BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .3. Musyawarah (Mediasi, Konsiliasi, Negosiasi) 4. Dalam hal

download BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .3. Musyawarah (Mediasi, Konsiliasi, Negosiasi) 4. Dalam hal

of 24

  • date post

    13-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    212
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .3. Musyawarah (Mediasi, Konsiliasi, Negosiasi) 4. Dalam hal

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam suatu transaksi, terdapat kemungkinan debitur lalai melaksanakan kewajiban

(wanprestasi) bukan karena over macht, yang dapat berbentuk :

1. tidak memenuhi prestasi sama sekali.

2. terlambat memenuhi prestasi.

3. memenuhi prestasi secara tidak baik (tidak sesuai dengan yang diperjanjikan).

Penyelesaian wanprestasi atas suatu kontrak dapat dilakukarn melalui berbagai cara,

yaitu:

1. Melalui gugatan keperdataan (Peradilan Perdata) atau litigasi. Litigasi merupakan

penyelesaian sengketa melalui proses peradilan resmi (ordinary court).

2. Arbitrase

3. Musyawarah (Mediasi, Konsiliasi, Negosiasi)

4. Dalam hal perjanjian utang piutang diikat dengan jaminan kreditur dapat menjual

barang jaminan tersebut

5. Melalui Kepailitan.

Secara etimologis, istilah "kepailitan" berasal dari kata "pailit". Dalam Bahasa

Perancis, istilah ' faillite" artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan

pembayaran. Dalam bahasa Belanda digunakan istilah failliet. Sedangkan dalam

2

bahasa Latin dipergunakan istilah ' fallire", dan dalam bahasa Inggris dikena!

dengan kata to fail, untuk arti yang sama. Disamping itu pada negara-negara yang

berbahasa Inggris untuk pengertian pailit dan kepailitan dipcigunakan istilah-

istilah bankrupt dan bankruptcy.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian kepailitan tersebut, antara lain :

1. Kepailitan menurut Memorie van ToelichCing (Penjelasan umum) adalah suatu

pensitaan berdasarkan hukum atas seluruh harta kekayaan si berutang guna

kepentingannya bersama para yang mengutangkan.

2. E. Suherman berpendapat bahwa pada hakekatnya failisemen adalah suatu sita

umum yang bersifat conservatoir dan pihak yang dinyatakan failit hilang

penguasaannya atas harta bendanya. Penyelesaian failit diserahkan kepada

seorang kurator yang dalam melaksanakan tugasnya diawasi oleh seorang

komisaris, yaitu hakim pengadilan yang ditunjuk.

3. Kamus Hukum Ekonomi mengartikan "bankrupt" atau pailit adalah suatu keadaan

debitur yang dinyatakan dengan putusan hakim bahwa ia dalam keadaan tidak

mampu membayar hutang-hutangnya.

4. Dalam UU No. 37 Tahun 2004, kepailitan diartikan sebagai sita umum atas semua

kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh

Kurator di bawah pengawasan Hakim pengawas sebagaimana diatur dalam

Undang-Undang ini.

Jadi kepailitan merupakan sitaan umum terhadap seluruh harta kekayaan debitur,

yang dinyatakan dengan putusan hakim bahwa ia tidak mampu membayar utang-

3

utangnya. Sitaan mana akan dibagikan secara seimbang bagi kepentingan para para

kreditumya.

Pernyataan pailit ini berkaitan dengan "ketidak mampuan untuk membayar" dari

seorang debitur atas uiang-utangnya yang telah jatuh tempo. Ketidakmampuan itu harus

disertai dengan tindakan nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela

oleh debitur sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga, suatu permohonan pernyataan

pailit ke Pengadilan. Jadi pernyataan pailit itu harus dinyatakan dengan putusan hakim.

Kepailitan merupakan lembaga Hukum Perdata Eropa, sebagai realisasi dari asas

yang terdapat dalam Pasal 1131 dan 1132 KUHPer, sebagai berikut : Pasal 1131

KUHPerdata. Segala kebendaan milik debitur, baik yang bergerak atau tidak bergerak,

yang sekarang ada maupun yang akan ada kemudian menjadi jaminan bagi pelunasan

hutangnya.

Pasal 1132 KUHPerdata

Bahwa bila debitur lalai memenuhi kewajibannya, kreditur berhak melakukan pelelangan

atas harta dan benda debitur dan hasilnya digunakan untuk melunasi hutang debitur

sesuai dengan perimbangan jumlah utangnya

Melalui lembaga Kepailitan dilakukan penyitaan umum (eksekusi massal) atas seluruh

harta benda debitur dan selanjutnya akan dibagikan pada para kreditur secara seimbang

dan adil di bawah pengawasan petugas yang berwenang.

Mengingat Kepailitan merupakan realisasi asas hukum yang terkandung dalam

Pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata, maka sebagai peraturan umum lembaga kepailitan ini

adalah Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) khususnya Pasal 1 131 dan

1132.

4

Sedangkan dasar hukum khusus tentang kepailitan adalah Undang-Undang No. 37

Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. UU ini

diundangkan pada tanggal 18 Oktober 2004, dalam LN Tahun 2004 Nomor 131. UU

kepailitan ini terdiri dari 5 Bab dan 308 pasal.

UU No. 37 Tahun 2004 mencabut berlakunya Undang-Undang Kepailitan yang berlaku

sebelumnya yaitu :

1. " Fuillissement Verordening, Staatsblad Tahun 1905 Nomor 217 juncto

Staatsblad Tahun 1906 Nomor 348, yang judul lengkapnya adalah " Verordening

op de Ezrropanen in Nederlands Indie" (Peraturan untuk Kepailitan dan

Penundaan Pembayaran bagi orang-orang Eropa di Hindia Belanda.

2. Undang-undang Nomor 4 tahun 1998 tentang Penetapan Perpu Nomor I Tahun

1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Kepailitan menjadi undang--

undang.

Seiarah pengaturan masalah kepailitan di Indonesia dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Failissements Verordening (Fv) atau Peraturan Kepailitan, S.1905 No.217 jo. S.

1906 No. 348. Fv ini tidak popular dan jarang digunakan dalam menyelesaikan

masalah utang piutang. Fv menggunakan Hukum Acara Perdata dalam

penyelesaian perkara kepailitan sehingga memakan waktu lama dan tidak efisien.

2. Tanggal 22 April 1998, dikeluarkan Perpu No. I Tahun 1998 tentang Perubahan

atas Undang-Undang tentang Kepailitan, yang kemudian ditetapkan sebagai

Undang-Undang dengan Undang-Undang No. 4 tahun 1998 tentang Penetapan

Perpu No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang tentang

5

Kepailitan menjadi Undang-Undang. Perubahan dilakukan karena materi Undang-

Undang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan hukum masyarakat dalam

penyelesaian utang piutang.

Dalam UU No. 4 Tahun 1998 diatur berbagai ketentuan baru,

a. Syarat dan prosedur permintaan pernyataan pailit, termasuk time frame yang lebih

pasti.

b. Tambahan pengaturan tentang tindakan sementara yang dapat diambil oleh pihak

kreditur atas kekayaan debitur sebelum adanya putusan kepailitan.

c. Peneguhan fungsi kurator dan dibukanya kemungkinan adanya curator swasta.

d. Pengesahan bahwa upaya hukum yang mungkin adalah kasasi (tanpa banding)

serta tata caranya yang lebih jelas.

e. Adanya mekanisme "slay" yang merupakan penangguhan pelaksanaan hak

kreditur preferens, dan pengaturan status hukum tentang perikatan yang telah

dibuat sebelum putusan pernyataan pailit.

f. Penyempurnaan ketentuan mengenai tundaan pembayaran.

g. Pembentukan Pengadilan khusus yang disebut dengan Pengadilan Niaga.

3. UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan clan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang. Undang-Undang ini mencabut clan menyatakan tidak berlaku

UU No. 4 Tahun 1998, karena perubahan di atas yang dilakukan dengan

menambah, merubah clan meniadakan ketentuan dalam FV yang tidak sesuai

dengan kebutuhan masyarakat, jika ditinjau dari materi yang diatur masih

6

mengandung berbagai kekurangan dan kelemahan, antara lain tidak ada

pengertian tentang "utang" yang menjadi dasar putusan pailit.

Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU diundangkan pada

tanggal 18 Oktober 2004, dalam LN Tahun 2004 Nomor 131. Undang-Undang ini terdiri

dari 5 Bab dan 308 pasal.

Perseroan Terbatas merupakan salah satu bentuk usaha kegiatan ekonomi yang

paling diminati saat ini,1 disamping karena pertanggungjawabannya yang terbatas,

Perseroan Terbatas juga memberikan kemudahan bagi pemegang sahamnya untuk

menjual atau mengalihkan perusahaannya tersebut.2 Sifat pertangungjawabannya yang

terbatas dan kemudahan untuk menjual sahamnya tersebut merupakan salah satu alasan

bagi para pelaku usaha untuk mendirikan suatu badan usaha berbentuk Perseroan

Terbatas.3

Perseroan Terbatas adalah kegiatan bisnis yang penting dan banyak terdapat di

dunia ini, termasuk di Indonesia. Kehadiran Perseroan sebagai salah satu kendaraan

bisnis memberikan kontribusi pada hampir semua bidang kehidupan manusia. Perseroan

telah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan

memberikan kontribusi yang tidak sedikit untuk pembangunan ekonomi dan sosial.

1 Banyak pelaku menggunakan PT sebagai bentuk usahanya karena PT lebih mudah

dalam mengumpulkan dana usaha. Pemilik modal pasif tertarik karena risiko yang kecil dengan tanggung jawabnya sebatas saham yang dimiliki, lihat Chatamarrasjid Ais, Penerobosan Cadar Perseroan dan soal-soal aktual Hukum Perusahaan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004, hlm. 3

2 Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Perseroan Terbatas, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999, hlm. 1

3 Badriyah Rifai Amirudin, Peran Komisaris Independen dalam Mewujudkan Good Corporate Governance di Tubuh Perusahaan Publik, , diakses 23 Desember 2009

7

Sebagai suatu badan hukum4, pada prinsipnya Perseroan Terbatas dapa