BAB I Kolelitiasis Eci

download BAB I Kolelitiasis Eci

of 32

  • date post

    27-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    68
  • download

    9

Embed Size (px)

description

cholelitiasis

Transcript of BAB I Kolelitiasis Eci

BAB IPENDAHULUAN

Penyakit batu kkandung empedu merupakan penyakit yang sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Pada abad ke-17 telah dicurigai sebagai penyebab penyakit pada manusia. Batu empedu awalnya merupakan penyakit yang sering dijumpai di Negara Barat dan jarang dinegara berkembang. Tetapi dengan membaiknya keadaan social ekonomi, perubahan menu diet ala Barat, serta perbaikan saran diagnosis khususnya ultrasonografi, prevalensi penyakit empedu di Negara berkembang termasuk Indonesia cenderung meningkat.1Prevalensi penyakit batu kandung empedu pada suku Indian di Amerika Serikat mencapai tingkat yang tinggi yaitu sekitar 40-70%. Di Amerika Serikat insiden batu empedu diperkirakan 20 juta orang, dengan 70% diantaranya didominasi oleh batu kolesterol dan 30% sisanya terdiri dari batu pigmen dan komposisi yang bervariasi. Seddangkan di Asia prevalensi berkisar antara 3-15%.1Di Indonesia angka kejadian oenyakit batu kandung empedu diduga tidak berbeda jauh dengan angka di Negara lain yang ada di Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian di RSCM Jakarta dari 51 pasien dibagian Hepatologi ditemukan 73% pasien yang menderita penyakit batu empedu pigmen dan batu kolesterol pada 275 pasien.1Prevalensi penderita penyakit batu kandung empedu meningkat sehubungan dengan usia dan dua kali lebih tinggi pada wanita disbanding pria. Perbedaan gender ini karna factor hormone estrogen yang meningkatkan sekresi kolesterol empedu. Proses kehamilan meningkatkan resiko batu empedu karena terjaadinya gangguan pada proses pengosongan kandung empedu. Gangguan pada proses ini disebabkan oleh penggabungan pengaruh antar hormone estrogen dan hormone progesterone. Akibat penggabungan ini meningkatkan hipersekresi kolesterol ke dalam empedu yang mempengaruhi pembentukan batu empedu.1Batu empedu yang mengandung material Kristal atau amorf dapat mempunyai berbagai macam bentuk. Batu ini dibentuk di dalam vesika felea. Empedu terdiri dari larutan netral dari garam empedu yang terikat (conjugated bile salts) dalam bentuk batrium, cholesterol, fosfolipid dan pigmen empedu.2,3Insiden kolelitiasis dinegara Barat adalah 20% dan banyak menyerang orang dewasa dan lanjut usia.kebanyakan kolelitiasis tidak bergejala atau bertanda. Angka kejadian penyakit batu empedu dan penyakit saluran empedu di Indonesia diduga tidak berbeda jauh dengan angka di Negara lain di Asia Tenggara dan sejak tahun 1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan ultrasonografi.4Di Negara Barat 10-15% pasien dengan batu empedu juga disertai batu saluran empedu. Pada beberapa keadaan, batu saluran empedu dapat terbentuk primer didalam saluran empedu intra atau ekstra hepatik tanpa melibatkan kandung empedu. Batu saluran empedu primer lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia dibandingkan dengan pasien di Negara Barat. Perjalanan batu saluran empedu sekunder belum jelas benar, tetapi komplikasi akan lebih sering dan berat dibandingkan batu kandung empedu.5

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Embriologi Saluran EmpeduCikal bakal saluran empedu dan hati adalah penonjolan sebesar 3 mm yang timbul di daerah ventral usus depan. Bagian cranial tumbuh menjadi hati, bagian kaudal menjadi pancreas, sedangkan bagian sisanya menjadi kandung empedu. Dari tonjolan berongga yang bagian padatnya kelak jadi sel hati, tumbuh saluran empedu yang bercabang-cabang seperti pohon diantara sel hati tersebut.4,6

2.2Anatomi Saluran EmpeduKandung empedu (Vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak pada permukaan visceral hepar, panjangnya sekitar 46 cm. Kapasitasnya sekitar 30-60 cc dan dalam keadaan terobstruksi dapat menggembung sampai 300 cc. Vesica fellea dibagi menjadi fundus, corpus dan collum. Bagian fundus umumnya menonjol sedikit keluar tepi hati, dibawah lengkung iga kanan, ditepi lateral m.rectus abdominis. Sebagian besar korpus menempel dan tertanam didalam jaringan hati. Kandung empedu tertutup seluruhnya oleh peritoneum visceral, tetapi infundibulum kandung empedu tidak terfiksasi kepermukaan hati oleh lapisan peritoneum. Apabila kandung empedu mengalami distensi akibat bendungan oleh batu, bagian infundubulum menonjol seperti kantong yang disebut kantong Hartmann.4,7Duktus sistikus panjangnya 1-2 cm dengan diameter 2-3 mm. dinding lumennya mengandung katup berbentuk spiral disebut katup spiral Heister, yang memudahkan cairan empedu mengalir masuk kedalam kandung empedu, tetapi menahan aliran keluarnya.4,7Saluran empedu ekstrahepatik terletak didalam ligamentum hepatoduodenale yang bats atasnya porta hepatis, sedangkan batas bawahnya distal papilla Vater. Bagian hulu saluran empedu intrahepatik berpangkal dari saluran paling kecil yang disebut kanalikulus empedu yang meneruskan curahan sekresi empedu melalui duktus interlobaris keduktus lobaris, dan selanjutnya keduktus hepatikus dihilus.4,7Panjang duktus hepatikus kanan dan kiri masing-masing antara 1-4 cm. panjang duktus hepatikus komunis sangat bervariasi, bergantung pada letak muara duktus sistikus. Duktus koledokus berjalan dibelakang duodenum menembus jaringan pancreas dan dinding duodenum membentuk papilla Vater yang terletak disebelah medial dinding duodenum. Ujung distalnya dikelilingi oleh otot sfingter Oddi, yang mengatur aliran empedu kedalam duodenum. Duktus pankreatikus umumnya bermuara ditempat yang sama dengan duktus koledokus didalam papilla Vater, tetapi dapat juga terpisah.4,7Pembuluh arteri kandung empedu adalah arteri cystica, cabang arteri hepatica kanan. Vena cystica mengalirkan darah lengsung kedalam vena porta. Sejumlah arteri yang sangat kecil dan venavena juga berjalan antara hati dan kandung empedu.7Pembuluh limfe berjalan menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak dekat collum vesica fellea. Dari sini, pembuluh limfe berjalan melalui nodi lymphatici hepaticum sepanjang perjalanan arteri hepatica menuju ke nodi lymphatici coeliacus. Saraf yang menuju kekandung empedu berasal dari plexus coeliacus.7Sering ditemukan variasi kandung empedu, saluram empedu, dan pembuluh arteri yang memperdarahi kandung empedu dan hati. Variasi yang kadang ditemukan dalam bentuk luas ini, perlu diperhatikan para ahli bedah untuk menghindari komplikasi pembedahan, seperti perdarahan atau cedera pada duktus hepatikus atau duktus koledokus.4,7

Gambar 2.1 Anatomi vesica fellea dan organ sekitarnya.

2.3Fisiologi Saluran EmpeduEmpedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyak 500-1500 ml/hari. Diluar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu, dan disini mengalami pemekatan sekitar 50%.4Pengaliran cairan empedu diatur oleh 3 faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu, dan tahanan sfingter koledokus. Dalam keadaan puasa, empedu yang diproduksi akan dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu berkontraksi, sfingter relaksasi dan empedu mengalir ke dalam duodenum. Aliran tersebut sewaktu-waktu seperti disemprotkan karena secara intermiten tekanan saluran empedu akan lebih tinggi daripada tahanan sfingter.4Kolesistokinin (CCK) hormone sel APUD dari selaput lender usus halus, 1dikeluarkan atas rangsang makanan berlemak atau produk lipolitik di dalam lumen usus. Hormone ini merangsang nervus vagus sehingga terjadi kontraksi kandung empedu setelah makan.4Pengosongan Kandung EmpeduEmpedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum, hormon kemudian masuk kedalam darah, menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama, otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. Garamgaram empedu dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbsi lemak. Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu:8a. HormonalZat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu.b. Neurogen: Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu. Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke duodenum dan mengenai Sphincter Oddi. Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu lumpuh, cairan empedu akan tetap keluar walaupun sedikit.Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan neurologis maupun hormonal memegang peran penting dalam perkembangan inti batu.8

Komposisi Cairan Empedu8Komponen

Dari hatiDari kandung emoedu

Air97,5 gr/dl92 gr/dl

Garam empedu1,1 gr/dl6 gr/dl

Bilirubin0,04 gr/dl0,3 gr/dl

Kolesterol0,1 gr/dl0,3-0,9 gr/dl

Asam-asam lemak0,12 gr/dl0,3-1,2 gr/dl

Lesitin0,04 gr/dl0,3 gr/dl

Na+145 mEq/liter130 mEq/liter

K+5 mEq/liter12 mEq/liter

Ca+5 mEq/liter23 mEq/liter

Cl-100 mEq/liter25 mEq/liter

HCO328 mEq/liter10 mEq/liter

Metabolisme BillirubinBila sel darah merah sudah habis masa hidupnya (rata-rata 120 hari) dan menjadi terlalu rapuh untuk bertahan dalam system sirkulasi, membrane selnya pecah dan hemoglobin yang lepas difagositosis oleh jaringan makrofag (disebut juga system retikuloendotelial) di seluruh tubuh. Hemoglobin pertama kali dipecah menjadi heme dan globin, dan cincin heme dibuka untuk memberikan (1) besi bebas yang ditranspor ke dalam darah oleh transferin, dan (2) rantai lurus dari empat inti pirol yaitu substrat yang nantinya akan dibentuk menjadi pigmen empedu. Pigmen pertama yang dibentuk adalah biliverdin, tetapi pigmen ini dengan cepat direduksimenjadi bilirubin bebas yang secara bertahap dilepaskan dari makrofag ke dalam plasma. Bilirubin bebas den