askep leptospirosis

of 22 /22
Askep ICU dan KGD Download 705 AsKep Home Askep KMB Askep Anak Askep Jiwa Askep Maternitas Senin, 03 Januari 2011 Asuhan Keperawatan Leptospirosis ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LEPTOSPIROSIS I. LANDASAN TEORI A. Pengertian Leptospirosis adalah suatu zoonosis yang disebabkan suatu mikroorganisme yaitu leptospira tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. Penyakit ini juga dikenal dengan nama seperti mud fever, slim fever, swamp fever, autumnal fever, infectoius jaundice, field fever, cane cutler fever. B. Etiologi Penyakit yang terdapat di negara yang beriklim tropis. Berbagai subgroup yang masing- masing terbagi dalam atas : 1. L icterohaemorhagiae dengan reservoire tikus (syndroma weil) 2. L. canicola dengan reservoire anjing 3. L pamona dengan reservoire sapi dan babi

Embed Size (px)

Transcript of askep leptospirosis

Askep ICU dan KGDDownload 705 AsKep

y y y y y

Home Askep KMB Askep Anak Askep Jiwa Askep Maternitas

Senin, 03 Januari 2011Asuhan Keperawatan LeptospirosisASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LEPTOSPIROSIS I. LANDASAN TEORI A. Pengertian Leptospirosis adalah suatu zoonosis yang disebabkan suatu mikroorganisme yaitu leptospira tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya.Penyakit ini juga dikenal dengan nama seperti mud fever, slim fever, swamp fever, autumnal fever, infectoius jaundice, field fever, cane cutler fever. B. Etiologi Penyakit yang terdapat di negara yang beriklim tropis. Berbagai subgroup yang masing masing terbagi dalam atas : 1. L icterohaemorhagiae dengan reservoire tikus (syndroma weil) 2. L. canicola dengan reservoire anjing 3. L pamona dengan reservoire sapi dan babi Insiden : Penyakit ini dapat berjangkit pada laki-laki dan perempuan pada semua umur. C. Manifestasi klinis Masa tunas berkisar antara 2-26 hari(kebanyakan 7-13 hari) rata-rata 10 hari. Pada leptospira ini ditemukan perjalanan klini sbifasik : 1. Leptopiremia (berlangsung 4-9 hari)

Ti ul em m me , isert sakit kepala (fro tal, oksipital atau bitemporal . Pada otot akan timbul keluhan mial ia dan n eri tekan (otot astronemius, paha pinggang, dandiikuti heperestesia kulit. Gejala menggigil dan demam tinggi, mual, muntah, diare, batuk, sakit dada, hemoptisis, penurunan kesadaran, dan injeksi konjun ti a. Injeksi faringeal, kulit dengan ruam berbentuk makular/makolupapular/urtikaria yang tersebar pada badan, splenomegali, dan hepatomegali. 2. Fase imun (1 3 hari) Fase imun yang berkaitan dengan mun ulnya antibodi IgM sementara konsentrasi C3, tetap normal. Meningismus, demam jarang melebihi 3 oC. Gejala lain yang mun ul adalah iridosiklitis, neuritis optik, mielitis, ensefalitis, serta neuripati perifer. 3. Fase penyembuhan (minggu ke 2 sampai minggu ke 4) apat ditemukan adanya demam atau nyeri otot yang kemudian berangsur angsur hilang. . Patofisiologi Manusia bisa terinfeksi jika terjadi kontak pada kulit atau selaput lendir yang luka/erosi dengan air, lumpur dan sebagainya yang telah tercemar oleh air kemih binatang yang terinfeksi leptospira. Leptospira yang masuk melalui kulit maupun selaput lendir yang luka/erosi akan menyebar ke organ-organ dan jaringan tubuh melalui darah. istem imun tubuh akan berespon sehingga jumlah laptospira akan berkurang, kecuali pada ginjal yaitu tubulus dimana kan terbentuk koloni-koloni pada dinding lumen yang mengeluarkan endotoksin dan kemudian dapat masuk ke dalam kemih.

Gambaran patofisilogi Organisme

Kontak pada kulit. elaput lendir, Luka erosi dengan air, tanah, lumpur) air kemih binatang yang terinfeksi leptospira endoktoksin

Masuk darah dan alirannya

Leukositosis, nuetro-filia (proses fagosi-tosis)

emam sampai meng-gigil

Miokar-ditis

Peningkatan suhu tubuh *) Kurang pengetahuan *) Vaskulitits difus di kapiler

Trombositopenia

Pertaharan Epitaksis Hemoptisis Hemetem-isis melena Perdarahan adrenal, gagal ginjal, perdarahan paru Risiko defisit cairan dan eletrolit *) Cemas /takut *) Gastro-intestinal

Hepatomegali, spleno-megali

Mual Muntah

Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan *) Leukosit CSS

Meningismus

ensepalitis

Panas nyeri kepala (frontal, oksipital) fotofobia,

yeri *) Pretibial fever

Eritema-tosa

ruam, makular, makulopapula

Kerusakan kulit *) Rekasi kimia kinin, bradikin, prostag-landing

Mialgia,

yeri*)

E. Komplikasi Pada leptospira, komplikasi yang sering terjadi adalah iridosiklitis, gagal ginjal, miokarditis, meningitis aseptik dan hepatitis. Perdarahan masif jarang ditemui dan bila terjadi selalu menyebabkan kematian. F. Penatalaksanaan Obat antibiotika yang biasa diberikan adalah penisillin, strptomisin, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin dan siproflokasasin. Obat pilihan utama adalah penicillin G 1,5 juta unit setiap 6 jam selama 5- hari. alam 4-6 jam setelah pemeberian penicilin G terlihat reaksi Jarisch Hecheimmer yang menunjukkan adanya aktivitas antileptospira> obat ini efektif pada pemberian 1-3 hari namun kurnag bermanfaat bila diberikan setelah fase imun dan tidak efektif jika terdapat ikterus, gagal ginjal dan meningitis. Tindakan suporatif diberikan sesuai denan keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul. G. prognosis Tergantung keadaan umum klien, umur, virulensi leptospira, dan ada tidaknya kekebalan yang didapat. Kematian juga biasanya terjadi akibat sekunder dari faktor pemberat seperti gagal ginjal atau perdarahan dan terlambatnya klien mendapat pengobatan. II. KO SEP KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitis Keadaan umum klien seperti umur dan imunisasi., laki dan perempuan tingkat kejadiannya sama. 2. Keluhan utama emam yang mendadak Timbul gejala demam yang disertai sakit kepala, mialgia dan nyeri tekan (frontal) mata merah, fotofobia, keluahan gastrointestinal. emam disertai mual, muntah, diare, batuk, sakit dada, hemoptosis, penurunan kesadaran dan injeksi konjunctiva. emam ini berlangsung 1-3 hari. 3. Ri ayat kepera atan a. Imunisasi, ri ayat imunisasi perlu untuk peningkatan daya tahan tubuh b. Ri ayat penyakit, influen a, hapatitis, bruselosis, pneuma atipik, BD, penyakit susunan saraf akut, fever of unknown origin. c. Riwayat pekerjaan klien apakah termasuk kelompok orang resiko tinggi seperti bepergian di hutan belantara, rawa, sungai atau petani. 4. Pemeriksaan dan observasi a. Fisik Keadaan umum, penurunan kesadaran, lemah, aktvivitas menurun Review of sistem : Sistem pernafasan Epitaksis, penumonitis hemoragik di paru, batuk, sakit dada Sistem cardiovaskuler Perdarahan, anemia, demam, bradikardia. Sistem persyrafan

Penuruanan kesadaran, sakit kepala terutama dibagian frontal, mata merah.fotofobia, injeksi konjunctiva,iridosiklitis Sistem perkemihan Oligoria, a ometmia,perdarahan adernal Sistem pencernaan Hepatomegali, splenomegali, hemoptosis, melenana Sistem muskoloskletal Kulit dengan ruam berbentuk makular/makulopapular/urtikaria yang teresebar pada badan. Pretibial. b. Laboratorium Leukositosis normal, sedikit menurun, Neurtrofilia dan laju endap darah (LED) yang meninggiu Proteinuria, leukositoria Sedimen sel torak BUN , ureum dan kreatinin meningkat SGOT meninggi tetapi tidak melebihi 5 x normal Bilirubin meninggi samapai 40 % Trombositopenia Hiporptrombinemia Leukosit dalam cairan serebrospinal 10-100/mm3 Glukosa dalam CSS Normal atau menurun 5. penatalaksanaan Lihat pada landasan teori. 6. Diagnosa keperawatan a. Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi dari perjalanan penyakitnya. b. Cemas / takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit leptospirosisi) ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik. c. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, syaraf, inflamasi), ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan. d. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi. e. Pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan denga n intake kurang ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, nausea dan vomitng, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, f. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake g. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja penyakitnya deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. B. Perencanaan 1. Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi dari perjalanan penyakitnya. Tujuan : suhu tubuh turun sampai batas normal

Kriteria hasil : - Suhu tubuh dalam batas normal 36 37 0 C - Klien bebas demam - Mukosa mulut basah, mata tidak cekung, istirahat cukup INTERVENSI RASIONAL a. Bina hubungan baik dengan klien dan keluarga

b. Berikan kompres dingin dan ajarkan cara untuk memakai es atau handuk pada tubu, khususnya pada aksila atau lipatan paha. c. Peningkatan kalori dan beri banyak minuman (cairan)

d. Anjurkan memakai baju tipis yang menyerap keringat. e. Observasi tanda-tanda vital terutama suhu dan denyut nadi f. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan terutama anti piretik., antibiotika (Pinicillin G ) a. Dengan hubungan yang baik dapat meningkatkan kerjasama dengan klien sehingga pengobatan dan perawatan mudah dilaksanakan. b. Pemberian kompres dingin merangsang penurunan suhu tubuh.

c. Air merupakan pangatur suhu tubuh. Setiap ada kenaikan suhu melebihi normal, kebutuhan metabolisme air juga meningkat dari kebutuhan setiap ada kenaikan suhu tubuh. d. Baju yang tipis akan mudah untuk menyerap keringat yang keluar. e. Observasi tanda-tanda vital merupakan deteksi dini untuk mengetahui komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan f. Pemberian obat-obatan terutama antibiotik akan membunuh kuman Salmonella typhi sehingga mempercepat proses penyembuhan sedangkan antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh. Antibotika spektrrum luas.

2. Cemas / takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit leptospirosisi) ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik. Tujuan : - Klien dapat mengurangi rasa cemasnya - Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. - Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan. INTERVENSI RASIONAL a. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.

b. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat. c. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai. d. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.

e. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll. f. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system. g. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. h. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar. a. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi. b. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya. c. Dapat menurunkan kecemasan klien.

d. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya. e. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan. f. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga. g. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat. h. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, syaraf, inflamasi), ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan. Tujuan : - Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas - Melaporkan nyeri yang dialaminya - Mengikuti program pengobatan - Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin INTERVENSI RASIONAL a. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas b. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya c. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV (distraksi) d. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik. e. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.

f. Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien g. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll a. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan. b. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi. c. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.

d. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.

e. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri. f. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran. g. Untuk mengatasi nyeri. 4. Pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan intake kurang ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, nausea dan vomitng, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, Tujuan : - Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi - Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat - Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya INTERVENSI RASIONAL a. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya. b. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan. c. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis. d. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien. e. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas. f. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga. g. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan. h. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien. Kolaboratif i. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin j. Berikan pengobatan sesuai indikasi Phenotia ine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida k. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus. a. Memberikan informasi tentang status gi i klien. b. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien. c. Menunjukkan keadaan gi i klien sangat buruk.

d. Kalori merupakan sumber energi.

e. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas. f. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.

g. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan. h. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gi i, perawat dan klien). i. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien. j. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien. k. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.

5. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi. Tujuan : - Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting -katan siap. - Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut. - Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo- batan. - Bekerjasama dengan pemberi informasi. INTERVENSI RASIONAL a. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya. b. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker. c. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan. d. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien. e. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya. f. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal. g. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi. h. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut. a. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien. b. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian. c. Membantu klien dalam memahami proses penyakit.

d. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.

e. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien.

f. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat. g. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman. h. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.

6. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake Tujuan : Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal. INTERVENSI RASIONAL a. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam. b. Timbang berat badan jika diperlukan. c. Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.

d. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien. e. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu. f. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie. g. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah. h. Kolaboratif - Berikan cairan IV bila diperlukan. - Berikan therapy antiemetik. - Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin a. Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.

b. Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan. c. Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi. d. Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia. e. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang. f. Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.

g. Mencegah terjadinya perdarahan. h. Kolaborasi : - Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang. - Mencegah/menghilangkan mual muntah. - Mengetahui perubahan yang terjadi.

7. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja penyakitnya deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. Tujuan : - Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik - Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan INTERVENSI RASIONAL a. Monitor perkembangan kerusakan integritas kulit untuk melihat adanya efek kerusakan kulit, b. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal. c. Ubah posisi klien secara teratur. d. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter. a. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit. b. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi. c. Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu. d. Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

C. Pelaksanaan Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai de ngan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien D. Evaluasi Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya DAFTAR PUSTAKA

Donna, D.I. Et al. 1 5. Medical Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach 2 nd Edition : WB Sauders. Carpenito LJ. 2000. Dokumentasi dan Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta FKUA, 1 84. Pedoman Diagnosis dan Ilmu Penyakit Dalam. FKUA, Surabaya Rothrock, C. J. 2000. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC : Jakarta. Sjamsuhidajat & Wim De Jong. 1 7. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta. Sylviana. 1 6. Kapita Selekta Kedokteran Buku 1. EGC. JAkarta

Diposkan oleh Fau an Adde Z di 23:5

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Download 705 AsKep

Entri Populery

Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Sistem Kardiovaskuler ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEGAWAT DARURATAN SISTEM KARDIOVASKULER AKIBAT DISRITMIA DAN GANGGUAN KONDUKSI PendahuluanStimulasi irama j...

y

Asuhan Keperawatan CVA atau Stroke Infark ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CVA / STROKE INFARK I.PENDAHULUAN.CVA atau Cerebro Vaskuler Accident biasa di kenal oleh masyarakat dengan i...

y

Askep Post Op Trepanasi ; Indikasi Cidera Otak Berat ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURATPOST OP TREPANASI ATAS INDIKASI CIDERA OTAK BERAT CIDERA KEPALA (TRAUMA KAPITIS) PENGERTIA...

y

Asuhan Keperawatan Penderita Pemasangan CVP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENDERITAPEMASANGAN CVP ASKEP PADA PENDERITA DENGAN KATETERISASI VENA SENTRAL (CVP) TANPA KOMPLIKASI YANG MENYERTAI ...

y

Askep Stroke; Cerebro Vascular Disease dan Gangguan Kesadaran

ASUHAN KEPERAWATAN STROKECEREBRO VASCULAR DISEASE DAN GANGGUAN KESADARAN A. KONSEP DASAR1. PengertianStroke/Gangguan Pembuluh Darah Otak (G...y

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH KUMPULAN 705 ASUHAN KEPERAWATAN DANBONUS 303 MATERI, 78 LEAFLET + 100 EBOOK KEPERAWATAN( JUMLAH SEMUANYA ADA 1186 FILE )Hanya dengan Rp. 55....

y

Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Berat CEDERA KEPALA BERAT A. PENGERTIANCidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkor...

y

Askep Tonsilitis Akut; Tonsilektomi ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TONSILITIS AKUT (TONSILEKTOMI) A. PengertianTonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan da...

y

Akut Miokard Infark AKUT MIOCARD INFARK A. PENGERTIANInfark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehi...

y

Askep Polip Hidung ASUHAN KEPERAWATAN POLIP HIDUNG Pengertian :Polip hidung adalah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu -abuan yang terdapat dalam rongg...

y y y y y y y y y y y y y y y y y

http://kumpulanasuhankeperawatan.com/ http://kumpulanaskep.com/ http://pedalis-k.com/ http://adidasindonesia.com/ http://ilmu-ilmukeperawatan.blogspot.com/ http://asuhan-keperawatan-mandiri.blogspot.com/ http://perawat-online.blogspot.com/ http://belajar-ilmu-keperawatan.blogspot.com/ http://perawat-kita.blogspot.com/ http://perawat-siaga.blogspot.com/ http://studykeperawatan.blogspot.com/ http://tugas-kuliah-keperawatan.blogspot.com/ http://mantri-keliling.blogspot.com/ http://eddie-suster-boy.blogspot.com/ http://asuhan-keperawatan-anak.blogspot.com/ http://asuhan-keperawatan-icu.blogspot.com/ http://asuhan-keperawatan-jiwa.blogspot.com/

y y y y y y y

http://asuhan-keperawatan-maternitas.blogspot.com/ http://kumpulan-asuhan-keperawatan-eddie.blogspot.com/ http://kumpulan-askep-lengkap.blogspot.com/ http://askep-ilmukeperawatan.blogspot.com/ http://blog-akper.blogspot.com/ http://perawat-rohimin.blogspot.com/ http://belajar-mantri-suster.blogspot.com/

Visitor

Arsip Blogy

2011 (84) o Januari (84) 19 Jan (5) Asuhan Keperawatan Sinusitis Maksilaris Asuhan Keperawatan Penderita Pemasangan CVP Asuhan Keperawatan Cedera Otak Sedang Asuhan Keperawatan Cerebrovaskuler Accident; Strok... Asuhan Keperawatan Trauma Bladder 18 Jan (15) Asuhan Keperawatan Septum Deviasi Askep Post Op Trepanasi ; Indikasi Cidera Otak Ber... Asuhan Keperawatan Pemakaian Kateter CVP Asuhan Keperawatan Mastoiditis Askep Intoksikasi Insektisida Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Askep Intoksikasi Insektisida Fosfat Organik Askep Hernia Nukleus Pulposus; HNP Asuhan Keperawatan Vena Varikosa Askep Tb Paru ; Hemaptoe Askep Trauma Mekanik Mata Asuhan Keperawatan Trauma Kornea; Ulkus Kornea Asuhan Keperawatan Thypus Abdominalis Asuhan Keperawatan Stenosis Mitral Asuhan Keperawatan Shock 17 Jan (9) Intervensi Klien Syok Perdarahan Askep Intoksikasi Insektisida Askep Peritonitis Askep Oedema Paru Askep Sirosis Hepatis; Hematemesis Melena ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

y

ASUHAN KEPERAWATAN DAN MATERI JIWA ASUHAN KEPERAWATAN ANAK 15 Jan (19) Askep Stroke; Cerebro Vascular Disease dan Ganggua... Askep Glaukoma Askep Polip Hidung Askep Cidera Kepala Askep Cedera Kepala Askep Diabetik Ketoacidosis Askep Gastritis Askep Lithotripsi Askep Pneumonia Askep Luka Tusuk Askep Meningitis Askep Respiratory Distress Syndrome Askep HIV-AIDS Askep Tonsilitis Akut; Tonsilektomi Askep Otitis Media Supuratif Kronik Maligna Askep Stroke Askep Pneumonia dan Gagal Nafas Askep Tumor Otak; Tumor Intrakranial Askep Tuberculosis dengan Atelektasis; TBC 06 Jan (6) Asuhan Keperawatan Hipoglikemia Asuhan Keperawatan Fraktur Cervicalis 04 Jan (9) 03 Jan (11) Asuhan Keperawatan Leptospirosis Asuhan Keperawatan Ards; Adult Respiratory Distres... Akut Miokard Infark Asuhan Keperawatan Apendiksitis Basalioma Nasolabial Sinistra Asuhan Keperawatan Batu Ginjal Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi ( BP... Bronkiektasis Asuhan Keperawatan Ca Paru dg Pemasangan Ventilasi... Asuhan Keperawatan Pasien CAD Post Operasi CABD Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Berat 01 Jan (10)

2010 (12) o Desember (12) 23 Des (6) 22 Des (6) Template Watermark. Didukung oleh Blogger.