BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Dewan Perwakilan .penerapan prinsip-prinsip clean government

download BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Dewan Perwakilan .penerapan prinsip-prinsip clean government

of 17

  • date post

    02-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    212
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Dewan Perwakilan .penerapan prinsip-prinsip clean government

LAPORAN SURVEI BUDAYA ORGANISASI

SEKRETARIAT JENDERAL DAN BADAN KEAHLIAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya reformasi birokrasi dimulai dari era reformasi pada tahun 1997-

1998. Pada era reformasi tersebut segenap lapisan masyarakat menuntut pemerintah

untuk segera melakukan reformasi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan

bernegara sehingga bisa mewujudkan pemerintahan demokratis dan mempercepat

terwujudnya kesejahteraan rakyat yang didasarkan pada nili-nilai dasar sebagaimana

tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Pada reformasi tersebut terjadinya perubahan

penting di bidang politik, hukum, ekonomi, dan birokrasi. Dalam perjalanan dan

perkembangannya, bidang birokrasi mengalami ketertinggalan dari bidang yang

lainnya. Akibatnya pada tahun 2004 pemerintah menegaskan kembali akan pentingnya

penerapan prinsip-prinsip clean government dan good government yang secara

universal diyakini menjadi prinsip yang diperlukan untuk memberikan pelayanan

prima kepada masyarakat. Mulai tahun 2004 ide dan gagasan refromasi birokrasi terus

mengalami inovasi dan diterapkan di seluruh kementrian dan lembaga (K/L) serta

pemerintah daerah (Pemda) khususnya Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR

RI. Oleh karena itu, Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI harus memiliki

komitmen untuk melaksanakan proses reformasi birokrasi tersebut.

Salah satu tonggak penting dalam pelaksanaan reformasi birokrasi bagi

Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI adalah ditetapkannya budaya unggul

Religius, Akuntabel, Profesional dan Integritas (RAPI) sebagaimana yang diatur

dalam Peraturan Sekjen DPR I Nomor 03/PER-SEKJEN/2012 tentang Kode Etik

Pegawai Negeri Sipil Sekretariat Jenderal DPR RI.

Rumusan budaya unggul ini diperoleh melalui komitmen para pimpinan untuk

membangun budaya unggul sebagai langkah penting dalam pelaksanaan reformasi

birokrasi. Untuk menjamin pelaksanaan RAPI di Sekretariat Jenderal dan Badan

Keahlian DPR RI ditetapkan pula contoh teladan (role model) dan agen perubahan

(agent of change). Seluruh pejabat eselon I dan eselon II dan Tim RBI dijadikan

contoh teladan dalam pelaksanaan RAPI kepada seluruh pegawai. Sementara itu dari

LAPORAN SURVEI BUDAYA ORGANISASI

SEKRETARIAT JENDERAL DAN BADAN KEAHLIAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

2

setiap unit kerja ditetapkan pejabat eselon III untuk menjadi agen perubahan yang

diharapkan akan mendorong proses percepatan perubahan di masing-masing unit

kerjanya. Selanjutnya RAPI menjadi nilai dasar bagi seluruh jajaran di Sekretariat

Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI dalam melaksanakan tugas dan perannya.

Sesuai dengan Rencana Aksi Program Manajemen Perubahan Tahun 2016

khususnya perubahan pola pikir dan budaya kinerja (mental aparatur) adalah

melaksanakan survei internal RAPI. Untuk itu kegiatan survei harus segera

dilaksanakan.

1.2 Tujuan dan Kegunaan Survei

Survei dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui Pengetahuan,

Pemahaman, dan Pelaksanaan/penerapan Budaya Organisasi (Religius, Akuntabilitas,

Profesional dan Integritas) dalam keseharian di lingkungan Sekretariat Jenderal Dan

Badan Keahlian DPR RI.

Kemudian kegunaan survei ini dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Bagi Organisasi Sekretariat Jenderal Dan Badan Keahlian DPR RI

Organisasi dalam hal ini para pimpinan dapat meningkatkan dan melakukan

inovasi untuk bisa menerapakan budaya organisasi RAPI.

b. Bagi Pegawai Sekretariat Jenderal Dan Badan Keahlian DPR RI

Pengetahuan pegawai terkait budaya organisasi RAPI bisa lebih digali lagi dan

bagi pegawai yang belum tahu bisa menjadi tahu.

LAPORAN SURVEI BUDAYA ORGANISASI

SEKRETARIAT JENDERAL DAN BADAN KEAHLIAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reformasi

Permulaan Reformasi di Indonesia terjadi pada saat krisis ekonomi pada tahun

1997 dan pada tahun 1998 berkembang menjadi krisis multidimensi. Kondisi tersebut

mengakibatkan adanya tuntutan kuat dari segenap lapisan masyarakat terhadap

pemerintah untuk segera diadakan reformasi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan

bernegara. Reformasi ini mengharapkan agar pemerintah bisa lebih baik lagi dari

pemerintahan sebelumnya. Seperti halnya Sedarmayanti (2009:67), yang mengatakan

bahwa reformasi merupakan proses upaya sistematis, terpadu, konferensif, ditujukan

untuk merealisasikan tata pemerintahan yang baik (Good Governance). Oleh karena

itu, basis utama reformasi ditujukan kepada pemerintah. Berbicara pemerintahan yang

lebih baik, berarti tidak lepas dari sistem birokrasi. Dengan demekian supaya harapan

reformasi bisa terwujud, maka harus dilakukannya refromasi birokrasi.

2.2 Birokrasi

Menurut Hegel dalam Sulistio & Budi (2009: 07), mengungkapkan bahwa

birokrasi adalah institusi yang menduduki posisi organik yang netral dalam struktur

sosial dan berfungsi sebagai penghubung antara negara yang memanifestasikan

kepentingan umum dan masyarakat sipil yang mewakili kepentingan khusus dalam

masyarakat. Blau dalam Pasolong (2008:7), 12 mengatakan bahwa birokrasi

merupakan organisasi yang dirancang untuk menyelesaikan tugas-tugas administratif

dengan cara mengkoordinasi pekerjaan banyak orang secara sistematis.

Senada dengan pendapat diatas menurut Muhaimin dalam Sulistio & Budi

(2009: 08), mengatakan bahwa birokrasi adalah keseluruhan aparat pemerintah, baik

sipil maupun militer yang bertugas membantu pemerintah ( untuk memberikan

pelayanan publik) dan menerima gaji dari pemerintah karena statusnya itu. Sementara

itu Blau dan Page dalam Santosa (2008:2), mengatakan bahwa birokrasi sebagai

LAPORAN SURVEI BUDAYA ORGANISASI

SEKRETARIAT JENDERAL DAN BADAN KEAHLIAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

4

sebuah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mencapai tugas-tugas

administratif yang besar dengan cara mengkoordinasikan secara sistematik dari

pekerjaan banyak orang.1 Berdasarkan beberapa pendapat tersebut penulis

menyimpulkan bahwa birokrasi merupakan suatu sistem dalam menjalankan

organisasi pemerintahan.

2.3 Reformasi Birokrasi

Refromasi birokrasi merupakan ide dan gagasan pemerintah untuk bisa

mewujudkan clean government dan good government. Menurut Menpan2, Reformasi

birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan

perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama

menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business

prosess) dan sumber daya manusia aparatur. Menurut Perpres Nomor 81 Tahun 2010

Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi, reformasi birokrasi merupakan harapan

dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan birokrasi pemerintah yang

professional, berintegritas tinggi, dan menjadi pelayan masyarakat dan abdi negara,

maka diperlukan perubahan-perubahan yaitu sebagai berikut :

a. Organisasi Pemerintahan yang belum tepat fungsi dan tepat ukuran.

b. Peraturan Perundang-undangan yang masih terdapat tumpang tindih,

inkonsistensi, tidak jelas, dan multitafsir.

c. Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur yang masih tidak seimbangnya alokasi

dalam hal kuantitas, kualitas, dan distribusi PNS, serta produktivitas PNS masih

rendah.

d. Kewenangan, masih adanya praktek penyimpangan dan penyalahgunaan

wewenang dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan belum mantapnya

akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

e. Pelayanan Publik yang belum dapat mengakomodasi kepentingan seluruh lapisan

masyarakat dan belum memenuhi hak-hak dasar warga negara/penduduk.

1 Unila, sumber diakses kembali dari digilib.unila.ac.id/10253/13/BAB%20II.pdf. 3 Maret 2017 2 www.menpan.go.id, diakses 3 Maret 2017

http://www.menpan.go.id/

LAPORAN SURVEI BUDAYA ORGANISASI

SEKRETARIAT JENDERAL DAN BADAN KEAHLIAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

5

f. Pola Pikir (Mind-set) dan budaya kerja (Culture-Set), Pola pikir (mind-set) dan

budaya kerja (culture-set) birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang

efisien, efektif dan produktif, dan profesional. Selain itu, birokrat belum benar-

benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat, belum mencapai kinerja

yang lebih baik (better performance), dan belum berorientasi pada hasil

(outcomes).

Sedangkan menurut Sedarmayanti (2009:72), mengatakan bahwa reformasi

birokrasi merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kinerja melalui berbagai

cara dengan tujuan efektifitas, efisien, dan akuntabilitas. Dimana reformasi biokrasi

itu mencakup beberapa perubahan yaitu :

a. Perubahan cara berfikir (pola pikir, pola sikap, dan pola tindak), perubahan yang

dimaksud yaitu birokrasi harus merubah pola berfikir yang terdahulu (buruk),

birokrasi harus memliki pola pikir yang sadar bahwa mereka sebagai pelayan

masyarakat, mereka