maka apabila diselesaikan dengan metode

NWC akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Penggunaan metode NWC mengharuskan sel O1 D1, yang terletak di sudut kiri atas diisi.

Alokasi diterapkan X11 = 80 unit untuk memenuhi permintaan yang ternyata lebih kecil dari

kapasitas O1. Ini berarti permintaan tujuan D1= 80 dapat dipenuhi dari O1. Ternyata

produksi O1 masih mempunyai (100 - 80) = 20 unit kapasitas yang belum disalurkan. Sisa

yang 20 unit ini di alokasikan kepada permintaan D2 yang permintaannya 50 unit. Untuk

memenuhi kekurangan kebutuhan D2, yaitu kurang 30 unit maka diambil dari D2 dengan

demikian maka sel O1D2 atau X12 = 20 dan sel O2D2 atau X22 = 30. Sisa produksi D2

setelah dikurangi 30 unit adalat 60 unit, sisa ini di alokasikan ke sel O2D3 atau X23 yang

secara keseluruhan. Permintaan D3 adalah 90 unit dan telah tersedia 60 unit dari O2.

63

Kekurangan 30 unit diambilkan dari produksi O3 sehingga X23 = 70 dan X33 = 30. Sisa

produksi O3 sebanyak 40 unit yaitu (70-30) di alokasikan ke permintaan D4 dan permintaan

D4 sebanyak 60 unit dilengkapi dengan mengambil 20 unit dari produksi O4. Dengan

demikian produksi O4 tersisa 70 unit dialokasikan ke permintaan D5.

Tabel 2.1. Matriks biaya transportasi tiap barang dan jumlah alokasi distribusi barang dari tempat asal (pabrik) ke tempat tujuan (kota tujuan)

Tempat

Asal

Destination (Tempat Tujuan) Kapasitas

Pabrik D1 D2 D3 D4 D5

12 4 9 5 9

100 O1 80 20

8 1 6 6 7

90 O2 30 60

1 12 4 7 7

70 O3 30 40

10 15 6 9 1

90 O4 20 70

Permin-

taan

80 50 90 60 70 350

Berdasarkan Tabel 2.1 di atas diperoleh sistem transportasi sebagai berikut: Sel O1D1 atau

X11 = 80, sel O1D2 atau X12 = 20, sel O2D2 atau X22 = 30, sel O2D3 atau X23 = 60, sel O3D3

atau X33 = 30, sel O3D4 atau X34 = 40, sel O4D4 atau X44 = 20, dan sel O4D5 atau X45 = 70.

Besarnya biaya transportasi dengan metode NWC adalah

80 (12) + 20 (4) + 30 (1) + 60 (6) + 30 (4) + 40 (7) + 20 (9) + 70 (1) = 2.080.

ii. Metode Inspeksi

Metode ini untuk persoalan transportasi berdimensi kecil, hal ini akan memberikan

pengurangan waktu. Alokasi pertama dibuat terhadap sel yang berkaitan dengan biaya

pengangkutan terendah. Sel dengan ongkos terendah ini diisi sebanyak mungkin dengan

mengingat persyaratan kapasitas produksi (origin) maupun permintaan tempat tujuan.

64

Kemudian beralih ke sel termurah berikutnya dan mengadakan alokasi dengan

memperhatikan kapasitas yang tersisa dari permintaan baris dan kolom. Dalam

perhitungannya metode ini membuat matriks sesuai dengan persyaratan. Untuk

permasalahan transportasi di atas apabila dilakukan dengan metode Inspeksi maka

langkah-langkahnya sebagai berikut:

Biaya terkecil adalah 1 yaitu pada sel O2D2, O3D1, dan O4D5. Sel-sel ini kita isi dengan

memperhatikan kapasitas dan permintaan, yaitu dengan mencari nilai minimum dari

keduanya.

Sel O2D2 kita isi 50, sehingga kapasitas O2 menjadi 40 dan permintaan D2 menjadi 0,

kemudian kolom D2 kita tandai dan tidak kita olah pada program selanjutnya.

Sel O3D1 kita isi 70, sehingga kapasitas O3 menjadi 0 dan permintaan D2 menjadi 10,

kemudian baris O3 kita tandai dan tidak kita olah pada program selanjutnya.

Sel O4D5 kita isi 70, sehingga kapasitas O4 menjadi 20 dan permintaan D5 menjadi 0,

kemudian kolom D5 kita tandai dan tidak kita olah pada program selanjutnya.

Hasil perhitungan di atas ini dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2.

Tempat

Asal

Destination (Tempat Tujuan) Kapasitas

Pabrik D1 D2 D3 D4 D5

12 4 9 5 9

100 O1

8 1 6 6 7 40

90 O2 50

1 12 4 7 7 0

70 O3 70

10 15 6 9 1 20

90 O4 70

Permin-

taan

10 0 0

80 50 90 60 70 350

65

Biaya terkecil selanjutnya adalah 5 yang terletak pada sel O1D4. Sel O1D4 k