Bab 4 Hibah Bersaing

of 22 /22
Hibah Bersaing A. Latar Historis Masyarakat Kampung Nelayan Cilincing Kampung nelayan Cilincing merupakan salah satu perkampungan nelayan di Jakarta Utara, setelah Muara Angke dan Kali Baru. Secara administratif Kampung nelayan Cilincing berada di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Wilayah Cilincing sendiri terletak di sebelah timur dari pelabuhan Samudra Tanjung Priok. Seperti wilayah lainnya di Indonesia, wilayah Cilincing juga memiliki sejarahnya tersendiri. Nama Cilincing mulanya adalah Ci Calincing, berasal dari bahasa Sunda. Kata Ci dalam bahasa Sunda memiliki arti sebagai sungai. Dengan demikian, Cilincing merupakan daerah yang dialiri anak sungai marunda, dan masuk dalam kelurahan Marunda. Melihat posisi cilincing sebagai wilayah pesisir perkotaan, ternyata menarik para nelayan dari luar daerah untuk meningkatkan kualitas hidup. Gambar 4.1 Peta Clincing Raya Universitas Negeri Jakarta 13 HASIL PENELITIAN BAB 4

Embed Size (px)

Transcript of Bab 4 Hibah Bersaing

Hibah Bersaing

Hibah Bersaing

A. Latar Historis Masyarakat Kampung Nelayan Cilincing

Kampung nelayan Cilincing merupakan salah satu perkampungan nelayan di Jakarta Utara, setelah Muara Angke dan Kali Baru. Secara administratif Kampung nelayan Cilincing berada di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Wilayah Cilincing sendiri terletak di sebelah timur dari pelabuhan Samudra Tanjung Priok. Seperti wilayah lainnya di Indonesia, wilayah Cilincing juga memiliki sejarahnya tersendiri. Nama Cilincing mulanya adalah Ci Calincing, berasal dari bahasa Sunda. Kata Ci dalam bahasa Sunda memiliki arti sebagai sungai. Dengan demikian, Cilincing merupakan daerah yang dialiri anak sungai marunda, dan masuk dalam kelurahan Marunda. Melihat posisi cilincing sebagai wilayah pesisir perkotaan, ternyata menarik para nelayan dari luar daerah untuk meningkatkan kualitas hidup.

Gambar 4.1Peta Clincing Raya

Sumber: www.peta-cakung-cilincing-raya.comB. Konteks Sosial Masyarakat Kampung Nelayan CilincingPenduduk asli Cilincing Rw 04 merupakan suku Betawi atau biasa dikenal dengan sebutan Betawi pesisir. Pada Awalnya suku Betawi berprofesi sebagai nelayan, hal ini dapat dipahami dari kondisi geografis daerah Cilincing yaitu pesisir. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap profesi masyarakat setempat yakni sebagai nelayan maupun pelaut. Namun kini, profesi sebagai nelayan tidak lagi menjadi pekerjaan utama bagi suku Betawi. Hal ini disebabkan dengan banyaknya nelayan rantau yang datang melaut di daerah Cilincing dengan menggunakan teknologi modern. Hingga akhirnya nelayan (betawi pesisir) perlahan mulai termarginalisasi, dan kini lebih banyak berprofesi sebagai buruh dan juga pengangguran. Sementara itu, para nelayan rantau datang dan silih berganti mengeksploitasi hasil laut dari perairan laut Jawa. Berikut ini adalah peta perubahan sosial yang terjadi di Kampung Nelayan Cilincing.Berdasarkan peta perubahan sosial yang terjadi di kampung nelayan Cilincing, secara ekonomi maka dapat kita lihat bahwa telah terjadi pergeresan dominasi. Pergeseran dominasi tersebut ditunjukan dengan posisi nelayan rantau yang semakin sukses dan sebaliknya masyarakat betawi pesisir perlahan mulai kehilangan otoritas. Sementara itu meningkatnya jumlah nelayan rantau di kelurahan cilincing berdampak pada sulitnya mendata jumlah penduduk secara baik. Pak hasyim menuturkan:Jumlah penduduk di sini (RT.012) kalo dari KK (kartu keluarga) sih jumlahnya kurang lebih 250-an KK, tapi sebenernya lebih. Masalahnya banyak penduduk yang kagak netap di sini, banyak juga yang kagak punya KTP tapi kagak pada lapor diri. Maklumlah kebanyakan pekerjaan masyarakat sini melaut (nelayan), jadi pada males ngurus-ngurus beginian.

Berdasarkan penuturan Pak Hasyim, tidak mengherankan bila jumlah penduduk di kampung nelayan Cilincing tidak terdata dengan baik. Namun, untuk mengindentifikasi etnis apa saja yang dominan di kawasan ini dapat kita ketahui dari aksen berbicara mereka. Dari pengamatan di lapangan, dapat diketahui bahwa setidaknya ada dua etnis yang dominan di kawasan ini, yakni Sunda dan Jawa. Sedangkan asal wilayahnya terdiri dari Karawang, Indramayu, dan Cirebon. Untuk bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa sunda dan indramayu.C. Lingkungan dan Masalah yang Timbul

Tinggal di lingkungan nelayan, sebagaimana selama ini orang mengasosiasikan kehidupan nelayan yakni sebuah kehidupan yang keras, acuh, kumuh, jorok, tertinggal, miskin dan tidak ramah bagi masyarakat luar. Perkampungan nelayan ini tergolong persis yang dibayangkan oleh orang banyak. Hubungan antara nelayan dan laut juga dapat digambarkan negatif, mereka tidak segan untuk membuang limbah (plastik) rumah tangga ke laut. Akhirnya menimbulkan lingkungan yang kotor. Lingkungan yang kotor ini diperparah lagi dengan adanya perusahaan yang membuang limbah ke aliran laut. Sehingga dalam beberapa waktu, munculah berbagai penyakit, yang menyerang masyarakat. Seperti, gangguan pernafasan, sakit kulit, dan lain-lain. Laut bagi mereka adalah rumah kedua, karena begitu bertumpunya masyarakat pada laut. Tetapi mereka tidak merasa perlu menjaga kebersihan lingkungan.

Permasalahan air bersih juga menjadi penting mengingat, air sumur yang selama ini digunakan untuk aktifitas MCK (Mandi Cuci Kakus) dan keperluan dapur bersumber dari air laut. Sedangkan kondisi air laut sangat kotor. Jelas kebutuhan akan air bersih menjadi sangat vital bagi kehidupan. Selain itu juga, permasalahan dalam bidang ekonomi tentunya memegang peranan dari segala masalah sosial. Untuk itu, semua anggota keluarga perlu meyadari pentingnya memberdayakan diri dan terlibat dalam aktif bekerja secara santun. Maksudnya santun di sini adalah, bekerja dengan cara-cara yang tidak menyimpang. Mengingat cukup banyak terdapat tempat-tempat hiburan malam seperti diskotik, pub, hotel di sekitar kampung nelayan Cilincing. Pada saat yang sama, masyarakat terutama perempuan-perempuan baik di sekitar perkampungan nelayan Cilincing maupun di luar sangat rentan menjadi pekerja seks hiburan atau hanya sekedar teman duduk minum.

Menurut Bapak Giyarno selaku ketua RW. 04, keberadaan tempat-tempat hiburan tersebut bukan masuk dalam wilayah tanggungjawabnya, karena secara administratif masuk di lingkungan RW. 03. Namun, usaha untuk menutup tempat-tempat tersebut sudah dilakukan, namun tetap saja masih berdiri. Memang keberadaan tempat hiburan tersebut telah mengundang perempuan, terutama anak-anak gadis di daerah kampung nelayan Cilncing dan sekitar untuk bekerja di lokasi tersebut. Tentu saja ini masalah sosial yang penting di tengah isu pembedayaan perempuan. Tidak semua anak-anak gadis bekerja di tempat hiburan, ada juga yang bekerja sebagai buruh pabrik didaerah kawasan industri di Marunda.

D. Kondisi Ekonomi Masyarakat Kampung Nelayan Cilincing

Masyarakat kampung nelayan Cilincing hidup di pesisir teluk pantai Jakarta Utara. Hal ini dapat dipahami karena hampir sebagian besar mata pencaharian utama mereka adalah nelayan, tidak mengeherankan bila mereka bersandarkan hidup pada laut. Untuk sekarang, status nelayan di daerah kampung nelayan Cilincing dipadati oleh masyarakat pendatang atau nelayan rantau dengan kapal dan teknologi modern. Pendapatan bersih nelayan per hari berkisar antara Rp. 120.000-150.000 dan ini pun sangat bergantung pada cuaca, bila cuaca sedang tidak bersahabat biasanya mereka pulang dengan hasil yang lebih sedikit. Alhasil, bila cuaca dalam sebulan bagus, pendapatan mereka mencapai Rp. 3.600.000-4.500.000. Jumlah ini tentu saja cukup besar bila dibandingkan dengan pekerjaan sebagai buruh pabrik, hanya saja resiko menjadi nelayan begitu besar. Sedangkan jumlah tersebut belum termasuk perbaikan jaring yang harus ditanggung oleh nelayan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa secara ekonomi kehidupan nelayan di kampung nelayan Cilincing cukup sejahtera.

Sementara bagi pendatang yang tidak melaut, mereka memilih menjadi tengkulak. Dari tengkulak inilah masyarakat khususnya perempuan mendapat pekerjaan sebagai buruh pengupas kulit kerang dan udang, dengan menerima bayaran Rp. 8.000- per karungnya. Biasanya pekerjaan ini dilakukan secara borongan dan diambil dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Pekerjaan lain yang dapat dilakukan oleh mereka antara lain, pengolahan ikan asin, berjualan membuka warung maupun berkeliling. Seperti yang dilakukan oleh ibu Kati (46 tahun) warga Rt. 03 Rw. 004. Ibu Kati berjualan secara berpindah-pindah, siang sekitar jam 10.00 Wib berjemur bersama dagangannya, dan sekitar jam 15.00 Wib, berkeliling menjajakan makanan yang diolah bersama putri nya.

ya mau gimana lagi dek, kalo ngak begini mau makan apa? bapaknya anak-anak uda nggak ada, jadilah ibu yang kerja. Untung aja si Santi orangnya mah nggak minderan, mau dia keliling dagangin jualanan, syukur alhamdulliah dagangan selalu habis dek

Ibu Kati hanyalah satu dari sekian profil perempuan yang memberdayakan dirinya sekaligus merupakan representasi dari perempuan yang memiliki keinginan untuk membantu perekonomian keluarga. Sebagai informasi, dagangan yang dijajakan oleh ibu Kati hanyalah dua jenis, yakni pepes dan minuman. Pepes terdiri dari pepes ikan, hati, ayam, dan untuk minuman terdiri dari kolang-kaling, cendol, kolak. Masing-masing ibu Kati sanggup membuat 100 bungkus untuk setiap jenis olahannya. Jadi, sekitar 200 bungkus olahan setiap harinya yang dijual, dengan harga Rp. 2.000 untuk per bungkus minuman dan Rp. 2.500 untuk satu bungkus pepes. Jadi, dalam sehari penghasilan Ibu Kati bisa mencapai Rp. 450.000, jika dikurangi dengan biaya bahan berkisar Rp 400.000 jadi masih ada sisa sebesar Rp 50.000 perhari.

Bila menyusuri sepanjang jalan perkampungan nelayan Cilincing, memang banyak warung klontong dan warung makan hampir di kanan-kiri jalan. Pemiliknya sebagian besar adalah penduduk asli yaitu suku Betawi pesisir, hal ini seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa gejala ini muncul sebagai akibat adanya dominasi ekonomi dari masyarakat atau nelayan pendatang. Terlepas dari hal tersebut, hal ini tentu saja menunjukan betapa kuatnya keingingan masyarakat (perempuan) nelayan Cilincing untuk menjadi wirausaha. Semangat dan tekad yang kuat yang dimiliki masyarakat nelayan Cilincing tidak terlepas dari kontruksi sosial budaya. Sebagaimana kehidupan di pesisir, yang keras dan juga membutuhkan keberanian ternyata tidak hanya mempengaruhi perilaku mereka di laut tapi juga dikehidupan sosial lainnya. Semangat masyarakat pesisir ikut juga menjadi faktor pendorong terciptanya diferensiasi social bidang pekerjaan. Untuk itu, pada tabel berikut mencoba untuk melihat spesialisasi pekerjaan masyarakat Betawi pesisir dan masyarakat pendatang serta di sini juga mencoba untuk melihat di mana saja peran perempuan Cilincing di luar sektor

Tabel 4.2

Diferensiasi Pekerjaan Masyarakat Kampung Nelayang Cilincing

NoKlasifikasi PekerjaanMasyarakat Betawi PesisirMasyarakat PendatangPeran Perempuan

1. Nelayan (Melaut)-

2. Pengolahan hasil laut (ikan asin)-

3. Buruh Pengupas-

4. Buruh bangunan--

5. Tukang ojek--

6. Penjual balok es--

7. Usaha solar --

8. Pedagang peralatan--

9. Warung klontongan-

10. Warung makan-

11. Montir Bengkel --

12. Usaha Las --

13. Pemulung/pengumpul barang bekas-

Sumber: Olah Data Dari Lapangan

E. Pendidikan Sebagai Sistem Pengetahuan

Berdasarkan tabel di atas, mengenai diferensiasi pekerjaan di kampung nelayan Cilincing, dapat kita lihat bahwa beberapa pekerjaan yang behubungan dengan laut maupun hasil olahannya, dilakukan oleh masyarakat asli dan juga perempuan. Masyarakat betawi pesisir bekerja lebih banyak bidang dibandingkan dengan masyarakat pendatang, hal ini sebagai akibat dari pergeseran aktivitas sosial yang terjadi di kampung nelayan Cilincing. Sementara pekerjaan yang sifatnya lebih tinggi kedudukannya didominasi oleh masyarakat rantau. Hal demikian dikarenakan, berdasarkan penuturan Pak Hasyim, warganya perlahan-lahan sudah mulai realistis dan memiliki pengetahuan tentang ajaran agama. Realistis di sini maksudnya adalah, sekarang banyak masyarakat tidak mau bergantung pada satu pekerjaan (melaut), tapi sudah mulai mencoba pekerjaan lain. Hal ini dikarenakan menyadari bahwa keadaan alam (laut) yang mulai tidak mendukung bagi sumber kehidupan mereka. Namun demikian, mereka tetap bekerja sesuai etos kerja sebagai masyarakat pesisir.

Bila melihat tingkat pendidikan masyarakat kampung nelayan Cilincing yang sudah mulai mengenyan pendidikan hingga jenjang tinggi. Tidaklah mengherankan bahwa telah terjadi perubahan cara berfikir masyarakat. Perlahan masyarakat mulai belajar akan budayanya, memahami dan mencoba mengkoreksi. Misalnya saja tradisi Nadran, yakni sebuah tradisi yang dilakukan setahun sekali dan diyakini sebagai perwujudan ucapan syukur serta pengharapan akan rejeki laut yang berlimpah. Salah satu ritual yang tidak bisa diterima oleh sebagian masyarakat nelayan adalah dengan membuang kepala kerbau ke laut. Menurut mereka hal tersebut sudah termasuk ke dalam golongan musyrik dari ajaran agama. Namun, sebagian nelayan masih meyakini tradisi tersebut.

Pada tabel di atas juga memperlihatkan bagaimana peran perempuan dalam dimensi ekonomi masih terbatas. Perihal mengenai terbatasnya peran atau keterlibatan perempuan dalam ekonomi keluarga juga diungkapkan oleh Bapak Gani. Bahwa masalah kurangnya keterlibatan perempuan, selain karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki juga dikarenakan kurangnya pihak-pihak yang memberikan suatu bentuk pendidikan maupun pelatihan kepada warga. Sementara itu menurut Ibu Mariamah kurang terlibatnya perempuan lebih dikarenakan ketidakefektifan ketua-ketua Rt dalam mensosialisasikan kegiatan yang datang dari luar. Masih menurut Ibu Mariamah, banyak bentuk bantuan yang datang, tetapi baik ketua RT dan pengurus koperasi nelayan, jarang sekali untuk berkordinasi dengan pengurus RW dan pengurus PKK. Sehingga bantuan yang datang hanya dinikmati oleh sebagian masyarakat, khususnya yang berada di dalam kampung nelayan Cilincing.

Pembahasan masalah keterlibatan perempuan atau upaya untuk memberdayakan perempuan agar berdaya untuk diri sendiri dan orang lain merupakan isu penting. Agar perempuan memiliki kecakapan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini perempuan kampung nelayan Cilincing adalah aktor yang turut berperan membantu kesejahteraan keluarga. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga atau biasa dikenal dengan sebutan PKK, merupakan media bagi perempuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadi terampil. Setidaknya ada sepuluh program yang merupakan turun dari visi dan misi PKK, kesepuluh program ini sifatnya menambah pengetahuan dan bisa saja bentuknya penyuluhan, seminar maupun pelatihan. PKK yang berada di bawah kordinasi dari RW tentu saja dalam kepengurusan maupun kegiatannya melibatkan semua RT dibawah satu naungan RW.

Sehingga rasanya tepat bila melibatkan perempuan daerah tertinggal dengan merangkul PKK. Dalam konteks ini adalah PKK di Rw 04 kampung nelayan Cilincing. Menurut Ibu Mariamah, PKK memiliki 20 orang anggota disetiap RT-nya, kegiatan yang dilakukan biasanya mengenai sandang dan pangan. Menurut Ibu Mariamah dan teman pengurus, bahwa bentuk bantuan dalam pelatihan itu pernah ada. Namun, masalahnya adalah dimodal dan pemasaran. Misalnya saja bertanam sayur-sayuran dalam pot membuat berbagai jenis makanan dari bahan olahan, dan lain-lain, selalu kendalanya dipemasaran. Sementara itu, kegiatan ini dilakukan dalam salah satu turunan dari program yang kemudian diberi nama Dasa Wisma, kegiatannya sebulan sekali dan biasanya kegiatan ini lakukan di kantor RW dan di TPI. Perempuan nelayan Cilincing adalah tipikal yang mau bekerja dan serius. Dalam bantuan kegiatan, mereka mengharapkan suatu bimbingan pengetahuan yang berkelanjutan, agar mereka memiliki pengetahuan yang tidak hanya didapat saat kegiatan berlangsung. Sekiranya gambaran secara umum masyarakat Cilincing yang memiliki kemauan yang keras hasil tempaan kontruksi sosial tempat tinggal.

F. ETOS KERJA PEREMPUAN NELAYAN CILINCING

Dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, perempuan nelayan cilincing secara ekonomi memiliki motivasi yang tinggi serta semangat yang tinggi dalam berwirausaha. Hal ini ditandai dengan berbagai faktor, pertama, karakter mandiri. Karakter kemandirian ini bisa dilihat dari aspek keluarga. Berdasarkan fakta di lapangan, diketahui bahwa setidaknya terdapat 12 (dua belas) perempuan nelayan cilincing dalam konteks penelitian ini yang hidup tanpa kepala keluarga (suami). Sehingga secara tidak langsung hal ini mampu membentuk karakter mandiri pada perempuan nelayan cilincing. Wujud kemandirian ini dapat dilihat dari karakteristik perempuan nelayan cilincing yang tidak mau meminjam pada koperasi jalan atau lebih dikenal dengan sebutan rentenir. Salah satunya alasan adalah, karena takut tidak sanggup membayar iuran serta bunga dari pinjaman yang mereka peroleh.

Oleh sebab itu, perempuan nelayan cilincing lebih suka bekerja sebagai pengupas kulit udang, kulit kerang, dan menjadi penjaja kue yang mereka ambil dari warga lainnya. Setidaknya ada 7 (tujuh) informan yang memiliki pandangan dan alasan yang secara keseluruhan sama mengenai hal tersebut. Mereka lebih memilih bekerja apa saja seperti yang disebutkan di atas, daripada harus meminjam pada rentenir. Dengan demikian mereka tetap bisa mencukupi kebutuhan hidup tanpa perlu berhutang pada rentenir. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa infoman mengenai keberadaan koperasi, hasilnya mereka tidak keberatan untuk menjadi pengurus atau anggota koperasi dengan syarat iurannya tidak besar.

Kedua, kerja keras. Karakter kerja keras ini merupakan respon dari karakter mandiri yang dimiliki oleh sebagian perempuan nelayan cilincing. Dengan menyandang status janda, tidak lantas membuat mereka menjadi terpuruk, justru sebaliknya menjadi perempuan yang mandiri dan pekerja keras. Karena hidup tanpa kepala keluarga (suami) pencari rejeki, perempuan nelayan cilincing akhirnya menjalani kehidupan dengan predikat beban kerja ganda. Selain mereka bekerja di sektor domestik, mereka juga dihadapkan pada situasi dan kondisi ekonomi yang sulit sehingga mereka harus terlibat di sektor publik.

Misalnya saja, Ellin (19 tahun), Ellin merupakan salah satu perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks di daerah Waramalang. Ellin memiliki anak bayi yang baru berusia 2 (dua) bulan, dan Ellin menjadi PSK setelah ditinggal suaminya dan dikarenakan untuk kebutuhan si kecil. Sebelumnya dia sudah melamar pekerjaan di kawasan industri, namun karena kendala pendidikan yang tidak memenuhi syarat ia tidak diterima. Ia tidak dapat memastikan sampai kapan ia akan bekerja seperti ini, namun jika ada panggilan kerja ia pastikan akan meninggalkan pekerjaan ini. Berbeda halnya dengan perempuan cilincing yang tidak memiliki pekerjaan, misalnya Ibu Tjarsinah dan Tarmini. Mereka bahkan mengharapkan adanya kegiatan-kegiatan atau pelatihan yang bisa dikuti dan ditekuni.

Ketiga, kemauan untuk belajar. Tingkat pendidikan perempuan nelayan cilincing yang rata-rata hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) membuat mereka memiliki keterbatasan dalam hal pengetahuan. Keterbatasan inilah yang menjadi salah satu halangan mereka untuk bekerja yang lebih baik. Berdasarkan informasi yang didapat, bahwa beberapa informan pernah ikut dan tertarik bila ada pelatihan-pelatihan yang dibimbing sampai mereka benar-benar bisa. Persoalan lain yang muncul adalah waktu, bahwa mereka belum tentu bisa ikut kegiatan tersebut bila pasokan kerang dan udang sedang banyak. Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa sebenarnya perempuan nelayan cilincing memiliki kemauan untuk belajar.

PROFIL INFORMAN

NoNamaUsiaPekerjaanPenghasilan (per hari)Pengeluaran (per hari)

1Sarnah37 Tahun Kuliner Rp. 150.000Rp. 120.000

2Masuroh 41 Tahun Buruh HarianRp. 30.000Rp. 50.000

3Sadiah 36 Tahun Buruh HarianRp. 30.000Rp. 40.000

4Tarinah 58 Tahun Buruh HarianRp. 25.000Rp. 20.000

5Ellin19 Tahun Tunasusila Rp. 50.000Rp. 35.000

6Kunarti 34 Tahun Menjahit Rp. 20.000Rp. 50.000

7Nining 36 Tahun Buruh HarianRp. 30.000Rp. 40.000

8Sariyah 45 Tahun Pedagang kecilRp. 20.000Rp. 40.000

9Ulfa 51 Tahun Pengangguran Rp. -Rp. -

10Tarmini 49 Tahun PengangguranRp. -Rp. -

11Tarsinah 45 Tahun Pengangguran Rp. -Rp. -

12Maryam 45 Tahun Pengangguran Rp. -Rp. -

13Kati 45 Tahun Kuliner Rp. 400.000Rp.300.000

Sumber: Data Lapangan Peneliti

Ibu Masuroh merupakan salah satu perempuan di Cilicing yang pekerjaannya sebagai buruh harian (mengupas udang). Ibu yang dikaruniai dua anak ini harus menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya telah meninggal 15 tahun lalu. Pendapatan yang diperoleh sehari-hari hanya mencapai Rp. 30.000 dan kemudian digunakan untuk membiayai anaknya yang masih berada di bangku SMA. Namun dengan penghasilan yang diperolehnya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, walaupun mereka harus makan seadanya. Ibu dua anak ini memiliki sifat pekerja keras, rajin, tekun, dan pantang menyerah tetapi yang terpenting walaupun keluarga ini masih sangat kekurangan ia sangat menghindari untuk meminjam uang di bank keliling.

Ibu Kunarti adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya menjahit. Ia menjalankan usaha jahitnya ini baru dua tahun yang lalu. Penghasilan yang diperoleh setiap harinya sekitar lima ribu sampai dua puluh ribu. Selain mengandalkan jahitan, ibu Kunarti juga bekerja sebagai buruh pengupas udang karena kegiatan ini menurutnya dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Ibu yang memiliki dua anak ini pada awalnya adalah seorang karyawan di bidang konveksi, kemudian setelah keluar lalu ia meneruskan untuk membuka jahitan di rumah sendiri. Alasan ia keluar dari konveksi tersebut karena kedua anaknya tidak ada yang mengurus, sehingga Ibu ini lebih memilih membuka jasa jahit di rumah. Namun kendala yang dihadapi adalah belum adanya keahlian untuk membuat desain baju, jadi ia hanya bisa vermak levis, jahit baju yang robek, memperbaiki baju dan lain sebagainya. Ibu ini sangat mengaharapkan adanya bantuan pelatihan tentang menjahit sehingga ia bisa mengembangkan usaha jahitnya dengan membuat baju.

Ibu Kati merupakan ibu rumah tangga yang kegiatan sehari-harinya adalah pedagang kuliner keliling. Ibu Kati merupakan salah satu perempuan yang memberdayakan dirinya sekaligus merupakan representasi dari perempuan yang memiliki keinginan untuk membantu perekonomian keluarga. Sebagai informasi, dagangan yang dijajakan oleh ibu Kati hanyalah dua jenis, yakni pepes dan minuman. Pepes terdiri dari pepes ikan, hati, ayam, dan untuk minuman terdiri dari kolang-kaling, cendol, kolak. Masing-masing ibu Kati sanggup membuat 100 bungkus untuk setiap jenis olahannya. Jadi, sekitar 200 bungkus olahan setiap harinya yang dijual, dengan harga Rp. 2.000 untuk per bungkus minuman dan Rp. 2.500 untuk satu bungkus pepes. Jadi, dalam sehari penghasilan Ibu Kati bisa mencapai Rp. 450.000.

Walau hanya bekerja sebagai buruh, keterlibatan perempuan nelayan cilincing di sektor publik merupakan etos kerja yang telah menjadi roh kehidupannya. Etos kerja yang digambarkan oleh perempuan nelayan cilincing pada konteks ini adalah usaha-usaha yang mereka tekuni dan yakin bahwa dengan bekerja keras, mereka akan berhasil dan sukses. Oleh sebab itu, etos kerja yang dimiliki oleh perempuan cilincing sejauh ini merupakan modal sosial yang harus dan perlu ditingkatkan. BAB 4

HASIL PENELITIAN

PAGE 13Universitas Negeri Jakarta