Bab 4 bag 1 SMA Darul 'Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang

6
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Eksistensi Pagelaran Wayang Kulit di Masyarakat Kabupaten Magelang 4.1.1 Dinamika Perkembangan Kesenian Wayang Kulit Wayang sebagai hasil karya seni warisan nenek moyang telah mengalami perubahan dan penyempurnaan baik dari segi seni pertunjukan maupun kreasi terhadap bentuk para tokoh pewayangan. Di Jawa Tengah, perubahan dan penyempurnaan yang menandai zaman baru dunia wayang dimulai pada masa kerajaan Demak. Wayang kulit yang tertulis di relief candi peninggalan Kerajaan Majapahit bentuknya diubah menjadi pipih lalu digambar dengan warna hitam dan putih. Kreasi seni terhadap wayang terus berkembang meskipun Kerajaan Demak runtuh. Kreasi tersebut tercermin dari lahirnya jenis-jenis wayang yang berkembang sesuai dengan karakter para penguasa kerajaan. Dinamika tersebut tidak menghilangkan bentuk dan cita rasa asli dari wayang yang sudah ada. Perubahan-perubahan yang terjadi terhadap wayang kulit di tinjau dari beberapa periode kerajaan yang terdapat di Indonesia: a. Periode Kerajaan Demak

description

Nah, bagi yang sudah menunggu-nunggu kelanjutan dari Project saya: Ini BAB 4 bagian Pertama :) Semoga Bermanfa'at (Aamiiiin). Silahkan di like, share ataupun Download :)

Transcript of Bab 4 bag 1 SMA Darul 'Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang

Page 1: Bab 4 bag 1 SMA Darul 'Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Eksistensi Pagelaran Wayang Kulit di Masyarakat Kabupaten Magelang

4.1.1 Dinamika Perkembangan Kesenian Wayang Kulit

Wayang sebagai hasil karya seni warisan nenek moyang telah mengalami

perubahan dan penyempurnaan baik dari segi seni pertunjukan maupun kreasi

terhadap bentuk para tokoh pewayangan. Di Jawa Tengah, perubahan dan

penyempurnaan yang menandai zaman baru dunia wayang dimulai pada masa

kerajaan Demak.

Wayang kulit yang tertulis di relief candi peninggalan Kerajaan Majapahit

bentuknya diubah menjadi pipih lalu digambar dengan warna hitam dan putih.

Kreasi seni terhadap wayang terus berkembang meskipun Kerajaan Demak runtuh.

Kreasi tersebut tercermin dari lahirnya jenis-jenis wayang yang berkembang sesuai

dengan karakter para penguasa kerajaan. Dinamika tersebut tidak menghilangkan

bentuk dan cita rasa asli dari wayang yang sudah ada.

Perubahan-perubahan yang terjadi terhadap wayang kulit di tinjau dari

beberapa periode kerajaan yang terdapat di Indonesia:

a. Periode Kerajaan Demak

Wayang dibuat pipih menjadi bentuk gambar (dua dimensi) dan dalam

bentuk miring sehingga tidak menyerupai wayang pada relief candi. Bahannya

dibuat dari kulit kerbau yang dihaluskan dan ditatah dengan halus. Wayang

digambar dengan dua warna: putih sebagai warna dasar dan hitam sebagai

warna pada bagian-bagian wayang. Gambar dengan muka miring dan tangan

masih bersatu dengan badan, diberi gapit untuk pegangan. Pola gambar pada

umumnya diambil dari wayang beber Majapahit. Saat pementasan wayang,

ditambah dengan menggunakan beberapa peralatan pentas.

Page 2: Bab 4 bag 1 SMA Darul 'Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang

b. Periode Kerajaan Pajang

Golongan raja memakai mahkota (topong mahkota). Ksatria memakai

gelung juga dodotan dan celana. Dibuat berbagai senjata seperti panah, keris

gada dan lain-lain.

c. Periode Kerajaan Mataram

Menambah binatang, seperti kera, gajah, garuda. Rambut ditata halus

dengan campuran seritan.

d. Periode Pasca Kerajaan Mataram

Memakai wayang punakawan, Bagong. Dewa memakai selendang

dengan membawa keris, tidak bercelana namun memakai baju dan sepatu.

Dalang memakai baju dan sepatu. Sebagai hiasan pada background dengan

menggunakan dasamuka bermata satu dengan wanda belis (setan) serta

kumbakarna bermata satu dengan wanda Mendung (awan hitam).

Sementara itu, di Kabupaten Magelang sendiri, pementasan seni wayang kulit

cenderung banyak dipengaruhi pada perkembangan di periode kerajaan Demak,

hanya saja terdapat beberapa perbedaan, seperti pada bahan dasar pembuatan

wayang dan isi cerita yang dipentaskan dan kesemuanya itu disesuaikan dengan ciri

khas yang ada di lingkungan masyarakat Kabupaten Magelang.

4.1.2 Penggolongan Wayang Kulit

Dalam suatu pertunjukan wayang kulit teradapat berbagai macam jenis

wayang yang digunakan. Wayang dapat digongkan menjadi beberapa jenis,

seperti:

a. Wayang Ekspresif Dekoratif, yaitu wayang yang mengekspresikan

perwujudan watak-watak manusia, yang terletak pada watak baik, watak buruk, dan

watak setengah baik.

Klasifikasi:

1. Golongan dewa

Page 3: Bab 4 bag 1 SMA Darul 'Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang

2. Golongan pendeta

3. Golongan ksatria

4. Golongan raja

5. Golongan putra raja yang masih muda

6. Golongan putri

7. Golongan punggawa/rempekan

8. Golongan raksasa

9. Golongan kera

b. Wayang Humor Karikatur, yaitu wayang yang menggambarkan rasa humor

berbentuk karikatur/gambaran dalam bentuk kartun orang-orang penting semisal

tokoh pejabat dan ulama.

Klasifikasi:

1. Pengikut ksatria : Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong

2. Pengikut raksasa : Togok dan Sarawito

3. Pengikut dewa : Patuk dan Temboro

4. Pengikut pendeta : Cantrik Janaloka

5. Wayang humor karikatur wanita : Cangik dan Limbuk

c. Wayang yang menggambarkan kelompok pasukan atau sekumpulan

tanamann, binatang, dan bangunan seperti ampyaan dan gunungan.

d. Wayang yang melukiskan binatang dan kendaraan, seperti kuda, kereta

kencana, gajah, naga, burung gar.uda, dan sebagainya

e. Wayang yang melukiskan senjata, seperti panah, keris, gada, alugara,

senjata cakra, dan lain-lain.

f. Wayang yang melukiskan roh halus berupa siluman, seperti Jurumeya,

Jarameya Keblok, dan sebagainya.

Page 4: Bab 4 bag 1 SMA Darul 'Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang

4.1.3 Minat Masyarakat terhadap Pagelaran Wayang Kulit

Saat ini pagelaran wayang khususnya wayang kulit, menjadi sebuah kesenian

warisan masa lalu yang kaya makna dan nilai luhur kemanusiaan, memang masih

eksis. Namun bila boleh jujur, animo generasi muda untuk menikmati wayang

sangat jauh berbeda dibandingkan keinginan mereka menyaksikan konser sebuah

grup musik atau dangdut. Ini menunjukkan cerita-cerita di dalam pementasan

wayang kulit, seolah telah kehilangan daya magis untuk menarik minat dari generasi

muda.

Di Kabupaten Magelang sendiri, minat masyarakat untuk menyaksikan

serangkaian pementasan wayang kulit masihlah sangat minim. Kebanyakan yang

menyaksikan hanyalah dari generasi tua dan kalangan seniman. Kondisi seperti ini

jelas sangat ironis, karena pada dasarnya diadakannya pertunjukan wayang kulit

merupakan bentuk sarana hiburan bagi masyarakat yang terjangkau juga sebagai

media efektif bagi pemerintah dalam menyampaikan pesan pembangunan, program

kemasyarakatan, dan layanan masyarakat. Sehingga dapat terjalin keselarasan antara

pemerintah dan masyarakat yang nantinya akan menciptakan ketentraman serta

kesejahteraan hidup bersama.