BAB I PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan I.pdf · Getting to Yes (Century ... negosiasi, mediasi,...

download BAB I PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan I.pdf · Getting to Yes (Century ... negosiasi, mediasi, konsiliasi,

If you can't read please download the document

  • date post

    12-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB I PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan I.pdf · Getting to Yes (Century ... negosiasi, mediasi,...

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Alasan Pemilihan Judul

Penulis memilih judul Diskresi Sebagai Cara Penyelesaian Sengketa dengan

Keterlibatan Investor Asing yang Melakukan Penanaman Modal di Indonesia

mengingat alasan bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,1

dalam menyelesaikan sengketa atau beda pendapat di samping dapat diajukan ke

peradilan umum (litigation), juga terbuka kemungkinan diajukan melalui alternatif

penyelesaian sengketa 2 atau the alternative dispute resolution (ADR). Sengketa atau

beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian

sengketa yang didasarkan pada iktikad baik (good faith) dengan mengesampingkan

penyelesaian sengketa secara litigasi di pengadilan negeri.3

Selanjutnya undang-undang di atas menyatakan bahwa penyelesaian sengketa

alternatif adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur

1 Undang Undang No. 32 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

2 Ibid, Bagian Menimbang. Perlu dikemukakan di sini bahwa ADR di negara maju seperti Skotlandia UK,

adalah suatu industri tidak dikelola alakadarnya. Kajian ilmiah mendalam tentang ADR sebagai suatu

industry, lihat penelitian individual Dr. Jeferson Kameo SH.LLM yang dilakukan di Glasgow (tahun 2001

sampai-dengan 2005) penelitian tidak dipublikasikan, merujuk R. Fisher and W.Ury, Getting to Yes

(Century Business, 1982).

3 Ibid, Pasal 6 Ayat (1).

2

yang disepakati oleh para pihak, yakni penyelesaian sengketa di luar pengadilan (non

litigation) dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.4

Hal ini menunjukan bahwa penyelesaian sengketa alternatif mengandalkan kata sepakat

atau bersifat konsensual.

Ada enam cara penyelesaian sengketa alternatif (PSA) sebagaiman dapat dilihat

pengaturannya dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas. penyelesaian

sengketa alternatif itu dibatasi nomenklaturnya, serta hakikat, dan pengertiannya.5

Hanya saja, dalam pandangan Dr. Jeferson Kameo SH.LLM, merujuk penelitian

individual yang dilakukan di Glasgow (tahun 2001 sampai-dengan 2005), konsultasi

tidak termasuk dalam bentuk lain atau bentuk alternative dari penyelesaian sengketa

(other forms of dispute resolution) yang ada dalam literature Ilmu Hukum. Menurut Dr.

Kameo, merujuk kepada penelitian ke penelitian yang bersangkutan,6 berikut ini adalah

apa yang disebut sebagai other forms of dispute resolution. Bentuk pertama Negotiation,

bentuk kedua yaitu Mediation and Conciliation, bentuk ke tiga yaitu Med-Arb, bentuk

keempat yaitu Neutral Expert, bentuk kelima yaitu Excutive Tribunal, bentuk keenam

yaitu Summary Jury Trial, bentuk ketujuh Ombudsmen, dan bentuk yang terakhir the

other forms of dispute resolution adalah adjudication atau Expert Determination.

4 Ibid, Pasal 1 Angka (10).

5 Undang-undang di atas tidak mendefinisikan bentuk-bentuk penyelesaiaan sengaketa tersebut. Oleh

sebab itu Penulis merujuk hasil penelitian dalam membantu mendefinisikan bentuk-bentuk penyelesaian

sengketa dalam undang-undang di atas tersebut.

6 Lihat Catatan Kaki Ke-2.

3

Adapun pengertian atau makna dari masing-masing nomenklatur cara

penyelesaian sengkata tersebut di atas akan diuraikan sebagai berikut :

Konsultasi, dimintakan kepada pihak yang dianggap mampu dengan suatu tujuan

(1) untuk mencari masukan-masukan menuju forum perundingan; (2) konsultasi tidak

untuk mencari keuntungan sepihak; dan (3) konsultasi mencari solusi praktis dalam

rangka bermasyarakat dengan pihak lain atau pihak lawan dengan berkomunikasi,

musyawarah, memulai perundingan, membuat penawaran, menyikapi sikap-sikap

keras.7 Yang hanya asal keras .perlu penulis kemukakan bahwa ada sikap keras yang

diharuskan apabila hal itu menyangkut mempertahankan kebenaran.

Negosiasi merupakan komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai

kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki berbagai kepentingan yang sama

maupun berbeda. Negosiasi merupakan saran bagi para pihak yang bersengketa untuk

mendiskusikan penyelesaiannya tanpa keterlibatan pihak ketiga sebagai penengah, baik

yang tidak berwenang untuk mengambil keputusan (mediasi) maupun yang berwenang

untuk mengambil keputusan (arbitrase).8

7 Sri Harini Dwiyatmi, SH., MS., Pengantar Hukum Indonesia, Ghalia Indonesia Bogor, 2006, hlm. 122.

Gelar-gelar akademik dalam catatan kaki Penulis karya tulis kesarajanan ini, sengaja Penulis sertakan

secara lengkap. Hal ini dimaksudkan untuk suatu pertanggungjawaban bahwa kutipan diambil dari

mereka yang benar-benar memunyai kualifikasi akademik dalam bidang tersebut atau tidak. Kualifikasi

akademik seseorang ditandai oleh gelar yang disematkan pada namanya. Mengingat gelar telah

dicantumkan di catatan kaki maka di dalam daftar kepustakaan tidak lagi dicantumkan gelar akademik.

8 Prof. Dr. Mochamad Basarah SH., MH., Prosedur Alternative Penyelesaian Sengketa Arbitrase

Tradisional dan Modern (Online), Genta Publishing 2011, hlm. 113. yang diambil dari pendapat Dr.

Suyud Margono SH., MHum., FCIArb., dalam bukunya: ADR dan Arbitrase Proses Pelembagaan dan

Aspek Hukum, hlm. 49.

4

Mediasi9 merupakan suatu penyelesaian sengketa berdasarkan perundingan yang

melibatkan pihak ketiga, atau yang dikenal dengan mediator, untuk membantu para

pihak yang bersengketa, untuk mencari penyelesaian sengketa, yang mana mediator

tidak mempunyai kewenangan untuk membuat keputusan selama proses perundingan

berlangsung.10

Konsiliasi merupakan penyelesaian sengketa melalui perundingan dengan

melibatkan pihak ketiga yang netral (konsiliator11

) untuk membantu pihak yang bertikai

menemukan bentuk-bentuk penyelesaian yang dapat disepakati para pihak, konsiliasi

hampir menyerupai mediasi, perbedaannya terletak dalam hal bantuan konsiliator yang

bersifat pasif atau terbatas pada hal-hal yang bersifat prosedural.

Penilaian Ahli adalah upaya para pihak untuk menyelesaiakan perkaranya

dengan menunjuk seorang ahli yang independen. Ahli itu yang akan meneliti pokok

sengketa, mengajukan pemerikasaan dan pertanyaan kepada kedua belah pihak secara

9 Ketua Makamah Agung Republik Indonesia pernah memperjelas pengaturan secara khusus mengenai

mediasi, di Jakarta, pada tanggal 31 juli 2008, yaitu PERMA No. 1 tahun 2008 tentang prosedur mediasi

di pengadilan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

10

Prof. Dr. Mochamad Basarah SH., MH., Op. Cit., hlm. 115, yang juga diambil dari pendapat Dr. Suyud

Margono SH., MHum., FCIArb., dalam bukunya: ADR dan Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek

Hukum, hlm. 59.

11

Merujuk kepada hasil penelitian individual Jeferson Kameo Ph.D., konsiliasi sebagai satu dari other

forms of dispute resolution digunakan juga konsep mediasi. (mediation and conciliation). Kedua bentuk,

dalam hal ini : (1) mediasi; dan (2) konsiliasi sering digunakan secara bersamaan dan dianggap sinonim

atau merupakan persamaan kata. Perlu dikemukakan di sini bahwa literature yang menjadi satuan amatan

dalam penelitian Dr. Jeferson Kameo tersebut diatas adalah : Street, the Language of Alternative Dispute

Resolution [1992] ; Arbitration and Dispute Resolution Law Journal 1 hlm. 144; dirujuk pula, Fuller,

Mediation : Its Form and Functions [1971] California Law Review 44.

5

terpisah atau bersama-sama, menjernihkan masalah yang disengketakan, dan pada

akhirnya memberikan pendapatnya.12

Disamping undang-undang di atas, undang-undang lain yang mengatur, terlebih

mendefinisikan bentuk-bentuk penyelesaian sengketa adalah Undang Undang No 2

tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Adapaun bentuk-

bentuk dari penyelesaian yang dikenal oleh UU tersebut adalah (1) perundingan; (2)

mediasi; (3) konsiliasi; (4) arbitrase; dan (5) litigasi. Dalam kaitan dengan itu, Undang-

Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dalam Pasal 136 juga mengatur

bentuk; (6) musayawarah untuk mufakat.

Koheren dengan ketentuan peaturan perundang-undangan tentang Arbitrase dan

Alternatif Penyelesaian Sengketa, dalam Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman juga

diatur secara tegas bahwa para pihak dapat menyelesaikan sengketa di luar pengadilan.13

Atau yang dalam literatur ilmu hukum dikenal dengan out of court setlement.

Dalam bidang investasi atau penanaman modal, penyelesaian sengketa yang

terjadi menurut undang-undang akan diselesaikan melalui beberapa forum yakni,

musyawarah untuk mufakat, arbitrase, alternatif penyelesaian sengketa, dan

pengadilan.14

12

Merujuk kepada penelitian individual Dr. Kameo sebagaimana telah di kemukakan di atas, maka

konsep pranata Penilaian Ahli ini perlu digunakan secara berhati-hati supaya tidak dijumbuhkan dengan

neutral expert.

13

Pasal 58, 59 Ayat (1