BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf ·...

of 12 /12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringan Kultur jaringan (tissue culture) adalah suatu teknik mengisolasi bagian-bagian tanaman (sel, sekelompok sel, jaringan, organ, protoplasma, tepung sari, ovari dan sebagainya), ditumbuhkan secara tersendiri, dipacu untuk memperbanyak diri, akhirnya diregenerasikan kembali menjadi tanaman lengkap yang mempunyai sifat sama seperti induknya dalam suatu lingkungan yang aseptik (bebas hama dan penyakit). Selanjutnya teknik ini juga disebut kultur in vitro (in vitro culture) yang artinya kultur di dalam wadah gelas (Wattimena dkk, 1992). Dasar pengembangan kultur jaringan adalah totipotensi. Totipotensi merupakan potensi suatu sel untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang lengkap. Setiap sel akan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap dan utuh apabila ditempatkan pada kondisi yang sesuai (Kumar dkk, 2011). Tahapan kultur jaringan meliputi inisiasi, multiplikasi, perpanjangan dan induksi akar (pengakaran), dan aklimatisasi. Kegiatan inisiasi meliputi persiapan eksplan, sterilisasi eksplan hingga mendapatkan eksplan yang bebas dari mikroorganisme kontaminan. Multiplikasi merupakan tahap perbanyakan eksplan dengan subkultur (pemindahan eksplan dalam media baru yang berisi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)) secara berulang-ulang untuk mempertahankan stok bahan tanaman (eksplan). Pengakaran merupakan kegiatan terakhir sebelum planlet dipindahkan ke kondisi luar. Aklimatisasi ialah proses 5 KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Transcript of BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf ·...

Page 1: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kultur Jaringan

Kultur jaringan (tissue culture) adalah suatu teknik mengisolasi

bagian-bagian tanaman (sel, sekelompok sel, jaringan, organ, protoplasma,

tepung sari, ovari dan sebagainya), ditumbuhkan secara tersendiri, dipacu

untuk memperbanyak diri, akhirnya diregenerasikan kembali menjadi tanaman

lengkap yang mempunyai sifat sama seperti induknya dalam suatu lingkungan

yang aseptik (bebas hama dan penyakit). Selanjutnya teknik ini juga disebut

kultur in vitro (in vitro culture) yang artinya kultur di dalam wadah gelas

(Wattimena dkk, 1992). Dasar pengembangan kultur jaringan adalah

totipotensi. Totipotensi merupakan potensi suatu sel untuk dapat tumbuh dan

berkembang menjadi tanaman yang lengkap. Setiap sel akan beregenerasi

menjadi tanaman yang lengkap dan utuh apabila ditempatkan pada kondisi

yang sesuai (Kumar dkk, 2011).

Tahapan kultur jaringan meliputi inisiasi, multiplikasi, perpanjangan

dan induksi akar (pengakaran), dan aklimatisasi. Kegiatan inisiasi meliputi

persiapan eksplan, sterilisasi eksplan hingga mendapatkan eksplan yang bebas

dari mikroorganisme kontaminan. Multiplikasi merupakan tahap perbanyakan

eksplan dengan subkultur (pemindahan eksplan dalam media baru yang berisi

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)) secara berulang-ulang untuk mempertahankan

stok bahan tanaman (eksplan). Pengakaran merupakan kegiatan terakhir

sebelum planlet dipindahkan ke kondisi luar. Aklimatisasi ialah proses

5 KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 2: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

pemindahan/pengadaptasian planlet dari kondisi in vitro ke kondisi

luar/lapangan (Kumar dkk, 2011).

2.1.1 Manfaat Kultur Jaringan

Menurut Darmono (2003); Hendaryono dan Wijayani (1994)

manfaat yang bisa didapatkan dari kultur jaringan adalah sebagai berikut :

a. Bibit dapat diperbanyak dalam jumlah besar dan relatif cepat.

b. Bibit unggul, cepat berbuah serta tahan hama dan penyakit.

c. Seragam atau sama dengan induknya, tetapi dapat juga menimbulkan

keberagaman.

d. Efisiensi tempat dan waktu.

e. Tidak tergantung musim, dapat diperbanyak secara kontinyu.

f. Untuk skala besar biaya lebih murah.

g. Cocok untuk tanaman yang sulit beregenerasi.

h. Menghasilkan tanaman bebas virus.

i. Menghasilkan bahan bioaktif/metabolit sekunder tanpa menanam di

luar atau di lapang.

j. Kultur jaringan sesuai dengan program pemuliaan konvensional seperti

penyelamatan embrio.

k. Produksi bahan-bahan sekunder dapat melalui kultur sel, jaringan,

danorgan, misalnya produksi papain dari pepaya.

l. Proses tukar-menukar plasma nutfah menjadi lebih mudah.

m. Plasma nutfah bisa disimpan dalam bentuk sel-sel yang kompeten

dalam regenerasi.

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 3: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Teknik In Vitro

Sel-sel tanaman yang diinduksi dapat diarahkan ekspresi

totipotensinya tergantung dari tujuannya. Keberhasilan ekspresi tersebut

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu seleksi bahan tanaman, teknik

sterilisasi eksplan, komposisi media, penambahan zat pengatuh tumbuh,

dan faktor lingkungan di mana kultur ditempatkan. Bahan tanaman yang

digunakan biasanya merupakan bagian tanaman yang masih aktif

membelah. Bahan tanaman yang berasal dari benih biasanya mengalami

dormansi. Pematahan dormansi dapat dilakukan dengan merendam benih

ke dalam bahan sterilisasi. Perendaman benih Pinus merkusii dalam

larutan hidrogen peroxida (H2O2) pada konsentrasi 7% selama 10 menit

dapat mematahkan dormansi benih sekaligus efektif dalam mengatasi

sumber kontaminan yang terdapat pada benih (Nurtjahjaningsih, 2009).

Kondisi bahan tanaman yang digunakan sebagai eksplan harus

sehat dan kuat. Penggunaan bahan tanam dari potongan batang ramin

(Gonystilus bancanus) yang masih sangat muda menyebabkan eksplan

mengalami kematian setelah proses sterilisasi, sedangkan eksplan yang

lebih dewasa mampu berkembang dan merespon dengan baik perlakuan

yang diberikan (Yelnititis dan Komar 2011). Kondisi bahan tanam antara

satu tanaman dengan tanaman lainnya sangat berbeda. Untari dan

Puspitaningtyas (2006), menyatakan bahwa kondisi fisiologi tumbuhan

memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan.

Selanjutnya Zulkarnain (2009) menambahkan bahwa jaringan yang kurang

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 4: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

aktif sering menginginkan modifikasi jenis dan takaran zat pengatur

tumbuh selama proses pengkulturan dan semakin tua organ eksplan yang

digunakan, maka proses pembelahan dan regenerasi sel cenderung

semakin menurun.

Bahan eksplan biasanya mengandung debu, kotoran-kotoran, dan

berbagai sumber kontaminan lainnya pada permukaan eksplan terlebih jika

bahan yang digunakan berasal dari lapangan. Terdapat beberapa sumber

kontaminan mikroorganisme pada sistem in vitro antara lain: media tanam

yang kurang steril, lingkungan kerja, pelaksanaan yang kurang hati-hati,

eksplan yang kurang steril, dan serangga atau hewan kecil yang berhasil

masuk ke dalam botol kultur setelah diletakkan dalam ruang inkubasi.

Penggunaan bahan sterilan mutlak dibutuhkan dalam perbanyakan

tanaman secara in vitro. Dalam kultur in vitro perbanyakan tanaman tanpa

penggunaan bahan sterilan (kontrol) akan menghasilkan tingkat

kontaminasi eksplan yang tinggi. Seperti yang disampaikan oleh Gunawan

(2007), 80% kontaminasi terjadi 11 hari setelah inokulasi pada perlakuan

tanpa menggunakan bahan sterilan (kontrol) pada eksplan anggrek kuping

gajah (Bulbophyllumbeccarii). Bahan-bahan sterilan pada umumnya

bersifat racun, selain dapat membunuh kontaminan, bahan tersebut juga

dapat mematikan jaringan tanaman. Rismayani (2010) mengatakan

konsentrasi bahan sterilan yang kecil membuat eksplan rentan terhadap

patogen, namun semakin tinggi konsentrasi bahan sterilan maka akan

menghambat perkembangan jaringan planlet pada tanaman Aglaonema sp.

Larutan hipoklorit (natrium dan kalsium) telah terbukti mampu mengatasi

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 5: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

kontaminasi permukaan pada beberapa tanaman. Seperti yang dilaporkan

Rismayani dan Hamzah (2010) penggunaan bahan sterilisasi kloroks3%

mampu mensterilkan jaringan Aglaonema sp. dengan sempurna dan

meningkatkan jumlah tunas tanaman. Selain itu menurut Khairunisa

(2009), penggunaan alkohol 70% selama 3 menit efektif dalam

mensterilkan tanaman binahong (Anredera cordifolia) dengan tingkat

keberhasilan mencapai 92.76%.

Penanganan bahan tanaman yang berasal dari lapangan lebih sulit

dibandingkan dengan tanaman yang dipelihara di dalam rumah kaca.

Nurhaimi-Haris dkk. (2009) menggunakan bahan pra-sterilan desogerme

dalam mengatasi masalah kontaminan pada eksplan karet dengan hasil

yang baik. Desogerme memiliki kemampuan merusak membran dan sel

protein berbagai jenis mikrob namun cukup aman untuk jaringan tanaman,

sehingga cukup efektif digunakan sebagai desinfektan. Penggunaan

merkuri klorida (HgCl2) telah banyak dilakukan untuk mengatasi

kontaminan yang berasal dari lapangan. Gunawan (2007) menyampaikan

penggunaan HgCl2 0.01% kurang efektif dalam mengatasi kontaminasi

pada eksplan anggrek kuping gajah (B. beccarii). Penggunaan bahan

tersebut merupakan pilihan terakhir sebab merupakan bahan yang sangat

beracun dan dapat mencemari lingkungan jika penanganannya tidak

dilakukan dengan hati-hati.

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 6: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

2.2 Eksplan

Eksplan adalah potongan/bagian jaringan yang diisolasi dari tanaman

yangdigunakan untuk inisiasi suatu kultur in vitro. Eksplan merupakan

potongan tanaman yang diisolasi untuk inisiasi kultur jaringan. Respon

masing-masing eksplan dalam kultur jaringan akan berbeda. Kemampuan

regenerasi eksplan dalam kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh tipe eksplan,

varietas eksplan, umur tanaman induk sumber eksplan, kondisi fisiologis, dan

ukuran eksplan.

Tipe eksplan merupakan faktor yang penting dalam mengoptimalkan

pelaksanaan kultur jaringan. Tipe eksplan seperti tunas pucuk, tunas ketiak

(aksilar), akar, mata tunas, daun, embrio, dan bakal biji akan memberikan

perbedaan yang signifikan pada pertumbuhan eksplan (Jabeen dkk, 2005). Hal

ini dikarenakan adanya perbedaan kandungan hormon pada masing-masing

bagian eksplan (Kumar dkk, 2011). Varietas eksplan juga merupakan faktor

yang penting dalam mempengaruhi regenerasi eksplan (Kamal dkk, 2007;

Michel dkk,2008).

Peluang keberhasilan kultur jaringan dipengaruhi juga oleh umur

tanaman. Semakin muda tanaman, maka akan semakin besar keberhasilan

dalam kultur jaringan. Jaringan muda (juvenile) memiliki sel-sel yang aktif

membelah dengan kecepatan pembelahan sel yang tinggi sehingga jaringan

muda merupakan bahan eksplan yang baik. Naughmouchi dkk. (2008)

mengatakan respon eksplan akan menurun seiring pertambahan umur

eksplan.

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 7: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

Kondisi fisiologi eksplan berperan penting dalam keberhasilan teknik

kultur jaringan. Pada umumnya bagian vegetatif lebih siap beregenerasi

daripada bagian generatif. Kondisi fisiologis dari suatu tanaman bervariasi

secara alami, sejalan dengan pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh

lingkungannya. Pengaturan lingkungan tanaman yang bersih dan higienis,

dengan pengubahan status fisiologi tanaman induk seperti memanipulasi

cahaya, suhu, suplai air, suplai hara dan zat pengatur tumbuh akan

mempengaruhi fisiologi eksplan (Zulkarnain, 2009).

Ukuran eksplan menentukan laju kehidupan bahan eksplan. Eksplan

yang berukuran kecil, lebih mudah disterilisasi sehingga akan memperkecil

peluang kontaminasi baik secara internal maupun eksternal, namun

kemampuan beregenerasi juga kecil sehingga diperlukan media kompleks

dalam pertumbuhannya. Semakin besar ukuran eksplan maka akan semakin

besar kemampuan beregenerasi, namun peluang untuk kontaminasi juga

semakin besar (Zulkarnain, 2009).

2.3 Sterilisasi Eksplan

Sterilisasi adalah proses untuk mematikan atau menonaktifkan spora dan

mikroorganisme sampai ke tingkat yang tidak memungkinkan lagi

berkembang biak atau menjadi sumber kontaminan selama proses

perkembangan berlangsung.

Proses sterilisasi yang tidak sempurna akan menimbulkan adanya

kontaminasi. Kontaminasi yang umum terjadi adalah kontaminasi oleh

cendawan dan bakteri. Komposisi medium kultur jaringan yang mengandung

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 8: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

gula, vitamin, asam asam amino, garam-garam anorganik, air, zat pengatur

tumbuh, dan bahan pemadat sangat menguntungkan untuk pertumbuhan

cendawan dan bakteri. Bila diberi kesempatan maka organisme tersebut akan

tumbuh dengan cepat, dan dalam waktu singkat akan menutupi permukaan

medium dan eksplan yang ditanam. Selanjutnya organisme ini menyerang

eksplan melalui bekas luka pemotongan pada saat perlakuan sterilisasi.

Beberapa jenis mikroorganisme melepaskan senyawa beracun ke dalam

medium kultur yang dapat menyebabkan kematian eksplan (Zulkarnain,

2009).

Beberapa sumber kontaminasi mikroorganisme pada sistem kultur

jaringan, adalah: (1) media, (2) lingkungan kerja yang kurang steril dan

pelaksanaan penanaman yang kurang hati-hati dan kurang teliti, (3) eksplan,

secara internal (kontaminan terbawa di dalam jaringan tanaman), (4) eksplan,

secara eksternal (kontaminan berada di permukaan eksplan akibat prosedur

sterilisasi yang kurang sempurna, (5) serangga atau hewan kecil yang masuk

ke botol kultur setelah diletakkan pada ruang kultur. Dari semua sumber

kontaminasi, yang paling sulit diatasi ialah yang berasal dari eksplan. Oleh

karena itu, dalam memilih suatu metode sterilisasi dan bahan sterilisasi

haruslah selektif, dengan prinsip semaksimal mungkin menghilangkan

mikroorganisme kontaminan yang tidak diinginkan dengan gangguan sekecil

mungkin pada jaringan eksplan.

Sterilisasi eksplan dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu secara

mekanik dan secara kimia. Sterilisasi eksplan secara mekanik digunakan untuk

eksplan yang keras (misalnya tebu, biji salak, dan sebagainya) atau berdaging

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 9: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

(misalnya wortel, umbi, dan sebagainya), yaitu dengan membakar eksplan

tersebut di atas lampu spiritus sebanyak tiga kali. Sedangkan sterilisasi

eksplan secara kimia digunakan untuk eksplan yang lunak (jaringan muda)

seperti daun, tangkai daun, anther, dan sebagainya. Bahan-bahan kimia yang

sering digunakan untuk sterilisasi permukaan eksplan antara lain:

1. Natrium hipoklorit

Nama dagangnya adalah clorox dan bayclin. Konsentrasi untuk sterilisasi

tergantung dari kelunakan eksplan, dapat 5%-20% dan waktunya antara 5-

10 menit.

2. Mercuri klorit

Nama dagangnya adalah sublimat 0.05%. Penggunaan bahan kimia ini

harus hati-hati karena bersifat racun. Cara perlakuan sterilisasinya sama

dengan clorox, hanya waktunya lebih pendek karena sublimat bersifat

keras.

3. Alkohol 70%

Alkohol lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk alkohol 95%. Jamur

biasanya mati dengan alkohol 70%, sedangkan dengan alkohol 95% masih

tetap hidup.

Prinsip dasar sterilisasi eksplan adalah mensterilkan eksplan dari

berbagai mikroorganisme, tetapi eksplannya tidak ikut mati. Setiap tanaman

memerlukan perlakuan khusus sehingga sebelum mengulturkan tanaman baru

perlu melakukan percobaan sterilisasi. Sebagai patokan, konsentrasi bahan dan

waktu yang diperlukan untuk sterilisasi eksplan sebagai berikut :

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 10: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

1. Sterilisasi Ringan

Eksplan direndam dalam cairan pemutih pakaian 20% selama 10

menit, lalu bilas dengan air steril. Setelah itu, eksplan direndam dalam

cairan pemutih pakaian 15% selama 10 menit, lalu bilas dengan air steril.

Terakhir, eksplan direndam dalam cairan pemutih pakaian 10% selama 10

menit, lalu bilas dengan air steril tiga kali.

2. Sterilisasi Sedang

Eksplan direndam dalam HgCl2 0.1-0.5 mg/l selama 7 menit, lalu

bilas dengan air steril. Setelah itu, eksplan direndam dalam cairan pemutih

pakaian 15% selama 10 menit, lalu bilas dengan air steril. Terakhir,

eksplan direndam dalam cairan pemutih pakaian 10% selama 10 menit,

lalu bilas dengan air steril tiga kali.

3. Sterilisasi Keras

Eksplan direndam dalam HgCl2 0.1-0.5 mg/l selama 10 menit, lalu

bilas dengan air steril. Setelah itu, eksplan direndam dalam alkohol 90%

selama 15 menit, lalu bilas dengan air steril. Terakhir, eksplan direndam

dalam cairan pemutih pakaian 20% selama 10 menit, lalu bilas dengan air

steril tiga kali.

Menurut Gunawan (1987) ada sekitar sepuluh jenis bahan yang

digunakan dalam sterilisasi permukaan, yaitu kalsium hipoklorit, natrium

hipoklorit, hidrogen peroksida, gas klorin, perak nitrat, merkuri klorid,

betadin, fungisida, antibiotik, dan alkohol.

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 11: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

Masalah yang sering mengganggu dalam pekerjaan in vitro adalah

membuat dan menjaga kondisi aseptik, baik kondisi lingkungan maupun

kondisi eksplannya. Oleh karena itu bila memindah-tanamkan bagian

tanaman dari satu wadah ke wadah yang lain, jangan menyentuh

permukaan bagian dalam dari wadah dengan tangan atau bagian alat yang

tidak steril.

Setiap bahan tanaman mempunyai tingkat kontaminasi permukaan

yang berbeda, tergantung dari :

a. Jenis tanamannya.

b. Bagian tanaman yang dipergunakan.

c. Morfologi permukaan (misalnya berbulu atau tidak).

d. Lingkungan tumbuhnya (Green house atau lapang).

e. Musim waktu mengambil (musim hujan atau kemarau).

f. Umur tanaman (seedling atau tanaman dewasa).

g. Kondisi tanamannya (sehat atau sakit).

2.4 Kencur

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman obat yang

bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan. Sistematika

tanaman kencur adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae

Class : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016

Page 12: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringanrepository.ump.ac.id/2303/3/G. HANDAYANI - BAB II.pdf · perbanyakan tanaman tanpa penggunaan bahan sterilan ... Pada umumnya bagian vegetatif

Famili : Zingiberaceae

Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galanga L.

2.4.1 Manfaat

Bagian rimpangnya digunakan sebagai bahan baku industri obat

tradisional, bumbu dapur, bahan makanan, maupun minuman penyegar

lainnya (Rostiana dkk, 2003). Sulaiman dkk. (2007), menyatakan bahwa

rimpang kencur dapat digunakan sebagai untuk hipertensi, rematik, dan

asma. Ekstrak air daun kencur mempunyai aktivitas antiinflamasi yang

diuji pada radang akut yang diinduksi dengan karagenan. Kandungan

minyak atsiri dari rimpang kencur diantaranya terdiri atas miscellaneous

compounds (misalnya etil p-metoksisinamat 58,47%, isobutil β-2-

furilakrilat 30,90%, dan heksil format 4,78%); derivat monoterpen

teroksigenasi (misalnya borneol 0,03% dan kamfer hidrat 0,83%); serta

monoterpen hidrokarbon (misalnya kamfen 0,04% dan terpinolen 0,02%)

(Sukari dkk, 2008).

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan famili Zingiberaceae.

Secara empirik kencur digunakan untuk mengobati berbagai macam

penyakit seperti: batuk, radang lambung, perut nyeri, tetanus dan bengkak.

Akar rimpang kencur merupakan bagian yang digunakan sebagai obat

(Astuti dkk, 2006). Menurut laporan Jagadish dkk.(2010), ekstrak etil

asetat rimpang Kaempferia galanga L.menunjukkan toksisitas yang

selektif terhadap sel kanker salah satunya SW-620 (sel kanker kolorektal)

dengan IC50 8,29 μg/mL.

KETAHANAN KULTUR KENCUR ...,Giarsiana Handoyowati, Agroteknologi F. Pertanian, ump 2016