BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sikap Ilmiah 2.1.1 II.pdf  tinggi, sikap jujur, sikap kritis, sikap...

download BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sikap Ilmiah 2.1.1 II.pdf  tinggi, sikap jujur, sikap kritis, sikap luwes

of 64

  • date post

    03-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sikap Ilmiah 2.1.1 II.pdf  tinggi, sikap jujur, sikap kritis, sikap...

15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sikap Ilmiah

2.1.1 Sikap

Sikap atau yang dalam bahasa Inggris disebut attitude menurut Purwanto

(2011:141-142) adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang.

Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu

perangsang atau situasi yang dihadapi. Dalam beberapa hal, sikap

merupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai

reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang

(Like) atau tidak senang (Dislike), menurut dan melaksanakannya atau

menjauhi/menghindari sesuatu.

Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap sesuatu

perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu

masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman,

pengetahuan, intensitas perasaan, dan juga situasi lingkungan. Bagaimana

sikap kita terhadap berbagai hal didalam hidup kita adalah termasuk

kedalam kepribadian kita. didalam kehidupan manusia, sikap selalu

mengalami perubahan dan perkembangan. Peranan pendidikan dalam

pembentukan sikap pada anak-anak didik adalah sangat penting.

Sikap menurut Gagne yaitu pembelajar telah memperoleh kondisi mental

yang mempengaruhi pilihan untuk bertindak. Kecenderungan untuk

memilih objek yang terdapat pada diri pembelajar, buka kinerja spesifik

16

disebut sikap. Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam

pengambilan tindakan, lebih-lebih apabila terbuka berbagai kemungkinan

untuk bertindak (Nizhamiyah, 2016 : 66).

2.1.2 Sikap Ilmiah

Menurut Muslich (dalam Ulfa, 2016 : 66-67) sikap ilmiah

merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau

akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah

mengandung dua makna yaitu attitude toward science dan attitude of

science. Sikap yang pertama mengacu pada sikap terhadap sains

sedangkan sikap yang kedua mengacu pada sikap yang melekat setelah

mempelajari sains.

Sikap Ilmiah menurut Fakrudin, dkk. (2010:18-19) merupakan salah

satu bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu. Sikap ilmiah

peserta didik dalam pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar

peserta didik. Sikap ilmiah peserta didik pada dasarnya tidak berbeda

dengan keterampilan-keterampilan lain (kognitif, social, proses dan

psikomotor). Sikap ilmiah dalam pembelajaran sangat diperlukan oleh

peserta didik karena dapat memotivasi kegiatan belajarnya. Dalam sikap

ilmiah terdapat gambaran bagaimana peserta didik seharusnya bersikap

dalam belajar, menanggapi suatu permasalahan, melaksanakan suatu tugas

dan mengembangkan diri. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi hasil

dari kegiatan belajar peserta didik ke arah yang positif. Sikap ilmah dapat

dianggap sebagai sesuatu yang kompleks dimana nilai-nilai dan norma-

17

norma yang mengikat pada ahli science (Suryani dan Sudargo, 2015 : 128-

129).

Menurut Maretasari, E.dkk (2012 : 28) mengatakan bahwa salah satu

cara untuk mengembangkan sikap ilmiah adalah dengan memperlakukan

peserta didik seperti ilmuwan muda sewaktu anak mengikuti kegiatan

pembelajaran sains. Keterlibatan peserta didik secara aktif baik fisik

maupun mental dalam kegiatan laboratorium akan membawa pengaruh

pembentukan pola tindakan peserta didik yang selalu didasarkan pada hal-

hal yang bersifat ilmiah. Peserta didik yang aktif umumnya memiliki hasil

belajar yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang

pasif. Sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, jujur, terbuka terhadap pikiran,

tekun dan teliti dalam penelitian berhubungan dengan cara mereka

bertindak dan menyelesaikan masalah, maka hasil belajar yang diperoleh

menjadi maksimal.

2.1.3 Indikator Sikap Ilmiah

Terdapat enam indicator sikap ilmiah yang diadaptasi dari science for all

Americans menurut Carin dan Sund (dalam Suyati dan Sudargo, 2015 :

129) yaitu :

1. Memupuk rasa ingin tahu

Para ahli sains dan peserta didik dikendalikan oleh rasa ingin tahu,

yaitu suatu keingintahuan yang sangat kuat untuk mengetahui dan

memahami alam sekitar.

2. Mengutamakan bukti

18

Ahli sains mengutamakan bukti untuk mendukung kesimpulan dan

klaimnya.

3. Bersikap skeptis

Ahli sains ataupun peserta didik terkadang harus merasa ragu atas

kesimpulan yang dibuatnya, ketika ditemukan bukti-bukti yang baru

sehingga dapat mengubah kesimpulannya.

4. Menerima perbedaan

Ahli sains dan peserta didik harus bisa menerima perbedaan.

Perbedaan sudut pandang harus dihormati sampai menemukan

kecocokan dengan data. Sikap menerima perbedaan merupakan sikap

seseorang yang tidak merasa ia yang paling hebat. Peserta didik

bersedia mengakui orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya,

bahwa mungkin pendapatnya yang salah, sedangkan pendapat orang

lain yang benar. Peserta didik akan menerima gagasan orang lain

setelah diuji. Agar menambah ilmu pengetahuan peserta didik bersedia

belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan orang

lain. Peserta didik mempunyai tenggang rasa atau sikap toleran yang

tinggi, jauh dari sikap angkuh.

5. Dapat bekerjasama

Ahli sains tidak baik mampu bekerjasama dengan orang lain dan tidak

individualis atau mementingkan diri sendiri. Ia meyakini bahwa

dirinya tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.

6. Bersikap positif terhadap kegagalan

19

Pada peserta didik, sikap positif yang dimaksudkan merupakan sikap

peserta didik yang selalu berharap baik dan tidak mudah putus asa.

Dirjen Mandikdasmen dalam SK Nomor 12/C/ KEP/TU/2008 tentang

Bentuk dan Tata Cara Penyusunan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik

Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa aspek afektif

yang dominan pada mata pelajaran IPA meliputi rasa ingin tahu yang

tinggi, sikap jujur, sikap kritis, sikap luwes dan teliti. Aspek tersebut

termasuk dalam komponen sikap yakni sikap ilmiah (Fernandianto, 2013).

Adapula kriteria yang dapat digunakan oleh peneliti untuk meningkatkan

sikap ilmiah yang diadaptasi dari Ferdinanto yakni :

a. Sikap ingin tahu

b. Sikap luwes

c. Sikap jujur

d. Sikap kritis

e. Ketelitian

2.1.4 Macam-macam Sikap Ilmiah

Menurut Muslich (dalam Ulfa, 2016 : 67) sikap ilmiah yang dimaksud

adalah sebagai berikut :

a. Sikap ingin tahu

Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai

hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya.

b. Sikap kritis

20

Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak

mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding

kelebihan kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya,

dan sebagainya.

c. Sikap terbuka

Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat,

argumentasi, kritik dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya

pendapat, argumentasi, dan keterangan orang lain tersebut tidak

diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.

d. Sikap objektif

Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya,

tanpa diikuti perasaan pribadi.

e. Sikap rela menghargai karya orang lain

Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan

menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat

yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat

orang lain.

f. Sikap berani mempertahankan kebenaran

Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan

lapangan atau pengembangan walaupun bertentangan atau tidak sesuai

dengan teori atau dalil yang ada.

g. Sikap menjangkau ke depan

21

Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang

disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.

2.2 Kemampuan Analisis

2.2.1 Pengertian

Kemampuan menurut Izzati (2017 : 74) adalah kesanggupan; kecakapan;

kekuatan dalam melakukan sesuatu. Menurut Suherman dan Sukjana dalam Izzati

(2017 : 74) menyatakan bahwa kemampuan analisis adalah kemampuan untuk

merinci atau menguraikan suatu masalah (soal) menjadi bagian-bagian yang lebih

kecil (komponen) serta mampu untuk memahami hubungan antara bagian-bagian

tersebut.

Sedangkan analisis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi maksud dan

hubungan-hubungan kesimpulan yang benar diantara pernyataan, pertanyaan,

konsep, gambaran atau bentuk lain yang mewakili yang dimaksudkan untuk

mengungkapkan keyakinan, pendapat, pengalaman, alasan, informasi atau opini

(Setiawan, 2017:61). Jadi, kemampuan analisis adalah kemampuan untuk merinci

atau menguraikan suatu masalah (soal) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil

(komponen ) serta mampu untuk memahami hubungan diantara bagian-bagian

tersebut.

2.2.2 Pengelompokan Kemampuan Analisis Menurut Anderson dan

Krathwohl

Menganalisis melibatkan proses memecah-mecah materi jadi bagian-

b