BAB II Kesling

download BAB II Kesling

of 20

  • date post

    29-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    40
  • download

    3

Embed Size (px)

description

ph

Transcript of BAB II Kesling

BAB II

PENETAPAN PRIORITAS MASALAH DAN PENYEBAB MASALAH2.1 Penetapan Prioritas Masalah

Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang aktual terjadi (observed). Perlu ditentukan masalah yang menjadi prioritaskarena keterbatasan sumber daya, dana, dan waktu menyebabkan tidak semua permasalahan dapat dipecahkan sekaligus. Setelah pada tahap awal merumuskan masalah, maka dilanjutkan dengan menetapkan prioritas masalah yang harus dipecahkan. Prioritas masalah didapatkan dari data atau fakta yang ada secara kualitatif, kuantitatif, subjektif, objektif serta adanya pengetahuan yang cukup.

Pada BAB I, telah dirumuskan masalah yang terdapat pada program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas se-Kecamatan Cempaka Putih. Dikarenakan adanya keterbatasan sumber daya manusia, dana, dan waktu, maka dari semua masalah yang telah dirumuskan, perlu ditetapkan masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikan.

Dalam penetapan prioritas masalah, digunakan teknik skoring dan pembobotan. Untuk dapat menetapkan kriteria, pembobotan dan skoring perlu dibentuk sebuah kelompok diskusi. Agar pembahasan dapat dilakukan secara menyeluruh dan mencapai sasaran, maka setiap anggota kelompok diharapkan mempunyai informasi dan data yang tersedia. Beberapa langkah yang dilakukan dalam penetapan prioritas masalah meliputi:

1. Menetapkan kriteria

2. Memberikan bobot masalah

3. Menentukan skoring tiap masalah

Berdasarkan hasil analisis program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih yang diangkat, maka didapatkan 2 permasalahan. Adapun masalah tersebut meliputi:

1. Angka Bebas Jentik pada bangunan rumah yang dikunjungi di wilayah kerja puskesmas kelurahan Cempaka Putih Timur sebesar 90,25 % di bawah target yaitu sebesar 95 %.2. Angka Bebas Jentik pada bangunan rumah yang dikunjungi di wilayah kerja puskesmas kelurahan Cempaka Putih Barat sebesar 94 % di bawah target yaitu sebesar 95 %.2.1.1 Non-Scoring Technique

Bila tidak tersedia data, maka cara penetapan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah teknik non skoring.

Dengan menggunakan teknik ini, masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu juga disebut Nominal Group Technique (NGT). NGT terdiri dari dua, yaitu :A. Metode Delbecq

Menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini dilakukan melalui diskusi dan kesepakatan sekelompok orang, namun yang tidak sama keahliannya. Sehingga untuk menentukan prioritas masalah, diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk memberikan pengertian dan pemahaman peserta diskusi, tanpa mempengaruhi peserta diskusi. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yang disepakati bersama.B. Metode Delphi

Yaitu masalah masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang mempunyaikeahlian yang sama melalui pertemuan khusus. Para peserta diskusi diminta untuk mengemukakan pendapat mengenai beberapa masalah pokok. Masalah yang terbanyak dikemukakan pada pertemuan tersebut, menjadi prioritas masalah.2.1.2 Scoring TechniqueBerbagai teknik penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik skoring antara lain: A. Metode Bryant

Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu :

1) Prevalence

: Besarnya masalah yang dihadapi

2) Seriousness

: Pengaruh buruk yang diakibatkan oleh suatu masalah dalam

masyarakat dan dilihat dari besarnya angka kesakitan dan

angka kematian akibat masalah kesehatan tersebut

3) Manageability : Kemampuan untuk mengelola dan berkaitan dengan sumber

Daya4) Commubity concern: Sikap dan perasaan masyarakat terhadap masalah kesehatan

Tersebut

Parameter diletakkan pada baris dan masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada kolom. Kisaran skor yang diberikan adalah satu sampai lima yang ditulis dari arah kiri ke kanan sesuai baris untuk tiap masalah. Kemudian dengan penjumlahan dari arah atas ke bawah sesuai kolom untuk masing-masing masalah dihitung nilai skor akhirnya. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan sebagai prioritas masalah. Tetapi metode ini juga memiliki kelemahan yaitu hasil yang didapat dari setiap masalah terlalu berdekatan sehingga sulit untuk menentukan prioritas masalah yang akan diambil.B. Metode Matematik PAHODalam metode ini parameter diletakkan pada kolom dan masalah-masalah yang ingin dicari prioritasnya diletakkan pada baris, dan digunakan kriteria untuk penilaian masalah yang akan dijadikan sebagai prioritas masalah. Kriteria yang dipakai ialah :1. Magnitude: Berapa banyak penduduk yang terkena masalah atau penyakit yang ditunjukkan dengan angka prevalens.2. Severity: Besarnya kerugian yang timbul yang ditunjukkan dengan case fatality rate masing- masing penyakit.3. Vulnerability : Sejauh mana ketersediaan teknologi atau obat yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut.4. Community and political concern : Menunjukkan sejauh mana masalah tersebut menjadi concern atau kegusaran masyarakat dan para politisi5. Affordability: Menunjukkan ada tidaknya dana yang tersedia.

C. Metode MCUAPada metode MCUA, yang menjadi kriteria penilaian untuk menentukan prioritas masalah adalah :1. Emergency

Emergency menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan sehingga menimbulkan kematian atau kesakitan. Parameter yang digunakan dalam kriteria ini adalah IR (Incidence Rate), jika masalah yang dinilai berupa penyakit. Adapun jika yang dinilai adalah masalah kesehatan lain, maka digunakan parameter kuantitatif berupa angka kematian maupun angka kesakitan yang dapat ditimbulkan oleh permasalahan tersebut. 2. Greetest member

Kriteria ini digunakan untuk menilai seberapa banyak penduduk yang terkena masalah kesehatan tersebut. Untuk masalah kesehatan yang berupa penyakit, maka parameter yang digunakan adalah prevalence rate. Sedangkan untuk masalah lain, maka greatest member ditentukan dengan cara melihat selisih antara pencapaian suatu kegiatan pada sebuah program kesehatan dengan target yang telah ditetapkan.3. Expanding Scope

Menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan terhadap sektor lain diluar sektor kesehatan. Parameter penilaian yang digunakan adalah seberapa luas wilayah yang menjadi masalah, berapa banyak jumlah penduduk di wilayah tersebut, serta berapa banyak sektor di luar sektor kesehatan yang berkepentingan dengan masalah tersebut.4. Feasibility

Kriteria lain yang harus dinilai dari suatu masalah adalah seberapa mungkin masalah tersebut diselesaikan. Parameter yang digunakan adalah ketersediaan sumber daya manusia berbanding dengan jumlah kegiatan, fasilitas terkait dengan kegiatan bersangkutan yang menjadi masalah, serta ada tidaknya anggaran untuk kegiatan tersebut.5. Policy

Berhubungan dengan orientasi masalah yang ingin diselesaikan adalah masalah kesehatan masyarakat, maka sangat penting untuk menilai apakah masyarakat memiliki kepedulian terhadap masalah tersebut serta apakah kebijakan pemerintah mendukung terselesaikannya masalah tersebut.

Metode ini memakai lima kriteria yang tersebut diatas untuk penilaian masalah dan masing-masing kriteria harus diberikan bobot penilaian untuk dikalikan dengan penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih obyektif. Pada metode ini harus ada kesepakatan mengenai kriteria dan bobot yang akan digunakan.

Dalam menetapkan bobot, dapat dibandingkan antara kriteria yang satu dengan yang lainnya untuk mengetahui kriteria mana yang mempunyai bobot yang lebih tinggi. Setelah dikaji dan dibahas, didapatkan kriteria mana yang mempunyai nilai bobot yang lebih tinggi. Nilai bobot berkisar satu sampai lima, dimana nilai yang tertinggi adalah kriteria yang mempunyai bobot lima. Bobot 5 : paling penting

Bobot 4 : sangat penting sekali

Bobot 3 : sangat penting

Bobot 2 : pentingBobot 1 : cukup penting1. Emergency

Emergency menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan sehingga menimbulkan kematian atau kesakitan. Parameter yang digunakan dalam kriteria ini adalah IR (Incidence Rate) jika masalah yang dinilai berupa penyakit. Adapun jika yang dinilai adalah masalah kesehatan lain, maka digunakan parameter kuantitatif berupa angka kematian maupun angka kesakitan yang dapat ditimbulkan oleh permasalahan tersebut.Tabel 2.1 Skala pada score emergencyScoreKenaikan Insiden RateDBD

50 0,19

100,2 0,39

150,4 0,59

200,6 0,79

250,8 0,99

301 1,19

Tabel 2.2 Penentuan score emergency terhadap masalah Kesehatan lingkungan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cempaka PutihPeriode Januari - Desember 2012NoMasalah ABJCakupan (%)Skoring

1.PKM Cempaka Putih Timur90,2515

2.PKM cempaka putih barat9420

Pada emergency, daftar masalah program kesehatan lingkungan didapatkan skor terbesar yaitu 20 pada angka incidence rate DBD di Puskesmas Kelurahan Cempaka Putih Barat2. Greetest MemberGreetest member menunjukkan berapa banyak penduduk yang terkena masalah atau penyakit yang ditunjukkan dengan angka prevalensi. Semakin besar selisih antara target dan cakupan maka akan semakin besar score yang didapatkan.Tabel 2.3 Skala pada Score Greetest MemberScoreRange (%)

50-1,99

102-3,99

154-5,99

206-7,99

258-9,99

Keterangan:

Untuk menentukan score pada greetest member digunakan range. Range didapatkan dari selisih antara target dan cakupan dari tiap masalah. Diberikan score dari 5 sampai 25 dengan jarak tiap range sebesarsatu koma sembilan puluh sembilan agar mendapatkan nilai greetest member yang bervariasi.Tabel 2.4 Daftar masalah program Kesehatan Lingkungan di Wilayah Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih periode Januari DesemberTahun 2012No.Masalah ABJ

Target (%)Cakupan (%)Selisih (%)Score

1.PKM Cempaka Putih Timur 9590,254,7515