BAB II (Autosaved) (Autosaved)

of 21/21
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Umum Menurut Setijowarno dalam Morlok (2003: 1) ”Transportasi adalah memindahkan atau mengangkut dari suatu tempat ketempat lain”. Defenisi lain menurut Setijowarno dalam Bowersox (2003: 1) “Transportasi adalah suatu perpindahan barang atau penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain, dengan produk yang digerakkan atau dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan atau diinginkan”. Dari beberapa pengertian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa transportasi adalah perpindahan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan sarana ataupun tanpa sarana. Seiring dengan sejak keberadaan umat manusia di muka bumi ini, maka aktivitas transportasi juga dimulai. Mulai dari aktivitas transportasi yang bersifat alami yang kemudian berkembang dengan menggunakan teknologi modern sesuai dengan perkembangannya. Berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Batusangkar, aktivitas masyarakat kota juga semakin tinggi, seperti kegiatan perekonomian dan kegiatan sosial
  • date post

    10-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    228
  • download

    0

Embed Size (px)

description

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang Dalam sejarah perkembangan manusia terhadap perkembangan kota dapat dilihat bahwa manusia selalu berkeinginan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan keperluan yang dibutuhkan. Keperluan tersebut adalah kebutuhan sarana transportasi yang disebut moda atau angkutan. Kebutuhan akan sarana transportasi dari waktu ke waktu selalu mengalami peningkatan akibat semakin banyaknya kegiatan-kegiatan yang membutuhkan jasa transportasi, yaitu angkutan umum sehingga mengakibatkan pertambahan intensitas pergerakan lalu lintas antar kota. Sebagai contoh angkutan umum penduduk antar kota dalam provinsi dari Batusangkar ke Bukittinggi yang terus menerus mengalami peningkatan. Seiring dengan hal tersebut jenis sarana atau moda transportasi yang ditawarkan harus semakin berkembang agar pelayanannya bisa dimanfaatkan sehingga dapat mendukung dan memperlancar kegiatan tersebut. Permasalahan utama timbul dari kinerja angkutan umum khususnya trayek Batusangkar–Bukittinggi ini yaitu ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan yang dimaksud dapat terjadi karena ketidaksesuaian antara transport demand (permintaan akan transportasi) dan transport supply (ketersediaan untuk mengantisipasi kebutuhan pergerakan) atau faktor-faktor yang relevan lainnya yang pada dasarnya menyebabkan pergerakan manusia dan barang tidak efisien dan efektif. Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilaksanakan pada hari Jumat, 2 Oktober 2015 dari pukul 07.00 sampai 15.00 WIB, terjadi ketidakseimbangan jumlah angkutan mobil penumpang umum trayek Batusangkar-Bukittinggi dengan jumlah penumpang. Jumlah angkutan mobil penumpang umum yang tersedia sebanyak 9 kendaraan tidak bisa menampung banyaknya penumpang dari arah Bukittinggi sebanyak 22 orang sedangkan kapasitas yang tersedia itu hanya dapat menampung 19 orang penumpang sehingga penumpang terpaksa berdesakan satu sama lain. Sedangkan arah Batusangkar armada lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penumpang. Atas dasar permasalahan-permasalahan di atas, maka dibutuhkan penelitian “Tinjauan Kinerja Pelayanan Angkutan Umum antar Kota (Studi Kasus: Batusangkar – Bukittinggi)”.B. Identifikasi Masalah Sebagaimana yang dikemukakan dalam latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah yaitu:1. Jumlah armada angkutan umum dari Bukittinggi-Batusangkar mengalami kekurangan2. Ketidaknyamanan penumpang pada bus angkutan umum trayek Batusangkar-Bukittinggi.C. Batasan Masalah Sesuai dengan identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi masalah yaitu tentang jumlah armada angkutan umum dari PO Karya Abadi.D. Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalah yaitu:1. Berapa jumlah kendaraan yang tersedia dan apa saja faktor muatan penumpang pada daerah survey?2. Mengetahui berapa waktu tempuh dan kecepatan kendaraan umum pada daerah survey?E. Tujuan Proyek Akhir Adapun tujuan penulisan proyek akhir ini adalah:1. Mengevaluasi jumlah kendaraan yang tersedia dan apa saja faktor muatan penumpang angkutan umum trayek Batusangkar-Bukittinggi.2. Mengetahui waktu tempuh dan kecepatan kendaraan angkutan umum trayek Batusangkar-Bukittinggi.F. Manfaat Proyek Akhir Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi dinas perhubungan serta perusahaan angkutan umum guna meningkatkan kinerja angkutan umum yang melayani trayek Batusangkar – Bukittinggi dan juga bagi mahasiswa khususnya jurusan teknik sipil bisa menambah ilmu pengetahuan serta dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian yang relevan dimasa yang akan datang.

Transcript of BAB II (Autosaved) (Autosaved)

BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. Umum

Menurut Setijowarno dalam Morlok (2003: 1) Transportasi adalah memindahkan atau mengangkut dari suatu tempat ketempat lain. Defenisi lain menurut Setijowarno dalam Bowersox (2003: 1) Transportasi adalah suatu perpindahan barang atau penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain, dengan produk yang digerakkan atau dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan atau diinginkan. Dari beberapa pengertian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa transportasi adalah perpindahan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan sarana ataupun tanpa sarana.

Seiring dengan sejak keberadaan umat manusia di muka bumi ini, maka aktivitas transportasi juga dimulai. Mulai dari aktivitas transportasi yang bersifat alami yang kemudian berkembang dengan menggunakan teknologi modern sesuai dengan perkembangannya. Berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Batusangkar, aktivitas masyarakat kota juga semakin tinggi, seperti kegiatan perekonomian dan kegiatan sosial masyarakat. Peningkatan aktifitas atau kegiatan akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah kegiatan perpindahan orang dan barang. Khusus dalam Kota Batusangkar sebagian besar masyarakat menggunakan moda transportasi darat dengan jenis moda angkutan umum penumpang.B. Angkutan Umum

Angkutan umum merupakan salah satu media transportasi yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan membayar tarif. Macam-macam angkutan umum antara lain ojek sepeda, sepeda motor, becak, mikrolet, bus umum (kota dan antar kota), kereta api, kapal feri, dan pesawat. Pengguna jasa dari angkutan umum ini bervariasi, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar dan lain-lain. Layanan angkutan umum ini dapat berupa angkutan penumpang seperti angkutan kota, bus, taksi, travel dan lain-lain dan ada yang melayani angkutan barang seperti truk.1. Pengelolaan Angkutan Umum

Untuk mendapatkan kepuasan semua pihak, maka angkutan umum harus dikelola dengan baik yakni direncanakan dengan sebaik-baiknya dan diimplementasikan sesuai dengan rencana tersebut. Selama ini proporsi keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan angkutan umum sangat besar, karena dengan adanya keterlibatan masyarakat semua aspirasi dan keinginan mereka dapat ditampung dan diimplementasikan sesuai dengan rambu-rambu yang ada.

Sementara itu dari pihak pemerintah, motivasi untuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaan angkutan umum adalah karena pemerintah tidak memiliki alokasi dana untuk pengadaan. Namun sebenarnya pemerintahlah yang paling berwenang menentukan kebijakan sekaligus paling bertanggungjawab terhadap keberadaan angkutan umum bagi pergerakan masyarakat.

2. Pelayanan Kendaraan atau Angkutan Umum Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1993 tentang Angkutan jalan, mobil bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1993 tentang Angkutan Jalan, bahwa untuk pelayanan angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan teratur, dilakukan dalam jaringan trayek.Ciri-ciri pelayanan angkutan umum sebagai berikut:a. Khusus mengangkut perpindahan penumpang dari satu moda ke moda lain

b. Berjadwal.

c. Menggunakan mobil bus dan /atau mobil penumpang.

d. Menggunakan plat tanda nomor warna dasar kuning dengan tulisan hitam.Ada beberapa indikator tingkat pelayanan angkutan umum, yaitu:1) Tarif Tarif adalah harga dari jasa angkutan yang diproduksi, dan besarnya tarif ini akan menentukan besarnya penerimaan yang dapat diperoleh dari penjualan jasa. Tarif juga bisa diartikan sebagai biaya yang harus dikeluarkan setiap kali bepergian atau setiap kali mengirim barangnya dari satu daerah ke daerah lainnya. Tujuan tarif adalah untuk mendorong terciptanya penggunaan sarana dan prasarana pengangkutan secara optimum dengan mempertimbangkan rute layanan.2) Kenyamanan Kenyamanan bus meliputi kenyamanan fisik penumpang, keindahan dan lingkungan. Kenyamanan fisik penumpang meliputi kenyamanan dalam kendaraan maupun di tempat perhentian, misalnya kenyamanan tempat duduk dan tempat berdiri, kemudahan pada waktu masuk dan keluar kendaraan, tempat meletakan barang dan lain-lain. Keindahan meliputi tempat duduk yang bersih, tempat perhentian yang menarik, sedangkan kenyamanan meliputi perlindungan lingkungan dari polusi udara dan kebisingan.3) Trayek

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1993, trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak terjadwal. Sedangkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 pasal 5 menyebutkan trayek pengangkutan orang dengan kendaraan umum dilayani dengan:a) Trayek tetap dan teraturAdalah pelayanan angkutan yang dilakukan dalam jaringan trayek secara tetap dan teratur, dengan jadwal tetap atau tidak terjadwal. Misalnya bus besar, bus sedang, bus kecil, mikrolet dan sebagainya.b) Tidak dalam trayekAdalah pelayanan angkutan umum yang dilakukan tidak dalam jaringan trayek melainkan dilakukan dalam daerah operasional tertentu. Misalnya travel dengan daerah operasional Batusangkar. Untuk pelayanan angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan teratur, diatur dalam jaringan trayek. Jaringan trayek tersebut antara lain:(1) Trayek antar kota antar propinsi yaitu trayek yang melalui lebih dari satu wilayah Provinsi Daerah Tingkat I, mempunyai ciri-ciri pelayanan sebagai berikut:(a) Mempunyai jadwal tetap.(b) Pelayanan cepat.(c) Dilayani oleh mobil bus umum.(d) Tersedianya terminal penumpang tipe A pada awal keberangkatan.(e) Prasarana jalan yang dilalui memenuhi ketentuan kelas jalan.(2) Trayek antar kota dalam propinsi yaitu trayek yang melalui antar daerah tingkat II dalam satu wilayah Provinsi Daerah Tingkat I, diselenggarakan dengan memenuhi ciri-ciri pelayanan sebagai berikut:(a) Mempunyai jadwal tetap.(b) Pelayanan cepat dan/atau lambat.(c) Dilayani oleh mobil bus umum.(d) Tersedianya terminal sekurang-kurangnya tipe B, pada awal pemberangkatan, persinggahan dan terminal tujuan.(e) Prasarana jalan yang dilalui memenuhi ketentuan kelas jalan.(3) Trayek kota yaitu trayek yang seluruhnya berada dalam satu wilayah kota madya Daerah Tingkat II atau trayek dalam Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.Jaringan pelayanan umum di jalan perkotaan diklasifikasikan atas empat macam trayek, yaitu:(a) Trayek LangsungTrayek langsung diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan sebagai berikut: mempunyai jadwal tetap, melayani angkutan antar kawasan secara tetap yang bersifat masal dan langsung, dilayani oleh bus umum, pelayanan cepat, jarak pendek, melalui tempat-tempat yang ditetapkan hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.(b) Trayek UtamaTrayek utama diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan sebagai berikut: mempunyai jadwal tetap, melayani angkutan antar kawasan utama, antar kawasan utama dan pendukung dengan ciri melakukan perjalanan pulang pergi secara tetap dengan pengangkutan yang bersifat massal, dilayani oleh bus umum, pelayanan cepat dan/atau lambat, jarak pendek, melalui tempat-tempat yang telah ditetapkan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.(c) Trayek CabangTrayek cabang diselenggarakan dengan ciri-ciri pelayanan sebagai berikut: mempunyai jadwal tetap, melayani angkutan antar kawasan pendukung dan antar kawasan pemukiman, dilayani dengan mobil bus umum, pelayanan cepat atau lambat, jarak pendek, melalui tempat-tempat yang telah ditetapkan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.(d) Trayek RantingTrayek ranting diselenggarakan dengan ciri-ciri sebagai berikut: melayani angkutan dalam kawasan pemukiman, dilayani dengan mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umum, pelayanan lambat, jarak pendek.(e) Melalui tempat-tempat yang telah ditetapkan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.4) Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP)Angkutan Antar Kota Antar Provinsi adalah angkutan yang menghubungkan suatu kota dengan kota lain baik dalam satu wilayah administrasi provinsi maupun yang berada di provinsi lain.5) Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP)

Angkutan Kota Dalam Provinsi adalah angkutan yang melayani trayek dari satu kota ke kota lain antar daerah kabupaten atau kota dalam satu daerah provinsi. Contohnya bus dengan kapasitas minimal angkutannya adalah 19 kursi, taksi dan mobil penumpang sebanyak 8 kursi.6) Angkutan Perkotaan

Angkutan perkotaan adalah angkutan yang mengangkut penumpang dari satu tempat ke tempat lain dalam dalam kawasan perkotaan dan masih terikat dalam trayek, contohnya: angkot, taksi, bus kapasitas 19-28 kursi, bajaj, bemo dan oplet.

7) Angkutan Pedesaan

Menurut Djoko Setijowarno (2003: 54) angkutan pedesaan adalah angkutan dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah kabupaten dengan menggunakan mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umum yang terikat dalam trayek tetap dan teratur. 8) Angkutan Barang KhususMenurut pendapat Djoko Setijowarno (2003: 56) angkutan barang khusus dapat dikategorikan atas barang curah, barang cair, barang yang memerlukan fasilitas pendinginan, tumbuh-tumbuhan dan hewan hidup dan barang khusus lainnya.3. Permasalahan Angkutan Umum

Permasalahan yang dihadapi di bidang angkutan umum sebagai bagian dari sistem transportasi sangat beragam sifatnya dan terdapat pada setiap aspeknya, mulai dari tahapan kebijaksanaan sampai dengan tahapan operasionalnya.

Beberapa contoh permasalahan yang dihadapi adalah antara lain berhubungan dengan:a. Stabilitas dan daya dukung jalur gerak yang berkaitan dengan kondisi geologi dan geografis setempat.

b. Dampak yang timbul seperti polusi udara dan kebisingan.

c. Kapasitas atau daya angkut sarana dan prasarana dalam kaitannya dengan makin besarnya kebutuhan yang ada berikut makin tingginya kecepatan yang diminta.

d. Upaya perbaikan sistem metode pengendalian untuk meningkatkan faktor keamanan dan keselamatan.

e. Pendanaan yang terbatas dan harus bersaing dengan kepentingan yang lain, contohnya: pengembangan jaringan jalan untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan.

f. Jumlah armada angkutan umum yang tidak sebanding dengan permintaan masyarakat.

Selain masalah yang telah disebutkan di atas, ditambah lagi masalah-masalah yang disebabkan oleh:

a. Pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup pesat dan akibat terjadinya urbanisasi terutama di kota-kota besar.

b. Penggunaan kendaraan pribadi yang kurang efisien.

c. Kualitas dan jumlah kendaraan angkutan umum yang belum memadai, seperti jaringan jalan yang belum tertata dengan baik dan sistem pengendalian pelayanan yang belum berhasil ditata secara konsepsional pelayanan (lebih dari 50% perjalanan masyarakat berpindah moda lebih dai satu kali).4. Jenis Sistem Angkutan Umum Dalam masyarakat terdapat dua jenis sistem dalam angkutan umum yaitu:a. Sistem penggunaan bersama, yaitu kendaraan dioperasikan oleh operator dengan rute dan jadwal yang biasanya tetap. Sistem ini dikenal dengan transit system. Terdapat dua jenis sistem transit, yaitu:1) Mass transit, yaitu jadwal dan tempat pemberhentiannya telah ditentukan. Contohnya bus way.2) Para transit, yaitu tidak ada jadwal yang pasti dan kendaraan dapat berhenti (menaikkan/menurunkan penumpang di sepanjang rute).b. Sistem sewa, dimana kendaraan bisa dioperasikan baik oleh operator maupun penyewa, dalam hal ini tidak ada rute dan jadwal tertentu yang harus diikuti oleh pemakai. Sistem ini sering disebut juga sebagai demand progresif system karena penggunaannya yang tergantung kepada permintaan. Contoh sistem ini adalah jenis angkutan taksi. 5. Perizinan Angkutan Menurut pasal 173 ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009, perusahaan angkutan umum yang menyelenggarakan angkutan orang dan/atau barang wajib memiliki izin penyelenggaraan angkutan. Dalam hal penyediaan dan penyelenggaraan jasa layanan angkutan orang dalam trayek, pemerintah mengendalikannya dengan menerbitkan izin.Hakekat diterbitkannya izin oleh pemerintah adalah dalam rangka untuk:

1. Memberikan jaminan bagi pengguna jasa angkutan untuk mendapatkan jasa angkutan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Untuk mewujudkan kepastian pelayanan jasa angkutan umum tersebut maka setiap operator harus dapat melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan.

2. Memberikan perlindungan kepada penyedia jasa/operator dengan menjaga keseimbangan antara penyediaan angkutan (supply) dan permintaan angkutan (demand) agar perusahaan dapat menjaga dan mengembangkan usahanya.

Pada pasal 173 ayat (1) huruf a, b dan c Undang-Undang No. 22 Tahun 2009, perusahaan angkutan umum yang menyelenggarakan angkutan orang dan/atau barang wajib memiliki:

1. Izin penyelenggaraan angkutan orang dalam trayek.2. Izin penyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek.

3. Izin penyelenggaraan angkutan barang khusus atau alat berat.

C. Faktor Muat Penumpang (Load Factor) Load factoradalah rasio jumlah penumpang dengan kapasitas tempat duduk per satuan waktu tertentu. Batas ideal load factor adalah > 70% (Keputusan Menteri 35 tahun 2003). Untuk menentukan load factordigunakan rumus berikut:

Lf = x100%

Dimana:Lf= Load Factor

JP= Jumlah penumpang per kendaraan umum

C= kapasitas penumpang per kendaraan umum

Berikut adalah tabel tipe angkutan umum berdasarkan kapasitas penumpang:Tabel 1. Kapasitas Penumpang

Sumber: Dasar-dasar Teknik Transportasi, Munawar, Ahmad, 2015

D. Waktu Tempuh Waktu tempuh adalah waktu yang dibutuhkan oleh kendaraan untuk menempuh suatu perjalanan. Ada dua jenis waktu tempuh, yaitu:1. Running TimeAdalah waktu yang digunakan untuk menempuh suatu panjang jalan tertentu.

2. Travel TimeAdalah waktu yang digunakan untuk menempuh suatu panjang jalan tertentu, termasuk waktu berhenti dan waktu tunggu.E. Kecepatan Kecepatan adalah perubahan kedudukan setiap satuan waktu. Kecepatan juga dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak yang ditempuh dengan waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut.

Kecepatan dapat dinyatakan dengan rumus:

v = dimana:v = kecepatan (km/jam)

d = jarak tempuh (km)

t = waktu tempuh (jam)Umumnya kecepatan dibagi tiga jenis, yaitu:1. Kecepatan Setempat (spot speed)

Adalah kecepatan kendaraan pada suatu saat diukur dari suatu tempat yang ditentukan.2. Kecepatan Bergerak (running speed)

Adalah kecepatan kendaraan rata-rata pada saat kendaraan bergerak dan didapat dengan membagi panjang jalur dibagi dengan lama waktu kendaraan bergerak menempuh jalur tersebut.3. Kecepatan Perjalanan (journey speed)

Adalah kecepatan efektif kendaraan yang sedang dalam perjalanan antara dua tempat, kecepatan perjalanan dapat didefinisikan jarak antara dua tempat dibagi dengan lama waktu bagi kendaraan untuk menyelesaikan perjalanan antara dua tempat tersebut. Lama waktu ini mencakup waktu berhenti yang ditimbulkan oleh hambatan (penundaan) lalu lintas.

Dengan demikian, kecepatan perjalanan dan kecepatan gerak dapat didefinisikan sebagai berikut:Kecepatan perjalanan=

Kecepatan gerak

=

Kecepatan yang diukur dalam penelitian ini yaitu kecepatan perjalanan (journey speed). Waktu perjalanan adalah waktu yang dibutuhkan oleh kendaraan untuk melewati seksi jalan yang disurvey termasuk waktu berhenti karena hambatan-hambatan. Ada dua cara yang berbeda untuk melaksanakan survey waktu perjalanan, yaitu metoda pengamat bergerak (pengamat berada di dalam kendaraan yang bergerak di dalam arus lalu lintas) dan pengamat statis (pengamat berada di titik tertentu di sepanjang potongan jalan yang disurvey).

Kecepatan perjalanan rata-rata umumnya dirumuskan sebagai berikut:V = = Dimana: V = kecepatan rata-rata s total = jarak tempuh total

t total = waktu tempuh total

Akibat adanya waktu menaikkan dan menurunkan penumpang serta mengisi bahan bakar maka kecepatan rata-rata sepanjang trayek yang sama dirumuskan sebagai berikut:

V= Dimana: v = kecpatan rata-rata (km/jam)

S = jarak trayek yang di tempuh

ti = waktu yang diperlukan kendaraan I di jalan (i=1,2,3n)F. Headway dan Waktu Tunggu

Headway adalah interval waktu antara kendaraan angkutan kota yang satu dengan kendaraan angkutan kota dibelakangnya untuk melalui satu titik tertentu.Headway dapat dinyatakan dengan rumus berikut:

H = dimana: H = waktu antara (menit)

f = frekuensi pelayanan (kendaraan/jam) Waktu tunggu adalah waktu berhenti kendaraan umum di asal atau di tujuan. Perhitungan waktu tunggu angkutan umum dapat diukur dari setengah headway.G. Waktu Perjalanan Waktu perjalanan digunakan untuk mengukur waktu perjalanan suatu angkutan umum setiap kilometer jarak tempuhnya. Waktu perjalanan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:

W = T JDengan: W=waktu perjalanan angkutan umum (menit/km)

J=jarak antar segmen (km)

T=waktu tempuh angkutan umum (menit)

H. Waktu Pelayanan atau Jam Operasi Waktu pelayanan sangat berpengaruh terhadap perolehan rit (unit transportasi pada satu jalur perjalanan) dalam satu hari, biaya operasional angkutan umum dan pendapatan serta pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.I. Frekuensi Frekuensi adalah jumlah kendaraan yang beroperasi dalam waktu 1 jam. Perhitungan frekuensi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:f = Dengan:f=frekuensi (jumlah kendaraan per menit)

N=jumlah kendaraan (buah)

J. Jumlah Kendaraan yang Operasi Jumlah kendaraan yang beroperasi akan mempengaruhi banyaknya jumlah penumpang yang akan memakai jasa pelayanan angkutan umum tersebut.K. Akhir dan Awal Perjalanan Akhir dan awal perjalanan adalah waktu keberangkatan awal dan waktu pulang terakhir.