BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Amputasi .Trauma dapat disebabkan oleh benda tajam, benda

download BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Amputasi .Trauma dapat disebabkan oleh benda tajam, benda

of 28

  • date post

    04-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    230
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Amputasi .Trauma dapat disebabkan oleh benda tajam, benda

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Amputasi

Amputasi merupakan sebuah frekuensi relatif yang dijalankan dalam

sebuah prosedur kesehatan dan seringkali dilakukan sebagai alternatif untuk

menangani kasus fraktur yang komplek atau infeksi pada suatu ekstremitas.

Amputasi juga merupakan sebuah masalah yang komplek bagi seorang pasien

dan bagi system perlindungan atau perawatan kesehatan dalam suatu negara.

Sering kali cedera dapat menyebabkan atau menimbulkan pendarahan yang

ekstensive, karena dimana seluruh pembuluh darah tidak mungkin dapat

mengalami vasoconsentric (Nielsen, 2007).

Amputasi berasal dari kata amputate yang kurang lebih diartikan

pancung. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian

tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas, atau dengan kata lain suatu

tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh. Tindakan ini

merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala

masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat

diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ

dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak

organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi (Bruner

dan Sudarth, 2002).

9

10

Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa

sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem

muskuloskeletal dan sistem cardiovaskuler. Labih lanjut dapat menimbulkan

masalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan

penurunan produktifitas. Seringkali masyarakat merasa takut dan tidak mau

untuk diamputasi karena masyarakat atau klien menggangap hal tersebut

sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Padahal dalam konteks

pembedahan, amputasi bertujuan untuk menyelamatkan hidup (Bruner dan

Sudarth, 2002).

a. Teknik amputasi.

Teknik amputasi ada dua yaitu myodesis dan myoplasty, myodesis

adalah mengikatkan group otot tulang dengan tulang, sedangkan

myoplasty adalah menjahitkan otot dengan jaringan lunak pada sisi yang

lain yaitu pada otot atau fasia sebelahnya (Bruner dan Sudarth, 2002).

Gambar 2.1 Myodesis (www.oandplibrary.com) diakses pada 14 Oktober 2014

http://www.oandplibrary.com/

11

Gambar 2.2 Myoplasty (www.netterimages.com) diakses pada 14 Oktober 2014

b. Sebab-sebab amputasi.

Etiologi adalah ilmu pengetahuan atau teori tentang faktor-faktor

yang menyebabkan penyakit dan metode masuknya penyebab penyakit

(agen) ke tubuh pejamu , penyebab atau asal mula penyakit atau gangguan

(Dorland, 2006). Dalam pembahasan ini akan diuraikan tentang amputasi.

Faktor- faktor yang menyebabkan amputasi adalah trauma, pheriperal

vascular disease, cancer, congenintal limb deficiencies (Nielsen, 2007).

Trauma berasal dari bahasa Yunani traumas atau traumata

yang berarti luka dari sumber luar. Trauma dapat disebabkan oleh benda

tajam, benda tumpul atau peluru. Keadaan trauma dapat menyebabkan

perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme kelainan

imunologi dan gangguan faal berbagai organ (Hidayat, 1997). Trauma

adalah luka atau cidera, baik fisik / psikis (Dorland, 2006).

Cedera pada trauma dapat terjadi akibat, kecelakaan sepeda motor,

kecelakaan kerja, terkena tembakan peluru, ledakan, luka bakar yang

cukup berat, dan tersengat listrik (Nielsen, 2007).

http://www.netterimages.com/

12

Trauma terdiri dari bermacammacam jenis yaitu (1) trauma

tumpul berupa benturan, perlambatan. Trauma tumpul kadang tidak

memberikan kelainan yang jelas pada permukaan tubuh tetapi dapat

mengakibatkan konstitusi atau laserasi jaringan ataupun organ di

bawahnya. Cedera perlambatan sering terjadi pada kecelakaan lalu lintas

karena setelah tabrakan badan masih melaju dan kemudian tertahan suatu

benda sedangkan bagian tubuh yang relatif tidak terpancang bergerak terus

dan menyebabkan terjadinya robekan pada organ tersebut. Cedera ledak

adalah luka / kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh granat, bom dan

ledakan, (2) trauma tembus adalah trauma yang terjadi karena senjata

tajam / tembakan, (3) trauma tajam merupakan luka terbuka yang terjadi

akibat benda yang memiliki sisi tajam / ujung runcing. Benda yang

mempunyai sisi tajam berupa luka sayat (Vulnus scissum), benda yang

memiliki sisi runcing berupa luka tusuk (Vulnus Punctum) (Aston, 1996).

Peripheral vascular disease (PVD) merujuk pada penyakit-

penyakit dari pembuluh-pembuluh darah (arteri-arteri dan vena-vena) yang

berlokasi diluar jantung dan otak. Sementara ada banyak penyebab-

penyebab dari peripheral vascular disease, dokter-dokter umumnya

menggunakan istilah peripheral vascular disease untuk merujuk pada

peripheral artery disease (peripheral arterial disease, PAD), kondisi yang

berkembang ketika arteri-arteri yang mensuplai darah ke organ-organ

internal, lengan-lengan, dan tungkai-tungkai menjadi terhalangi

13

sepenuhnya atau sebagian sebagai akibat dari atherosclerosis sehingga ada

kemungkinan tungkai harus diamputasi (Nielsen, 2007).

Penyebab amputasi lainya adalah kanker. Menurut WHO (2009),

kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok besar penyakit yang

dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah lain yang digunakan

adalah tumor ganas dan neoplasma. Salah satu fitur mendefinisikan kanker

adalah pertumbuhan sel-sel baru secara abnormal yang tumbuh melampaui

batas normal, dan yang kemudian dapat menyerang bagian sebelah tubuh

dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastasis. Metastasis

merupakan penyebab utama kematian akibat kanker (WHO, 2009).

Sebab langsung kelainan kongenital sering sekali sukar diketahui,

pertumbuhan embrional dan fetal dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik,

lingkungan atau kombinasi faktor genetik, lingkungan dan faktor yang

tidak diketahui. Akan tetapi, amputasi yang disebabkan kongenital cukup

banyak (Nielsen, 2007).

c. Komplikasi amputasi

Komplikasi-komplikasi yang terjadi setelah dilakukan operasi

amputasi antara lain : (1) Hematoma, (2) Infeksi, (3) Nekrosis, (4)

Kontraktur, (5) Neuroma Traumatik, (6) Phantom Sensation, (7) Gangrene

(Nielsen, 2007).

Hematoma yaitu timbunan darah lama di dalam puntung (stump), ini

terus dicegah dengan penghentian darah secara baik dan teliti (waktu

14

operasi), dan sesudah operasi disarankan dipasang alat sedot darah

hematom (Nielsen, 2007).

Invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh dan

secara klinis mungkin tampak atau timbul cedera selular lokal akibat

kompetisi metabolisme, toksin, replikasi, intrasel atau respon

antigen/antibody. Pada kasus amputasi ini merupakan komplikasi yang

berat, hal ini dapat terjadi karena masih adanya serpihan serpihan tulang

atau barang lain yang tidak steril didalam puntung (stump) yang kemudian

dapat menyebabkan terjadinya infeksi (Nielsen, 2007).

Nekrosis yaitu kematian sebagian kulit atau jaringan pada puntung

(stump). Nekrosis yang sedikit dapat diobati secara konservatif sedangkan

pada nekrosis yang berat atau luas dipertimbangkan kemungkinan

perlunya tindakan reamputasi (Nielsen, 2004).

Kontraktur yaitu terjadinya kekakuan sendi tidak dapat bergerak

melalui seluruh ruang gerak yang bersangkutan. Ini merupakan kesalahan

perawatan dan fisioterapi tidak memadai sesudah operasi (Nielsen, 2007).

Neuroma Traumatik yaitu suatu tumor atau neoplasma yang

sebagian besar terdiri dari sel dan serabut syaraf serta merupakan suatu

tumor yang tumbuh dari suatu syaraf. Biasanya timbul setelah dilakukan

amputasi dari suatu ekstremitas (Nielsen, 2007).

Phantom Sensation yaitu perasaan dari penderita dimana masih

merasa mempunyai bagian tungkai yang telah dipotong dan sakit pada

15

bagian tersebut atau sebuah citra atau kesan yangn tidak dicetuskan oleh

rangsangan sesungguhnya (Nielsen, 2007).

Gangrene terbagi menjadi dua tipe yaitu (1) gangrene kering,

gangrene kering merupakan kematian dari suatu bagian, biasanya anggota

gerak, disebabkan oleh ischemia tanpa adanya udema atau infeksi

mikroskopik, (2) gangrene basah, gangrene basah disebabkan oleh bagian

busuk yang membengkak, organ atau anggota gerak yang terjadi setelah

sumbatan arterial atau kadang kadang sumbatan vena yang sering kali

disertai infeksi. Gangrene disebabkan oleh beberapa hal yaitu (1) vaskuler,

meliputi pembuluh darah, spasme vaskuler, tekanan luar, embolisme, (2)

traumatik, contohnya cedera akibat benturan / tekanan yang diikuti dengan

kekurangan pasokan darah, (3) fisiko - kimia, contohnya panas, dingin,

asam, alkali, sinar-X, (4) infeksi, contohnya gas gangrene, (5) penyakit

syaraf (Nielsen, 2007).

d. Level amputasi

Level-level amputasi pada anggota gerak bawah terdiri dari (1)

Hemipelvectomy yaitu amputasi tidak hanya menghilangkan sendi pada

hip, tetapi juga menghilangkan sebagian da