BAB I.docx

Click here to load reader

  • date post

    09-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    128
  • download

    8

Embed Size (px)

description

bab 1

Transcript of BAB I.docx

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Saliva adalah suatu cairan mulut yang kompleks, tidak berwarna, yang disekresikan dari kelenjar saliva mayor dan minor untuk mempertahankan homeostasis dalam rongga mulut. Sekresi yang dihasilkan berkisar antara 1-1,5 liter per harinya. Sekresi saliva dikendalikan oleh sistem persarafan, terutama sekali oleh reseptor kolinergik. Rangsang utama untuk peningkatan sekresi saliva adalah melalui rangsang mekanik. Kelenjar saliva dibagi menjadi dua macam, yakni kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari kelenjar parotis, submandibularis, sublingualis. Kelenjar saliva minor jumlahnya ratusan dan terletak di rongga mulut. Kelenjar saliva mayor berkembang pada minggu ke-6 sampai ke-8 kehidupan embrio dan berasal dari jaringan ectoderm. Kelenjar saliva mayor terdapat dalam mukosa pipi, bibir, palatum, dan glosopalatal. Saliva mengandung enzim maupun bahan non enzim (protein, kalsium, fosfor, sodium, garam mineral) dan gas gas terlarut seperti nitrogen, pksigen, karbondioksida. Saliva mempunyai beberapa fungsi penting di dalam rongga mulut, diantaranya sebagai pelumas, aksi pembersihan, pelarutan, pengunyahan dan penelanan makanan, proses bicara, sistem buffer dan yang paling penting adalah fungsi sebagai pelindung dalam melawan karies gigi. Kelenjar saliva dan saliva juga merupakan bagian dari sistem imun mukosa. Sel-sel plasma dalam kelenjar saliva menghasilkan antibodi, terutama sekali dari kelas Ig A, yang ditransportasikan ke dalam saliva. Selain itu, beberapa jenis enzim antimikrobial terkandung dalam saliva seperti lisozim, laktoferin dan peroksidase.

1

1.2 Rumusan Masalah 1. Mengetahui sifat mucus dan serus saliva 2. Mengetahui mekanisme pembentukan saliva dan factor yang memengaruhi sekresi saliva 3. Mengetahui fungsi dari kelenjar saliva 4. Mengetahui gangguan dalam sekresi saliva. 1.3 Tujuan 1. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan, memahami sifat mucus, serus saliva 2. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan, memahami mekanisme

pembentukan saliva dan factor yang memengaruhi sekresi saliva 3. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan, memahami fungsi dari kelenjar saliva 4. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan, memahami gangguan dalam sekresi saliva.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Mukus dan Serus pada Saliva Sel mucus merupakan sekresi kental yang terutama terdiri dari air, elektrolit, dan campuran beberapa glikoprotein. Mucus mengandung musin sebagai pelumas dan perlindungan permukaan. Sel mucus bertekstur kental-padat dan kaya akan polisakarida dan protein nonenzimatik. Sel serus mengandung ptyalin (suatu -amilase) yang merupakan enzim untuk mencerna karbohidrat. (Guyton, 2007) Kelenjar Parotis Kelenjar parotis ialah yang terbesar. Satu di sebelah kiri dan satu disebelah kanan dan terletak dekat di depan agak kebawah telinga. Sekretnya dituangkan kedalam mulut melalui saluran Stensen. Ada dua struktur penting yang melintasi kelenjar parotis yaitu arteri karotis eksterna dan saraf kranial ketujuh (saraf fasial). Kelenjar Submandibularis Kelenjar submandibularis nomor dua besarnya setelah kelenjar parotis. Terletak dibawah kedua sisi tulang rahang dan berukuran sebesar biji kenari. Sekretnya dikeluarkan ke dalam mulut melalui saluran Wharton. Kelenjar Sublingualis Kelenjar sublingualis adalah kelenjar terkecil, letaknya dibawah lidah di kanan dan kiri frenulum linguae. Sekretnya dituangkan kedalam mulut melalui beberapa muara kecil. (Evelyn, 2009) Ada dua macam tipe saliva yang dihasilkan, yaitu:

3

a. Serus Dihasilkan oleh kelenjar parotis dan submandibularis, mengandung ptialin (suatu amilase, yaitu sebuah enzim untuk mencernakan serat). b. Mukus Dihasilkan oleh kelenjar sublingualis dan submandibularis. Saliva jenis ini mengandung mucin, yaitu sebuah glikoprotein yang melubrikasi makanan dan memproteksi mukosa oral. Mucin juga mengandung IgA, sistem imun pertama yang menghadang bakteri dan virus; Lisozim, berfungsi menghancurkan dinding bakteri; laktoferin, berfungsi mengikat zat besi dan protein kaya akan prolin, memproteksi gigi. (Amerongan, 1991). 2.2 Fungsi Saliva Saliva memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga efisiensi kerja tubuh dan menjaga kesehatan secara umum (Rensburg, 1995).Fungsi saliva biasanya baru dapat dirasakan jika produksinya telah berkurang (Kidd and Bechal, 1987). Beberapa fungsi saliva dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Fungsi Saliva pada Proses Pencernaan dan Pengunyahan Enzim amilase yang terdapat pada saliva mampu menguraikan sebagian makanan yang mengandung tepung kanji dan glikogen (Amerongen, 1991). 2) Fungsi Saliva dalam Proses Pengecapan Rasa Saliva berperan dalam melarutkan bahan-bahan makanan yang memiliki rasa tertentu sehingga dapat diterima stimulusnya oleh reseptor-reseptor pengecap (Ganong, 1995). 3) Fungsi Saliva sebagai Bufer Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat, serta kandungan ammonia dan urea dalam saliva dapat menyangga dan menurunkan pH yang terjadi saat bakteri plak sedang memetabolisme gula(Ganong, 1995). 4) Fungsi Saliva dalam Proses Anti Bakteri

4

Saliva mengandung beberapa faktor yang dapat menghancurkan bakteri. Salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa enzim proteolitik seperti lisozim, yang dapat menyerang bakteri (Guyton dan Hall, 1997) 5) Fungsi Saliva dalam Mencegah Karies Difusi komponen saliva seperti kalsium, fosfat, ion OH dan Fe kedalam plak dapat menurunkan kelarutan email dan meningkatkan remineralisasi karies dini. (Kidd and Bechal, 1987). 6) Fungsi Lubrikasi Saliva dapat membentuk lapisan mucus pelindung pada membrane mukosa yang akan bertindak sebagai pelindung terhadap iritan dan akan mencegah kekeringan dalam rongga mulut.(Kidd and Bechal, 1987). 7) Fungsi Saliva dalam Menjaga Higiene Rongga Mulut Aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga meningkatkan pembersihan karbohidrat dari rongga mulut.(Kidd and Bechal, 1987). Fungsi Protein pada Saliva a. Lisosim Lisosim terdapat hampir pada semua cairan tubuh dan terdeteksi pada fetus manusia umur 9-12 tahun. Sumber lisosim saliva berasal dari glandula salivarius mayor dan minur, sel fagosit maupun cairan krevikular gingival. Fungsi lisosim adalah sebagai berikut Aktivitas muramidase, yaitu lisosim mampu menghidrolisa ikatan (1-4) antara asam N-asetil muramik dan Nasetilglukosamin pada lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri. Hidrolisa lapisan peptidoglikan akan melisis bakteri. Aktivitas bakterial autolysin tergantung pada kationik. Oleh karena lisosim merupakan kationik. Lisosim dapat merusak membrane bakteri dan mengaktifkan mekanisme bacterial autolysin karena aktivasi muramidase dan autolysin

5

Menyebabkan terjadinya agregasi bakteri Mencegah perlekatan bakteri pada permukaan gigi Mencegah penggunaan glukosa oleh bakteri Memecah rantai streptokokus b. Sistem Peroksidase Saliva Sumber utama sistem peroksidase saliva (SPS) ialah glandula salivarius dan sel lekosit. SPS yang berasal dari glandula salivarius disebut salivary peroksidase, sedangkan SPS yang berasal dari lekosit disebut mieloperoksidase. Salivary peroksidase manusia kadangkadang disebut pula laktoperoksidase karena kesamaannya dengan laktoperoksidase susu sapi. Aktivitas antimicrobial Melindungi sel dari efek toksik hydrogen peroksida Melindungi peroksida Melindungi asam sialik dari dekarbosilase okksidatif oleh hydrogen peroksida Inaktivasi komponen mutagenic dan karsinogenik c. Laktoferin Laktoferin (LF) adalah glikoprotein (berat molekul 76 kilodalton) yang mengikat besi. Glikoprotein ini dikeluarkan oleh sel serosa dan glandula salivarius minor. Dalam rongga mulut, sumber penting LF ialah cairan gingival. Fungsi utama LF sangat ditentukan oleh tingginya afinitas LF untuk mengikat ion besi, sehingga mLF mampu menurunkan level ion besi yang merupakan bahan esensial untuk metabolism mikroorganisme patogen. Dengan kata lain, sifat bakteriostatik LF karena ikatannya dengan ion besi. LF mampu pula bakteri dari efek bakteriosidadl hydrogen

6

bersifat bakteriosid terhadap S. mutan secara invitro dengan suhu 370C. d. Salivari Aglutinin Saliva mengandung beberapa komponen yang mampu

mengaglutinasi bakteri mulut. Akibatnya interaksi komponen tersebut dengan bakteri menghasilkan agregasi bakteri (membentuk endapan bakteri) yang mudah dibersihkan oleh saliva dan kemudian tertelan. Komponen tersebut adalah: Glikoprotein dengan berat molekul tinggi Salivary IgA Lisosim mikroglobulin (, m) Fibronektin (FN)

e. Proline Rich protein (PRP) PRP adalah protein kaya prolin yang merupakan sekelompok kompleks protein yang mampu menghambat presipitasi spotan garam kalsium fosfat. Protein ini dengan cepat akan teradsorbsi dari saliva ke permukaan hidroksi apatit. Diperkirakan adsorbs ini menghambat pertumbuhan Kristal garam kalsium. f. Protein antimicrobial anionic Saliva mengandung 4 macam protenin anionic yang dapat

menghambat pertumbuhan S. mutans. Berat molekul protein ini adalah 14-17 kilodalton. Pada orang yang bebas karies, protein ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Fungsi Lipid pada Saliva Dalam saliva lipid merupakan perantara substansi lipofilik agar dapat menembus mukosa mulut dan lipid mengganggu interaksi kalsium dengan protein dan glikoprotein saliva. Beberapa lipid saliva seperti

lisofosfatidilkolin dapat mempengaruhi akktivitas enzim glukosiltransferase

7

bakteri kariogenik, seperti S. mutans. Lipid mampu menstabilkan ikatan hidrofobik antara bakteri dengan jaringan mulut. Pelikel lipid memelihara kohesi plak bakteri, sehingga mempercepat terbentuknya kalkulus. Tetapi lipid dalam pelikel mampu menghambat proses terjadinya karies.

2.3 Mekanisme Sekresi Saliva Sekresi saliva sebagian besar merupakan proses aktif yang menunjukan bahwa proses tersebut memerlukan energi. Proses ini dibedakan menjadi dua fase: 1. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel sekretori. Sifat rangsang yang menstimulasi kelenjar saliva dapat berupa rangsang adrenergik maupun kolinergik, karena sel diinervasi baik simpatis maupun parasimpatis. Rangsang adrenergik menghasilkan saliva yang pekat, kaya protein, kaya kandungan musin dan berbuih. Pada rangsang kolinergik, neurotransmitter asetilkolin menghasilkan sekresi cairan yang kuat dengan kadar protein yang rendah. Akibat rangsangan, melalui eksositosis sel menghasilkan cairan sekresinya kepada lumen. Rangsang tersebut menyebabkan aliran darah ke asinus meningkat sehingga mempermudah pembentukan cairan asinar. Cairan asinar ini disebut juga saliva primer. 2. Perubahan yang terjadi pada duktus striata. Saliva diangkut dari lumen melalui duktus yang melibatkan kontraksi selmioepitel. Selama pengangkutan ke rongga mulut, susunan saliva diubah dari cairan isotonik dengan konsentrasi ion yang hampir sama dengan plasma menjadihipotonik dengan konsentrasi ion natrium dan klorida yang rendah. Perubahan ini terjadi karena di dalam duktus, air dan elektrolit disekresi dan atau diabsorbsi oleh sel epitel, terutama pada duktus striata. Sifat rangsang menentukan kepekatan produk akhir yang bervariasi dari encer sampai pekat. Kepekatan saliva ditentukan oleh sekresi air dan sekresi musin yang diatur oleh saraf kolinergik dan adrenergik. Neurotransmitter asetilkolin dan

parasimpatetikomimetika merangsang sekresi air, sedangkan obat seperti8

atropinesulfat menghambat sekresi air dan menyebabkan keringnya mulut (Lavelle, 1988).

Pusat Pengaturan Sekresi saliva Makanan dalam mulut menyebabkan refleks sekresi saliva, juga rangsangan serat-serat vagus eferen di ujung esofagus yang dekat dengan gaster. Faktor-faktor yang menyebabkan rangsang sekresi saliva adalah: melihat, mencium dan mengkonsumsi makanan yang meningkatkan nafsu makan. Daerah nafsu makan pada otak, terletak di daerah pusat parasimpatis hipotalamus anterior, dan berfungsi sebagai respon terhadap sinyal dari daerah pengecapan dan penciuman dari korteks serebral dan amigdala. Pengunyahan merupakan kesatuan fungsional yang merupakan kerjasama antara peredaran darah, saraf, otot pengunyahan, sendi temporomandibula dan geligi. Pada umumnya otot pengunyahan dipersarafi oleh cabang motorik saraf Trigeminus khususnya saraf mandibularis. Proses pengunyahan makanan dikontrol oleh nukleus pads batang otak. Di dalam mulut makanan mengalami proses mastikasi yang mempermudah pencernaan makanan dan merangsang sekresi saliva. Bahan kimia penyusun makanan yang larut dalam saliva akan kontak dengan sel rasa melalui sel pengecap. Pengecapan adalah fungsi utama dari taste bud, yang didalamnya terdapat TRCs (Taste Receptor Cells). Sel reseptor dipersarafi oleh afferent nerve endings, yang menyalurkan informasi ke pusat rasa dalam otak dan talamus. Sehingga terjadi peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatik dan peningkatan triger dari saraf fasialis dan glosofaringeal, mengakibatkan peningkatan sekresi saliva. Rasa mans dan pahit diatur oleh fungsi TRCs yang melibatkan GPCRs (G-Protein Coupled Receptors), aktivasinya menyebabkan terlepasnya transmiter pads saraf gustatori primer. Serabut aferen berakhir di saraf gustatori di medula, mengatur aktivitas kelenjar ludah dan perut. Kedua hipotalamus berperan dalam pusat kenyang dan lapar dan sistem limbik membawa unsur afektif pengecapan. Ketiga

9

adalah hubungan reseptor raba lidah ke talamus dan korteks yang berkaitan dengan modalitas kecap membedakan rasa. Sekresi saliva berada dibawah kontrol saraf. Rangsangan saraf tersebut dibagi menjadi dua : (1) Inervasi saraf parasimpatik memegang peran utama stimulus sekresi saliva, dan berpengaruh terhadap komposisinya. Saraf parasimpatis dari nukleus salivatorius superior(bagian dari nervus fasialis dan berlokasi di pontine tegmentum) menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan bahan organik yang rendah. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi mencolok pada kelenjar, yang disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine polipeptide). Polipeptida ini adalah co-transmitter dengan

asetilkolin pada sebagian neuron parasimpatis pascaganglion. (2) Saraf simpatis cenderung mempengaruhi volume sekresinya. Saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit saliva yang akan bahan organik dari kelenjar submandibulais. Pada kelenjar sub lingual dan kelenjar-kelenjar minor, lebih dipengaruhi oleh respon kolinergik, sedangkan pada kelenjar lainnya cenderung ke inervasi adrenergic. (Hethel, 2009) 2.4 Faktor mempengaruhi Produksi Saliva Stimulasi Faktor terpenting yang mempengaruhi sekresi dan proporsi dari saliva adalah derajat dari stimulasi yang diberikan. Tiga jenis stimulasi yang dapat diberikan untuk merangsang pengeluaran saliva adalah stimulasi ektra oral dengan cara mencium, melihat dan memikirkan makanan atau produk makanan lain, mengunyah benda yang tidak larut seperti parafin dan stimulasi gustatory seperti sukrosa, sodium chlorida dan citric acid. Produksi saliva yang dirangsang dengan cara mengunyah akan berbeda tergantung dari banyaknya gerakan mengunyah yang dilakukan, sehingga

10

dalam penghitungan volume saliva hal ini harus menjadi perhatian. Diet dan Malnutrisi Ada beberapa studi yang menunjukkan hubungan antara makanan yang dikonsumsi dan status gisi dengan produksi saliva. Hal yang penting dibedakan adalah efek lokal dari diet dalam rongga mulut dengan efek sistemik. Namun beberapa studi lain menemukan tidak terdapat perbedaan jumlah saliva secara keseluruhan yang dirangsang dengan jenis makanan yang berbeda. Hal yang penting diingat yaitu selama puasa (tidak mengunyah makanan) air liur akan berkurang. Keadaan ini terkait dengan reaksi fisik dan psikis yang berbeda antara indivdu yang satu dengan lainnya terhadap keadaan lapar, termasuk stres serta perubahan prilaku. Status nutrisi dapat mempengaruhi aliran saliva, umumnya terjadi bila malnutrisi terjadi dalam jangka waktu lama dan diet lebih memberikan efek lokal dibandingkan efek sistemik terhadap pengeluaran saliva. Jenis Kelamin dan Usia Jenis kelamin dapat mempengaruhi saliva telah dibuktikan oleh banyak penelitian. Anak laki-laki diketahui mempunyai produksi saliva lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh ukuran kelenjar saliva wanita yang lebih kecil dibandingkan laki-laki. Status emosi Aliran saliva akan berkurang pada seseorang yang mengalami stres, sehingga bila akan dilakukan test sebaiknya pasien harus dalam keadaan relaks paling sedikit 5 menit sebelum tes dilaksanakan. Penyakit akut Seseorang yang menderita sakit seperti demam, sakit kerongkongan dan lainlain maka jumlah saliva yang dihasilkan umumnya lebih rendah dari normal. Disfungsi dari mastikasi Gangguan dari fungsi mastikasi merupakan hal lain yang dapat mengganggu sekresi saliva. Keadaan tersebut meliputi sakit gigi, ketidakharmonisan oklusal atau

11

penyakit pada jaringan ikat temporal. Faktor Variasi Diurnal Variasi diurnal alamiah terjadi dalam proses tubuh manusia, misal: konsentrasi Na dan Cl meningkat pada pagi hari, sedangkan K meningkat pada siang hari. Faktor Durasi Stimulus Lamanya stimulus yang mengenai kelenjar saliva ditandai dengan perubahan komponen saliva. Faktor Tipe kelenjar Setiap kelenjar berbeda tingkat penerimaannya dan kepekaannya terhadap stimulus, sehingga aliran dari jumlah saliva berbeda-beda. Faktor Diet Faktor diet berpengaruh terhadap perbedaan aliran saliva, yaitu berdasarkan aktifitas fungsional kelenjar saliva yang dipengaruhi oleh faktor mekanis dan pengecapan Faktor Konsentrasi plasma Konsentrasi plasma berhubungan dengan konsentrasi asam amino, kalsium, glukosa, kalium, urea, dan asam urik dalam saliva Faktor hormon Pengaruh hormon berasal dari aldeosteron, hormon bradikinin dan hormon lain seperti testosteron dan tiroksin Disfungsi kelenjar ludah Dapat dihasilkan oleh penyumbatan saluran, penyakit iritasi kelenjar ludah, dan terapi radiasi. Faktor umum a. Reflek tidak bersyarat

1) Rasa: Rasa yang berbeda sangat beragam dalam efek stimulasinya terhadap aliran ludah

12

2) Bau: Pengaruh bau makanan terhadap aliran ludah tidak dipungkiri lagi namun efeknya mungkin tidak sebesar yang dianggap sebelumnya. 3) Stimulasi mekanis terhadap mucosa mulut dengan makanan yang sangat kasar. 4) Iritasi mekanis terhadap gingiva contohnya oleh scaling gigi dan prosedur polishing 5) Mastikasi makanan, pengunyahan makanan menyebabkan naiknya berbagai impuls sensorik, contohnya dari stimulasi mekanis dari mukosa mulut, tekanan pada gigi yang melibatkan reseptor periodontal, dan impuls dari sendi temporomandibular dan otot pengunyah. 6) Iritasi kimia terhadap mukosa mulut. Asam, terutama asam sitrat, sangat menstimulasi aliran ludah, berikutnya garam halus, dan rasa yang pahit. 7) Distensi atau iritasi esophagus, contohnya oleh benda asing 8) Iritasi kronis terhadap esophagus contohnya oleh carcinoma esophagus 9) Iritasi bahan kimia terhadap dinding perut yang mengakibatkan rasa mual. 10) Kehamilan, biasanya diikuti oleh meningkatnya aliran ludah. 11) Obat (terutama dengan aktivitas anticholinergic), contohnya atropin 12) Gangguan endokrin, seperti diabetes mellitus, penyakit cushing, dan penyakit Addison b. Reflek bersyarat Stimulus tidak berhubungan dengan saraf dalam rongga mulut, stimulus diterima oleh organ/indera khusus : penglihatan, penciuman, dan pendengaran (Guyton,2006) 2.5 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Penurunan Sekresi Saliva. Secara umum terdapat berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan penurunan sekresi saliva yang disebut dengan xerostomia, yaitu :

13

Fisiologis Xerostomia secara fisiologis terjadi setelah pembicaraan yang berlebihan dan

selama berolah raga. Pada keadaan ini ada dua faktor yang ikut berperan. Bernafas melalui mulut yang terjadi pada saat olah raga, berbicara atau menyanyi, juga dapat merangsang terjadinya efek simpatik dari system saraf otonom dan menghalangi system parasimpatik, sehingga menyebabkan berkurangnya aliran saliva dan mulut menjadi kering. Xerostomia juga dapat terjadi dengan bertambahnya usia, terbukti bahwa banyak orang lanjut usia yang mengeluhkan bahwa rongga mulutnya terasa kering. Selain itu wanita pada kelompok menopause juga sering mengeluh tentang berbagai sensasi pada mulutnya, salah satu nya tentang rasa kering pada rongga mulut. Agnesis kelenjar ludah Agnesis kelenjar ludah merupakan suatu keadaan tidak terbentuknya kelenjar ludah sejak lahir. Keadaan ini jarang terjadi, tetapi ada pasien yang memiliki keadaan mulut yang kering sejak lahir. Hasil sialograf menunjukkan bahwa terdapat cacat yang besar dari kelenjar ludah. Penyumbatan hidung Pada anak-anak, penyebab penyumbatan hidung yang paling sering terlihat adalah pembesaran tonsil nasoparingeal (adenoid). Pada orang dewasa, terdapat berbagai macam penyebab, dari penyimpangan keadaan hidung, polip hidung atau hipertropi rhinitis. Semua keadaan itu menyebabkan pasien bernafas melalui mulut dan mulut menjadi kering. Keadaan demam serta infeksi saluran pernafasan Kadang-kadang demam dapat menimbulkan keadaan xerostomia, karena adanya gangguan keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh yang dapat menyebabkan sekresi saliva menurun. Infeksi saluran pernafasan juga dapat menyebabkan xerostomia. Pada infeksi saluran pernafasan bagian atas, penyumbatan hidung menyebabkan pasien bernafas

14

melalui mulut. Bronkitis, asma dan pneunomia dapat menimbulkan dispnoe dengan peningkatan kecepatan pernafasan, dan karena usaha pasien untuk menghirup nafas sebesar-besarnya maka pasien menghirup udara melalui mulut. Terutama pada penderita asma, mulut menjadi sangat kering dengan deposit mukous di sekitar giginya. Penyakit kelenjar ludah Mumps adalah suatu keadaan yang berupa peradangan pada kelenjar parotid, baik unilateral maupun bilateral denggan rasa sakit dan dapat mengakibatkan xerostomia pada rongga mulut. Sindrom sjogren adalah penyakit autoimun yang dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar ludah berupa infiltrasi limfosit pada kelenjar ludah sehingga dapat mengakibatkan xerostomia. Biasanya penderita sindrom ini adalah wanita dalam periode menopause. Radioterapi Penyinaran dengan ionisasi dapat menyebabkan kerusakan jaringan kelenjar ludah berupa atropi pada kelenjar ludah, terutama pada kelenjar parotid, sehingga dapat menyebabkan xerostomia. Tetapi dengan teknik radioterapi yang baru dan lebih baik, kelenjar ludah dapat dilindungi untuk mencegah terjadinya kerusakan. Penyakit-penyakit sistemik Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol serta berhubungan dengan polidipsia dan poliuria, dapat menyebabkan xerostomia. Diabetes insipidus dengan sifat dehidrasi yang dimilikinya, dapat menimbulkan xerostomia. Dehidrasi medis atau operasi dari penyebab apapun dapat memberi efek xerostomia, keadaan tersebut sangat berfariasi, dari pendarahan sampai hipertiroidism. Uremia tidak hanya menimbulkan xerostomia karena terjadinya depresi pada susunan saraf pusat yang mengakibatkan terganggunya fungsi saraf parisimpatik. Keadaan-keadaan lain Kebiasaan merokok dapat menyebabkan xerostomia, dimana mula- mula

15

perokok akan mengalami ptialism yang setelah beberapa jam kemudian berubah menjadi xerostomia. Ganguan psikis maupun neuritik seperti depresi, stress maupun kecemasan dapat menyebabkan mulut terasa kering oleh karena terjadi perangsangan pada sistem simpatik dan penghambatan pada sistem parisimpatik yang mengakibatkan sekresi saliva berkuarang. Obat-obatan Terdapat sejumlah obat yang salah satu efek sampingnya berupa xerostomia. Ada beberapa obat dari tiap kelompok yang berhubungan dari xerostomia : 9.1 Obat yang bekerja pada daerah otak yang tinggi. Semua obat yang menghalangi aktivitas pusat otak dapat menghalangi sistem saraf simpatik dan parasimpatik. Yang termasuk kelompok tersebut adalah semua obat yang tergolong kategori penenang, narkotik, dan penghilang rasa sakit. Menurut Crispian Scully, salah satu obat penghilang rasa sakit yang dapat menyebabkan xerostomia adalah dari golongan opioid. 9.2 Obat yang bekerja pada ganglia autonomik Aksi obat ini berjalan melalui ganglia parasimpatik, yang mempunyai pola perpindahan neurohumoral yang sama dengan ganglia simpatik. Agent pemblokir ganglion seperti mekamilamin, pempidin dan pentolinium yang digunakan untuk mengontrol hipertensi dapat mengakibatkan pasien hampir selalu mengeluh tentang xerostomia dan kaburnya penglihatan. 9.3 Obat yang bekerja pada pertemuan parasimpatik neuro efektor Sebagian besar obat yang menimbulkan xerostomia bekerja pada daerah ini dengan cara memblokir efek muskarinik dari asetilkolin. Atropin, yang merupakan suatu alkaloid beladona bersama dengan substansi lain seperti hemotropin, hiosin dan produk amonium quartenari yang lain juga dapat menyebabkan xerostomia bila diberikan secara sistemis. Ada sejumlah obat yang digunakan sebagai spasmolitik dan untuk mengurangi sekresi gastrik, seperti probanten dan nakton yang mempunyai

16

efek xerostomia. Semua antihistamin mempunyai efek samping kolinergik sehingga dapat mengurangi sekresi saliva. Keadaan ini juga berlaku untuk beberapa obat yang digunakan untuk perawatan parkinsonism, seperti benzhexol, benztropin dan orphenadrin. 9.4 Obat yang bekerja pada daerah pertemuan andrenergik neuro efektor Ampetamin dan derivatnya yang digunakan sebagai obat perangsang atau obat penurun nafsu makan, dapat mengurangi sekresi saliva. Epedrin yang sering digunakan untuk perawatan asma dam mengurangi kekejangan bronkus juga mempunyai efek xerostomia.

2.6 Gangguan Sekresi Saliva Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau nyeri. Contoh beberapa kelainan pada kelenjar saliva diantaranya adalah : Mucocele, Ranula, Sialadenitis, Sjorgen syndrome, Sialorrhea, Sialosis, Sialometaplasia necrotic, Sialolitiasis , Xerostomia. ( Djuita, 1989). Kelainan kelenjar saliva ini merupakan lesi yang terdapat pada mukosa (jaringan lunak) mulut. Kelainan kelenjar saliva dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Umumnya kelainan ini disebabkan oleh trauma, misalnya : bibir yang sering tergigit atau pukulan di wajah. Selain itu juga dapat terjadi karena penyumbatan duktus (saluran) kelenjar liur minor dan penggunaan obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah. Untuk mengetahui gejala dan memastikan penanganan kelainan ini dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan anamnesa dengan lengkap dan cermat secara visual, bimanual palpasi intra & extraoral aspirasi, dapat juga dengan melakukan pemeriksaan laboratoris, pemeriksaan radiologis dengan kontras media, pemeriksaan mikroskopis, dan juga pemeriksaan biopsy. (Djuitan, 1989). Sialadenitis supuratif akut

17

Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1828. Sebagian besar penyakit ini melibatkan kelenjar parotis, dan terkadang juga melibatkan kelenjar submandibula. Seringnya terjadi keterlibatan kelenjar parotis dibandingkan dengan kelenjar saliva lainnya disebabkan karena aktivitas bakteriostatis pada kelenjar parotis lebih rendah dibandingkan pada kelenjar saliva lainnya. Organisme penyebab infeksi dapat berupa Staphylococcus aureus,

Streptococcus pneumonia, Eschericia coli, serta Haemophylus influenzae. Bakteri anaerob penyebab yang paling sering adalah Bacteroides melaninogenicus dan Streptocccus micros Sialolitiasis Salah satu penyakit pada kelenjar saliva adalah terdapatnya batu pada kelenjar saliva. Kebanyakan, batu pada kelenjar saliva mengandung kalsium fosfat, sedikit mengandung magnesium, amonium dan karbonat. Batu kelenjar saliva juga dapat berupa matriks organik, yang mengandung campuran antara karbohidrat dan asam amino Sindroma Sjogren Sindroma Sjogren dapat ditandai dengan adanya destruksi kelenjar eksokrin yang dimediasi oleh limfosit. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun yang terbanyak setelah artritis rematoid. Sindroma ini diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu primer dan sekunder. Pada tipe primer, penyakit ini hanya melibatkan kelenjar eksokrin saja, sedangkan pada tipe sekunder berhubungan dengan penyakit autoimun seperti rematoid artritis Xerostomia Adalah kekeringan mulut yang terjadi karena adanya gangguan fungsi kelenjar saliva yang disebabkan oleh : a. Factor Psikis - Reaksi emosiolnal, secara proses faal mengganggu aliran saliva - Dehidrasi, karena kehilangan banyak cairan tubuh ( diare,muntah)

18

b. Anomali - Aplasia kelenjar saliva (kelenjar saliva tidak terbentuk) c. Proses menua, karena atropi jaringan sekretorik dan mempengaruhi kecepatan aliran saliva d. Radiasi daerah leher dan kepala e. Mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan derajat kerusakan yang berbeda-beda tergantung dari dosis dan lamanya penyinaran Berkurangnya saliva menyebabkan mengeringnya selaput lendir, mukosa mulut menjadi kering, mudah mengalami iritasi dan infeksi. Keadaan ini disebabkan oleh karena tidak adanya daya lubrikasi infeksi dan proteksi dari saliva (Amerongan, 1991; Kidd dan Bechal, 1992). Proses pengunyahan dan penelanan, apalagi makanan yang membutuhkan pengunyahan yang banyak dan makanan kering dan kental akan sulit dilakukan. Rasa pengecapan dan proses bicara juga akan terganggu (Kidd dan Bechal, 1992; Amerongan, 1991; Son is dkk, 1995). Kekeringan pada mulut menyebabkan fungsi pembersih dari saliva berkurang, sehingga terjadi radang yang kronis dari selaput lendir yang disertai keluhan mulut terasa seperti terbakar (Wall, 1990). Pada penderita yang memakai gigi palsu, akan timbul masalah dalam hal toleransi terhadap gigi palsu. Mukosa yang kering menyebabkan pemakaian gigi palsu tidak menyenangkan, karena gagal untuk membentuk selapis tipis mukus untuk tempat gigi palsu melayang pada permukaannya (Haskell dan Gayford,1990). Selain itu karena turunnya tegangan permukaan antara mukosa yang kering dengan permukaan gigi palsu (Kidd den Bechal, 1992). Susunan mikroflora mulut mengalami perubahan, dimana mikro organisme kariogenik seperti streptokokus mutans, laktobacillus den candida meningkat. Selain. itu, fungsi bakteriostase dari saliva berkurang. Akibatnya pasien yang menderita mulut kering akan mengalami peningkatan proses karies gigi, infeksi candida dan gingivitis (Amerongan, 1991; Kidd dan Bechai, 1992; Sonis dkk, 1995).

19

Sialorrhea (hipersalivasi) Adalah suatu keadaan terjadinya sekresi saliva yang berlebihan. Sialorrhea

bukanlah suatu penyakit, tetapi suatu symptom dari banyak kelainan yang berhubungan dengan kelenjar-kelenjar saliva, baik dalam keadaan local maupun sistemik. Mumps Mumps (Gondongan) adalah suatu infeksi paramyxovirus menular yang menyebabkan pembengkakan pada kelenjar parotos, submandibula dan kelenjar saliva lainnya yang disertai nyeri

20

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Macam-macam secret saliva Terdapat dua macam tipe salivayang dihasilkan: Mukus Serus

Mukus Sel mucus merupakan sekresi kental yang terutama terdiri dari air, elektrolit, dan campuran beberapa glikoprotein.Mucus mengandung musin sebagai pelumas dan perlindungan permukaan. Sel mucus bertekstur kental-padat dan kaya akan polisakarida dan protein nonenzimatik. Dihasilkan oleh kelenjar sublingualis dan submandibularis dengan sekresi yang bersifat kental/pekat. Terdiri dari air, elektrolit, dan campuran beberapa glikoprotein yang terdiri dari sejumlah besar polisakarida yang berikatan dengan protein dalam jumlah sedikit. Saliva jenis ini mengandung mucin, yaitu sebuah glikoprotein yang melubrikasi makanan dan memproteksi mukosa oral. Mucin mengandung IgA, berfungsi sebagai sistem imun pertama yang menghadang bakteri dan virus; Lisozim, yang berfungsi menghancurkan dinding bakteri; laktoferin, berfungsi mengikat zat besi dan protein kaya akan prolin, memproteksi gigi. Histologi dari mukus dan serus tergantung dari fungsional aktivitas sel. Pengecatan dapat dilakukan dengan menggunakan hemotoxylin dan eosin.Mukus terdiri dari sel-sel yang berisi berbentuk padat berwarna basophilic oval dengan inti rata terletak berdekatan dengan basal selaput sel sitoplasma, bersifat sedikit eosinophilik dan terbungkus rapat oleh droplet dari mucinogen.

21

Serus Sel serus mengandung ptyalin (suatu -amilase) yang merupakan enzim untuk mencerna karbohidrat. Dihasilkan oleh kelenjar parotis dan submandibularis, mengandung ptialin (suatu amilase, yaitu sebuah enzim untuk mencernakan serat). Diwarnai dengan HE, suatu sinus serus dibentuk dari sel berbentuk baji tersusun lingkaran di lumen usus kecil.Intinya spherical, basofilik dan terletak di basal ke-3 dari sel. Sitoplasma infranuklear (basal) adalah basofilik (jumlah yang besar dari Retikulum Endoplasma kasar), ketika sitoplasma apikal bergranul dan eosinofil.Adanya retikulum endoplasma yang berlimpah, seperti yang dilihat di mikroskop, adalah suatu refleksi dari fungsi sekresi mereka. Mitokondria ditemukan pada bagian basal sel dan golgi apparatus pada posisi supranuklear.Granul adalah vesikel ikat-membran yang mengandung -amilase dan substansi lainnya.Karena sel ini juga mengeluarkan sejumlah polisakarida, beberapa ahli menyebutnya sebagai seromukus sel. Lumen dari asinus serus berhubungan dengan banyak kanalikuli sekretori interselular, dan keduanya digariskan oleh banyak mikrofili

pendek.Membran basal sel dari sel serus menunjukkan lipatan dan sisa pada basal lamina.

Kelenjar Parotis Kelenjar parotis ialah yang terbesar. Satu di sebelah kiri dan satu disebelah kanan dan terletak dekat di depan agak kebawah telinga. Sekretnya dituangkan kedalam mulut melalui saluran Stensen. Ada dua struktur penting yang melintasi kelenjar parotis yaitu arteri karotis eksterna dan saraf cranial ketujuh (saraf fasial)

Kelenjar submandibularis

22

Kelenjar

submandibularis

nomer

dua

besarnya

setelah

kelenjar

parotis.Terletak dibawah kedua sisi tulang rahang dan berukuran sebesar biji kenari. Sekretnya dikeluarkan ke dalam mulut melalui saluran Wharton

Kelenjar sublingualis Kelenjar sublingualis adalah terkecil, letaknya dibawah lidah di kanan dan kiri frnulum linguae.Sekretnya dituangkan kedalam mulut melalui beberapa muara kecil.

Karakteristik Komponen kelenjar saliva Kelenjar saliva terbentuk dari sebuah cord ephitelium yang tumbuh kedalam dasar jaringan ikat, dan cord membentuk sebuah tube. Pada bagian akhir tube ini sebuah kelompok sel sekretori terbentuk, dan kelompok ini, yang terlihat seperti rangkaian buah anggur, akan memiliki ujung yang berbentuk lingkaran atau seperti tube (tubelike).

Acini Bagian akhir dari sekretori dikenal dengan acini.Ada dua jenis sel acini, yaitu mucous acini dan serous acini.Walaupun sel-sel ini berbentuk seperti anggur atau seperti tube pada ujungnya, in cross section mereka dideskripsikan sebagai sel piramida. Garis( batas) luar atau dasar sel rests on basement membrane diantara sel dan jaringan ikat. Didalam jaringan ikat ini terdapat saraf dan pembuluh darah yang penting unutk baerbagai aspek aktivitas seluler. Akar (ujung)dari permukaan seperti pusat dari tube atau struktur buah anggur. Dasar sel dikelilingi oleh jaringan ikat dan bagian yang mengelilingi tiap-tiap acinus sekretori adalah sel myoepitelial. Sel ini memiliki proyeksi sel yang panjang, menyerupai cumi-cumi.Sel ini juga memiliki kemampuan untuk berkontraksi seperti otot. Karena itu, kata myo, berarti otot. Proyeksi ini mengelilingi acinus dan ketika sel myoepitelial berkontraksi, dia memeras/menekan acinus dan membantu proses sekresi saliva yang diakumulasikan dalam pusat acinus

23

dan membantu memindahkannya keluar dari duct system. Semua tipe acini (mucous, serous, dan seromucous) mngeluarkan produknya melalui proses sekresi merokrin.

Mucous acini Sekresi mucus sedikit kental karena produksi dari banyak mucin. Walaupun produknya 99% air, ia memiliki ion-ion inorganic, seperti sodium, potassium, dan kloride, dan jumlah yang sangat sedikit dari amylase, enzim pemecah karbohidrat yang mulai menghancurkan starches menjadi rantai gula panjang. Ia juga memiliki protein yang membantu dalam penghambatan karies dan penyakit

periodontal.Mucous acinus lebih tubular dan memiliki lumen yang besar daripada serous acinus, dan membrane sel lebih mudah dilihat pada sisi yang bersebelahan. Inti dari mucus sel biasanya sangat rata (flat) dan terletak berlawanan dengan ujung (akhir ) basal sel dan sel berbentuk pyramidal. Ujung apical dari sel-sel ini tampak frothy dibawah mikroskop sinar. Dengan mikroskop electron, dapat terlihat banyak mucus droplet yang berwarna sangat buruk dan tampak kosong dan frothy.

Serous acini Sekresi serous acini hampir sama dengan mucous acini, hanya tanpa mucin, sehingga sekresi serous lebih encer,dan lebih banyak air. Serous acinus adalah sumber utama amylase. Granula sekretorinya stain deeply , lumen sangat kecil dan sulit dilihat, membrane sel yang berdekatan tidak mudah dilihat. Serous sell juga berbentuk pyramidal. Inti sel nya bulat dan menutup dasar /pusat (base) sel.

Seromucous acini Kelenjar yang memiliki komponen mucous dan serous acini. Mucous sel berbentuk seperti tube struktur, dan pada ujung tube sekelompok serous sel membentuk half moon cluster. Ini disebut serous demilunes. Sel serous demilunes mengeluarkan produknya antara dinding sel dari underlying mucous sel dan sekretnya memasuki lumen kelenjar. Acini ini memproduksi secret seperti mucous dan serous acini.24

3.2 Fungsi Saliva Saliva memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga efisiensi kerja tubuh dan menjaga kesehatan secara umum. Fungsi saliva biasanya baru dapat dirasakan jika produksinya telah berkurang. Beberapa fungsi saliva dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Fungsi Saliva pada Proses Pencernaan dan Pengunyahan Enzim amilase yang terdapat pada saliva mampu menguraikan sebagian makanan yang mengandung tepung kanji dan glikogen. Saliva juga dapat membantu proses pengunyahan, sebab jika produksi saliva berkurang, makanan yang membutuhkan pengunyahan optimal akan sukar dilakukan dan dapat menimbulkan eksaserbasi pada mukosa mulut. 2) Fungsi Saliva dalam Proses Pengecapan Rasa Saliva berperan dalam melarutkan bahan-bahan makanan yang memiliki rasa tertentu sehingga dapat diterima stimulusnya oleh reseptorreseptor pengecap. Penurunan jumlah saliva dapat mengganggu proses pengecapan, sukar mengunyah dan menelan, apalagi jika makanan tersebut kering atau kental. 3) Fungsi Saliva sebagai Bufer Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat, serta kandungan ammonia dan urea dalam saliva dapat menyangga dan menurunkan pH yang terjadi saat bakteri plak sedang memetabolisme gula. Kapasitas buffer dan pH saliva erat hubungannya dengan kecepatan sekresinya. Peningkatan kecepatan sekresi saliva mengakibatkan naiknya kadar natrium dan bikarbonat saliva, sehingga kapasitas bufer saliva pun meningkat. Peningkatan kapasitas buffer dapat melindungi mukosa rongga mulut dari asam yang terdapat pada makanan saat

25

muntah. Selain itu, penurunan pH plak sebagai akibat ulah organism akan dihambat. Sistem bufer saliva membantu mempertahankan pH rongga mulut sekitar 7,0. 4) Fungsi Saliva dalam Proses Anti Bakteri Saliva mengandung beberapa faktor yang dapat menghancurkan bakteri. Salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa enzim proteolitik seperti lisozim, yang dapat menyerang bakteri, membantu ion tiosianat memasuki bakteri yang kemudian menjadi bakterisidal, dan dapat pula mencerna partikel makanan sehingga dapat menghilangkan pendukun metabolism bakteri. 5) Fungsi Saliva dalam Mencegah Karies Difusi komponen saliva seperti kalsium, fosfat, ion OH dan Fe ke dalam plak dapat menurunkan kelarutan email dan meningkatkan

remineralisasi karies dini. Beberapa komponen saliva yang termasuk dalam komponen non imunologi seperti lisozim, laktoperoksidase, dan laktoferin mempunyai daya anti bakteri yang langsung terhadap mikroflora tersebut, sehingga derajatasi dogeniknya berkurang. 6) Fungsi Lubrikasi Saliva dapat membentuk lapisan mucus pelindung pada membrane mukosa yang akan bertindak sebagai pelindung terhadap iritan dan akan mencegah kekeringan dalam rongga mulut. Jika mukosa mulut tidak dilindungi oleh saliva, maka mukosa mulut akan mudah luka dan terkena infeksi. Peradangan mukosa ditandai oleh rasa nyeri atau seperti terbakar dan akan mengalami eksaserbasi oleh makanan pedas, buah-buahan, minuman panas, dan tembakau.

26

7) Fungsi Saliva dalam Menjaga Higiene Rongga Mulut Aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga meningkatkan pembersihan karbohidrat dari rongga mulut. Jika jumlah saliva di dalam mulut menurun, akumulasi plak akan meningkat dan terjadi modifikasi flora plak sehingga jumlah Candida, Laktobasilusdan Streptococcus mutan smakin banyak. Oleh karena itu, pada pasien yang menderita mulut kering akan sering terjadi infeksikan di gingivitis. 3.2.1 Fungsi Protein pada Saliva a. Lisosim Lisosim terdapat hampir pada semua cairan tubuh dan terdeteksi pada fetus manusia umur 9-12 tahun. Sumber lisosim saliva berasal dari glandula salivarius mayor dan minur, sel fagosit maupun cairan krevikular gingival. Fungsi lisosim adalah sebagai berikut Aktivitas muramidase, yaitu lisosim mampu menghidrolisa ikatan (14) antara asam N-asetil muramik dan N-asetilglukosamin pada lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri. Hidrolisa lapisan peptidoglikan akan melisis bakteri. Aktivitas bakterial autolysin tergantung pada kationik. Oleh karena lisosim merupakan kationik. Lisosim dapat merusak membrane bakteri dan mengaktifkan mekanisme bacterial autolysin karena aktivasi muramidase dan autolysin Menyebabkan terjadinya agregasi bakteri Mencegah perlekatan bakteri pada permukaan gigi Mencegah penggunaan glukosa oleh bakteri Memecah rantai streptokokus b. Sistem Peroksidase Saliva

27

Sumber utama sistem peroksidase saliva (SPS) ialah glandula salivarius dan sel lekosit. SPS yang berasal dari glandula salivarius disebut salivary peroksidase, sedangkan SPS yang berasal dari lekosit disebut mieloperoksidase. Salivary peroksidase manusia kadang-kadang disebut pula laktoperoksidase karena kesamaannya dengan

laktoperoksidase susu sapi. Aktivitas antimicrobial Melindungi sel dari efek toksik hydrogen peroksida Melindungi bakteri dari efek bakteriosidadl hydrogen peroksida Melindungi asam sialik dari dekarbosilase okksidatif oleh hydrogen peroksida Inaktivasi komponen mutagenic dan karsinogenik

c. Laktoferin Laktoferin (LF) adalah glikoprotein (berat molekul 76 kilodalton) yang mengikat besi. Glikoprotein ini dikeluarkan oleh sel serosa dan glandula salivarius minor. Dalam rongga mulut, sumber penting LF ialah cairan gingival. Fungsi utama LF sangat ditentukan oleh tingginya afinitas LF untuk mengikat ion besi, sehingga mLF mampu menurunkan level ion besi yang merupakan bahan esensial untuk metabolism mikroorganisme patogen. Dengan kata lain, sifat bakteriostatik LF karena ikatannya dengan ion besi. LF mampu pula bersifat bakteriosid terhadap S. mutan secara invitro dengan suhu 370C. d. Salivari Aglutinin Saliva mengandung beberapa komponen yang mampu

mengaglutinasi bakteri mulut. Akibatnya interaksi komponen tersebut dengan bakteri menghasilkan agregasi bakteri (membentuk endapan bakteri) yang mudah dibersihkan oleh saliva dan kemudian tertelan. Komponen tersebut adalah:

28

Glikoprotein dengan berat molekul tinggi Salivary IgA Lisosim mikroglobulin (, m) Fibronektin (FN)

e. Proline Rich protein (PRP) PRP adalah protein kaya prolin yang merupakan sekelompok kompleks protein yang mampu menghambat presipitasi spotan garam kalsium fosfat. Protein ini dengan cepat akan teradsorbsi dari saliva ke permukaan hidroksi apatit. Diperkirakan adsorbs ini menghambat pertumbuhan Kristal garam kalsium. f. Protein antimicrobial anionic Saliva mengandung 4 macam protenin anionic yang dapat menghambat pertumbuhan S. mutans. Berat molekul protein ini adalah 14-17 kilodalton. Pada orang yang bebas karies, protein ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

3.2.2 Fungsi Lipid pada Saliva Dalam saliva lipid merupakan perantara substansi lipofilik agar dapat menembus mukosa mulut dan lipid mengganggu interaksi kalsium dengan protein dan glikoprotein saliva. Beberapa lipid saliva seperti lisofosfatidilkolin dapat mempengaruhi akktivitas enzim glukosiltransferase bakteri kariogenik, seperti S. mutans. Lipid mampu menstabilkan ikatan hidrofobik antara bakteri dengan jaringan mulut. Pelikel lipid memelihara kohesi plak bakteri, sehingga mempercepat

29

terbentuknya kalkulus. Tetapi lipid dalam pelikel mampu menghambat proses terjadinya karies. 3.3 Mekanisme Sekresi Saliva Sekresi saliva sebagian besar merupakan proses aktif yang menunjukan bahwa proses tersebut memerlukan energi. Proses ini dibedakan menjadi dua fase: 1. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel sekretori. Sifat rangsang yang menstimulasi kelenjar saliva dapat berupa rangsang adrenergic maupun kolinergik, karena sel diinervasi baik simpatis maupun parasimpatis. Rangsang adrenergic menghasilkan saliva yang pekat, kaya protein, kaya kandungan musin dan berbuih. Rangsang kolinergik, neurotransmitter asetilkolin menghasilkan sekresi cairan yang kuat dengan kadar protein yang rendah. Akibat rangsangan, melalui eksositosis sel menghasilkan cairan sekresinya kepada lumen. Rangsang tersebut menyebabkan aliran darah ke asinus meningkat sehingga mempermudah pembentukan cairan asinar. Cairan asinar ini disebut juga saliva primer. 2. Perubahan yang terjadi pada duktus striata. Saliva diangkutdari lumen melalui duktus yang melibatkan kontraksi sel mioepitel. Selama pengangkutan ke rongga mulut, susunan saliva diubah dari cairan isotonic dengan konsentrasi ion yang hamper sama dengan plasma menjadi hipotonik dengan konsentrasi ion natrium dan klorida yang rendah. Perubahan ini terjadi karena di dalam duktus, air dan elektrolit disekresi dan atau diabsorbsi oleh sel epitel, terutama pada duktus striata.

30

Sifat rangsang menentukan kepekatan produk akhir yang bervariasi dari encer sampai pekat. Kepekatan saliva ditentukan oleh sekresi air dan sekresi musin yang diatur oleh saraf kolinergik dan adrenergik. Neurotransmitter asetilkolin dan parasimpatetikomimetika merangsang sekresi air, sedangkan obat seperti atropinesulfat menghambat sekresi air dan menyebabkan keringnya mulut.

Mekanisme Sekresi Saliva Saat Istirahat

31

Saat istirahat

Sekresi saliva dipicu reseptor penglihatan di retina oleh cahaya

Refleks cahaya merangsang sel asini melalui saraf simpatis

Saliva banyak mengandung protein dan glikoprotein

Aliran saliva lambat menyebabkan Na+ banyak diresorbsi

Saliva bersifat hipotonik

Mekanisme Sekresi Saliva Saat Makan

32

Saat makan

Sekresi saliva sebagai hasil refleks makan, dipicu reseptor pengecap dan mekanik

Melibatkan saraf simpatis dan saraf parasimpatis

Saliva banyak mengandung protein, air dan elektrolit

Proses reabsorbsi minimal

Proses ini terjadi saat saraf para simpatis tidak aktif

3.4 Pengendalian Sekresi Saliva

33

Refleks sekresi saliva dipengaruhi oleh adanya makanan di rongga mulut, juga rangsangan serat-serat vagus eferen di ujung esofagus yang dekat dengan gaster. Dan faktor psikogenik yang memicunya berupa melihat, mencium dan mengkonsumsi makanan yang meningkatkan nafsu makan. Daerah nafsu makan pada otak, terletak di daerah pusat parasimpatis hipotalamus anterior, dan berfungsi sebagai respon terhadap sinyal dari daerah pengecapan dan penciuman dari korteks serebral dan amigdala. Bahan kimia penyusun makanan yang larut dalam saliva akan kontak dengan sel rasa melalui sel pengecap. Pengecapan adalah fungsi utama dari taste bud, yang didalamnya terdapat TRCs (Taste Receptor Cells). Sel reseptor dipersarafi oleh afferent nerve endings, yang menyalurkan informasi ke pusat rasa dalam otak dan talamus. Sehingga terjadi peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatik dan peningkatan triger dari saraf fasialis dan glosofaringeal, mengakibatkan peningkatan sekresi saliva. Rasa mans dan pahit diatur oleh fungsi TRCs yang melibatkan GPCRs (G-Protein Coupled Receptors), aktivasinya menyebabkan terlepasnya transmiter pads saraf gustatori primer. Serabut aferen berakhir di saraf gustatori di medula, mengatur aktivitas kelenjar ludah dan perut. Kedua hipotalamus berperan dalam pusat kenyang dan lapar dan sistem limbik membawa unsur afektif pengecapan. Ketiga adalah hubungan reseptor raba lidah ke talamus dan korteks yang berkaitan dengan modalitas kecap membedakan rasa. Pusat pengaturan sekresi saliva Pada dasarnya sekresi saliva saliva berada dibawah kontrol saraf. yang

Rangsangansarafbagisekresi

terbagimenjadidua,

pertamaadalahinervasi saraf parasimpatik. Inervasi saraf parasimpatik memegang peran utama dalam modifikasi komposisi saliva. Sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan bahan organik yang rendah distimulasi oleh saraf

34

parasimpatis dari nukleus salivatorius superior. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi mencolok pada kelenjar, yang disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine polipeptide). Inervasi kedua adalah dari saraf simpatis yang memegang peran utama dalam memengaruhi volume sekresinya. Saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit saliva yang akan bahan organik dari kelenjar submandibulais. Pada kelenjar sub lingual dan kelenjar-kelenjar minor, lebih dipengaruhi oleh respon kolinergik, sedangkan pada kelenjar lainnya cenderung ke inervasi adrenergic. Sekresi saliva terbagi menjadi dua bagian yaitu biosintesis protein dan tanspor air dan elektrolit dimana pengendalian sekresinya dipengaruhi oleh sistem saraf yang berhubungan dengan rangsangan mekanik dan reseptor pengecapan. Sistem saraf yang memengaruhi pengendaliannya meliputi rangsangan kolinergik, reseptor alpha adrenergik, dan reseptor beta adrenergik. Proses sekresi saliva ada dua bagian utama yaitu biosintesis protein dalam sel asini serta transport protein menembus membran sel asini menuju lumen kelenjar, transport air dan elektrolit menembus epitel lapisan kelenjar menuju lumen kelenjar 3.5 Faktor faktor yang mempengaruhi sekresi saliva Faktor yang mempengaruhisekresi saliva antaralain : 1. Faktor Variasi Diurnal. Variasi di urnal merupakan proses yang kerja di dalam tubuh manusia, antara lain terjadinya peningkatan Natrium dan Kloride pada pagi hari, sedangkan Kalium akan meningkat pada siang hari. 2. Faktor Durasi Stimulus. Lamanya stimulus yang mengenai kelenjar saliva dapat menyebabkan perubahan pada komponen saliva.

35

3. Faktor Tipe kelenjar.Setiap kelenjar memiliki tingkat penerimaan dan kepekaan yang berbeda-beda, sehingga aliran dari jumlah salivanya pun berbeda-beda. 4. Faktor Diet. Diet berpengaruh terhadap perbedaan aliran saliva. Aktifitas fungsional kelenjar saliva dipengaruhi oleh factor mekanis dan pengecapan 5. Faktor Konsentrasi plasma. Konsentrasi plasma berhubungan dengan konsentrasi asam amino, kalsium, glukosa, kalium, urea, dan asam uric dalam saliva 6. Faktor hormone. Dapat berasal dari aldeosteron, hormone bradikinin, testosterone dan tiroksin 7. Disfungsi kelenjar ludah. Dapat disebabkan oleh penyumbatan saluran, penyakit iritasi kelenjar ludah, dan terapi radiasi.

8. Faktor umum. Faktor umum terbagi menjadi reflex tidak bersyarat dan reflex bersyarat a. Reflek tidak bersyarat menyangkut : 1) Rasa:pengaruh rasa yang ditimbulkan dari rangsangan sangat beragam, sehingga memberikan efek stimulasinya terhadap aliran ludah pun berbeda-beda. 2) Bau-Bau yang ditangkap oleh indra penciuman juga berpengaruh terhadap sekresi saliva meskipun efeknya tidak terlalu besar. 3) Stimulasi mekanis terhadap mucosa mulut, dimana ketika kita mengunyah makanan yang halus akan meningkatkan sekresi saliva jika dibandingkan dengan makanan yang kasar yang dapat menyebabkan penurunan sekresi saliva bahkan menyebabkan terhambatnya aliran saliva. 4) Iritasi mekanis terhadap gingiva seperti scaling gigi dan prosedur polishing dapat mempengaruhi sekresi saliva.

36

5) Mastikasi makanan, pengunyahan makanan dapat meningkatkan impuls sensorik, seperti dari stimulasi mekanis dari mukosa mulut, tekanan pada gigi yang melibatkan reseptor periodontal, dan impuls dari sendi temporo mandibular (TMJ) dan otot pengunyah. 6) Iritasi kimia terhadap mukosa mulut. Asam, terutama asam sitrat, sangat menstimulasi aliran ludah, sehingga salivasinya pun meningkat, berikutnya garam halus, dan rasa yang pahit. 7) Distensi atau iritasi esophagus, seperti benda asing. 8) Iritasi kronis terhadap esophagus seperti carcinoma esophagus. 9) Iritasi bahan kimia terhadap dinding perut yang mengakibatkan rasa mual. 10) Kehamilan, biasanya diikuti oleh meningkatnya aliranludah. 11) Obat (terutama dengan aktivitas anti cholinergic), contohnya atropine. 12) Gangguan endokrin, seperti diabetes mellitus, penyakit cushing, dan penyakit Addison. Dimana orang yang menderita penyakit diabetes mellitus memiliki saliva yang lebih kental jika dibandingkan dengan individu normal.

3.6 Kelainan Sekresi Saliva Kelainan Sekresi Saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau nyeri. Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain: 1. Mucocele

37

Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar saliva dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Etiologi Umumnya disebabkan trauma, mis: bibir yang sering tergigit atau pukulan di wajah. Karena penyumbatan duktus (saluran) kelenjar liur minor. Obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah. Gambaran Klinis Batas tegas konsistensi lunak Ukuran biasanya kecil Tidak ada keluhan sakit Kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi Diagnosis Melakukan anamnesa lengkap dan cermat secara visual Bimanual palpasi intra & extraoral Aspirasi Melakukan pemeriksaan laboratories38

Pemeriksaan radiologis dengan kontras media Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsy

2. Ranula Etiologi Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang membesar atau terputus. Gambaran klinis Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar Dinding sangat tipis dan mengkilap Warna translucent Kebiru-biruan Palpasi ada fluktuasi Tumbuh lambat dan expansif

3. Sialadenitis Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya disebababkan oleh hyposecretion kelenjar. Proses ini dapat bersifat akut dan dapat menyebabkan pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Etiologi

39

Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran. Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur 50-an sampai 60-an, khususnya pada pasien sakit kronis dengan xerostomia,dan pasien dengan sindrom Sjgren, dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut. Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah Staphylococcus aureus organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan berbagai bakteri anaerob. Gambaran klinis Meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, dan dalam kasus yang parah penderita , demam, dan menggigil 4. Sjorgen syndrome Sjorgen syndrome merupakan suatu penyakit auto imun yang ditandai oleh produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap berbagai jaringan tubuh. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering. Gejala Mulut kering Susah menelan Kerusakan gigi Penyakit gingiva

40

Mulut luka dan pembengkakan Infeksi pada kelenjar parotis bagian dalam pipi. Etiologi Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, namun ada dukungan ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor genetik, penyakit ini kadang-kadang ditemukan pada anggota keluarga lainnya. Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun lainnya seperti lupus, autoimun penyakit tiroid, diabetes, dll. Diagnosis Sjorgen syndrome dapat didiagnosis dengan cara biopsi

5. Sialorrhea Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang detandai dengan menetesnya air liur atau sekresi saliva yang berlebihan. Etiologi Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan neurologis, infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping dari obat-obatan tertentu 6. Sialosis Sialosis didefinisikan sebagai pembengkakan non-inflamasi dan non-neoplastik dari kelenjar saliva. Paling sering mengenai kelenjar parotis biasanya bilateral, tapi kadang-kadang juga mengenai kelenjar submandibularis dan sublingualis.

41

Etiologi Penyebab sialosis sering dihubungkan dengan sejumlah penyakit sistemik, terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi, bulimia nervosa dan anoreksia nervosa. Juga akibat efek samping sejumlah obat-obatan. 7. Sialometaplasia necrotic Lesi pada kelenjar saliva yang bersifat nonneoplastik, peradangan yang dapat sembuh dengan sendirinya, terutama mengenai kelenjar saliva yang terdapat pada palatum. Gejala klinis Muncul secara spontan Terdapat lesi dan pembengkakan Ukuran maksimal 1-2 cm Lesi bilateral atau unilateral Burning sensation (sensasi terbakar) Etiologi Penyebab sialosis sering dihubungkan dengan sejumlah penyakit sistemik, terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi, bulimia nervosa dan anoreksia nervosa. Juga akibat efek samping sejumlah obat-obatan. 8. Sialolitiasis Sialolitiasis merupakan pembatuan yang terjadi akibat

pengendapan dari bahan-bahan organic dan anorganik antara lain deposisi garam-garam kalsium disekitar nidus organik yang terdiri dari

42

alterasi musin-musin saliva bersama dengan adanya deskuamasi selsel epitel, dekomposisi protein yang dihasilkan oleh aktivitas bakteri dan mikroorganisme (infeksi akut). Etiologi Reaksi pengobatan. Peradangan Kelainan Sistemik Gejala klinis Mulut kering Wajah membengkak Rasa Sakit/Nyeri pada mulut Mulut kemerahan Pembengkakan pada mulut dan sekitarnya Kesulitan Menelan Pembengkakan pada leher Kesulitan Membuka Mulut Rasa Sakit/Nyeri pada leher dan wajah

9. Xerostomia

Adalah kekeringan mulut yang terjadi karena adanya gangguan fungsi kelenjar saliva yang disebabkan oleh : f. Factor Psikis43

-

Reaksi emosiolnal, secara proses faal mengganggu aliran saliva Dehidrasi, karena kehilangan banyak cairan tubuh ( diare,muntah)

g. Anomali Aplasia kelenjar saliva (kelenjar saliva tidak terbentuk)

h. Proses menua, karena atropi jaringan sekretorik dan mempengaruhi kecepatan aliran saliva i. Radiasi daerah leher dan kepala j. Mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan derajat kerusakan yang berbeda-beda tergantung dari dosis dan lamanya penyinaran Berkurangnya saliva menyebabkan mengeringnya selaput lendir, mukosa mulut menjadi kering, mudah mengalami iritasi dan infeksi. Keadaan ini disebabkan oleh karena tidak adanya daya lubrikasi infeksi dan proteksi dari saliva (Amerongan, 1991; Kidd dan Bechal, 1992). Proses pengunyahan dan penelanan, apalagi makanan yang membutuhkan pengunyahan yang banyak dan makanan kering dan kental akan sulit dilakukan. Rasa pengecapan dan proses bicara juga akan terganggu (Kidd dan Bechal,1992; Amerongan,1991; Son is dkk, 1995). Kekeringan pada mulut menyebabkan fungsi pembersih dari saliva berkurang, sehingga terjadi radang yang kronis dari selaput lendir yang disertai keluhan mulut terasa seperti terbakar (Wall, 1990). Pada penderita yang memakai gigi palsu, akan timbul masalah dalam hal toleransi terhadap gigi palsu. Mukosa yang kering menyebabkan pemakaian gigi palsu tidak menyenangkan, karena gagal untuk membentuk selapis tipis mukus untuk tempat gigi palsu melayang pada permukaannya (Haskell dan Gayford,1990). Selain itu

44

karena turunnya tegangan permukaan antara mukosa yang kering dengan permukaan gigi palsu (Kidd den Bechal,1992). Susunan mikroflora mulut mengalami perubahan, dimana mikro organisme kariogenik seperti streptokokus mutans, laktobacillus den candida meningkat. Selain. itu, fungsi bakteriostase dari saliva berkurang. Akibatnya pasien yang menderita mulut kering akan mengalami peningkatan proses karies gigi, infeksi candida dan gingivitis (Amerongan,1991; Kidd dan Bechai,1992; Sonis dkk,1995). 10. Sialorrhea (hipersalivasi)

Adalah

suatu

keadaan

terjadinya

sekresi

saliva

yang

berlebihan. Sialorrhea bukanlah suatu penyakit, tetapi suatu symptom dari banyak kelainan yang berhubungan dengan kelenjar-kelenjar saliva, baik dalam keadaan local maupun sistemik.

11. Mumps

Mumps ( Gondongan) adalah suatu infeksi paramyxovirus menular yang menyebabkan pembengkakan pada kelenjar parotos, submandibula dan kelenjar saliva lainnya yang disertai nyeri

12. Sialadenitis supuratif akut

Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1828. Sebagian besar penyakit ini melibatkan kelenjar parotis, dan terkadang juga melibatkan kelenjar submandibula. Seringnya terjadi keterlibatan kelenjar parotis dibandingkan dengan kelenjar saliva lainnya

45

disebabkan karena aktivitas bakteriostatis pada kelenjar parotis lebih rendah dibandingkan pada kelenjar saliva lainnya. Organisme penyebab infeksi dapat berupa Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Eschericia coli, serta Haemophylus influenzae. Bakteri anaerob penyebab yang paling sering adalah Bacteroides melaninogenicus dan Streptocccus micros

46

BAB IV KESIMPULAN

Saliva adalah cairan kompleks yang merupakan campuran dari sekresi glandula Mayor dan Minor. Saliva mempunyai beberapa fungsi penting di dalam rongga mulut, diantaranya sebagai pelumas, aksi pembersihan, pelarutan, pengunyahan dan penelanan makanan, proses bicara, sistem buffer dan yang paling penting adalah fungsi sebagai pelindung dalam melawan karies gigi. Jenis sekresi saliva memiliki tiga jenis yaitu serous, mucus, dan seromukus. Mekanisme sekresi saliva dipengaruhi hormon dan system saraf. Mekanisme sekresi saliva dipengaruhi oleh berbagai factor yang dapat mengakibatkan modifikasi baik pada viskositas, volume dan derajat keasamaan saliva.

47

DAFTAR PUSTAKA

Amerongan, A.V. N. 1991. Ludah dan Kelenjar Ludah. Arti Bagi Kesehatan Gigi. alih bahasa Prof. drg. Rafiah Abyono. Ed. Ke-1. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Barid, Izzata, dkk. 2007. Biologi Mulut I Untuk Kedokteran Gigi. Jember: Jember University Press. Eroschenko, Victor P. Atlas Histologi diFiore dengan Kolerasi Fungsional Ed. 11. Jakarta: EGC. Guyton, Arthur C. 2007. Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC. Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

48