BAB II KAJIAN PUSTAKA - II... · Selanjutnya Anthony Robbins (dalam Trianto, 2009 : ... maka dari...

download BAB II KAJIAN PUSTAKA - II... · Selanjutnya Anthony Robbins (dalam Trianto, 2009 : ... maka dari itu

of 25

  • date post

    11-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KAJIAN PUSTAKA - II... · Selanjutnya Anthony Robbins (dalam Trianto, 2009 : ... maka dari...

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab II ini berisi kajian teori tentang belajar yang meliputi hakikat

belajar, teori belajar, hakikat pembelajaran, prinsip pembelajaran, model

pembelajaran. Selain itu, terdapat juga kajian pustaka mengenai proses

belajar dan hasil belajar. Bab ini juga membahas mengenai Matematika.

Terdapat ulasan mengenai model pembelajaran Problem Solving Learning

dengan Math Menu yang meliputi pengertian model pembelajaran

Problem Solving Learning dan Math Menu, alasan peneliti menggunakan

model pembelajaran Problem Solving Learning dengan Math Menu dan

sintak penerapan model pembelajaran Problem Solving Learning dengan

Math Menu. Penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis

tindakan akan tersusun secara sistematis dalam Bab II ini.

2.1 Belajar

2.1.1 Hakikat Belajar

Menurut Hilgard dan Bower (dalam Purwanto, 2002: 84), belajar

berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu

situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang

dalam situasi itu, perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar

kecenderungan respons pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan

sesaat, misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya. Menurut

Gagne (dalam Purwanto, 2002: 84), belajar terjadi apabila suatu situasi

stimulus bersama dengan isi ingatan memengaruhi siswa sehingga

perbuatannya berubah dari waktu ke waktu sebelum ia mengalami situasi

itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Menurut Travers (dalam

Suprijono, 2009: 2), belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian

tingkah laku. Selain itu menurut Morgan (dalam Purwanto, 2002: 84),

belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku

yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Menurut

7

Slameto, belajar ialah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan

lingkungannya.

Selanjutnya Anthony Robbins (dalam Trianto, 2009 : 15)

mendefinisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara

sesuatu (pengetahuan) yang baru. Sedangkan menurut Jerome Brunner

(dalam Romberg & Kaput, 1999), belajar adalah suatu proses aktif

dimana siswa membangun (mengkonstruk) yang sudah dimilikinya.

Secara lengkap Slavin (dalam Trianto, 2009 : 16) mendefinisikan belajar

sebagai learning is usually defined as a change in an individual caused

by experienced. Changes caused by development (such as growing taller)

are not instances of learning. Neither are characteristics of individuals

that are present at birth (such as reflexes and respons to hunger or pain).

However, humans do so much learningfrom the day of their birth (and

some say earlier) that learning and development are inseparably linked.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah suatu proses dari sebuah aktivitas yang dilakukan oleh seorang

individu untuk membuat perubahan pada diri dari setiap individu, yang

awalnya belum tahu menjadi tahu, yang awalnya tidak mampu menjadi

mampu, yang awalnya belum terampil menjadi terampil, yang bisa

membuat perubahan perilaku pada diri dari setiap individu.

2.1.2 Teori Belajar

Terdapat berbagai teori belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli,

diantaranya:

a) Teori Gestalt

Teori yang dikemukakan oleh Koffka dan Kohler dari Jerman ini

berpendapat bahwa yang penting dalam belajar adalah adanya

8

penyesuaian pertama yang memperoleh response yang tepat untuk

memecahkan problem yang dihadapi. Menurutnya, belajar bukan

mengulangi hal-hal yang harus dipelajari tetapi mengerti atau

memperoleh insight.

Sifat-sifat belajar dengan insight ialah: (1) Insight

tergantung dari kemampuan dasar. (2) Insight

tergantung dari pengalaman masa lampau yang

relevan. (3) Insight hanya timbul apabila situasi

belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala

aspek yang perlu dapat diamati. (4) Insight adalah

hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit.

(5) belajar dengan insight dapat diulangi. (6) Insight

sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi

situasi-situasi yang baru.

b) Teori Belajar J. Bruner

Bruner mengatakan bahwa belajar tidak untuk mengubah tingkah

laku seseorang, tetapi untuk mengubah kurikulum sekolah menjadi

sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar lebih banyak dan

mudah. Menurutnya, seharusnya sekolah menyediakan kesempatan

bagi siswanya untuk maju dnegan cepat sesuai dengan kemampuan

masing-masing siswa dalam mata pelajaran tertentu. Di dalam

proses belajar hal terpenting yang harus dimiliki setiap siswa

adalah partisipasi aktif, untuk itu Bruner menghargai adanya

perbedaan kemampuan. Bruner berpendapat bahwa untuk

meningkatkan proses belajar kita memerlukan dengan apa yang

dinamakan lingkungan (discovery learning environment), ialah

lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan-

penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip

dengan yang sudah diketahui. Di dalam lingkungan tersebut, siswa

akan menemui masalah dan hambatan yang bermacam-macam

tergantung usia masing-masing (berbeda-beda). Selain itu, di dalam

lingkungan banyak hal yang dipelajari siswa dan digolongkan

menjadi:

9

(1) Enactive : seperti belajar naik sepeda, yang harus

didahului dengan bermacam-macam keterampilan

motorik, (2) iconic : seperti mengenal jalan yang

menuju ke pasar, mengingat di mana bukunya yang

penting diletakkan, (3) symbolic : seperti

menggunakan kata-kata, menggunakan formula.

c) Teori Belajar Piaget

Piaget menyampaikan pendapatnya tentang perkembangan proses

belajar pada anak-anak adalah sebagai berikut: (1) anak mempunyai

struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka bukan

merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka mempunyai

cara yang khas untuk menyatakan kenyataan dan untuk menghayati

dunia sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan sendiri dalam

belajar. (2) perkembangan mental pada anak melalui tahap-tahap

tertentu, menurut suatu urutan yang sama bagi semua anak. (3)

walaupun berlangsungnya tahap-tahap perkembangan itu melalui

suatu urutan tertentu, tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu

tahap ke tahap yang lain tidaklah selalu sama pada anak. (4)

perkembangan mental anak dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu :

kemasakan, pengalaman, interaksi sosial, equilibration. (5) ada 3

tahap perkembangan yaitu : berpikir secara intuitif 4 tahun,

beroperasi secara konkret 7 tahun, dan beroperasi secara formal

11 tahun.

d) Teori dar R. Gagne

Gagne memberikan dua definisi terhadap masalah belajar, yaitu :

belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam

pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku dan belajar

adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh

dari instruksi. Manusia sudah mulai belajar sejak ia dilahirkan.

Sejak bayi manusia sudah belajar untuk berinteraksi dengan

lingkungannya. Kemudian dilanjutkan dnegan mulai belajar untuk

berbicara dan menggunakan bahasa. Sebenarnya ada dua tugas

anak dalam belajar, tugas yang pertama adalah meneruskan

10

sosialisasi dan tugas yang kedua adalah belajar untuk menggunakan

simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya. Gagne

juga menyatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari manusia

dapat dibagi menjadi lima kategori atau yang lebih sering disebut

sebagai The domains of learning, yaitu:

(1) keterampilan motoris yang memerlukan koordinasi

dari berbagai gerakan badan, misalnya melempar bola,

main tenis, mengemudi mobil, mengetik huruf R.M, dan

sebagainya. (2) informasi verbal yang dapat dijelaskan

orang melalui berbicara, menulis, menggambar; dalam

hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan

sesuatu ini perlu inteligensi. (3) kemampuan intelektual

adalah kemampuan belajar manusia yang mengadakan

interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan

simbol-simbol, misalnya membedakan huruf m dan n,

meyebut tanaman yang sejenis. (4) strategi kognitif

merupakan organisasi keterampilan internal yang perlu

untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini

berbeda dengan kemampuan intelektual karena

ditujukan ke dunia luar, dan tidak dapat dipelajari hanya

dengan berbuat satu kali serta memerlukan perbaikan-

perbaikan secara terus menerus. (5) sikap adalah

kemampuan yang tidak dapat dipelajari dengan ulang-

ulangan, tidak tergantung atau dipengaruhi oleh

hubungan verbal seperti halnya domain sikap yang lain.

Sikap ini penting dalam proses belajar, tanpa

kemampuan ini belajar tak akan berhasil dengan baik.

2.1.3 Hakikat Pembelajaran

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 17) mendefinisikan kata

pembelajaran berasal dari ka