BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar...

of 29/29
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar Keamanan dan Proteksi Kebutuhan Keamanan dan Proteksi 1. Pengertian Keamanan dan Proteksi Menurut PPNI (2017) diagnosa keperawatan gangguan integritas kulit/jaringan masuk kedalam kategori lingkungan dan subkategori: keamanan dan proteksi. Kulit merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Kulit terbagi menjadi tiga lapisan yaitu: epidermis, dermis dan jaringan subkutan. Kulit memiliki salah satu fungsi sebagai perlindungan atau proteksi, jaringan tanduk sel-sel epidermis paling luar membatasi masuknya benda-benda dari luar atau dari agen-agen penyebab infeksi. Bagi pasien DM dengan gangguan integritas jaringan selain harus menjaga keadaan luka untuk tetap bersih dengan melakukan perawatan luka secara rutin pasien juga harus menjaga keadaan keamanan dan proteksi lingkungan agar tidak menimbulkan komplikasi atau tidak menimbulkan luka baru yang menyebabkan infeksi. Menurut Potter & Perry (2006) Keamanan biasa didefinisikan sebagai keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis, salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan memiliki rasa aman merupakan hal yang penting dalam perawatan pasien terutama bagi seorang perawat yang sudah tugasnya menjaga keamanan diri serta orang yang dirawat baik yang sakit maupun sehat yang berkaitan terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup pasien. Lingkungan yang aman akan mempengaruhi berkurangnya insiden terjadinya penyakit dan cedera serta mempercepat tindakan perawatan pada pasien. Lingkungan yang aman merupakan salah satu kebutuhan dasar yang terpenuhi, bahaya pada fisik akan berkurang, penyebaran organisme patogen akan berkurang. Patogen merupakan mikroorganisme yang mampu menyebabkan infeksi.
  • date post

    21-Jun-2020
  • Category

    Documents

  • view

    3
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar...

  • 6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar Keamanan dan Proteksi

    Kebutuhan Keamanan dan Proteksi

    1. Pengertian Keamanan dan Proteksi

    Menurut PPNI (2017) diagnosa keperawatan gangguan integritas

    kulit/jaringan masuk kedalam kategori lingkungan dan subkategori: keamanan dan

    proteksi. Kulit merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari

    pengaruh lingkungan. Kulit terbagi menjadi tiga lapisan yaitu: epidermis, dermis

    dan jaringan subkutan. Kulit memiliki salah satu fungsi sebagai perlindungan atau

    proteksi, jaringan tanduk sel-sel epidermis paling luar membatasi masuknya

    benda-benda dari luar atau dari agen-agen penyebab infeksi. Bagi pasien DM

    dengan gangguan integritas jaringan selain harus menjaga keadaan luka untuk

    tetap bersih dengan melakukan perawatan luka secara rutin pasien juga harus

    menjaga keadaan keamanan dan proteksi lingkungan agar tidak menimbulkan

    komplikasi atau tidak menimbulkan luka baru yang menyebabkan infeksi.

    Menurut Potter & Perry (2006) Keamanan biasa didefinisikan sebagai

    keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis, salah satu kebutuhan dasar

    manusia yang harus dipenuhi. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan memiliki

    rasa aman merupakan hal yang penting dalam perawatan pasien terutama bagi

    seorang perawat yang sudah tugasnya menjaga keamanan diri serta orang yang

    dirawat baik yang sakit maupun sehat yang berkaitan terhadap kehidupan dan

    kelangsungan hidup pasien.

    Lingkungan yang aman akan mempengaruhi berkurangnya insiden terjadinya

    penyakit dan cedera serta mempercepat tindakan perawatan pada pasien.

    Lingkungan yang aman merupakan salah satu kebutuhan dasar yang terpenuhi,

    bahaya pada fisik akan berkurang, penyebaran organisme patogen akan berkurang.

    Patogen merupakan mikroorganisme yang mampu menyebabkan infeksi.

  • 7

    2. Metode Penyebaran Infeksi

    Menurut Mubarak & Chayanti (2008) terdapat tiga metode penyebaran

    infeksi yaitu:

    a. Penyebaran langsung: perpindahan mikroorganisme secara langsung dan

    segera dari satu individu ke individu lain melalui sentuhan, gigitan, hubungan

    seksual, atau bisa melalui percikan ludah.

    b. Penyebaran tidak langsung: penyebaran mikroorganisme melalui media yaitu

    mainan, pakaian, peralatan bedah, makanan, air dll. Dan penyebaran melalui

    vektor yaitu hewan atau serangga yang bertindak sebagai perantara

    penyebaran agens infeksi (tikus, nyamuk) penyebaran dapat melalui feses.

    c. Transmisi udara: penyebaran mikroorganisme dapat berlangsung melalui debu

    yang kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan.

    3. Pencegahan Infeksi

    Menurut Mubarak & Chayanti (2008) untuk mencegah penyebaran dan

    perluasan infeksi upaya yang dapat dilakukan pemeliharaan kesehatan melalui

    pemeliharaan kebersihan lingkungan, kebersihan diri serta perawatan khusus

    terhadap penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh.

    Dari terjadinya penyebaran infeksi pada tubuh yang sakit terutama pada

    bagian tubuh luar seperti kulit dapat mengakibatkan pasien merasa terganggu

    kebutuhan rasa aman dan kehilangan proteksi atau kehilangan perlindungan diri

    akan terkena infeksi. Kerusakan integritas kulit adalah peningkatan kerentanan

    untuk jatuh yang dapat menyebabkan bahaya fisik seperti rusak dan hilangnya

    lapisan kulit luar atau pelindung hingga bagian terdalam, masalah tersebut dapat

    dicegah dengan cara penatalaksanaan perawat dalam memberikan asuhan

    keperawatan secara menyeluruh melalui pengkajian, menentukan diagnosa

    keperawatan, membuat intervensi, melakukan implementasi serta evaluasi pada

    pasien yang menderita penyakit diabetes melitus. Dalam asuhan keperawatan

    pasien Diabetes Mlitus dengan keruskan integritas kulit adalah perawatan secara

    non farmakologi dan farmakologi seperti memberikan pendidikan kesehatan

    tentang perawatan luka, olahraga, dan pemberian insulin secara rutin serta

  • 8

    pencegahan dan perawatan luka yang telah mengalami ulkus diabetik (Potter &

    Perry, 2006).

    B. Tinjauan Asuhan Keperawatan

    1. Pengkajian

    a. Pengkajian diabetes melitus

    Pengkajian terhadap pasien diabetes dengan masalah primer seperti penyakit

    jantung, penyakit renal, penyakit serebrovaskuler, kelainan vaskuler perifer,

    pembedahan atau berbagai bentuk penyakit adalah sama seperti pada pasien

    nondiabetes, pengkajian pasien diabetes juga harus berfokus pada hipoglikemia

    dan hiperglikemia, luka pada kulit dan keterampilan perawatan mandiri diabetes

    yang mencakup keterampilan bertahan pada diabetes serta tindakan untuk untuk

    mencegah komplikasi jangka panjang.

    Pengkajian dilakukan untuk mendeteksi hipoglikemia dan hiperglikemia

    disertai pemantauan glukosa kapiler yang sering (biasanya diinstruksikan dokter

    sebelum jammakan serta pada saat akan tidur malam) dan pemantauan tanda-

    tanda serta gejala hipoglikemia atau hiperglikemia.

    Pengkajian kulit yang cermat, khususnya pada daerah-daerah yang menonjol

    dan pada ekstermitas bawah, merupakan tindakan yang penting. Pengkajian ini

    dilakukan untuk memeriksa apakah kulit pasien kering, pecah-pecah, terluka dan

    kemerahan.

    Berikut adalah pengkajian pada pasien diabetes melitus:

    a) Identitas klien

    Identitas klien (data biografi) meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin,

    status perkawinan, pekerjaan, dan asal etnik individu (Brunner & Suddarth,

    2001)

    b) Keluhan utama

    Keluhan utama adalah penyebab yang mendorong sseorang mencari

    pertolongan (Brunner & Suddarth, 2001). Keluhan utama yang biasa

    dikeluhkan pasien diabetes melitus yaitu luka sukar sembuh disertai rasa

    kesemutan dan berat badan selalu turun (Hans Tandra, 2015).

  • 9

    c) Riwayat kesehatan sekarang

    1. Luka sukar sembuh

    Penyebab luka sukar sembuh adalah pertama, akibat infeksi hebat sehingga

    kuman atau jamur mudah tumbuh pada kondisi gula darah tinggi, kedua karena

    kerusakan pembuluh darah sehingga aliran darah tidak lancar pada kapiler

    sehingga menghambat penyembuhan luka, dan yang ketiga adalah kerusakan

    saraf, luka yang tidak terasa menyebabkan diabetesi tidak menaruh perhatian luka

    dan membiarkannya semakin busuk.

    2. Rasa kesemutan

    Kerusakan saraf yang disebabkan glukosa tinggi akan merusak dinding

    pembuluh darah, yang mengganggu nutrisi bagi saraf. Karena rusaknya saraf

    sensori maka keluhan yang paling sering muncul adalah rasa kesemutan atau baal

    (tidak terasa).

    3. Berat badan selalu turun

    Hal ini diakibatkan otot tidak mendapat cukup gula dan energi untuk tumbuh

    sehingga mau tak mau jaringan lemak dan otot harus di pecah untuk memenuhi

    kebutuhan energi. Efeknya berat badan menjadi turun, meskipun makannya

    banyak (Hans Tandra, 2015).

    4. Riwayat kesehatan dahulu

    Biasanya klien diabetes melitus memiliki riwayat hipertensi, penyakit jantung

    seperti infart miokard.

    5. Riwayat kesehatan keluarga

    Penyakit yang mungkin diturunkan, menular, atau berhubungan dengan

    lingkungan hidup. Pada pasien diabetes biasanya adanya riwayat keluarga yang

    menderita diabetes melitus (Brunner dan Suddarth, 2001).

    b. Pengkajian luka

    Menurut Carville (1998) dalam Maghfuri (2015), Pengkajian Luka sebagai

    berikut:

    a) Type luka

  • 10

    Terdapat dua type luka yaitu luka akut dan luka kronik. Luka gangren pada pasien

    DM merupakan type luka kronik.

    b) Type penyembuhan

    1) Primery intention, Jika terdapat kehilangan jaringan minimal dan kedua tepi

    luka dirapatkan baik dengan jahitan, plaster. Jaringan parut yang dihasilkan

    minimal.

    2) Delayed Primary Intention, Jika luka terinfeksi atau mengandung benda asing

    dan membutuhkan pembersihan intensif, selanjutnya ditutup secara primer

    pada beberapa waktu kemudian.

    3) Secondary Intention, Penyembuhan luka terlambat dan terjadi melalui proses

    granulasi, kontraksi dan epotilazation. Jaringan parut luas.

    4) Flap, Pembedahan relokasi kulit dan jaringan subcutan pada luka yang berasal

    dari jaringan terdekat.

    c) Kehilangan jaringan

    Menggambarkan kedalaman kerusakan jaringan atau stadium kerusakan jaringan

    kulit.

    1) Superfisial: Luka sebatas epidermis

    2) Parsial (partial thikness): Luka meliputi epidermis dan dermis

    3) Penuh (Full thikness): Luka meliputi epidermis, dermis dan subcutan. Dapat

    melibatkan otot, tendon, dan tulang

    d) Penampilan Klinik

    Tampilan klinis luka dapat dibagi berdasarkan warna dasar luka antara lain:

    1) Hitam atau Nekrotik

    a. Eschar yang mengeras dan nekrotik

    b. Kering atau lembab

    c. Avaskularisasi

    2) Kuning atau Sloughy

    a. Jaringan mati yang fibrous, kuning dan slough

    b. Luka terkontaminasi, terinfeksi

    c. Avaskularisasi

    3) Merah atau Granulasi

  • 11

    a. Dasar warna luka merah

    b. Lembab

    c. Bersih, vaskularisasi baik, mudah berdarah

    d. Terdapat lapisan epitelisasi (lapisan merah muda)

    e. Fase akhir proses penyembuhan

    4) Terjadi epitelisasi

    5) Kehijauan atau terinfeksi yaitu terdapat tanda-tanda klinis infeksi seperti

    nyeri, panas, bengkak, kemerahan dan peningkatan exudate.

    e) Lokasi

    Lokasi luka mempengaruhi penyembuhan luka. Lokasi luka di area persendian

    cenderung lebih lambat sembuh karena cenderung lebih banyak pergerakan

    (siku, lutut, kaki) . Area yang rentan terkena tekanan atau gaya lipatan akan

    lambat sembuh (pinggul, bokong), sedangkan penyembuhan lebih cepat di

    daerah wajah.

    f) Ukuran Luka

    Pengukuran luka dilakukan dengan pengukuran tiga dimensi dengan mengkaji

    panjang, lebar, dan kedalaman. Pengukuran dapat dilakukan dengan

    menggunakan lidi kapas steril untuk menilai adanya goa dengan mengukur

    searah jarum jam.

    g) Exudate

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang exudate adalah jenis, jumlah,

    warna, konsistensi dan bau

    1) Jenis Exudate

    a. Serous: Cairan berwarna jernih

    b. Hemoserous: Cairan serous yang berwarna merah terang

    c. Sanguenous: Cairan berwarna merah kental

    d. Purulent: Kental mengandung nanah

    2) Jumlah: Sedikit, sedang, banyak

    3) Warna: Berhubungan dengan jenis exudate

    4) Konsistensi: Berhubungan dengan jenis exudate, sangat bermakna pada luka

    yang edema

  • 12

    5) Bau: Berhubungan dengan infeksi luka dan kontaminasi luka oleh cairan

    tubuh. Bau mungkin berhubungan dengan proses autolisis jaringan nekrotik

    pada balutan.

    h) Kulit sekitar luka: edema, benda asing, dermatitis, warna, suhu, dan pulsasi.

    i) Nyeri: pastikan apakah nyeri dengan penyakit yang di derita atau tidak.

    j) Klasifikasi luka diabetik

    Wagner (1983) di dalam Maghfuri (2015) membagi derajat luka menjadi enam

    tingkatan:

    1) Derajat 0: tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan

    disertai kelainan bentuk kaki.

    2) Derajat 1: ulkus superficial terbatas pada kulit.

    3) Derajat 2: ulkus dalam menembus tendon dan tulang

    4) Derajat 3: abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis

    5) Derajat 4: gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selilitis

    6) Derajat 5: gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai

    2. Diagnosa Keperawatan

    Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai status

    kesehatan atau masalah aktual atau risiko dalam rangka mengidentifikasi dan

    menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau

    mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada tanggung jawabnnya

    (Carpenito,1983).

    1) Pada tahun 1973, NANDA telah menerbitkan daftar diagnosa keperawatan

    yang pertama. Kemudian setiap dua tahun sekali dilakukan pengembangan

    atau revisi.

    a. Tipe Diagnosis Keperawatan

    1. Diagnosis aktual

    Diagnosis aktual adalah masalah klien yang ada pada saat pengkajian

    keperawatan.

    2. Diagnosis keperawatan risiko

  • 13

    Diagnosis keperawatan risiko adalah penilaian klinis bahwa tidak ada

    masalah, tetapi adanya faktor risiko menunjukan bahwa suatu masalah

    mungkin muncul, kecuali perawat melakukan intervensi.

    3. Diagnosis sejahtera

    “menjelaskan respons manusia terhadap derajat kesejahteraan pada individu,

    keluarga,atau masyarakat yang memiliki kesiapan untuk peningkatan kondisi”

    (NANDA International, 2003, hlm.263)

    4. Diagnosis keperawatan kemungkinan

    Diagnosis keperawatan kemungkinan adalah diagnosis yang ditegakkan jika

    bukti masalah kesehatan tidaklengkap atau tidak jelas.

    5. Diagnosis sindrom

    Diagnosis sindrom adalah diagnosis yang dikaitkan dengan sekelompok

    diagnosis lain (Alfaro-LeFevre, 1998)

    b. Diagnosa pada penderita DM

    Menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), 2017. Diagnosa

    keperawatan pada pasien Diabetes Melitus yaitu:

    a. Gangguan integritas jaringan b.d nekrosis kerusakan jaringan nekrosis luka

    gangren).

    1) Definisi: Kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran

    mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau

    ligamen)

    2) Penyebab:

    1. Perubahan sirkulasi

    2. Perubahan status nutrisi (kelebihan atau kekurangan)

    3. Kekurangan/kelebihan volume cairan

    4. Penurunan mobilitas

    5. Bahan kimia iritatif

    6. Suhu lingkungan yang ekstrem

    7. Faktor mekanis (mis: penekanan pada tonjolan tulang, gesekan) atau faktor

    elektris (elektrodiatermi, energi listrik bertegangan tinggi)

  • 14

    8. Efek samping terapi radiasi

    9. Kelembaban

    10. Proses penuaan

    11. Neuropati perifer

    12. Perubahan pigmentasi

    13. Perubahan hormonal

    14. Kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan/melindungi

    integritas jaringan

    3) Gejala dan tanda mayor

    Subjektif:

    (tidak tersedia)

    Objektif:

    1) Kerusakan jaringan dan/atau lapisan kulit

    4) Gejala dan tanda minor

    Subjektif:

    (tidak tersedia)

    Objektif:

    1) Nyeri

    2) Perdarahan

    3) Kemerahan

    4) Hematoma

    5) Kondisi klinis terkait

    1) Imobilisasi

    2) Gagal jantung kongestif

    3) Gagal ginjal

    4) Diabetes melitus

    5) Imunodefisiensi (mis, AIDS)

    b. Resiko infeksi b.d trauma pada jaringan, proses penyakit (diabetes

    melitus).

    1) Definisi

    Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.

  • 15

    2) Faktor risiko

    1) Penyakit kronis (mis, diabetes melitus

    2) Efek prosedur invasif

    3) Malnutrisi

    4) Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan

    5) Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer;

    1) Gangguan peristaltik

    2) Kerusakan integritas kulit

    3) Perubahan sekresi PH

    4) Penurunan kerja siliaris

    5) Ketuban pecah lama

    6) Ketuban pecah lama sebelum waktunya

    7) Merokok

    8) Statis cairan tubuh

    6) Ketidakadekuatam pertahanan tubuh sekunder

    1) Penurunan hemoglobin

    2) Imununosupresi

    3) Leukopenia

    4) Sepresi respon inflamasi

    5) Vaksinisasi tidak adekuat

  • 16

    3. Intervensi

    Tabel 2.1 : Rencana Keperawatan Menurut SIKI 2018

    NO DIAGNOSIS INTERVENSI UTAMA INTERVENSI PENDUKUNG

    1 Gangguan integritas jaringan b.d

    nekrosis kerusakan jaringan.

    Tujuan:

    Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam

    diharapkan masalah teratasi dengan

    kriteria hasil:

    1. Perfusi jaringan normal 2. Tidak ada tanda-tanda

    infeksi

    3. Ketebalan dan tekstur jaringan normal

    4. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit

    dan mencegah terjadinya

    cidera berulang

    5. Menunjukan terjadinya proses penyembuhan luka

    Perawatan integritas kulit

    Observasi:

    1. Identifikasi penyebab integritas kulit (mis. Perubahan sirkulasi, perubahan status nutrisi, penurunan kelembapan, suhu

    lingkunganekstrem, penurunan mobilitas)

    Terapeutik:

    1. Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring 2. Lakukan pemijatan pada area penonjolan

    tulang

    3. Bersihkan perineal dengan air hangat,terutama selama periode diare

    4. Gunakan produk berbahan petrolium atau minyak pada kulit kering

    5. Gunakan produk berbahan ringan/alami dan hipoalergik pada kulit sensitif

    6. Hindari produk berbahan dasar alkohol pada kulit kering

    Edukasi:

    1. Anjurkan menggunakan pelembap (mis. Lotion, serum)

    2. Anjurkan minum air yang cukup 3. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi 4. Anjurkan meningkatkan asupan buah dan

    sayur

    5. Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem 6. Anjurkan menggunakan tabir surya SPF

    1. Dukungan perawatan diri 2. Edukasi perawatan diri 3. Edukasi perawatan kulit 4. Edukasi perilaku upaya kesehatan 5. Edukasi pola perilaku kebersihan 6. Edukasi program pengobatan 7. Konsultasi 8. Latihan rentang gerak 9. Manajemen nyeri 10. Pelaporan status kesehatan 11. Pemberian obat 12. Pemberian obat intradermal 13. Pemberian obat intramuskular 14. Pemberian obat intravena 15. Pemberian obat kulit 16. Pemberian obat subkutan 17. Pemberian obat topikal 18. Penjahitan luka 19. Perawatan area insisi 20. Perawatan imobilisasi 21. Perawatan kuku 22. Perawatan luka bakar 23. Perawatan luka tekan 24. Perawatan pasca seksio sesaria 25. Perawatan skin graft 26. Teknik latihan penguatan otot dan sendi 27. Terapi lintah

  • 17

    minimal 30 saat berada di luar rumah

    7. Anjurkan mandi dan menggunakan sabun secukupnya

    Perawatan luka

    Observasi:

    1. Monitor karakteristik luka (mis. Drainase, warna, ukuran, bau)

    2. Monitot tanda-tanda infeksi Terapetik: 1. Lepaskan balutan dan plester secara perlahan 2. Cukur rambut disekitar daerah luka 3. Bersihkan jaringan nekrotik 4. Bersikan salep yang sesuai ke kulit /lesi, jika

    perlu

    5. Pasang balutan sesuai jenis luka 6. Pertahankan teknik steril saat melakukan

    perawatan luka

    7. Ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase

    8. Jadwalkan perubahan situasi setiap 2 jam atau sesuai kondisi klien

    9. Berikan diet dengan kalori 30-35 kkal/kgBB/hari dan protein 1,25-1,5

    g/kgBB/hari

    10. Berikan suplemenvitamin dan mineral (mis. Vitamin , vitamin C, Zinc, asam amino), sesuai

    indikasi

    11. Berikan terapi TENS (stimulasi saraf transkutaneous), jika perlu

    Edukasi:

    1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi 2. Anjurkan mengkonsumsi makanan yang tinggi

    protein dan kalori

    28. Skrining kanker

  • 18

    3. Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri

    Kolaborasi:

    1. Kolaborasi prosedur debriment (mis. Enzimatik, biologis, mekanis, autolitik), jika

    perlu

    2. Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu 2 Resiko infeksi b.d trauma pada

    jaringan, proses penyakit

    (diabetes melitus) Tujuan:

    Setelah dilakukan asuhan

    keperarawatan selama 3x24 jam

    diharapkan masalah teratasi dengan kriteria hasil:

    1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

    2. Mendeskripsik.an proses penularan penyaki, faktor

    yang mempengaruhi penularan serta

    penatalaksanaannya.

    3. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.

    4. Jumlah leukosit dalam batas normal.

    5. Menunjukan perilaku hidup sehat.

    Pencegahan Infeksi:

    Observasi:

    1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.

    Terapeutik:

    2. Batasi jumlah pengunjung. 3. Berikan perawatan kulit pada area edema. 4. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak

    dengan pasien dan lingkunganpasien.

    5. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.

    Edukasi:

    6. Jelaskan tanda dan gejala infeksi. 7. Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar. 8. Ajarkan etika batuk. 9. Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau

    luka operasi. 10. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi. 11. Anjurkan meningkatkan asupan cairan.

    Kolaborasi: 12. Kolaborasi pemberian imunkisasi, jika

    perlu.

    1. Dukungan pemeliharaan rumah 2. Dukungan perawatan diri: mandi 3. Edukasi pencegahan luka tekan 4. Edukasi seksualitas 5. Induksi persalinan 6. Latihan batuk efektif 7. Manajemen jalan nafas 8. Manajemen imunisasi/vaksin 9. Manajemen lingkungan 10. Manajemen nutrisi 11. Manajemen medikasi 12. Pemantauan elektrolit 13. Pemantauan nutrisi 14. Pemantauan tanda vital 15. Pemberian obat 16. Pemberian obat intravena 17. Pemberian obat oral 18. Pencegahan luka tekan 19. Pengaturan posisi 20. Perawatan amputasi 21. Perawatan area insisi 22. Perawatan kehamilan risiko tinggi 23. Perawatan luka bakar

  • 19

    24. Perawatan luka tekan 25. Perawatan pasca persalinan 26. Perawatan perineum 27. Perawatan persalinan 28. Perawatan persalinan risiko tinggi 29. Perawatan selang 30. Perawatan selang dada 31. Perawatan selang gastrointestinal 32. Perawatan selang umbilikal 33. Perawatan sirkumsisi 34. Perawatan skin graft 35. Perawatan terminasi kehamilan

    Sumber : Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), 2018

  • 20

    3) Implementasi

    Implementasi atau pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk

    mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi

    pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respons pasien selama dan

    sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru (Rohman & Walid,

    2016).

    4) Evaluasi

    Evaluasi perkembangan kesehatan pasien dapat dilihat dari hasilnya.

    Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawatan dapat dicapai

    dan memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan yang diberikan.

    Langkah-langkah evaluasi adalah sebagai berikut:

    1. Daftar tujuan-tujuan pasien

    2. Lakukan pengkajian apakah pasien dapat melakukan sesuatu.

    3. Bandingkan antara tujuan dengan kemampuan pasien.

    4. Diskusikan dengan pasien, apakah tujuan dapat tercapai atau tidak.

    5. Jika tujuan tidak tercapai, maka perlu dikaji ulang letak kesalahannya, dicari

    jalan keluarnya, kemudian catat apa yang ditemukan, serta apakah perlu

    dilakukan perubahan intervensi.

    Hasil yang diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan adalah:

    1) Mempertahankan integritas kulit

    a. Kulit tetap halus tanpa menjadi kering dan pecah-pecah

    b. Menghindari ulkus yang disebabkan oleh tekanan dan neuropati

    2) Menjelaskan dengan kata-kata keterampilan untuk bertahan pada diabetes dan

    perawatan preventif

    3) Mencapai pengendalian glukosa darah yang optimal

    a. Menghindari keadaan hipoglikemia dan hiperglikemia yang ekstrim

    b. Keadaan hipoglikemia dapat teratasi dengan cepat

  • 21

    C. Tinjauan Konsep Penyakit

    A. Ulkus Diabetik

    1. Pengertian Ulkus Diabetik

    Luka gangren adalah proses atau keadaan luka kronis yang ditandai dengan

    adanya jaringan mati atau nekrosis. Namun, secara mikrobiologis luka gangren

    adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. Gangren kaki diabetik

    adalah luka pada kaki merah kehitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang

    terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai (Askandar, 2001).

    Ulkus kaki diabetes merupakan komplikasi diabetes yang berkaitan dengan

    morbiditas, yang disebabkan oleh makrovaskuler (kerusakan pembuluh darah

    besar) dan mikrovaskuler (kerusakan pembuluh darah kecil).

    Kebanyakan ulkus dapat digolongkan menjadi neuropatik, iskemik, atau

    neuroiskemik. Ulkus kaki pada neuropati sering kali terjadi pada permukaan

    plantar kaki di area yang terkena tekanan tinggi, seperti area yang melapisi kaput

    metatarsal, atau di area lain yang melapisi deformitas tulang. Ulkus kaki

    neuropatik berkontribusi terhadap >50% ulkus kaki penderita diabetes dan sering

    tanpa nyeri disertai penampakan lembam. Ulkus iskemik atau neuropatik lebih

    sering terjadi pada ujung jari kaki atau batas samping kaki. Ulkus neuropatik

    disertai kalus dan nekrosis sebaiknya secara teratur dilakukan debridemen, dan

    infeksi seyogyanya diatasi dengan cepat menggunakan antibiotik.

    2. Klasifikasi Ulkus Kaki Diabetes

    Menurut Wagner, ulkus kaki pada penderita diabetes melitus dapat

    diklasifikasikan sebagai berikut:

    1) Tingkat 0,yaitu tidak ada luka terbuka di kaki

    2) Tingkat 1, yaitu dijumpai ulkus superfisial (sebagian atau seluruh lapisan

    kulit)

    3) Tingkat 2, yaitu ulkus dijumpai pada ligamen,tendon,pembungkus sendi, atau

    fasia dalam (deep fascia) tanpa abses atau osteomielitis

  • 22

    3. Etiologi Ulkus Diabetikum

    Etiologi ulkus diabetikum adalah gabungan dari neuropati, penyakit arteri,

    tekanan (trauma), dan deformitas kaki. Penyebab terbesar dari ulkus diabetikum

    adalah diabetik neuropati; yang dapat ditemukan pada 80-90% pasien dengan

    ulkus.

    Kondisi iskemik disebabkan oleh penyakit arteri perifer menghambat

    penyembuhan, terutama saat infeksi terjadi dimana demand lebih banyak

    diperlukan.

    Deformitas atau abnormalitas struktur kaki memainkan peran yang penting

    dalam pembentukan ulkus diabetikum, karena memberikan tekanan abnormal

    yang dapat membentuk luka. Deformitas atau abnormalitas bentuk kaki yang

    dimaksud, diantaranya flat foot, hallux valgus, Charcot neuroartropati,

    atau hammer foot.

    1) Mikrobiologi Ulkus Diabetikum

    Pada ulkus diabetikum, diperkirakan kondisi infeksi disebabkan oleh

    polimikrobial yang dapat melibatkan hingga 5-7 organisme yang berbeda.

    Pola mikrobial ulkus diabetikum dipengaruhi oleh kedalaman luka, jaringan

    yang terlibat, dan penggunaan antibiotik sebelumnya

    1. Infeksi superfisial : Seringkali mengandung kokus aerobik gram positif

    (S. aureus, S. agalactiae, S. pyogenes, dan Staphylococcus coagulase-

    negative)

    2. Infeksi dalam : Seringkali mengandung bakteri yang ada di infeksi

    superfisial ditambah dengan organisme enterokokus, Enterobacteriaceae,

    Pseudomonas aeruginosa, dan bakteri anaerob

    3. Infeksi dengan inflamasi ekstensif, nekrosis, cairan eksudat berbau, atau

    gangrene dengan tanda-tanda toksisitas sistemik dapat mengandung

    semua organisme di atas dan organisme anaerobik. Patogen-patogen yang

    termasuk adalah Streptococcus anaerob, spesies Bacteroides, dan spesies

    Clostridium.

    2) Faktor Risiko

  • 23

    Faktor risiko yang akan meningkatkan kemungkinan terkena ulkus

    diabetikum diantaranya adalah :

    1) Neuropati diabetik

    2) Penyakit vaskular perifer

    3) Faktor biomekanis (Sendi kaku/joint stiffness, kalus, Charcot foot)

    4) Ulkus diabetikum sebelumnya

    5) Riwayat diabetes mellitus tidak terkontrol

    6) Merokok

    7) Retinopati dan nefropati diabetikum

    8) Penggunaan insulin sebagai penanda progresi

    Sumber:(https://www.alomedika.com/penyakit/endokrinologi/ulkus

    -diabetikum/etiologi)

    4. Patofisiologi Kaki Diabetes

    Terjadinya masalah kaki diawali adanya hiperglikemia pada penyandang DM

    yang menyebabkan kelainan pada pembuluh darah. Neuropaati, sensorik maupun

    motorik dan autonomik akan mengakibatkan berbagai perubahan pada kulit dan

    otot, yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan distribusi tekanan pada

    telapak kaki dan selanjutnya akan mempermudah terjadinya ulkus. Adanya

    kerentanan terhadap infeksi menyebabkan infeksi mudah merebak menjadi infeksi

    yang luas. Faktor aliran darah yang kurang juga akan lebih lanjut menambah

    rumitnya pengelolaan kaki diabetes.

    5. Tanda dan Gejala Ulkus Diabetik

    Menurut Maryunani (2013) secara praktis, gambaran klinis kaki diabetes dapat

    digolongkan sebagai berikut:

    1. Golongan Kaki Neuropati

    a. Pada keadaan ini terjadi kerusakan somatik, baik sensorik maupun motorik,

    serta saraf autonom, tetapi sirkulasi masih utuh.

    https://www.alomedika.com/penyakit/endokrinologi/ulkus-diabetikum/etiologihttps://www.alomedika.com/penyakit/endokrinologi/ulkus-diabetikum/etiologi

  • 24

    b. Pada pemeriksaan: kaki akan teraba hangat, kurang rasa/baal (neuropati

    somatik), kulit teraba kering (neuropati autonom), bila terjadi luka, luka akan

    lama sembuh

    2. Golongan Kaki Iskemia

    a. Dikenal dengan istilah lain, yaitu neuroschaemic foot.

    b. Keadaan seperti ini hampir selalu disertai neuropati dengan berbagai macam

    stadium.

    c. Saat pemeiksaan akan ditemukan: kaki teraba dingin, sering menunjukan rasa

    nyeri saat istirahat, dapat terlihat ulkus/luka akibat tekanan lokal, yang

    akhirnya menjadi gangren.

    3. Neuropati Perifer

    a. Menurut Maryunani (2013) definisi neuropati perifer dan ha-hal yang

    berkaitan dengan neuropati sebagai berikut:

    1) Neuropati Perifer adalah suatu komplikasi kronik dari diabetes dimana

    saraf-saraf telah mengalami kerusakan sehingga kaki pasien menjadi baal

    (tidak merasakan sensasi/mati rasa) dan terjadinya trauma/injuri serta

    infeksi.

    2) Neuropati diabetik adalah salah satu komplikai diabetes tersering dan

    bagian kaki biasanya paling rentan terkena dampaknya.

    b. Terdapat tiga tipe neuropati perifer yang berhubungan dengan terjadinya

    Ulkus Diabetik Menurut Maryunani (2013) sebagai berikut:

    1) Neuropati Sensorik

    Neuropati sensorik merupakan penyebab ulkus kaki diabetik yang paling

    sering terjadi. Biasanya ditandai dengan penurunan atau tidak adanya

    sensari nyeri pada kaki yang dapat menyebabkan tidak terasa bisa terjadi

    trauma mekanis atau kimiawi. Kehilangan sensasi pelindung ini merupakan

    masalah yang paling utama pada kaki diabetik. Biasanya pasien tidak bisa

    merasakan rangsangan nyeri dan kehilangan daya kewaspadaan proteksi

    kaki terhadap rangsang luar.

    2) Neuropati Motorik

  • 25

    Terjadinya deformitas pada kaki, dapat menyebabkan daerah tersebut lebh

    banyak mendapat tekanan dari luar. Hal tersebut dapat menyebabkan

    deformitas kaki yang disebabkan oleh atrofi pada otot-otot kaki yang

    menyebabkan pencakaran jari-jari kaki dan bagian metatarsal yang

    menonjol. Atrofi otot mengubah bantalan pada telapak kaki, tumit dan

    bagian menonjol pada kaki dorsal. Akibatnya adalah peningkatan tekanan

    pada struktur tulang maupun perubahan cara berjalan dan bagian stress

    mekanik selama berjalan akan mengakibatkan luka terbuka.

    3) Neuropati Autonomik

    Neuropati autonomik dapat menyebabkan gangguan dalam aliran darah.

    Kerusakan pada saraf akan menyebabkan penurunan persepsi (keringat)

    dengan kulit kering dan retak-retak. Kaki kering dengan tidak adanya

    keringat akan mengakibatkan timbulnya pecah-pecah pada kilit kaki, kulit

    yang retak-retak akan memungkinkan masuknya jamur dan bakteri.

    Ulserasi perforasi dalam terjadinya dibawah kallus, yang menyebabkan

    terjadiny infeksi dan terbentuknya abses.

    6. Pengelolaan Kaki Diabetes

    Pengelolaan kaki diabetes dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu

    pencegahan terjadinya kaki diabetes dan terjadinya ulkus (pencegahan primer

    sebelum terjadi perlukaan pada kulit) dan pencegahan agar tidak terjadi kecacatan

    yang lebih parah (pencegahan sekunder dan pengelolaan ulkus/gangren diabetik

    yang sudah terjadi).

    a. Pencegahan Primer

    1) Kiat-kiat Pencegahan Terjadinya Kaki Diabetes

    Penyuluhan mengenai terjadinya kaki diabetes sangat pentung untuk

    pencegahan kaki diabetes. Penyuluhan ini harus selalu dilakukan pada setiap

    kesempatan pertemuan dengan penyandang DM, dan harus selalu dingatkan

    kembali. Sebagai perawat juga kita dapat bertugas memeriksa kaki

    penyandang DM sambil mengingatkan kembali mengenai cara pencegahan

    dan perawatan kaki yang baik. Selalu periksa kaki pasien setelah mereka

  • 26

    melepaskan sepatu dan kausnya dengan memberikan alas kaki yang baik dan

    sesuai terjadinya ulkus kaki akan berkurang sesuai dengan cara menjaga

    kesehatan kaki.

    a. Pencegahan Sekunder

    Pengelolaan ulkus/gangren diabetik

    Untuk pengelolaan ulkus/gangren diabetik yang optimal, terdapat beberapa

    aspek pada tingkat pencegahan sekunder dan tersier sebagai berikut:

    1) Kontrol Metabolik

    Keadaan umum pasien harus diperhtikan dan diperbaiki. Kadar glukosa darah

    diusahakan agar selalu senormal mungkin, untuk memperbaiki bebagai faktor

    terkait hiperglikemia yang dapat menghambat penyembuhn luka. Pada

    umumnya diperlukan insulin untuk menormalisasikan kadar glukosa darah.

    Status nutrsi juga harus diperhatikan dan diperbaiki sesuai keadaan kondisi

    pasien.

    2) Kontrol Vaskular

    Keadaan vaskular yang buruk tentu akan menghambat kesembuhan luka.

    Berbagai langkah diagnostik dan terapi dapat dikerjakan sesuai keadaan

    pasien dan juga sesuai kondisi pasien. Pada umumnya kelainan pembuluh

    darah perifer dapat dikenali melalui berbagai cara sederhana seperti: warna

    dan suhu kulit, perabaan arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior serta

    ditambah pengukuran tekanan darah.

    3) Modifikasi Faktor Risiko

    1) Stop merokok

    2) Memperbaiki berbagai faktor risiko terkait aterosklerosis

    a. Hiperglikemia

    b. Hipertensi

    c. Dislipidemia

    3) Terapi Farmakologis

    Dalam penelitian yang sudah dikerjakan pada kelainan akibat aterosklerosis di

    tempat lain (jantung, otak), mungkin obat seperti aspirin dan lain sebagainya

  • 27

    yang jelas dikatakan bermanfaat, akan bermanfaat pula untuk pembuluh darah

    kaki penyandang DM.

    4) Wound control

    Perawatan luka sejak pertama kalipasien datang merupakan hal yang harus

    dikerjakan dengan baik dan teliti. Evaluasi luka harus dikerjakan secermat

    mungkin.

    b. Penatalaksanaan Ulkus DM

    Menurut Clevo (2012), terdapat 7 penatalaksanaan ulkus diabetes melitus

    yaitu:

    1) Lihat kondisi luka pasien, apakah luka yang dialami pasien dalam keadaan

    kotor atau tidak, ada pus atau ada jaringan nekrotik (mati) atau tidak. Setelah

    dikaji, barulah dilakukan perawatan luka. Untuk perawatan luka biasanya

    menggunakan antiseptik (NaCl) dan kassa steril.

    2) Jika ada jaringan nekrotik, sebaiknya dibuang dengan cara digunting sedikit

    demi sedikit sampai kondisi luka mengalami granulasi (jaringan baru yang

    mulai tumbuh).

    3) Lihat kedalaman luka, pada pasien diabetes dilihat apakah terdapat sinus (luka

    dalam yang sampai berlubang) atau tidak. Bila terdapat sinus, ada baiknya

    disemprot (irigasi) dengan NaCl sampai pada kedalaman luka, sebab pada

    sinus terdapat banyak kuman.

    4) Lakukan pembersihan luka sehari minimal dua kali (pagi dan sore), setelah

    dilakukan perawatan lakukan pengkajian apakah sudah tumbuh granulasi,

    (pembersihan dilakukan dengan kassa steril yang dibasahi larutan NaCl).

    5) Setelah luka dibersihkan, lalu ditutup dengan kassa basah yang diberi larutan

    NaCl lalu dibalut disekitar luas luka, dalam penutupan dengan kassa, agar

    jaringan luar luka tidak tertutup. Sebab jika jaringan luar luka ikut tertutup

    akan menimbulkan masrasi (pembengkakan).

    6) Setelah luka ditutup dengan kassa basah bercampur NaCl, lalu ditutup kembali

    dengan kassa steril yang kering untuk selanjutnya dibalut.

  • 28

    7) Jika luka sudah mengalami penumbuhan granulasi (pertumbuhan jaringan

    kulit yang baik/bagus yang membuat luka rata), selanjutnya akan ada

    penutupan luka tahap kedua (skin draw), biasanya diambil dari kulit paha.

    Penanganan luka diabet, harus ekstra agresif sebab pada luk diabet kuman

    akan terus menyebar dan memperparah luka.

    7. Manajemen Umum Luka Kronis

    Menurut Carville (2007), secara umum prinsip manajemen luka kronis dengan

    berbagai faktor penghambatnya antara lain:

    1) Pengkajian berkelanjutan dan manajemen faktor penghambat

    2) Wound bed preparation (persiapan dasar luka)

    3) Kaji kebutuhan metode steril atau bersih

    4) Meningkatkan kualitas hidup dengan mengontrol tanda gejala dengan

    manajemen luka yang tepat

    5) Memberikan HE (health education) pada klien dan keluarga

    6) Dukung pemulihan dan rehabilitasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai batas

    kemampuan klien

    8. Persiapan Dasar Luka

    Persiapan dasar luka atau Wound Bed Preparation (WPB) adalah suatu

    metode yang digunakan secara holistik dan sistematis untuk mengevaluasi dan

    menghilangkan faktor penghambat dalam proses penyembuhan sehingga dapat

    berjalan normal (Falanga, 2004; Baranoski dan Ayello, 2014). Berikut uraian

    persiapan dasar luka untuk mendukung proses penyembuhan luka yang optimal:

    1) Tissue Management atau Debridement

    Manajemen jaringan diindikasikan pada jaringan nekrotik atau slough yang

    perlu dihilangkan. Masalah yang ditemukan pada luka kronis adalah

    kerusakan matrik dan sel debris yang dapat menghambat proses penyembuhan

    luka sehingga diperlukan debridemen secara berkelanjutan. Debridemen

    adalah menghilangkan jaringan non viabel (mati) dan benda asing dari luar

  • 29

    yang berlangsung alami dalam proses penyembuhan luka (Bryant & Nix,

    2007).

    a. Autolitik debridemen

    Suatu metode menghilangkan jaringan mati yang dilakukan oleh tubuh

    secara alami dengan mengeluarkan enzim proteolitik, fibrinolitik dan

    kolagenolitik (Hess, 1999; Bryant & Nix, 2007).

    b. Kimiawi debridemen

    Suatu metode menghilangkan jaringan mati dengan menggunakan zat

    kimiawi atau enzim. Debridemen menggunakan enzim lebih lambat dan

    membutuhkan waktu beberapa hari sampai seminggu (Baranoski &

    Ayello, 2014).

    c. Mekanikal debridemen

    Metode menggunakan alat atau bahan untuk menghilangkan jaringan mati.

    Metode CSWD (Conservative Sharp Wound Debridement) membutuhkan

    waktu satu minggu untuk menghilangkan jaringan mati yang tergantung

    luas dan jumlah nekrotik (Baranoski & Ayello, 2014).

    d. Biologikal debridemen

    Metode menggunakan organisme seperti larva (Lucillia sericata-green

    bottle fly) untuk menghancurkan jaringan nekrotik.

    e. Surgikal debridemen

    Metode menghilangkan jaringan mati dengan pembedahan di operating

    room yang dilakukan oleh dokter spesialis bedah. Metode ini digunakan

    pada jaringan mati yang melekat, slough pada permukaan luka dan dapat

    digunakan pada luka yang terinfeksi (Baranoski dan Ayello, 2014).

    2) Inflamation/Infection control

    Pada luka kronis terjadi inflamasi yang memanjang disertai adanya

    pertumbuhan bakteri, sehingga perlu manajemen yang tepat dalam mengontrol

    atau menghilangkan infeksi. Pemilihan balutan antimikrobial dapat digunakan

    untuk mengurangi dan mengontrol pertumbuhan bakteri (Baranoski & Ayello,

    2007).

    3) Moist Balance

  • 30

    Tindakan yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan kelembaban luka,

    yaitu; memilih balutan yang dapat menyerap eksudat dan mempertahankan

    lingkungan luka lembap, kompresi, metode lainnya (Baranoski & Ayello,

    2014).

    4) Edge of Wound or Edge Advancement

    Tepi luka perlu mendapatkan perhatian khusus oleh karena epitelisasi mulai

    tumbuh dari tepi luka. Jaringan mati atau slough yang belum dihilangkan di

    sekitar tepi luka akan mengganggu proses epitelisasi. Beberapa faktor yang

    juga menghambat migrasi sel epitel antara lain; hipoksia, kumpulan bakteri,

    luka kering, atau hipergranulasi (Dowsett dan Newton, 2005; Carville, 2007).

    Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan migrasi

    sel epitel, sebagai berikut:

    a. Hipergranulasi dilakukan penekanan dengan foam dressing dan

    debridemen.

    b. Kalus adalah penebalan epidermis akibat gesekan atau geseran.

    c. Biofilm atau kumpulan kuman di permukaan jaringan granulasi dapat

    diberikan antimikrobial dressing dan mekanikal debridemen menggunakan

    pinset dan kasa.

    9. Tahapan Proses Penyembuhan Luka

    Menurut Morison (2004), tahapan proses penyembuhan luka ada 4 tahapan,

    yaitu: inflamasi, destruktif, proliferasi dan maturasi

    1) Inflamasi

    Proses inflamasi berlangsung dari awal cedera sampai 3 hari dan maksimal

    dapat terjadi sampai 5 hari. Sama halnya dengan pendapat Hess (1999) yang

    menyatakan inflamasi berakhir hari ke-4 sampai hari ke-6. Tahapan inflamasi

    yang melebihi 6 hari akan menjadi tanda awal proses infeksi. Selama proses

    inflamasi terjadi beberapa peristiwa fisiologis yang berlangsung, yaitu:

    a. Hemostasis

    Vasokontriksi sementara pembuluh darah pada daerah yang cedera dan

    penghentian pendarahan oleh bendungan platelet (trombosit) dengan

  • 31

    membentuk serabut fibrin dalam proses pembekuan darah. Setelah

    terbentuk serabut fibrin, maka dilanjutkan proses fibrinolisis untuk

    memecahkan bekuan darah dan mempercepat proses migrasi sel ke ruang

    kulit yang cedera (Baranoski and Ayello, 2012).

    b. Eritema dan panas (Rubor dan Kalor)

    Jaringan rusak akan berespon pengeluaran histamin dari sel mast dan

    ditambah mediator lainnya yang akan menyebabkan vasodilatasi

    pembuluh darah di sekeliling area cedera. Vasodilatasi tersebut

    mengakibatkan aliran darah akan lebih banyak menuju ke area cedera,

    sehingga menjadi merah dan teraba hangat.

    c. Nyeri (Dolor)

    Jaringan rusak akibat ceera akan mengenai ujung saraf bebas, sehingga

    mengeluarkan mediator nyeri seperti prostaglandin, serotonin dan lainnya.

    Mediator nyeri tersebut akan dibawa ke otak untuk dipersepsikan sebagai

    sensasi nyeri.

    d. Edema (Tumor) dan penurunan fungsi jaringan (Function Laesa)

    Aliran darah yang menuju area cedera disertai dengan peningkatan

    permeabilitas kapiler akan menyebabkan cairan dari intravaskular masuk

    ke interstisial,sehingga terjadi edema lokal dan fungsi sendi atau jaringan

    sekitar menurun menyebabkan area cedera tidak dapat digerakkan atau

    gerakkannya terbatas.

    e. Destruktif

    Pada area cedera akan memicu agen kemotaktik memasukkan leukosit

    polimorfonuklear (polimorf) dan makrofag dari kapiler. Fungsi dari

    polimorf dan makrofag adalah membersihkan jaringan mati (devitalisasi)

    dan bakteri serta fibrin yang berlebihan. Sel tersebut juga menstimulasi sel

    fibroblast untuk menyintesis kolagen dan menghasilkan faktor-faktor

    dalam pembentukan pembuluh darah atau kapiler baru yang disebut

    angiogenesis pada tahapan proses penyembuhan luka selanjutnya.

  • 32

    2) Proliferasi

    Tahapan ini berlangsung dari hari pertama sampai 21 hari (3 minggu).

    Tahapan poliferasi sangat dipengaruhi oleh keberadaan sel fibroblas yang akan

    menyintesis kolagen sebagai bahan dasar membentuk jaringan granulasi.

    Lapisan dermis yang banyak terdapat sel fibroblas akan mempercepat proses

    penyembuhan luka, sehingga padatahapan ini tidak boleh diganggu atau

    dihambat oleh teknik perawatan luka yang tidak tepat seperti penggunaan

    cairan cuci luka. Serabut fibrin yang mulai berkurang dengan proses

    fibrinolisis dan adanya kolagen akan membentuk jaringan granulasi. Berikut

    peristiwa yang terjadi pada tahapan proliferasi:

    1) Awal cedera yang merusak pembuluh darah menyebabkan sel darah merah

    akan keluar disertai trombosit (platelet) yang berfungsi untuk membentuk

    fibrin dalam pembekuan darah

    2) Fibrin terbentuk dan sel neutrofil keluar sebagai bentuk pertahanan tubuh

    melawan bakteri

    3) Sel makrofag juga keluar untuk memakan bakteri dan debris (jaringan

    mati)

    4) Makrofag akan menstimulasi sel fibroblast untuk menyintesis kolagen

    yang digunakan membentuk jaringan baru (granulasi) sampai sel epitel

    dapat migrasi dari pinggir luka dan menutupi keseluruhan luka

    5) Fibroblast tetap menyintesis kolagen dan menyusun jaringan baru dan sel

    epitel yang terbentuk agar kembali seperti kulit sehat sekitarnya

    6) Sel epitel menutupi keseluruhan luka dan tersusun rapi tetapi tensile

    strength hanya kembali 80%

    a. Sintesis kolagen

    Sel fibroblast yang terdapat pada lapisan dermis distimulasi oleh makrofag

    untuk menghasilkan kolagen yang menjadi substansi dalam pembentukan

    jaringan baru atau granulasi. Kolagen yang terbentuk juga dapat

    memberikan tensile strength (kekuatan regangan) dan strukturnya .

    b. Pembentukan jaringan granulasi

  • 33

    Jaringan granulasi terbentuk dari gelung kapiler baru yang menopang

    kolagen dan substansi dasar (Morison, 2004). Jaringan granulasi yang baru

    tumbuh sangat rapuh dan mudah berdarah, sehingga dalam perawatan luka

    perlu teknik yang tepat dalam mencuci dan memilih bahan balutan untuk

    mencegah trauma berulang.

    c. Epitelisasi

    Jaringan granulasi yang sudah terbentuk akan dilanjutkan dengan proses

    migrasi sel epitel dari pinggir luka sampai menutupi luka keseluruhannya.

    Proses ini terus berlanjut sampai ke tahapan maturasi. Hess (1999)

    menyatakan bahwa ketika proses epiteliasasi selesai maka akan

    menghasilkan scar. Terbentuknya scar dapat diminimalisirkan dengan

    perawatan dan pemilihan balutan luka yang tepat.

    3) Maturasi

    Tahapan ini berlangsung dari hari ke 21 (3 minggu) sampai 2 tahun.

    Pembentukan serabut kolagen masih terjadi pada tahapan ini, akan tetapi

    serabut akan disusun rapi (reorganize) menyesuaikan jaringan sekitarnya yang

    sehat. Proses ini berlangsung sampai mencapai sekitar 80% kekuatan kulit

    (tensile strengh) sebelumnya. Jaringan yang baru ini akan tetap berisiko rusak

    atau dapat kembali menjadi luka oleh karena tensile strength kurang

    dibandingkan kulit yang tidak mengalami cedera.

  • 34

    10. Gambar Ulkus Diabetik

    Gambar 2.1 : Ulkus Diabetik

    Sumber: Nunan R, Openi, 2014. International Diabetes Federation

    (IDF). IDF Diabetes Atlas Sixth Edition, International Diabetes

    Federation (IDF). 2013.