BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Gigi Tiruan Jembatan (Bridge) 1 ... . BAB II.pdf · PDF file...

Click here to load reader

  • date post

    17-Apr-2020
  • Category

    Documents

  • view

    45
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Gigi Tiruan Jembatan (Bridge) 1 ... . BAB II.pdf · PDF file...

  • 5

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Gigi Tiruan Jembatan (Bridge)

    1. Sejarah Gigi Tiruan Jembatan

    Menurut Prajitno riwayat perkembangan restorasi gigi tiruan

    jembatan sudah ada pada 700 th sebelum masehi, berasal dari gigi hewan

    dan diikatkan pada gigi yang masih ada menggunakan lempeng emas.

    Semenjak itu tidak banyak lagi diutarakan sampai abad ke 18, hanya

    terdapat perbaikan dalam cara penggantian gigi yang hilang (Prajitno,

    1991 : 3).

    Pada abad ke 19, lebih banyak literatur yang menggambarkan

    perkembangan perawatan gigi tiruan jembatan dalam hal teknologi dan

    bahan-bahan untuk perbaikan estetika dan kemudahan dalam

    membuatnya. Peleburan porselen telah mulai dilakukan dan pada

    pertengahan abad 19 gips dipakai untuk mencetak dan membuat model

    kerja (Prajitno, 1991 : 3).

    Tahun 1907 dianggap sebagai awal konstruksi jembatan, dan pada

    tahun 1937 hidrokoloid telah dipakai sebagai bahan cetak untuk membuat

    gigi tiruan jembatan secara tak langsung. Selanjutnya mulai dipakai

    Rubberbase Impression Material dan akrilik untuk perbaikan estetika.

    Alat bor yang digerakkan oleh kaki sejak tahun 1872 mulai diganti dengan

    mesin listrik. Vibrasi yang dialami oleh penderita mulai hilang setelah

    super high speed engine diperkenalkan. Sekarang sudah dipakai alat ultra

    speed air driven turbine handpiece sebagai teknologi yang paling

    mutakhir (Prajitno, 1991 : 3).

  • 6

    2. Pengertian Gigi Tiruan Jembatan

    Gigi tiruan jembatan disebut juga Fixed Partial Denture adalah

    suatu protesa sebagian yang dilekatkan secara tepat pada satu atau lebih

    gigi penyangga dan menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang

    (Martanto, 1981 : 4).

    Gigi tiruan jembatan (Bridge Fixed Bridge) adalah gigi tiruan

    yang dicekatkan pada gigi penyangga dan didukung sepenuhnya oleh gigi

    pendukungnya (Gunadi, 1991 : 14).

    Gigi tiruan jembatan adalah restorasi yang menggantikan satu atau

    lebih gigi yang disemenkan pada gigi penyangga dan didukung

    sepenuhnya oleh periodontium (Kayser; dkk, 1984 : 239).

    3. Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan Jembatan

    Menurut Martanto, tujuan pembuatan gigi tiruan jembatan adalah

    untuk memulihkan daya kunyah (masticating efficiency) yang menjadi

    kurang karena hilangnya satu atau lebih gigi asli. Selain itu juga untuk

    memperbaiki estetika, memelihara/mempertahankan kesehatan gusi,

    memulihkan fungsi fonetik (pengucapan), serta mencegah terjadinya

    pergeseran gigi keruangan yang kosong akibat kehilangan gigi berupa

    migrasi, rotasi, miring, atau ekstrusi (Martanto, 1981 : 3).

    4. Indikasi Dan Kontra Indikasi Gigi Tiruan Jembatan

    Menurut Martanto, indikasi untuk pembuatan gigi tiruan jembatan

    adalah sebagai berikut:

    a. Gigi Penyangga

    Kondisi dan posisi dari gigi asli yang masih ada dijadikan

    pertimbangan untuk dijadikan gigi penyangga. Gigi penyangga

    tidak boleh goyang dan mempunyai kedudukan sejajar dengan gigi

    lainnya.

  • 7

    b. Jumlah Gigi Yang Diganti

    Luas permukaan selaput periodontal dari gigi-gigi

    penyangga hendaknya sama atau lebih besar dari luas permukaan

    selaput periodontal dari gigi-gigi yang akan diganti. Jika gigi yang

    diganti lebih banyak dari gigi penyangga, maka akan merusak gigi

    penyangga itu sendiri dan jaringan-jaringan disekitarnya. Keadaan

    yang baik adalah jika ada dua gigi penyangga ditiap ujung yang

    memenuhi syarat untuk menggantikan satu gigi.

    c. Umur Penderita

    Gigi tiruan jembatan sebaiknya tidak dibuat pada usia

    dibawah 17 tahun karena ruang pulpa masih besar, gigi belum

    tumbuh sempurna, dan tulang rahang belum cukup padat atau

    keras.

    d. Kesehatan gusi, selaput akar dan tulang

    Pada sekitar gigi penyangga keadaan gusi harus sehat,

    warna dan konsistensi gusi dapat dijadikan pedoman untuk gusi

    yang normal. Oklusi traumatis dapat menyebabkan selaput

    periodontal meradang dan tulang alveolar mengalami resorbsi,

    sehingga dapat menjadikan gigi goyang dan tidak mampu untuk

    dijadikan penyangga yang kuat (Martanto, 1981 : 15-18).

    Kontra Indikasi dalam pembuatan gigi tiruan jembatan adalah sebagai

    berikut:

    a. Kebersihan mulut

    Pada penderita yang kebersihan mulutnya (oral hygiene)

    tidak terpelihara atau tidak dapat memeliharanya karena cacat,

    pemakaian gigi tiruan jembatan tidak disarankan dan sebaiknya

    dibuatkan protesa lepasan.

  • 8

    b. Indeks karies

    Indeks karies yang tinggi tidak disarankan untuk memakai

    retainer yang tidak menutupi seluruh permukaan mahkota gigi

    karena mudah terserang karies.

    c. Oklusi

    Tekanan kunyah pada oklusi yang abnormal seperti gigitan

    silang dapat menekan retainer pada gigi penyangga.

    d. Keadaan atau posisi gigi antagonis

    Gigi hilang yang tidak segera diganti akan mengakibatkan

    migrasi dan ekstrusi. Migrasi dan ekstrusi yang parah merupakan

    kontra indikasi untuk dibuatkan gigi tiruan jembatan (Martanto,

    1981 : 18-19).

    5. Keuntungan Dan Kerugian Gigi Tiruan Jembatan

    Menurut Prajitno, keuntungan pemakaian gigi tiruan jembatan

    adalah sebagai berikut:

    a. Gigi tiruan jembatan tidak mudah terlepas atau tertelan karena

    dilekatkan pada gigi asli.

    b. Penderita merasa seperti gigi asli.

    c. Gigi tiruan jembatan mempunyai efek splinting yang melindungi gigi

    terhadap tekanan.

    d. Gigi tiruan jembatan dapat menyalurkan tekanan kunyah ke

    penyangga gigi sehingga menguntungkan jaringan pendukungnya

    (Prajitno, 1991 : 1).

    Menurut Kayser, kerugian pemakaian gigi tiruan jembatan yaitu:

    a. Pembebanan periodontal dari unsur penyangga.

    Sebuah gigi tiruan jembatan mempunyai daerah interdental yang sulit

    dibersihkan, selain itu pinggiran subgingival dari restorasi penyangga

    dapat menyebabkan iritasi gingival.

  • 9

    b. Pada pembuatan gigi tiruan jembatan unsur-unsur penyangga harus

    selalu dibuat dengan restorasi cor terutama pada unsur penyangga yang

    masih utuh (Kayser; dkk, 1984 : 243).

    6. Syarat-Syarat Gigi Tiruan Jembatan

    Menurut Martanto, suatu gigi tiruan jembatan hendaknya tidak

    sekedar menggantikan gigi-gigi yang hilang (mengisi ruangan yang

    kosong), tetapi harus juga memulihkan dan menjamin terpeliharanya

    semua fungsi dari gigi geligi dan mencegah kerusakan selanjutnya. Gigi

    tiruan jembatan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

    a. Persyaratan Mekanis

    Gigi-gigi penyangga harus mempunyai sumbu panjang yang

    sejajar sehingga gigi penyangga dapat dipreparasi dengan baik agar

    dapat memberi retensi yang cukup bagi retainer. Pontik harus

    menyerupai bentuk anatomi gigi asli yang diganti dan harus kuat

    menahan beban kunyah sehingga tidak patah/bengkok. Konektor juga

    harus mempunyai kekuatan yang cukup sehingga tidak patah oleh

    tekanan kunyah.

    b. Persyaratan Fisiologis

    Gigi tiruan jembatan tidak boleh mengganggu kesehatan gigi

    penyangga dan jaringan pendukung lainnya. Retainer dan pontik tidak

    boleh mengiritasi jaringan lunak (gusi, lidah, pipi, bibir).

    c. Persyaratan Hygiene

    Pada gigi tiruan jembatan tidak boleh terdapat bagian-bagian

    yang dapat menyangkut sisa makanan. Diantara pontik dan retainer

    harus ada celah yang cukup besar dan dapat dilalui seutas benang

    sehingga dapat dibersihkan dengan mudah oleh air ludah atau lidah

    dan semua permukaan gigi tiruan jembatan (kecuali permukaan dalam

    dari retainer) harus dipoles sampai licin dan mengkilap agar kotoran

    atau sisa makanan tidak mudah melekat.

  • 10

    d. Persyaratan Estetik

    Gigi tiruan jembatan terutama untuk gigi depan harus dibuat

    menyerupai gigi asli, tetapi tidak boleh mengorbankan kekuatan dan

    kebersihannya. Permukaan logam yang tidak perlu sebaiknya dicegah

    untuk kepentingan estetika. Pontik harus mempunyai kedudukan,

    bentuk dan warna yang sesuai dengan keadaan sekitarnya dan

    mempunyai cici-ciri permukaan yang sepadan dengan gigi

    tetangganya.

    e. Persyaratan Fonetik

    Pada umumnya otot-otot mulut segera dapat menyesuaikan diri

    untuk menghasilkan suara yang sama sebelum adanya gigi yang

    hilang. Gigi tiruan jembatan mampu menyempurnakan pemulihan ini

    dalam waktu yang pendek karena tidak adanya basis seperti pada gigi

    tiruan lepasan. Bagian lingual dari retainer atau pontik dibuat bentuk

    dan ukuran yang sama dengan gigi asli sehingga pasien mudah dan

    cepat dapat berbicara seperti biasa (Martanto, 1981 : 11-12).

    7. Macam-Macam Gigi Tiruan Jembatan

    Menurut Prajitno, pada dasarnya ada beberapa macam gigi tiruan

    jembatan yaitu:

    a. Rigid Fixed Bridge

    Rigid fixed bridge ialah desain dimana pontik terhubung ke

    abutment dikedua sisi, memberikan kekuatan yang diinginkan dan

    stabilisasi (Madhok, 2014 : 2). Kedua ujungnya direkatkan secara

    kaku (rigid) pada gigi abutmentnya (Prajitno, 1991 : 10).