Bab III Aspek Kedua Perayaan K I... · PDF fileperjamuan adalah moment di mana tiap...

Click here to load reader

  • date post

    28-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    215
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Bab III Aspek Kedua Perayaan K I... · PDF fileperjamuan adalah moment di mana tiap...

85

Bab III

Aspek Kedua Perayaan Keselamatan

Aspek Individual

Berkat keselamatan yang menjadi bagian

individu dalam gereja sebagaimana yang dirumuskan

dalam credo ada tiga: pengampunan dosa, kebangkitan

daging dan kehidupan yang kekal. Calvin

mengelompokkan itu dalam dua kategori.

Pertama, berkat yang sudah mulai direalisasikan pada masa kini, yakni sejak seseorang ambil bagian dan

persekutuan tubuh Krustus. Berkat itu adalah

pengampunan dosa (remisionem peccatorum). Kedua, yang baru akan dinyatakan kelak, yakni ketika Yesus

Kristus datang kembali sebagai bagian orang-orang yang

hidup dalam percaya kepada Yesus Kristus. Berkat itu

adalah: kebangkitan daging (Resurrectionem carnis) dan kehidupan yang kekal (vitae aeternam).79

Berkat ini disediakan Allah bagi semua manusia

tanpa kecuali. Meskipun begitu demikian kata Calvin

berkat itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang

ambil bagian dalam persekutuan keselamatan. Calvin

menegaskan itu dalam kalimat: Mereka yang menahan

dirinya dari persekutuan tubuh Kristus dan yang keluar

79 Karl Barth. The Faith of the Church. hlm. 122.

86

dari persekutuan itu tidak mendapat bagian dari berkat

tadi.80

Hal yang sama ditegaskan juga oleh Alkitab

tetapi dengan nada yang positif sebagaimana kita baca

dalam Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah

akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-

Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya

kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.81 Hanya orang-orang yang menjadi anggota tubuh Kristuslah yang dapat menikmati berkat keselamatan di

dalam persekutuan Kerajaan Allah.

Ini tidak bermaksud untuk mempersempit ruang

lingkup keselamatan Allah. Keselamatan Allah itu lebih

besar dari ruang lingkup persekutuan kelihatan yang

bernama gereja. Penekanan pada keberadaan sebagai

anggota gereja untuk memperoleh keselamatan

dimaksud untuk menggarisbawahi pentingnya jawaban

dan penerimaan manusia kepada Allah. Allah bisa dan

mampu menyelamatkan manusia tanpa mendengar

jawaban manusia, tetapi itu sama sekali tidak sejalan

dengan hakikat Allah yang adalah kasih dan

bertentangan dengan isi perjanjian yang dicanangkan

Allah di dalam kekekalan.

80 Karl Barth. The Faith of the Church. hlm. 135. 81 Cetak miring merupakan tekanan yang dibuat penulis.

87

Pengampunan Dosa

Mengawali pokok ini baiklah kami ingatkan hal

berikut. Perjamuan makan bersama (tafelgemeenschap) bagi orang Timur Tengah Kuno mengandung pesan

yang sangat dalam. Ia mengisyaratkan keakraban dari

para pihak yang ambil bagian dalam perjamuan itu. Di

antara orang-orang yang makan bersama tidak ada

permusuhan, sikap curiga atau hal-hal yang tidak

berkenan.82 Selanjutnya, memakan sesuatu artinya

membuat makanan itu menyatu dengan kita. Makan roti

sama dengan membuat roti itu menjadi satu dengan

hidup kita atau sebaliknya.

Tafelgemeenschap yang dirayakan gereja adalah moment di mana umat percaya makan roti dan minum

anggur yang secara figuratif menunjuk pada tubuh dan darah Kristus. Jadi yang terjadi dalam sakramen perjamuan adalah moment di mana tiap peserta menjadi

satu dengan Yesus Kristus baik dalam hidup maupun

pada saat. Wolfhart Pannenberg menjelaskan itu

demikian: Setiap kali orang-orang percaya bersekutu

menyatukan dirinya dengan yang kudus itu,

persekutuan yang intim itu punya hubungan dengan

pengampunan dosa. Itu merupakan konsekwensi

langsung dari penyatuan mereka dengan Kristus. Ia

membuat keseluruhan hidup orang-orang percaya

dimurnikan.83

82 D.J. Baarslag. Gelijkenissen des Heeren. hlm. 115. 83 Wolfhart Pannenbrg. De geloofsbelijdenis. Een uitleg

van de apostolische geloofsbelijdenis door mensen van nu. Baarn: Ten Have. 1976. hlm. 160.

88

Pengampunan dosa merupakan kenyataan

konkret dari berdiamnya keselamatan Allah yang

dikerjakan Yesus di dalam diri manusia yang

menyatukan hidupnya dengan Yesus Kristus. Inilah

kenyataan terindah yang menjadi bagian dari tiap orang

yang menyatakan diri menerima Yesus Kristus di dalam

hidupnya dan terus-menerus ambil bagian dalam

tafelgemeenschap dengan sikap yang benar dan kudus. Selain pengampunan dosa ada lagi dua berkat

keselamatan, yakni: kebangkitan daging dan kehidupan

yang kekal.

Tiga berkat keselamatan yang mengarah kepada

individu orang percaya bukan tiga hal yang berdiri

sendiri dan terpisah satu sama lain. Tidak. Ketiganya

merupakan tiga aspek keselamatan yang menjadi milik

tiap orang percaya yang menjawab YA kepada Allah dan

menyatukan hidupnya sebagai anggota tubuh Kristus. Hubungan ketiga aspek ini bercorak perichoresis.

Kalau dalam credo pengampunan dosa

ditempatkan mendahului kebangkitan daging dan hidup

yang kekal itu hanya mau menekankan hal berikut.

Pengampunan dosa adalah uang muka dari dua yang

akan menyusul. Calvin menjelaskan hal ini dengan

mengatakan pengampunan dosa sudah mulai terjadi

sekarang, sedangkan kebangkitan daging dan hidup

yang kekal baru akan terjadi kelak. Pannenberg

menegaskan hal yang sama. Menurut dia pengampunan

dosa mendahului kebangkitan daging dan hidup kekal

89

sebagai jari yang menunjuk kita dua hal yang

menyusul.84

Pengampunan dosa memiliki dua arti. Pertama, manusia dibebaskan dari hal-hal yang memisahkan dia

dari Allah. Kami sudah membicarakan tentang

dahsyatnya dosa. Ia mengasingkan manusia dari dirinya

sendiri dan dari Allah. Akibatnya ia menjadi hidup

dalam permusuhan dengan Allah dan kehidupannya

terus dijalani dalam kepalsuan. Berbagai upaya manusia

untuk mendekatkan diri dengan Allah dan sesama

membuat permusuhan dan kepalsuan itu makin

bertambah. Satu-satunya jalan untuk memulihkan

persekutuan manusia dengan Allah dan dengan

sesamanya tidak bisa dilepaskan dari pengampunan

dosa.

Kedua, pembebasan dari dosa juga berarti manusia memiliki masa depan baru. Dosa membuat

manusia takluk pada maut (Rm. 6:23). Ia menjadi hamba

dosa (Yoh. 8:34). Dengan adanya pengampunan dosa

berarti bahwa manusia diberikan status baru yakni

menjadi hamba kebenaran (Rm. 6:18). Manusia lama

diganti dengan manusia baru.

Pembaharuan status manusia ini berhubungan

erat dengan baptisan. Dalam kekristenan purba

pengampunan dosa dihubungkan secara erat dengan

sakramen baptisan yang menunjuk kepada penyatuan

hidup penerima baptisan dengan Yesus Kristus.85

84 Wolfhart Pannenbrg. De geloofsbelijdenis. hlm. 160. 85 Wolfhart Pannenbrg. De geloofsbelijdenis. hlm. 161.

90

Baptisan menyatukan hidup seseorang dengan kematian

dan kebangkitan Yesus Kristus. Status semula dari

manusia yakni sebagai budak dosa berakhir, mati. Budak

dosa itu dikuburkan bersama-sama dengan Kristus dan

sebagaimana Kristus yang dikuburkan itu bangkit dari

antara orang mati sebagai yang sulung dari mereka yang

meninggal manusia lama tadi ikut pula dibangkitkan

untuk hidup yang baru selaku kebenaran (Rm. 6:3-4).

Baptisan adalam moment di mana kemanusiaan

kita yang lama diganti. Penerima baptisan itu hidup,

tetapi bukan lagi dia yang hidup melainkan Kristus yang

hidup di dalamnya (Gal. 2:20). Ia bukan lagi milik maut

tetapi milik Kristus. Tanda untuk itu adalah nama baru

yang dia terima, nama yang dimasukkan ke dalam

namanya. Atau lebih tepat, namanya dimasukkan ke

dalam nama Allah.

Itulah yang terjadi dengan Abram dan Sarai.

Nama keduanya diperbaharui. Abram menjadi

Abraham, Sarai menjadi Sarah. Nico Ter Linden

menunjukan adanya penambahan huruf H dalam nama

mereka. H menunjuk pada nama Yahwe (Ibr: ehyeh

asyer ehyeh).86 Abraham dan sarah hidup tetapi bukan

lagi mereka yang hidup melainkan Allah yang hidup di

dalam mereka.

Ini juga yang melatarbelakangi terjadinya

pergantian nama dari banyak orang ketika mereka

memutuskan untuk menerima baptisan. Dalam sebuah

86 Nico Ter Linden. Het verhaal gaat I. Kampen: J.H. Kok.

1997. hlm. 61.

91

buku kecil berjudul Bastian: de kleine Timorese, Ds. Dukstra, ketua sinode GMIT pertama menunjukkan

bahwa pergantian nama penting karena nama semula

diperoleh dari berhala. Nama itu harus diganti karena

dengan baptisan yang bersangkutan menjadi milik Allah

di dalam Kristus.87 Ia bukan lagi hamba dosa. Ia telah

hidup dalam pengampunan.

Betapapun pengampunan dosa berhubungan

erat dengan sakramen baptisan, tetapi gereja menyadari

bahwa pengampunan dosa tidak dibatasi hanya pada saat

seseorang menerima sakramen baptisan. Tidak! Baptisan

sebaga