BAB III PEMBAHASAN - .BAB III. PEMBAHASAN. 3.1. PROFIL BADAN HUKUM RUMAH SAKIT Dalam pembahasan ini

download BAB III PEMBAHASAN - .BAB III. PEMBAHASAN. 3.1. PROFIL BADAN HUKUM RUMAH SAKIT Dalam pembahasan ini

of 34

  • date post

    13-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB III PEMBAHASAN - .BAB III. PEMBAHASAN. 3.1. PROFIL BADAN HUKUM RUMAH SAKIT Dalam pembahasan ini

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. PROFIL BADAN HUKUM RUMAH SAKIT

Dalam pembahasan ini akan dijelaskan profil mengenai gambaran umum dari

masing-masing bentuk badan hukum Rumah Sakit yang terdiri dari YAKKUM (Rumah

Sakit berbentuk Yayasan) dan Siloam (Rumah Sakit berbentuk Perseroan Terbatas).

Selain itu dalam pembahasan ini akan membahas mengenai pengaturan bentuk badan

hukum dari setiap bentuk Rumah Sakit dalam peraturan perundang-undangan serta

karakteristik dari bentuk badan hukum berdasarkan pilihan hukumnya.

3.1.1. Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM)

YAKKUM merupakan sarana pelayanan kesehatan bagi penyembuhan

(Healing Ministry) yang didirikan oleh Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa

(GKJ) dan Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah (GKI Jateng) pada tanggal 1

Februari 1950. Dalam perkembangannya GKJ wilayah Sumatra Selatan mandiri

menjadi GKSBS yang kemudian berperan sebagai gereja pendukung YAKKUM.

Sarana pelayanan gerejawi ini merupakan kalanjutan dari Jejasan Roemahsakit-

roemahsakit Kristen di Djawa Tengah (JRSK), yang dirintis oleh Zending

Gereja-Gereja Gereformeerde Belanda yang memulai misinya di Indonesia pada

tahun 1899.

Yayasan menurut pendapat yang sudah lazim dianut tidak mempunyai

anggota, hanya mempunyai pengurus dan mungkin mempunyai sekelompok

orang yang mendapat manfaat karena diberi bantuan atau sumbangan, seperti

halnya dengan YAKKUM yang memiliki 12 rumah sakit (Intra Murral) yaitu

Rumah Sakit Bthesda (Jogja), Rumah Sakit Bthesda Lempuyang Wangi (Jogja),

Rumah Sakit Mardi Waluyo (Metro Lampung), Rumah Sakit Panti Waluyo

(Surakarta), Rumah Sakit Panti Waluyo (Purworejo), Rumah Sakit Panti Wiloso

Citarum (Semarang), Rumah Sakit Panti Wiloso Dr. Cipto (Semarang), Rumah

Sakit Panti Rahayu (Purwodadi), Rumah Sakit Ngesti Waluyo (Temanggung),

Rumah Sakit Emmanuel (Klampok) dan Rumah Sakit Sinar Kasih (Purwokerto),

serta 3 klinik yang dipersiapkan untuk menjadi Rumah Sakit yaitu Rumah Sakit

Yoga Darma (Magelang), Rumah Sakit Wisma Rukti (Kebumen) dan Rumah

Sakit Bthesda Wonosari (Gunung Kidul), selain itu beberapa klinik yang tersebar

di 3 Provinsi, memberikan manfaatnya bagi masyarakat pengguna jasa Rumah

Sakit. Memberi Intra Murral untuk Rumah Sakit Waluyo Solo, Ekstra Murral

untuk YAKKUM Craft, dan Pendidikan untuk AKPER Ngesti Waluyo. Memang

tujuan Yayasan harus bersifat sosial dan idiil. Kata idiil dapat disamakan dengan

filantropis. Tidak ada undang-undang yang menentukan bahwa Yayasan

dilarang menjalankan perusahaan. Sebab perusahaan itu tidak identik dengan

pengertian laba. Ada perusahaan yang tidak semata-mata ditujukan untuk

memperoleh laba, seperti Yayasan yang mengusahakan Poliklinik atau Rumah

Sakit. Oleh karena itu Yayasan sebaiknya tidak dikaitkan dengan adanya

perusahan, tetapi dengan adanya maksud tidak bertujuan dengan ini perlu

didefinisikan terlebih dahulu apa yang sebenarnya termasuk pengertian

perusahaan atau berdijt. Undang-undang Hukum Dagang tidak memberikan

definisi apa yang dimaksud dengan perusahaan akan tetapi kalau kita melihat

dalam bidang perpajakan atau dalam bidang ekonomi, maka disitu perusahaan

didefinikan sebagai melakukan kegiatan dalam bidang ekonomi dan sosial,

secara teratur dan terus menerus dengan maksud untuk mencari keuntungan.

Teratur artinya bahwa untuk mendapatkan laba itu ada suatu organisasi yang

tersusun (artinya ada modal, ada tempat kerja, ada pabrik, ada pegawai, ada

gudang, ada manajemen, ada pimpinan). Sedangkan badan sosial jika melakukan

perusahaan tujuannya bukan mencari keuntungan, melainkan melaksanakan

sesuatu yang idiil atau filantropis atau amal, walaupun tidak mustahil

bahwa yayasan itu mendapatkan keuntungan.

Visi YAKKUM dalam Anggaran Dasar adalah Menjadi lembaga

pelayanan yang secara proaktif mengusahakan kehidupan Manusia beserta

lingkungannya yang sehat sejahtera sebagai bagian dari perwujudan karya

penyelamatan Allah, Sedangkan Misi YAKKUM adalah;

1. Mewujudkan kehidupan manusia yang sehat sejahtera bagi semua lapisan

masyarakat tanpa membedakan suku, bangsa, agama dan kepercayaan,

golongan, budaya, sosial-ekonomi, serta jenis kelamin.

2. Mewujudkan lingkungan hidup yang utuh dan sehat bagi kesejahteraan

masyarakat.

3.1.2. Siloam

Perseroan didirikan pada 3 Agustus 1996 dengan nama PT Sentralindo

Wiraswasta yang bergerak di bidang layanan kesehatan. Dimulai dengan rumah

sakit pertama di Lippo Village, Siloam Hospital berkembang secara inovatif dan

menjadi pemimpin di bidangnya melalui model layanan klinis, (state-of-the-art

technology), fasilitas yang berpusat pada pasien dan layanan klinik dan non-klinik

yang terintegrasi.

Dalam tahap konsolidasi, yang berlangsung dari tahun 2007 hingga 2010,

Siloam Hospitals menghadirkan layanannya di empat kota besar, yaitu Tangerang

(Lippo Village), Jakarta, Surabaya dan bekasi (Lippo Cikarang). Memasuki masak

ekspansi setelah konsolidasi, sejak tahun 2011 Siloam Hospitals maju pesat

dengan membangun enam rumah sakit dan mengakuisisi lima rumah sakit.

Pada tanggal 12 September 2013, Perseroan yang telah berubah nama

menjadi PT Siloam International Hospitals melakukan Intitial Public Offering

(IPO) dan dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia sebagai PT Siloam International

Hospitals Tbk. Per tanggal 31 Desember 2012, menurut Frost dan Sullivan,

Siloam Hospitals Group adalah rumah sakit swasta terbesar di Indonesia dalam

jumlah kapasitas dan jumlah tempat tidur operasional.

Selain dari itu jumlah rumah sakit, Siloam Hospitals juga menjadi rumah

sakit pertama di Indonesia yang mendapat akreditasi international dari lembaga

akreditasi Joint Commission International Accreditation (akreditasi telah

dilakukan pada tahun 2007, 2010 dan 2013). Akreditasi menguatkan posisi Siloam

Hospitals sebagai rumah sakit dengan layanan berstandar internasional.

Pada akhir tahun 2013, Siloam Hospitals mengoperasikan 16 rumah sakit,

dalam tahap membangun 21 rumah sakit (4-5 akan siap beroperasi di tahun 2014)

dan merencanakan membangun 19-20 rumah sakit selama tahun 2015-2017.

Adapun Visi dari Siloam Hospitals :

a. Berkualiatas Internasional

b. Mudah Dijangkau

c. Skala Biaya Ekonomis

d. Berbelas Kasih Ilahi

Sedangkan Misinya adalah menjadi pilihan yang terpercaya dalam

pelyanan kesehatan holistik, pendidikan dan riset kesehatan berkelas dunia.

3.2. PENGATURAN BADAN HUKUM RUMAH SAKIT DALAM TATA URUTAN

PERUNDANG-UNDANGAN

Dalam konsep Negara hukum berakar dari paham kedaulatan hukum yang pada

hakikatnya berprinsip bahwa kekuasaan tertinggi di dalam suatu Negara adalah

berdasarkan atas hukum. Negara hukum merupakan substansi dasar dari kontrak sosial

setiap Negara hukum.1 Berikut ini akan dijelaskan mengenai pengaturan badan hukum

Rumah Sakit berdasarkan teori stufenbau.

Rumah Sakit diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan didasarkan kepada

nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti

diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai

fungsi sosial. Pengertian tersebut sejalan dengan Pasal 28 Huruf H Ayat (1) Undang-

1 Hamidi Jazim (at. al), Hukum Lembaga Kepresidenan Indonesia, Alumni, Malang, 2009, hal. 9.

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa setiap orang berhak

hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup

yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan setiap warga Negara

mempunyai hak atas pelayanan kesehatan dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Negara

bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas

pelayanan umum yang layak.

Kesehatan rakyat adalah salah satu modal pokok dalam rangka pertumbuhan

dan kehidupan bangsa, dan mempunyai peran penting dalam penyelesaian revolusi

nasional dan penyusunan masyarakat sosialis Indonesia. Pasal 1 Undang-Undang

Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan menjelaskan bahwa tiap-tiap

warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu

diikut-sertakan dalam usaha-usaha kesehatan Pemerintah.

Dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif,

partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia

Indonesia, serta peningkatan kesehatan dan daya saing bangsa bagi pembangunan

nasional. Berdasarkan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan bahwa Pemerintah bertanggung jawab merencanakan, mengatur,

menyelenggarakan, membina dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang

merata dan terjangkau oleh masyarakat. Dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab

atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan

untuk meningkatkan