BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dasar Status Gizi 2.1.1. Definisi Status Gizi 2.pdf · 2019. 9....

of 45 /45
11 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dasar Status Gizi 2.1.1. Definisi Status Gizi Status gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan sumber daya manusia dan kualitas hidup. Untuk itu program perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan, agar terjadi perbaikan status gizi masyarakat (Deddy Muchtadi, 2002). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat (Almatsier, 2001). Menurut Almatsier (2009) Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi, yang dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih. Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis (pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya) (Suyanto, 2009). Status gizi dapat pula diartikan sebagai gambaran kondisi fisik seseorang sebagai refleksi dari keseimbangan energy yang masuk dan yang dikeluarkan oleh

Embed Size (px)

Transcript of BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dasar Status Gizi 2.1.1. Definisi Status Gizi 2.pdf · 2019. 9....

  • 11

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Konsep Dasar Status Gizi

    2.1.1. Definisi Status Gizi

    Status gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan sumber daya

    manusia dan kualitas hidup. Untuk itu program perbaikan gizi bertujuan untuk

    meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan, agar terjadi perbaikan status gizi

    masyarakat (Deddy Muchtadi, 2002).

    Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

    penggunaan zat-zat (Almatsier, 2001).

    Menurut Almatsier (2009) Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat

    konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi, yang dibedakan antara status gizi

    buruk, kurang, baik, dan lebih.

    Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara

    jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) oleh tubuh

    untuk berbagai fungsi biologis (pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas,

    pemeliharaan kesehatan, dan lainnya) (Suyanto, 2009).

    Status gizi dapat pula diartikan sebagai gambaran kondisi fisik seseorang

    sebagai refleksi dari keseimbangan energy yang masuk dan yang dikeluarkan oleh

  • 12

    tubuh (Marmi, 2013). Sedangkan menurut Suhardjo, dkk (2003) status gizi adalah

    keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian, penyerapan, dan penggunaan makanan.

    Deswarni Idrus dan Gatot Kusnanto (1990), mengungkapkan bahwa ada

    beberapa istilah yang berhubungan dengan status gizi. Istilah-istilah tersebut adalah :

    Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi

    secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan,

    metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan unruk mempertahankan

    kehdupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan

    energy.

    Keadaan gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan

    penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau keadaan fisiologik

    akibat dari tersdianya zat gizi dalam seluler tubuh.

    Malnutrition (Gizi salah) adalah keadaan patofisiologis akibat dari

    kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi, ada

    empat bentuk malnutrisi diantaranya adalah :

    1) Under nutrition, kekurangan konsumsi pangan secara relatif atau absolut untuk

    periode tertentu.

    2) Specific deficiency, kekurangan zat gizi tertentu.

    3) Over nutrition, kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu.

  • 13

    4) Imbalance, karena disproporsi zat gizi, misalnya kolesterol terjadi karena tidak

    seimbangnya LDL (Low Density Lipoprotein), HDL (High Density Lipoprotein), dan

    VLDL (Very Low Density Lipoprotein).

    5) Kurang energi protein (KEP), adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan

    oleh rendahnya konsumsi energi protein dalam makanan sehari-hari atau gangguan

    penyakit tertentu. Anak dikatakan KEP bila berat badan kurang dari 80% berat badan

    menurut umur (BB/U) baku WHO-NHCS.

    Status gizi dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, Bachyar Bakri, dkk

    (2002) mengatakan bahwa meskipun sering berkaitan dengan masalah kekurangan

    pangan, pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan produksi dan pengadaan

    pangan. Pada kasus tertentu, seperti dalam keadaan krisis (bencana alam, perang,

    kekacauan sosial, krisis ekonomi), masalah gizi muncul akibat masalah ketahanan

    pangan di tingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga memperoleh

    makanan untuk semua anggotanya.

    Karenanya, peningkatan status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang

    menjamin setiap anggota masyarakat untuk memproleh makanan yang cukup jumlah

    dan mutunya, dalam konteks itu masalah gizi tidak lagi semata-mata masalah

    kesehatan tapi juga masalah kemiskinan, pemerataan, dan masalah kesempatan kerja.

    Konsep terjadinya keadaan gizi mempunyai dimensi yang sangat kompleks. Daly

    Davis dan Robertson (1979) dalam buku Supriasa (2002) membuat model faktor-

    faktor yang mempengaruhi keadaan gizi yaitu, konsumsi makanan dan tingkat

  • 14

    kesehatan. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh pendapatan, makanan, dan

    tersedianya bahan makanan. Faktor yang mempengaruhi keadaan gizi model Daly

    dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

    Gambar 2.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keadaan Gizi (Sumber: Daly,

    Davis dan Robertson,1979)

    2.1.2. Klasifikasi Status Gizi

    Status gizi menurut Almatsier (2003) dalam Pratiwi (2011), dibagi menjadi 4 macam

    yaitu:

    1. Status Gizi Buruk

    Keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi

    energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup

    lama.

    Produksi Pangan

    Pengolahan Bahan

    Makanan

    Distribusi bahan makanan

    dan faktor harga

    Kemampuan keluarga

    menggunakan makanan

    Tersedianya bahan makanan

    Dapat diperolehnya bahan

    makanan

    Konsumsi

    makanan

    Kesehatan

    Keadaan

    Gizi

    Pendapatan, lapangan kerja,

    pendidikan, kemampuan

  • 15

    2. Status Gizi Kurang

    Terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.

    3. Status Gizi Baik atau Status Gizi Optimal

    Terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara

    efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak,

    kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.

    4. Status Gizi Lebih

    Terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga

    menimbulkan efek toksis atau membahayakan. IMT direkomendasikan sebagai

    indikator yang baik untuk menentukan status gizi pada remaja. Cara pengukuran IMT

    adalah:

    IMT = Berat badan (Kg) / Tinggi badan (M²)

    Tabel 2.1 : Kategori IMT berdasarkan WHO

    Klasifikasi IMT kg/M²

    Underweight ≤ 18,4

    Normal range 18.50-23

    Over weight 23,1-25

    Obese ≥ 25.00

    Sumber: Sutter Health Palo Alto Medical Foundation (2012)

    2.1.3. Penilaian Status Gizi

    Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang berasal dari data yang

    diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu

    populasi atau individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih

    (Hartriyanti dan Triyanti, 2007). Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis, yaitu :

  • 16

    1. Penilaian Langsung

    a. Antropometri

    Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang

    berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi

    seseorang. Pada umumnya antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh

    seseorang (Supariasa, 2001).

    Metode antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan energi

    dan protein. Akan tetapi, antropometri tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi

    zat-zat gizi yang spesifik (Gibson, 2005).

    b. Klinis

    Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi berdasarkan

    perubahan yang terjadi yang berhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan

    asupan zat gizi. Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di

    mata, kulit, rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh

    (kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).

    c. Biokimia

    Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Pemeriksaan biokimia

    pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus

    yang lebih parah lagi, dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi

    sehingga dapat diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling

    sensitif terhadap deplesi, uji ini disebut uji biokimia statis. Cara lain adalah dengan

  • 17

    menggunakan uji gangguan fungsional yang berfungsi untuk mengukur besarnya

    konsekuensi fungsional dari suatu zat gizi yang spesifik Untuk pemeriksaan biokimia

    sebaiknya digunakan perpaduan antara uji biokimia statis dan uji gangguan

    fungsional (Baliwati, 2004).

    d. Biofisik

    Pemeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan

    melihat kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang

    dapat digunakan dalam keadaan tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa,

    2001).

    2. Penilaian Tidak Langsung

    a. Survei Konsumsi Makanan

    Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan

    melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga.

    Data yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif.

    Data kuantitatif dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi,

    sedangkan data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang

    maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi (Baliwati,

    2004).

    b. Statistik Vital

    Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-

    data mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka

  • 18

    kematian menurut umur tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik

    pelayanan kesehatan, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan

    gizi (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).

    c. Faktor Ekologi

    Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi

    dapat terjadi karena interaksi beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor

    fisik, dan lingkungan budaya.

    Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab

    kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan sangat

    berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2001).

    d. Indeks Antropometri

    Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks

    antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih

    pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan tingkat gizi. Salah satu contoh

    dari indeks antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau yang disebut

    dengan Body Mass Index (Supariasa, 2001).

    IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa

    khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka

    mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia

    harapan hidup yang lebih panjang. IMT hanya dapat digunakan untuk orang dewasa

  • 19

    yang berumur diatas 18 tahun. Dua parameter yang berkaitan dengan pengukuran

    Indeks Massa Tubuh, terdiri dari :

    a. Berat Badan

    Berat badan merupakan salah satu parameter massa tubuh yang paling sering

    digunakan yang dapat mencerminkan jumlah dari beberapa zat gizi seperti protein,

    lemak, air dan mineral. Untuk mengukur Indeks Massa Tubuh, berat badan

    dihubungkan dengan tinggi badan (Gibson, 2005).

    b. Tinggi Badan

    Tinggi badan merupakan parameter ukuran panjang dan dapat merefleksikan

    pertumbuhan skeletal (tulang) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007). Cara Mengukur

    Indeks Massa Tubuh Indeks Massa Tubuh diukur dengan cara membagi berat badan

    dalam satuan kilogram dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat (Gibson,

    2005).

    IMT =

    Kategori Indeks Massa Tubuh

    Untuk mengetahui status gizi seseorang maka ada kategori ambang batas IMT yang

    digunakan, seperti yang terlihat pada tabel 2.2 yang merupakan ambang batas IMT

    untuk Indonesia.

  • 20

    Tabel 2.2. Kategori Batas Ambang IMT untuk Indonesia

    Kategori IMT (Kg/M²)

    Kurus Kekurangan berat badan

    tingkat berat

    ˂ 17,0

    Kekurangan berat badan

    tingkat ringan

    17,1-18,4

    Normal 18,5-25,0

    Gemuk Kelebihan berat badan

    tingkat ringan

    25,1-27,0

    Kelebihan berat badan

    tingkat berat

    ≥ 27,0

    Sumber : Depkes, 2003ᵇ

    Pada tabel 2.2. dapat dilihat kategori IMT berdasarkan klasifikasi yang telah

    ditetapkan oleh WHO.

    Tabel 2.3 Kategori IMT berdasarkan WHO (2000)

    Kategori IMT (Kg/M²)

    Underweight < 18,5

    Normal 18,5 – 24,99

    Overweight ≥ 25,00

    Preobese 25,00 – 29,99

    Obesitas 1 30,00 – 34,99

    Obesitas 2 35,00 – 39,9

    Obesitas 3 ≥ 40,0

    Sumber : WHO (2000) dalam Gibson (2005)

  • 21

    3. KMS (Kartu Menuju Sehat)

    a. Pengertian KMS

    Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah suatu alat sederhana yang dapat digunakan untuk

    mencatat setiap perubahan berat badan balita berdasarkan bentuk dan warna kurva

    pertumbuhan. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari KMS, salah satunya adalah

    dapat mendeteksi gizi buruk pada balita. Bedasarkan hasil pemantauan Direktorat

    Bina Gizi Masyarakat selama tahun 2005 - 2009, terdapat empat propinsi yang selalu

    masuk dalam daftar daerah yang mengalami kasus gizi buruk tinggi, salah satunya

    adalah Propinsi Jawa Timur dimana pada tahun 2009 Propinsi Jawa Timur

    menduduki posisi teratas untuk masalah gizi buruk (Siswono, 2010).

    Beberapa kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur telah melakukan upaya untuk

    menurunkan jumlah gizi buruk diantaranya adalah revitalisasi Posyandu, pemberian

    penyuluhan gizi dan kesehatan, kunjungan rumah (sweeping), pemberian makanan

    pendamping, deteksi dini masalah kurang gizi, serta menyiapkan anggaran untuk

    kegiatan penanggulangan gizi buruk. (Dinas Komunikasi dan Informatika Propinsi

    Jawa Timur, 2010).

    Budiantara (2009) dalam penelitiannya mengenai KMS menyimpulkan bahwa

    penggunaan KMS yang merupakan standar baku dari WHO yang dikeluarkan oleh

    NCHS (National Center Health Statistics) kurang menggambarkan perilaku

    pertumbuhan balita yang ada di Indonesia. Akibatnya, terdapat balita yang

    semestinya sehat, tetapi dalam KMS terdekteksi tidak sehat, dan sebaliknya.

  • 22

    KMS adalah kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator

    perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang

    balita setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. KMS juga dapat diartikan

    sebagai “ rapor “ kesehatan dan gizi (Catatan riwayat kesehatan dan gizi ) balita (

    Depkes RI, 1996 ).

    Di Indonesia dan negara - negara lain, pemantauan berat badan balita

    dilakukan dengan timbangan bersahaja ( dacin ) yang dicatat dalam suatu sistem kartu

    yang disebut “Kartu Menuju Sehat “ (KMS). Hambatan kemajuan pertumbuhan berat

    badan anak yang dipantau dapat segera terlihat pada grafik pertumbuhan hasil

    pengukuran periodik yang dicatat dan tertera pada KMS tersebut.

    Naik turunnya jumlah anak balita yang menderita hambatan pertumbuhan di

    suatu daerah dapat segera terlihat dalam jangka waktu periodik ( bulan ) dan dapat

    segera diteliti lebih jauh apa sebabnya dan dibuat rancangan untuk diambil tindakan

    penanggulangannya secepat mungkin. Kondisi kesehatan masyarakat secara umum

    dapat dipantau melalui KMS, yang pertimbangannya dilakukan di Posyandu ( Pos

    Pelayanan terpadu ), ( Sediaoetama, 1999 ).

    Indikator BB / U dipakai di dalam Kartu Menuju Sehat ( KMS ) di Posyandu

    untuk memantau pertumbuhan anak secara perorangan. Pengertian tentang “

    Penilaian status Gizi ” dan “ Pemantauan pertumbuhan ” sering dianggap sama

    sehingga mengakibatkan kerancuan. KMS tidak untuk memantau gizi, tetapi alat

    pendidikan kepada masyarakat terutama orang tua agar dapat memantau pertumbuhan

    anak, dengan pesan “ Anak sehat tambah umur tambah berat” ( Soekirman, 2000 ).

  • 23

    b. Tujuan Penggunaan KMS Balita

    Umum : Mewujudkan tingkat tumbuh kembang dan status kesehatan anak balita

    secara optimal.

    Khusus : 1. Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua dalam memantau tingkat

    pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal.

    2. Sebagai alat bantu dalam memantau dan menentukan tindakan –

    tindakan untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan

    balita yang optimal.

    3. Sebagai alat bantu bagi petugas untuk menentukan tindakan pelayanan

    kesehatan dan gizi kepada balita. ( Depkes RI, 1996 ).

    c. Fungsi KMS Balita

    1. Sebagai media untuk “ mencatat / memantau ” riwayat kesehatan balita secara

    lengkap.

    2. Sebagai media “ penyuluhan ” bagi orang tua balita tentang kesehatan balita.

    3. Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan bagi petugas untuk menentukan

    tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita.

    4. Sebagai kartu analisa tumbuh kembang balita ( Depkes RI, 1996 ).

    Fungsi KMS ditetapkan hanya untuk memantau pertumbuhan bukan untuk

    penilaian status gizi. Artinya penting untuk memantau apakah berat badan anak naik

  • 24

    atau turun, tidak untuk menentukan apakah status gizinya kurang atau baik,

    (Soekirman, 2000 ).

    d. Grafik pertumbuhan pada KMS

    1. Dasar pembuatan

    Grafik pertumbuhan KMS dibuat berdasarkan baku WHO – NCHS yang

    disesuaikan dengan situasi Indonesia.

    Gambar grafik pertumbuhan dibagi dalam 5 blok sesuai dengan golongan

    umur balita. Setiap blok dibentuk oleh garis tegak / skala berat dalam kg dan garis

    datar skala umur menurut bulan. Blok 1 untuk bayi berumur 0 – 12 bulan, blok 2

    untuk anak golongan umur 13 – 24 bulan, blok 3 untuk anak golongan umur 25 – 36

    bulan.

    Grafik pertumbuhan untuk bayi dan anak sampai dengan umur 36 bulan

    terdapat pada halaman dalam KMS. Sedangkan untuk anak umur 37 – 60 bulan

    terdapat pada halaman berikutnya yang dibagi menjadi 2 blok yaitu blok ke 4 untuk

    anak umur 37 – 48 bulan dan blok ke 5 untuk anak golongan yang umur 49 – 60

    bulan.

    Dalam setiap blok, grafik pertumbuhan dibentuk dengan garis merah

    (agak melengkung) dan pita warna kuning, hijau dan hijau tua. Dasar pembuatannya

    sebagai berikut :

    a. Garis merah (agar melengkung) dibentuk dengan menghubungkan angka

    angka yang dihitung dari 70 % median baku WHO – NCHS.

  • 25

    b. Dua pita warna kuning di atas garis merah berturut- turut terbentuk

    masing - masing dengan batas atas 75 % dan 80 % median baku WHO – NCHS.

    c. Dua pita warna hijau muda di atas pita kuning dibentuk masing – masing

    dengan batas atas 85 % dan 90 % median baku WHO – NCHS.

    d. Dua pita warna hijau tua di atasnya dibentuk msing - masing dengan batas

    atas 95 % dan 100 % median baku WHO – NCHS.

    e. Dua pita warna hijau muda dan kuning masing – masing pita bernilai 5 %

    dari baku median adalah daerah di mana anak – anak sudah mempunyai kelebihan

    berat badan.

    2. Interpretasi grafik pertumbuhan dan saran tindak lanjut

    a. Interpretasi pada sekali penimbangan

    Tabel 2.4. Interpretasi pada sekali penimbangan

    Laku berat badan Interpretasi Tindak lanjut

    Di bawah garis merah Anak kurang gizi tingkat

    sedang atau berat badan atau

    disebut kurang energi dan

    protein nyata ( KEP nyata )

    - Perlu pemberian makanan

    tambahan ( PMT ) yang

    diselenggarakan oleh orang

    tua / petugas kesehatan

    - Perlu penyuluhan gizi

    seimbang

    - Perlu dirujuk untuk

    pemeriksanan kesehatan

    Pada daerah dua pita

    warna kuning ( di atas

    garis merah )

    Harus hati – hari dan waspada

    karena keadaan gizi anak

    sudah kurang meskipun

    tingkat ringan atau disebut

    KEP tingkat ringan

    - Ibu dianjurkan untuk

    memberikan PMT pada anak

    balitanya di rumah

    - Perlu penyuluhan gizi

    seimbang

  • 26

    Dua pita warna hijau

    muda dan pita warna

    hijau tua ( di atas pita

    kuning )

    Anak mempunyai beraat

    badan cukup attau disebut gizi

    baik

    - Beri dukungan pada ibu

    untuk tetap memperhatikan

    dan mempertahankan status

    gizi anak

    - Beri penyuluhan gizi

    seimbang

    Dua pita warna hijau

    muda, dua pita warna

    kuning ( paling atas ).

    Anak telah mempunyai berat

    badan yang lebih, semakin ke

    atas kelebihan berat badannya

    semakin banyak

    - Konsultasi ke dokter

    - Penyuluhan gizi seimbang

    - Konsultasi ke klinik gizi /

    pojok gizi di puskesmas

    b. Interpretasi dua kali perimbangan atau lebih

    Tabel 2.5 Interpretasi dua kali perimbangan atau lebih

    Kecenderungan Interpretasi Tindak lanjut

    Berat badan naik atau

    meningkat

    Anak sehat, gizi cukup *) - Perlu penyuluhan gizi

    seimbang

    - Beri dukungan pada

    orang tua untuk

    mempertahankan kondisi

    anak

    Berat badan tetap Kemungkinan terganggu

    kesehatannya dan atau

    mutu gizi yang dikonsumsi

    tidak seimbang *)

    -Dianjurkan untuk

    memberi makanan

    tambahan

    - Penyuluhan gizi

    seimbang

    - Konsultasi ke dokter atau

    petugas kesehatan

    Berat badan berkurang

    atau turun

    Kemungkinan terganggu

    kesehatannya dan atau

    mutu gizi yang dikonsumsi

    tidak seimbang *)

    - Dianjurkan untuk

    memberi makanan

    tambahan

    - Penyuluhan gizi

    seimbang

    - Konsultasi ke dokter atau

    petugas kesehatan

  • 27

    Titik – titik berat badan

    dalam KMS terputus –

    putus

    Kurang kesadaran untuk

    berpartisipasi dalam

    pemantauan tumbuh

    kembang anak

    Penyuluhan dan

    pendekatan untuk

    meningkatkan kesadaran

    berpartisipasi aktif

    Keterangan : *) Interpretasi tersebut hanya berlaku bagi balitaa yang mempunyai

    berat badan normal dan kurang. Bila balita yang sudah kelebihan

    berat badan sebaiknya secara khusus dikonsultasikan ke dokter.

    e. Cara Pengisian dan penggunaan KMS

    1. Identitas Anak

    a. Pada halaman muka KMS isilah nama anak dan nomor pendaftaran sesuai dengan

    nomor registrasi yang ada di Posyandu.

    b. Pada halaman pendaftaran pertama kali di Posyandu isilah semua kolom indentitas

    anak yang tersedia pada halaman dalam KMS.

    1) Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu ) = diisi dengan nama posyandu tempat di

    mana anak didaftar.

    Contoh:

    2) Tanggal Pendaftaran = diisi dengan tanggal, bulan dan tahun anak tersebut didaftar

    dan mengikuti program Posyandu pertama kali

    Contoh:

    3) Nama anak = diisi dengan nama jelas anak yang bersangkutan

    Contoh:

    Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu )

    Gladiol 2

    2 Febuari 2019

    Budi

  • 28

    4) Laki – laki = kolom diisi tanda 5 apabila jenis kelamin anak tesebut adalah laki –

    laki

    Contoh:

    5) Perempuan = kolom diisi tanda 5 apabila jenis kelamin anak tesebut adalah

    perempuan

    Contoh:

    6) Anak ke = diisi dengan nomor urut kelahiran anak

    Contoh:

    7) Tanggal lahir = diisi tanggal, bulan dan tahun kelahiran anak

    Contoh:

    Perhatian : - Bila ada kartu kelahiran, catatlah tanggal, bulan dan tahun kelahiran

    anak menurut kartu kelahiran

    - Bila tidak ada kartu kelahiran, catatlah tanggal lahir anak sesuai

    dengan yang diingat ibunya.

    - Bila ibu lupa tanggal lahir anak dan hanya tahun umurnya, cobalah

    perkirakan “ bulan dan tahun ” kelahiran anak menurut bulan Arab /

    bulan Jawa atau peristiwa

    – peristiwa lain yang mudah diingat yang bersamaan dengan kelahiran

    akannya.

    Laki-Laki √

    Perempuan

    Laki-Laki

    Perempuan √

    Anak ke 2

    8 Januari 2015

  • 29

    8) Berat badan waktu lahir = diisi dengan berat badan anak yang bersangkutan dalam

    satuan gram pada waktu dilahirkan.

    Contoh:

    9) Nama ayah = diisi dengan nama ayah dari anak tersebut Pekerjaan = diisi dengan

    pekerjaan ayah anak tersebut

    Contoh:

    10) Nama ibu = diisi dengan nama ibu dari anak tersebut

    Pekerjaan = diisi dengan pekerjaan ibu anak tersebut

    Contoh:

    11) Alamat = diisi dengan alamat tempat tinggal keluarganya

    Contoh:

    Berat Badan waktu lahir = 3.500 gram

    Nama Ayah: Budi

    Pekerjaan: Petani

    Nama Ibu: Tuti

    Pekerjaan: Buruh Tani

    Alamat: Kebonsari Elveka v

  • 30

    Gambar 2.2. KMS

    Sumber: KMS standar baru dari WHO 2005

  • 31

    2.1.4. Masalah Gizi

    a. Masalah gizi kurang

    Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi

    baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang

    digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan

    otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.

    Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya asupan

    makanan (Sampoerno, 1992).

    Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan salah satu

    zat gizi atau lebih di dalam tubuh (Almatsier, 2001). Akibat yang terjadi apabila

    kekurangan gizi antara lain menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit

    infeksi), terjadinya gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan,

    kekurangan energi yang dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan sulitnya

    seseorang dalam menerima pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi (Jalal dan

    Atmojo, 1998).

    Gizi kurang merupakan salah satu masalah gizi yang banyak dihadapi oleh

    negara-negara yang sedang berkembang. Hal ini dapat terjadi karena tingkat

    pendidikan yang rendah, pengetahuan yang kurang mengenai gizi dan perilaku belum

    sadar akan status gizi. Contoh masalah kekurangan gizi, antara lain KEP (Kekurangan

    Energi Protein), GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), Anemia Gizi Besi

    (AGB) (Apriadji, 1986).

  • 32

    b. Masalah Gizi Lebih

    Status gizi lebih merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami

    kelebihan berat badan, yang terjadi karena kelebihan jumlah asupan energi yang

    disimpan dalam bentuk cadangan berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa

    masalah gizi lebih identik dengan kegemukan. Kegemukan dapat menimbulkan

    dampak yang sangat berbahaya yaitu dengan munculnya penyakit degeneratif, seperti

    diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih

    banyak lagi (Soerjodibroto, 1993).

    Masalah gizi lebih ada dua jenis yaitu overweight dan obesitas. Batas IMT

    untuk dikategorikan overweight adalah antara 25,1 – 27,0 kg/m2, sedangkan obesitas

    adalah ≥ 27,0 kg/m2. Kegemukan (obesitas) dapat terjadi mulai dari masa bayi,

    anakanak, sampai pada usia dewasa. Kegemukan pada masa bayi terjadi karena

    adanya penimbunan lemak selama dua tahun pertama kehidupan bayi. Bayi yang

    menderita kegemukan maka ketika menjadi dewasa akan mengalami kegemukan

    pula.

    Kegemukan pada masa anak-anak terjadi sejak anak tersebut berumur dua

    tahun sampai menginjak usia remaja dan secara bertahap akan terus mengalami

    kegemukan sampai usia dewasa. Kegemukan pada usia dewasa terjadi karena

    seseorang telah mengalami kegemukan dari masa anak-anak (Suyono, 1986).

  • 33

    2.1.5. Metode Pengukuran Konsumsi Makanan

    Metode pengukuran konsumsi makanan digunakan untuk mendapatkan data

    konsumsi makanan tingkat individu. Ada beberapa metode pengukuran konsumsi

    makanan, yaitu sebagai berikut :

    1. Recall 24 jam (24 Hour Recall)

    Metode ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah makanan serta

    minuman yang telah dikonsumsi dalam 24 jam yang lalu. Recall dilakukan pada saat

    wawancara dilakukan dan mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Wawancara

    menggunakan formulir recall harus dilakukan oleh petugas yang telah terlatih. Data

    yang didapatkan dari hasil recall lebih bersifat kualitatif. Untuk mendapatkan data

    kuantitatif maka perlu ditanyakan penggunaan URT (Ukuran Rumah Tangga).

    Sebaiknya recall dilakukan minimal dua kali dengan tidak berturut-turut. Recall yang

    dilakukan sebanyak satu kali kurang dapat menggambarkan kebiasaan makan

    seseorang (Supariasa, 2001).

    Metode recall sangat tergantung dengan daya ingat individu, sehingga

    sebaiknya responden memiliki ingatan yang baik agar dapat menggambarkan

    konsumsi yang sebenarnya tanpa ada satu jenis makanan yang terlupakan. Recall

    tidak cocok bila dilakukan pada responden yang di bawah 7 tahun dan di atas 70

    tahun. Recall dapat menimbulkan the flat slope syndrome, yaitu kecenderungan

    responden untuk melaporkan konsumsinya. Responden kurus akan melaporkan

    konsumsinya lebih banyak dan responden gemuk akan melaporkan konsumsi lebih

  • 34

    sedikit, sehingga kurang menggambarkan asupan energi, protein, karbohidrat, dan

    lemak yang sebenarnya (Supariasa, 2001).

    2. Food Record

    Food record merupakan catatan responden mengenai jenis dan jumlah

    makanan dan minuman dalam satu periode waktu, biasanya 1 sampai 7 hari dan dapat

    dikuantifikasikan dengan estimasi menggunakan ukuran rumah tangga (estimated

    food record) atau menimbang (weighed food record) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).

    3. Food Frequency Questionnaire (FFQ)

    FFQ merupakan metode pengukuran konsumsi makanan dengan

    menggunakan kuesioner untuk memperoleh data mengenai frekuensi seseorang dalam

    mengonsumi makanan dan minuman. Frekuensi konsumsi dapat dilakukan selama

    periode tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. Kuesioner

    terdiri dari daftar jenis makanan dan minuman (Supariasa, 2001).

    4. Penimbangan makanan (Food Weighing)

    Metode penimbangan makanan dilakukan dengan cara menimbang makanan

    disertai dengan mencatat seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi responden

    selama satu hari. Persiapan pembuatan makanan, penjelasan mengenai bahan-bahan

    yang digunakan dan merk makanan (jika ada) sebaiknya harus diketahui (Gibson,

    2005).

  • 35

    5. Metode Riwayat Makan

    Metode riwayat makan dilakukan untuk menghitung asupan makanan yang

    selalu dimakan dan pola makan seseorang dalam waktu yang relatif lama, misalnya

    satu minggu, satu bulan, maupun satu tahun. Metode ini terdiri dari 3 komponen,

    yaitu wawancara recall 24 jam, memeriksa kebenaran recall 24 jam dengan

    menggunakan kuesioner berdasarkan frekuensi konsumsi sejumlah makanan, dan

    konsumsi makanan selama tiga hari, termasuk porsi makanan (Gibson, 2005).

    2.1.6. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi

    1. Umur

    Kebutuhan energi individu disesuaikan dengan umur, jenis kelamin, dan

    tingkat aktivitas. Jika kebutuhan energi (zat tenaga) terpenuhi dengan baik maka

    dapat meningkatkan produktivitas kerja, sehingga membuat seseorang lebih semangat

    dalam melakukan pekerjaan. Apabila kekurangan energi maka produktivitas kerja

    seseorang akan menurun, dimana seseorang akan malas bekerja dan cenderung untuk

    bekerja lebih lamban. Semakin bertambahnya umur akan semakin meningkat pula

    kebutuhan zat tenaga bagi tubuh. Zat tenaga dibutuhkan untuk mendukung

    meningkatnya dan semakin beragamnya kegiatan fisik (Apriadji, 1986).

    2. Frekuensi Makan

    Frekuensi konsumsi makanan dapat menggambarkan berapa banyak makanan

    yang dikonsumsi seseorang. Menurut Hui (1985), sebagian besar remaja melewatkan

    satu atau lebih waktu makan, yaitu sarapan. Sarapan adalah waktu makan yang paling

  • 36

    banyak dilewatkan, disusul oleh makan siang. Ada beberapa alasan yang

    menyebabkan seseorang malas untuk sarapan, antara lain mereka sedang dalam

    keadaan terburu-buru, menghemat waktu, tidak lapar, menjaga berat badan dan tidak

    tersedianya makanan yang akan dimakan. Melewatkan waktu makan dapat

    menyebabkan penurunan konsumsi energi, protein dan zat gizi lain (Brown et al,

    2005).

    Pada bangsa-bangsa yang frekuensi makannya dua kali dalam sehari lebih

    banyak orang yang gemuk dibandingkan bangsa dengan frekuensi makan sebanyak

    tiga kali dalam sehari. Hal ini berarti bahwa frekuensi makan sering dengan jumlah

    yang sedikit lebih baik daripada jarang makan tetapi sekali makan dalam jumlah yang

    banyak (Suyono, 1986).

    3. Asupan Energi

    Energi merupakan asupan utama yang sangant diperlukan oleh tubuh.

    Kebutuhan energi yang tidak tercukupi dapat menyebabkan protein, vitamin, dan

    mineral tidak dapat digunakan secara efektif. Untuk beberapa fungsi metabolisme

    tubuh, kebutuhan energi dipengaruhi oleh BMR (Basal Metabolic Rate), kecepatan

    pertumbuhan, komposisi tubuh dan aktivitas fisik (Krummel & Etherton, 1996).

    Energi yang diperlukan oleh tubuh berasal dari energi kimia yang terdapat

    dalam makanan yang dikonsumsi. Energi diukur dalam satuan kalori. Energi yang

    berasal dari protein menghasilkan 4 kkal/gram, lemak 9 kkal/gram, dan karbohidrat 4

    kkal/ gram (Baliwati, 2004).

  • 37

    4. Asupan Protein

    Protein merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh. Fungsi

    utama protein adalah membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh

    (Almatsier, 2001). Fungsi lain dari protein adalah menyediakan asam amino yang

    diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme, mengatur

    keseimbangan air, dan mempertahankan kenetralan asam basa tubuh. Pertumbuhan,

    kehamilan, dan infeksi penyakit meningkatkan kebutuhan protein seseorang

    (Baliwati, 2004).

    Sumber makanan yang paling banyak mengandung protein berasal dari bahan

    makanan hewani, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sedangkan

    sumber protein nabati berasal dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Catatan Biro

    Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1999, menunjukkan secara nasional konsumsi

    protein sehari rata-rata penduduk Indonesia adalah 48,7 gram sehari (Almatsier,

    2001). Anjuran asupan protein berkisar antara 10 – 15% dari total energi (WKNPG,

    2004).

    5. Asupan Karbohidrat

    Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi kehidupan manusia yang

    dapat diperoleh dari alam, sehingga harganya pun relatif murah (Djunaedi, 2001).

    Sumber karbohidrat berasal dari padi-padian atau serealia, umbi-umbian,

    kacangkacangan dan gula. Sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi oleh

  • 38

    masyarakat Indonesia sebagai makanan pokok adalah beras, singkong, ubi, jagung,

    taslas, dan sagu (Almatsier, 2001).

    Karbohidrat menghasilkan 4 kkal / gram. Angka kecukupan karbohidrat

    sebesar 50-65% dari total energi. (WKNPG, 2004). WHO (1990) menganjurkan agar

    55 – 75% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang

    tidak mencukupi di dalam tubuh akan digantikan dengan protein untuk memenuhi

    kecukupan energi. Apabila karbohidrat tercukupi, maka protein akan tetap berfungsi

    sebagai zat pembangun (Almatsier, 2001).

    6. Asupan Lemak

    Lemak merupakan cadangan energi di dalam tubuh. Lemak terdiri dari

    trigliserida, fosfolipid, dan sterol, dimana ketiga jenis ini memiliki fungsi terhadap

    kesehataan tubuh manusia (WKNPG, 2004).

    Konsumsi lemak paling sedikit adalah 10% dari total energi. Lemak

    menghasilkan 9 kkal/ gram. Lemak relatif lebih lama dalam sistem pencernaan tubuh

    manusia. Jika seseorang mengonsumsi lemak secara berlebihan, maka akan

    mengurangi konsumsi makanan lain. Berdasarkan PUGS, anjuran konsumsi lemak

    tidak melebihi 25% dari total energi dalam makanan seharihari. Sumber utama lemak

    adalah minyak tumbuh-tumbuhan, seperti minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah,

    jagung, dan sebagainya. Sumber lemak utama lainnya berasal dari mentega, margarin,

    dan lemak hewan (Almatsier, 2001).

  • 39

    7. Tingkat Pendidikan

    Pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin tinggi

    tingkat pendidikan seseorang maka sangat diharapkan semakin tinggi pula

    pengetahuan orang tersebut mengenai gizi dan kesehatan. Pendidikan yang tingggi

    dapat membuat seseorang lebih memperhatikan makanan untuk memenuhi asupan

    zat-zat gizi yang seimbang. Adanya pola makan yang baik dapat mengurangi bahkan

    mencegah dari timbulnya masalah yang tidak diinginkan mengenai gizi dan kesehatan

    (Apriadji, 1986).

    Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, akan mudah dalam

    menyerap dan menerapkan informasi gizi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan

    perilaku dan gaya hidup yang sesuai dengan informasi yang didapatkan mengenaigizi

    dan kesehatan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan

    (WKNPG, 2004).

    Pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan status gizi seseorang.

    Pada umumnya tingkat pendidikan pembantu rumah tangga masih rendah (tamat SD

    dan tamat SMP). Pendidikan yang rendah sejalan dengan pengetahuan yang rendah,

    karena dengan pendidikan rendah akan membuat seseorang sulit dalam menerima

    informasi mengenai hal-hal baru di lingkungan sekitar, misalnya pengetahuan gizi.

    Pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi sangat diperlukan oleh pembantu rumah

    tangga. Selain untuk diri sendiri, pendidikan dan pengetahuan gizi yang diperoleh

    dapat dipraktekkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

  • 40

    8. Pendapatan ( Ekonomi )

    Pendapatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi,

    Pembantu rumah tangga mendapatkan gaji (pendapatan) yang masih di bawah UMR

    (Gunanti, 2005).

    Besarnya gaji yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan banyaknya jenis

    pekerjaan yang dilakukan. Pendapatan seseorang akan menentukan kemampuan

    orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan makanan sesuai dengan jumlah yang

    diperlukan oleh tubuh. Apabila makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi jumlah

    zat-zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan perubahan pada status

    gizi seseorang (Apriadji, 1986).

    Ada dua aspek kunci yang berhubungan antara pendapatan dengan pola

    konsumsi makan, yaitu pengeluaran makanan dan tipe makanan yang dikonsumsi.

    Apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka dia dapat memenuhi

    kebutuhan akan makanannya (Gesissler, 2005).

    Meningkatnya pendapatan perorangan juga dapat menyebabkan perubahan

    dalam susunan makanan. Kebiasaan makan seseorang berubah sejalan dengan

    berubahnya pendapatan seseorang (Suhardjo, 1989).

    Meningkatnya pendapatan seseorang merupakan cerminan dari suatu

    kemakmuran. Orang yang sudah meningkat pendapatannya, cenderung untuk

    berkehidupan serba mewah. Kehidupan mewah dapat mempengaruhi seseorang

    dalam hal memilih dan membeli jenis makanan. Orang akan mudah membeli

  • 41

    makanan yang tinggi kalori. Semakin banyak mengonsumsi makanan berkalori tinggi

    dapat menimbulkan kelebihan energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak.

    Semakin banyak lemak yang disimpan di dalam tubuh dapat mengakibatkan

    kegemukan (Suyono, 1986).

    Friedman (2004) status ekonomi seseorang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

    1. Penghasilan tipe kelas atas > Rp 3.000.000,

    2. Penghasilan tipe kelas menengah Rp 2000.000 – Rp 3.000.000

    3. Penghasilan tipe kelas bawah< Rp 2000.000

    9. Pengetahuan

    Tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi tingkat pengetahuannya

    akan gizi. Orang yang memiliki tingkat pendidikan hanya sebatas tamat SD, tentu

    memiliki pengetahuan yang lebih rendah dibandingkan orang dengan tingkat

    pendidikan tamat SMA atau Sarjana. Tetapi, sebaliknya, seseorang dengan tingkat

    pendidikan yang tinggi sekalipun belum tentu memiliki pengetahuan gizi yang cukup

    jika ia jarang mendapatkan informasi mengenai gizi, baik melalui media iklan,

    penyuluhan, dan lain sebagainya. Tetapi, perlu diingat bahwa rendah-tingginya

    pendidikan seseorang juga turut menentukan mudah tidaknya orang tersebut dalam

    menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan hal

    ini, kita dapat menentukan metode penyuluhan gizi yang tepat. Di samping itu, dilihat

    dari segi kepentingan gizi keluarga, pendidikan itu sendiri amat diperlukan agar

  • 42

    seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan dapat

    mengambil tindakan secepatnya (Apriadji, 1986).

    Pengetahuan gizi sangat penting, dengan adanya pengetahuan tentang zat gizi

    maka seseorang dengan mudah mengetahui status gizi mereka. Zat gizi yang cukup

    dapat dipenuhi oleh seseorang sesuai dengan makanan yang dikonsumsi yang

    diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan. Pengetahuan gizi dapat memberikan

    perbaikan gizi pada individu maupun masyarakat (Suhardjo, 1986).

    10. Pekerjaan Ibu

    Pola asuh orang tua sangat berperan dalam berbagai hal untuk mencapai

    tumbuh kembang yang sesuai dengan tingkat usianya. Balita merupakan bagian dari

    anggota keluarga yang dalam tumbuh kembangnya tidak dapat terlepas dari pengaruh

    lingkungan yang mengasuh dan merawatnya. Seorang ibu baik yang berprofesi atau

    menjadi ibu rumah tangga harus mempunyai tanggung jawab dalam pengasuhan

    anaknya (Oemar & Novita, 2015).

    Ibu yang bekerja menjadi faktor yang berhubungan dengan keadaan gizi

    balita. Ibu bekerja juga mempengaruhi pola asupan makanan balita, porsi makanan,

    dan juga nutrisi apa saja yang dikonsumsi balita (Putri, Sulastri & Lestari, 2015). Saat

    ini banyak ibu yang memilih bekerja dengan alasan memperbaiki kondisi

    perekonomian keluarga (Putri & Kusbaryanto, 2012). Salah satu alasannya adalah

    kemiskinan dan banyaknya pengangguran, sehingga ibu memilih untuk membantu

    memperbaiki ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga

    (Oemar & Novita, 2015). Ibu yang bekerja tidak memiliki cukup banyak waktu

  • 43

    bersama dengan anak balitanya, namun ibu dapat meluangkan waktu untuk sekedar

    memberikan makan untuk anak (Putri & Kusbaryanto, 2012). Dengan demikian

    konsep pola asuh yang sesuai dengan ibu yang bekerja sangat dibutuhkan sehingga

    ibu dapat bertanggung jawab dengan keadaan status gizi balitanya dan juga masih

    tetap dapat bekerja (Oemar & Novita, 2015).

    2.1.7. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan

    Angka kecukupan gizi yang dianjurkan merupakan suatu ukuran keckupan

    rata-rata zat gizi setiap hari untuk semua orang yang disesuiakan dengan golongan

    umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas tubuh untuk mencapai tingkat kesehatan

    yang optimal dan mencegah terjadinya defisiensi zat gizi (Depkes, 2005b).

    Angka Kecukupan Energi (AKE) merupakan rata-rata tingkat konsumsi

    energi dengan pangan yang seimbang yang disesuaikan dengan pengeluaran energi

    pada kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktivitas fisik. Angka

    Kecukupan Protein (AKP) merupakan rata-rata konsumsi protein untuk

    menyeimbangkan protein agar tercapai semua populasi orang sehat disesuaikan

    dengan kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas fisik. Kecukupan

    karbohidrat sesuai dengan pola pangan yang baik berkisar antara 50-65% total energi,

    sedangkan kecukupan lemak berkisar antara 20-30% total energi (Hardinsyah dan

    Tambunan, 2004).

  • 44

    2.2. Anak Balita

    2.2.1. Pengertian Anak Balita

    Balita merupakan anak yang berusia diatas satu tahun atau biasa juga disebut

    dengan bayi di bawah lima tahun (Muaris, 2006). Peraturan Menteri Kesehatan

    Republik Indonesia (2014) seorang anak dikatakan balita apabila anak berusia 12

    bulan sampai dengan 59 bulan. Price dan Gwin (2014) mengatakan bahwa seorang

    anak dari usia 1 sampai 3 tahun disebut batita atau toddler dan anak usia 3 sampai 5

    tahun disebut dengan usia pra sekolah atau preschool child. Usia balita merupakan

    sebuahperiode penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak

    (Febry, 2008).

    Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2011) menjelaskan balita

    merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.

    Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu berbeda-beda, bisa cepat

    maupun lambat tergantung dari beberapa faktor diantaranya herediter, lingkungan,

    budaya dalam lingkungan, sosial ekonomi, iklim atau cuaca, nutrisi dan lain-lain

    (Aziz, 2006 dalam Nurjannah, 2013).

    Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau

    lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H, 2006).

    Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah umum

    bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat usia batita,

    anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting,

  • 45

    seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah

    bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas.

    Balita adalah anak dengan usia dibawah 5 tahun dengan karakteristik

    pertumbuhan cepat pada usia 0-1 tahun, dimana umur 5 bulan berat badan naik 2 kali

    berat badan lahir dan berat badan naik 3 kali dari berat badan lahir pada umur 1 tahun

    dan menjadi 4 kali pada umur 2 tahun. Pertumbuhan mulai lambat pada masa pra

    sekolah kenaikan berat badan kurang lebih 2 kg per tahun, kemudian pertumbuhan

    konstan mulai berakhir (Soetjiningsih, 2001).

    Balita merupakan masa pertumbuhan tubuh dan otak yang sangat pesat dalam

    pencapaian keoptimalan fungsinya, pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi

    serta menentukan perkembangan kemampuan berbahasa, kreatifitas, kesadaran sosial,

    emosional dan intelegensia (Supartini, 2004).

    Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang

    manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadipenentu keberhasilan

    pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang

    di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang,

    karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan.

    2.2.2. Karakteristik Balita

    Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1– 3

    tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004).

  • 46

    Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima

    makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar

    dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar.

    Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang

    mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih

    besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan

    frekuensi sering Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah

    dapat memilih makanan yang disukainya.

    Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah

    playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku.

    Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka

    akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Pada masa ini berat badan anak

    cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan

    pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak

    perempuan relative lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan

    dengan anak laki-laki (BPS, 1999).

    Septiari (2012) menyatakan karakteristik balita dibagi menjadi dua yaitu:

    1. Anak usia 1-3 tahun

    Usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif artinya anak menerima makanan

    yang disediakan orang tuanya. Laju Balita pertumbuhan usia balita lebih besar dari

    usia prasekolah, sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Perut yang

    lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali

  • 47

    makan lebih kecil bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih besar oleh sebab

    itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.

    2. Anak usia prasekolah (3-5 tahun)

    Usia 3-5 tahun anak menjadi konsumen aktif. Anak sudah mulai memilih

    makanan yang disukainya. Pada usia ini berat badan anak cenderung mengalami

    penurunan, disebabkan karena

    anak beraktivitas lebih banyak dan mulai memilih maupun menolak makanan yang

    disediakan orang tuanya.

    2.2.3. Hubungan antara faktor pekerjaan ibu dengan status gizi

    1. Pekerjaan ibu

    Pola asuh orang tua sangat berperan dalam berbagai hal untuk mencapai

    tumbuh kembang yang sesuai dengan tingkat usianya. Balita merupakan bagian dari

    anggota keluarga yang dalam tumbuh kembangnya tidak dapat terlepas dari pengaruh

    lingkungan yang mengasuh dan merawatnya. Seorang ibu baik yang berprofesi atau

    menjadi ibu rumah tangga harus mempunyai tanggung jawab dalam pengasuhan

    anaknya (Oemar & Novita, 2015).

    Ibu yang bekerja menjadi faktor yang berhubungan dengan keadaan gizi

    balita. Ibu bekerja juga mempengaruhi pola asupan makanan balita, porsi makanan,

    dan juga nutrisi apa saja yang dikonsumsi balita (Putri, Sulastri & Lestari, 2015).

    Saat ini banyak ibu yang memilih bekerja dengan alasan memperbaiki kondisi

    perekonomian keluarga (Putri & Kusbaryanto, 2012).

  • 48

    Salah satu alasannya adalah kemiskinan dan banyaknya pengangguran,

    sehingga ibu memilih untuk membantu memperbaiki ekonomi keluarga dalam

    memenuhi kebutuhan anggota keluarga (Oemar & Novita, 2015).

    Ibu yang bekerja tidak memiliki cukup banyak waktu bersama dengan anak

    balitanya, namun ibu dapat meluangkan waktu untuk sekedar memberikan makan

    untuk anak (Putri & Kusbaryanto, 2012).

    Dengan demikian konsep pola asuh yang sesuai dengan ibu yang bekerja

    sangat dibutuhkan sehingga ibu dapat bertanggung jawab dengan keadaan status gizi

    balitanya dan juga masih tetap dapat bekerja (Oemar & Novita, 2015).

    2. Hasil Peneliti Sebelumnya pengaruh pekerjaan terhadap status gizi balita

    Berdasarkan perhitungan analisis dengan menggunakan korelasi teta diperoleh

    nilai teta diperoleh 0,492. Sedangkan nilai thitung dengan df=7,58 diperoleh 0,159.

    Hal ini menunjukan bahwa ada pengaruh pekerjaan terhadap status gizi balita dengan

    tingkat pengaruhnya terhadap status gizi balita cukup kuat.

    Bekerja akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Hambatan

    ibu dalam mempertahankan status gizi balita karena para ibu banyak yang bekerja.

    Mereka sangat terikat dengan waktu dan sudah memiliki jadwal tertentu. Bekerja

    umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan

    mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga terutama pada pola pengasuhan

    anak (Sulistiani, 2008). Sehingga ibu yang bekerja biasanya memiliki mobilitas yang

    tinggi karena kesibukan pekerjaan sehingga kebanyakan kebutuhan asupan nutrisi

    untuk anak kurang diperhatikan. Teori ini diperkuat oleh hasil penelitian dari

  • 49

    Hammond (2004) bahwa sebagian ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap status

    gizi anaknya.

    2.2.4. Hubungan antara faktor pendidikan ibu dengan status gizi

    1. Pendidikan ibu

    Pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan pengetahuan. Semakin tinggi

    tingkat pendidikan seseorang maka sangat diharapkan semakin tinggi pula

    pengetahuan orang tersebut mengenai gizi dan kesehatan. Pendidikan yang tingggi

    dapat membuat seseorang lebih memperhatikan makanan untuk memenuhi asupan

    zat-zat gizi yang seimbang. Adanya pola makan yang baik dapat mengurangi bahkan

    mencegah dari timbulnya masalah yang tidak diinginkan mengenai gizi dan kesehatan

    (Apriadji, 1986).

    Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, akan mudah dalam

    menyerap dan menerapkan informasi gizi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan

    perilaku dan gaya hidup yang sesuai dengan informasi yang didapatkan mengenaigizi

    dan kesehatan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan

    (WKNPG, 2004).

    Pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan status gizi seseorang.

    Pada umumnya tingkat pendidikan pembantu rumah tangga masih rendah (tamat SD

    dan tamat SMP). Pendidikan yang rendah sejalan dengan pengetahuan yang rendah,

    karena dengan pendidikan rendah akan membuat seseorang sulit dalam menerima

    informasi mengenai hal-hal baru di lingkungan sekitar, misalnya pengetahuan gizi.

  • 50

    Pendidikan dan pengetahuan mengenai gizi sangat diperlukan oleh pembantu rumah

    tangga. Selain untuk diri sendiri, pendidikan dan pengetahuan gizi yang diperoleh

    dapat dipraktekkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

    2. Hasil Peneliti Sebelumnya pengaruh pekerjaan terhadap status gizi balita

    Berdasarkan hasil peneliti sebelumnya dapat dilihat p-value = 0,355 berarti

    >0,05 yang menunjukan bahwa tidak ada pengaruh pendidikan ibu terhadap status

    gizi balita dengan nilai koefisien somer’d 0,066. Diperoleh dengan nilai p-value =

    0,355 dapat disimpulkan bahwa pendidikan ibu tidak berpengaruh terhadap status gizi

    balita.

    Menurut Apriadji (2004), meskipun seseorang memiliki pendidikan yang

    rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya

    TV, radio, atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan

    seseorang

    2.2.5. Hubungan antara faktor ekonomi keluarga dengan status gizi

    1. Pendapatan ( Ekonomi )

    Pendapatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi,

    Pembantu rumah tangga mendapatkan gaji (pendapatan) yang masih di bawah UMR

    (Gunanti, 2005).

    Besarnya gaji yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan banyaknya jenis

    pekerjaan yang dilakukan. Pendapatan seseorang akan menentukan kemampuan

    orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan makanan sesuai dengan jumlah yang

  • 51

    diperlukan oleh tubuh. Apabila makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi jumlah

    zat-zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan perubahan pada status

    gizi seseorang (Apriadji, 1986).

    Ada dua aspek kunci yang berhubungan antara pendapatan dengan pola

    konsumsi makan, yaitu pengeluaran makanan dan tipe makanan yang dikonsumsi.

    Apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka dia dapat memenuhi

    kebutuhan akan makanannya (Gesissler, 2005).

    Meningkatnya pendapatan perorangan juga dapat menyebabkan perubahan

    dalam susunan makanan. Kebiasaan makan seseorang berubah sejalan dengan

    berubahnya pendapatan seseorang (Suhardjo, 1989).

    Meningkatnya pendapatan seseorang merupakan cerminan dari suatu

    kemakmuran. Orang yang sudah meningkat pendapatannya, cenderung untuk

    berkehidupan serba mewah. Kehidupan mewah dapat mempengaruhi seseorang

    dalam hal memilih dan membeli jenis makanan. Orang akan mudah membeli

    makanan yang tinggi kalori. Semakin banyak mengonsumsi makanan berkalori tinggi

    dapat menimbulkan kelebihan energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak.

    Semakin banyak lemak yang disimpan di dalam tubuh dapat mengakibatkan

    kegemukan (Suyono, 1986).

    Friedman (2004) status ekonomi seseorang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

    1. Penghasilan tipe kelas atas > Rp 3.000.000,

    2. Penghasilan tipe kelas menengah Rp 2000.000 – Rp 3.000.000

  • 52

    3. Penghasilan tipe kelas bawah < Rp 2000.000

    2. Hasil Peneliti Sebelumnya pengaruh ekonomi terhadap status gizi balita

    Berdasarkan hasil peneliti sebelumnya dapat dilihat p-value = 0,009 berarti

  • 53

    2.3. Keaslian Penelitian

    Tabel 2.6

    No Judul Artikel ;

    Penulis;Tahun

    Metode

    (Desain,Sampel,Variabel,Instrumen,Analisis)

    Hasil Penelitian

    1 Judul Artikel;

    Faktor Yang

    Mempengaruhi

    Status Gizi

    Balita Di

    Puskesmas

    Nelayan Kota

    Cirebon

    Penulis; Andy

    Muharry, Isti

    Kumalasari,

    Eka

    Rosmayanti

    Dewi

    Tahun; 2017

    Penelitian ini menggunakan desain analitik

    dengan pendekatan cross sectional.

    Sampel berjumlah 93 orang diambil dengan

    teknik proportional random sampling.

    Variabel bebas yang diteliti yaitu tingkat

    pendidikan ibu, pendapatan keluarga, jumlah

    anak, pengetahuan ibu tentang gizi dan

    keaktifan posyandu.Variabel terikat yaitu

    status gizi balita.

    Instrumen penelitian berupa lembar

    kuesioner.

    Analisis data dilakukan dengan analisis

    univariabel, bivavariabel dan multivariable.

    faktor yang mempengaruhi

    status gizi balita usia 12-24

    bulan di wilayah kerja

    Puskesmas Nelayan Kota

    Cirebon yaitu pengetahuan

    ibu tentang gizi,

    pendapatan keluarga dan

    keaktifan dalam kunjungan

    posyandu. Sedangkan

    variabel yang paling

    mempengaruhi status gizi

    balita adalah keaktifan

    dalam kunjungan

    posyandu.

    2 Judul Artikel;

    Faktor-Faktor

    yang

    Berhubungan

    dengan Status

    Gizi Anak

    Balita di

    Wilayah Kerja

    Puskesmas

    Nanggalo

    Padang

    Penulis; Rona

    Firmana,

    Delmi Sulastri,

    Yuniar Lestari

    Tahun; 2015

    Penelitian ini bersifat analitik dengan desain

    Cross-sectional study.

    Sampel berjumlah 227 orang yang terdiri

    dari anak balita dan ibu balita diwilayah

    kerja puskesmas nanggalo padang.

    Variabel bebas yaitu tingkat pendidikan ibu,

    tingkat pengetahuan ibu, jenis pekerjaan ibu,

    pendapatan keluarga, jumlah anak dan pola

    asuh ibu. Variabel terikat yaitu status gizi

    anak balita.

    Instrumen penelitian berupa lembar

    kuesioner.

    Analisis data dilakukan dengan bivariate dan

    multivariat.

    Terdapat hubungan yang

    bermakna antara

    pendidikan ibu, pekerjaan

    ibu, pendapatan keluarga,

    jumlah anak dan pola asuh

    ibu dengan status gizi anak

    balita. Pekerjaan ibu

    merupakan faktor yang

    paling dominan

    berhubungan dengan status

    gizi. Faktor pengetahuan

    ibu tidak dapat dilakukan

    uji statistik sehingga tidak

    didapatkan hubungan.

  • 54

    3 Judul Artikel;

    Analisis

    Faktor-Faktor

    Yang

    Mempengaruhi

    Status Gizi

    Balita Suku

    Anak Dalam

    (SAD) (Studi

    di Wilayah

    Kerja

    Puskesmas

    Pematang

    Kabau

    Kecamatan Air

    Hitam

    Kabupaten

    Sarolangun

    Jambi)

    Tahun; 2017

    Penelitian ini menggunakan jenis penelitian

    kuantitatif dengan desain study cross

    sectional.

    Sampel berjumlah 40 orang anak balita usia

    12-59 bulan.

    Variabel bebas pengetahuan ibu balita,

    penyakit infeksi pada balita, tabu makanan,

    kecukupan asupan energi, kecukupan asupan

    protein. Variabel terikat status gizi anak

    balita.

    Instrumen penelitian lembar kuesioner dan

    wawancara.

    Analisis data univariat dan bivariat.

    Pada penelitian ini

    didapatkan hasil bahwa

    adanya hubungan yang

    signifikan antara

    pengetahuan ibu, tabu

    makanan, dengan

    kecukupan asupan energi

    protein balita suku anak

    dalam dengan nilai

    p0,050.

    4 Judul artikel;

    Faktor-Faktor

    Yang

    Berhubungan

    Dengan Status

    Gizi Anak

    Balita Di

    Wilayah Kerja

    Puskesmas

    Kombos Kota

    Manado

    Penulis;

    Krisna

    Lumban Gaol,

    Mauren I

    Punuh, Nancy

    S Malonda

    Tahun; 2017

    Penelitian ini menggunakan survey analitik

    dengan desain Cross sectional .

    Sampel berjumlah 108 orang menggunakan

    teknik purposive sampling.

    Variabel bebas pendidikan ibi, pendapatan

    keluarga, penyakit infeksi dan kelengkapan

    imunisasai. Variabel terikat status gizi balita.

    Instrumen kuesioner dan antropometri.

    Analisis data menggunakan uji chi-square

    dan uji fisher exact.

    Tidak ada hubungan

    pendidikan ibu, pendapatan

    keluarga, penyakit infeksi

    dengan status gizi (BB/TB)

    pada balita di wilayah

    kerja Puskesmas Kombos.

    Terdapat hubungan

    kelengkapan imunisasi

    dengan status gizi balita

    menurut indeks BB/TB

    dengan p value sebesar 0,

    016 (0,05) menunjukkan tidak

    terdapat hubungan

    kelengkapan imunisasi

    dengan status gizi balita

    menurut indeks TB/U di

    wilayah kerja Puskesmas

    Kombos.

    5 Judul Artikel; Desain penelitian Korelasional. Hasil penelitian

  • 55

    Faktor-Faktor

    yang

    mempengaruhi

    Status Gizi di

    Kelurahan

    Jayaraksa

    Wilayah Kerja

    Puskesmas

    Baros Kota

    Sukabumi

    Penulis;

    Annissa

    Indriati Fauzy,

    Marina

    Yuniyanti,

    S.SIT

    Tahun;2014

    Sampel sebanyak 182 responden.

    Variabel bebas pengetahuan ibu, pendidikan,

    pekerjaan ibu, status ekonomi, dan pola asuh.

    Variabel terikat Status Gizi balita.

    Instrument kuesioner.

    Analisis data menggunakan koefisien

    somer’d, koefisien kontingensi, dan korelasi

    theta.

    menunjukkan terdapat

    pengaruh pengetahuan ibu,

    pola asuh, pekerjaan, dan

    status ekonomi terhadap

    status gizi balita karena

    nilai p-value ≤0,05. Tidak

    terdapat pengaruh

    pendidikan terhadap status

    gizi balita karena nilai p-

    value >0,05.Merujuk

    kepada hasil penelitian

    diharapkan institusi terkait

    dapat memberikan

    konseling lebih rutin

    kepada ibu balita tentang

    kebutuhan gizi balita.