BAB III DESKRIPSI INSTANSI A. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan · A. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan...

Click here to load reader

  • date post

    12-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    228
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB III DESKRIPSI INSTANSI A. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan · A. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan...

32

BAB III

DESKRIPSI INSTANSI

A. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan

Sejarah terbentuknya BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT.

Jamsostek (Persero) mengalami proses yang panjang, dimulai dari UU

No.33/1947 jo UU No.2/1951 tentang kecelakaan kerja, Peraturan Menteri

Perburuhan (PMP) No.48/1952 jo PMP No.8/1956 tentang pengaturan

bantuan untuk usaha penyelenggaraan kesehatan buruh, PMP No.15/1957

tentang pembentukan Yayasan Sosial Buruh, PMP No.5/1964 tentang

pembentukan Yayasan Dana Jaminan Sosial (YDJS), diberlakukannya UU

No.14/1969 tentang Pokok-pokok Tenaga Kerja. Secara kronologis proses

lahirnya asuransi sosial tenaga kerja semakin transparan.

Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan, baik menyangkut

landasan hukum, bentuk perlindungan maupun cara penyelenggaraan, pada

tahun 1977 diperoleh suatu tonggak sejarah penting dengan dikeluarkannya

Peraturan Pemerintah (PP) No.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program

asuransi sosial tenaga kerja (ASTEK), yang mewajibkan setiap pemberi

kerja/pengusaha swasta dan BUMN untuk mengikuti program ASTEK. Terbit

pula PP No.34/1977 tentang pembentukan wadah penyelenggara ASTEK

yaitu Perum Astek.

Tonggak penting berikutnya adalah lahirnya UU No.3 tahun 1992

tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Dan melalui PP

No.36/1995 ditetapkannya PT. Jamsostek sebagai badan penyelenggara

Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program Jamsostek memberikan perlindungan

dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya,

dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan

keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang

hilang, akibat risiko sosial.

33

Selanjutnya pada akhir tahun 2004, Pemerintah juga menerbitkan UU

Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Undang-

undang itu berhubungan dengan Amandemen UUD 1945 tentang perubahan

pasal 34 ayat 2, yang kini berbunyi: Negara mengembangkan sistem jaminan

sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan

tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Manfaat perlindungan

tersebut dapat memberikan rasa aman kepada pekerja sehingga dapat lebih

berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi maupun produktivitas kerja.

Kiprah perusahaan yang mengedepankan kepentingan dan hak normatif

tenaga kerja di Indonesia terus berlanjut. Sampai saat ini, PT. Jamsostek

(Persero) memberikan perlindungan 4 (empat) program, yang mencakup

Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM),

Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi

seluruh tenaga kerja dan keluarganya. Tahun 2011, ditetapkanlah UU No 24

Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Sesuai dengan

amanat undang-undang, tanggal 1 Januri 2014 PT Jamsostek akan berubah

menjadi Badan Hukum Publik. PT Jamsostek tetap dipercaya untuk

menyelenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja, yang meliputi JKK,

JKM, JHT dengan penambahan Jaminan Pensiun mulai 1 Juli 2015.

Pada tahun 2014 pemerintah menyelenggarakan program Jaminan

Kesehatan Nasional (JKN) sebagai program jaminan sosial bagi masyarakat

sesuai UU No. 24 Tahun 2011, Pemerintah mengganti nama Askes yang

dikelola PT. Askes Indonesia (Persero) menjadi BPJS Kesehatan dan

mengubah Jamsostek yang dikelola PT. Jamsostek (Persero) menjadi BPJS

Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan (Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial Ketenagakerjaan) merupakan program publik yang memberikan

perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi

tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial.

34

Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang

asuransi sosial BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT Jamsostek

(Persero) merupakan pelaksana undang-undang jaminan sosial tenaga kerja.

BPJS Ketenagakerjaan sebelumnya bernama Jamsostek (jaminan sosial

tenaga kerja), yang dikelola oleh PT. Jamsostek (Persero), namun sesuai UU

No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT. Jamsostek berubah menjadi BPJS

Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari 2014. BPJS Kesehatan dahulu

bernama Askes bersama BPJS Ketenagakerjaan merupakan program

pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang

diresmikan pada tanggal 31 Desember 2013. Untuk BPJS Kesehatan mulai

beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2014, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan

mulai beroperasi sejak 1 Juli 2015. Direktur utama saat ini adalah Elvyn G.

Masassya.

Menyadari besar dan mulianya tanggung jawab tersebut, BPJS

Ketenagakerjaan pun terus meningkatkan kompetensi di seluruh lini

pelayanan, mengembangkan berbagai program dan manfaat yang langsung

dapat dinikmati oleh pekerja dan keluarganya. Kini dengan sistem

penyelenggaraan yang semakin maju, program BPJS Ketenagakerjaan tidak

hanya memberikan manfaat kepada pekerja dan pengusaha saja, tetapi juga

memberikan kontribusi penting bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi

bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

B. Visi dan Misi BPJS Ketenagakerjaan

1. Visi BPJS Ketenagakerjaan

Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia,

terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan Pelayanan

2. Misi BPJS Ketenagakerjaan

Sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang

memenuhi perlindungan dasar bagi tenaga kerja serta menjadi mitra

terpercaya bagi :

35

a. Tenaga Kerja : Memberikan perlindungan yang layak bagi tenaga

kerja dan keluarga

b. Pengusaha : Menjadi mitra terpercaya untuk memberikan

perlindungan kepada tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas.

c. Negara : Berperan serta dalam pembangunan

C. Wilayah Kerja BPJS Ketenagakerjaan

Kantor Cabang Surakarta Jl. Bhayangkara No. 42 Surakarta Tel. (0271)

736637, 736630 Fax. (0274) 716261 Status Kantor: Cabang I

D. Nilai-Nilai BPJS Ketenagakerjaan

1. Iman : Taqwa, berfikir positif, tanggung jawab, pelayanan tulus ikhlas.

2. Profesional : Berprestasi, bermental unggul, proaktif dan bersikap positif

terhadap perubahan dan pembaharuan.

3. Teladan : Berpandangan jauh kedepan, penghargaan dan pembimbingan

(reward & encouragement), pemberdayaan.

4. Integritas : Berani, komitmen, keterbukaan

5. Kerjasama : Kebersamaan, menghargai pendapat, menghargai orang lain.

E. Makna Logo Perusahaan

Gambar 2

Logo BPJS Ketenagakerjaan

Sumber: www.bpjsketenagakerjaan.go.id

1. Latar Belakang dan Konsep Dasar Logo BPJS Ketenagakerjaan

Latar belakang dan konsep dasar logo BPJS Ketenagakerjaan, yaitu:

36

a. Esensi merek BPJS Ketenagakerjaan adalah lambang Jembatan

bagi Kesejahteraan Pekerja Indonesia. BPJS Ketenagakerjaan

berperan sebagai jembatan yang menghubungkan setiap pekerja

Indonesia dengan kesejahteraan selama hidupnya melalui produk

dan jasa yang dapat memberikan ketenangan pikiran saat bekerja.

b. BPJS Ketenagakerjaan mempunyai tujuan yang sama dalam

merubah logo yaitu melengkapi kesuksesan transformasi terutama

di budaya dan sikap dan membawa BPJS Ketenagakerjaan

menjadi berkelas dunia.

c. Diharapkan akan sesuai dengan gambaran tentang BPJS

Ketenagakerjaan yang ingin disampaikan dalam setiap bentuk

komunikasi dengan pelanggan, pemasok dan antar anggota

organisasi sendiri.

2. Arti Bentuk dan Warna Lambang

a. Hijau

1) Warna hijau melambangkan kesejahteraan.

2) Warna hijau diharapkan dapat merepresentasikan nilai-nilai

pertumbuhan, harmoni, kesegaran, stabilitas dan keamanan.

b. Putih

1) Warna putih melambangkan integritas.

2) Warna putih diharapkan dapat merepresentasikan kemurnian,

kebersihan dan kesempurnaan sebagai simbol kebaikan.

c. Kuning

1) Warna kuning melambangkan optimism.

2) Warna kuning diharapkan dapat merepresentasikan optimism,

pencerahan dan kebahagiaan serta memberi harapan akan masa

depan yang lebih baik.

d. Biru

1) Warna biru melambangkan keberlanjutan.

37

2) Warna biru diharapkan dapat merepresentasikan

kepercayaan, kesetiaan, kebijaksanaan, kepercayaan diri,

keahlian dan ketahanan jangka panjang.

3. Penggunaan Lambang

Guna menjamin kesamaan gambaran tentang BPJS

Ketenagakerjaan dalam setiap bentuk komunikasi yang terjadi baik

kepada pelanggan, pemasok, dan antar anggota organisasi sendiri,

maka penggunaan/aplikasi lambang perlu dibakukan pada:

a) Seluruh materi/dokumen legal BPJS Ketenagakerjaan yang

digunakan di seluruh jajaran BPJS Ketenagakerjaan.

b) Seluruh materi dan program promosi eksternal, termasuk papan

nama.

c) Seluruh materi dan program promosi internal.

F. Dasar hukum BPJS Ketenagakerjaan

Dalam Penyelengaran pelayanan BPJS Ketenagakerjaan mempunyai

dasar hukum yang kuat menjalankan wewenangnya. Adapun dasar hukum

BPJS Ketenagakerjaan :

1. Undang Undang RI No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial

Tenaga Kerja

2. Undang Undang RI No. 40 Tahun 2004 Tentang Jaminan Sosial

Nasional

3. Undang Undang RI No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja

4. Peraturan Pemerintah RI No. 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggara

Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja

5. Peraturan Pemerintah RI No. 84 Tahun 2013 Tentang Perubahan

kesembilan atas PP No. 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggara

Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja

6. Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2013 Tentang Modal awal

Untuk Badan jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

38

7. Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2013 Tentang Tata Cara

Hubungan Antar Lembaga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

8. Peraturan Pemerintah RI No. 86 Tahun 2013 Tentang Tata Cara

Pengenaan Sanksi Administratif kepada Pemberi Kerja Selain

Penyelenggara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan

Penerima Bantuan Iuran Dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial.

9. Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2013 Tentang Bentuk Dan Isi

Laporan Pengelolaan Program Jaminan Sosial.

10. Praturan Presiden No. 109 Tahun 2013 Tentang Penahapan Kepesertaan

Program Jaminan Sosial.

11. Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2013 Tentang Gaji Atau Upah

Dan Manfaat Tambahan Lainnya Serta Insentif Bagi Anggota Dewan

Pengawas Dan Anggota Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

12. KEPPRES No. 22 Tahun 1993 Tentang Penyakit yang Timbul Karena

Hubunan Kerja.

13. KEPPRES Nomor 161 Tahun 2013 Tentang Pengangkatan Dewan

Komisaris Dan Direksi PT Jamsostek (Persero) Menjadi Dewan

Pengawas Dan Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan berikut profil Direksi Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

14. PERMEN-12/MEN/2007 Tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran

Kepersertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan

Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

15. PERMEN-20 Tahun 2012 Tentang Syarat Syarat Penyerahan

Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain.

16. Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun 2013 Tentang Tata Cara

Pengenaan Sanksi Administratif Bagi Anggota Dewan Pengawas Dan

Anggota Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

17. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Aset

Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

39

18. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2009

Tentang Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Berupa

Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua, Dan

Jaminan Hari Tua Yang Dibayarkan Sekaligus.

19. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua.

20. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun.

21. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan

Jaminan Kematian.

22. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2015

Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2013

Tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

23. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2015

Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua

24. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia

No 19 Tahun 2012 Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian

Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain.

25. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/Pmk.03/2010 Tentang Tata

Cara Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Berupa

Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua, Dan

Jaminan Hari Tua Yang Dibayarkan Sekaligus.

26. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 19

Tahun 2015 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Pembayaran Manfaat

Jaminan Hari Tua.

27. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 26

Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program Jaminan

Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, dan Jminan Hari Tua Bagi

Peserta Penerima Upah.

40

28. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 28

Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian

Dokter Penasehat.

29. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 29

Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran

dan Penghentian Manfaat Jaminan Pensiun .

30. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 44 Tahun 2015 tentang

Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan

Kematian bagi Pekerja Harian Lepas, Borongan, dan Perjanjian Waktu

Tertentu Pada Sektor Usaha Jasa Konstruksi.

31. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.77 Tahun 2015 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 52

Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016 terkait penyelenggaraan JKK-JK

bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota

DPRD serta PNSD berpedoman pada Peraturan Pemerintah No.70

tahun 2015.

G. Jenis Program Jaminan BPJS Ketenagakerjaan

Program Jaminan BPJS Ketenagakerjaan antara lain adalah :

1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Kecelakaan kerja termasuk penyakit akibat kerja merupakan resiko

harus dihadapi oleh tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya. Untuk

menanggulangin resiko resiko yang terjadi seperti kehilangan sebagian

atau seluruh penghasilan akibat kecelakaan kerja, resiko kematian, resiko

cacat baik fisik maupun mental, maka diperlukan jaminan kecelakaan

kerja. Keselamatan tenaga kerja merupakan tanggung jawab pengusaha

sehingga penusaha memiliki kewajiban membayar iuran jaminan

kecelakaan kerja yan berkisar 0,24 1,74 sesuai jenis usaha.

Jaminan Kecelakaan kerja memberikan kompensasi dan rehabilitasi

bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja pada saat mulau

41

berangkat kerja hingga tiba kembali dirumah atau menderita penyakit

akibat hubungan kerja. Kompensasi yang diberikan kepada tenaga kerja

yang mengalami kecelakaan kerja berupa penggantian biaya yang

dikeluarkan pengusaha yaitu transport, upah sementara tidak mampu

bekerja (STMB) dan perawatan, ganti rugi atas turunan / hilangnya

kemampuan bekerja / berpenghasilan yaitu santunan cacat dan santunan

kematian.

2. Jaminan Kematian (JKM)

Jaminan Kematian diperuntukan bagi ahli waris dari peserta

program BPJS Ketenagakerjaan yang meninggal bukan karena akibat

kecelakaan kerja, yang perlindungannya adalah saat tenaga kerja aktif

bekerja sampai dengan 6 (enam) bulan setelah tenaga kerja berhenti

bekerja. Jaminan kematian diperlukan sebagai upaya meringankan beban

keluarga baik dalam bentuk pemakaman maupun santunan berupa uang.

Pengusaha wajib menanggung iuran program jaminan kematian

sebesar 0,3% dengan jaminan kematian yang diberikan adalah Rp.

24.000.000 terdiri atas:

Santunan sekaligus Rp. 16.200.000,00 (enam belas juta dua ratus

ribu rupiah), Santunan berkala 24 x Rp. 200.000,00 = Rp. 4.800.000,00

(empat juta delapan ratus ribu rupiah) yang dibayar sekaligus; Biaya

pemakaman sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah);

3. Jaminan Hari Tua (JHT)

Program Jaminan Hari Tua (JHT) diselenggarakan dengan sistem

Tabungan Hari Tua, yang iurannya ditanggung pengusaha dan tenaga

kerja setiap bulan di kredit pada rekening tenaga kerja secara individual

dan mendapat tambahan hasil pengembangan setiap tahun. Dana jaminan

hari tua pada hakekatnya semacam dana bersama dimana peserta

memberikan iuran untuk dikelola dalam investasi bersama, sehingga hasil

pengembangannya dibagikan kepada peserta, karena itu peserta Jaminan

Hari Tua juga diberikan surplus hasil usaha BPJS Ketenagakerjaan.

42

Besarnya iuran yang diberikan yaitu 5,7% terdiri dari 3,7% dari pemberi

kerja dan 2% dari pesertanya itu sendiri.

Jaminan Hari Tua akan dikembalikan/dibayarkan sebesar iuran

yang terkumpul ditambah dengan pengembangan dan surplus hasil usaha,

apabila tenaga kerja:

a. Mencapai umur 56 tahun, atau mengalami cacat total sehinga tidak

dapat bekerja kembali atau meninggal dunia.

b. Mengalami PHK setelah dan sedang tidak aktif bekerja dimanapun

c. berhenti bekerja karena mengundurkan diri,

d. peserta yang meninggalkan wilayah Indonesia untuk selamanya.

Manfaat lain dari keikutsertaan dalam jaminan sosial adalah

sebelum mencapai usia 56 tahun dapat diambil sebagian jika mencapai

kepesertaan 10 tahun dengan ketentuan, diambil max 10% dari total saldo

sebagai persiapan usia pensiun dan diambil max 30% dari total saldo

untuk uang perumahan.

4. Jaminan Pensiun (JP)

Jaminan pensiun adalah jaminan sosial yang bertujuan untuk

mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan/atau ahli

warisnya dengan memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia

pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Manfaat dari

jaminan pensiun adalah sejumlah uang yang dibayarkan setiap bulan

kepada peserta yang memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap,

atau kepada ahli waris bagi peserta yang meninggal dunia.

Peserta Program Jaminan Pensiun adalah pekerja yang terdaftar dan

telah membayar iuran. Peserta merupakan pekerja yang bekerja pada

pemberi kerja selain penyelenggara negara, yaitu peserta penerima upah

yang terdiri dari, pekerja pada perusahaan dan pekerja pada orang

perseorangan. Selain itu, pemberi kerja juga dapat mengikuti Program

Jaminan Pensiun sesuai dengan penahapan kepesertaan.

43

Pekerja yang didaftarkan oleh pemberi kerja mempunyai usia

paling banyak 1 (satu) bulan sebelum memasuki usia pensiun. Usia

pensiun untuk pertama kali ditetapkan 56 tahun dan mulai 1 Januari

2019, usia pensiun menjadi 57 tahun dan selanjutnya bertambah 1 (satu)

tahun untuk setiap 3 (tiga) tahun berikutnya sampai mencapai Usia

Pensiun 65 tahun. Dalam hal pemberi kerja nyata-nyata lalai tidak

mendaftarkan Pekerjanya, Pekerja dapat langsung mendaftarkan dirinya

kepada BPJS Ketenagakerjaan.Dalam hal peserta pindah tempat kerja,

Peserta wajib memberitahukan kepesertaannya kepada Pemberi Kerja

tempat kerja baru dengan menunjukkan kartu peserta BPJS

Ketenagakerjaan. Selanjutnya Pemberi Kerja tempat kerja baru

meneruskan kepesertaan pekerja.

Jika sudah menjadi peserta Program Jaminan Pensiun maka peserta

harus membayar iuran Program Jaminan Pensiun. Rincian iuran Program

Jaminan Pensiun yaitu :

a. Iuran program jaminan pensiun dihitung sebesar 3%, yang terdiri

atas 2% iuran pemberi kerja dan 1% iuran pekerja.

b. Upah setiap bulan yang dijadikan dasar perhitungan iuran terdiri atas

upah pokok dan tunjangan tetap. Untuk tahun 2015 batas paling

tinggi upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan ditetapkan

sebesar Rp 7 Juta (tujuh juta rupiah). BPJS Ketenagakerjaan

menyesuaikan besaran upah dengan menggunakan faktor perkalian

sebesar 1 (satu) ditambah tingkat pertumbuhan tahunan produk

domestik bruto tahun sebelumnya. Selanjutnya BPJS

Ketenagakerjaan menetapkan serta mengumumkan penyesuaian

batas upah tertinggi paling lama 1 (satu) bulan setelah lembaga yang

menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang statistik (BPS)

mengumumkan data produk domestik bruto.

c. Mekanisme pembayaran iuran mengikuti program paket.

d. Pemberi kerja wajib membayar iuran paling lambat tanggal 15 bulan

berikutnya.

44

e. Pemberi kerja yang tidak memenuhi ketentuan pembayaran iuran

dikenakan denda sebesar 2% setiap bulan keterlambatan.

5. Jaminan Jasa Konstruksi

Jaminan Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultasi

perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan

konstruksi dan layanan konsultasi pengawasan pekerjaan konstruksi.

Program jaminan sosial ketenagakerjaan untuk sektor konstruksi adalah

program jaminan sosial bagi tenagakerja harian lepas, tenaga kerja

borongan dan tenaga kerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu pada

sektor jasa konstruksi.

Bagi setiap kontraktor industri maupun subkontraktor yang

melaksanakan proyek jasa konstruksi dan pekerjaan borongan lainnya

wajib mempertanggungkan semua tenaga kerja menjadi peserta jaminan

jasa konstruksi. Peserta yang wajib mengikuti Jasa Konstruksi

diantaranya adalah Pemberi Kerja selain penyelenggara negara pada

skala usaha besar, menengah, kecil dan mikro yang bergerak dibidang

usaha jasa konstruksi yang mempekerjakan pekerja harian lepas,

borongan, dan perjanjian kerja waktu tertentu. Peserta yang sudah

terdaftar wajib mendaftarkan Pekerjanya dalam Program Jaminan

Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Proyek-proyek

yang wajib didaftarkan jaminan jasa konstruksi adalah Proyek-proyek

APBD, Proyek-proyek atas Dana Internasional, Proyek-proyek APBN,

Proyek-proyek swasta, dan lain lain.

Untuk menjadi peserta jaminan jasa konstruksi sangat mudah yaitu,

Pemborong bangunan (kontraktor) mengisi Formulir pendaftaran

kepesertaan Jasa Konstruksi yang bisa diambil pada kantor BPJS

Ketenagakerjaan setempat sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu sebelum

memulai pekerjaan dan Formulir-formulir tersebut harus dilampiri

dengan Surat Perintah Kerja (SPK) atau Surat Perjanjian Pemborong

(SPP).

45

Kontraktor Induk maupun Sub Kontraktor yang melaksanakan

proyek jasa konstruksi dan pekerjaan borongan lainnya wajib

mempertanggungkan semua tenaga kerja (borongan/harian lepas dan

musiman) yang bekerja pada proyek tersebut kedalam Program Jaminan

Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Adapun proyek -

proyek tersebut meliputi :

a. Proyek-proyek APBD.

b. Proyek-proyek atas Dana Internasional.

c. Proyek-proyek APBN.

d. Proyek-proyek swasta, dll

Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian

(JKM) ditanggung sepenuhnya oleh kontraktor dan besarannya

ditetapkan sebagai berikut:

a. Pekerjaan Konstruksi sampai dengan nilai kontrak Rp 100.000.000,-

(seratus juta rupiah) iuran sebesar 0,24% (nol koma dua puluh empat

persen) dari nilai kontrak kerja konstruksi.

b. Pekerjaan Konstruksi dengan nilai kontrak diatas Rp 100.000.000,-

(seratus juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000,- (lima ratus

juta rupiah), maka nilai iuran sebesar penetapan angka 1 (satu)

ditambah 0,19% (nol koma sembilan belas persen) dari selisih nilai,

yakni dari nilai kontrak kerja konstruksi setelah dikurangi Rp.

100.000.000,- (seratus juta ruiah).

c. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 500.000.000,- (lima ratus juta

rupiah) sampai dengan Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah)

sebesar penetapan angka 2 (dua) ditambah 0,15% (nol koma lima

belas persen) dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja

Konstruksi dikurangi Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

d. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah)

sampai dengan Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) sebesar

penetapan angka 3 (tiga) ditambah 0,12% (nol koma dua belas

46

persen) dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja Konstruksi

dikurangi Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).

e. Pekerjaan Konstruksi diatas Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah)

sebesar penetapan huruf d ditambah 0,10% (nol koma sepuluh

persen) dari selisih nilai, yakni dari nilai Kontrak Kerja Konstruksi

dikurangi Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah). Nilai Kontrak

Kerja Konstruksi yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan iuran

tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%.

6. Bukan Penerima Upah (BPU)

Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) adalah pekerja yang

melakukan kegiatan atau usaha ekonomi secara mandiri untuk

memperoleh penghasilan dari kegiatan atau usahanya tersebut yang

meliputi : Pemberi Kerja; Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja

mandiri dan Pekerja yang tidak termasuk pekerja di luar hubungan kerja

yang bukan menerima Upah, contoh Tukang Ojek, Supir Angkot,

Pedagang Keliling, Dokter, Pengacara/Advokat, Artis, dan lain-lain.

Untuk mengikuti kepesertaan Bukan Penerima Upah calon peserta

dapat mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan secara bertahap dengan

memilih program sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta. Dan

dapat mendaftar sendiri langsung ke Kantor Cabang BPJS

Ketenagakerjaan atau mendaftar melalui wadah/kelompok/Mitra/

Payment Point (Aggregator/Perbankan) yang telah melakukan Ikatan

Kerja Sama (IKS) dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Untuk menjadi peserta Bukan Penerima Upah cara mendaftarnya yaitu:

a. Mempunyai NIK (Nomor Induk Kependudukan)

b. Mengisi formulir F1 dan F1A BPU untuk pendaftaran

wadah/Kelompok/Mitra Baru.

c. Menghubungi:

1) Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan terdekat

2) Wadah

47

3) Mitra/Payment Point(Aggregator/Perbankan) yang bekerjasama

dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Jika sudah terdaftar sebagai peserta Bukan Penerima Upah maka,

jenis program dan manfaat yang didapat yaitu

a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), terdiri dari biaya pengangkutan

tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja, biaya perawatan

medis, biaya rehabilitasi, penggantian upah Sementara Tidak Mampu

Bekerja (STMB), santunan cacat tetap sebagian, santunan cacat total

tetap, santunan kematian (sesuai label), biaya pemakaman, santunan

berkala bagi yang meninggal dunia dan cacat total tetap

b. Jaminan Kematian (JK), terdiri dari biaya pemakaman dan santunan

berkala

c. Jaminan Hari Tua (JHT), terdiri dari keseluruhan iuran yang telah

disetor, beserta hasil pengembangannya.

Untuk pembayaran iuran program bukan penerima upah, peserta

dapat melakukan iuran sebagai berikut :

Tabel 1

Jumlah iuran pada program bukan penerima upah

Program BPJS

Ketenagakerjaan

Nilai Iuran

Jaminan Kecelakaan Kerja 1% (berdasarkan nominal tertentu sesuai

kemampuan penghasilan)

Jaminan Kematian Rp. 6.800,-

Jaminan Hari Tua 2% (berdasarkan nominal tertentu sesuai

kemampuan penghasilan)

Sumber : BPJS Ketenagakerjaan

48

H. Struktur Organisasi

1. Kepala Kantor Cabang

Mengarahkan, mengevaluasi dan mengendalikan kegiatan

operasional di Kantor Cabang, selaras dengan kebijakan dan strategi

yang ditetapkan di Kantor Wilayah, guna memastikan pencapaian target

Cabang dan wilayah secara optimal, sesuai dengan standar dan ketentuan

yang berlaku di perusahaan.

Wewenang yang dimiliki Kepala Kantor Cabang :

a. Memberikan persetujuan penempatan investasi dana di area kerjanya

sesuai dengan batasan kewenangannya.

b. Merekomendasikan pembentukan Kantor Cabang kelas I Pembantu

baru.

c. Merekomendasikan program PKP yang sesuai dengan kondisi

Cabang kelas I.

d. Mengajukan usulan mutasi dan promosi pegawai di Cabang kelas I

untuk diajukan ke Kantor Wilayah.

e. Memberi persetujuan pengadaan barang dan jasa untuk Kantor

Cabang kelas I sesuai dengan batas kewenangannya.

f. Memberikan persetujuan peremajaan sarana infrastruktur teknologi

informasi.

g. Memberikan persetujuan pencairan anggaran rutin.

h. Menjadi perwakilan perusahaan di Cabang kelas I.

2. Kabid. Pemasaran Peserta PU (Penerima Upah)

Merencanakan program pemasaran PU (untuk pengembangan

kepesertaan) dan pengelolaan kepesertaan formal melalui program

Customer Relationship Management (CRM) di cabang yang selaras

dengan strategi pemasaran wilayah, memantau dan membina kinerja

Relationship Officer (RO) serta mengendalikan pelayanan administrasi

kepesertaan, guna memastikan target kepesertaan formal dan iuran di

cabang tercapai dengan efektif dan efisien.

Wewenang yang dimiliki Kabid. Pemasaran Formal adalah :

49

a. Menyusun strategi tindak lanjut atas potensi yang ada.

b. Mengajukan usulan target kepesertaan dan iuran.

c. Menyetujui penerbitan KPJ berdasarkan permintaan RO.

d. Menentukan akun untuk setiap RO.

e. Menangani keluhan peserta dalam batas kewenangan.

f. Menyetujui pengeluaran anggaran rutin.

g. Mengajukan usul reward/punishment untuk RO.

h. Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya

3. MO (Marketing officer)

Tugas marketing officer terbagi menjadi 3 yaitu :

a. Menyusun usulan program pemasaran untuk tim-nya,

mengkoordinasikan dan/atau melaksanakan kegiatan pemasaran

untuk mengakuisisi kepesertaan baru atau mendapatkan kembali

peserta yang telah keluar dari kepesertaan (untuk masuk kembali

menjadi peserta), serta melakukan pembinaan kepada tim, guna

memastikan tercapainya target kepesertaan dan iuran yang telah

dibebankan.

b. Mereview data potensi dan/atau melaksanakan kegiatan pemasaran

untuk mengakuisisi kepesertaan baru atau mendapatkan kembali

peserta yang telah keluar dari kepesertaan (untuk masuk kembali

menjadi peserta), serta melakukan pembinaan kepada tim, guna

memastikan tercapainya target kepesertaan dan iuran yang telah

dibebankan.

c. Mengumpulkan data potensi dan melaksanakan kegiatan pemasaran

untuk mengakuisisi kepesertaan baru atau mendapatkan kembali

peserta yang telah keluar dari kepesertaan (untuk masuk kembali

menjadi peserta), guna memastikan tercapainya target kepesertaan

dan iuran yang telah dibebankan.

4. Relationship Officer (RO)

Menyusun usulan rencana pengelolaan kepesertaan untuk tim-nya,

50

mengkoordinasikan dan/atau melaksanakan kegiatan pembinaan kepada

peserta (sebagai bagian dari program Customer Relationship

Management / CRM), memberikan pelayanan dan menangani keluhan

peserta dengan cepat dan tepat, serta melakukan pembinaan kepada tim-

nya, guna tercapainya tertib administrasi, terjalinnya hubungan baik

dengan peserta, dan meningkatkan kepesertaan dan iuran yang telah

ditetapkan.

5. Penata Madya Administrasi Pemasaran (PMAP)

Menghimpun dan mengelola data yang terkait dengan kegiatan

pemasaran dan administrasi kepesertaan, melakukan pelayanan dokumen

administrasi dan penghitungan besar iuran serta denda (jika ada), guna

menyediakan data yang akurat dan dokumen yang lengkap untuk

mendukung kelancaran kegiatan pemasaran.Wewenang yang dimiliki

Penata Madya Administrasi Pemasaran adalah :

a. Melakukan verifikasi dokumen pendukung dari calon peserta

b. Menginput data calon peserta serta pencetakan dokumen

c. Melakukan pengolahan data administrasi dan dokumen bagi peserta

d. Memberikan dukungan terhadap tugas Marketing/Relationship

Officer

6. Kabid. Pelayanan

Merencanakan, mengkoordinasikan, memantau dan mengevaluasi

penyelenggaraan dan pelayanan program JHT, JK, JPK dan JKK guna

memastikan kegiatan pelayanan berlangsung lancar dan memenuhi

standar kualitas yang ditentukan. Wewenang yang dimiliki Kabid.

Pelayanan :

a. Menangani keluhan peserta dalam batas kewenangan.

b. Menyetujui pengeluaran anggaran rutin.

c. Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya.

d. Mengevaluasi kinerja petugas pelayanan

7. Penata Madya Jaminan Pelayanan JHT JP

Melakukan verifikasi terhadap dokumen pendukung proses klaim

51

program JHT & JP, menentukan iuran pertama yang harus dibayar,

menentukan besar klaim dan memproses klaim sesuai ketentuan yang

berlaku, guna memenuhi kewajiban pembayaran klaim kepada peserta

dengan tepat jumlah dan tepat waktu. Wewenang yang dimiliki Penata

Madya Jaminan JHT JP :

a. Menetapkan besaran klaim

b. Menolak pengajuan klaim yang belum memenuhi persyaratan

8. Penata Madya Jaminan Pelayanan JKK JK

Melakukan verifikasi dokumen pendukung dan perhitungan biaya

sesuai ketentuan dalam proses klaim program JKK- JK, menentukan

besar klaim dan memproses klaim, serta memantau kinerja dan

melakukan pembinaan kepada mitra PPK, guna memenuhi kewajiban

proses klaim kepada peserta dengan tepat sasaran, tepat mutu dan tepat

waktu. Wewenang yang dimiliki Penata Madya Jaminan JKK- JK:

a. Menetapkan besaran klaim

b. Menolak pengajuan klaim yang belum memenuhi persyaratan

c. Menyusun draft Perjanjian Kerjasama

9. CSO (Customer Service Officer)

Memberikan pelayanan kepada peserta maupun calon peserta

sesuai kebutuhan (seperti pelayanan kepesertaan, iuran, pengajuan

jaminan, permintaan informasi, dll), menangani keluhan peserta sesuai

ketentuan, guna memenuhi kebutuhan dengan tepat sasaran dan tepat

waktu, dan untuk menjaga kepuasan pelanggan sesuai standar yang

ditetapkan. Wewenang yang dimiliki CSO :

a. Memberi layanan informasi.

b. Memproses pengajuan jaminan.

c. Memproses pengajuan koreksi data.

d. Menanggapi keluhan sesuai batas kewenangannya

10. Kabid. Keuangan & TI

Memantau dan mengkoordinasikan kegiatan yang terkait dengan

52

pengelolaan keuangan dan teknologi informasi di Kantor Cabang, guna

memberikan dukungan pada aspek keuangan & TI bagi kegiatan

operasional yang efektif dan efisien. Wewenang yang dimiliki Kabid.

Keuangan & TI :

a. Mengevaluasi dan mengusulkan peremajaan sarana infrastruktur

teknologi informasi.

b. Melakukan otorisasi pengeluaran kas sesuai dengan batas

kewenangan.

c. Memfinalisasi hasil pencatatan keuangan.

11. Penata Madya Keuangan

Mengkompilasi usulan anggaran dari setiap Bidang di Kantor

Cabang, melaksanakan pengendalian penggunaan anggaran dan mencatat

transaksi yang terjadi, serta memenuhi kewajiban perpajakan perusahaan,

guna menghasilkan pengelolaan anggaran yang efektif dan efisien serta

dipenuhinya kewajiban yang terkait dengan perpajakan. Wewenang yang

dimiliki Penata madya keuangan :

a. Melakukan verifikasi penerimaan dan pengeluaran.

b. Memverifikasi pengajuan penggunaan dana.

c. Menghitung kewajiban pajak.

d. Menyelesaikan pembayaran klaim peserta

e. Membuat laporan keuangan

12. Penata Madya TI

Melaksanakan pengaturan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan

hardware, software dan jejaring, serta mengelola database dan aplikasi,

guna mengoptimalkan pengoperasian perangkat sistem informasi untuk

memberikan pelayanan yang cepat dan akurat kepada peserta dan untuk

efektivitas kegiatan operasional. Wewenang yang dimiliki penata madya

TI :

a. Melakukan maintenance hardware dan software

b. Melakukan pengelolaan dan pengamanan database

53

c. Menyelesaikan permasalahan terkait hardware, software dan

database

13. Kabid. Pemasaran BPU (Bukan Penerima Upah)

Merencanakan program pemasaran informal dan program khusus

(untuk pengembangan kepesertaan) dan pengelolaan kepesertaan di

bidang jasa konstruksi dan sektor informal di cabang yang selaras dengan

strategi pemasaran wilayah, memantau dan membina kinerja

Relationship Officer(RO) serta mengendalikan pelayanan administrasi

kepesertaan, guna memastikan target kepesertaan serta iuran di bidang

jasa konstruksi dan sektor informal di cabang tercapai dengan efektif dan

efisien. Merencanakan dan mengkoordinasikan penerapan program PKP,

selaras dengan strategi di Kantor Wilayah, guna efektivitas dan efisiensi

program untuk mendukung kegiatan pemasaran. Wewenang yang

dimiliki Kabid. Pemasaran Informal :

a. Menyusun strategi tindak lanjut atas potensi yang ada.

b. Mengajukan usulan target kepesertaan dan iuran.

c. Menyetujui penerbitan KPJ berdasarkan permintaan RO.

d. Menentukan target untuk setiap RO.

e. Menangani keluhan peserta dalam batas kewenangan.

f. Menyetujui pengeluaran anggaran rutin.

g. Mengajukan usul reward / punishment untuk RO.

h. Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya

14. Penata Madya Pemasaran BPU (Bukan Penerima Upah)

Melaksanakan kegiatan pemasaran (untuk mengembangkan

kepesertaan) dan pembinaan kepada peserta di sektor informal dan,

memberikan pelayanan dan menangani keluhan peserta dengan cepat dan

tepat, guna memastikan tercapainya target kepesertaan dan iuran informal

yang telah dibebankan dan untuk menjaga kepuasan peserta. Wewenang

yang dimiliki Penata Madya Pemasaran BPU adalah :

a. Melakukan kontak dengan calon peserta

b. Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya

54

c. Meminta data peserta

15. Penata Madya Kesejahteraan Peserta

Melaksanakan kegiatan pemasaran (untuk mengembangkan kepesertaan)

dan pembinaan kepada peserta di sektor jasa konstruksi memberikan

pelayanan dan menangani keluhan peserta dengan cepat dan tepat, guna

memastikan tercapainya target kepesertaan dan iuran jasa konstruksi

yang telah dibebankan dan untuk menjaga kepuasan peserta. Wewenang

yang dimiliki Penata Madya Kesejahteraan Peserta adalah :

a. Melakukan kontak dengan calon peserta

b. Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya

c. Meminta data peserta

16. Kabid. Umum & SDM

Memantau dan mengkoordinasikan kegiatan pengelolaan sumber

daya manusia, pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan aset dan

pelayanan umum bagi pegawai (seperti rumah tangga, kebersihan,

keamanan, kearsipan, dsb), serta hubungan komunikasi dengan pihak

internal dan eksternal, guna memberikan dukungan pada aspek SDM &

Umum bagi kelancaran kegiatan bisnis di kantor cabang. Wewenang

yang dimiliki Kabid. Umum & SDM :

a. Menetapkan kandidat calon pegawai baru.

b. Menetapkan pembelian barang dan jasa sesuai dengan

kewenangannya.

c. Merekomendasikan vendor.

d. Menetapkan kegiatan pelatihan dan pembinaan pegawai dalam batas

wewenangnya.

e. Memberikan teguran sehubungan dengan kinerja pegawai.

f. Mewakili perusahaan dalam penanganan masalah hubungan

industrial.

17. Penata Madya SDM

a. Melaksanakan pemenuhan kebutuhan pegawai, sehingga tersedia

tepat waktu dan tepat kualifikasi;

55

b. Melaksanakan pengelolaan administrasi (termasuk antara lain data

lembur, cuti, sakit, dan lain-lain) pegawai Kantor Cabang agar

tersedia data yang akurat;

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan penilaian kinerja pegawai untuk

memperoleh hasil penilaian yang akurat;

d. Melaksanakan kegiatan pengembangan pegawai dalam rangka

memenuhi kualifikasi SDM yang telah ditentukan;

e. Mengkoordinasikan pemberian hak bagi pegawai sesuai ketentuan,

sehingga hak pegawai terpenuhi tepat waktu;

18. Penata Madya UMUM

a. Melaksanakan kegiatan kesekretarian, pengelolaan arsip, dan

layanan umum lainnya, untuk mendukung kelancaran kegiatan

operasional;

b. Melaksanakan pengelolaan aset, sehingga dapat diperdayakan secara

optimal;

c. Melaksanakan penyediaan barang/jasa, sehingga tersedia tepat mutu

dan tepat waktu;

d. Melaksanakan pengelolaan atas kontrak kerja penyediaan

barang/jasa dan mengelola database vendor untuk tertib administrasi

dan hukum kelancaran kegiatan pengadaan;

e. Melaksanakan program komunikasi dengan internal dan eksternal

perusahaan, untuk menjaga citra perusahaan;

56

Maulana Zulfikar(Kepala)

Sri Sudarmadi(Kabid. Pemasaran

Peserta PU)

Rafik Ahmad(Kabid. Pemasaran

Peserta BPU)

Herni Hartati(Kabid. Pelayanan)

M Widyanta(Kabid. Keuangan &

TI)

Tauchid Widyatmoko

(Kabid. Umum

Dicky Hardianto(Ka. KCP)

Kristianto Joko(PMPP)

1. Fariz (MO)2. Rosta (MO)3. Rusydi (PMAP)4. Indah Suyaningtyas

(RO)5. Yohana Desy Eka P

(RO)6. Bramantyo E (MO)7. Rina (RO)8. Puji Susanti (RO)

1. Nurul Huda N(PMKP)

2. Haris Nur Y (PM BPU)

1. Dian K R (PMPJ JKK-JK)2. Heru (PMPJ JHT-JP)3. Ridwan (PMPJ JKK-JK)4. Anita Noor F (JHT-JP)5. Retno Wulandari (CS)6. Putri Nur Aulia (CS)7. Suko Fajar (CS)8. Maharani Cita S (CS)

1. Sukartini (PM Keu)2. Haditya R H (PM TI)3. Vita (PM Keu)4. Rahardian (PM Keu)

1.Nuning W (PM SDM)2.Bonni S (PM Umum)

Security:1. Ali P S2. Suwarji3. Sugeng R4. Giyono5. Setyo B6. Andri

Driver:1. Suwaji2. Sidha

Office Boy (OB)1. Wahyudi2. Markaban3. Ferry Cahyo

BAGAN 3STRUKTUR ORGANISASIBADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS)

KETENAGAKERJAAN CABANG SURAKARTA

(Sumber : BPJS Ketenagakerjaan Cabang Surakarta)