BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian .Namun dalam event internasional, lompat jangkit

download BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian .Namun dalam event internasional, lompat jangkit

of 55

  • date post

    28-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    212
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian .Namun dalam event internasional, lompat jangkit

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Teori

1. Hakikat Lompat Jangkit

Lompat jangkit merupakan salah satu nomor yang dilombakan

dalam kejuaraan atletik, baik sebagai single event, maupun multi event.

Pada single event, atau nomor tunggal, lompat jangkit dilombakan untuk

putra dan putri. Dalam multi event atau perlombaaan yang sifatnya

gabungan seperti Panca Lomba, Sapta Lomba, dan Dasa Lomba, nomor

lompat jangkit selalu menjadi salah satu nomor yang ikut dilombakan.

Pada dasarnya lompat jangkit tidak berbeda jauh dengan lompat

jauh. Perbedaannya, pada lompat jauh atlet hanya melakukan gerakan

lompatan satu kali, sedangkan pada lompat jangkit atlet melakukan tiga

fase lompatan, yaitu hop atau jingkat, step atau langkah, dan jump atau

lompatan. Oleh karena itu nomor lompat jangkit sering disebut juga hop,

step and jump. Namun dalam event internasional, lompat jangkit disebut

dengan istilah triple jump. Disebut demikian karena pada lompat jangkit

terdapat tiga fase gerakan lompat. Untuk dapat mengetahui secara rinci

mengenai lompat jangkit, maka akan diuraikan mengenai tinjauan gerak

lompat jangkit, sebagai berikut :

14

15

a. Tinjauan Gerak Lompat jangkit

Gerakan lompat jangkit pada dasarnya terdiri dari 6 (enam) fase

gerakan, yaitu : awalan, jingkat, langkah, lompatan, saat di udara

(melayang), dan mendarat. Keenam fase gerakan ini dilakukan secara

kontinyu atau berkelanjutan. Keeenam fase gerakan ini menjadi teknik

dasar lompat jangkit, artinya seseorang dapat melakukan gerakan lompat

jangkit apabila dapat menguasai keenam teknik dasar ini.

1) Awalan

Gerakan awalan dilakukan dengan cara lari dengan akselerasi, atau

dengan kata lain lari dengan percepatan. Menurut Guthrie (2008 : 150)

tujuan awalan adalah untuk mengembangkan gerakan naik yang

konsisten sambil mencapai kecepatan maksimum saat bertolak.

Awalan yang ideal adalah lari cepat dengan percepatan positif sampai

fase jingkat, namun keadaan ideal ini sulit dicapai karena pelompat

harus memperhitungkan ketepatan tolakan agar tidak melewati batas

tolakan yang diperbolehkan. Hasil penelitian yang dilakukan Lisa A.

Bridgett dan Nicholas P. Linthorne yang dipublikasikan dalam Journal

of Sport Sciences edisi Agustus 2006, menunjukkan bahwa

peningkatan pada kecepatan awalan menghasilkan peningkatan pula

pada jauhnya jingkat (hop distance). Sampel penelitiannya adalah dua

puluh dua pelompat jangkit yang berpengalaman (experienced triple

jumper). Berdasarkan hasil analisis biomekanik pada delapan finalis

lompat jangkit putra pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009, menunjukkan

16

bahwa kecepatan awalan berkorelasi positif terhadap jauhnya jingkat

(hop distance) dengan koefisien korelasi 0,51. Rata-rata kecepatan

awalan delapan finalis lompat jangkit putra pada Kejuaran Dunia 2009

adalah 10,14 m/s, sedangkan rata-rata jauhnya jingkat (hop distance)

adalah 6,35 meter (Mendoza, dkk. 2009. Biomechanics Report World

Championships 2009 Berlin).

2) Jingkat (Hop)

Jingkat atau hop dilakukan dengan menumpu pada satu kaki yang

terkuat, biasanya kaki kiri. Setelah kaki terkuat tersebut menumpu,

disusul melangkahkan kaki lainnya sebagai persiapan untuk

melakukan tumpuan lompatan. Rata-rata hop distance yang dicapai

delapan finalis pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 adalah 6,35 meter.

Jika rata-rata ini dikalkulasi terhadap rata-rata jauhnya lompatan total,

maka gerakan hop memberikan kontribusi sebesar 37% (Mendoza,

dkk. 2009. Biomechanics Report World Championships 2009 Berlin

hal.3). Secara visual, rangkaian gerakan lompat jangkit adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.1 Rangkaian Gerakan Lompat Jangkit.

(Mendoza, dkk. 2009. Biomechanics Report World Championships

2009 Berlin hal.5)

17

3) Langkah (Step)

Gerakan melangkah (step) terjadi segera setelah garakan jingkat

dilakukan. Gerakan langkah ini dilakukan sebagai persiapan gerakan

melompat (jump). Rata-rata step distance yang dicapai oleh delapan

finalis pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 adalah 5,29 meter

(Mendoza, dkk. 2009. Biomechanics Report World Championships

2009 Berlin hal.3). Jika rata-rata ini dikalkulasi terhadap rata-rata

jauhnya lompatan total, maka gerakan step memberikan kontribusi

sebesar 31%.

4) Lompat (Tolakan dan Saat di Udara)

Gerakan lompat pada lompat jangkit tidak berbeda jauh dengan lompat

jauh. Hanya pada lompat jangkit ini, tolakan lompatan dilakukan

setelah gerakan langkah, sedangkan pada lompat jauh dilakukan

setelah lari (run up). Tolakan untuk melakukan lompatan dilakukan

dengan menggunakan satu kaki, yang bukan digunakan untuk tumpuan

pada waktu jingkat. Rata-rata jump distance yang dicapai oleh delapan

finalis pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 adalah 5,79 meter

(Mendoza, dkk. 2009. Biomechanics Report World Championships

2009 Berlin hal.3). Jika rata-rata ini dikalkulasi terhadap rata-rata

jauhnya lompatan total, maka gerakan jump memberikan kontribusi

sebesar 33%. Sikap badan saat di udara erat kaitannya dengan gerakan

sebelumnya, yaitu kecepatan awalan, kekuatan tolakan saat jingkat,

lompat, dan lompat. Yang diutamakan pada saat badan di udara

18

bukanlah cara melayangnya, tetapi terpeliharanya keseimbangan

badan, mampu mempertahankan posisi badan di udara selama

mungkin, serta dapat meletakkan posisi tungkai pada posisi yang

menguntungkan untuk pendaratan. Ada beberapa style atau gaya yang

dapat dilakukan pada fase melayang, namun gaya tersebut tidak akan

mempengaruhi terhadap jauhnya lompatan.

5) Pendaratan (Landing)

Sikap mendarat pada lompat jangkit tidak berbeda dengan

lompat jauh, tanpa memandang gaya apa yang digunakan. Pada saat

akan mendarat kedua tungkai diluruskan ke depan, badan

dibungkukkan ke depan, kedua tangan lurus ke depan, mendarat

dengan kedua kaki secara bersamaan dengan tumit mendarat terlebih

dahulu, berat badan di pindahkan ke depan sehingga tidak jatuh ke

arah belakang.

2. Prestasi Lompat Jangkit

Dalam pencapaian prestasi lompat jangkit, ada beberapa faktor

yang menjadi pertimbangan, antara lain faktor teknis, faktor biomotor, dan

faktor anthropometris. Faktor teknis berkaitan dengan penguasaan skill

atau keterampilan. Faktor skill atau keterampilan merupakan hal yang

sangat penting dalam lompat jangkit karena ada tiga tolakan yang berbeda

untuk tiga tahap yang berbeda pula yang harus dikuasai atlet, yaitu tolakan

untuk jingkat, tolakan langkah, dan tolakan untuk lompat (jump). Dengan

demikian gerakan lompat jangkit relatif lebih kompleks dibanding gerakan

19

lompat lainnya. Hal ini berkaitan dengan efisiensi gerakan yang dilakukan

atlet.

Menurut Mark Guthrie ( 2003 : 158), kecepatan horizontal

merupakan faktor penting dalam pencapaian prestasi lompat jangkit.

Kecepatan merupakan unsur biomotor yang berkaitan dengan kualitas atau

jenis otot tungkai, namun demikian unsur ini bisa dilatihkan. Unsur

biomotor kecepatan yang dikombinasikan dengan unsur kekuatan akan

terbentuk power. Lebih lanjut Mark Guthrie (2003 : 160) menyebutkan

ada beberapa latihan teknik yang dapat meningkatkan prestasi lompat

jangkit, antara lain :

a. Lompat tiga kali berdiri : melakukan rangkaian gerakan jingkat-

langkah-lompat-melayang-mendarat dari posisi berdiri. Latihan ini

untuk meningkatkan perasaan gerak dari seluruh gerakan tanpa

menambah kecepatan.

b. Lompat awalan pendek : melakukan latihan lompatan dari awalan

lima langkah, kemudian tujuh langkah sambil menambahkan

kecepatan lari yang besar sebelum melakukan lompatan.

c. Jingkat satu kaki, latihan ini bertujuan untuk melatih tolakan dengan

melakukan serangkaian loncatan satu kaki menuruni landasan.

d. Jingkat kaki berganti : latihan ini dilakukan dengan cara meletakkan

satu kaki dengan sedikit ke depan daripada kaki lainnya, kemudian

mendorong dengan kaki belakang, dan mengarahkan lutut ke atas

mendekati dada sambil mencapai tinggi dan jarak sejauh mungkin.

20

e. Lompatan kombinasi : latihan ini dilakukan dengan rangkaian gerakan

lompatan, langkah, dan lambungan (tolakan) yang bergantian. Latihan

ini ditujukan untuk mengkoordinasikan transisi dari kaki kanan ke

kaki kiri.

f. Latihan plyometric menggunakan kotak yang berukuran, 15 cm

sampai dengan 60 cm, dengan jarak 90 cm sampai 150 cm.

3. Hakikat Latihan

Latihan merupakan kegiatan yang sistematis dalam waktu yang

relatif lama ditingkat secara progresif dan individual yang mengarah pada

ciri-ciri fungsi fisiologis dan psikologis manusia untuk mencapai sasaran

yang telah ditentukan (Bompa, 1990 : 3). Menurut Nossek. J (1995:3)

Latihan adalah suatu proses atau dinyatakan dengan kata lain, periode

waktu yang berlangsung selama beberapa tahun,sampai atlet tersebut

mencapai standar penampilan yang tinggi . Menurut