BAB II KRITIK HADIS DAN KRITERIA HADIS PALSU A. Kritik …digilib.uinsby.ac.id/6437/9/Bab 2.pdf ·...

of 60 /60
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id BAB II KRITIK HADIS DAN KRITERIA HADIS PALSU A. Kritik Hadis 1. Pengertian kritik hadis Secara etimologi kata kritik dalam bahasa Arab sering diungkapkan dengan kata نقد. Dalam kamus Lisa>n al-Arab disebutkan bahwa kata ن ق دmempunyai beberapa arti, dan dari arti-arti tersebut, setidaknya ada tiga pengertian yang relevan dengan pembahasan ini, yaitu 1 : a. الن ق د و الت ن ق اد: ت م ي ي ز الد ر اه م و إ خ ر اج ا لز ي ف م ن ه اmemilah dirham untuk mengetahui yang palsu dari padanya. b. الن ق د: membantah suatu pendapat, misalnya ن اق د ت ف ل ن ا: ن اق ش ت ه ف ي ال م ر(saya membantah si fulan dalam suatu hal). c. الن ق د: memukul dan memecahkan, misalnya ض ر ب ه ا الن ق د, ن ق د الج و ز ةmemukul atau memecahkan buah pala. Secara terminologi pengertian kata naqd di atas, baik diartikan dengan memisahkan yang palsu dari yang tidak palsu, maupun diartikan membantah suatu pendapat, ataupun diartikan memukul atau memecahkan, pada hakikatnya bertujuan untuk memisahkan antara yang asli dan yang palsu atau memisahkan yang baik dan yang buruk demi tercapainya kualitas yang 1 Jamal al-Di>n Muhammad Ibn Mikra>n Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Ara>b, Vol. 3, (Beirut: Da>r S}adi>r, 1414 H/1994 M), 426-426.; Muhammad Hasan ‘Abdillah, Muqaddimat fi> al-Adabi> (t.t:Da>r al- Bahth al-Ilmiyyat,1345 H/1975 M), 34.; Abu> al-Faid} al-Sayyid Muhammad Murtad}a> al-H}usaini> al-Wasit}i> al-Zabidi> al-H}anafi>, Sharh} al-Qa>mus al-Musamma> Ta>j al-Aru>s min Jawa>hir al-Qa>mus, Vol. 2 (Beirut: Da>r al-Fikr,t.th), 516.; Muhammad ibn Ya’kub al-Firuz al-A>ba>di>, Qa>mus al- Muhith, Vol.1 (Mesir: Mus}t}afa> al-Ba>bi> al-H}alabi> wa Awla>duh, 1371 H/1952 M),354. 34

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KRITIK HADIS DAN KRITERIA HADIS PALSU A. Kritik …digilib.uinsby.ac.id/6437/9/Bab 2.pdf ·...

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB II

KRITIK HADIS DAN KRITERIA HADIS PALSU

A. Kritik Hadis

1. Pengertian kritik hadis

Secara etimologi kata kritik dalam bahasa Arab sering diungkapkan dengan

kata . Dalam kamus Lisa>n al-Arab disebutkan bahwa kata mempunyai

beberapa arti, dan dari arti-arti tersebut, setidaknya ada tiga pengertian yang

relevan dengan pembahasan ini, yaitu1:

a. : memilah dirham untuk mengetahui

yang palsu dari padanya.

b. : membantah suatu pendapat, misalnya : (saya

membantah si fulan dalam suatu hal).

c. : memukul dan memecahkan, misalnya , memukul

atau memecahkan buah pala.

Secara terminologi pengertian kata naqd di atas, baik diartikan dengan

memisahkan yang palsu dari yang tidak palsu, maupun diartikan membantah

suatu pendapat, ataupun diartikan memukul atau memecahkan, pada

hakikatnya bertujuan untuk memisahkan antara yang asli dan yang palsu atau

memisahkan yang baik dan yang buruk demi tercapainya kualitas yang

1Jamal al-Di>n Muhammad Ibn Mikra>n Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-Ara>b, Vol. 3, (Beirut: Da>r S}adi>r,

1414 H/1994 M), 426-426.; Muhammad Hasan Abdillah, Muqaddimat fi> al-Adabi> (t.t:Da>r al-Bahth al-Ilmiyyat,1345 H/1975 M), 34.; Abu> al-Faid} al-Sayyid Muhammad Murtad}a> al-H}usaini>

al-Wasit}i> al-Zabidi> al-H}anafi>, Sharh} al-Qa>mus al-Musamma> Ta>j al-Aru>s min Jawa>hir al-Qa>mus, Vol. 2 (Beirut: Da>r al-Fikr,t.th), 516.; Muhammad ibn Yakub al-Firuz al-A>ba>di>, Qa>mus al- Muhith, Vol.1 (Mesir: Mus}t}afa> al-Ba>bi> al-H}alabi> wa Awla>duh, 1371 H/1952 M),354.

34

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

35

dibutuhkan. Misalnya ketika diartikan memisahkan dirham dan mengeluarkan

yang palsu, maka tujuannya adalah memisahkan yang baik dari yang buruk.

Demikian pula bila diartikan dengan membantah suatu pendapat, karena

dengan membantah pendapat tersebut maka akan terungkap pendapat yang

salah maupun pendapat yang benar dan dapat diterima, atau bahkan pendapat

yang lebih kuat. Demikian juga ketika kata naqd diartikan memukul atau

memecahkan, misalnya (memecahkan buah pala) tujuannya adalah

untuk mengetahui atau membedakan baik dan jeleknya isi buah pala tersebut.

Begitu pula jika kata (memecahkan hadis) yang diartikan kritik hadis

adalah untuk mengetahui atau membedakan hadis yang sahih dan yang tidak.

Naqd al-h}adi>th (kritik hadis) mirip dengan al-jarh} wa al-tadi>l. Hanya saja

naqd al-h}adi>th lebih luas dari pada al-jarh} wa al-tadi>l karena pembahasan

ilmu al-jarh} wa al-tadi>l berkisar pada keadilan dan kedabitan para periwayat

dan kecacatan mereka. Sedangkan lingkup pembahasan naqd al-h}adi>th berkisar

pada keadilan dan kedabitan para periwayat hadis dan ketersambungan sanad

serta ada tidaknya shudu >>d dan illah, bahkan dapat diperluas lagi pada

pembahasan ada atau tidak adanya kemuskilan, kontradiksi, al-na>sikh wa al-

mansu>kh, ataupun ke-gharib-an dalam matan hadis.

Dengan melihat pengertian kata naqd atau kritik di atas, ulama hadis

cenderung menggunakan istilah naqd, meskipun mereka tidak memaparkannya

secara luas dan rinci. Oleh karena itu kritik hadis dapat dipergunakan dengan

mengacu pada metodologi yang diajukan para ulama hadis dan pelacakan

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

36

sejarah. Dalam hal ini al-Jawabi memberikan suatu pengertian yang mengarah

pada pengertian ilmu naqd al-h}adi>th atau kritik hadis dengan mengatakan:2

3.

Ilmu kritik hadis adalah ilmu yang memberikan hukum tajrih dan tadi>l terhadap perawi dengan lafal tertentu yang memiliki tanda yang dapat

diketahui bagi ahlinya serta memberikan peninjauan terhadap matan hadis

yang sahih sanadnya untuk mensahihkan atau mendaifkan dan untuk

menghilangkan kesamar-samaran yang dapat menjadi masalah terhadap

kesahihan hadis atau untuk menolak hadis-hadis yang yang bertentangan

melalui suatu kaidah yang tepat.

Dengan demikian, kritik hadis tidak dilakukan untuk menguji kebenaran

hadis-hadis dalam kapasitasnya sebagai sumber ajaran Islam yang dibawa Nabi

Muhammad SAW, tetapi untuk mengetahui kebenaran penyampaian informasi

hadis. Oleh karena itu dibutuhkan kritik untuk mengetahui akurasi dan

validitasnya, berasal dari Nabi SAW atau tidak.

2. Tujuan dan objek kritik hadis

Seperti disiplin ilmu yang lain, ilmu hadis juga memiliki tujuan beserta

obyek penelitian. Tujuan kritik hadis adalah untuk menguji dan menganalisis

secara kritis apakah secara historis hadis dapat dibuktikan kebenarannya

berasal dari Nabi atau tidak.

2 Ibid.,

3 al-Jawabi, Juhu>d al-Muh}addithi>n ( Tunis: Muassasat Abd al-Kari>m,1986 M.), 94.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

37

Pada taraf operasional kritik hadis, sanad hadis menjadi obyek utama

penelitian, walaupun tujuan akhirnya untuk menguji kebenaran (verifikasi)

matan hadis. Penelitian sanad itu sebagaimana dikatakan Ibn Khaldun (w. 808

H/1406 M),4 telah dilakukan ulama hadis. Jika para pembawa berita adalah

orang-orang yang dapat dipercaya, beritanya dinyatakan valid. Sebaliknya jika

para pembawa berita bukan orang-orang terpercaya, maka berita itu tidak dapat

dijadikan hujjah agama. Oleh karena itu tidak heran bila ulama hadis ketika

melakukan kritik hadis lebih banyak menfokuskan pada kritik sanad dari pada

kritik matan.5

Muhammad al-Ghazali (w. 1996 H.) seorang ulama Mesir kontemporer

juga berpendapat bahwa kegiatan kritik hadis oleh para ahli hadis tercurah pada

aspek sanad, sedang upaya meneliti matan hadis justru dilakukan oleh para

fuqaha> mujtahidu>n.6 Kegiatan kritik matan hadis oleh fuqaha> adalah untuk

kepentingan pencarian landasan normatif penetapan hukum Islam.

Berbeda dengan Muhammad al-Ghazali (w. 1996 M.), Mustafa al-Shibai

(w. 1384 H.)7 Muhammad Abu Shuhbah (w. 1403 H.)

8, dan Nur al-Din Itr

9

berpendapat bahwa ulama hadis tidak menafikan penelitian matan hadis

sebagaimana tercantum dalam syarat-syarat kesahihan hadis, di antaranya

matan hadis harus terhindar dari kejanggalan dan kecacatan. Secara praktis

4 Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun, Muqaddimat ibn Khaldun (Beirut : Da>r al-Fikr,

t.th), 37 5 Lihat Nur al-Din Itr, al-Madkha>l ala > Ulu>m al-H}adi>th (al-Madinat al-Munawarah: al-Maktabat

al-Ilmiyyat, 1972), 14.; Ahmad Amin, Fajr al-Islam (Kairo: Maktabah al-Nahdat al-Mishriyyat,

1975 M), 217. 6 Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyyat (Kairo:Da>r al-Shuruq, 1989), 15.

7 Mustafa al-Shibai, al-Sunnat wa Maka>natuha> (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat, t.th), 296.

8 Muhammad Muhammad Abu Shuhbat, Difa al-Sunnat Wa Radd Shubah al-Mushtashriqi>n Wa

al-Kutta>b al-Muas}s}iri>n (Kairo: Maktabah al-Azhar, t.th), 46-51. 9 Nur al-Din Itr, al-Madkha>l,... 15-17

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

38

kritik matan tersebut telah ada sejak masa Nabi dan terkenal luas sejak masa

sahabat dan generasi sesudahnya10

. Pengecekan hadis yang dilakukan sahabat

bukan karena mereka curiga terhadap kredibilitas pembawa berita, melainkan

semata-mata untuk meyakinkan bahwa berita atau hadis Nabi benar-benar ada.

Jika diamati kajian dalam beberapa literatur ilmu hadis, pengujian validitas

dan akurasi hadis memang lebih dititik-beratkan pada sanad. Hal ini terbukti

dari kriteria hadis sahih yang lima11

, hanya dua di antaranya yang berhubungan

dengan sanad dan matan, tiga kriteria lain berkenaan dengan sanad saja. Ini

menunjukkan bahwa kritik sanad mendapat porsi yang lebih banyak dari pada

kritik matan.

3. Sejarah Perkembangan Kritik Hadis

a. Kritik hadis pada masa Rasulullah SAW

Kritik hadis yang dilakukan sahabat pada masa Rasulullah SAW dapat

dilihat ketika Umar pernah menanyakan langsung kepada Rasulullah SAW

tentang berita yang didengar dari tetangganya yang menyatakan bahwa

Rasulullah SAW mentalak istri-istrinya. Ketika mendengar berita tersebut

Umar menemui Rasulullah SAW dan menanyakan kepastian kejadiannya,

dan Umar berkata:

10

Salahuddin Muhammad al-Adlabi>, Manhaj an-Naqd ind Ulama al-H}adi>th al-Nabawi> (al-Madinat al-Munawarah: al-Maktabat al-Ilmiyyat, 1972), 4. 11

Lihat: Abu Amr Uthman Ibn Abd al-Rahman Ibn Salah, Ulu>m al-H}adi>th (Madinat: Maktabah al-Islamiyyat, 1972), 10.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

39

12

Suatu kali kami membicarakan mengenai Ghassan (penguasa Syam)

bahwasannya, ia telah bersiap-siap untuk menyerang kami. Lalu

seorang temanku mendatangi majlis ilmu (untuk mendapatkan

pengetahuan dari Rasulullah) dan pulang pada waktu Isya, ia mengetuk

pintu rumahku dengan keras. Ia berkata: apakah ia sedang tertidur? Aku

terkaget dan keluar menghampirinya. Ia berkata: telah terjadi suatu

peristiwa yang besar. Saya berkata: Apakah itu, apakah Ghasan telah

datang? Ia menjawab: tidak, bahkan lebih besar dan lebih penting dari

itu, Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya.

Seusai salat subuh bersama Rasulullah SAW di masjid Nabawi, Umar

minta izin untuk masuk ke rumah beliau dan menanyakan kebenaran berita

tersebut kepada beliau seraya berkata:

13. : Apakah benar Rasul menceraikan istri-istri Rasul? (kata Umar kepada

Rasulullah SAW). Lalu Rasulullah memandang padaku seraya berkata,

Tidak.

Pertanyaan ini muncul karena Umar khawatir bahwa kejadian ini terjadi

pada Rasulullah SAW sehingga Umar mempertanyakan kebenarannya.

Kenyataannya berita ini tidak benar, dibuktikan dengan ungkapan

Rasulullah SAW yang mengatakan: tidak.14

Dalam riwayat Anas ibn Malik disebutkan

12

al-Bukhari, S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Vol. 2 (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyat,t.th) , 105, Kitab al-Maz}alim wa Ghasb, Bab ghurfah wa al-ulliyyat al-mushrifat, no indeks 2468. Hadis Sahih dan para perawinya adalah thiqah. 13

Ibid.,106 14

al-Jawabi, Juhu >d al Muh}addithi>n fi Naqd matn al-H}adi>th al-Nabawi> al-Shari>f..., 97

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

40

15

Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW meng-ila (bersumpah

untuk tidak menggauli) istrinya selama sebulan. Ketika itu Rasulullah

SAW sedang luka kakinya dan duduk di dalam kamarnya lalu Umar

mendatanginya seraya bertanya: Apakah Rasul menceraikan istri-istri

Rasul? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, melainkan saya hanya

meninggalkan mereka selama sebulan, sehingga Rasulullah SAW tidak

menggaulinya selama 29 hari kemudian menggaulinya setelah itu.

Riwayat ini memberikan penjelasan terhadap riwayat pertama bahwa

Rasulullah SAW hanya bersumpah untuk tidak menggauli sebagian istrinya

selama sebulan lamanya dan bukan menceraikannya sebagaimana berita

yang disampaikan oleh Umar.

Berdasarkan contoh ini, dapat dipahami bahwa pada masa Rasulullah

SAW sudah terdapat riwayat yang membutuhkan ketelitian. Dengan kata

lain perlu diadakan kritik terhadap suatu riwayat dengan

mengkonfirmasikan kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian, maka

sunnah Rasulullah SAW senantiasa terjaga keotentikannya dan tidak

dicampuri oleh perkataan dan perbuatan orang lain.

Contoh di atas menggambarkan kehati-hatian sahabat menerima riwayat

hadis, karena Rasulullah SAW dengan tegas mengancamnya dengan

neraka:

16 15

al-Bukhari, Sahih al-Bukha>ri>..., Vol. 2, 106 Kitab al-Maz}alim wa Ghasb, Bab Ghurfah wa al-Ulliyyat al-Mushrifat, no indeks 2469.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

41

Orang yang sengaja membuat kedustaan padaku, maka siap-siaplah

masuk neraka.

Dalam kitab al-Mawd}u>a>t, Ibn al-Jawzi menyebutkan asba>b al-wuru>d

hadis ini melalui riwayat Abdullah ibn Buraidah dari bapaknya

mengatakan:17

sekitar beberapa mil dari Madinah terdapat perkampungan

Bani Laith. Pada masa ja>hiliyat ada seorang laki-laki telah meminang

seorang perempuan Bani Laith, akan tetapi mereka (Bani Laith) tidak

menikahkan dengannya, sehingga laki-laki itu mendatangi Bani Laith lagi

dengan membawa perhiasan seraya berkata: Rasulullah SAW memberikan

perhiasan ini padaku, dan memerintahkan padaku untuk memberi keputusan

terhadap harta dan darahmu. Kemudian lelaki tersebut mendatangi wanita

yang dicintainya, maka Bani Laith mengutus utusan kepada Rasulullah

SAW, dan bertanya tentang hal tersebut, lalu beliau berkata, telah berdusta

musuh Allah, kemudian beliau mengutus seseorang kepadanya dan berkata,

jika kamu mendapatkannya masih hidup, maka penggallah lehernya, dan

jika kamu mendapatinya sudah mati, maka bakarlah mayatnya. Ketika

utusan tersebut datang, dia mendapati lelaki tersebut meninggal karena

digigit ular, lalu Rasulullah SAW bersabda:

16

al-Bukha>ri>, S}ahih al-Bukha>ri>..., Vol 1, 42, Kitab al-Ilm, Bab Ithm Man Kadhdhaba ala al-Nabi SAW no indeks 108, Riwayat Anas. ; Muslim, S}ah}ih Muslim, Vol 1, 6; al-Hakim, al-Mustadrak..., Vol 1, 195; Abu Dawud, Sunan Abu> Da>wu>d..., Vol 2,182, no indeks 1580, Kitab al-Ilm, Bab fi al-Tashdi>d bi al-Kidhb ala Rasulillah SAW, no indeks 3651; al-Turmidhi, Sunan al-Tirmidhi>., Vol 4, 142, no indeks .272, Kitab Fitan, Bab Ma Ja-a fi al-Nahy an sabb al-riyah, no indeks. 2264,2257. hadisnya adalah Hasan sahih, riwayat Masud. ; Ibn Majah, Sunan ibn

Majah..., Vol 1, 26; al-Dharimi, Sunan al-Dha>rimi>..., 76, al-Shafii, al-Risa>lat..., 396; Abu Hanifah, Sharh} Musnad Abi Hani>fah..., 293; Abu Dawud al-T}ayalisi, Musnad Abi> Da>wu>d al-T}aya>lisi>, (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,t.th), 80. 17

Abu Farj Abd Al-Rahman ibn Ali ibn al-Jawzi, al-Mawd}u>a>t, ditahqiq oleh Abd Al-Rahman Muhammad Uthman, Vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyat), 29.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

42

18

Orang yang sengaja membuat kedustan padaku, maka siap-siaplah

masuk neraka.

Setelah riwayat di atas, Ibn al-Jawzi juga menyebutkan riwayat dari

Abdullah ibn al-Zubair yang menyebutkan bahwa ketika utusan tersebut

berangkat, Rasulullah SAW memanggil kembali dan berkata: Saya telah

memerintahkan kepadamu untuk memenggal lehernya dan membakarnya.

Jika memungkinkan kamu memenggal lehernya, maka penggallah lehernya,

dan jangan kamu membakarnya, karena tiada yang menyiksa dengan api

kecuali Allah. Ketika hujan turun laki-laki tersebut keluar untuk ber-wud}u>

dan di sanalah digigit ular. Ketika kejadian ini disampaikan pada Rasulullah

SAW, beliau berkata: ia di neraka.19

Ada yang berpendapat bahwa penjelasan hadis di atas menunjukkan

adanya seseorang yang sengaja membuat kedustaan terhadap Rasulullah

SAW . Hadis yang menegaskan ancaman Rasulullah SAW dengan neraka

kepada orang yang sengaja berbuat kedustaan terhadap beliau adalah

sangat banyak, antara lain:

20

18

Ibid. 19

Ibid. 20

al-Bukhari, S}ah}i>h} Bukha>ri>, Vol, 1, 42, Kitab al-Ilm, Bab Man Kadhdhaba ala al-Nabi SAW, no indeks.106.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

43

Diriwayatkan dari Ali bahwa Rasulullah berkata: Janganlah kalian

berdusta atasku. Orang yang berdusta atasku maka ia akan masuk

neraka.

Demikian pula hadis yang berbunyi;

21.

Diriwayatkan dari Amir Ibn Abdullah Ibn Zubair dari bapaknya berkata

pada al-Zubair: Sesungguhnya aku tidak pernah mendengar kamu

berbicara tentang hadis dari Rasulullah SAW seperti yang dikatakan

orang. al-Zubair berkata bahwa aku tidak pernah berpisah dengan

Rasulullah SAW dan aku pernah mendengar (Nabi saw) bersabda:

Orang yang berdusta atasku maka siap-siaplah masuk neraka.

22

Diriwayatkan dari Abd al-Aziz bahwa Anas berkata: sesungguhnya aku

telah dicegah untuk menyampaikan banyak hadis kepada kalian.

Sesungguhnya Nabi bersabda: Orang yang sengaja berbuat kedustaan

atasku maka siap-siaplah masuk neraka.

Demikian pula hadis yang diriwayatkan dari Salamah yang berbunyi;

23

Diriwayatkan dari Salamah bahwa ia mendengar Rasulullah SAW

bersabda: Orang yang menyandarkan suatu perkataan padaku sedang

aku tidak pernah mengatakannya, maka siap-siaplah masuk neraka.

Selain beberapa hadis yang disebutkan di atas terdapat ayat yang

mengingatkan kita agar senantiasa berhati-hati dan teliti terhadap berita

21

Ibid., 46, no indeks 106 22

Ibid., 46, no indeks 108 23

Ibid., 64, no indeks 109

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

44

yang disampaikan oleh seseorang, terutama yang berhubungan dengan

masalah agama, di antaranya surat al-Hujurat ayat 6 Allah berfirman:

.

.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik

membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak

menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui

keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Dan Ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah SAW.

kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah

kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada

keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta

menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, Sebagai

karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha

Bijaksana.24

al-Wahidi (w. 456 H.) menyebutkan: ayat ini turun berkenaan dengan al-

Walid Ibn Uqbah.25

Ia menyebutkan riwayat dari al-Harith Ibn Dhirar: Dalam

suatu riwayat dikemukakan bahwa al-Harith menghadap Rasulullah SAW.Beliau

mengajaknya untuk masuk Islam. Ia pun berikrar menyatakan diri masuk Islam.

Beliau juga mengajaknya untuk membayar zakat, ia pun menyaggupi kewajiban

itu dan berkata: Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak

mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang-orang yang mengikuti

24

Depag, Al Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah,2002), 846. 25

al-WAlid ibn Uqbah ibn Abu Muit Aban ibn Abi Amr Dakhwan ibn Umayah ibn Abd Al-

Sham ibn Abi Manaf al-Umawi, dia adalah saudara seibu dengan Uthman Ibn Affan,diangkat

sebagai gubenur Kufah oleh Uthman. Beliau bersama dengan saudaranya Khalid ibn Uqbah

masuk Islam pada hari penaklukan kota Mekah. Wafat pada masa kekhalifahan Muawiyah . lihat

Ibn Hajar al-Asqalani, al-Ishabat fi Tamyi>z al-S}aha>bat, jild.2 (Mesir: Muassah Mustafa Muhammad), 638, dan Ibn Saad, Tabaqat al-Kubra>, Jild. 6 (Beirut: Da>r Shadr, 1380 H), 24.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

45

ajakanku, akan aku kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya,

kirimkanlah utusan untuk mengambil zakat yang telah aku kumpulkan itu.

Ketika al-Harith telah banyak mengumpulkan zakat, dan waktu yang sudah

ditetapkan pun telah tiba, tidak seorangpun utusan yang datang menemuinya. al-

Harith mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasululllah marah

kepadanya. Ia pun memanggil para hartawan kaumnya dan berkata:

Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang

untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan beliau tidak pernah menyalahi

janji. Akan tetapi aku tidak tahu kenapa beliau menangguhkan utusannya itu.

Mungkinkan beliau marah? Mari kita berangkat menghadap Rasulullah Saw.

Rasulullah pada waktu itu telah menetapkan mengutus al-Walid ibn Uqbah

untuk mengambil dan menerima zakat yang berada pada al-Harith. Ketika al-

Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum

sampai tempat yang ditujuan. Ia melaporkan laporan palsu kepada Rasulullah

SAW bahwa al-Harith tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkan

mengancam akan membunuhnya.

Kemudian Rasulullah SAW mengirimkan utusan yang lain kepada al-Harith.

Di tengah perjalanan utusan tersebut berpapasan dengan al-Harith dan sahabat-

sahabatnya yang sedang menuju kepada Rasulullah SAW. Setelah berhadap

hadapan, al-Harith bertanya pada utusan itu : Kepada siapa engkau diutus?

Utusan itu menjawab: Kami diutus kepadamu. Dia bertanya : Mengapa?

Mereka menjawab: Sesungguhnya Rasulullah SAW. telah mengutus al-Walid

ibn Uqbah. Namun ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat,

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

46

bahkan bermaksud membunuhnya. al- Harith menjawab: Demi Allah yang telah

mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya. Tidak ada

yang datang kepadaku. Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah SAW,

bertanyalah beliau: Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh

utusanku? al-Harith menjawab: Demi Allah yang telah mengutus engkau

dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian. Oleh karena itu turunlah

ayat keenam surah al-Hujurt sebagai peringatan kepada kaum mukmin agar tidak

menerima keterangan dari sebelah pihak saja.26

Pada riwayat lain27

disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengutus al-Walid ibn

Uqbah ibn Abi Muayt } } (wafat pada masa pemerintahan Muawiyah) kepada Bani

Must}aliq, akan tetapi dia kembali kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan

kepada beliau bahwa mereka (Bani Musthalaq) telah murtad dan mereka enggan

mengeluarkan zakat. al-Walid menyampaikan demikian karena mengira, ketika

mereka keluar menemui al-Walid ibn Uqbah dengan membawa pedang ingin

membunuhnya sehingga dia kembali ke Madinah. Kemudian Rasulullah SAW

mengutus Khalid ibn al-Walid kepada mereka dan dia memberitahukan kepada

Rasulullah SAW bahwa mereka masih tetap dalam Islam, maka turunlah ayat;

...

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa

suatu berita, maka periksalah dengan teliti...28

.

26

Abu al-Hasan Ali ibn Ahmad al-Wahidi, Asba>b al-Nuzu>l, (Kairo: Da>r al-H}adi>th, t.th), 332-333. lihat pula Qamaruddin Shaleh dkk, Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-

Ayat al-Quran),(Bandung : CV. Diponegoro, Edisi II,cet X,2009), Ibid.,512-514 27

al-Mizzi>, Tahdhi>b al-Kama>l, Vol. 31,53-56. pdf 28

Ibid.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

47

b. Kritik Hadis pada Masa Sahabat

Jika dicermati sikap dan aktifitas para sahabat terhadap hadis Nabi SAW

dan periwayatnya, maka dapat disimpulkan beberapa ketentuan umum yang

dilatarbelakangi oleh para sahabat ketika itu yaitu:

1) Menyedikitkan periwayatan hadis (taqlil al-riwayat), dan periwayatan

hanya boleh pada hal-hal yang diperlukan saja. Sikap ini diperlukan

terutama dalam rangka memelihara kemurnian hadis dari kekeliruan dan

kesalahan. Periwayatan yang banyak dan tanpa batas dapat menyebabkan

terjadinya kekeliruan akibat lupa atau lalai dan hal itu dapat

menjerumuskan pelakunya dalam perbuatan dusta kepada Rasulnya. Hal

ini sangat dikecam oleh beliau sebagaimana diungkapkan dalam

sabdanya:

29 Orang yang sengaja membuat kedustaan atasku maka siap-siaplah

masuk neraka.

2) Berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan riwayat hadis,30

sebagaimana yang pernah dilakukan Abu Bakar ketika didatangi seorang

nenek yang meminta bagian dari warisan. Abu Bakar tidak memberikan

bagian nenek tersebut begitu saja, karena tidak menemukan hak warisan

bagi seorang nenek dalam al-Quran dan sunnah. Kemudian beliau

tanyakan kepada sahabat lain, maka berdirilah al-Mughirah seraya

berkata: saya telah mendapati Rasulullah SAW memberinya seperenam.

29

al-Bukha >ri>, S}ah}i>h} al-Bukha>ri, Vol. 1 (Beirut: Da>r al-Fikr,t.th.),38. no indeks 107, Kitab al-ilm, Bab ithm Man Kadhdhaba ala> al-Nabi SAW; Abu> Da>wu>d, Sunan Abu> Da>wu>d, Vol.2 (Beirut: Da>r al-Fikr,t.th.), 182. no indeks. 3651. 30

Nur al-Din Itr, Manhaj al-Naqd Fi> Ulu>m al-H}adi>th..., 52

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

48

Kemudian Abu Bakar bertanya lagi apakah ada orang lain yang

meriwayatkan? Muhammad Ibn Maslamah menyampaikan hal serupa

untuk memperkuat perkataan al-Mughirah.31

Demikian pula Umar Ibn

Khattab, ketika mendengar Abu Musa menyampaikan hadis Rasulullah

SAW yang redaksinya: Jika di antara kalian meminta izin untuk

memasuki suatu rumah sebanyak tiga kali lalu tidak diizinkan hendaklah

ia kembali. Mendengar riwayat ini, Umar ibn Khattab meminta

kesaksian kepada para sahabat lain yang dapat mendukung riwayat Abu

Musa. Kemudian Ubay ibn Kaab berkata bahwa Rasulullah SAW

memang pernah mengatakan demikian.32

3) Kritik terhadap matan hadis (naqd al-matn). Kritik terhadap matan hadis

ini dilakukan oleh para sahabat dengan cara membandingkan antara

matan hadis dan nas} al-Quran. Jika terdapat pertentangan antara

keduanya, maka mereka menolak riwayat hadis tersebut.33

Salah satu

contoh adalah sikap Umar ibn al-Khatab yang diriwayatkan oleh

Muslim.34

Dalam riwayat tersebut dinyatakan bahwa Umar ibn Khattab

pernah mendengar hadis yang berasal dari Fatimah bint Qaish35

, yang

menceritakan bahwa dia pernah ditalak tiga oleh suaminya, lalu

Rasulullah SAW tidak menganjurkan memberinya tempat tinggal dan

31

al-Tirmidi, Sunan al-Tirmidhi>, Vol. 4. (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th) 419-450, Kitab al-fara>id, Bab Ma ja>a fi marath al-jadda. 32

al-Bukhari, S}ah}i>h} al-Bukha>ri>..., Kitab al-istidhan Bab Taslim wa al-istidan thala >than. 33

Nur Al-Din Itr, Manhaj al-Naqd fi Ulu>m al-H}adi>th..., 53 34

Kisah Umar Dan Fatimah bint Qaisy dapat dilihat dalam S}ah}i>h} Muslim bi Sharh} al-Nawawi>, Kitab T}ala>q Bab Mut}alliqi>n Thala>than la Nafaqa lahu, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1995), Jild 5, 85. 35

Beliau bernama Fatimah ibnt Qaisy ibn Khalid al-Quraysyah al-Fahriyah. Ia termasuk golongan

muhajirat dan terkenal dengan kecantikannya. Pernah menikah dengan Abu Bakar Ibn Abdullah

al-Makhzumi kemudian bercerai, dan selanjutnya dinikahi oleh Usamah ibn Zaid, selama hidupnya

ia meriwayatkan 34 hadis. Lihat Ibn Hajar, al-Is}abat fi Tamyi>z al-S}ahabat, jild 4. 374.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

49

nafkah. Mendegar hal itu, Umar berkata: kita tidak boleh meninggalkan

kitab Allah (al-Quran) dan sunnah Nabi SAW karena hanya perkataan

perempuan ini. Kita tidak tahu mungkin saja wanita ini lupa bahwa

baginya (perempuan yang ditalak tiga) mendapat tempat tinggal dan

nafkah. Umar dalam hal ini tetap memberikan hak tempat tinggal dan

nafkah bagi perempuan yang ditalak. Keputusan ini didasarkan pada

firman Allah dalam surat al-Talaq ayat 1:

...

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah

mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji

yang terang...36

Sebelum terjadinya fitnah dalam kehidupan umat Islam, para sahabat

belum melakukan kritik sanad hadis karena sejak masa Rasulullah SAW

sampai terjadinya fitnah terhadap Uthman belum terjadi saling membohongi

antara mereka. Setelah terjadi fitnah pada masa khalifah Ali, umat Islam

terpecah ke dalam beberapa aliran politik, dan mulailah mengantisipasi

serta menjaga terjadi kedustaan terhadap Rasulullah SAW, maka para

Sahabat dan tabiin mulai meminta keterangan tentang orang-orang yang

menyampaikan hadis.37

Imam Muhammad ibn Sirin (w. 110 H.) 38

menyebutkan;

Sebelum terjadi fitnah para sahabat tidak menanyakan sanad (perawi).

Namun setelah terjadi fitnah mereka menanyakan nama perawi padaku,

kemudian menyelidikinya dan mengambil riwayat ahl al-sunnah (orang

36

Depag, al Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah,2002), 945. 37

Muhammad Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabl al-Tadwi>n..., 220 38

Muhammad ibn Sirin Adalah Seorang Tabiin, Lahir Pada Tahun 33 H, Dan Wafat Pada Tahun

110 H. Lihat al-Dhahabi, Tadhkirah al-H}uffaz}, (Beirut: Da>r Ihya al-Turats al-Arabi,), jild 1, 77.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

50

yang berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW dan menolak

riwayat dari ahli bidah).39

Pernyataan tersebut di atas tidak berarti bahwa para sahabat dan tabiin

tidak menyebutkan sanad ketika ia meriwayatkan hadis. Di antara mereka

ada yang terkadang menyebutkan sanad dan ada yang tidak

menyebutkannya, karena mereka masih teguh memegang amanah dan

terdapat saling percaya.

Para sahabat, yang menyebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam,

senantiasa mengajarkan hadis yang pernah didengar dari Rasulullah kepada

tabiin, dan para tabiin yang menuntut ilmu dapat mendengar hadis

langsung dari Sahabat yang berdomisili di wilayahnya. Bahkan ketika

tabiin mendengar hadis dari tabiin lainnya dan bukan dari Sahabat, mereka

dapat menanyakan langsung kepada Sahabat untuk memastikan

kebenarannya.

Banyak di antara tabiin yang mengadakan perjalanan untuk menemui

Sahabat yang ada di tempat lain, demi mendengar dan memastikan

kebenaran suatu hadis.40

Hal ini sebagaimana diungkapkan Abu al-Aliyah:

Kami mendengar riwayat dari salah seorang sahabat Rasulullah ketika di

Bashrah melalui seorang tabiin, akan tetapi kami tidak rida menerimanya

sebelum kami berangkat ke Madinah dan mendengar langsung dari Sahabat

tersebut. Bahkan banyak Sahabat yang berangkat untuk menemui Sahabat

yang lainnya untuk mendengar riwayat dari padanya, seperti Abu Ayub

39

Imam al-Nawawi, Muqaddimah S}ah}ih} Muslim bi Sharh} al-Nawa>wi>..., Jild 1, 19. 40

Muhammad Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabl al-Tadwi>n ....., 226-227.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

51

berangkat ke Mesir untuk menemui Uqbah ibn Amir.41

Demikian pula

Jabir ibn Abdullah mengadakan perjalanan menemui Abdullah ibn Unais

untuk menanyakan suatu hadis.42

Dalam mengkritik hadis ada beberapa sahabat yang sangat terkemuka,

seperti Umar ibn al-Khattab (w. 23 H.) dan Ali ibn Abi Talib (w. 40 H).43

Selain dua sahabat tersebut, dalam kitab al-Ka>mil fi> al-D}uafa>, Ibn Adi> (w.

365 H.) menyebut sahabat lain yang banyak memberikan kritikan terhadap

beberapa hadis. Mereka adalah, Ubadah ibn Shamit (w. 34 H.), Abdullah

ibn Salam (w. 43H), Aisyah (w. 58 H), Abdullah ibn Abbas (w. 68 H.) dan

Anas ibn Malik (w. 93 H). Para sahabat tersebut banyak mengkritik matan

hadis karena bertentangan dengan konteks al-Quran sebagai sumber hukum

pertama yang telah diyakini ke-mutawatir-annya, sehingga tidak mungkin

terjadi kesalahan dan kekeliruan di dalammya.

Meskipun para sahabat tersebut di atas berbeda tingkat kecerdasannya,

mereka senantiasa berkomitmen untuk menjaga keotentikan hadis. Umar ibn

Khattab dan Ali misalnya, meski tanggung jawab yang diemban keduanya

sebagai pemimpin perang pada masa hidup Rasulullah SAW dan menjabat

sebagaimana Khalifah pasca wafatnya Rasulullah, keduanya tetap

meriwayatkan beberapa hadis. Umar meriwayatkan 537 hadis, dan Ali

meriwayatkan 536 hadis.44

Secara kuantitas, jumlah ini tergolong sedikit,

41

Abu Umar Yusuf ibn Abd al-Barr, Jami Baya>n al-Ilm wa Fad}a>il, Jild 1 (Mesir: Ida>rah al-Matbaah Amuniriyah, t.th), 93. 42

Ibid., 93, Ibn Hajar, Tahdhi>b al Tahdhi>b..., Vol. 5, 149-150. 43

Muhammad Ibn Hibban al-Basti, Kitab al-Majru>hi>n min al-Muh}addithi>n wa al-Duafa wa al-Matru>ki>n, jild 1 (Halab: Da>r al-Wati, t.th). 38 44

Ibn Saad, Tabaqat al-Kubra>, Jild 2 (Beirut: Da>r al-Sadr, 1380 H), , 352-353.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

52

akan tetapi kalau kita melihat sosok sahabat tersebut banyak menangani

urusan militer dan politik, maka jumlah hadis yang diriwayatkan termasuk

banyak.

Dalam usahanya menjaga keotentikan hadis, Umar ibn Khattab pernah

mengkritik Fatimah bint Qays yang telah meriwayatkan hadis yang

menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak memberikan tempat tinggal dan

nafkah kepada istri yang ditalak tiga. Hadis tersebut adalah;

45

Diriwayatkan dari Abi Ishaq berkata; aku duduk bersama al-Sawad ibn

Yazid di majid lalu datang al-Syabi dan menceritakan tentang hadis

Fatimah ibnt Qays bahwa Rasulullah SAW tidak memberikan tempat

tinggal dan nafkah bagi istri-istrinya yang ditalak tiga.

Menanggapi hal ini, Umar berkata;

-- )

46

Kita tidak boleh meninggalkan kitab Allah dan sunnah Nabi SAW

hanya karena perkataan perempuan ini. Kita tidak tahu, mungkin saja

wanita ini mengingat atau justru lupa bahwa baginya (yang ditalak tiga)

mendapatkan tempat tinggal dan nafkah. Allah berfirman: Janganlah

kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (izin)

ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.

45

Muslim, S}ah}ih} Muslim,... Vol. 4, 198, Kitab Talaq, Bab Mut}allaqah thalatha la nafaqa laha, no indeks, 2717. 46

Ibid,. Hadis sahih dan para perawinya adalah thiqah.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

53

Umar dalam hal ini tetap memberikan hak tempat tinggal dan nafkah.

Keputusan Umar ini didasarkan pada firman Allah dalam surah al-Thalaq

ayat 1;

...

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah

mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji

yang terang.47

Sebagai sikap kehati-hatian dalam menjaga hadis, Ali pernah berkata,

sebagaiamana yang ditulis dalam kitab Nahj al-Bala>ghah dan dikutip oleh

al-Jawabi48

: Sesungguhnya hadis yang pernah datang kepadamu melalui

beberapa orang, diantaranya:

a. Melalui orang munafik yang menampakkan keimanan, berpura-pura

masuk Islam, ia tidak merasa berdosa sengaja berdusta kepada Nabi

SAW. Jika ada seseorang yang mengetahui bahwa ia adalah orang

munafik dan pendusta, maka hendaknya tidak mempercayainya dan

menolaknya.

b. Melalui orang yang mendengar dari Rasulullah SAW kemudian ia

keliru karena tidak menghafalnya secara tekstual, dan dia berdusta

secara tidak sengaja, dia meriwayatkan dan mengamalkan apa yang

telah diriwayatkannya seraya berkata: Saya mendengarnya dari

Rasulullah SAW. Seandainya ada orang Muslim mengetahui bahwa ia

keliru dalam meriwayatkan hadis, hendaklah tidak menerimanya.

47

Depag, al Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah,2002), 945. 48

al-Jawa>bi>, Juhu>d al-Muh}addithi>n fi naqd al-H}adi>th al-Nabawi> al-Shari>f (Amman: Muassasah al-Karim Ibn Abdullah), 137-138.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

54

Ali pernah melakukan kritik terhadap hadis yang bertentangan

dengan al-Quran secara tekstual, Beliau telah mengkritik Maqal ibn

Sinan al-Ashjai tentang hadis yang menyebutkan adanya mahar bagi

istri yang meninggal suaminya sebelum dicampuri. Ali berpendapat

bahwa tidak ada mahar bagi seorang istri yang ditinggal mati oleh

suaminya sebelum ia dicampuri. Oleh karena itu tatkala disampaikan

pada Ali tentang hadis Maqil ibn Sinan al-Ashjai yang mengatakan:

49

Nabi SAW menetapkan mahar, warisan dan iddah terhadap Birwa

bint Washiq.

Ali mengatakan, kita tidak mungkin menerima perkataan seorang Arab

Badui yang kencing di atas kedua tumitnya, terhadap sesuatu yang

menyalahi al-Quran dan hadis.50

Ali mengkritik hadis ini karena

bertentangan dengan al-Quran surat al-Nisa ayat 24:

... Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka,

berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu

kewajiban...51

Demikian pula Aisyah Umm al-Muminin (w. 58 H) yang meriwayatkan

2210 hadis, dan banyak mengetahui tentang al-Quran, sering menjadi

49

al-Nasai, Sunan al-Nasa>i>, Vol. 3 (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th), 317, Kitab al-nikah, Bab ibahah al-tazawwaj bi ghairi s}adaqah. no indeks 3302, Hadis ini Sahih dan para perawinya adalah thiqah. 50

Ahmad Ibn Ali al-Shawkani, Nayl al-Awt}a>r Sharh}} al-Muntaq al-Akhbar, (Mesir: Maktabah al-Qahirah, 1398 H/1978 M), 359. 51

Depag, al Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah, 2002), 121.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

55

tempat bertanya tentang masalah yang muncul ketika itu. Bahkan beliau

adalah kritikus hadis yang dapat memberitahukan kesalahan yang terdapat

dalam matan hadis.52

. Diantara kritikannya adalah terhadap Abu Hurayrah

yang menyebutkan hadis bahwa penyebab kesialan ada tiga macam

sebagaimana disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya:

53.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa suatu ketika ada dua orang

menjumpai Aisyah lalu berkata kepadanya bahwa Abu Huraarah

menceritakan bahwa Nabi SAW pernah berkata, sesungguhnya

penyebab kesialan adalah perempuan, kuda dan tempat tinggal.

Mendengar ucapan ini, Aisyah berkata:

54 Demi yang menurunkan al-Quran kepada Abu Qasim, Nabi SAW

tidak pernah mengatakan demikian melainkan mengatakan

sesungguhnya orang jahiliah mengatakan bahwa penyebab kesialan

adalah perempuan, kuda dan tempat tingal kemudian Aisyah membaca

al-Quran surat al-hadi>d ayat 22.

Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi, (dan tidak pula) pada diri

sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh al- mahfud) sebelum

kami menciptakannya55

.

52

Ibn Saad, T}abaqat al-Kubra>..., Jild 2, 352-353. 53

Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal..., , 246, Kitab baqi musnad al-ans}ar, Bab bagi Musnad al-Sa>biq, no indek 150. hadis ini adalah sahih 54

Ibid. 55

Depag, al Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah,2002), 904.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

56

Dengan penjelasan Aisyah (w.58 H.) terhadap hadis Abu Hurairah (w.

58 H.) ini dapat diketahui bahwa yang berasumsi demikian (penyebab

kesialan) adalah orang-orang Jahiliyah. Aisyah mengkritik hadis ini karena

ada sesuatu yang tertinggal dan tidak disebutkan oleh Abu Hurairah,

sehingga hadis tersebut beralih dari makna al-khas (yakni orang Jahiliyah

yang berpendapat demikian) ke makna al-am (umum), akhirnya dengan

ayat 22 surat al-Hadid.56

Demikian pula Abdullah ibn Abbas (w. 68 H), meskipun ia tidak lama

hidup bersama Rasulullah, Rasulullah SAW pernah mendoakan agar Allah

mengajarkan hikmah kepadanya. Kemudian ia tumbuh sebagai penuntut

ilmu sehingga terkenal dengan penafsiran al-Quran dan ilmu fiqh serta

banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW dan Sahabat hingga

mencapai 1660 hadis. Setelah keluar dari Madinah, ia berangkat ke Bashrah,

Mekkah dan T}aif untuk mengumpulkan hadis. Salah satu kritikannya

terhadap Amr al-Ghifari adalah tentang hadis yang menyebutkan bahwa

Rasulullah SAW mengharamkan keledai piaraan. Dalam mengkritik hadis

tersebut, Ibn Abbas berdalil pada ayat 145 surah al-Anam;

Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan

kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak

memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang

56

Lihat Badr al-Din al-Zarkashi>, Ija>bat li Ira>dat Mimma Istadrakathu al-Sayyidat A>ishat ala S}ah}a>bat, Ditahqiq oleh Said al-Afghani (Beirut: Maktabat al-Islami,1400H/1980M), 104.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

57

mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau

binatang yang disembelih atas nama selain Allah.57

Menurut ibn Abbas58

, ayat ini menunjukkan tidak diharamkannya

memakan daging keledai. Hal tersebut bertentangan dengan hadis yang

diungkapkan Ibn Amr al-Ghifari.

Demikian pula Abd al-Rahman ibn al-Harith pernah mengkritik Abu

Hurairah (w. 58 H.) dalam suatu riwayat hadis :

59

Diriwayatkan dari Abu Bakar bahwa aku pernah mendengar Abu

Hurairah berkata: Seseorang yang mendapati fajar dalam keadaan

junub, hendaklah ia tidak berpuasa.

Ketika Abd al-Rahman menerima riwayat hadis tersebut, dia

mengingkarinya, lalu mendatangi Aisyah (w. 58 H.) dan Ummu Salamah,

kemudian Abd al-Rahman bertanya kepada Aisyah dan Ummu Salamah,

keduanya menjawab.

60

Suatu pagi Nabi SAW berjunub bukan karena mimpi, kemudian beliau

berpuasa.

57

Depag, al-Quran dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah,2002), 212. 58

Muhammad Ibn Ahmad al-Qurtubi, al-Ja>mi al-Ahka>m al-Qura>n, (Mesir: Da>r al-Qalam, 1386 H/1966 M), Jild 7, 117. 59

Muslim, Sahih Muslim..., Vol. 1,Kitab al-s}iya>m, Bab s}ih}h}ah} al-s}awm man t}alaa alayhi al-fajr wa huwa junub. no indek 1874 60

al-Nawawi, Sharh} S}ah}i>h} Muslim, Vol. 7, 155, no indeks 1109.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

58

Setelah itu Abd al-Rahman menyampaikan pendapat

Aisyah dan Ummu Salamah kepada Abu Hurairah, maka

beliau berkata:

. .

61. Apakah keduanya yang mengatakan demikian padamu. Abd al-

Rahman menjawab: Ya, Abu Hurairah berkata; Keduanya lebih

mengetahui kemudian mengembalikan apa yang dikatakan itu kepada

al-Fadl ibn al-Abbas dengan mengatakan; hal itu aku dengar dari al-

Fadl dan bukan mendengar Nabi SAW.

Pada hadis lain disebutkan oleh al-Tirmidhi;

62 Diriwayatkan dari Abd al-Rahman ibn al-Haris ibn Hisham bahwa

Aisyah dan Ummu Salamah (keduanya istri Nabi SAW) memberi tahu

padaku bahwa Nabi SAW mendapati fajar sedang dia dalam keadaan

junub kemudian beliau mandi lalu berpuasa.

Riwayat Abu Hurayrah ini juga bertentangan dengan ayat 187 surat al-

Baqarah;

61

Ibid. 62

al-Tirmidhi,Sunan al-Tirmidhi>..., Vol. 1,550, Kitab al-S}aum, Bab Ma Jaa fi al-Junub Yudrikuhu al-Fajr wahuwa Yuri>du al-S}aum, no indeks 779. Menurut al-Tirmidhi Hadis Aisyah dan Ummu Salamah ini adalah H}asan S}ah}i>h}.; al-Bukhari, S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Vol.1, 455, Kitab al-S}aum, Bab al-S}a>i yusbihu Junuban no indeks 1926.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

59

Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan

Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih

dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai

(datang) malam.63

Ayat ini membolehkan makan, minum dan hubungan badan hingga

terbit fajar. Ketika Rasulullah SAW wafat, semua urusan agama dan umat

dilanjutkan oleh sahabat sebagai generasi penerus dakwah Rasulullah dalam

menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Dapat dikatakan bahwa sejak

wafatnya Rasulullah SAW, problematika umat mulai muncul dan sangat

beragam, mulai masalah politik sampai masalah yang berhubungan dengan

al-Quran dan hadis.

Problematika yang berhubungan dengan hadis antara lain adalah adanya

hadis-hadis yang secara kontekstual bertentangan dengan al-Quran, bahkan

antara hadis yang satu dengan yang lainpun ada yang bertentangan. Puncak

problematika ini adalah pada khalifah Ali ibn Abi Thalib. Ketika itu terjadi

pertentangan politik antara Ali dan Muawiyah yang pada masa berikutnya

memicu timbulnya berbagai hadis palsu yang mendukung tiap-tiap golongan

yang bertikai dan menjelekkan golongan lain.64

Di antara hadis yang

dianggap palsu adalah hadis yang diucapkan orang Shiah tentang adanya

wasiat kekhalifahan terhadap Ali:

65

63

Depag, al Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah, 2002), 45. 64

Muhammad Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabl al-Tadwi>n, 188. 65

Abu al-Farj Abd Al-Rahman Ibn Ali Ibn al-Jawzi, al-Mawdu>a>t, , Jild, 1 (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyah), 280,bab fi> fad}a>il Ali> Alaihi al-Sala>m, hadis yang ke 24.; al-Suyuti, al-Laa>li> al-Masnu>at, Vol. 1, 358.; al-Kinani, Tanzih al-Shari>at, Vol.1, 356.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

60

Orang yang menerima wasiatku, tempat rahasiaku, pengganti saya di

keluargaku, dan sebaik-baik pengganti sesudahku adalah Ali ibn Abi

Talib.

66

Sesungguhnya setiap Nabi SAW memiliki wasiat dan pengganti,

wasiat dan penggantiku adalah Ali bi Abi T}alib.

Sementara kelompok lainnya merasa bahwa hadis palsu di atas

memojokkan Abu Bakar, Umar, Uthman dan Muawiyah, dan mereka

membalas hadis palsu pula yang mengangkat derajat golongan mereka. Di

antara hadis tersebut adalah:

: 67

Tatkala Allah memirajkan saya kelangit saya memohon, ya Allah

jadikanlah Ali sebagai khalifah setelahku, maka langit berguncang dan

para malaikat di berbagai penjuru berteriak padaku, wahai Muhammad

bacalah wa ma tashauna illa an yasha Allahu (kamu tidak memiliki

kehendak melainkan hanya Allah yang memiliki kehendak) dan Allah

telah menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah setelahmu.

68 :

Diriwayatkan dari Ibn Umar, aku melihat Rasulullah SAW bersandar

kepada Ali kemudian ketika itu Abu Bakar, Umar datang, lalu

Rasulullah SAW berkata kepada Ali wahai Abu al-Hasan! Aku

66

Ibid., jilid 1, 282, dan Jalal al-Din al-Suyut}i, al-Laa>li> al-Mas{nu>ah fi al-Ah}adi>th al-Mawd}u>ah, jild 1(Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,t.th) 3. 67

Ali al-Kinani, Tanzi>h al-Shari>ah al-Marfu>ah al-Akhba>r al-Shani>ah al-Mawdu>ah, jild 1 (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1378 H), 345. 68

Ibn Jawzi, al-Mawdu>a>t,... jild 1, 241. al-Shaukani, Nail al-Aut}ar, Sharh Muntaq al-Khaba>r, 338.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

61

mencintai keduanya dengan mencintai keduanya kamu akan masuk

surga.

69

Tiada pohon dalam surga melainkan tertulis pada setiap daunnya (la

ilaha illa Allah uhammad Rasulullah SAW, Abu Bakar al-Siddiq, Umar

al-Faruq dan Usman Du al-Nurain).

Sebagian pengikut Muawiyah pun berusaha membuat hadis palsu untuk

mendukung golongannya, antara lain:

70

Rasulullah SAW mengambil pena dari tangan Ali kemudian

memberikan kepada Muawiyah.

71 :

Orang yang dapat dipercaya di sisi Allah ada tiga, yaitu saya

(Rasulullah SAW), Jibril dan Muawiyah

72

Jibril pernah mendatangi Rasulullah dengan sehelai daun yang harum,

berwarna hijau bertuliskan la ilaha illa Allah, Muhammad al-Rasulullah , cinta kepada Muawiyah adalah wajib atas hambaku.

Dalam menyikapi hadis sebelum terjadinya fitnah, para Sahabat

memiliki pandangan dalam mentakwil atau menerima dan menolak suatu

69

Ibid., 251.; al-Shawkani, Fawa>id al-Majmu>ah fi al-Ah}}adi>th al-Mawdu>ah, ditahqiq oleh Abdullah ibn Yahya al-Yamani (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,1380 H/1960 M), 403. 70

al-Shawkani, al-Fawaah fi al-Ah}adi>th al-Mawdu>ah,... 403 71

Ibn Al-Jawzi, al-Mawdu>a>t,... Vol. 1, 330. 72

Ali al-Kinani, Tanzi>h Al-Shari>ah al-Marfu>ah an al-Akhba>r al-Mawdu>ah,... jild 2, 21, no indeks 48

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

62

hadis. Ketika mereka menemui hadis yang bertentangan dengan al-Quran,

atau bertentangan dengan riwayat sahabat lain yang lebih thiqah, mereka

menolaknya. Dengan demikian, mereka mengindikasikan bahwa

pertentangan tersebut dapat muncul kerena adanya suatu kesalahan dan

kehilafan dan pendengaran yang kurang normal dari perawi, sehingga ketika

menyampaikan kepada orang lain akan terdapat perubahan pada lafal dan

makna.73

Untuk mengetahui metode atau kaedah para sahabat dalam mengkritik

matan hadis, dapat diketahui dengan melihat kembali problematika yang

muncul ketika itu dan solusi yang ditempuh mereka dalam mengatasi

problema karena mereka lebih mengetahui sunnah.

al-Da>rimi> (w. 255 H.) mengungkapkan tiga metode yang digunakan

sahabat untuk kritik matan yaitu :74

a. Jika hadis tersebut bertentangan dengan al-Quran

b. Jika hadis tersebut bertentangan dengan hadis lain yang lebih sahih

c. Jika hadis tersebut bertentangan dengan akal

Sebagai penjelasan lebih lanjut, berikut ini disebutkan beberapa contoh

yang dapat memberikan yang lebih mendalam dalam memahami kaedah

kritik hadis, sebagai berikut:

a. Hadis bertentangan dengan al-Quran

73

al-Da>rimi>,Sunnan al-Da>>rimi>, (Indonesia:Maktabat Dahlan ,t.th) 55. 74

Ibid., 61,79, dan 95.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

63

Metode pertama yang digunakan oleh sahabat adalah ketika mereka

menemukan hadis yang bertentangan dengan al-Quran, dan keduanya

tidak dapat dikompromikan, mereka menganggap hadis tersebut tidak

sahih. Dengan demikan al-Quran adalah tolok ukur dalam menerima

segala macam hadis. Oleh karena itu, bila mereka menemukan riwayat

yang bertentangan dengan al-Quran, mereka tidak menerima dan tidak

mengamalkannya. Misalnya kritikan Aisyah terhadap Umar ibn al-Khattab

tentang orang mati disiksa karena adanya tangis keluarga yang ditinggal.

Umar ibn Khattab pernah meriwayatkan hadis ini dari Rasulullah yang

mengatakan;

75 Sesungguhnya orang mati akan disiksa karena tangisan keluarganya.

Ketika Umar ibn al-Khattab meninggal, Ibn Abbas mengungkapkan

hadis ini kepada Aisyah, lalu Aisyah berkata; semoga Allah memberi

rahmat kepada Umar, demi Allah, Rasulullah SAW tidak pernah

mengatakan bahwa orang mukmin ini akan disiksa oleh Allah karena tangis

keluarganya, akan tetapi Rasulullah mengatakan sesungguhnya Allah akan

menambah siksaan orang kafir kerena tangisan keluarganya. Kemudian

Aisyah menyampaikan sural al-Anam ayat 164:

75

al-Bukhari, S}ah}ih} al-Bukha>ri>, Vol. 1, 307 Kitab al-jana>iz, Bab Qaul al-Nabi saw yuaddib al-mayyit bi bukai ahlihi, no indek 1286.; al-Nasai: Sunan al-Nasa>i >, jild. 2/Vol. 3(Beirut: Da>r al-fikr,t.th),16-17, no indeks 1844, 1846.; al-Nawawi, S}ah}i>h} Muslim Bi Sharh al-Nawawi>,Vol. 5 (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat, t.th), 203.; Abd Allah ibn Abd al-Rahman al-Bassa>m, Tawd}i>h al-Ahka>m min Bulugh al-Mara>m, Vol. 3(Makkah: Maktabatal-Asdi>,1423H/2003H), 2.; Abd Allah ibn Abd al-Rahman al-Bassam, Tawd}}i>h al-Ahka>m min Bulugh al-Mara>m, Vol. 3(Makkah: Maktabat al-Asdi>, 1423M/2003H), 264.; Abi al-Abbas Shihab al-Din Ahmad ibn Abd al-Latif al-

Zabaydi>, Muhtas}ar S}ah}i>h} al-Bukhari> al-Musamma> al-Tajri>d al-S}ari>h, 130, no indeks 634/1288.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

64

... Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.

76

Maksud ayat tersebut adalah bahwa setiap orang memikul dosanya

sendiri-sendiri. Dalam riwayat Amrah bint Abd al-Rahman disebutkan

bahwa pernah disampaikan kepada Aisyah riwayat dari Abdullah ibn Umar

yang mengatakan;

77

Sesungguhnya orang yang meninggal akan disiksa karena tangisan

orang yang masih hidup.

Mendengar ucapan ini, Aisyah berkata: suatu ketika jenazah seorang

perempuan Yahudi yang sedang ditangisi oleh keluarganya78

, lewat di

hadapan Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW berkata:

79

Mereka (orang Yahudi) menangisinya dan dia (mayat) akan disiksa

dalam kuburnya.

Kelihatannya Aisyah mengkritik riwayat Umar dan Ibn Umar karena

kedua riwayat tersebut menunjukkan keikutsertaan perbuatan seseorang

76

Depag, al-Quran Dan Terjemahnya (Surabaya: Penerbit al-Hidayah, 2002), 217. 77

al-Bukhari, S}ah}i>h} Bukha>ri>...,Vol. 1, 209 , no indek 1290, Kitab al-Jana>iz, Bab Qawl al-Nabi> Yuadhib al-Maiyit.; Ibn al-Hajar, Fath al-Ba>ri>, Vol. 3, 200-201.; Abi Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghozali, al-Wasi>t}} fi> al-Madhhab, Vol. 1(Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat, t.th), 363.; al-Nawawi, S}ah}i>h} Muslim bi Sharh al-Nawawi>, Vol. 5 (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,t.th), 203, no indeks 927.; Muhyid al-Din Abi Jafar Ahmad ibn Abd Allah al-Tabari,

Gho>yat al-Ahka>m fi> Ah}a>di>th al-Ahkam, Vol. 4 (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat, t.th), 71-74.; Muhamamad ibn Abd Allah al-Khatib al-Tibrizi, Mishka>t al-Mas}a>bi>h, Vol. 1 (Beirut:Da>r al-Kutub al-Isla>mi>, t.th), 545-546. al-Shafii, Marifat al-Sunan wa al-A>tha>r, Jild 3(Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,t.th), 199-201. 78

Musfir Azm Allah al-Damini, Maqa>yi>s Naqd al-Mutu>n al-Sunnah, (Riyad: t.p, 1984 M./1404 H.), 62. 79

Ibid.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

65

yang masih hidup, menjadi beban tanggung jawab seseorang yang sudah

meninggal. Hal ini bertentangan dengan ayat al-Quran yang menunjukkan

bahwa setiap orang akan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Aisyah melihat dua riwayat tersebut tidak menyebutkan asba>b al-wuru>d al-

h}adi>th, sehingga mendatangkan perubahan makna, yaitu dari yang khusus

(berlaku bagi orang Yahudi) ke umum ((bagi setiap Muslim)

Pada riwayat lain ditanyakan kepada Aisyah tentang riwayat Ibn

Abbas, Aisyah mengatakan: telah terdapat kesalahan dan kehilafan

sesungguhnya Rasulullah bersabda; dia (orang Yahudi) akan disiksa karena

doa dan kesalahan keluarganya sedang menangisinya saat ini.80

Dalam

riwayat lain Aisyah berkata semoga Allah mencurahkan rahmat kepada

Abd al-Rahman (Umar), sesungguhnya ia tidak berdusta melainkan lupa

atau salah.81

Semua riwayat di atas menunjukkan adanya kekhilafan dan kesalahan

Umar (w. 32 H.) dan Ibn Umar dalam menyampaikan riwayat, dan tidak

terdapat unsur kesengajaan dalam meriwayatkan hadis.

a. Hadis bertentangan dengan hadis lain yang lebih sahih

Para sahabat menjadikan al-Quran sebagai standar dalam menetapkan

kesahihan suatu hadis, maka mereka menolak hadis yang bertentangan

80

al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Vol. 1, 209, Kitab jana>iz, bab qaul al-nabi saw yuaddiba al-mayyit bibadi bukai ahli alaih, no indeks. 1288.; Ibn al-Hajar, Fath al-Ba>ri>, Vol.3 (t.t: Maktabat Mis}r, 1421H/2001M), 221, no indeks 1288.; Muslim, Sahih Muslim..., Kitab Jana>iz, Bab Qaul al-Nabi saw yuaddiba al-mayyit bibadi bukai ahli alaih, no indeks, 26, 81

Muslim, Sahih Muslim...,Vol ,369 Kitab jana>iz, Bab al-Mayyid Yuaddiba bi Bukai Ahli ahlihi, no indeks, 27,

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

66

dengan al-Quran, dan mereka meyakini bahwa hadis yang benar

bersumber dari Rasulullah, tidak akan bertentangan dengan al-Quran.

Namun ketika sahabat menemukan hadis yang bertentangan dengan

hadis lain, mereka mengkompromikan antara satu riwayat dengan riwayat

lainnya, atau mentarji>h salah satu di antara riwayat yang bertentangan.

Dalam men-tarjih salah satu riwayat yang bertentangan, mereka

menempuh beberapa cara:

1) Menanyakan langsung kepada yang dianggap lebih berkompeten dalam

mengetahui riwayat.

2) Mendatangkan riwayat lain yang mendukung salah satu hadis yang

bertentangan

3) Mendahulukan riwayat s}ahib al-qisa>h (pelaku kisah).

Berikut ini ada beberapa contoh dari sikap sahabat dalam mentarjih

riwayat yang bertentangan yaitu:

a) Menanyakan langsung kepada yang dianggap lebih berkompeten dalam

mengetahui riwayat.

Ketika ditemukan riwayat hadis yang bertentangan, seperti hadis

dalam rumah tangga Rasul, maka mereka menanyakan langsung kepada

orang yang lebih berkompeten dan yang dianggap lebih efektif

memberikan jawaban seperti istri Rasul, misalnya hadis tentang

menguraikan rambut ketika mandi junub.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

67

Disampaikan kepada Aisyah bahwa Ibn Amr memerintahkan kepada

wanita agar menguraikan rambutnya ketika mandi junub, maka Aisyah

berkata:

82.

Alangkah anehnya ibn Amr, memerintahkan kepada wanita agar

menguraikan rambutnya ketika mandi junub, mengapa ia tidak

memerintahkan mencukur rambutnya saja? Sungguh saya mandi

bersama Nabi SAW pada satu bejana dan saya tidak melebihkan tiga

kali menyiramkan air pada kepalaku.

Dalam riwayat ini Aisyah dianggap lebih mengetahui dari pada ibn

Amr, karena kejadian ini terjadi dalam rumah tangga Rasul, yaitu bahwa

Aisyah pernah melaksanakannya ketika mandi bersama Nabi SAW dan

beliau tidak menyalahkannya. Perkataan Aisyah ini juga didukung oleh

riwayat dari Ummu Salamah, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah

SAW:

83

Wahai Rasulullah SAW! Saya adalah perempuan yang pintalan

rambutnya sangat kuat, apakah saya harus mengurainya ketika mandi

junub? Rasulullah SAW menjawab, tidak perlu, kamu cukup

menuangkan tiga cedok air pada kepalamu kemudian kamu siram

seluruh badanmu, maka kamu telah bersuci.

82

Ibid., Kitab al-Haid}, Vol. 1, Bab hukm d}afa>ir al-Mughtasilah, no indeks 59.; al-Nawawi, Sharh} S}ah}i>>h} Muslim, Vol. 4 (Kairo: al-Maktabat al-Tawfiqiyah, 2008), 10, no indeks 59(331). 83

Ibid., 9, no indeks 58.(330).

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

68

b) Mendatangkan riwayat lain yang mendukung salah satu hadis yang

bertentangan.

Bentuk kedua yang ditempuh sahabat dalam men-tarjih salah satu

hadis yang bertentangan adalah dengan mendatangkan riwayat lain yang

mendukung salah satu hadis yang bertentangan, sehingga hadis yang

mendapat dukungan dari riwayat lain dianggap lebih ra>jih, misalnya

tentang masa iddah seorang istri hamil.Suatu ketika Abu Salamah Ibn

Abd al-Rahman dan Abdullah Ibn Abbas berkumpul bersama Abu

Hurayrah. Mereka berbincang-bincang tentang seorang laki-laki yang

meninggal dan istrinya sedang hamil, lalu melahirkan setelah beberapa

hari. Mereka mempermasalahkan tentang iddahnya.

Ibn Abbas (w. 68 H.) berpendapat: (masa iddah adalah

sampai pada akhir dua masa iddah: iddah kehamilan dan iddah

meninggal suami). Kemudian Abu Salamah berpendapat:

(jika dia telah melahirkan maka masa iddahnya berakhir). Ketika

mendengar perseteruan itu, Abu Hurairah (w.58 H.) berkata: saya

sependapat dengan anak pamanku (Abu Salamah). Selanjutnya mereka

mengutus kariban (hamba sahaya Ibn Abbas) untuk menanyakan hal ini

kepada Ummu Salamah, lalu Ummu Salamah menyebutkan salah satu

riwayat: bahwa Subaiah bint al-Harith al-Aslamiyah meningal suaminya

dan ia sedang hamil, dan setelah beberapa hari kemudian ia melahirkan.

Kemudian ada seorang pria dari bani Abd al-Dhar bernama Abu al-

Sanabil ingin meminangnya dan mengatakan kepada Sabiah bahwa

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

69

masa iddahnya sudah habis. Akan tetapi Subaiah ingin menikah dengan

pria lain sehingga Abu Sanabil berkata padanya: kamu belum halal (masa

iddah-mu belum habis), sehingga Subaiah menanyakan kepada

Rasulullah SAW lalu beliau menyuruhnya untuk menikah.84

Riwayat yang disebutkan Ummu Salamah tentang diperbolehkannya

Subaiah bint al-Haris untuk menikah setelah melahirkan, merupakan

riwayat yang mendukung pendapat Abu Salamah dan Abu Hurayrah

bahwa akhir masa iddah istri hamil yang meninggal suaminya adalah

setelah melahirkan.

c) Mendahulukan riwayat s}ahib al-qis}as} (pelaku kisah)

Cara pentarji>han yang ketiga ini erat kaitannya dengan cara

pentarjihan yang pertama, karena cara ketiga ini juga dapat dijadikan

sebagai contoh pada cara pertama, namun tidak semua contoh pada cara

yang pertama dapat dijadikan sebagai contoh pada cara yang ketiga.

Salah satu contoh pentarji>han mendahulukan riwayat s}>ah}ib al-qis}a>s}

adalah hadis tentang pernikahan orang yang sedang ihram.

85

Diriwayatkan dari ibn Abbas bahwa Rasulullah menikahi maimunah

dan beliau sedang berihram.

84

al-Turmudhi, Sunan al-Turmu>dhi>, Vol. 2, 247, no indeks 1194, Kitab al-Talaq, Bab Ma> Jaa fi> al-Ha>mil.;al-Darimi,Sunan al-Da>rimi> (Beirut:Da>r ibn Hazm,1423H/2002M),314, no indeks 2319, Kitab al-talaq, Bab fi iddah al-Hamil al-Mutawaffa anha zaujuha. 85

al-Bukhari, S}ah}i>h} al-Bukha>ri> ..., Vol. 1, 426, no indeks 1837, Kitab Jaza al-S}ayd, Bab Tazwi>j al-Muhrim/ Vol. 3, 74, no indeks 4258 dan 4259. Nabi mengawini Maimunah pada Waktu melakukan Umrah Qad}a, serta no indeks 5114.; Muslim, S}ah}i>h} Muslim..., Vol. no indeks1410.; al-Turmudhi, Sunan al-Turmudhi>...., Vol. 2, 25, no indeks 842, 843,844. H}adi>thun H}as}anun S}ah}i>h}un.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

70

Riwayat Ibn Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi SAW menikahi

Maimunah sedang dalam keadaan ihram bertentangan dengan hadis yang

diriwayatkan Maymunah yang menunjukkan bahwa Rasul menikahinya

dan beliau tidak sedang ihram, yaitu:

86 Diriwayatkan dari maymunah berkata: Rasulullah SAW menikahi

aku dan dia dalam keadaan dalam keadaan halal (tidak sedang

ihram).

Riwayat dari Maimunah ini, juga mendapat dukungan dari riwayat

Abu Rafi yang berbunyi:

87

Diriwayatkan dari Abu Rafi berkata: Rasulullah menikahi

Maimunah dan beliau dalam keadaan halal (tidak sedang ihram), dan

mulai bersama dengannya (maimunah) dan dia dalam keadaan halal

dan saya adalah utusan terhadap keduanya (berada di sisi keduanya).

Pada riwayat yang bertentangan di atas, dapat dikatakan bahwa

riwayat Maimunah yang menyebutkan bahwa dirinya menikah dengan

Rasulullah SAW dalam keadaan halal (tidak sedang ihram) lebih ra>jih

dari pada riwayat Ibn Abbas yang menyebutkan bahwa Maimunah

menikah dengan Rasulullah SAW dalam keadaan ihram, karena

86

al-Tirmidhi,Sunan al-Tirmidhi>, Vol. 2 23, no indeks 841, Kitab al-hajj, Bab ma ja-a fi karahiyah tazwij al-muhrim.; Abi al-Walid Sulaiman ibn Khalaf ibn Sad ibn Ayyub al-Bakhi, al-Muntaqa> Sharh Muwat}t}a Maliki,Vol. 3(Beirut : Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,t.th),406, no indeks 762, Nabi SAW kawin dengan Maimunah di Madinah sebelum keluar untuk melakukan untuk

melakukan ihram. 87

al-Tirmidhi, Sunan al-Turmidhi>, Vol. 2, 24, hadis ini adalah hasan sahih.; al-Nasai, Kitab al-Sunan al-Kubra>, Vol. 1, 146.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

71

Maimunah adalah pelaku kisah tersebut. Di samping itu, juga terdapat

sha>hid dari riwayat Abu Rafi bahwa dia berada di sisi Rasulullah dan

Maimunah. al-Kattani (w.1927 M.) berpendapat bahwa hadis riwayat

Maimunah yang menikah dengan Rasulullah dalam keadaan halal, adalah

pada derajat Mutawa>tir, berdasarkan pendapat Ibn Abd al-Bar (w. 463

H.).88

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam riwayat Ibn Abbas

(w. 68 H.) terdapat suatu kekeliruan, walau ada riwayat yang

menyebutkan keikutsertaan Ibn Abbas dalam perkawinan tersebut, hanya

saja pada waktu itu masih kecil, belum mengerti tentang pekawinan.

Selain pentarji>han yang dilaksanakan oleh sahabat terhadap riwayat

yang bertentangan, juga terkadang mengkompromikan beberapa riwayat,

sebagaimana yang dilakukan Ibn Abbas terhadap beberapa riwayat yang

menerangkan tentang waktu ihramnya Rasulullah SAW.

Dalam menjelaskan sebab perbedaan sahabat tersebut, Said Ibn Jubair

bertanya kepada Ibn Abbas: Wahai Ibn Abbas! Saya heran terhadap

perbedaan sahabat tentang ihramnya Rasulullah SAW ketika diwajibkan

haji. Ibn Abbas menjawab: Rasulullah SAW melaksanakan haji hanya

satu kali. Dari sinilah mereka berbeda pendapat. Ketika Rasulullah

SAW berangkat melaksanakan haji, dan tatkala salat dua rakaat di

masjid Dhu al-Khulaifah (Bir Ali) beliau mewajibkan berihram (berniat

haji) pada tempat duduknya. Beliau pun berihram ketika selesai salat dua

88

Abi Abd Allah Muhammad Ibn Abi al-Faid} al-Kattani, Naz}m al-Mutana>thir min al-H}adi>th al-Mutawa>tir, (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyah,t.th), 148.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

72

rakaat. Hal ini didengar oleh beberapa orang, dan saya ingat benar dari

beliau. Kemudian Rasulullah SAW menaiki kendaraannya (untanya), dan

setelah beliau berada di atas kendaraannya, beliau berihram. Hal ini

diketahui oleh beberapa orang dan terjadi karena orang-orang datang

beruntun, tidak sekaligus. Mereka ada yang mendengar bahwa beliau

berihram ketika di atas untanya, kemudian Rasulullah berangkat dan

tatkala sampai di atas Sharf al-Baida beliau berihram lagi dan diketahui

lagi oleh beberapa orang sehingga merekapun berkata bahwa Rasulullah

SAW berniat ketika berada di atas Sharf al-Baida.89

Dari riwayat ibn Umar ini dapat diketahui bahwa Rasulullah

melaksanakan ihram di Masjid Dhu al-Khulaifah setelah salat dua rakaat,

kemudian melaksanakan ihram lagi setelah berada di atas untanya, dan

ketika berada di atas Sharf al-Baida

Metode ketiga yang digunakan sahabat dalam mengkritik matan hadis

adalah dengan menggunakan akal, misalnya tentang hadis yang

menyebutkan agar berwudu karena memakan yang dimatangkan dengan

api, seperti berikut:

90

Berwudu karena memakan disentuh api (dimatangkan dengan api),

meskipun hanya dengan memakan susu yang dibekukan dengan batu

yang panas.

89

Abu Dawud,Sunan Abi> Dawu>d Vol. 2 (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyat,t.th), 14, Kitab al-Hajj, Bab fi wakt al-ihram, no indek 1770. 90

al-Tirmidhi , Sunan al-Tirmi>dhi>, Vol. 1 (Beirut: al-Fikr,t.th), 137, Kitab al-Taharah, Bab maja-a fi al-wudu mimma ghayyarat al-nar, no indek 79 dan hadisnya adalah sahih .;al-Nasai, Kitab al-Sunan al-Kubra>, Vol. 1, 145-146.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

73

Mendengar ucapan ini Ibn Abbas berkata:

91

Wahai Abu Hurayrah apakah kita berwudu dari apa yang disentuh

api atau dari air yang dipanaskan dengan api?

Kemudian Abu Hurairah (w. 58 H.) berkata:

92

Wahai anak saudaraku jika kamu mendengar hadis dari Rasulallah

janganlah berkomentar (berdalih).

Namun Umi Salamah meriwayatkan hadis bahwa Sesungguhnya

Rasulullah makan daging yang dibakar lalu datang Bilal dan beliau

keluar untuk melakukan salat dan tanpa Wuduk.93

Contoh di atas

menunjukkan metodologi sahabat dalam mengkritik matan hadis sjumhur

ulama mera>jihkan pendapat yang disandarkan pada akal dari pada hadis.

Misalnya masalah wajibnya berwuduk karena memakan apa yang telah

disentuh api. Jumhur mengatakan hendaklah meninggalkan pendapat

tersebut.94

Meskipun jumhur ulama hadis banyak menolak pendapat yang

berdasarkan akal, perlu diingat bahwa penolakan tersebut bukan hanya

91

al-Tirmidhi, Sunan al-Tirmidhi>, Vol. 1, 137 92

Ibid. 93

al-Nasai, Kitab al-Sunan al-Kubra>, Vol. 1, 147.; al-Turmidhi, Sunan al-Tirmidhi. Vol. 1, 42, no indeks 80, kitab al-T}aharat. 94

Ahmad ibn Ali al-Shaukani, Nail Aut}a>r Sharh} al-Muntaqa al-Akhba>r, jild 1 (Mesir: Maktabah al-Qahirah, 1198 H/1978 M), 314.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

74

sekedar berdasar akal semata, akan tetapi karena adanya faktor lain,

yaitu; bahwa para sahabat telah hidup bersama Rasulullah SAW dan

banyak hukum yang bersumber dari Rasul. Ketika mendengar sesuatu

yang aneh dan tidak pernah didengar sebelumnya, mereka menganalisa

dengan akalnya, kemudian mengkritik sesuai dengan pengetahuan

mereka tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan Rasulullah SAW.

c. Perkembangan Kritik Hadis pada masa Tabiin

Setelah masa sahabat kritik hadis mulai berkembang dan sudah memiliki

metode tertentu, dan makin berkembang pada masa tabiin yang mencakup

kritik sanad dan matan, seiring perkembangan kritik hadis pada masa itu

muncul beberapa nuqqad (kritikus), diantara nuqqad hadis dari kalangan

tabiin adalah;

1. Said ibn Jubair (w. 95 H.)95 yang melarang berkumpul dalam satu majlis

bersama dengan Talaq ibn Habib karena ia seorang Murjiah mekipun ia

termasuk orang saleh.96

2. Amir al-Shabi (w.104 H.)97 yang pernah men-tarji>h al-Harith al-Awar

sebagai pendusta98

3. Tawus, (w. 106 H.)99 keduanya (al-Hasan al-Basri dan Tawus) pernah

mengkritik Mabad al-Juhani>. Sesungguhnya ia adalah sesat dan

95

Said Ibn Jubair ibn Hisham al-Asadi al-Kufi, lahir pada tahun 45 H/665 M dan wafat pada tahun

95 H/714 M. Lihat Jamal al-Din Ahmad Ibn Muhammad Ibn Abu Bakar, Wafayat al-Ayan,

(Beirut: Da>r S}adir, t.th), jild 1, 204. 96

Ibn Hibban, Kitab al-Majruh}i>n, jild 1, 204. 97

Amir ibn Shara>h}i>l al-Shabi, lahir pada tahun 19 H atau 20 H/640 M, dan wafat pada tahun 104

H/722 M. Beliau bertemu dengan beberapa Sahabat dan meriwayatkan dari mereka diantara yang

meriwayatkan dari padanya adalah al-Amasy dan al-Thauri. Lihat ibn Saad, T}abaqat al-Kubra>>, jild 6, 246-256. 98

Muslim ibn Hajjaj, Muqaddimah S}ah}ih} Muslim, jilid 1, 19.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

75

menyesatkan. Demikian pula Tawus menuduh Mabad berdusta kepada

Rasulullah SAW, meskipun Mabad menyangkalnya.100

4. al-Hasan al-Basri (w. 110 H.)101

5. Muhammad ibn Sirin (w. 110 H.),102 orang nuqqad hadis yang cerdas dan

terkemuka dalam meneliti sanad. Beliau pernah berkata bahwa hadis itu

adalah agama, maka hendaklah seseorang meneliti orang, dengan

meneliti agamanya. Yahya ibn Main (w. 233 H.) dan Ali ibn al-Madi>ni>

(w.234 H.) mengakuinya sebagai orang bersih dan tidak ada yang

menyaingi pada masanya.103

6. Abdullah ibn Aun (w. 151 H.),104 sangat keras terhadap pembuat bidah

dan tidak pernah menyerah terhadap Aliran Qadariah.105

d. Perkembangan Kritik Hadis pada masa Tabi Tabiin dan sesudahnya.

Setelah masa tabiin kritik hadis makin berkembang dengan munculnya

beberapa tabi tabiin beserta beberapa karangannya yang berhubungan

99

Tawus ibn Kisan Khairi al-Himyari, lahir pada tahun 33 H/653 M dan wafat pada tahun 106

H/724 M, beliau meriwayatkan dari Aisyah dan Zaidi ibn Thabit, dan yang meiwayatkan dari

padanya adalah AbdAllah ibn Tawus, Wahb ibn Munabbih dan selainnya, lihat Ibn Hajar, Tahdhi>b al-Tahdhi>b...,Vol. 4, 100. 100

Muhammad ibn Hibban al-Bisti, Kitab al-Majruhi>n min al-Muh}addithi>n wa al-D}uafa wa al-Matruki>n, jild 1 (Halab: Dar al-Wayi,t.th), 79. 101

al-Hasan ibn Abi Hasan al-Basri lahir pada 33 H/653 M dan wafat pada tahun 110 H/729 M.

Beliau meriwayatkan hadis dari Abd Allah dan Abd Allah Ibn Abbas diantara yang meriwayatkan

hadis dari padanya adalah Ayyub al-Shikhtiyani dan Rabi ibn Subh, lihat ibn Saad, Tabaqat al-

Kubra>, jild 7, (Beirut:Da>r al-Sadr), 157-158. 102

Muhammad ibn Sirin al-Bahri, lahir tahun 33 H 653 M dan wafat pada tahun 110 H/729 M.

Beliau bertemu dengan beberapa Sahabat dan meriwayatkan dari mereka, diantaranya adalah Anas

ibn Malik, Zaid ibn Thabit dan Abd Allah ibn Abbas, dan yang meriwayatkan daripadanya adalah

Abdullah ibn Aun dan Jarit ibn Hazm. Lihat al-Dhahabi, Tadhkira>h al-H}uffaz}, jild 1, 77. 103

Ibn Rajab al-Hanbali, Sharh} Ilal al-Tirmidhi> (Baghdad: al-Ani, t.th), 82. 104

Abdullah ibn Aun ibn At}riban al-Mazni, lahir pada tahun 66 H/686 M, dan wafat pada tahun

151 H/768 M, beliau meriwayatkan dari Muhammad ibn Sirin, al-Hasan al-Basri dan al-Shabi,

dan yang meriwayatkan dari padanya adalah al-amasy dan Abdullah ibn Mubarak. Lihat ibn

Saad, Tabaqa>t al-Kubra>, jilid 7, 261-268. 105

Ibn Hajar, Tahdh>ib al-Tahdhi>b..., Vol. 5, 348.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

76

dengan kritik hadis. Kemudian buku tersebut menjadi sumber acuan ulama

setelahnya. Diantara tabi tabiin tersebut adalah;

1. Shubah ibn al-Hajjaj (w. 160 H.),106 orang pertama di Irak yang meneliti

perawi hadis kemudian diikuti oleh ulama setelahnya.107

2. Abdullah ibn Mubarak (w. 181 H),108 orang yang cerdas dan mengetahui

kesahihan suatu hadis.109

3. Abd al-Rahman ibn Mahdi (w. 198 H.),110 orang yang sangat mengetahui

hadis yang diriwayatkannya dan yang tidak diriwayatkan selainnya.111

4. Yahya ibn Qattan (w. 198 H.),112 al-Sawi pernah berkata seseorang di-

tajri>h dan di thiqah-kan oleh Yahya ibn Said al-Qattan dan Abd al-

Rahman ibn al-Mahdi, maka hal itu dapat diterima.113

5. Yahya ibn Main (w. 233 H.),114 yang memiliki kitab Tari>kh al-Rija>l.

106

Shubah ibn al-Hajjaj al-Warad al-Bisti, lahir pada tahun 83 H/707 M, dan wafat pada tahun

160 H/776 M, beliau meriwayatkan dari Hasan al-Basri, Yahya ibn Abi Kathir dan Qatadah, dan

diantara yang meriwayatkan dari padanya adalah Ayub al-Sakhtiyani, al-Thauri dan ibn mubarak.

Lihat Ibn Hajar, Tahdhi>b al-Tahdhi>b, Vol. 4, 334-346 107

al-Dhahabi, Tadkirah al-H}uffad, Vol.1, 228-229. 108

Abdullah ibn Mubarak ibn al-Wadih al-Hambali Lahir pada tahun 118 H/736 M dan wafat

pada tahun 181 H/797 M. Beliau meriwayatkan dari bapaknya, Hisham ibn Urwah, Malik ibn

Anas, al-Auzai, dan yang meriwayatkan dari padanya adalah Yahya al-Naisaburi, al-Humaini, ibn

Abi Yala dan selainnya. Lihat Ibn Hajar, Tahdhi>b al-Tahdhi>b..., jild 4, 457. 109

Ibn Hajar, Tahdhi>b al-Tahdhi>b...,Vol. 5, 385. 110

Abd al-Rahman ibn Mahdi ibn Hasan al-Basri. Lahir pada tahun 153 H/752 m dan wafat pada

tahun 198 H/813 M, beliau meriwayatkan dari Malik dan Shubah dan yang meriwayatkan dari

padanya adalah Ahmad ibn Hanbal, Ibn Mubarak, Ibn al-Mahdi al-Khasraji. Lihat ibn Hajar,

Tahdhi>b al-Tahdhi>b, Vol. 5 5, 182. 111

Ibn Hajar, Tahdhi>b al-Tahdhi>b, Vol. 5, 182. 112

Yahya ibn Said ibn Farukh al-Qat}t}an al-Tami>mi> al-Basri>. Lahir pada tahun 120 H/737 M dan

wafat pada tahun 198 H/813 M. Beliau meriwayatkan dari Sulaiman al-Yamani, Humaid al-T}awil,

Ismail ibn Abi Malik dan lain-lain,, dan yang meriwayatkan dari padanya adalah Muhammad Ibn

yahya, Ali ibn al-Mahdi, Yahya ibn al-Madani dan selainnya. Lihat Ibn Hajar, Tahdhi>b al-Tahdhi>b, Vol. 9, 189-192. 113

Shams al-Din ibn Abd al-Rahma al-Sakhawi, Fath} al-Mughi>th, jild 3 (Madinah: Maktabah al-Salafiyah, 1388 h), 349. 114

Yahya Ibn Main al-Baghdadi. Lahir pada tahun 159 H/775 m dan wafat pada tahun 233 H/848

M di Madinah. Beliau meriwayatkan dari Abdullah ibn Mubarak, Sufyan ibn Uyaynah, Abd al-

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id