BAB II KAJIAN PUSTAKA - ... grup pemain drama dan dapat juga berarti segala bentuk tontonan yang...

download BAB II KAJIAN PUSTAKA -  ... grup pemain drama dan dapat juga berarti segala bentuk tontonan yang dipentaskan di depan orang banyak. Istilah drama yang ... naskah drama, yakni ...

of 48

  • date post

    06-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    220
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KAJIAN PUSTAKA - ... grup pemain drama dan dapat juga berarti segala bentuk tontonan yang...

  • 7

    BAB IIKAJIAN PUSTAKA

    A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang RelevanPada bagian ini dijelaskan tentang, (a) hakikat naskah drama, (b) analisis

    struktural pada drama, (c) kajian strukturalisme genetik, (d) hakikat nilai

    pendidikan, (e) relevansi naskah drama Langite Wis Padhang karya Budi Waluyo

    dalam pembelajaran apresiasi drama dan penelitian yang relevan adalah sebagai

    berikut:

    1. Hakikat Naskah DramaPada hakikat naskah drama akan dijelaskan tentang pengertian drama dan

    pengertian naskah drama sebagai berikut:

    a. Pengertian DramaMenurut Pratiwi dan Siswiyanti (2014: 14) drama merupakan cerita yang

    dikembangkan dengan berlandaskan pada konflik kehidupan manusia dan

    dituangkan dalam bentuk dialog untuk dipentaskan dihadapan penonton. Drama

    dapat disikapi dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk karya sastra (text play) dan

    drama teater (pementasan). Naskah drama (text play) dapat diapresiasi melalui

    kegiatan-kegiatan membaca naskah drama. Sebaliknya, drama dalam bentuk

    teater dapat diapresiasi melaui kegiatan menonton atau menyaksikan drama.

    Selanjutnya Waluyo (2002: 2) berpendapat drama berasal dari bahasa Yunani

    draomai, yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Terdapat istilah

    yang sangat terkait dengan drama, yaitu teater. Teater juga berasal dari bahasa

    Yunani theatron, yang berarti tempat atau gedung pertunjukan. Kata teater

    mempunyai makna yang lebih luas karena dapat berarti drama, gedung

    pertunjukan, panggung, grup pemain drama dan dapat juga berarti segala bentuk

    tontonan yang dipentaskan di depan orang banyak. Istilah drama yang lain, yaitu

    sandiwara. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa sandi yang berarti

    rahasia dan warah yang berarti ajaran. Sandiwara berarti ajaran yang

    disampaikan secara rahasia karena dalam sandiwara mengandung pesan atau

    ajaran bagi penontonnya. Jika menyebut istilah drama, maka terdapat dua

  • 8

    kemungkinan, yaitu drama naskah dan drama pentas. Namun, dalam penelitian

    ini drama naskahlah yang menjadi objek kajian, drama naskah merupakan dasar

    dari drama pentas, naskah drama dapat dijadikan bahan studi sastra, dapat

    dipentaskan, dan dapat dipagelarkan dalam media audio, berupa sandiwara radio

    atau kaset. Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan

    dengan puisi dan prosa, drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu

    jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik

    batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.

    Senada dengan Wiyanto (2002: 2) bahwa kata teater berasal dari bahasa

    Inggris theatre yang berarti gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya,

    dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang

    dipertunjukkan di depan orang banyak. Hubungan kata teater dan drama

    bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang

    mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau

    karya sastra. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah teater

    berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan drama berkaitan dengan

    lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi

    dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh

    penonton. Drama adalah ragam sastra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan

    untuk dipertunjukkan di atas pentas dengan naskah cerita pendek atau novel

    berisi cerita lengkap dan langsung tentang peristiwa yang terjadi. Sebaliknya,

    naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penuturan ceritanya

    diganti dengan dialog para tokoh. Bahasa yang digunakan dalam drama juga

    lebih cair daripada prosa dan puisi karena bahasa yang digunakan adalah bahasa

    sehari-hari. Jadi, dapat diketahui bahwa naskah drama mengutamakan ucapan-

    ucapan atau pembicaraan para tokoh sehingga dari pembicaraan tersebut

    penonton dapat menangkap dan mengerti seluruh ceritanya. Drama bisa

    diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi,

    drama sering dikombinasikan dengan musik dan tarian. Drama adalah hidup

    yang dilukiskan dengan sampai sekarang, paling tidak untuk orang Yunani,

    masih dianggap sebagai seni campuran karena drama yang bersifat sastra juga

  • 9

    terdiri atas tontonan yang harus memanfaatkan keahlian aktor, sutradara,

    penanggung jawab kostum, dan ahli listrik (Wellek dan Warren, 1995: 30). Jadi,

    drama merupakan suatu bentuk sastra yang dapat merangsang gairah dan

    memunculkan keasyikan bagi pemain dan penonton bertujuan menggambarkan

    kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan dan

    dialog.

    Drama yang dikenal masyarakat memiliki variasi dalam jalan ceritanya.

    Seperti yang dikemukakan Suroto (1989: 76 78), sebagai pertunjukan drama

    dibedakan menjadi drama tradisional dan drama modern. Drama tradisional

    merupakan drama yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Drama tersebut juga

    memiliki unsur-unsur pembangun cerita seperti drama-drama yang lain. Drama

    modern berbeda dengan drama tradisional. Jika drama tradisional berkembang

    secara alamiah dan berkaitan dengan adat, maka drama modern merupakan

    drama yang sengaja dibuat oleh pengarang dan sutradara, membedakan drama

    jika dilihat dari penyajiannya, yaitu: (1) drama biasa; (2) opera; (3) operet; (4)

    pantomim; dan (5) sendratari. Selain itu, ia juga membedakan drama

    berdasarkan isi dan sifatnya, yakni: (1) drama absurd; (2) drama ajaran; (3)

    drama duka; (4) drama dukaria; (5) drama lirik; (6) drama liturgi; (7) drama ria;

    (8) drama puisi; serta (9) drama sejarah.

    b. Pengertian Naskah DramaMenurut Waluyo (2002: 2) menambahkan bahwa naskah drama adalah

    salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda

    dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis

    dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai

    kemungkinan dipentaskan. Berdasarkan pengertian diatas naskah drama dapat

    diartikan suatu karangan atau cerita. Dan berupa tindakan atau perbuatan yang

    masih berbentuk teks atau tulisan yang belum diterbitkan (pentaskan) dan akan

    diteliti dalam penelitian ini adalah naskah drama. Naskah drama (lakon) pada

    umumnya disebut skenario, berupa susunan (komposisi) dari adegan-adegan

    dalam penuangan sebagai karya tulis, biasanya memiliki keterbatasan sesuai

    dengan fitrahnya. Hal ini senada dengan Kosasih (2003: 268) drama yang

  • 10

    disebut juga sandiwara. Kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, sandi yang

    berarti tersembunyi, dan warah yang berarti ajaran. Dengan demikian, sandiwara

    adalah ajaran yang tersembunyi dalam tingkah laku dan percakapan. Naskah

    drama pada umumnya disebut skenario, berupa susunan atau komposisi dari

    adegan-adegan dalam penuangan sebagai karya tulis, biasanya memiliki

    keterbatasan sesuai dengan fitrahnya.

    Wirajaya dan Sudarmawarti (2008: 4243), hal-hal yang harus

    diperhatikan dalam menulis naskah drama, yakni: (a) tema harus sesuai dengan

    tujuan pementasan; (b) konflik disusun dengan tajam menggunakan dialog yang

    mantap; (c) watak yang diciptakan harus memungkinkan terjadinya pertentangan

    antartokoh; (d) bahasa yang digunakan mudah dipahami dan komunikatif; serta

    (e) layak untuk dipentaskan. Wujud naskah drama yang berupa dialog-dialog,

    menuntut penggunaan ragam bahasa yang sesuai dengan konteks drama yang

    diangkat. Ada beberapa naskah drama yang menggunakan ragam bahasa sehari-

    hari, tetapi ada pula yang berbentuk puisi-puisi. Wujud naskah drama yang

    berupa dialog-dialog, menuntut penggunaan ragam bahasa yang sesuai dengan

    konteks drama yang diangkat. Ada beberapa naskah drama yang menggunakan

    ragam bahasa sehari-hari, tetapi ada pula yang berbentuk puisi-puisi. Namun,

    ragam bahasa yang digunakan tetap harus mengacu pada konvensi sastra.

    Seperti yang diungkapkan oleh Endraswara (2011: 13-14) muatan positif

    yang terdapat dalam drama, yaitu (a) drama agaknya merupakan sarana yang

    paling efektif dan langsung untuk melukiskan dan menggarap konflik-konflik

    sosial, dilema moral, dan problema personal tanpa menanggung konsekuensi-

    konsekuensi khusus dari aksi-aksi kita, (b) aktor-aktor drama memaksa kita

    untuk memusatkan perhatian kita pada protagonis lakon, untuk merasakan

    emosi-emosinya, dan untuk menghayati konflik-konfliknya, justru untuk ikut

    sama-sama merasakan penderitaan yang mengurangi pembinaan dan

    ketidakadilan yang dialami pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh drama, (c) melalui

    tragedi, misalnya, dengan sedikit terluka di hati, dapat belajar bagaimana hidup

    dengan penuh derita, dapat mengajarkan dan memberikan wawasan suatu

    ketabahan dan dengan kemuliaan dapat menandinginya, (d) melalui komedi, kita

  • 11

    dapat menikmati peluapan gelak tawa sebagai suatu pembukaan tabir rahasia

    mengenai untuk apa manusia menentang atau melawan dan untuk apa pula

    manusia mempertahankan atau membela sesuatu, (e) melodrama yang ditulis

    dengan baik, fantasi, atau farce, dapat mengusir keengganan (skepticism),

    memperluas imajinasi kita, dan untuk sebentar membawa diri keluar dari diri

    kita sendiri, sehingga tak mengherankan jika drama telah pula dikenal berfungsi

    terapis, (f) para psikiatris telah dikenal tahu menggunakan psikodrama sebagai

    suatu sarana yang efektif yang dapat membuat pasien dapat mengingat kembali

    pengalaman masa l