Asuhan Keperawatan Pada Lansia Ny w

download Asuhan Keperawatan Pada Lansia Ny w

of 63

  • date post

    05-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    129
  • download

    0

Embed Size (px)

description

askep

Transcript of Asuhan Keperawatan Pada Lansia Ny w

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA NY. W SEBAGAI PENERIMA MANFAAT DI WISMA ANGGREK UNIT REHABILITASI WREDHA HARAPAN IBU SEMARANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Praktik Keperawatan Gerontik

Oleh: IMAM ROSYADA NIM. 22020112210015

Pembimbing Rita Hadi W., S.Kp. M.Kep., Sp.Kep.Kom

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ANGKATAN XX PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kondisi kesehatan di hari tua erat kaitannya dengan angka harapan penduduk yang menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Indonesia sendiri merupakan negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging struktured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Peningkatan jumlah penduduk lansia dikarenakan adanya tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat sehingga dapat memenuhi kualitas hidup yang baik dibuktikan dengan kemajuan di bidang pelayanan kesehatan dan tingkat pengetahuan masyarakat yang meningkat. Dalam Ilmu Keperawatan, ilmu yang mempelajari mengenai asuhan keperawatan komprehensif pada lansia adalah keperawatan gerontologi bertujuan memenuhi kebutuhan kenyamanan lansia, mempertahankan fungsi tubuh, serta membantu lansia menghadapi kematian. Lansia yang erat kaitannya dengan proses penuaan, yang seiring berjalannya waktu mengalami penurunan fungsi fisik, dapat mengalami berbagai masalah dalam hidupnya berupa perubahan penampilan dan fungsi tubuh. atrofi otot, penurunan kekuatan fisik yang berupa disabilitas, kecepatan gerak, keterbatasan jangkauan dan penurunan keseimbangan dan perubahan bentuk tubuh dapat berakibat pada nyeri dan hambatan mobilitas fisik. Di sisi lain, penurunan fisiologis lansia juag mencakup kurangnya kualitas dan kuantitas tidur dikarenakan kurangnya kendali tidur. Sehingga dari perubahan fisiologis lansia pada akhirnya menimbulkan penurunan psikologis salah satunya adalah ketidakmampuan, terlebih jika di hari tua, tidak memiliki pasangan hidup. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis pada Ny. W didapatkan masalah keperawatan pada lansia sehingga dengan dilakukannya asuhan keperawatan yang komprehensif lansia dapat menjalani masa tuanya dengan aman, nyaman dan sehat.

1

B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan gerontik yang komprehensif kepada lansia di Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan 2. Tujuan Khusus a. Menggambarkan hasil pengkajian pada lansia di Wisma Anggrek Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang. b. Menggambarkan hasil analisis data pada lansia di Wisma Anggrek Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang. c. Menggambarkan rencana keperawatan pada lansia di Wisma Anggrek Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang. d. Menggambarkan implementasi pada lansia di Wisma Anggrek Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang yang didukung dengan jurnal penelitian. e. Menggambarkan evaluasi pada lansia di Wisma Anggrek Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang. f. Menggambarkan rencana tindak lanjut pada lansia di Wisma Anggrek Unit rehabilitasi Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang.

2

BAB II TINJAUAN TEORI LANSIA DAN MOBILITAS FISIK

A. Konsep Lanjut Usia Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai perubahan oleh usia yang terjadi pada individu yang sehat bebas dari penyakit saraf jelas menua normal ditandai oleh perubahan gradual dan lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. Batasan usia menurut WHO: 1. Usia pertenghaan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun 2. Lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun 3. Lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90 tahun 4. Usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun

B. Pengertian Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi (Mubarak, 2008). Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong untuk

menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 12 jam. Sedangkan imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, 3

dimana individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak, 2008).

C. Penyebab Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi 1. Gaya hidup Mobilitas seseorang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai-nilai yang dianut, serta lingkungan tempat ia tinggal (masyarakat). 2. Ketidakmampuan Kelemahan fisik dan mental akan menghalangi seseorang untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Secara umum ketidakmampuan dibagi menjadi dua yaitu : a. Ketidakmampuan primer yaitu disebabkan oleh penyakit atau trauma (misalnya : paralisis akibat gangguan atau cedera pada medula spinalis). b. Ketidakmampuan sekunder yaitu terjadi akibat dampak dari

ketidakmampuan primer (misalnya : kelemahan otot dan tirah baring). Penyakit-penyakit tertentu dan kondisi cedera akan berpengaruh terhadap mobilitas. 3. Tingkat energi Energi dibutuhkan untuk banyak hal, salah satunya mobilisasi. Dalam hal ini cadangan energi yang dimiliki masing-masing individu bervariasi. 4. Usia Usia berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan mobilisasi. Pada individu lansia, kemampuan untuk melakukan aktifitas dan mobilisasi menurun sejalan dengan penuaan (Mubarak, 2008).

4

D. Klasifikasi Menurut Mubarak (2008) secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas antara lain : 1. Imobilitas fisik : kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang disebabkan oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut. 2. Imobilitas intelektual: kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus kerusakan otak 3. Imobilitas emosional: kondisi ini bisa terjadi akibat proses pembedahan atau kehilangan seseorang yang dicintai 4. Imobilitas sosial: kondisi ini bisa menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering terjadi akibat penyakit.(Mubarak, 2008). Rentang Gerak dalam mobilisasi. gerak yaitu : a. Rentang gerak pasif Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. b. Rentang gerak aktif Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya. c. Rentang gerak fungsional Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan (Carpenito, 2000). Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang

E. Patofisiologi Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: 5

isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah.

F. Teori-teori penuaan Di bawah ini ada beberapa teori penuaan yang terkait dengan kondisi pasien. 1. Teori Biologis a. Teori seluler. Teori ini menyatakan bahwa kemampuan sel yang hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel-sel tubuh diprogram untuk membelah sekitar 50 kali. Bila 6

sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di laboratorium, lalu diobservasi jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit (Spence & Mason (1992), dalam Watson, 2003). Pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan dan perbaikan ja