BAB I - for merge

49
BAB I STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama : Tn. N Umur : 63 tahun Jenis kelamin : Laki – Laki Alamat : Kp.Kapuk 1 No 17 RT/RW 06/06 Klender No RM : 1340303 Tanggal Masuk : 17 Desember 2014 II. ANAMNESIS Dilakukan anamnesis pada tanggal 18 Desember 2014 A. Keluhan utama: Pasien tidak bisa buang air kecil spontan sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. B. Riwayat Penyakit Sekarang: 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien menegeluh tidak bisa buang air kecil, pasien sudah mencoba untuk mengedan namun tetap tidak bisa buang air kecil. Pasien merasakan nyeri pada daerah perut bawah terutama saat berusaha mengedan. Pasien juga merasakan sebelumnya setiap buang air kecil tidak lampias dan perlu 1

description

yess

Transcript of BAB I - for merge

BAB ISTATUS PASIEN

I.IDENTITAS PASIENNama:Tn. NUmur:63 tahunJenis kelamin:Laki Laki Alamat:Kp.Kapuk 1 No 17 RT/RW 06/06 KlenderNo RM: 1340303Tanggal Masuk:17 Desember 2014

II. ANAMNESISDilakukan anamnesis pada tanggal 18 Desember 2014A. Keluhan utama:Pasien tidak bisa buang air kecil spontan sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit.

B. Riwayat Penyakit Sekarang:2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien menegeluh tidak bisa buang air kecil, pasien sudah mencoba untuk mengedan namun tetap tidak bisa buang air kecil. Pasien merasakan nyeri pada daerah perut bawah terutama saat berusaha mengedan. Pasien juga merasakan sebelumnya setiap buang air kecil tidak lampias dan perlu mengejan. Pancaran urin melemah, dan terputus-putus. Pada malam hari pasien bisa terbangun sampai 3x untuk buang air kecil pada jam 22:00, jam 00:00, dan jam 02:00 sehingga mengganggu waktu tidur pasien. Pada pagi hingga sore tiap 2 jam sekali pasien buang air kecil. Riwayat buang air kecil disertai darah disangkal. Riwayat buang air kecil disertai nanah disangkal. Riwayat buang air kecil disertai batu atau pasir disangkal. Demam dan nyeri pinggang disangkal. Kemudian pasien dipasang selang kencing buang air kecil menjadi lancar dan nyeri berkurang.

C. Riwayat Penyakit Dahulu:Memiliki riwayat darah tinggi, memiliki riwayat kencing manis, dan riwayat alergi disangkal. Riwayat trauma dan kelainan penyakit saraf disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat DM disangkal Riwayat hipertensi disangkal Riwayat alergi disangkal

75455325

Gejala pasien berdasarkan skor IPSS 29 yaitu didapatkan pasien mengalami kasus BPH bergejala berat.

III. PEMERIKSAAN FISIKPemeriksaan dilakukam pada tanggal 18 Desember 2014 :Kesadaran: Compos Mentis, GCS = 15Tekanan Darah: 150/90 mmHgRespirasi Rate:24x/menitSuhu: 37 CNadi: 98x/menitStatus Generalis1. KepalaBentuk:Normocephal, simetrisRambut:Distribusi merata, tidak mudah dicabutEdema: Tidak ada2. Mata:Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-).3. Hidung: Secret (-), deviasi septum (-)4. Mulut: Bibir tidak sianosis, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tidak hiperemis5. Leher:KGB tidak teraba, kelenjar tiroid tidak membesar, deformitas (-)6. Thorax Cor:Inspeksi:Ictus cordis tak tampak.Palpasi:Ictus cordis tidak teraba, tidak kuat angkatPerkusi: Batas pinggang jantung ICS III parasternal kiriBatas kiri jantung : ICS V midklavikularis kiriBatas kanan jantung : ICS V midstrenalis kananAuskultasi:BJ I-II reguler, murmur(-), gallop (-)Pulmo :Inspeksi:Dinding dada simetris. retraksi interkostal (-), tidak ada gerakan napas yang tertinggalPalpasi:Vokal fremitus paru kanan = kiri normalPerkusi:Hipersonor pada kedua lapang paruAuskultasi:Suara dasar:Vesikuler +/+Suara tambahan:Ronkhi basah kasar (-/-), wheezing (-/ -)

7. Pemeriksaan AbdomenInspeksi:Datar, benjolan (-), FC(+), Urin: Jernih,Prod:(+) Auskultasi:Bising Usus (+) normalPalpasi:Supel, nyeri tekan (-), ballotment (-)Hepar tidak terabaLien tidak terabaPerkusi:Tympani, pekak beralih (-), undulasi (-), nyeri ketok kostovertebre (-/-)8. Pemeriksaan Extremitas Superior: Edema (-/-), akral hangat (+), CRT < 2 detikInferior:Edema (-/-), akral hangat (+), CRT < 2 detik9. Rektum/AnalInspeksi: Benjolan (-)Rectal Toucher : TSA (+), Ampula kosong, mukosa licin,kelenjar prostat kesan membesar (batas atas teraba) , konsistensi kenyal teraba seperti ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris, nodul (-), krepitasi (-)Sarung Tangan : Feses (-), Darah (-), Lendir (-)

IV. Pemeriksaan PenunjangLaboratorium (tanggal 18 Desember 2014)Jenis Pemeriksaan18 Desember 2014

HasilNilai Rujukan

HematologiDarah RutinLeukositHitung Jenis Netrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil

EritrositHemoglobinHematokritMCVMCHMCHCRDW-CV

TrombositKimia Klinik ElektrolitNatrium (Na)Kalaium (K)Klorida (Cl)

12,16

73,219,54,82,30,2

4,3112,63888,229,233,211,9

334

1355.1101

5-10 ribu/mm3

50-70%25-40%2-8%2-4%0-1%

4,5-6,5 juta/L13,0-18,0 g/dL40-52 %80-100 fL26-34 mg/dl32-36%11,5-14,5%

150-440ribu/mm3

135-145 mmol/L3,5-5,5 mmol/L98-109 mmol/L

Laboratorium (tanggal 8 Desember 2014)Jenis Pemeriksaan8 Desember 2014

HasilNilai Rujukan

Kimia KlinikGlukosa Darah SewaktuSGOTSGPTUreumkreatininUrin lengkapKimia urinWarna urinKejernihan Berat jenis urinepH urineProtein urineGlukosa urineKeton urineBilirubin urineUrobilinogen urineNitrit urineDarah Samar UrineLekosit EsteraseMikroskopis UrineLekositEritrositSel EpitelSilinder Granular CastSilinder HyalinBakteriKristalLain1201820211,1

Kuning tuaKeruh1,0156,0POS (++)Neg (-)Neg (-)Neg (-)Neg (-)Neg (-)POS (++++)POS (+)

8-10PENUH(+)----- 90% di laki-laki yang >80 tahun. Meskipun bukti klinis penyakit lebih jarang terjadi, gejala obstruksi prostat juga terkait usia. Pada usia 55 tahun, sekitar 25% dari laki-laki melaporkan gejala berkemih obstruktif. Pada usia 75 tahun, 50% dari pria mengeluh penurunan kekuatan dan kekuatan pancaran miksi.1

C. Histopatologi BPH ditandai dengan peningkatan jumlah sel epitel dan stroma di daerah periuretra prostat 1

D. EtiologiEtiologi BPH tidak sepenuhnya dipahami, tetapi tampaknya multifaktorial dan dikontrol endokrin. Prostat terdiri dari elemen stroma dan elemen epitel, masing-masing baik sendiri atau dalam kombinasi dapat menimbulkan nodul hiperplastik dan gejala yang berhubungan dengan BPH.1 Etiologi yang tepat dari proses hiperplastik ini tidak pasti, peningkatan jumlah sel mungkin karena proliferasi epitel dan stroma atau gangguan apoptosis yang menyebabkan akumulasi sel. Androgen, estrogen, interaksi stroma dan epitel, factor pertumbuhan, dan neuro transmitter mungkin berperan secara tunggal atau kombinasi dalam etiologi hiperplastik.1 Pengamatan dan studi klinis menunjukkan bahwa BPH berada di bawah kontrol endokrin. Pemeriksaan tambahan menunjukan korelasi positif antara kadar testosteron bebas dan estrogen dan volume BPH. BPH kemungkin timbul dari peningkatan estrogen pada penuaan menyebabkan induksi reseptor androgen, yang dengan demikian mensensitisasi prostat menghasilkan testosterone bebas. Namun, tidak ada penelitian hingga saat ini telah mampu menunjukkan kadar reseptor estrogen meningkat pada BPH manusia. 21.Hiperplasia Dalam organ tertentu jumlah sel begitu pula dengan volume organ tergantung pada keseimbangan antara proliferasi sel dan kematian sel. Organ dapat membesar tidak hanya karena proliferasi sel tetapi juga oleh penurunan kematian sel. 22. Peran AndrogenMeskipun androgen tidak menyebabkan BPH, perkembangan BPH membutuhkan kehadiran androgen selama perkembangan prostat. Namun andogen tidak hanya dibutuhkan untuk proliferasi sel normal dan diferensisasi dalam prostat, tetapi juga secara aktif menghambat kematian sel. 23. Reseptor AndrogenProstat tidak seperti organ lainnya tergantung dengan androgen, pada penis ekspresi reseptor androgen menurun dengan tingkat penyelesaian pubertas. Jadi pada penis dewasa kehilangan kemampuan untuk pertumbuhan. Jika penis dapat mempertahankan reseptor androgen kemungkinan organ ini akan tumbuh sampai saat kematian. Sebaliknya tingkat pada reseptor androgen dalam prostat tetap tinggi sepanjang penuaan. 24. Dihidrotestosteron dan steroid 5-reduktaseDalam study didapatkan data bahwa sel stroma memainkan peran sentral dalam pertumbuhan prostat tergantung androgen dan enzim 5-reduktase dalam sel stroma. 25. Peran estrogenAda penelitian yang mengatakan dalam patogenesis BPH peran estrogen dalam pengembangan BPH. Dimana estrogen bertindak sinergis dengan androgen untuk membentuk BPH. 2 6. Kematian sel terprogramMerupakan mekanisme fisiologis penting untuk memelihara homeostasis kelenjar yang normal. Dalam prostat kematian sel aktif terjadi secara alami disegmen proksimal dari duktus prostat dengan konsentrasi testosteron normal dalam plasma. Munculnya androgen menekan kematian sel terprogram tersebut.27. Interaksi stroma-epitelSel stroma ekskresi protein sebagai mengatur diferensisasi sel epitel. Dengan demikian BPH kemungkinan gangguan komponen stroma yang biasanya menghambat proliferasi sel mengakibatkan hilangnya penghambat mekanisme normal untuk proliferasi. Kelainan ini juga dapat bertindak dengan autokrin atau menyebabkan proliferasi sel stroma juga. 28. Faktor PertumbuhanFaktor pertumbuhan adalah molekul peptide yang merangsang atau menghambat pembelahan sel dan proses diferensisasi. Interaksi antara faktor pertumbuhan dan hormon steroid dapat mengubah keseimbangan proliferasi sel dibandingkan kematian sel untuk menghasilkan BPH. 29. Persiapan SinyalJalur simpatik mungkin penting dalam patogenesis proses pertumbuhan hiperplastik. blockade dalam beberapa model system dapat menginduksi apoptosis. 210. Faktor GenetikAda bukti bahwa BPH memiliki komponen genetic yang diwariskan. Berdasarkan penemuan peningkatan resiko gejala sedang hingga berat terjadi pada pria dengan riwayat keluarga BPH, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga BPH. 2

E. PatologiBPH berkembang di zona transisional. Hal ini benar-benar sebuah proses hiperplastik akibat peningkatan jumlah sel. Evaluasi mikroskopis mengungkapkan pola pertumbuhan nodular yang terdiri dari berbagai jumlah stroma dan epitel. Stroma terdiri dari berbagai jumlah kolagen dan otot polos. Representasi deferensial komponen histologi BPH menjelaskan, sebagian respon potensi untuk terapi medis. Dengan demikian terapi alpha-blocker dapat menyebabkan respon baik pada pasien dengan BPH yang memiliki komponen yang signifikan terdiri dari otot polos dan mereka dengan BPH yang terutama terdiri dari epitel mungkin merespon lebih baik untuk inhibitor 5-alpha-reductase. Pasien dengan komponen yang signifikasi dari kolagen dalam stroma mungkin tidak merespon baik baik bentuk terapi medis. Sayangnya salah satu tidak dapat dipercaya memprediksi tanggap terhadap terapi tertentu. 1Saat nodul BPH di zona transisional memperbesar, mereka menekan zona luar prostat, sehingga membentuk formasi yang disebut surgical capsul. Batas ini memisahkan memisahkan zona transisi dari zona perifer dan berfungsi sebagai bidang pembelahan untuk enukleasi terbuka protat selama prostatectomy terbuka sederhana yang dilakukan untuk BPH. 1

F. PatofisiologiSatu dapat berhubungan gejala BPH baik komponen obstruktif prostat atau respon sekunder kandung kemih ke resistance stop kontak. Komponen obstruktif dapat dibagi menjadi mekanik dapat mengakibatkan dari instrusi ke dalam lumen uretra atau leher kandung kemih, yang mengarah ke kandung kemih resistensi stop kontak tinggi. Sebelum klasifikasi zona prostat, urolog sering disebut dengan 3lobus prostat, yaitu median dan 2 lobus lateral. Ukuran prostat pada pemeriksaan rektal digital (DRE) berkorelasi buruk dengan gejala sebagian, karena lobus median tidak mudah teraba. Komponen dinamis obstruksi prostat menjelaskan variasi gejala yang dialami oleh pasien. Stroma prostat terdiri dari otot polos, kolagen, dan kaya akan pasokan saraf adrenergic. Tingkat stimulasi otonom menimbulkan tonus pada uretra pars prostatika. Penggunaan terapi alpha-blocker menurunkan tonus ini, mengakibatkan penurunan hambatan kandung kemih. 1Keluhan berkemih iritatif dari BPH dihasilkan dari respon sekunder hambatan kandung kemih. Obstruktsi kandung kemih menyebabkan hipertrofi otot detrusor dan hyperplasia serta deposisi kolagen. Ketidakstabilan detrusor juga merupakan faktor resiko. Pada pemeriksaan bundle otot detrusor menebal terlihat sebagai trabekulasi pada pemeriksaan cystoscopic. Jika dibiarkan herniasi mukosa antara bundel otot detrusor terjadi kemudian, menyebabkan diverticula (disebut diverticula palsu yang terdiri dari hanya mukosa dan serosa). 1

G. GejalaGejala BPH dapat dibagi menjadi gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif yaitu hesitansi, pancaran miksi lemah, rasa tidak puas setelah miksi, berkemih ganda (buang air kecil kedua kalinya dalam waktu 2 jam dari pengosongan sebelumnya), mengedan saat buang air kecil, dan setelah pengosongan urin menetes-netes. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah. Gejala iritatif yaitu urgensi, frekuensi, dan nokturia. American Urogical Association (AUA) untuk mengidentifikasi tindakan yang perlu dilakukan dan memantau respon pasien terhadap terapi. AUA merupakan suatu kuesioner penting yang digunakan dalam evaluasi pasien BPH dan direkomendasi untuk semua pasien sebelum terapi. Penilaiannya terdiri 7 item untuk mengukur tingkat keparahan obstruktif atau iritatif dari pasien dengan skala 0-5. Sehingga skor berkisar 0 sampai 35. Skor 0-7 sebagai gejala ringan, 8-19 sebagai gejala sedang, dan 20-35 sebagai gejala berat. 1

Gambar 4. Questionnaire for American Urological Association Symptom Score1H. TandaPemeriksaan fisik, rectal toucher dan focus pemeriksaan neurologis dilakukan pada semua pasien. Ukuran dan konsistensi prostat dicatat meskipun ukuran prostat sebagai mana ditentukan oleh rectal toucher, tidak berkorelasi dengan keparahan gejala atau derajat obstruksi. BPH biasanya lembut, tegas, dan adanya pembesaran prostat. Jika terdapat indurasi harus waspada kemungkinan kanker dan butuh pemeriksaan lebih lanjut yaitu prostate specific antigen (PSA), transrectal USG (TRUS), dan biopsi.1

I. LaboratoriumPemeriksaan urin untuk menghilangkan kecurigaan infeksi atau hematuria dan serum pengukuran kreatinin untuk menilai fungsi ginjal. Penurunan fungsi ginjal dapat beresiko menimbulkan komplikasi setelah pembedahan intervensi untuk bph. Serum PSA dianggap opsional, tetapi kebanyakan dokter akan memasukan dalam evaluasi awal PSA,dibanginkan dengan DRE saja tentu meningkatan. CaP tetapi karena ada tumpang tindih antara BPH dan CaP. 1

J. GambaranPencitraan saluran atas (pyelogram intravena/ ginjal USG) dilakukan pada penyakit saluran kemih atau komplikasi BPH (hematuria, infeksasi saluran kemih, penurunan fungsi ginjal, riwayat penyakit batu). 1

K. CystoscopySistoskopi tidak dianjurkan untuk menentukan perencanaan pengobatan, namun untuk membantu dalam terapi invasif. 1

L. Tes tambahanCystometrograms dan profil urodinamik untuk pasien dengan dugaan penyakit neurologis atau mereka yang telah gagal operasi prostat. Pengukuran laju aliran urin, menentukan pasca pengosongan urin residual. 1

M. Diferensial DiagnosisKondisi obstruktif lain dari saluran kemih bagian bawah, seperti striktur uretra, kontraksi leher kandung kemih , batu kandung kemih , atau CaP. Riwayat uretra sebelumnya, uretritis, atau trauma seperti striktur uretra atau kontraksi leher kandung kemih. Hematuria dan nyeri umumnya terkait dengan batu kandung kemih. CaP dapat dideteksi oleh kelainan pada DRE atau PSA tinggi. Infeksi saluran kemih, yang dapat meniru yang gejala iritasi BPH, dapat dengan mudah diidentifikasi oleh urinalisis dan infeksi saluran kemih juga bisa menjadi komplikasi BPH. Meskipun keluhan berkemih iritasi juga terkait dengan kanker kandung kemih, terutama karsinoma in situ, urinalisis biasanya menunjukkan bukti hematuria. Demikian juga, pasien dengan neurogenic gangguan kandung kemih mungkin memiliki banyak tanda-tanda dan gejala BPH, tetapi terdapat riwayat penyakit neurologis, stroke, diabetes mellitus, atau cedera punggung mungkin ada juga. Pemeriksaan dapat menunjukkan sensasi ekstremitas bawah atau perubahan dalam sfingter rektal dengan cara refleks bulbocavernosus. Gangguan dari fungsi usus (sembelit) mungkin juga waspada satu untuk kemungkinan asal neurologis.1

N. TerapiDisarankan setelah pasien telah dievaluasi, diberitahu tentang berbagai pilihan terapi untuk BPH antara lain adalah dianjurkan untuk pasien berkonsultasi dengan dokter mereka untuk membuat keputusan. Rekomendasi pengobatan khusus dapat ditawarkan untuk kelompok tertentu pasien. Bagi mereka dengan gejala ringan (gejala skor 0-7), disarankan hanya watchingful waiting. Di sisi lain dari terapi, mutlak indikasi bedah antara lain adalah retensi urin, Infeksi saluran kemih berulang dari BPH, gross hematuria berulang dari BPH, kencing batu dari BPH, insufisiensi ginjal dari BPH, atau divertikula besar pada kandung kemih. 1

A. Watchful waiting Sangat sedikit penelitian tentang sejarah dalam BPH yang telah dilaporkan. Risiko pengembangan atau komplikasi tak menentu. Namun, pada pria dengan BPH gejala ringan jelas bahwa perkembangan tidak bisa dihindari dan bahwa beberapa orang menjalani perbaikan spontan. Seperti disebutkan sebelumnya, watchingful waiting adalah sesuai pengelolaan dengan skor gejala ringan (0-7). Pria dengan gejala sedang atau berat juga dapat dikelola cara ini jika mereka memilih demikian.

B. Medikamentosa 1. Alpha-blockerProstat manusia dan dasar kandung kemih terdapat alpha-1-adrenoreseptor, dan prostat menunjukkan respon kontraktil untuk agonis yang sesuai. Sifat kontraktil dari prostat dan leher kandung kemih tampaknya dimediasi terutama oleh subtipe alpha-1a reseptor. Alpha-blokade telah terbukti menghasilkan kedua obyektif dan subyektif dari peningkatan gejala dan tanda-tanda BPH pada beberapa pasien. Alphablockers dapat diklasifikasikan menurut selektivitas reseptor mereka sertawaktu paruh mereka Fenoksibenzamin dan prazosin memiliki khasiat yang sebanding sehubungan dengan mengurangi gejala-gejala, tetapi lebih tinggi profil efek samping dari fenoksibenzamin, terkait dengan yang kurangnya spesifisitas alpha-reseptor, menghalangi penggunaannya dalam pasien BPH. Dosis titrasi diperlukan dengan prazosin, dengan terapi dimulai pada 1 mg pada waktu tidur selama 3 malam, kemudian meningkat menjadi 1 mg dua kali sehari, yang dititrasi hingga 2 mg dua kali sehari jika perlu. Pada dosis yang lebih tinggi, sedikit tambahan perbaikan gejala yang diamati dan side effect profil memburuk. Efek samping yang umum termasuk ortostatik hipotensi, pusing, kelelahan, ejakulasi retrograde, rhinitis, dan sakit kepala. Long-acting alpha-blocker membuat dosis mungkin, tetapi dosis titrasi masih diperlukan. terazosin adalah dimulai pada 1 mg setiap hari selama 3 hari dan meningkat menjadi 2 mg setiap hari selama 11 hari dan kemudian ke 5 mg / hari. Dosis dapat meningkat sampai 10 mg setiap hari jika diperlukan. Terapi dengan doxazosin dimulai pada 1 mg setiap hari selama 7 hari dan meningkat menjadi 2 mg setiap hari selama 7 hari, dan kemudian ke 4 mg sehari. Dosis dapat meningkat sampai 8 mg setiap hari jika diperlukan. Efek samping mirip dengan yang dijelaskan untuk prazosin. Kemajuan terbaru dalam terapi alpha-blocker adalah terkait dengan identifikasi subtipe alfa-1-reseptor. Blokade selektif reseptor alfa-1a, yang dilokalisasi di prostat dan leher kandung kemih, menyebabkan lebih sedikit efek samping sistemik (hipotensi ortostatik, pusing, kelelahan, rhinitis, dan sakit kepala), sehingga menghindarkan perlu untuk dosis titrasi. Tamsulosin dimulai pada 0,4 mg sehari-hari dan dapat ditingkatkan menjadi 0,8 mg setiap hari jika diperlukan. Alfuzosin adalah fungsional uroselective alpha-1-adrenergik antagonis. Seperti tamsulosin, tidak ada dosis titrasi diperlukan untuk persiapan diperpanjang rilis (10 mg), dan agen ini memiliki efek samping yang lebih sedikit kardiovaskular dibandingkan dengan spesifif.

2. 5-Alpha-reductase inhibitorsFinasteride adalah 5- alpha-reductase inhibitor yang menghalangi konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron. Obat ini mempengaruhi Komponen epitel prostat, menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan perbaikan gejala. Enam bulan terapi yang diperlukan untuk melihat efek maksimum pada ukuran prostat (reduksi 20%) dan perbaikan gejala. Beberapa acak, double-blind, placebo-controlled percobaan telah membandingkan finasteride dengan plasebo. berkhasiat, aman, dan daya tahan yang baik. Namun, gejala peningkatan terlihat hanya pada pria dengan pembesaran prostat (> 40 cm3). Efek samping termasuk penurunan libido, penurunan volume ejakulasi, dan impotensi. Serum PSA akan dikurangi sekitar 50% pada pasien yang dirawat dengan finasteride, tetapi nilai-nilai individu dapat bervariasi. Dutasteride berbeda dari finasteride karena menghambat baik isoenzim dari 5-alpha-reductase. Mirip dengan finasteride, itu mengurangi serum prostat antigen spesifik prostat dan jumlah volume. Percobaan plasebo-terkontrol memiliki menunjukkan kemanjuran dutasteride perbaikan gejala, skor gejala, tingkat puncak aliran urin, dan mengurangi risiko retensi urin akut dan kebutuhan untuk operasi. Efek samping utama adalah disfungsi ereksi, penurunan libido, ginekomastia, dan ejakulasi gangguan.

3. Terapi-Kombinasi Pertama acak, ganda blind, placebo-controlled menyelidiki kombinasi alpha-blocker dan terapi inhibitor 5-alpha-reductase adalah percobaan membandingkan plasebo, finasteride saja, terazosin sendiri, dan Kombinasi finasteride dan terazosin. Lebih dari 1200 pasien berpartisipasi, dan penurunan yang signifikan dalam gejala skor dan peningkatan laju aliran urin yang terlihat hanya mengandung terazosin. Namun, salah satu harus dicatat bahwa pembesaran prostat tidak masuk kriteria; pada kenyataannya, ukuran prostat dalam penelitian ini jauh lebih kecil dibanding uji coba terkontrol sebelumnya menggunakan finasteride (32 dibandingkan 52 cm3). McConnell dan temannya melakukan jangka panjang percobaan double-blind melibatkan 3047 orang untuk membandingkan efek plasebo, doxazosin, finasteride, dan terapi kombinasi pada langkah-langkah dari pengembangan klinis BPH. Risiko keseluruhan klinis perkembangan-didefinisikan sebagai peningkatan atas dasar minimal 4 poin di AUA Gejala Skor, retensi urin akut, inkontinensia urin, insufisiensi ginjal, atau infeksi saluran kemih berulang-secara signifikan dikurangi dengan doxazosin (pengurangan risiko 39%) dan finasteride (Pengurangan risiko 34%), dibandingkan dengan plasebo. Hal ini pengurangan risiko yang terkait dengan terapi kombinasi (66% pengurangan risiko) secara signifikan lebih besar dari itu terkait dengan doxazosin atau finasteride saja. Pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari terapi kombinasi adalah mereka di antaranya risiko dasar perkembangan yang sangat tinggi, umumnya pasien dengan kelenjar yang lebih besar dan nilai-nilai PSA lebih tinggi.

4. PhytotherapyPhytotherapy mengacu pada penggunaan tanaman atau ekstrak tanaman untuk tujuan pengobatan. Penggunaan dari Phytotherapy di BPH telah populer di Eropa untuk tahun, dan penggunaannya di Amerika Serikat tumbuh sebagai hasil antusiasme pasien. Beberapa ekstrak tanaman memiliki dipopulerkan, termasuk saw palmetto berry, (Serenoa repens) kulit Pygeum africanum, akar Echinacea purpurea dan Hypoxis rooperi, ekstrak serbuk sari, dan daun poplar gemetar. S. repens telah agen yang paling baik dipelajari biasanya pada 320 mg / hari. Meskipun efek menguntungkan pada skor gejala dan aliran telah dicatat dalam beberapa penelitian, temuan tersebut belum konsisten menunjukkan. Calon sidang terbaru yang dipublikasikan, acak klinis saw palmetto tidak menunjukkan manfaat lebih dari plasebo untuk perbaikan gejala atau laju aliran urin. Mekanisme aksi phytotherapies ini tidak diketahui, dan efikasi dan keamanan obat ini belum baik diuji dalam multisenter, acak, double-blind, Studi plasebo-terkontrol.

C. Terapi Konvensional Bedah1. Transurethral reseksi prostat 95 % prostatectomies sederhana dapat dilakukan endoskopi. Kebanyakan prosedur ini melibatkan penggunaan anestesi spinal dan memerlukan 1 sampai 2 hari tinggal di rumah sakit. Skor gejala dan peningkatan laju alir dengan transurethral reseksi prostat (TURP) lebih unggul bahwa terapi minimal invasif. Tingkat morbiditas dan kematian yang terkait dengan TURP di dibandingkan dengan orang-orang dari operasi terbuka lebih tinggi tetapi tingkat yang diamati dalam satu studi yang mungkin berhubungan dengan lebih komorbiditas signifikan pada pasien TURP dari pada di pasien yang menjalani operasi terbuka. Beberapa penelitian lain tidak bisa mengkonfirmasi perbedaan angka kematian ketika hasil dikendalikan untuk usia dan komorbiditas. Risiko TURP termasuk ejakulasi retrograde (75%), impotensi (5- 10%), dan inkontinensia ( 90 menit. Pengobatan termasuk diuresis dan di kasus yang parah, administrasi saline hipertonik.

2. Transurethral insisi prostat dengan gejala sedang sampai berat dan prostat kecil sering memiliki hiperplasia komisura posterior (ditinggikan kandung kemih leher). Prosedur ini lebih cepat dan kurang sehat dari TURP. Hasil pada pasien yang dipilih sebanding, meskipun tarif yang lebih rendah ejakulasi retrograde dengan sayatan transurethral telah dilaporkan (25%). Teknik melibatkan dua sayatan menggunakan pisau Collins di Posisi jam 5 dan 7. Sayatan dimulai hanya distal ke lubang saluran kemih dan diperluas ke luar ke verumontanum.

3. Open prostatektomi-Ketika prostat sederhana terlalu besar untuk dihilangkan dengan endoskopi, enukleasi terbuka diperlukan. Kelenjar> 100 g biasanya dipertimbangkan untuk enukleasi terbuka. Prostatektomi terbuka juga dapat dimulai ketika bersamaan dengan divertikulum atau sebuah batu atau jika posisi litotomi tidak mungkin. prostatectomies terbuka dapat dilakukan dengan baik suprapubik atau pendekatan retropubik. Sebuah prostatektomi suprapubik sederhana dilakukan transvesically dan operasi pilihan dalam menangani bersamaan kandung kemih patologi. Setelah kandung kemih dibuka, irisan setengah lingkaran dibuat dalam mukosa kandung kemih, distal trigonum. Diseksi dimulai tajam, dan kemudian tumpul diseksi dengan jari dilakukan untuk menghapus adenoma tersebut. Setelah adenoma adalah dihilangkan, hemostasis dicapai dengan ligatures jahitan, dan baik uretra dan kateter suprapubik dimasukkan sebelum penutupan. Dalam prostatektomi retropubik sederhana, kandung kemih tidak masuk. Sebaliknya, sayatan melintang dibuat dalam kapsul bedah prostat, dan adenoma yang enucleated seperti dijelaskan di atas. Hanya kateter uretra dibutuhkan pada akhir prosedur.

D. Terapi Invasif Minimal 1. Laser terapi banyak teknik yang berbeda laser operasi untuk prostat telah dijelaskan. dua utama sumber energi laser telah digunakan: Nd YAG dan holmium YAG. Beberapa teknik koagulasi nekrosis yang berbeda yakni: Transurethral prostatektomi laser-induced (TULIP) dilakukan dengan bimbingan TRUS. Perangkat TULIP ditempatkan di saluran uretra, dan TRUS digunakan untuk mengarahkan Perangkat seperti yang perlahan-lahan ditarik dari leher kandung kemih ke puncak. Kedalaman tindakan dimonitor dengan USG. Kebanyakan urolog lebih suka menggunakan visual diarahkan teknik laser. Di bawah kendali cystoscopic, serat laser ditarik melalui prostat pada beberapa daerah yang ditunjuk, tergantung pada ukuran dan konfigurasi prostat. Teknik coagulative tidak menciptakan cacat visual langsung di uretra prostat, tetapi jaringan yang terkelupas selama beberapa minggu dan sampai 3 bulan setelah prosedur. Kontak visual teknik ablatif lebih memakan waktu prosedur karena ditempatkan di langsung kontak dengan jaringan prostat, Sebuah cacat segera diperoleh dalam uretra prostat, mirip dengan yang terlihat selama TURP. Terapi laser interstisial tempat langsung ke prostat, biasanya di bawah kendali cystoscopic. Pada setiap tusukan, laser ditembakkan, sehingga submukosa coagulative nekrosis. Teknik ini dapat menyebabkan iritasi berkemih dengan gejala lebih sedikit, karena mukosa uretra terhindar dan jaringan prostat yang diserap oleh tubuh dari pada terkelupas. Keuntungan dari operasi laser meliputi: (1) Perdarahan minimal (2) Jarang menjadi sindrom TUR(3) Kemampuan untuk mengobati pasien yang menerima terapi antikoagulasi(4) kemampuan untuk dilakukan sebagai prosedur rawat jalan.Kekurangan termasuk:(1) Kurangnya ketersediaan jaringan untuk patologis pemeriksaan (2) Kateterisasi pascaoperasi (3) Keluhan berkemih lebih iritasi(4) Tinggi biaya serat laser dan generator.2. Transurethral electrovaporization dari prostate menggunakan standard resectoscope dengan menggantikan loop konvensional dengan variasi dari Rollerball beralur. Kepadatan arus tinggi menyebabkan penguapan panas jaringan di rongga uretra prostat. Karena perangkat membutuhkan lebih lambat kecepatan lebih dan kedalaman penguapan kira-kira sepertiga dari loop standar, Prosedur biasanya memakan waktu lebih lama dari TURP standar.

3. Hipertermia-Microwave paling biasanya dilakukan dengan kateter transurethral. Beberapa perangkat mendinginkan mukosa uretra untuk mengurangi risiko cedera. Namun, jika suhu tidak > 45 C, pendinginan tidak perlu. Peningkatan skor gejala dan tingkat aliran diperoleh, tetapi karena dengan operasi laser, dengan studi jangka panjang tindak lanjut diperlukan untuk menilai daya tahan dan efektivitas biaya.4. Transurethral jarum ablasi menggunakan uretra yang dirancang khusus kateter yang masuk ke uretra. Interstitial jarum frekuensi radio kemudian dikerahkan dari ujung kateter, menusuk mukosa uretra prostat. Penggunaan frekuensi radio untuk memanaskan hasil jaringan dalam nekrosis coagulative. Teknik ini bukan pengobatan yang memadai untuk leher kandung kemih dan median pembesaran lobus. Perbaikan subyektif dan obyektif dalam berkemih terjadi.5. Intensitas USG terfokus adalah cara lain untuk melakukan ablasi jaringan termal. Sebuah dual-fungsi yang dirancang khusus USG probe ditempatkan di rektum. Probe ini memungkinkan transrectal pencitraan prostat dan juga memberikan semburan pendek pada intensitas tinggi terfokus energi ultrasound yang memanaskan jaringan prostat dan menghasilkan nekrosis coagulative. Leher kandung kemih dan pembesaran lobus median tidak memadai diobati dengan teknik ini. Meskipun berlangsung klinis percobaan menunjukkan beberapa perbaikan dalam gejala skor dan laju aliran, daya tahan respon tidak diketahui. 6. Stent intraurethral stent-intraurethral perangkat yang endoskopi ditempatkan di fossa prostat dan dirancang untuk menjaga paten uretra prostat. mereka adalah biasanya tertutup oleh urothelium dalam waktu 4-6 bulan setelah penyisipan. Perangkat ini biasanya digunakan untuk pasien dengan harapan hidup terbatas yang tidak dianggap tepat kandidat untuk operasi atau anestesi. Dengan munculnya teknik invasif minimal lain yang membutuhkan minimal anestesi (sedasi sadar atau blok prostat), mereka aplikasi telah menjadi lebih terbatas.

O. Komplikasi1. Infeksi pada saluran kemih 2. Batu buli-buli3. Hematuria4. Penurunan fungsi ginjal BAB IIIPEMBAHASANDiagnosis kerja pasien ini adalah Benign Prostat Hiperplasia, BPH mempunyai karaktreristik yakni timbulnya gejala LUTS (lower Urinary Tract Symptom) yang terdiri dari gejala obstruktif yaitu: hesitansi, pancaran miksi melemah, intermitensi, miksi tidak puas, menetes setelah miksi dan gejala iritatif terdiri dari: frekuensi, nokturia, urgensi dan disuri.Pasien ini di diagnosa Benign Prostat Hiperplasia berdasarkan anamnesa pasien tidak bisa buang air kecil karena adanya sumbatan pada saluran kemih pasien juriga ada massa atau pun benda asing. Pasien pernah datang ke IGD mengeluh tidak bias buang air kecil sejak 3 jam SMRS. Sebelumnya 6 jam SMRS buang air kecil pasien yg keluar hanya menetes-netes dan pasien mulai merasakan nyeri pada bagian perut bawah terutama saat buang air kecil . Pada 6 bulan SMRS pasien mengatakan pancaran urin mulai melemah, saat buang air kecil dan terputus-putus. Setiap kali ingin buang air kecil pasien harus menunggu lama. Pasien perlu mengejan untuk mengeluarkan urinnya, pasien merasakan kalau masih ada sisa urin di dalam kandung kemih yang belum keluar dan pasien mulai sulit untuk menunda buang air kecil. Pada malam hari bisa terbangun 3x untuk buang air kecil pada jam 22:00, jam 00:00, dan jam 02:00 sehingga mengganggu tidur pasien, dan pagi hingga sore tiap 2 jam sekali pasien buang air kecil. Buang air kecil tidak berdarah dan tidak bernanah. Nyeri pada pinggang tidak pernah. Demam di sangkal. Tidak ada penurunan berat badan secara tiba-tiba. Riwayat kencing batu atau pasir disangkal. Memiliki riwayat darah tinggi, memiliki riwayat kencing manis, riwayat trauma disangkal, riwayat kelainan penyakit saraf sisangkal dan riwayat alergi disangkal.Sedangkan pada pemeriksaan fisik, tanda tanda vital TD: 150/90 Nadi 98x/menit RR: 24x/menit S: 37C Pada pemeriksaan fisik semua dalam batas normal dan pasien terpasang kateter, pada pemeriksaan perianal saat diinspeksi tidak tampak benjolan pada perianal, namun saat di lakukan rectal toucher TSA (+), Ampula kosong, mukosa licin, kelenjar prostat kesan membesar (batas atas teraba) , konsistensi kenyal teraba seperti ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris, nodul (-), krepitasi (-), pada saat dilihat sarung tangan feses (-), darah (-), lendir (-).Lalu pemeriksaan laboratorium didapakan Leukosit 12,16 ribu/mm3 Neutrofil 73,2 Limfosit 19,5 Eritrosit 4,31 juta/L Hb 12,6 g/dL, Ht 38 %. Pada urin lengkap warna kuning tua, protein urin pos ++, darah samar urin pos ++++, lekosit esterasi pos+, secara mikros lekosit 8-10/lpb, eritrosit penuh/lpb dan yang lainnya dalam batas normal. Pada hasil IPSS (international Prostat Symptom Score) didapatkan nilai score pasien 29 yang termasuk kriteria gejala berat, dimana untuk score 20-35 ditujukan untuk tindakan operasi.Pasien dilakukan operasi TURP sekaligus Vasectomy, operasi TURP berguna untuk mereseksi kelenjar prostat yang menghambat lumen uretra pars prostatika akibat pembesaran kelenjar tersebut hingga lumen uretra pars prostatika dapat dilewati urin dengan lancar. Karena apabila penyempitan lumen uretra pars prostatika menghambat aliran urin menyebabkan tingginya tekanan intravesika. Pasien pun untuk dapat mengeluarkan urin pada buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan anatomik buli-buli, yakni: hipertropi otot destrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptoms seperti yang dikeluhkan pasien saat riwayat dahulunya. .

DAFTAR PUSTAKA

1. Smiths.General Urology, Edition 17th . San Francisco: Mc Graw Hill. 2008. 2. Campbell-Walsh, Volume 1th. Philadelphia: Saunders. 2007.

33