BAB I.docx

download BAB I.docx

of 32

  • date post

    05-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB I.docx

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangSebagaimana diketahui bersama bahwa pada masa dinasti Abbasiyah berkuasa, Islam mendapatkan masa keemasannya. Langkah-langkah ekspansi yang telah dilakukan oleh dinasti Umayyah tidak diikuti oleh dinasti yang berkuasa selama kurun waktu kurang lebih 508 tahun ini. Dinasti ini mulai berkuasa sejak tahun 750 1258 M. Fakta sejarah menyatakan bahwa Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa ini. Hal ini ditandai dengan Islam yang tidak hanya menjadi sebuah agama, melainkan juga sebuah peradaban pada masa itu. Langkah bani Abbasiyah yang defensive dan lebih mengutamakan perkembangan ilmu pengetahuan serta pertumbuhan ekonomi membuat dinasti ini dinilai sebagai dinasti yang paling bersinar selama masa dinasti dalam Islam. Akan tetapi, kegemilangan dinasti Abbasiyah tidak lantas membuat kekuasaannya bisa absolut dan tidak tergoyahkan. Sama seperti dinasti sebelumnya, yaitu dinasti Umayyah, dinasti Abbasiyah juga mengalami masa kemunduran bahkan juga kehancuran. Hal ini ditandai dengan hilangnya satu per satu wilayah kekuasaan dinasti ini hingga tragedi perang terbesar dalam sejarah yaitu perang salib. Cikal bakal kemunduran bani Abbasiyah ini dimulai dari sejak berdirinya dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari kekuasaan khalifah-khalifah bani Abbasiyah. Dinasti-dinasti kecil yang terus tumbuh, lambat laun menggerus wilayah kekuasaan dinasti Abbasiyah. Wilayah dinasti Abbasiyah yang terlampau luas, membuat wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah menjadi sangat mudah untuk memerdekakan diri dan membentuk dinasti sendiri. Pengawasan yang tidak merata serta kapabilitas khalifah-khalifah yang semakin berganti tidak semakin bagus, membuat dinasti ini pada akhirnya menemui masa kehancurannya. Luasnya wilayah dinasti Abbasiyah yang terbentang dari semenanjung arab hingga wilayah benua biru Eropa membuat dinasti ini kesulitan mengontrol wilayah-wilayahnya yang terbentang luas itu. Sehingga banyak dari wilayah-wilayah yang berada di barat maupun timur pusat pemerintahan yang berada di Baghdad. Diantara dinasti-dinasti yang muncul pada masa pemerintahan bani Abbasiyah adalah dinasti Thahiriyah, Samaniyah, Ghaznawiyah dan Safariyah. Keberadaan dinasti ini mau tidak mau membuat wilayah kekuasaan dinasti Abbasiyah semakin menyempit, hingga akhirnya semakin sedikit dan menyebabkan kehancuran dinasti ini. Selain itu, penitikberatan periode pertama dari dinasti ini yang lebih mengedepankan pada pembinaan kebudayaan dan peradaban, serta hidup dengan bermewah-mewahan, mau tidak mau turut menjadi penyebab kehancuran dinasti ini. Sebelum masa kehancuran dinasti ini, terlebih dahulu dinasti ini melalui masa disintegrasi. Sehingga menjadi penting untuk mengetahui sejarah dari kemunculan dinasti-dinasti kecil di timur Baghdad ini, supaya pemahaman mengenai seluruh dinasti Islam yang pernah tercatat dalam sejarah menjadi sempurna dan tidak ada satupun yang terlupakan.

B. Tujuan PembahasanSebagaimana yang telah dijelaskan pada latar belakang diatas, maka kiranya menjadi sangat urgent untuk mempelajari dan mengetahui dinasti-dinasti kecil yang muncul pada masa disintergrasi dinasti Abbasiyah. Hal ini lantaran munculnya dinasti-dinasti ini juga lah yang menjadi salah satu penyebab kemunduran dan bahkan kehancuran dinasti Abbasiyah. Dan yang terpenting dengan mengetahui dan mempelajari dinasti-dinasti kecil yang juga pernah ada dalam Islam, maka akan didapatkan pemahaman sejarah yang utuh, sehingga ibroh yang ada dalam sejarah itu juga dapat tersampaikan dengan baik.

BAB IIPEMBAHASANSebagaimana yang telah diketahui bahwa kekuasaan dinasti Abbasiyah merupakan reziem terlama dalam Islam yang juga telah membawa Islam pada peradaban yang sangat maju kala itu. Pembinaan peradaban dan kebudayaan serta pengembangan ilmu pengetahuan pada saat itu memiliki posisi yang sangat urgent pada rezim ini. Sehingga, persoalan politik menjadi sedikit terabaikan pada masa ini.[footnoteRef:1] Dalam periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah sebenarnya banyak tantangan yang dihadapi para khalifah. Akan tetap, semuanya dapat diatasi sehingga tidak mengganggu stabilitas pemerintahan maupun superioritas dinasti ini. Perkembangan dan kemajuan dinasti Abbasiyah yang sangat gemilang pada periode pertama ini, membuat para penguasa di periode selanjutnya menjadi bermewah-mewahan. Kemewahan hidup yang ditunjukkan oleh para khalifah ini tidak ditunjang dengan kapabilitas diri mereka untuk menjadi khalifah, sehingga kondisi ini banyak dimanfaatkan oleh para tentara Turki yang kemudian mengambil alih kendali pemerintahan. Sebagaimana yang diketahui bahwa tentara profesional Turki mulai mendapatkan perhatian dan diizinkan untuk masuk menjadi bagian dari pemerintahan Abbasiyah adalah mulai saat kekuasaan khalifah Al-Mutashim. Masuknya unsur Turki yang dilatarbelakangi oleh konflik yang terjadi antara Al-Amin dan Al-Mamun pada masa sebelumnya inilah yang menjadi penyebab posisi Turki menjadi sangat sentral pada masa kekhalifahan setelahnya.[footnoteRef:2] [1: Lih Doyle Paul Johnson, Sociologocal Theory: Clacical Founders and Contemperary Prepectives, (tt: John Willey and Sons. Inc, 1981), hlm. 10. ] [2: Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), hlm. 120-121. ]

Setelah melemahnya pengaruh Turki, di wilayah-wilayah tertentu dalam kekuasaan dinasti ini perlahan-lahan mulai lepas dari genggaman penguasa dinasti ini. Dengan melalui berbagai pemberontakan oleh para tokoh wilayah local dan berakhir dengan kemerdekaan penuh yang didapatkan. Inilah yang memulai terjadinya masa disintegrasi dalam politik Islam. [footnoteRef:3] [3: Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Gradindo Persada, 2010), hlm. 61-63. ]

A. Masa Disintegrasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan disintegrasi adalah keadaan terpecah belah, hilangnya keutuhan atau persatuan dan perpecahan.[footnoteRef:4] Sebagaimana telah disebutkan bahwa pada periode pertama kekuasaan bani Abbasiyah merupakan masa keemasan yang dicapai dalam sejarah dinasti ini. Pada periode pertama pulalah, Islam berhasil dibawa oleh dinasti Abbasiyah menjadi pusat peradaban dunia. Akan tetapi, setelah masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid berakhir, tepatnya saat tahta kekhalifahan diberikan kepada anaknya, embrio dari disintegrasi reziem Abbasiyah mulai muncul dan terlihat.[footnoteRef:5] [4: Kamus Besar Bahasa Indonesia. ] [5: Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2011), hlm. 110 ]

Melihat fakta sejarah, sebenarnya embrio dari disintegrasi politik yang ada dalam Islam sudah dimulai sejak reziem Umayyah berkuasa. Akan tetapi, sampai pada masa kehancurannya, wilayah kekuasaan yang dimiliki oleh dinasti ini tetap dan tidak berkurang sebagaimana awalnya. Hal ini tidak terlepas dari ekspansi yang terus dilakukan oleh para penguasa dinasti ini.[footnoteRef:6] [6: Badri Yatim, Sejarah, hlm. 63 ]

Masa disintegrasi reziem Abbasiyah dimulai dari perebutan tahta kekhalifahan yang terjadi antara kedua putra Harun Al-Rasyid, yaitu Al-Amin dan Al-Mamun. Kekhalifahan yang harusnya jatuh kepada Al-Mamun selaku adik dari Al-Amin, dihianati dan diberikan kepada anak dari Al-Amin. Hal inilah yang membuat terjadinya perebutan kekuasaan antara kedua khalifah ini. Saat terjadi perang internal, Al-Amin yang didukung oleh militer resmi Abbasiyah yang ada di Baghdad melawan pasukan Al-Mamun yang berasal dari militer Khurasan. Dukungan yang diperoleh oleh Al-Mamun ini tidak serta merta didapatkan dengan mudah, sebelumnya, Al-Mamun harus terlebih dahulu membantu penduduk Khurasan untuk mendapatkan kemerdekaannnya. Setelah memperoleh kemenangan atas kakaknya, Al-Mamun dapat menahbiskan diri sebagai khalifah pada tahun 813 M. Dampak dari peperangan ini tidak hanya pada melemahnya militer dinasti Abbasiyah, melainkan juga pada wilayah-wilayah kekuasaan reziem ini.[footnoteRef:7] [7: Fatah Syukur, Sejarah, hlm.112. ]

Pada masa kekuasaan Al-Mamun inilah, disintegrasi politik dalam Islam mulai terjadi. Ditandai dengan munculnya sebuah dinasti baru yang dibentuk oleh jenderal yang pernah ditunjuk oleh khalifah Al-Mamun, yaitu Thahir ibn al-Husayn. Thahir merupakan panglima yang membantu Al-Mamun untuk merebut panji kekhalifahan dari tangan Al-Amin. Ia dijuluki sebagai Dzu al-Yaminain (bertangan kanan dua) karena keahliannya memainkan pedangnya dengan kedua tangannya. Berawal dari inilah, selanjutnya bermunculan dinasti-dinasti kecil di wilayah kekuasaan bani Abbasiyah.[footnoteRef:8] [8: Philip K. Hitti, History Of The Arabs; From The Earliest Times To The Present, terj. Cecep Lukman Yasin-Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010), hlm. 585. ]

Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari kekuasaan bani Abbasiyah dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian khalifah kepada wilayah-wilayah ini. Hal ini dikarenakan para khalifah sudah merasa cukup puas dengan pembayaran upeti dari para gubernur di provinsi-provinsi yang dikuasai oleh dinasti ini. Kurangnya perhatian khalifah kepada penguasaan wilayah serta perhatian yang terlalu tercurah untuk pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada penguatan provinsi-provinsi yang dikuasai oleh gubernur, merupakan penyebab utama para tokoh kuat dan berpengaruh yang ada dalam provinsi-provinsi yang kurang diperhatikan itu menjadi menarik diri dari kekuasaan reziem ini.[footnoteRef:9] [9: Susanto Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003), hlm. 203. ]

Kekuatan militer bani Abbasiyah yang saat itu mengalami kemunduran sehingga banyak menarik kekuatan professional dari orang-orang Turki, membuat munculnya fanatisme terhadap bangsa. Disamping itu, dinasti Abbasiyah sudah dikenal dengan dinasti yang anti Arab karena jarangnya mereka menggunakan orang-orang Arab untuk mengisi posisi penting di reziem mereka. Diantara dinasti-dinasti yang lahir