asian crisis

download asian crisis

of 60

  • date post

    18-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    54
  • download

    0

Embed Size (px)

description

perkembangan krisis asia yang menentang neo miberal

Transcript of asian crisis

Laporan Pendahuluan

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang PerencanaanKota Surakarta adalah salah satu kota yang terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Tengah. Kota Surakarta saat ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 588 ribu jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 157 jiwa/Ha. Dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah, Kota Surakarta ditetapkan sebagai salah satu kota besar yang didukung oleh 6 wilayah belakangnya dalam satu kesatuan Kawasan SUBOSUKAWONOSRATEN. Kota Surakarta juga sering disebut sebagai pusat pertumbuhan wilayah Jawa Tengah bagian selatan, dengan potensi ekonomi sangat tinggi, khususnya di bidang industri, perdagangan, pariwisata, dan jasa lainnya. Kota Surakarta memiliki luas 4.404,06 Ha yang terbagi dalam 5 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Laweyan, Serengan, Pasarkliwon, Jebres dan Banjarsari.Kecamatan Jebres merupakan kecamatan yang terletak di sebelah utara Kota Surakarta. Kecamatan Jebres berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar di sebelah utara dan timur, Kabupaten Sukoharjo serta Kecamatan Pasarkliwon di sebelah selatan dan Kecamatan Banjarsari di sebelah barat. Kecamatan Jebres memiliki luas 1.258,21 Ha yang terdiri dari 11 kelurahan, yaitu Kelurahan Kepatihan Kulon, Kepatihan Wetan, Sudiroprajan, Gandekan, Sewu, Pucangsawit, Jagalan, Purwodiningratan, Tegalharjo, Jebres, dan Mojosongo. Pada tahun 2011 Kecamatan Jebres tercatat memiliki penduduk sebesar 145.703 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 115 jiwa/Ha.Berdasarkan RTRW Kota Surakarta, Kecamatan Jebres masuk ke dalam 4 sub pusat pelayanan BWK (Pembagian Wilayah Kota) yaitu BWK I, IV, V dan VI. Pembagian pengembangan pusat pelayanan di dalam Kota Surakarta ini dilakukan demi efisiensi dan efektivitas penggunaan lahan serta untuk kemudahan pemenuhan kebutuhan penduduk, yang bersifat pelayanan sosial maupun ekonomi. Kelurahan Sudiroprajan, Gandekan, dan Sewu masuk ke dalam pusat pelayanan BWK I dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, budaya, perdagangan dan jasa, serta industri kreatif. Kelurahan Mojosongo masuk ke dalam pusat pelayan BWK IV dengan fungsi utama untuk permukiman, perdagangan dan jasa, industri kecil dan industri ringan. Kelurahan Jebres, Tegalharjo, Jagalan, Purwodiningratan, dan Pucangsawit masuk ke dalam pusat pelayan BWK V dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, pendidikan tinggi dan industri kreatif. Sedangkan 2 kelurahan lainnya yaitu Kelurahan Kepatihan Kulon dan Kepatihan Wetan masuk ke dalam pusat pelayanan BWK VI dengan fungsi utama untuk kegiatan pemerintahan, pariwisata budaya, perdagangan dan jasa.Selain itu, dalam RTRW Kota Surakarta disebutkan bahwa isu strategis yang ada di Kota Surakarta saat ini adalah adanya kepentingan percepatan pembangunan Kota Surakarta bagian utara, agar terciptanya pemerataan dan keseimbangan pembangunan antara Kota Surakarta bagian selatan dengan utara. Batasan dari Kota Surakarta bagian utara dan bagian selatan ini adalah berdasarkan pembagian sub pusat pelayanan BWK dimana BWK III dan IV masuk ke dalam wilayah Kota Surakarta bagian utara, atau seperti yang terlihat pada peta dibawah ini :

Peta 1.1 Arahan Struktur Ruang Kota SurakartaSumber : RTRW Kota Surakarta 2011-2031Berdasarkan peta diatas, dapat diketahui bahwa wilayah dari Kecamatan Jebres yang masuk kedalam wilayah Kota Surakarta bagian utara adalah Kelurahan Mojosongo. Sehingga pada studi ini nantinya akan digunakan istilah Jebres Utara untuk wilayah Kelurahan Mojosongo, dan Jebres Selatan untuk 10 Kelurahan lainnya.Dilihat dari posisinya, letak Kecamatan Jebres bisa dikatakan relatif strategis karena berbatasan langsung dengan wilayah administrasi kabupaten lain, sehingga Jebres merupakan pintu masuk dan keluar Kota Surakarta dari sebelah utara dan timur. Hal ini juga didukung dengan adanya jalur lingkar utara Kota Surakarta dan rencana pembangunan jalan tol Jogja-Semarang yang melewati sebagian wilayah Kecamatan Jebres. Namun untuk akses transportasi dengan kendaraan umum, Kecamatan Jebres masih mengalami kendala terutama untuk Jebres Utara karena terbatasnya moda transportasi umum yang melewati wilayah ini. Terbatasnya jenis moda transportasi yang melewati wilayah Jebres Utara diduga karena adanya jumlah bangkitan dan tarikan transportasi di Jebres Utara yang memang cenderung sedikit jika dibandingkan dengan Jebres bagian selatan. Bangkitan dan tarikan transportasi ini dapat dilihat dari intensitas penggunaan lahan untuk kegiatan-kegiatan yang menarik adanya kebutuhan akan moda transportasi umum seperti kegiatan perdagangan dan jasa serta pendidikan.Penggunaan lahan di Kecamatan Jebres sendiri didominasi oleh kawasan permukiman sebesar 54% dari luas total, yang kemudian disusul oleh kawasan perdagangan dan jasa dengan persentase 14%. Sedangkan untuk lahan tidak terbangun yang ada di Kecamatan Jebres masih ada sekitar 11% dari luas total, yang berwujud lahan kosong, sawah dan tegalan, dimana kebanyakan dari lahan tidak terbangun tersebut berada di daerah Kelurahan Mojosongo. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi di wilayah Jebres selatan, wilayah Jebres bagian selatan merupakan kawasan permukiman dengan tingkat kepadatan cukup tinggi dan berdasarkan data dari Departemen Pekerjaan Umum, di wilayah ini terdapat 5 kelurahan yang masuk dalam kategori kumuh. Kondisi ini diperburuk dengan adanya kawasan permukiman di area sekitar bantaran sungai yang seharusnya menjadi kawasan lindung sempadan sungai. Dampak negatif yang muncul dari pemanfaatan lahan yang melebihi kemampuannnya ini adalah berupa penurunan kualitas lingkungan seperti terjadinya bencana banjir, tanah longsor dan penurunan muka air tanah. Penggunaan kawasan lindung sempadan sungai sebagai tempat hunian ini terjadi dikarenakan adanya pertumbuhan kawasan hunian yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan, sehingga masyarakat menggunakan area yang tersisa yaitu daerah bantaran sungai sebagai daerah tempat tinggal mereka.Adanya penggunaan daerah bantaran sungai sebagai tempat hunian diduga merupakan salah satu akibat dari kecenderungan masyarakat Kota Surakarta yang lebih memilih untuk tinggal di wilayah Kota Surakarta bagian selatan. Kecenderungan masyarakat untuk mengumpul di daerah bagian selatan didasarkan atas alasan kedekatan dengan pusat kota, kelengkapan sarana-prasarana, pelayanan jaringan transportasi dan keragaman aktivitas yang jika dibandingkan dengan daerah utara cukup berbeda jauh. Aktivitas yang lebih beragam di Jebres selatan ini menjadi daya tarik yang lebih dibandingkan dengan daerah utara. Sebagai contoh bahwa di Jebres selatan terdapat berbagai macam pusat kegiatan seperti kegiatan perekonomian, pendidikan, layanan kesehatan, sedangkan daerah Jebres utara hanya didominasi oleh kawasan permukiman. Namun untuk intensitas kepadatan bangunan permukiman sendiri juga lebih tinggi di daerah Jebres selatan.Perekonomian di Kecamatan Jebres didominasi oleh sektor industri pengolahan yang menjadikan Kecamatan Jebres sebagai penyumbang PDRB terbesar dari sektor industri pengolahan di Kota Surakarta pada tahun 2012. Produk unggulan dari sektor industri pengolahan di Jebres sendiri yakni berupa meubel, batik tekstil dan garmen, serta industri kreatif. Persebaran industri yang ada di Kecamatan Jebres sendiri lebih banyak berada di Jebres selatan, padahal wilayah Jebres utara juga diarahkan sebagai kawasan untuk kegiatan industri kecil dan industri kreatif. Pada tahun 2011 terjadi penurunan jumlah industri di Kecamatan Jebres yang cukup besar dibandingkan dengan tahun 2010, sehingga mempengaruhi nilai PDRB Kecamatan Jebres dari sektor industri pengolahan, yakni menurun sebesar 0,75%. Sedangkan dari sektor perdagangan, distribusi lokasi kegiatan perdagangan juga lebih banyak terpusat di Jebres selatan karena kestrategisan lokasinya. Sementara untuk wilayah Jebres utara yang juga diarahkan menjadi kawasan dengan fungsi kegiatan perdagangan, memiliki intensitas kegiatan perdagangan yang rendah.Dilihat dari komposisi penduduknya, Kecamatan Jebres didominasi oleh penduduk usia produktif namun tingkat kesejahteraan penduduk di Kecamatan ini masih relatif rendah karena 30% penduduknya masuk kedalam kategori keluarga non-sejahtera. Selain itu Kecamatan Jebres juga merupakan kecamatan dengan peringkat kemiskinan terendah kedua di Kota Surakarta. Hal ini merefleksikan bahwa potensi-potensi baik dari sektor perdagangan maupun industri yang ada di Kecamatan Jebres belum mampu untuk memberikan dampak positif baik untuk aspek ekonomi maupun aspek lainnya yang bisa dirasakan oleh penduduknya.Masalah-masalah yang terjadi sebagaimana telah disebutkan diatas tidak bisa terus dibiarkan terjadi karena akan mengakibatkan ketimpangan yang sangat terlihat jelas antara Jebres bagian utara dan Jebres bagian selatan. Ketimpangan ini merupakan kondisi yang terjadi akibat dari tidak meratanya pembangunan dalam suatu wilayah, hal ini nantinya akan mempengaruhi berbagai sektor pembangunan yang ada terutama dalam perkembangan wilayah itu sendiri. Maka dari itu dibutuhkan suatu perencanaan yang komprehensif bagi Kecamatan Jebres untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada agar tidak menjadi kendala bagi keseluruhan wilayah Kecamatan Jebres untuk bisa tumbuh ke arah perkembangan yang lebih baik. Karena perencanaan wilayah sendiri bertujuan melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah, dan lingkungannya dalam wilayah tertentu, dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada, dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap, tetap berpegang pada asas prioritas (Riyadi dan Bratakusumah, 2003).

1.2 Isu Wilayah PerencanaanDari penjelasan sebelumnya dapat diketahui bahwa masalah yang ada di Kecamatan Jebres terbagi menjadi 2 bagian, yaitu masalah yang dialami Kecamatan Jebres bagian utara dan Kecamatan Jebres bagian selatan. Jebres bagian utara memiliki intensitas kegiatan dan pembangunan yang relatif lebih rendah diban